Saturday, January 7, 2012

My Reading History

The Key Word: Perpustakaan di Mata MasyarakatThe Key Word: Perpustakaan di Mata Masyarakat by Labibah Zain
My rating: 3 of 5 stars



Konon, waktu aku masih dalam kandungan, ibuku sedang haus-hausnya membaca apa saja, terutama buku-buku dan majalah [kebanyakan majalah intisari, katanya, *bukan iklan*].

Konon, waktu masih balita, aku suka ngerecokin orangtua minta dibacakan majalah atau buku cerita, padahal kedua orangtuaku sibuk bekerja, ayahku pegawai negeri yang sering dinas keluar kota sementara ibuku menerima jahitan. Karena lebih mudah mengajariku membaca daripada menyediakan waktu untuk membacakan majalah atau buku cerita untukku di tengah kesibukan, alhasil aku melek huruf lebih cepat daripada kebanyakan balita pada saat itu.

Konon, karena tidak ada hiburan selain acara TVRI, orangtua lebih suka membelikan bahan bacaan buat anak-anak daripada mengajak rekreasi. Sialnya, begitu anak-anak dianggap sudah bisa bertanggung jawab dan mendapat uang saku bulanan, orangtua hanya bersedia membiayai langganan majalah saja, sedangkan untuk buku anak-anak harus beli sendiri.

Di situlah dimulai perjuanganku untuk memperoleh dan membaca buku. Sementara kedua kakakku menggunakan uang saku untuk pakaian, tas, sepatu atau apa saja yang mereka sukai, hampir seluruh uang sakuku sejak SD habis untuk membeli buku. Pakaian cukuplah yang dibuat oleh ibuku, sedangkan yang lainnya bisa menunggu lungsuran dari kedua kakakku kalau mereka sudah bosan. Imbangannya, kedua kakakku yang sebenarnya suka membaca tapi tidak sesuka itu untuk membelinya, juga ikut menikmati koleksi buku yang kubeli.

Tapi yang namanya uang saku jelas sangat terbatas, dan baca buku yang itu-itu saja, meskipun buku favorit, lama-lama ya bosan juga. Solusi terbaik bagiku adalah meminjam buku dari perpustakaan atau taman bacaan.

Perkenalan pertamaku dengan perpustakaan adalah waktu masih SD. Waktu istirahat, pulang sekolah, atau menunggu kegiatan ekstrakurikuler dimulai, aku bisa betah berlama-lama di ruang perpustakaan SD dan membaca koleksinya. Favoritku buku-buku pengetahuan terbitan Balai Pustaka, karena buku cerita boleh dibilang tidak banyak dan kalaupun ada tidak menarik. Untuk buku cerita, aku harus menyewa buku di taman bacaan dekat SD. Memang harus menyisihkan uang saku untuk keperluan ini, tapi minimal aku dapat membaca buku lebih banyak daripada kalau harus membeli sendiri.

Dengan kombinasi antara membeli dan menyewa buku, aku akhirnya dapat membaca karya-karya pengarang favorit, dari Enid Blyton, Bung Smas, Mira W, Marga T, S. Mara Gd, V. Lestari, Agatha Christie, Chin Yung, Kho Ping Hoo, Hilman, Eiji Yoshikawa, Jackie Collins, John Grisham, Jeffrey Archer, Tom Clancy, Alistair MacLean, Jack Higgins, etc... ehm, terlalu banyak untuk disebutkan di sini. Tak ketinggalan komik-komik Eropa, dari Tintin, Asterix, Smurf, Lucky Luke, Tanguy & Laverdure, Si Janggut Merah, 4as, etc lagi...

Sampai lulus SMP koleksi perpustakaan pribadi boleh dibilang baru berkisar di angka 300-an, sebagian besar berupa novel. Lalu saat aku duduk di SMA, manga Jepang merambah Indonesia, dimulai dengan serial Candy-Candy, Kungfu Boy, dan Dragon Ball. And I’m hooked forever, dengan alasan sederhana. Tidak seperti komik Eropa yang temanya terbatas, tipis, dan mahal, manga Jepang temanya sangat variatif, tebal, dan lebih murah. Tapi sisi buruknya, meskipun lebih murah, satu judul manga bisa terdiri dari puluhan jilid sehingga bikin kantong semakin bolong... Tentu saja aku masih membeli novel, tapi gara-gara anggaran untuk manga aku lebih selektif, membatasi pada karya pengarang tertentu, sedangkan sisanya lebih baik meminjam dari teman atau taman bacaan.

