Showing posts with label biografi. Show all posts
Showing posts with label biografi. Show all posts

Friday, September 9, 2016

Hidup Di Luar Tempurung



Judul : Hidup di Luar Tempurung

Penulis : Benedict Anderson

Penerjemah : Ronny Agustinus

Penerbit : Marjin Kiri

Tebal : 205 halaman

Dibeli di : Post Santa Blok M

Dibeli tanggal : 27 Agustus 2016

Dibaca tanggal : 3 September 2016

Komentar singkat:

Waktu pertama kali sengaja main ke Post Santa Blok M (pakai acara hujan-hujanan pula!) demi membeli satu buah buku yang susah dicari di toko buku offline dan online biasa, aku malah tergiur (baca: kalap) melihat display buku-buku terbitan Marjin Kiri (aku suka pilihan buku yang diterbitkan Marjin Kiri) yang nota bene juga rada susah dicari di toko buku offline dan online biasa, dan pada akhirnya pulang dengan beberapa di antaranya. Nah, buku ini salah satunya.

Seperti biasa, selain faktor penerbitnya, aku membeli buku ini karena (setelah membaca sinopsis di cover belakangnya) merasa buku ini sepertinya menarik. Untunglah, kali ini feeling-ku tidak meleset. IMHO, buku ini sangat, sangat, sangat menarik! Dan alhasil di Goodreads buku ini kurating:

Aku sudah cukup banyak membaca buku biografi yang cukup bervariasi, dari perwira militer, politisi, pengusaha, komika, bintang film, pelatih sepakbola, novelis, editor dan lain sebagainya, tapi otobiografi seorang akademisi? Rasanya cukup jarang. Apalagi akademisi yang satu ini pernah kerja lapangan di Indonesia, tetap cinta Indonesia meski dicekal puluhan tahun oleh rezim Orde Baru, lantas setelah meninggal dunia abunya disebar di Selat Madura.

Awalnya, buku ini hanya diterbitkan dalam bahasa Jepang dengan pasar sasaran mahasiswa-mahasiswi Jepang, untuk membantu mereka yang tak punya banyak bayangan akan konteks sosial, politik, budaya, dan zaman tempat para ilmuwan Anglo-Saxon lahir, mengenyam pendidikan, dan menjadi matang secara keilmuan. Namun menjelang akhir hayatnya buku ini diterbitkan juga dalam bahasa Inggris, dan pada akhirnya tentu saja dalam bahasa Indonesia.

Dalam buku tipis ini, Benedict Anderson menceritakan masa kecilnya, masa pendidikan di Irlandia dan Inggris, pengalaman akademisi di AS, kerja lapangan di Indonesia, Siam dan Filipina, disertai renungan perihal universitas di Barat, perbandingan-perbandingan antardisiplin ilmu, sampai menceritakan aktivitas di masa pensiun, sesekali ditambahi membahas buku atau film kesukaannya. Membaca buku ini seperti mendengarkan kakek kita bercerita tentang masa lalunya, kadang-kadang serius, kadang-kadang bergurau, dan kadang-kadang melantur suka-suka. Pokoknya, tidak membosankan! Penuturannya asyik untuk diikuti dan pengalaman hidupnya bikin sirik. Rasanya seperti membaca kisah petualangan Tintin di dunia nyata (minus karakter-karakter heboh macam Kapten Haddock atau Profesor Calculus), kalau Tintin seorang akademisi dan bisa menua.

Seperti biasa, aku juga suka penerjemahan Mas Ronny yang membuat ceritanya mengalir lancar. Hanya ada satu hal yang membuat kening sempat berkerut, yaitu pemilihan kata "bokap-nyokap" saat Om Ben (panggilan sayang teman-teman muda Indonesia) bercerita tentang ayah-ibunya. Kata-kata prokem yang saat ini rasanya sudah jarang terdengar ini terasa agak aneh di antara bahasa buku yang nyaris formal secara keseluruhan. Tapi belakangan, setelah dipikir-pikir lagi, pasti ada alasan khusus di balik pemilihan kata dari bahasa prokem itu. Mungkin karena itulah bahasa gaul anak muda yang dipelajari Om Ben sewaktu masih kerja lapangan di Indonesia dan terus melekat sampai sekarang. Bahkan, kalau melihat catatan Mas Ronny di akhir buku, dalam komunikasi tertulisnya dengan teman-teman Indonesianya, Om Ben masih demen menggunakan ejaan Suwandi ketimbang EYD.

Sebelum membaca buku ini, aku sudah membeli dan membaca buku Di Bawah Tiga Bendera karya Benedict Anderson yang juga terbitan Marjin Kiri. Setelah membaca buku ini aku jadi ingin mencari dan membaca karya-karya beliau yang lain, terutama bukunya yang paling terkenal, Immagined Communities, yang rupa-rupanya jadi buku pegangan mahasiswa yang mempelajari dan mendalami nasionalisme.

Sunday, May 8, 2016

Komikus Nekat

Judul : Komikus Nekat

Penulis : Ekyu

Penerbit : Muffin Graphics

ISBN : 978-602-367-150-2

Tebal : 100 halaman

Review:
Kocak abis!

Nggak nyangka, masa kecil Ekyu (khususnya Ega dan Oni) entah kenapa mirip denganku, terutama dari sisi bacaan, meskipun beda generasinya cukup jauh.

Sejarah bacaan Ega rada mirip sih. Terutama bacaan komik dan silatnya (bacaan novel mah nggak terungkap di sini). Komik wayang. Asterix (celeng panggangnya keliatan enak banget?!). Komik superhero Amerika (kenapa laki-lakinya pada pake celana dalam di luar, perempuannya pake baju renang doang?). Kho Ping Hoo (judul macam Pendekar Binal/Pendekar Mata Keranjang jadi scandalous sekarang). Komik Tiger Wong. Candy-Candy. Miss Modern. Dan sejak itu terus ketagihan membaca manga. 

Sejarah bacaan Oni yang mirip? Mungkin di bagian bacaan misteri. Selain novel-novel misteri Agatha Christie, aku juga membaca majalah Misteri dan Detektif Romantika, terutama kalau sudah nggak ada bacaan lain di rumah. Kalau membaca majalah serius seperti Tempo atau Intisari pun cerita misteri dan kriminalitasnya sudah pasti dilalap juga. Tapi nggak sampai dikliping segala. Aku cuma menggunting dan mengumpulkan kolom Catatan Pinggir-nya GM, atau cerita bersambung harian di koran yang ceritanya kuanggap seru.

Bedanya, walaupun suka menggambar juga sampai bikin komik sendiri (kualitasnya cukup bikin ngikik kalau dibaca lagi sekarang), aku nggak sampai segitunya kepingin bisa menggambar komik sebagaimana layaknya artis profesional.

Membaca komik semibiografi ini, aku juga jadi teringat masa-masa waktu masih berlangganan majalah Animonster (ternyata Ekyu juara tiga lomba komiknya toh, tapi kumpulan komik submission-nya sudah hilang sekarang).

Aku juga jadi teringat pernah punya dua komik Ekyu terbitan Koloni, baik yang Fix-Up maupun yang Morte (sudah hilang juga sekarang mah). Kalau tidak salah, aku memberi rating "it was ok" buat karya mereka di Goodreads.

Lah, cerita masa lalu komikusnya malah lebih entertaining buatku ketimbang buku komik pertama mereka, yang proses pembuatannya sampai bikin stress dan berdarah-darah?

Eniwei, mungkin aku perlu membeli dan melihat lagi karya-karya mereka setelah membaca komik behind the scene-nya ini :)

View all my reviews

Monday, March 21, 2016

The Life of Senna


===============================
  Dibaca pada tanggal : 17 - 28 Februari 2016
===============================

"If I am going to live, I want to live fully, very intensely, because I am an intense person. It would ruin my life if I have to live partially. So my fear is that I might get badly hurt. I would not want to be in a wheelchair. I would not like to be in hospital suffering from whatever injury it was. If I ever happen to have an accident that eventually costs my life, I hope it happens in one instant."

Pada kecelakaan yang dialami Ayrton Senna di sirkuit Imola, hari Minggu tanggal 1 Mei 1994, jelas harapannya terkabul.

Ketika aku mengetahui kabar bahwa Ayrton Senna sudah tiada melalui siaran berita di televisi, aku menangis. Ketika aku membaca beritanya di surat kabar dan tabloid olahraga, aku mengucurkan air mata. Dan sekarang, waktu aku membaca kisah hidup Ayrton Senna dan sampai pada kisah matinya, air mataku kembali mengalir.

Dunia F1 kehilangan salah satu pembalap terbaiknya. Aku pun kehilangan motivasi untuk mengikuti berita F1 lagi. Hanya seorang Ayrton Senna yang sanggup membuatku tertarik menyaksikan dan mengikuti berita olahraga balap F1 dengan setia.

Emotionally charged aside, let's talk about this book. First of all, let me tell you that I give this book full five stars:
Penilaian yang bias?

Tentu saja. This is a book about a legend, the most brilliant Formula One driver ever raced. One of the greatest men that I truly admire.

Sebagian orang mungkin menganggap Tom Rubython juga sangat bias saat menyusun buku ini, tapi menurut pendapatku, ia cukup berimbang saat menyajikan fakta-fakta tentang Ayrton Senna di balik personanya di arena balap atau sirkuit. Buku ini menguraikan secara detail kehidupannya, dari masa kanak-kanaknya, balapan pertamanya, pole position yang diraihnya, semua kejuaraan dunia yang diikutinya, dan tentunya, kematiannya, dan hal-hal yang terjadi mengikuti tragedi tersebut.

Buat yang belum tahu siapa legenda dunia balap ini, berikut uraian ringkasnya:

Ayrton Senna da Silva (21 Maret 1990 - 1 Mei 1994) adalah pembalap Brazil yang memenangkan tiga kejuaraan dunia Formula 1. Ia tewas dalam kecelakaan saat sedang memimpin balapan Grand Prix San Marino di tahun 1994. Ia termasuk pembalap F1 yang paling dominan dan sukses di era modern dan ditahbiskan sebagai salah satu pembalap terhebat sepanjang sejarah dunia olahraga balap.


Senna memulai karirnya dari balap go-kart waktu maih kanak-kanak, sebelum naik kelas di tahun 1981 dan memenangkan kejuaraan Formula 3 di tahun 1983. Ia memulai debutnya di F1 pada tahun 1984 dengan tim Toleman-Hart sebelum pindah ke Lotus-Renault tahun berikutnya dan memenangkan enam Grand Prix selama tiga season berikutnya. Pada tahun 1988, ia bergabung dengan tim McLaren-Honda, berpasangan dengan Alain Prost. Pada tahun itu, tim McLaren Honda memenangkan 15 dari 16 Grand Prix, yang dimenangkan oleh mereka berdua dengan Senna memenangkan gelar juara dunia untuk pertama kalinya. Senna meraih juara untuk kedua dan ketiga kalinya pada kejuaraan tahun 1990 dan 1991. Pada tahun 1992, tim Williams-Renault mulai mendominasi F1. Senna mengakhiri kejuaraan tahun 1993 sebagai runner-up, dan bernegosiasi untuk pindah ke Williams pada tahun 1994.

Senna selalu terpilih sebagai pembalap F1 terhebat sepanjang masa dalam berbagai polling, bahkan sampai saat ini. Ia menjadi pemegang rekor peraih pole position terbanyak dari tahun 1989 sampai dengan tahun 2006. Ia juga terkenal sebagai Rain Master, jagonya the art racing in the rain. Ia memenangkan sirkuit basah seperti Grand Prix Monaco 1984, Grand Prix Portugis 1985, dan Grand Prix Eropa 1993. Ia memenangkan enam Grand Prix Monaco yang prestisius, dan merupakan pemenang Grand Prix ketiga terbanyak sepanjang sejarah dengan masa karir yang tergolong singkat.

Senna's years in F1: Toleman, Lotus, McLaren and Williams

Oke, kembali ke review buku ini.

Rubython membagi buku The Life of Senna dalam 36 bab, tanpa urutan yang kronologis.

Setelah pengantar dari Gerhard Berger, yang pernah menjadi rekan setim, dan Keith Sutton, fotografer Inggris yang tanpa sengaja menjadi PR Senna, kita dilangsung dibawa masuk ke trageni gugurnya Senna di sirkuit pada bab pertama yang diberi judul  Life: 2:17 pm, Sunday 1st May 1994. Pada bab dua, barulah diceritakan dua puluh tahun awal kehidupannya, di mana Senna yang telah belajar mengemudi sejak masih balita, dan sejak kanak-kanak telah mengikuti balapan go-kart, memilih olahraga otomotif khususnya balap mobil sebagai jalan hidupnya.



Bab-bab lain membahas karir singkatnya di F3, yang dilanjut dengan kesempatan untuk bergabung dengan tim-tim F1. Pilihannya pada tim Toleman untuk memulai karir di F1 murni berdasarkan prinsip. Sebagai seseorang sangat yakin bahwa dirinya pembalap terbaik dan tercepat, ia tidak mau bergabung di tim besar, di mana posisi yang ditawarkan kepadanya sebagai orang baru sudah pasti sebagai pembalap kedua yang kurang mendapat prioritas. Bersama Toleman dan Lotus, Senna berhasil membuktikan bahwa ia memang pembalap tercepat di F1. Sayangnya, mobil Toleman dan Lotus kurang bisa diandalkan, sehingga Senna baru bisa meraih juara dunia setelah ia bergabung dengan tim McLaren dengan mesin Honda yang tak ada tandingannya selama musim kejuaraan tahun 1988.


Selain kisah mengenai prestasi Senna di dunia balap, bumbu dan highlight yang sedap dibahas dan diulik dalam buku ini tentu saja hubungannya dengan para pembalap F1 lainnya, baik di arena maupun di luar arena balap. Misalnya saja dengan Nelson Piquet, pembalap F1 yang juga berasal dari Brazil, yang pastinya merasa terancam status pahlawan olahraga Brazil bakal direbut oleh anak pendatang baru. Atau dengan pembalap besar lainnya seperti Niki Lauda, Nigel Mansell, dan tentu saja Alain Prost, yang paling banyak bersaing sengit justru pada saat mereka masih satu tim di McLaren-Honda.

Ki-ka: Senna, Prost, Mansell dan Piquet. Di sini kelihatannya adem ya...
Salah satu kekurangan utama Senna, ia tidak punya keluwesan untuk berurusan dengan pers, sementara para pesaingnya lebih lihai dan tahu cara memanipulasi pers. Baginya, hal yang paling penting adalah pembuktian di lapangan. Tapi masalahnya jadi rumit buat Senna yang tidak suka basa-basi. Hampir sepanjang karirnya, ia menjadi bulan-bulanan dan dipojokkan oleh pers, terutama pers Inggris, negara asal dari semua tim yang dimasukinya, dan pers Prancis, tentunya, negara asal Prost.

Banyak hal yang membuat Senna kerap menjadi sasaran tembak para jurnalis. Apalagi kalau ia sudah mengambil sikap dan keputusan yang baginya adalah masalah prinsip, tapi membuat banyak orang menganggapnya sebagai bajingan egois tanpa hati yang menghalalkan segala cara untuk menang. Untungnya (atau sialnya?), Senna tidak terlalu peduli, meskipun kadang hal tersebut akan merugikan baginya.

Tampilan luar Senna yang tampak dingin dan susah didekati memang gampang membuat orang salah paham. Hanya orang-orang yang mengenalnya dari dekat yang tahu seperti apa Senna sebenarnya.

One asked him why he was always such a miserable SOB. He replied: "I never smile much, because that's my way to be. But I am very happy inside. You people don't know me at all. And not knowing me, you cannot have the right feelings for it. I think I give a lot of my dedication to my profession. I work very hard, with the technicians. And we all won this championship together, step by step, race after race. And not in one race. We didn't win the championship here, we won the championship throughout the season, making the right decision and the right choices at critical moments. That's why you win a championship."

Buku ini juga membahas kehidupan Senna di luar dunia olahraga otomotif, yaitu hubungannya dengan orang-orang terdekat yang mengetahui pribadi Senna dalam kesehariannya: keluarga, kekasih, dan sahabat-sahabatnya. Berbeda dengan Alain Prost, hubungannya dengan Gerhard Berger, yang menjadi rekan setimnya setelah Prost pindah ke Ferarri, jauh lebih baik. Mungkin karena Berger lebih dapat memahami kepribadian Senna yang memang sulit, dan yang lebih penting lagi, cukup rendah hati untuk mau mengakui bahwa Senna memang pembalap yang lebih baik darinya. Masa-masa pertemanan mereka itu disebut "James Bond Years", yang konon disebut-sebut masa di mana Senna mengajari Berger bagaimana menjadi pengemudi yang lebih baik dan sebaliknya, masa di mana Berger mengajari Senna bersenang-senang, menikmati hidup di luar dunia balap.

Pada akhirnya, buku ini membahas tragedi kecelakaan Senna di sirkuit Imola dengan lebih detil, dan bagaimana tragedi itu mempengaruhi balapan F1 selanjutnya, dengan ditetapkannya peraturan-peraturan yang membuat kondisi balapan menjadi lebih aman bagi para pembalap untuk mengurangi kemungkinan terjadinya kembali kecelakaan fatal yang memakan korban jiwa.

Review singkat ini kubuat sebagai tribute untuk Ayrton Senna da Silva, to celebrate his life, dan memang sengaja kujadwalkan untuk diposting pada tanggal 21 Maret 2016, tepat 56 tahun sejak Ayrton Senna dilahirkan. Apabila Ayrton Senna masih hidup sampai saat ini, mungkin saja sejarah F1 akan jauh berbeda. Mungkin.







Saturday, February 28, 2015

The King's Speech

Judul : The King's Speech: How One Man Saved The British Monarchy

Penulis: Mark Logue & Peter Conradi

Pertama kali terbit: 2010

Pertama kali dibaca tanggal : 21 April 2011

Dibaca ulang tanggal : 26 Februari 2015

Review:

"The Quack who saved a King", begitukah julukan di sebuah surat kabar Inggris tahun 1930-an bagi speech therapist Lionel Logue. Sebagai rakyat biasa, bukan warga negara Inggris pula, melainkan Australia, ia sangat berjasa bagi Keluarga Kerajaan Inggris di paruh awal abad ke-20.

Berjasa? Dalam hal apa?

Logue menolong Pangeran Albert Frederick Arthur George, Duke of York, yang terkenal gagap dan susah bicara (di depan publik pada umumnya), menyelamatkan reputasi dan harga dirinya, yang menjadi lebih penting ketika sang pangeran terpaksa harus naik takhta dan menjadi King George VI, setelah kakak sang pangeran, King Edward VIII melepaskan gelar dan jabatannya demi cinta.

Buku ini merupakan biografi singkat, dari sisi Lionel Logue maupun King George VI, yang menceritakan hubungan erat antara speech therapist dan pasiennya, dengan sumber antara lain surat-surat dan dokumen pribadi keluarga Logue.

Awalnya, Mark Logue, cucu dari Lionel Logue, didatangi pihak produser yang tengah mempersiapkan pembuatan film The King's Speech (yang disutradarai oleh Tom Hooper dan dibintangi oleh, tentu saja, Colin Firth), dan membutuhkan bahan-bahan otentik yang bisa mendukung cerita. Setelah mencari-cari di gudang pribadi, maupun gudang saudara-saudara yang lain, terkumpullah dokumen yang cukup lengkap, yang juga dipakai para aktor untuk lebih mendalami peran mereka.

Karena bentuknya berupa biografi, bagi yang berharap mendapatkan isinya berupa novelisasi versi filmnya, jelas akan kecewa. Tapi buku ini penting sebagai pelengkap versi film. Mengapa? Kita akan lebih mengetahui masa lalu Lionel Logue dan King George VI. Bagaimana Logue bisa menjadi speech therapist? Seperti apa masa kanak-kanak King George VI (status pangeran malah membuatnya jadi korban bully di sekolah)? Dan tentu saja, bagaimana mereka akhirnya bertemu dan kemudian tetap bersahabat sampai akhir hayat.

Setelah membaca fakta-fakta sejarah dalam buku ini, tentu saja kita akan menyadari bahwa versi film merupakan dramatisasi, dengan timeline yang dipersingkat, dan sudah pasti banyak adegan atau dialog yang mungkin direka-reka sendiri, misalnya, metode yang digunakan Logue, karena tidak ada catatan sama sekali.

Dari latihan vokal...

Latihan diafragma...
Sampai latihan mengumpat...
Ada untungnya saudara perempuan Colin Firth juga seorang speech therapist, sehingga meskipun belum tentu terapi aneh-aneh yang digunakan dalam versi film sama dengan yang sebenarnya, kemungkinan besar memang metodenya memang efektif.

Dan tentu saja, buku ini dilengkapi foto-foto. Jadi jangan kaget kalau ternyata tampang para tokoh utamanya berbeda jauh dengan aktor-aktor yang memerankannya. Yah... namanya juga film, yang dibutuhkan adalah kemampuan akting yang membuat penonton terpesona sehingga segala perbedaan fisik bisa dimaafkan dan dilupakan :)

... wajar kalau sempat ada yang memprotes waktu casting CF sebagai King George VI diumumkan
Minimal sisiran rambutnya mirip sih...
Yah... sudahlah....
Buku ini kubaca dan kureview dalam rangka mengikuti event BBI bulan Februari ini:

Tema : Profesi
In the past, all a King had to do was look respectable in uniform and not fall off his horse. Now we must invade people's homes and ingratiate ourselves with them. This family's been reduced to those lowest, basest of all creatures. We've become actors!

Saturday, February 21, 2015

Colin Firth Month

Bulan ini, aku terjangkit penyakit lama yang kukira takkan pernah kambuh lagi: Colin Firth Fever.

Mulanya biasa saja. Sudah lama aku tidak main ke bioskop. Film terakhir yang kutonton di layar lebar adalah The Hobbit: The Battle of the Five Armies. Jadi, ketika tahu film Wachowski bersaudara terbaru, Jupiter Ascending, sudah diputar, aku berencana menontonnya. Alasannya simpel: film yang pantas ditonton di layar lebar adalah film action yang penuh efek khusus. Tapi kemudian, nafsuku untuk menonton film itu lenyap.

Bukan, bukan karena tokoh utama cewek di Jupiter Ascending punya nama yang sama dengan tokoh utama serial Trio Detektif, Jupiter Jones, melainkan gara-gara aku mengecek ratingnya dulu di rottentomatoes dan IMDb, dan ternyata... jelek.

Kadung sudah niat nonton di bioskop, aku pun memilih untuk menonton film yang diputar di studio sebelah: Magic in the Moonlight. Berlawanan dengan prinsip pribadi untuk tidak menonton film drama di bioskop (nggak ada efek khususnya!), aku menontonnya hanya karena dua alasan: genre filmnya rom-com, dan yang main... Colin Firth.

Meskipun awalnya cukup skeptis (beda umur Colin Firth dan Emma Stone jauh banget, bro), ternyata film Woody Allen membuatku puas terpingkal-pingkal karena dialog-dialognya yang kocak dan karakter Stanley-nya Colin Firth yang unik, seperti hasil persilangan antara Mr. Darcy dan Sherlock Holmes.

Duh. Jadi ingin nonton film Colin Firth lagi.

Be careful of what you wish for... karena minggu depannya ternyata Kingsman: The Secret Service ditayangkan, dan... Colin Firth tampil beda! *terus nangis darah karena satu adegan utama Colin Firth yang kutunggu-tunggu dibabat habis oleh LSF* #huh

Duh. Jadi ingin nonton film Colin Firth lagi.

Selanjutnya, jadilah aku menghabiskan waktu luang untuk menonton film-film Colin Firth. Berturut-turut. Terus menerus. Sampai kurang tidur padahal besoknya harus kerja.

Before I Go To Sleep.
The King's Speech.
A Single Man.
Devil's Knot.
Gambit.
Easy Virtue.
The Last Legion.
Girl With A Pearl Earring.
What A Girl Wants.
The Importance of Being Earnest.
Love Actually.
Bridget Jones's Diary: Edge of Reason.
Bridget Jones's Diary.
Pitch Fever.
The English Patient.
Valmont.
Dan.... tentu saja  Pride & Prejudice. Enam episode berturut-turut.

Demam lama kambuh lagi. Cinta Lama Bersemi Kembali. Benar-benar tidak sehat ini! Mana sampai saat ini belum sempat bikin review buku, pula!

Ya sudahlah, mumpung lagi demam, sekalian saja aku membaca biografi Colin Firth! Up close and personal!


Dan hasilnya...

Wednesday, October 29, 2014

Einstein: Kehidupan dan Pengaruhnya bagi Dunia

Einstein: Kehidupan dan Pengaruhnya bagi DuniaEinstein: Kehidupan dan Pengaruhnya bagi Dunia by Walter Isaacson
My rating: 5 of 5 stars

Tidak, di sini aku tidak akan menulis review panjang lebar.

Yang pasti, buku ini sangat kurekomendasikan bagi mereka yang tertarik pada Einstein, baik kehidupan pribadi, pencapaian, maupun pemikirannya.

Dan yang pasti, ketika aku melihat foto-foto Einstein muda yang disertakan dalam buku ini, kurasa saat ini ada aktor muda yang cocok untuk memerankan sang Einstein muda:

Eeerie. Just eerie...

View all my reviews

Sunday, July 27, 2014

The Red Baron

The Red BaronThe Red Baron by Manfred von Richthofen
My rating: 5 of 5 stars

Buku ini kutemukan di salah satu lapak buku bekas di Plaza Semanggi, dengan kondisi yang lumayan bagus untuk sebuah buku terbitan tahun 1976. Seperti biasa, aku membelinya dengan alasan "sepertinya menarik", karena cukup tahu tentang pilot ace Perang Dunia I ini dari bacaan perang/militer yang pernah kubaca, apalagi buku ini ditulis sendiri oleh sang Red Baron.

Biasanya sih buku yang dibeli gara-gara "sepertinya menarik" berakhir "hit or miss" dengan perbandingan fifty-fifty. Untungnya, buku ini termasuk yang hit. Setengahnya karena aku memang penggemar bacaan perang/militer, tapi setengahnya lagi karena aku suka gaya penulisan biografi ini, dan... iya, mungkin agak bias juga karena penulisnya ganteng dan keren :D

Rittmeister Manfred Freiherr von Richthofen
Jadi, siapakah makhluk manis dengan lirikan maut di atas ini?

Dari cover belakang buku, bisa kita dapatkan gambaran singkatnya:
Manfred von Richthofen, the Red Baron, was probably the greatest air ace of either World War. In nearly three years of combat, from 1915 to 1918, he shot down more aircraft than any other flier. A staggering 80 kills accounted for the death, wounding or capture of 126 Allied pilots; von Richthofen's blood-red Fokker was a sky-born legend, the man a hero.
Aslinya, buku ini merupakan jurnal pribadi Manfred von Richthofen dengan judul "My Life In The War", yang terbit pada tahun 1918 sebelum ia gugur. Edisi The Red Baron merupakah terjemahan bahasa Inggris dari terbitan 1933, yang juga mencakup surat-surat Manfred von Richthofen semasa Perang Dunia I, ditambah tulisan dari kedua adiknya, Lothar dan Bolko, serta catatan dari Captain A. Roy Brown, pilot yang menembak jatuh Von Richthofen.

Lahir pada tanggal 2 Mei 1892, sebagai anggota keluarga bangsawan Prussia dan putra seorang mayor, Manfred dipaksa masuk Cadet Corps pada usia sebelas tahun. Ia kurang cocok dengan peraturan dan disiplin, dan tidak suka belajar. Prinsipnya "It would have been wrong to do more than was necessary, so I worked as little as possible." Duh, tipe Sloth Deadly Angel banget nih, tipe murid yang tidak disukai guru-guru strict deh :) Tapi kemalasannya diimbangi dengan kesukaannya di bidang olahraga, terutama senam, sepakbola, dan berkuda.

Pada awal karir militernya, Manfred merupakan bagian dari pasukan kavaleri Jerman. Pada tahun 1911 ia bergabung di sekolah militer, dan menjadi perwira dengan pangkat letnan pada tahun 1912. Di masa damai sebelum perang dimulai, ia mengikuti dan memenangkan kompetisi berkuda, dengan prestasi terakhir Kaizer Prize Race pada tahun 1913.

Di awal Perang Dunia I, Manfred menjadi bagian dari tim reconnaisance baik di Front Timur maupun Front Barat. Namun dengan berkembangnya perang parit, operasi kavaleri berkuda menjadi kurang relevan, sehingga Manfred tahu-tahu mendapat pekerjaan membosankan: asisten ajudan, dan turun derajat dari pasukan tempur menjadi kurir. Tidak cocok dengan pekerjaan membosankan tanpa tantangan, begitu mendapat tugas logistik, ia nekat menulis surat permohonan pada komandannya, yang konon berbunyi "Yang Mulia, saya tidak pergi berperang untuk mengumpulkan keju dan telur, tapi untuk tujuan lain". Untunglah meskipun suratnya membuat tersinggung sebagian orang, permintaannya dikabulkan. Pada bulan Mei 1915, ia bergabung dengan Angkatan Udara.

Pada karir awalnya di Angkatan Udara, Manfred kembali bertugas sebagai tim reconn. Sebagai observer di pesawat two-seater, ia tidak menjadi pilot, melainkan menangani bom dan senapan mesin. Tapi kemudian ia berlatih menjadi pilot, bergabung dengan skuadron Boelcke sebagai pilot tempur solo, dan belakangan memimpin suadron sendiri (Jagdstaffel alias Jasta 11). Dan... tentu saja sisa hidup selanjutnya menjadi legenda.
Red Baron dan Jasta 11-nya
Membaca kisah Manfred von Richthofen dari sudut pandang dan pemikiran pribadinya ini mengasyikkan. Meskipun pada saat itu pihak lawan menjulukinya "Le Diable Rouge" atau "Red Devil" alias Setan Merah (sama sekali tidak ada hubungannya dengan Manchester United) karena kepiawaiannya di angkasa, kita tahu kalau dia manusia biasa. Manusia biasa yang melakukan hal-hal luar biasa, tentu saja. Dan karena penuturannya tentang hal-hal yang dialaminya selama perang, seburuk apapun, selalu dipandang dari sudut yang positif, sehingga kisah perang yang dialaminya terasa bagaikan petualangan yang seru dan mendebarkan. Pembaca seolah menonton film perang dengan Von Richthofen sebagai tokoh utama, mendukung apapun keputusan yang dibuatnya, dan lupa berpikir dari sudut lawannya yang jadi korban.


Bagi Manfred von Richthofen, berperang dan bertempur itu fun! Tidak peduli di darat ataupun di udara. Sebagai seorang pemburu sejati, (iya, ia masih sempat-sempatnya berburu babi dan bison di masa perang), menjadi pilot pesawat tempur jelas pekerjaan ideal: menyalurkan hobi sambil tetap mengabdi pada negara. Memburu skuadron lawan, dog-fight satu lawan satu, atau satu lawan banyak sekalipun, menembak jatuh minimal satu pesawat musuh setiap kali terbang, benar-benar mengasyikkan. Ia mengakui bahwa sebagai pilot pada awalnya ia lebih sebagai hunter ketimbang shooter. Ia merasakan kepuasan setiap kali berhasil menembak jatuh lawannya. Seorang shooter lebih klinis, apabila berhasil menembak jatuh lawan, ia tidak merasakan emosi yang berlebihan, dan langsung beralih pada lawan berikutnya. Hm, kalau von Richthofen hidup di masa sekarang, mungkin ia bisa menyalurkan hobinya dengan bermain video games, tanpa benar-benar membunuh makhluk bernyawa.

Kenapa Manfred von Richthofen dijuluki Red Baron? Pertama, ia seorang Freiherr yang tidak ada gelar padanannya di Inggris, tapi kira-kira setingkat gelar baron. Kedua, ia mengecat pesawat Fokker triplane-nya dengan warna merah menyala. Benar-benar mencolok, seolah menunjukkan dirinya dan menantang semua orang "Come and get me!", persis seperti warna armor Iron Man atau jacket Rita Vrataski di All You Need Is Kill. Pokoknya kelihatan banget dari jauh, dan membuat lawan sempat lempar koin dulu sebelum memutuskan untuk memburu atau menghindarinya.
Replika Triplane Fokker Dr. I Von Richthofen
Kok sombong banget sih, di saat orang lain berusaha terbang diam-diam tanpa ketahuan? Menurut cerita adiknya, Lothar, yang juga merupakan anak buah dan wingman-nya, pada awal karir sebagai pilot tempur Manfred merasa terganggu karena ia merasa terlalu mudah dilihat oleh lawannya dalam pertempuran udara, dan sudah berusaha menggunakan berbagai macam warna untuk penyamaran, tapi kamuflase tidak ada gunanya untuk benda bergerak seperti pesawat. Akhirnya, supaya mudah dikenali oleh rekan-rekannya di udara, ia memilih warna merah menyala.

Pada awalnya hanya Manfred sendirian yang menggunakan pesawat berwarna merah. Awalnya ia dijuluki "Le petit rouge", dan pernah dikira "Joan of Arc" atau wanita sekaliber itu karena warna merah identik dengan wanita. Tapi segera semua orang tahu siapa yang duduk di dalam pesawat merah. Setiap kehadirannya dapat langsung meningkatkan semangat pasukan darat dan mengendurkan semangat pasukan lawan. Demi melindungi Manfred yang terlalu mencolok itulah, para anggota skuadronnya memutuskan untuk ikut mengecat merah pesawat mereka juga. Untungnya, kepiawaian tempur mereka membuktikan bahwa mereka juga pantas mengenakan simbol yang sama dengan pemimpin mereka.
Kompakan, yuuuk!
Korban Manfred kebanyakan penerbang Inggris, dan ia memang lebih suka menghadapi orang Inggris. Baginya, penerbang Prancis pengecut, karena lebih memilih kabur kalau bertemu dengannya. Penerbang Inggris umumnya berani menantangnya atau menerima tantangannya. Kalau dipikir-pikir, antara pintar dan pengecut atau berani dan bodoh itu memang tipis bedanya. Kalau sudah tahu lawan yang dihadapi adalah the Red Baron, memangnya salah kalau memilih kabur?

Karena itulah Inggris sampai membentuk skuadron khusus dengan tujuan utama menghancurkan Manfred von Richthofen. Pilot yang berhasil menembak jatuh atau menangkapnya akan mendapat Victoria Cross, promosi, pesawat pribadi, 5.000 poundsterling, dan hadiah khusus dari pabrik pesawat yang digunakan si pilot. Bersama skuadron itu akan terbang juru kamera yang akan merekam seluruh kejadian dengan tujuan film propaganda British Army. Apa yang dipikirkan Manfred von Richthofen ketika membaca berita spesial itu benar-benar kocak!

Pada tanggal 6 Juli 1917, Manfred terluka dalam sebuah dog-fight. Deskripsinya tentang apa yang terjadi ketika kepalanya tertembak dan pesawatnya jatuh benar-benar membuat kita dapat merasakan berada di kokpit pesawat dan terluka bersamanya. Ia selamat dengan luka parah di kepala dan dadanya. Tapi, karena beberapa waktu sebelumnya adiknya Lothar juga terluka dan dirawat di rumah sakit, yang terpikir olehnya malah siapa di antara mereka yang bisa terbang lebih dulu. Dasar kompetitif!

Foto bareng suster Kate yang merawatnya
Manfred von Richthofen menulis dan menerbitkan jurnal perangnya selama masa perawatan (berdasarkan instruksi bagian propaganda Angkatan Udara Jerman). Kalau sebelumnya ia sudah terkenal di kalangan militer baik di pihaknya sendiri maupun pihak lawan, kali ini ia mendadak jadi selebriti dan idola buat masyarakat kebanyakan, yang membanjirinya dengan surat penggemar. Bahkan London Times juga menulis review bukunya, padahal waktu itu perang belum berakhir. 

Meskipun sering bersenggolan dengan Maut, Manfred von Richthofen jarang benar-benar terluka. Namun, keberuntungannya berakhir pada tanggal 21 April 1918 ketika ia tertembak jatuh oleh Captain Roy Brown (catatan resmi demikian, meskipun sekarang terbukti bahwa peluru yang membunuh von Richthofen berasal dari anti-aircraft gun di darat). Ia dikebumikan secara militer dan penuh kehormatan oleh pihak Inggris.

Captain von Richthofen, the brave and worthy foe
Ia gugur di usia dua puluh lima tahun.

If I should live through this war, I shall have more luck than sense. 
-- Manfred von Richthofen
  
View all my reviews

Thursday, June 26, 2014

Taiko: An Epic Novel of War and Glory in Feudal Japan

Review ini ditulis dalam rangka:
Tema Sastra Asia
Sinopsis
Dalam pergolakan menjelang dekade abad keenam belas, Kekaisaran Jepang menggeliat dalam kekacau-balauan ketika keshogunan tercerai-berai dan panglima-panglima perang musuh berusaha merebut kemenangan. Benteng-benteng dirusak, desa-desa dijarah, ladang-ladang dibakar.
Di tengah-tengah penghancuran ini, muncul tiga orang yang bercita-cita mempersatukan bangsa. Nobunaga yang ekstrem, penuh kharisma, namun brutal. Ieyasu yang tenang, berhati-hati, bijaksana, berani di medan perang, dan dewasa. Namun kunci dari tiga serangkai ini adalah Hideyoshi, si kurus berwajah monyet yang secara tak terduga menjadi juru selamat bagi negeri porak-poranda ini. Ia lahir sebagai anak petani, menghadapu dunia tanpa bekal apapun, namun kecerdasannya berhasil mengubah pelayan yang ragu-ragu menjadi setia, saingan menjadi teman, dan musuh menjadi sekutu. Pengertiannya yang mendalam terhadap sifat dasar manusia telah membuka kunci pintu-pintu gerbang benteng, membuka pikiran orang-orang, dan memikat hati para wanita. Dari seorang pembawa sandal, ia akhirnya menjadi Taiko, penguasa mutlak Kekaisaran Jepang.
Taiko merupakan karya besar Eiji Yoshikawa, penulis bestseller internasional, yang berisi pawai sejarah dan kekerasan, pengkhianatan dan pengorbanan diri, kelembutan dan kekejaman. Sebuah epik yang menggambarkan kebangkitan feodal Jepang secara nyata.

Mengapa aku memilih novel ini
Ya jelas... aku suka banget novel sejarah ini!

Waktu pertama kali aku membeli dan membaca novel ini pada tahun 1994 (waduh, ternyata sudah 20 tahun yang lalu, ya?), wujudnya belum berupa satu jilid novel hardcover yang bisa dijadikan bantal seperti sekarang, melainkan masih terdiri dari 10 jilid, dan diterbitkan secara bersambung. Aku harus menunggu dua minggu sampai dengan satu bulan untuk bisa membaca jilid berikutnya. Benar-benar menguji kesabaran untuk mengumpulkan dan membacanya!

Karena novel ini merupakan salah satu favoritku, maka ketika novel ini turut raib dari koleksiku, aku merasa wajib untuk membelinya lagi... tapi tetap yang versi 10 jilid. Terpaksa deh beli buku seken dengan harga yang lumayan menguras dompet. Padahal sudah ada cetak ulang hardcover dengan harga lebih murah, tapi tetap saja rasanya beda. Move on itu memang susah, Jenderal!

General Review
Seperti halnya Musashi, novel ini merupakan biografi bebas Toyotomi Hideyoshi karya Eiji Yoshikawa.


Pada zaman perang saudara di Jepang, di mana para daimyo/warlord berperang untuk memperebutkan wilayah dan kekuasaan setelah keshogunan Ashikaga ambruk, muncullah tiga tokoh yang sangat berpengaruh: Oda Nobunaga, Tokugawa Ieyasu, dan Toyotomi Hideyoshi. Ketiganya sama-sama bercita-cita menguasai dan mempersatukan Jepang, namun sifat mereka berbeda secara mencolok satu sama lain. Nobunaga: gegabah, tegas, brutal. Hideyoshi: sederhana, halus, cerdik, kompleks. Ieyasu: tenang, sabar, penuh perhitungan. Falsafah-falsafah yang berlainan itu sejak dulu diabadikan oleh orang Jepang dalam sebuah sajak yang diketahui oleh setiap anak sekolah:
Bagaimana jika seekor burung tidak mau berkicau?
Nobunaga menjawab,"Bunuh burung itu!"
Hideyoshi menjawab, "Buat burung itu ingin berkicau."
Ieyasu menjawab, "Tunggu."
Buku ini merupakan kisah laki-laki yang membuat burung ingin berkicau.

Sepanjang buku ini, kita tahu bahwa dalam rangka mencapai cita-citanya mempersatukan Jepang, Nobunaga menggunakan kekerasan dan perang untuk menghabisi semua musuh-musuhnya, dimulai dari pembersihan klannya sendiri, lalu menaklukkan daimyo lain yang tak mau bersekutu dengannya. Kemenangan demi kemenangan yang terus diraihnya membuat posisinya naik dengan amat cepat.

Di balik keberhasilannya, ada seorang Hideyoshi, yang berkarir dari seorang pembawa sandal hingga menjadi jenderal kepercayaan, seorang ahli strategi yang sangat cerdas dan pandai mempengaruhi orang lain. Kadangkala, dengan keahlian diplomasinya Hideyoshi mampu menaklukkan musuh hanya dengan kata-kata. Saat Nobunaga wafat sebelum cita-citanya tercapai, hanya Hideyoshi yang pantas mengambil alih dan menyelesaikan perjuangannya mempersatukan Jepang, dan akhirnya menjadi Taiko.

Bagaimana dengan Ieyasu? Sebenarnya ambisinya sama besarnya dengan Nobunaga dan Hideyoshi, namun ia seorang safety player yang amat sangat sabar. Sadar bahwa sulit mengambil alih Jepang selama Hideyoshi masih hidup, maka ia tidak mengambil risiko dan dengan sabar menunggu. Memang tidak diceritakan dalam novel ini, tapi sejarah menunjukkan bahwa Ieyasu baru bergerak setelah Hideyoshi wafat, berperang dan menang melawan keturunan Hideyoshi, kemudian mendirikan keshogunan Tokugawa yang bertahan ratusan tahun.

Hikmah yang bisa diambil: ada 3 cara untuk menjadi penguasa. Tipe seperti apakah Anda?

Reviews
Silakan berhenti membaca kalau kau merasa review novel ini terlalu panjang. Iya, aku akan membahas setiap jilidnya. Dan iya deh, daripada review sepertinya lebih pantas dibilang ringkasan per jilidnya :))

Taiko 1 - Tahun Temmon Kelima 1536Taiko 1 - Tahun Temmon Kelima 1536 by Eiji Yoshikawa
My rating: 5 of 5 stars

"Sambil mengembara dan mengamati golongan pendekar--jenderal-jenderal yang baik, jenderal-jenderal yang buruk, para penguasa provinsi besar dan kecil--hamba mencapai kesimpulan bahwa tak ada yang lebih penting daripada pandai memilih majikan."

Terlalu sombongkah pemikiran seorang pemuda miskin tanpa keahlian apa-apa, di saat kebanyakan orang sudah merasa bersyukur asal punya pekerjaan sekadar untuk menyambung hidup?

Terlahir sebagai anak Kinoshita Yaemon, anak seorang mantan prajurit infanteri yang menjadi petani setelah invalid, Hiyoshi kecil tidak bermimpi menjadi seorang samurai. Tapi setelah beranjak besar dan bekerja pada majikan yang berbeda-beda, ia sampai pada kesimpulan, bahwa tak ada yang lebih penting daripada pandai memilih majikan.

Bukan masalah baik tidaknya perlakuan seorang majikan, tapi apakah sang majikan dapat membuatnya rela berbuat apa saja, bahkan menyerahkan nyawa.

Hiyoshi pernah bekerja sebagai pelayan pada saudagar tembikar, ronin dari marga Hachisuka, dan terakhir pada Matsushita Kahei, seorang pengikut marga Imagawa.

Hidup di dunia pelayan memberikan kesempatan bagi Hiyoshi untuk mempelajari sifat-sifat manusia. Dan tidak seperti pelayan lainnya yang hanya bekerja untuk makan, pikiran Hiyoshi selalu terbuka untuk mempelajari situasi dan kondisi negerinya. Sayangnya, pelayan biasa yang terlalu cerdas dan terlalu disukai majikan mudah menimbulkan banyak musuh, dan pada akhirnya Hiyoshi terpaksa kembali ke kampung halamannya di Owari.

Di sanalah Hiyoshi terpikat pada Oda Nobunaga dan literally memohon di bawah kakinya untuk mengabdi. Mengapa demikian? Ia dapat melihat karakter asli Nobunaga di balik semua topeng kepandiran yang dipasang Nobunaga untuk mengelabui musuh-musuh terdekatnya, keluarganya sendiri. Untunglah Nobunaga tertarik pada semangat dan tekadnya, dan menerimanya sebagai pengikut.

Dengan nama baru Kinoshita Tokichiro, karirnya sebagai pengikut Nobunaga mulai berkembang. Awalnya hanya sebagai pembawa sandal, namun kesigapannya dalam perang melawan pemberontakan dari pengikut Nobunaga, Shibata Katsuie dan Hayashi Mimasaka, membuatnya mendapat perhatian khusus.

Tokichiro naik pangkat sebagai petugas dapur, dan membuat perubahan signifikan di dapur benteng Kiyosu. Setahun kemudian, ia ditugaskan menjadi pengawas arang dan kayu bakar untuk efisiensi. Taktiknya melonggarkan aturan pemakaian arang dan pendekatannya dengan para saudagar pemasok membuat tugasnya berhasil dengan gemilang. Ia juga mencanangkan reboisasi, penanaman lima ribu bibit untuk setiap seribu pohon yang ditebang! Atas jasanya sebagai problem solver, ia pun mendapat tugas baru untuk mengurus kandang.

Kenaikan gaji tidak ada apa-apanya dibandingkan kata-kata Nobunaga: "Kau telah bekerja dengan baik. Orang seperti kau di tempat seperti itu adalah sia-sia." Pengikut mana yang tidak bahagia mendapat pengakuan seperti itu?

Kesimpulannya adalah: Oda Nobunaga seorang pemimpin yang sangat memahami talent management.

Taiko 2 - Tahun Koji Kedua 1556Taiko 2 - Tahun Koji Kedua 1556 by Eiji Yoshikawa
My rating: 5 of 5 stars

Sebuah bait dari Seni Perang karya Sun Tzu menyebutkan:


Prinsip utama

Untuk kemenangan dalam perang

Adalah membuat prajurit

Mati bahagia


Ada dua contoh dalam jilid ini yang menunjukkan bagaimana seorang pemimpin yang baik dapat memotivasi dan mendorong orang-orang di bawah pimpinannya untuk berjuang keras sampai titik darah penghabisan dengan penuh kerelaan dan kebahagiaan.

Skala kecilnya adalah ketika Kinoshita Tokichiro mampu memotivasi para pekerja bangunan yang semula ogah-ogahan melakukan renovasi dinding benteng pertahanan Kiyosu hingga bersedia membanting tulang tiga hari tiga malam tanpa istirahat demi penyelesaiannya.

Skala besarnya adalah ketika Oda Nobunaga membawa para pengikut dan tentaranya yang hanya beberapa ratus orang melakukan perlawanan terhadap serangan pasukan Imagawa Yoshimoto dari Provinsi Suruga. Pasukan Imagawa yang berjumlah sekitar empat puluh ribu orang sama sekali tidak membuat gentar. Pada pertempuran Okehazama, kepala Imagawa Yoshimoto jatuh dan pasukannya tercerai berai. Oda Nobunaga dari Owari pun mulai diperhitungkan dalam kancah perebutan kekuasaan.

Jilid ini ditutup dengan dua hal penting:
1. Tokichiro berhasil menikahi Nene, putri samurai yang telah lama didambakannya, malah dengan bantuan saingan cintanya.
2. Tokugawa Ieyasu dari Mikawa, yang semula merupakan pengikut Imagawa, bersedia menerima tawaran Nobunaga untuk membentuk persekutuan.

Taiko 3 - Tahun Eiroku Kelima 1562Taiko 3 - Tahun Eiroku Kelima 1562 by Eiji Yoshikawa
My rating: 5 of 5 stars

Di jilid ini ditunjukkan bagaimana cara seorang Kinoshita Tokichiro mengubah lawan menjadi kawan.

Pertama, ssat mendapat tugas untuk membangun benteng di Sunomata yang berbatasan dengan wilayah marga Saito, Tokichiro berhasil membujuk mantan majikannya, Hachisuka Koroku yang membawahi ribuan ronin. Koroku sudah lama setia pada marga Saito meskipun sudah lama putus hubungan. Dengan keahliannya beragumentasi dan visi seorang biksu yang mampu membaca wajah dan karakter seseorang, Koroku pun pindah ke lain hati.

Benteng Sunomata yang gagal dibangun oleh beberapa pengikut Oda yang lebih senior mampu dituntaskan oleh Tokichiro. Atas prestasinya itu, ia menjadi komandan benteng tersebut dan memperoleh nama baru, Kinoshita Hideyoshi.

Kedua, dalam rangka menggoyahkan marga Saito dari dalam, ia berhasil menaklukkan hati Macan dari Unuma, salah satu jenderal Saito yang tidak turun tangan menyerbunya saat membangun Benteng Sunomata. Berkat sahabat barunya itu, Tiga Serangkai alias tiga jenderal yang menopang marga Saito berhasil ditarik satu demi satu ke pihak Oda.

Ketiga, usaha tak kenal lelahnya membujuk Takenaka Hanbei, penasehat utama marga Saito. Anehnya, gaya Hideyoshi mengetuk pintu hati Hanbei persis gaya Liu Bei membujuk Zhuge Liang. Jadi penasaran, apakah bab ini benar-benar terjadi, ataukah hanya dijiplak dari Sam Kok.

Pada jilid ini juga, diceritakan bagaimana Oda Nobunaga yang kekuatannya sudah besar membantu shogun pengembara Ashikaga Yoshiaki, yang terusir dari Kyoto dan kehadirannya nyaris ditolak di manapun ia mampir, kembali ke istananya.

Di jilid ini pula, Oda Nobunaga menyerang marga Asakura di utara dengan dalih "sama sekali tidak mau membantu pembangunan ulang Istana Kekaisaran". Sayangnya, ia tidak menduga adanya bokongan dari belakang oleh iparnya sendiri, Asai Nagamasa. Untungnya ia mampu bergerak cepat dengan menarik mundur pasukannya kembali ke bentengnya di Gifu. Inilah perang mundur Kanegasaki yang terkenal itu.

Omong-omong, sepertinya kisah manga Nobunaga no Chef dimulai waktu Oda Nobunaga dan Kinoshita Hideyoshi tengah berada di Kyoto sebelum penyerangan ke Asakura.

Taiko 4 - Tahun Genki Pertama 1570Taiko 4 - Tahun Genki Pertama 1570 by Eijo Yoshikawa
My rating: 5 of 5 stars

Pada episode inilah Oda Nobunaga "dinobatkan" sebagai Musuh sang Budha. Ia melakukan pengepungan dan pembakaran Gunung Hiei, wilayah khusus dengan hak-hak istimewa yang dipenuhi biksu prajurit yang menentang Oda Nobunaga, dengan dukungan Sang Shogun serta marga-marga lainnya. Dua kali ia mengepung Gunung Hiei. Pada pengepungan pertama, ia mundur untuk menangani pemberontakan di provinsi sendiri serta ancaman dari Takeda Shingen. Pada pengepungan kedua, ia membumihanguskan gunung itu.

"Serang gunung itu dan bakar semuanya sampai hangus, mulai dari tempat persembahan, gedung utama, biara-biara, serta semua naskah kuno dan barang keramat. Kalau seseorang mengenakan jubah biksu, dia tidak boleh lolos. Jangan bedakan antara orang bijak dan pandir, bangsawan dan biksu biasa. Jangan beri ampun pada perempuan dan anak-anak. Seandainya ada orang berpakaian biasa, kalau dia bersembunyi di gunung dan lari karena kebakaran, kalian boleh menganggapnya sebagai bagian dari penyakit yang harus diberantas. Bantai semuanya, dan bakar gunung itu sampai tak ada tanda kehidupan tersisa di reruntuhannya!"

Buset memang.

Sementara itu, Shingen Takeda bergerak memasuki wilayah Tokugawa Ieyasu. Tanpa menunggu bala bantuan dari Owari, Ieyasu melawan dengan kekuatan terbatas dan mengalami kekalahan besar, namun berhasil menggagalkan rencana Shingen untuk maju ke ibu kota.

Setelah itu, Nobunaga yang mendapat kabar rahasia bahwa Shingen Takeda tiada, merasa lega luar biasa dan menganggap sudah tiba saatnya untuk mengubah sejarah. Ia menyingkirkan Shogun yang tidak tahu terima kasih, menaklukkan marga Asakura dari Echizen, dan akhirnya menghancurkan Asai Nagamasa.

Untuk yang terakhir, Hideyoshi berjasa sangat besar dengan melakukan penaklukkan dari dalam. Selain itu, Hideyoshi juga berjasa menyelamatkan Oichi, adik Nobunaga yang dinikahkan secara politik dengan Nagamasa, serta anak-anaknya. Atas jasanya, ia dianugerahi bekas wilayah Asai dan mendapatkan nama baru: Hashiba Hideyoshi.

Taiko 5 - Tahun Tensho Ketiga 1575Taiko 5 - Tahun Tensho Ketiga 1575 by Eiji Yoshikawa
My rating: 5 of 5 stars

Jilid kelima ini memotret keruntuhan Kai setelah kematian Takeda Shingen. Putranya, Takeda Katsuyori, mewarisi kemampuan bertempurnya, tapi bukan kemampuan membaca keadaan.

Hal paling menyedihkan dari runtuhnya Kai adalah kekalahan pasukannya dari teknologi yang digunakan pasukan Oda Nobunaga. Pembantaian terjadi karena untuk menghadapi pasukan bersenapan, mereka menggunakan "perisai maut", yaitu menggunakan orang barisan terdepan sebagai tameng, dengan asumsi pasukan lawan harus mengisi peluru. Padahal pasukan senapan terdiri atas tiga lapis yang menembak bergantian, sehingga hujan peluru tak berjeda.

Highlight selanjutnya adalah usaha Hideyoshi yang ditugaskan menyerbu ke Barat, untuk menaklukkan provinsi-provinsi di bawah pengaruh marga Mori, dengan didampingi Takenaka Hanbei dan Kuroda Kanbei, pengikut baru Nobunaga yang berasal dari provinsi barat.

Berkat bantuan Hanbei dan Kanbei (kenapa nama mereka berima ya? Ini pasti tidak disengaja, kan?), pasukan Hideyoshi mampu menaklukkan wilayah Harima. Namun saat ia berhasil membuat marga Ukita mau bekerja sama, sehingga Provinsi Bizen dan Mimasaka menjadi sekutu tanpa pertumpahan darah, Nobunaga menyatakan ketidaksenangan karena Hideyoshi bertindak di luar kewenangannya.

Hideyoshi menyadari bahwa Nobunaga ingin menghancurkan marga Ukita, dan membagi-bagikan wilayahnya pada pengikutnya sendiri. Untunglah akhirnya Nobunaga melunak dan bersedia menerima persekutuan dengan marga Ukita. Namun di saat yang sama, salah satu jenderalnya, Araki Murashige, malah menyeberang ke pihak Mori!

Hideyoshi mengirim Kanbei untuk menjadi penengah, tapi berakhir dengan ditangkapnya anak muda itu oleh Murashige. Dan Nobunaga pun memerintahkan agar putra Kanbei yang dijadikan sandera dan dititipkan pada adik Hanbei di Kyoto, untuk dipenggal. Err, curiga anak buah bersalah sih boleh saja, tapi cek dan ricek dulu dong, bos! Tega benar...

Perintah itu jadi masalah serius, karena meskipun pemberontakan Murashige telah dianggap "selesai", sepertinya Hideyoshi dan Hanbei belum memberi kabar tentang pelaksanaannya...

Taiko 6 - Tahun Tensho Ketujuh 1579Taiko 6 - Tahun Tensho Ketujuh 1579 by Eiji Yoshikawa
My rating: 5 of 5 stars

Hideyoshi akhirnya berhasil menyelamatkan Kanbei, dan pembiaran Hanbei atas perintah Nobunaga yang cepat curiga pun dimaafkan. Tapi Kanbei cacat karena lututnya cedera saat melarikan diri dari benteng Murashige, sedangkan kesahatan Hanbei yang selama ini kurang baik pun semakin memburuk.

Hanbei pun wafat. Tapi sebelumnya, ia memberikan amanat yang luar biasa kepada Hideyoshi:

"Setelah mengamati tuanku dengan saksama, hamba tak dapat menemukan ambisi untuk menjadi penguasa seluruh negeri. Sampai sekarang, ini suatu kelebihan dan sebagian dari watak tuanku. Sesungguhnya, tak patut hamba menyinggungnya, tetapi ketika tuanku menjadi pembawa sandal Yang Mulia Nobunaga, tuanku melaksanakan tugas itu dengan segenap hati. Setelah mencapai kedudukan samurai, tuanku mengerahkan seluruh kemampuan untuk menjalankan tugas-tugas samurai. Tak sekalipun tuanku menoleh ke atas dan berusaha mencapai kedudukan yang lebih tinggi lagi. Yang hamba khawatirkan sekarang--sesuai dengan sifat tuanku ini--tuanku akan menyelesaikan tugas tuanku di provinsi-provinsi Barat, atau melaksanakan tugas yang diembankan Yang Mulia Nobunaga, atau menundukkan benteng Miki tanpa memperhatikan perkembangan dunia maupun mencari jalan untuk menonjolkan diri."

"Tetapi, kemampuan yang dibutuhkan seseorang untuk memegang kendali di zaman seperti ini merupakan anugerah para dewa. Para panglima perang saling bersaing memperebutkan kekuasaan, masing-masing mengaku bahwa hanya dia sendiri yang sanggup membawa fajar baru ke dunia yang dilanda kekacauan, dan menyelamatkan rakyat dari kesusahan. Tetapi Kenshin, yang begitu hebat, telah menemui ajal; Shingen dari Kai telah tiada; Motonari dari provinsi-provinsi Barat meninggalkan dunia dengan pesan agar penerusnya melindungi warisan mereka dengan mengenali kemampuan mereka; dan di samping itu, baik marga asakura maupun marga Asai telah tertimpa bencana akibat kesalahan sendiri. Siapa yang akan membaca pemecahan untuk masalah ini? Siapa yang memiliki kemampuan membentuk budaya baru untuk era berikut, dan diterima oleh rakyat? Orang seperti itu lebih sedikit dari jari sebelah tangan."

"Hamba maklum, tuanku tentu bingung mendengar ucapan hamba, sebab kini tuanku mengabdi pada Yang Mulia Nobunaga. Hamba memahami perasaan tuanku. Tuanku dan Yang Mulia Ieyasu tidak mempunyai semangat yang diperlukan untuk mendobrak situasi saat ini, maupun keyakinan untuk mengatasi segala persoalan yang timbul sampai sekarang. Siapa, selain Yang Mulia Nobunaga, yang sanggup memimpin negeri sejauh ini melalui kekacauan zaman? Tetapi ini tidak berarti bahwa dunia telah diperbaharui melalui sepak terjang beliau. Hanya dengan menundukkan provinsi-provinsi Barat, menyerang Kyushu, dan berdamai dengan Shikoku, bangsa ini belum tentu memperoleh kedamaian, keempat golongan rakyat belum tentu hidup berdampingan secara harmonis, budaya baru belum tentu terbentuk, dan landasan untuk kesejahteraaan generasi-generasi berikut pun belum tentu terwujud."

Well said. 

Omong-omong tentang calon pemimpin di masa depan, sepertinya pada pilpres Indonesia tahun ini, ada sih capres yang roman muka dan karakternya rada mirip dengan Hideyoshi yang digambarkan Eiji Yoshikawa. Apakah takdirnya juga akan mirip, mencapai tampuk kekuasaan tertinggi dan membawa bangsanya pada masa keemasan? Tapi, ada tapinya nih, apakah setelah masanya berakhir, saingan politik terberatnya akan menghancurkan keluarga dan semua pengikutnya, lantas mendirikan dinasti yang akan berkuasa ratusan tahun?

Siapa ya kira-kira politisi di Indonesia yang karakternya mirip Tokugawa Ieyasu, sabar memendam ambisi yang menyala-nyala, demi merebut kekuasaan di tikungan terakhir lantas berkuasa tujuh turunan?

Taiko 7 - Tahun Tensho Kesepuluh 1582Taiko 7 - Tahun Tensho Kesepuluh 1582 by Eiji Yoshikawa
My rating: 5 of 5 stars

Berhati-hatilah menangani anak buah, karena bila anak buah merasa tidak dihargai bahkan dipermalukan di depan umum, dapat menjadi bumerang.

Entah bagaimana, belakangan ini penilaian dan perlakuan Oda Nobunaga terhadap Akechi Mitsuhide sangat berubah. Ia memanggil Mitsuhide dengan "Kepala Jeruk" (karena kepalanya botak). Tapi itu tak seberapa, toh Hideyoshi pun tetap dipanggil "Monyet" meskipun sudah jadi jenderal. Mitsuhide juga dilewatkan dalam pemberian penghargaan dalam penaklukkan daerah. Ia juga dicopot dari tugasnya menyiapkan jamuan agung, dan ditugaskan pergi lebih dulu membantu Hideyoshi pada perang di provinsi Barat. Dan ia harus menunggu perintah dari Hideyoshi! Ia merasa terhina karena ditempatkan lebih rendah dari Hideyoshi!

Maka ia pun mengambil keputusan untuk menyingkirkan Nobunaga, ketika diketahuinya sang junjungan berangkat ke Kuil Honno di Kyoto hanya dengan ditemani segelintir pengikut.

Ketika mengetahui bahwa Akechi Mitsuhide mengkhianatinya, satu-satunya hal yang dipikirkan Nobunaga sebelum melakukan seppuku dalam kuil Honno yang terbakar api, adalah cita-citanya mempersatukan Jepang yang belum selesai.

Itu pula kesedihan yang dirasakan Hideyoshi ketika mengetahui Oda Nobunaga telah gugur, betapa besar penyesalan junjungannya karena harus mati di saat karya besarnya baru rampung setengahnya.

Di sanalah ia mengambil keputusan untuk meneruskan cita-cita Nobunaga. Namun pertama-tama, ia harus segera membereskan sang pengkhianat.

Pada bagian awal buku, di mana Hideyoshi menyerang Benteng Takamatsu dengan serangan air dengan membelokkan aliran beberapa sungai hingga benteng dan daerah sekitarnya kebanjiran, aku jadi bertanya-tanya apakah nenek moyang kita pernah ada yang berpikir untuk melakukan hal yang sama waktu menyerang Batavia.

Taiko 8 - Tahun Tensho Kesepuluh 1582, Musim PanasTaiko 8 - Tahun Tensho Kesepuluh 1582, Musim Panas by Eiji Yoshikawa
My rating: 5 of 5 stars

Setelah mengetahui kabar kematian junjungannya, Hideyoshi bergerak cepat. Dengan lihai, ia berhasil mengakhiri perang di provinsi Barat lewat membuat perjanjian damai dengan marga Mori yang belum tahu tentang berita itu. Lalu, ia segera mengarahkan pasukannya ke Kyoto untuk menumpas marga Akechi Mitsuhide. Dalam sebelas hari ia berhasil menyelesaikan kewajibannya.

Di sisi lain, pengikut senior Nobunaga lainnya, Shibata Katsuie terlambat datang dari wilayah utara dan masih dalam perjalanan ketika Hideyoshi sudah membereskan musuh bersama. Hal ini membuat pamornya jtuh di bawah jasa Hideyoshi yang gemilang.

Ujian berikutnya bagi Hideyoshi adalah perpecahan di kalangan para bekas pengikut Nobunaga yang berpotensi menghancurkan apa yang telah dicapai mendiang junjungannya. Putra sulung Nobunaga, Nobutada tewas bersama ayahnya di Kuil Honno, tapi ia meninggalkan putranya yang masih balita, Samboshi. Namun masih ada dua putra Nobunaga lain yang juga berambisi menggantikan kedudukan sang ayah sebagai pemimpin marga Oda.

Pada pertemuan di antara mantan bawahan Nobunaga, Shibata Katsuie terang-terangan mengusulkan Nobutaka, putra ketiga, sebagai pewaris, jelas-jelas melewatkan Nobuo, sang putra kedua. Satu-satunya orang yang berani menentangnya adalah Hideyoshi, yang mengusulkan Samboshi, yang merupakan keturunan garis pertama, sesuai hukum marga Oda. Perang kata-kata berlangsung sengit, tapi karena alasan Katsuie tidak cukup kuat, akhirnya usulan Hideyoshi yang diterima. Pada pembagian wilayah bekas marga Akechi pun, lagi-lagi usulan Hideyoshi yang akhirnya diterima.

Kekalahan berturut-turut membuat Katsuie semakin panas. Ia berkomplot untuk membunuh Hideyoshi pada acara jamuan makan untuk Yang Mulia Samboshi di Benteng Kiyosu. Tapi Hideyoshi berhasil lolos dari jeratannya dengan pulang ke bentengnya sendiri dengan alasan sakit. Hm... jurus pura-pura sakit begini rupanya bukan cuma keahlian para tersangka koruptor di Indonesia ya...

Taiko 9 - Tahun Tensho Kesepuluh 1582, Musim DinginTaiko 9 - Tahun Tensho Kesepuluh 1582, Musim Dingin by Eiji Yoshikawa
My rating: 5 of 5 stars

Clash of clans: Hideyoshi vs Katsuie (dan Nobutaka)

Katsuie berencana menyerang Hideyoshi dengan dukungan Nobutaka. Tapi sementara ia terjebak di bentengnya sendiri karena musim dingin di Echizen, Hideyoshi mendahului rencananya dengan menyerang Nobutaka lebih dulu, dengan alasan menyekap Samboshi di bentengnya sendiri, sehingga dapat dipandang sebagai penyanderaan terhadap ahli waris Oda yang sah. Tanpa bantuan dari Katsuie yang terlalu jauh, Nobutaka dan para pengikutnya menyerah, sedangkan perwalian Samboshi dialihkan pada Nobuo.

Perang antara kubu Hideyoshi dan Katsuie tak bisa dicegah lagi, tapi pengikut lama Oda yang bergabung dengan Hideyoshi lebih banyak dibandingkan yang bergabung dengan Katsuie, sehingga kekuatan mereka cukup timpang. Rencana Katsuie sendiri berantakan ketika pasukan keponakan tersayangnya, Sakuma Genba, yang menyusup ke wilayah musuh berhasil ditumpas, sedangkan pasukannya sendiri tercerai berai karena sebagian besar kabur dari medan perang. Katsuie kembali ke bentengnya, dan berakhir dengan melakukan seppuku dan tubuhnya terbakar habis dalam menara benteng.

Dengan kehancuran marga Shibata, Nobutaka pun kehilangan pegangan. Nobuo mengerahkan pasukan dan mengepung bentengnya, dan menganjurkan saudaranya pergi ke Owari. Salah satu pembantu Nobuo mendatangi Nobutaka dengan membawa perintah untuk melakukan seppuku.

Hideyoshi berhasil menyatukan kembali hampir seluruh wilayah Nobunaga.

Taiko 10 - Tahun Tensho Kesebelas 1583Taiko 10 - Tahun Tensho Kesebelas 1583 by Eiji Yoshikawa
My rating: 5 of 5 stars

Clash of clans: Hideyoshi vs Ieyasu (dan Nobuo)

Bukan hanya wilayah, namun kebesaran nama Nobunaga telah beralih kepada Hideyoshi sebagai penerusnya. Selain mengurusi pemerintahan di Kyoto, ia juga mewujudkan proyek raksasa: pembangunan benteng Osaka, yang kelak menjadi salah satu warisan budaya Jepang dan dunia.


Di antara kesibukan sampingannya itu, Hideyoshi masih mewaspadai Tokugawa Ieyasu, yang sikapnya tidak jelas setelah kematian Nobunaga. Ia meyakini bahwa orang yang paling menonjol di zaman itu, selain Nobunaga, adalah Ieyasu. Dan bentrokan di antara mereka berdua hampir tak terelakkan.

Penyulut api perang adalah Nobuo, putra Nobunaga yang merasa seharusnya setelah mewujudkan perdamaian, Hideyoshi menyerahkan seluruh kekuasaannya kepada pewaris bekas junjungannya. Tapi karena Samboshi masih terlalu kecil, sewajarnya kedudukan itu jatuh kepadanya. Karena mantan pengikut ayahnya berdiri di pihak Hideyoshi, ia pun meminta bantuan Ieyasu, mantan sekutu ayahnya.

Pucuk dicinta ulam tiba. Dengan dalih bahwa Hideyoshi menyebabkan Nobutaka melakukan bunuh diri dan memberontak terhadap Nobuo, Ieyasu memiliki alasan yang cukup kuat untuk mengangkat senjata terhadap Hideyoshi. Tapi sesungguhnya, siapapun yang menang nanti takkan mengubah nasib Nobuo. Ia hanya bidak atau boneka Ieyasu yang memiliki tujuan yang sama sekali berbeda dalam perang dengan Hideyoshi ini.

Perang pun tak dapat dihindari, dan korban pun berjatuhan dari kedua pihak, termasuk jenderal-jenderal veteran Hideyoshi.

Namun Hideyoshi tidak hanya ahli bertempur di medan perang, tapi juga ahli dalam siasat dan watak manusia. Dalam rangka menghindari perang dan korban yang lebih besar, cara yang ampuh adalah menangani sumber apinya. Ia menarik Nobuo ke pihaknya, dan berhasil membuat perjanjian damai di luar sepengetahuan Ieyasu. Dengan Nobuo berada di pihak Hideyoshi, Ieyasu tak punya lagi alasan untuk memerangi Hideyoshi. Ia terpaksa menelan pil pahit, dan mundur ke daerahnya sendiri.

Satu setengah tahun setelah Nobunaga wafat, kedudukan, popularitas, serta misi yang semula menjadi milik Nobunaga dengan cepat beralih kepada Hideyoshi. Ieyasu terpaksa mengakui kebodohannya karena telah melawan arus zaman. Meski tak terkalahkan di medan perang, ia pun menyerahkan kemenangan politik kepada Hideyoshi.

Dari seorang pembawa sandal, Hideyoshi akhirnya menjadi Taiko, penguasa mutlak Kekaisaran Jepang.

View all my reviews