Begitu lulus kuliah dan memperoleh uang dari hasil keringat sendiri, hasratku membaca dan memiliki (harus digarisbawahi!) buku nyaris tak terkontrol lagi. Sesuai jadwal terbit manga yang seminggu sekali, aku pun terjadwal pergi ke toko buku seminggu sekali untuk membeli manga yang terbit minggu itu dan sesekali ditambah satu-dua novel atau buku nonfiksi. Kebiasaan yang terus berlanjut hingga saat ini.

Ke mana larinya buku-buku koleksiku setelah kubaca? Setelah jumlahnya membengkak dan tumpukan buku yang belum dibaca semakin menggunung (kebanyakan buku bekas dan buku obralan yang dibeli karena harga banting), boro-boro bisa membaca ulang sampai lecek seperti jaman SD dulu, begitu selesai dibaca buku-buku langsung disimpan di rumahku di Bandung. Buku-buku yang sekarang jumlahnya sudah lebih dari selaksa itu tidak hanya memenuhi ruangan khusus perpustakaan, tapi hampir setiap ruangan yang kebetulan memiliki lemari dan meja... Hiasan porselen atau pernak-pernik lain, diharap minggiiir...!

Pertanyaan yang sering diajukan teman yang kebetulan tidak begitu suka baca dan penasaran buat apa aku menghabiskan sebagian gaji untuk buku, biasanya “Lalu buku-buku sebanyak itu diapakan? Dijadikan taman bacaan?”

Biasanya kujawab tidak. Karena rasa memiliki yang begitu tinggi--dan pengalaman buruk di masa lalu dalam hal meminjamkan buku--membuatku sangat selektif untuk memilih orang yang dapat kuberi pinjam. Terbatas pada orang-orang yang kuyakini akan mematuhi aturan penting dalam membaca bukuku: hanya boleh dibuka maksimal 90 derajat, halaman tidak boleh dilipat. Buku harus kembali dalam kondisi sempurna, tanpa ada tekukan, apalagi coretan [kecuali buku bekas yang memang sudah lecek dari sananya]. Yang melanggar akan masuk daftar hitam dan seumur hidup takkan pernah kupinjamkan lagi (lebay, but true... >.<). Mereka yang ikut membaca koleksi bukuku saat ini hanyalah beberapa orang teman, orang tuaku, kakakku, dan keponakanku.

Namun beberapa tahun belakangan ini, aku berubah pikiran. Sampai kapan aku akan mempertahankan semua buku itu untuk diriku sendiri, dan untuk apa? Melihat kedua keponakanku yang memiliki akses mudah ke perpustakaan pribadiku—dengan sensor ketat kakakku, tentunya—terpikirkan bahwa tidak semua anak memiliki kemudahan seperti itu. Terbayang waktu aku seumur mereka, perlu pengorbanan dan kesabaran untuk bisa membaca buku yang kuinginkan...

Secinta apapun aku pada buku-bukuku, tak satu pun yang akan kubawa mati. Oleh karena itu, beberapa tahun terakhir ini, selain membeli buku rutin, di setiap kesempatan aku mulai mengumpulkan buku pengetahuan dan buku cerita anak-anak. Aku yang dahulu bermimpi memiliki perpustakaan pribadi hanya untuk diriku sendiri, sekarang mulai bermimpi untuk membuka rumah baca di kampung halaman orangtuaku di Cirebon. Aku ingin buku-bukuku dapat memberikan manfaat, dapat meningkatkan minat baca anak-anak yang tidak punya akses ke buku bacaan. Dan mudah-mudahan, selanjutnya bukan hanya untuk anak-anak setempat, tapi untuk masyarakat umum juga. Tanpa dipungut biaya.

Tentu saja tantangannya akan sangat banyak. Seperti yang dikisahkan penulis Iwok Abqari di buku ini, membuka rumah baca, gratis pula, tidaklah mudah. Dana pribadi yang perlu dikeluarkan, di luar buku-buku yang sudah terkumpul, harus tersedia. Mengingat saat ini aku masih bekerja di Jakarta, rumah buku itu tentu harus memiliki pengelola tetap--diutamakan pecinta buku--dan harus digaji. Tidak cukup sukarelawan. Dan yang lebih sulit lagi, bagaimana membuat anak-anak di kampungku yang saat ini terlihat lebih suka menghabiskan uang jajannya untuk main game di rental PS atau komputer, agar tertarik untuk membaca buku...

Semoga mimpi ini bukan mimpi yang akan terlupakan saat terjaga. Semoga Tuhan mengabulkan, sehingga niat baik tidak berakhir di pikiran dan ucapan belaka. Semoga.

Demikian review (curcol?) terpanjangku hingga saat ini.

View all my reviews

1 comment: