Friday, May 5, 2017

April Book Haul

Rasanya belum lama aku memposting Book Haul bulan Maret 2017, kini sudah tiba saatnya untuk melaporkan hasil jarahan bulan April. Duh, setelah membuat laporan rutin begini jadi sadar banget memang kalau aku belanja buku nyaris setiap minggu.

Pertama-tama, sesuai janji postingan sebelumnya, buku-buku yang kubeli secara online akhir Maret tapi baru sampai bulan April bakal kulaporkan di sini:

01 April 2017
Komiknya masih setumpuk gara-gara pergeseran jadwal terbit, dan... akhirnya Level Comics merilis terjemahan manga All You Need Is Kill! Suka deh. Ilustrasi Takeshi Obata memang top!

08 April 2017
Minggu depannya, sebelum menonton film Get Out, aku mampir di lapak Bybooks, dan akhirnya mendapatkan buku The Blue Planet, setelah di beberapa minggu sebelumnya sempat kalah cepat dengan pembeli lain. Sementara belum ada lagi buku anak-anak yang menarik minatku sih. Jadi tumben-tumbennya cuma beli 3 buah buku.

10 April 2017

15 April 2017

Tentu saja, aku masih tetap belanja buku rutin, terutama untuk komik yang terbit mingguan, baik secara online maupun offline. Sebagai perkecualian, aku membeli buku Neil Gaiman, Mark Twain, dan Alex Ferguson. Jadi bertanya-tanya dan berharap, kapan GPU mau menerbitkan buku Managing My Life-nya Oom Alex. Aku penasaran!  

19 April 2017
Pas libur Pilkada DKI, aku main ke Ratu Plaza untuk belanja isi kulkas, dan seperti biasa aku "tidak sengaja" mampir ke lapak Bybooks di lantai dasar. Well, ada saja buku yang dibeli tanpa niatan, misalnya buku Terry Pratchett dan Garth Nix. Cuma satu buku yang sebenarnya sudah lama masuk daftar pertimbangan (karena harga obralnya masih tetap mahal) tapi akhirnya dibeli juga, Planet Earth.

20 April 2017
Belanja besarku bulan April ini tentu saja di event Big Bad Wolf. Dibandingkan belanja tahun lalu, boleh dibilang tahun ini aku menahan diri, karena jumlah buku dan nominal rupiah yang kukeluarkan hanya setengahnya dari tahun lalu. Pertimbangannya tentu saja space perpustakaan di Cirebon yang sudah padat, selain timbunan buku belum terbaca yang masih lumayan banyak. Sebenarnya aku sempat tertarik untuk membeli boxset Horrible Histories-nya Terry Deary, tapi mengingat sebenarnya aku sudah punya semuanya (meskipun tidak seragam edisi dan kondisinya, namanya juga buku bekas), aku terpaksa menahan diri untuk membelinya. Boxset yang kucomot hanya koleksi Michael Morpurgo, yang kucuekin pada BBW tahun lalu tapi sekarang kubeli karena aku sedang serius mengumpulkan buku-buku Morpurgo. Omong-omong, karena ini postingan khusus laporan belanja buku, aku mengesampingkan horrible history-ku dengan event "Presale" dan "tiket VIP" BBW yang kuikuti tahun ini. Mudah-mudahan pada BBW selanjutnya masalah yang membuat bete banyak pecinta buku impor ini bisa diperbaiki.

Selain itu, meskipun fotonya tidak kuhadirkan di sini, sebenarnya pada tanggal 25, 27, dan 29 April aku masih tetap menambah timbunan buku, baik dari belanja komik online di Gramedia.com (yang diskonnya turun drastis dari 15% menjadi 6%!) dan belanja offline lagi di Bybooks FX Senayan. Buat yang terakhir, aku kembali membeli buku anak-anak (Morpurgo, Dick King-Smith, Eoin Colfer, Joseph Delaney dan Garth Nix), simply karena kebetulan saja ada yang menarik.

Mudah-mudahan tambahan timbunan baru ini bisa segera kubaca dalam waktu dekat, sehingga bisa segera kukirim ke perpustakaan di Cirebon. Dengan demikian, pada libur panjang lebaran nanti aku bisa menyiangi buku-buku di perpustakaan untuk dicarikan calon adopternya.

Kalau memang ada yang berminat menjadi adopter buku-bukuku, tunggu tanggal mainnya ya!




Wednesday, April 12, 2017

March Book Haul

Sedianya aku melaporkan belanja buku bulan Maret ini pada akhir bulan Maret. Tapi karena satu dan lain hal (a. sibuk; b. malas; c. selain a dan b; d. semua jawaban benar), akhirnya baru bisa kulaporkan hari ini. Tadinya sih mau sekalian kugabung dengan laporan belanja buku bulan April, tapi mengingat di akhir bulan April akan ada event Big Bad Wolf yang mungkin saja bisa bikin daftarnya semakin panjang, ya sudah kuputuskan dilaporkan terpisah saja.

Pertama-tama, tentu saja buku yang kubeli secara online pada bulan Februari namun baru kuterima di bulan Maret :
02 Maret 2017
Buku-buku di tumpukan sebelah kiri kubeli dari Gramedia.com, di antaranya ada novel terakhir seri Reckoners-nya Brandon Sanderson, novel pertama serial The Trials of Apollo-nya Rick Riordan, serta novel Ziggy Z terbaru yang kubeli karena kepo. Buku-buku di tumpukan sebelah kanan kubeli dari Kompas.id. Yang bikin jengkel, di situ buku-buku Kumcer Pilihan Kompas sedang didiskon promosi 50%, padahal baru akhir Februari kemarin aku beli setumpuk di Yogya dengan diskon seadanya. Karena diskon 50% itu juga aku tumben-tumbennya membeli buku TTS Kompas, padahal selama ini meskipun diobral di pameran buku manapun tak pernah kulirik!

Selanjutnya, dalam rangka menghabiskan timbunan saldo deposit di salah satu toko buku online yang belakangan ini sangat lambat memenuhi pesanan buku terbitan terbaru yang kuminta, aku sengaja belanja buku yang dilabeli "Stok Tersedia. Dikirim dalam 24 Jam". Rata-rata buku-buku yang diobral, dan kebanyakan terbitan Alvabet:

03 Maret 2017
Buku-buku ini termasuk ke dalam tipe yang jarang kubeli dengan harga normal atau diskon standar. Dan setelah kubaca, tentunya ada beberapa yang sebenarnya jadi harta karun :)

Untuk bulan Maret, belanja komik mingguan terpaksa tertunda karena adanya perubahan proses transisi sistem internal di grup ritel dan penerbit Kompas Gramedia, sehingga aku baru pesan secara online di Gramedia.com pada dua minggu terakhir. Bete karena kurangnya bacaan bisa berakibat fatal, karena membuatku sampai sengaja datang ke obralan Bybooks dan Periplus di FX Senayan meskipun tidak ada kepentingan untuk menonton film!

18 Maret 2017
Setelah beberapa kunjungan terakhir ke Bybooks cuma melihat-lihat karena harga setelah obralnya masih ngajak bokek, kali ini aku nekad membeli beberapa buku hardcover BBC yang bikin ngiler. Selain itu tentu saja aku mencomot buku anak-anak yang murah meriah, dari karya Michael Morpurgo, Eva Ibbotson, Rick Riordan, sampai Anthony Horowitz. Di lapak Periplus aku mencomot buku-buku nonfiksi, termasuk di antaranya biografi Richard Dawkins yang ternyata asyik buat dibaca.

Di sisi lain, perubahan sistem internal di grup ritel dan penerbit Kompas Gramedia ternyata berbuah manis. Setelah beberapa bulan terakhir lamanya pengiriman buku yang dibeli secara online di Gramedia.com sempat menjadi ajang uji kesabaran bagiku, sekarang kembali cepat seperti dahulu. Buku pesananku sekarang sudah datang dalam 1-2 hari. Yay!

22 Maret 2017
27 Maret 2017
Oh iya, selain itu masih ada juga buku yang kubeli dari Periplus.com, yang kuterima di pertengahan dan akhir bulan :

22 Maret 2017
Minta Periplus kirim langsung ke Cirebon,
karena yang Human Footprint saja beratnya mencapai 3,76 kg

30 Maret 2017
Sebenarnya masih ada setumpuk komik yang kubeli online pada tanggal 30 Maret, tapi karena baru kuterima tanggal 1 April, biar kumasukkan ke Book Haul bulan April saja deh.

Eniwei... kalau dilihat-lihat, belanjaanku bulan Maret ini boleh dibilang moderat deh, apalagi yang belum kubaca tinggal beberapa buku anak-anak yang kuperoleh dari obralan Bybooks. Mudah-mudahan sebelum menyambangi BBW akhir bulan ini, aku bisa menyelesaikan peer timbunan dari Bulan Maret ini.

Yuk, tetap semangat! Bukan cuma semangat belanja, tapi juga semangat baca!

Tuesday, April 11, 2017

Sherlock: The Blind Banker

Judul : Sherlock : The Blind Banker

By : Steven Moffat, Mark Gatiss, Jay

Penerbit : m&c!

Tebal : 216 halaman

Dibeli di : Gramedia.com

Harga beli : Rp. 42.500,- (15% off)

Dipesan tanggal : 21 Maret 2017

Diterima tanggal : 22 Maret 2017

Dibaca tanggal : 26 Maret 2017

Review :
BEWARE: REVIEW MANGA INI SANGAT BIAS, karena dibahas oleh salah seorang penggemar serial teve Sherlock yang sudah menonton semua episodenya berulang kali, termasuk episode kedua season pertama yang diwujudkan dalam bentuk manga ini.

1. Cover
Sama seperti manga Sherlock sebelumnya, cover manga ini berupa flap cover, namun kali ini cover dalamnya menampilkan adegan yang sangat domestik: Sherlock sedang berpikir sambil tiduran di sofa panjang, sementara John duduk di sampingnya sambil membaca koran :)


Penampakan ini sudah cukup untuk menggambarkan jeda waktu yang cukup panjang antara buku/episode ini dengan dengan buku/episode sebelumnya, karena sudah tidak terdapat lagi kecanggungan lagi antara dua orang asing yang berbagi sewa apartemen. Sherlock dan John sudah merasa nyaman dengan keberadaan satu sama lain.

2.  Artwork & Chara Design
Tidak banyak perubahan dari manga A Study in Pink. Chara yang paling mirip masih tokoh utamanya, Sherlock, sementara karakter lain terutama para pemeran pembantu, hampir tidak ada mirip-miripnya. Ya, nggak apa-apa sih, toh tidak ada pengaruhnya ke jalan cerita, apalagi kalau yang baca bukan penonton setia serial teve Sherlock.

3. Impression
Sebagai manga adaptasi dari episode kedua season pertama serial tevenya, alur ceritanya setia mengikuti adegan demi adegan dan frame demi frame, meskipun kesan yang didapat tidak semenarik versi aslinya, terutama di bagian action-nya. Kurang menegangkan, gitu. Iya sih, manga ini tidak bisa dibandingkan dengan shonen battle manga yang adegan actionnya saja bisa memakan sebagian besar halaman, namanya juga manga misteri yang didominasi narasi. Tapi tetap saja... buat yang menginginkan adegan aksi, akan lebih asyik bila menonton versi live action-nya.

Sebagai cerita misteri, sebenarnya dari tiga episode season pertama, episode The Blind Banker ini kurang nendang dibandingkan episode lainnya. Namun demikian, sisi cerita slice-of-life yang disisipkan para kreator cukup menarik untuk disimak.

Pemirsa/pembaca digiring untuk mengikuti kehidupan sehari-hari para boga lakonnya. John yang veteran tentara dengan uang pensiun tak seberapa mulai gerah dengan statusnya sebagai pengangguran banyak acara. Perseteruannya dengan mesin kasir di supermarket sehingga ia terpaksa meminjam kartu kredit Sherlock buat belanja jelas membuatnya ingin semakin cepat punya pekerjaan selain sebagai asisten pribadi tidak resmi (dan tidak digaji) dari teman seapartemennya itu.

Sherlock sendiri sepertinya sudah tidak sungkan-sungkan lagi memperlakukan John sebagai asprinya dalam urusan investigasi. Ia tidak peduli kalau John sudah punya pekerjaan baru sebagai dokter praktek dan memaksanya ikut kerja lembur dalam "event buku" misalnya, sehingga esoknya John ketiduran seharian nyaris sepanjang jam prakteknya. Ia juga tidak mau tahu kalau John punya urusan pribadi (baca: kencan dengan Sarah) yang seharusnya tidak dicampuradukkan dengan kegiatan penyelidikan yang berbahaya dan berisiko tinggi.

Di sisi lain, Inspektur Lestrade tidak muncul di sini. Sherlock dan John berurusan dengan Inspektur Dimmock, yang jelas belum seimun Lestrade terhadap perilaku Sherlock yang menjengkelkan. Mycroft juga tidak numpang lewat di sini. Tapi seperti halnya di A Study in Pink, Moriarty sudah kelihatan hilalnya, meskipun belum tampak wujudnya.

4. In the end
Kalau melihat data yang ada di Goodreads, rupanya versi adaptasi manga serial teve Sherlock yang hanya season pertama saja, padahal masih ada episode-episode seru di season-season berikutnya. Sayang banget deh. Di sisi lain, aku siap menunggu dan membeli manga The Great Game diterbitkan di Indonesia.

Review ini dibuat untuk mengikuti tantangan berikut:











Tuesday, March 7, 2017

The Hidden Oracle

Judul : The Hidden Oracle

Serial : The Trials of Apollo #1

Penulis : Rick Riordan

Penerbit : Mizan Fantasi

Tebal : 472 halaman

Dibeli di : Gramedia.com

Harga beli : Rp. 67.150,- (off 15%)

Dipesan tanggal : 27 Februari 2017

Diperoleh tanggal : 2 Maret 2017

Dibaca tanggal : 6 - 7 Maret 2017

Review :
Setelah membaca keluh kesah tokoh utama cerita ini di sepanjang buku dari halaman awal sampai halaman akhir, aku hanya bisa mengutip kata-kata bijak di bawah ini:


Meskipun setiap kali terbit sudah pasti kubeli, aku sudah nyaris bosan dengan serial fantasi hasil produksi Rick Riordan (iya, sudah kayak pabrik saja soalnya). Dari serial demigod Dewa-Dewi Yunani, demigod Dewa-Dewi Romawi, demigod Dewa-Dewi Mesir, demigod Dewa-Dewi Viking, dan entah apakah suatu hari nanti dunia Dewa-Dewi India bakal dibahas juga atau tidak. Apalagi, ternyata semua serial itu masih satu universe! Yang namanya cerita berbasis mitologi bisa jadi sumber bahan cerita yang tidak ada habisnya, bisa diulik dari berbagai segi dan sudut pandang, bahkan untuk cerita yang pada dasarnya sama bisa dibuat dalam berbagai versi.

Namun ternyata... buku yang satu ini tidak bikin bosan, malah sangat menghibur saking kocak dan ancurnya!

Kali ini, Riordan masih mengambil cerita dari dunia Dewa-Dewi Yunani, tapi narator dan tokoh utamanya bukan demigod lagi, melainkan seorang dewa malang yang dihukum buang menjadi manusia fana gara-gara tidak becus mendidik anak. Ya, dari nama serialnya sudah jelas siapa: Apollo.

Mau tidak mau, otomatis aku jadi teringat dan membandingkannya dengan cerita dewa lain (yang dibuang ke bumi dan menjadi manusia fana juga) dari universe yang berbeda, Marvel Cinematic Universe, tepatnya Thor. Di situ Odin cuma membuat Thor kehilangan kesaktiannya, sementara tampang dan body-nya masih oke, minimal mirip-mirip Chris Hemsworth-lah.

Zeus tidak sebaik itu. Apollo dijadikan berwujud remaja 16 tahun yang penampilan dan namanya tidak ada keren-kerennya. Kesaktian? Tidak ada yang tersisa, dipalak preman kelas teri pun ia babak belur tak berdaya. Fasilitas pun tidak ada lagi, ia cuma dapat bekal seratus dolar di dompet bututnya. Mana cukup buat hidup di New York.

Untungnya, Apollo tidak dibuat lupa ingatan. Minimal ia bisa memikirkan cara untuk survive dan kalau bisa mencari cara untuk kembali ke khittahnya sebagai dewa. Masalahnya, ia tidak tahu apa misi yang harus dijalankannya di dunia, karena ketiadaan oracle yang juga mempengaruhi nasib para demigod yang jadi pengangguran banyak acara. Tapi sebagai (mantan) dewa ramalan, tentu saja Apollo tetap merasa bertanggung jawab untuk memulihkan keadaan.

Kisah perjuangan hidup Apollo ini asyik untuk diikuti karena kita dibawa melihat dunia dengan sudut pandang dan cara berpikir seorang dewa yang super egois dan narsis berat. Saking terlalu biasanya hidup mudah, adaaaaa saja yang dikeluhkan Apollo. Mungkin hampir semua hal yang terjadi di sekelilingnya menjadi bahan komentar dan curhatnya, yang selalu membandingkannya dengan kondisi seandainya ia masih seorang dewa.

Namun demikian, apabila kita bisa tahan menelan keluhan dan kesombongan Apollo sepanjang buku, kita juga bakal tahu kok kalau ia ternyata punya banyak kelebihan juga, yang dapat membuat kita menjadi jatuh simpati dan respek kepadanya, sehingga berharap ia mampu dan tabah menjalani cobaan, serta berhasil menyelamatkan dunia dengan segala keterbatasannya.

Omong-omong, sepertinya Riordan menganggap pembaca buku ini sudah pernah membaca buku-buku sebelumnya, karena banyak cameo dan referensi numpang lewat yang mungkin bisa memuaskan para pembaca setia, namun dijamin bisa membuat bingung mereka yang baru berkenalan dengan karya Riordan lewat buku ini.

Kesimpulan :
Ditunggu sekuelnya, Om Riordan!

Review singkat buku ini dibuat dalam rangka mengikuti tantangan ini:
Kategori : Fantasy Fiction

Monday, March 6, 2017

CockaDoodle-Doo, Mr Sultana!


Judul : CockaDoodle-Doo, Mr Sultana!

Penulis : Michael Morpurgo

Penerbit : HarperCollins' Children Books

Tebal : 96 halaman

Dibeli di ; Bybooks FX Senayan

Harga beli : Rp. 10.000,-

Dibeli tanggal : 11 Februari 2017

Dibaca tanggal : 23 Februari 2017

Review :
Membaca buku-buku Michael Morpurgo belakangan ini, rasanya cuma buku ini yang jelas sangat berbeda.

Mengapa?

Pada umumnya latar belakang cerita Morpurgo cukup suram, ya peranglah, ya sakitlah, etc, etc. Buku ini berbeda, karena murni cerita anak-anak... yang absurd!

Plotnya sederhana saja, tentang seorang sultan di kerajaan antah berantah yang sangat kaya, sangat pemalas, sangat tamak, dan sangat gendut!

Begitu kayanya, sampai istananya terbuat dari marmer dan emas berkilauan. Sampai kancing pakaian sutranya terbuat dari berlian. Begitu pemalasnya,  sampai untuk gosok gigi pun ada pelayan yang khusus mengerjakannya. Begitu tamaknya, sampai setiap saat makan pagi/siang/malam, ia makan seekor merak gemuk dan semangkuk besar daging sendirian. Semua itu membuatnya sangat gendut dan kasurnya saja bisa muat lima orang!

Nah, tapi, yang paling ia sukai tentu saja hartanya. Saking sayangnya, ke manapun ia pergi ia membawa kotak hartanya. Sayangnya, sang sultan ternyata pelit luar biasa, karena rakyatnya hanya bisa hidup seadanya.

Itu baru pembukaan sih. Cerita sebenarnya dimulai ketika sang sultan pergi berburu, lalu kudanya yang sudah tua ambruk karena tak kuat menahan beban yang luar biasa. Ndilalah, salah satu kancing berlian sultan copot di luar pengetahuannya, dan baru ketahuan waktu pemiliknya sudah balik ke istana. Sang sultan pun mengamuk dan menginstruksikan pencarian sebutir berlian itu.

Eh, ternyata berlian itu ditemukan oleh seekor ayam jago milik seorang wanita miskin. Dan si ayam ternyata punya prinsip: Finders Keepers!

Begitu ketahuan oleh sang sultan, karena tak ada yang mau mengalah, akhirnya anak buah sultan berebut berlian dengan si ayam! Si ayam berhasil lolos, tapi berliannya jatuh dan kembali ke tangan sultan.

Berakhirkah cerita ini? Belum. Karena si ayam jago akhirnya membalas dendam, berubah jadi teroris, yang masuk ke istana, meneror sang sultan, menganggu ketenangan hidupnya sambil terus berseru: "Kukuruyuk, Mr. Sultana!"

Bagaimana akhir kisah perang antara sultan vs ayam jago ini? Apakah kita memihak tirani? Atau kita memihak teroris?

Kesimpulan :
Ambil sendiri setelah membaca cerita absurd pembalasan dendam sang ayam ini.

Review ini dibuat dalam rangka memenuhi tantangan di bawah ini:
Kategori : Children Literature

Toro! Toro!

Judul : Toro! Toro!

Penulis : Michael Morpurgo

Penerbit : HarperCollins' Children Books

Tebal : 128 halaman

Dibeli di : Bybooks FX Senayan

Harga beli : Rp.10.000,-

Dibeli tanggal : 11 Februari 2017

Dibaca tanggal : 1 Maret 2017

Review :
Pada novel ini, meskipun tetap bertema perang, kali ini latar belakangnya adalah Perang Saudara Spanyol di tahun 1930-an, yaitu perang antara kaum Republikan, golongan sosialis kiri, dengan kaum Nasionalis, golongan fasis kanan.

Seperti gaya Morpurgo pada umumnya, kisahnya diceritakan di masa kini oleh orang yang mengisahkan masa lalunya. Ini adalah kisah seorang kakek pada cucunya.

Sang kakek, yang semasa kecilnya dipanggil Antonito, tinggal di Andalusia, di sebuah tanah pertanian kecil di Sauceda. Ia tinggal bersama orang tuanya dan kakak perempuan yang lebih tua sepuluh tahun. Mereka memelihara berbagai ternak, tapi utamanya sapi, banteng hitam untuk atraksi banteng. Dan dari puluhan banteng, Antonito paling dekat dengan anak banteng yang dinamai Paco, karena ia memeliharanya sejak kelahirannya, sampai mereka berdua dipisahkan agar Paco dapat dibesarkan sebagai banteng sejati.

Antonito baru menyadari nasib yang akan menimpa Paco yang disayanginya ketika untuk pertama kalinya ia ikut menonton atraksi banteng. Kebetulan, pamannya Juan adalah seorang matador yang dijuluki El Bailarin, Sang Penari, karena keahliannya  menari bersama banteng. Namun ternyata, matador tidak cuma "menari" bersama para banteng, tapi bersama para banderillero dan picador, menusuk dan membunuh banteng sampai mati di lapangan.

I didn't tell Paco what I'd seen that day -- I didn't ever want him to know.
"I'll take you away so you can live wild up in the hills, where you'll be safe for ever and ever. I'll work something out, I promise you."

Demi menolong Paco, Antonito bertekad untuk membawanya kabur dari pertanian. Di tengah suasana perang yang mulai mempengaruhi kehidupan desa tanpa terlalu dipahaminya, Antonito menyusun ide dan mencari waktu yang tepat untuk melaksanakan rencananya. Namun demikian, Antonito tak pernah menduga apabila waktu yang dipilihnya bertepatan dengan pemboman yang dilakukan beberapa pesawat yang melintas di atas desanya.

Apakah itu nasib baik? Atau nasib buruk? Ia berhasil membebaskan Paco ke alam liar, namun seluruh keluarganya tewas dalam api dan bara.

Antonito mengakhiri ceritanya dengan perjuangannya untuk bertahan hidup dalam peperangan. Dan tentang legenda The Black Phantom, banteng muda yang melindungi pasukan kaum Republikan dari kejaran Guardia Civil. Sepanjang hayatnya, Antonito selalu meyakini bahwa banteng itu adalah Paco, yang telah hidup liar di alam bebas.

Kesimpulan :
Seperti biasa, Michael Morpurgo bertutur tanpa eufemisme. Kita dibawa ke medan corrida, dan diajak menahan nafas saat menyaksikan tarian maut antara matador dan banteng. Kita dibawa menyaksikan pembantaian banteng demi atraksi massa. Ada di manakah kita? Di sisi para penonton yang bersorak melihat bagaimana ahlinya sang matador menghabisi sang banteng? Atau di sisi mereka yang memiliki sudut pandang yang sama dengan Antonito? Bahwa corrida hanyalah panggung kematian para banteng yang telah dibesarkan dengan penuh kasih sayang?

Kita juga dibawa menyaksikan kekejaman perang dari sisi anak-anak yang tidak memahami politik dan ideologi, namun tetap menjadi korban.

Selain itu, kita jadi sadar mengapa Morpurgo senang bercerita dengan model dongeng seorang kakek kepada cucunya.

Well, saat menuliskan cerita-cerita belakangan ini, Morpurgo sudah menjadi seorang kakek.

Review singkat ini dibuat dalam rangka mengikuti tantangan di bawah ini:
Kategori: Lima Buku dari Penulis Yang Sama















The Butterfly Lion

Judul : The Butterfly Lion

Penulis : Michael Morpurgo

Penerbit : HarperCollins' Children Book

Tebal : 112 halaman

Dibeli di : Bybooks FX Senayan

Harga beli : Rp. 10.000,-

Dibeli tanggal : 11 Februari 2017

Dibaca tanggal : 1 Maret 2017

Review :
Cerita yang dituturkan Michael Morpurgo ini lagi-lagi berlatar belakang perang, dan kali ini Perang Dunia I, sama seperti cerita War Horse. Benang merah ceritanya pun agak mirip dengan War Horse: seseorang yang mendaftarkan diri untuk terjun sebagai prajurit di pasukan Inggris demi bertemu kembali dengan binatang peliharaannya. Bedanya, di novel ini binatangnya adalah seekor singa berbulu putih!

Cerita diawali dengan seorang anak laki-laki yang kabur dari sekolah berasrama gara-gara sering dibully. Tanpa sengaja, ia masuk ke sebuah rumah besar yang dihuni seorang nenek tua bersama anjing peliharaannya.

Bukan, anak laki-laki itu bukan tokoh utama cerita ini.

Sang nenek, yang belakangan diketahui bernama Millie, kemudian bercerita tentang anak laki-laki lain yang zaman dahulu kala juga kabur dari sekolah asrama yang sama dan juga nyasar ke rumahnya. Anak laki-laki lain itu bernama Bertie, dan ia punya cerita lain yang menarik.

Bertie lahir dan besar di tanah pertanian di Afrika Selatan, tanpa saudara dan teman untuk bermain. Suatu saat, ia menyelamatkan seekor anak singa berbulu putih dari gerombolan hyena, yang selanjutnya menjadi binatang peliharaan kesayangannya dan dinamai . Namun saat tiba waktunya untuk berangkat sekolah ke Inggris, singa kesayangannya terpaksa dilepas dan dijual ke pemilik sirkus berkebangsaan Prancis. Bertie bersumpah akan mencari singanya kembali kalau ia sudah besar nanti.

Sementara itu Bertie akhirnya bersahabat dengan Millie, dan akhirnya berkembang ke hubungan yang lebih romantis. Namun hubungan mereka tidak berjalan mulus karena pecahnya Perang Dunia I. Bertie yang saat itu sudah kuliah masuk ke ketentaraan. Motivasinya pergi berperang tidak murni nasionalisme: menemukan kembali singa putihnya di Prancis!

Apakah Bertie bisa bertemu kembali dengan sahabat semasa kanak-kanaknya? Tentu saja. Tapi bagaimana caranya ia bisa sampai bertemu kembali adalah cerita lain, karena kita tetap harus dibawa melewati terlebih dahulu neraka perang parit di Prancis, dan menyaksikan banyaknya para prajurit muda yang tewas berguguran di sekitar Bertie.

Kisah Bertie di medan perang bukanlah cerita yang ringan untuk dibaca anak-anak, namun cerita itu pun sudah banyak disensor, karena pada dasarnya Bertie tidak banyak bercerita tentang kengerian di sana kepada Millie. Untunglah, cerita berakhir manis untuk Bertie. Yah, namanya juga buku cerita anak-anak,agak riskan jadinya kalau Bertie diceritakan tewas di medan perang.

Ada dua twist ending untuk novel ini, yang cukup mengejutkan karena aku tidak mengira endingnya bakal seperti itu. Tapi cuma satu yang akan kuspoiler di sini: anak laki-laki pertama yang kabur dari sekolah dan akhirnya mendengarkan dongeng tentang Bertie dan singa putihnya ternyata adalah... Michael Morpurgo! Well, kan jadi menimbulkan pertanyaan deh: apakah cerita ini diangkat dari kisah nyata, atau hanya khayalan belaka?

Omong-omong, kalau penasaran dan ingin tahu kenapa judulnya The Butterfly Lion, bukannya The White Lion, lebih baik baca bukunya sendiri saja, ya.

Review singkat ini kubuat dalam rangka mengikuti tantangan di bawah ini:
Kategori : Lima Buku dari Penulis Yang Sama




Cool!

Judul : Cool!

Penulis : Michael Morpurgo

Penerbit : HarperCollins' Children Books

Tebal : 112 halaman

Dibeli di : Bybooks FX Senayan

Harga beli : Rp. 10.000,-

Dibeli tanggal : 11 Februari 2017

Dibaca tanggal : 1 Maret 2017

Review: 
Bagaimana rasanya apabila kita berada dalam keadaan koma?

Buku ini dituturkan dari sudut pandang Robbie Ainsley, 10 tahun, yang sedang mengalami koma setelah tertabrak mobil di depan rumahnya, saat mencoba menyelamatkan Lucky, anjingnya. Ia hanya bisa terbaring di ranjang rumah sakit, tak bisa bergerak, berbicara atau apapun. Namun, sebenarnya, ia sadar, mengetahui apa yang terjadi di sekitarnya, dan mendengarkan semuanya.

Keluarga dan teman-temannya berupaya keras untuk "membangunkan"-nya. Mereka berbicara kepadanya, meskipun sepertinya tidak terlalu yakin kalau Robbie bisa mendengarkan mereka. Tahu-tahu, Robbie malah jadi tempat mereka curcol dan membuka rahasia. Robbie jadi tahu urusan pribadi perawat favoritnya. Ayahnya, yang pisah rumah dengan ibunya, untungnya membawa cerita baik, ingin rujuk dengan ibunya.

Selain keluarga, teman-temannya juga datang untuk menyanyi dan memberikan semangat. Bahkan, pemain bola favoritnya, Gianfranco Zola, juga datang dan menghadiahkannya kaos yang baru dikenakannya dalam pertandingan (sudah dicuci dulu, tentu saja!). Duh, sayang ia tetap tidak bisa bangun!

Berapa lama Robbie harus terus terlelap? Dan mengapa ia tak dapat pulih? Apakah karena Robbie merasa bersalah telah mencelakakan anjingnya? Bagaimana caranya agar Robbie bisa benar-benar bangun?

Jangan khawatir, Michael Morpurgo mengemas cerita ini dengan ringan, sehingga meskipun kondisinya suram bagi semua orang yang mengkhawatirkan Robbie, kita takkan dibawa pada depresi dan keputusasaam yang berkepanjangan. Endingnya pun sangat khas cerita anak-anak!

Review singkat buku ini dibuat dalam rangka mengikuti tantangan di bawah ini:
Kategori: Lima Buku dari Penulis Yang Sama


Friend or Foe

Judul : Friend or Foe

Penulis : Michael Morpurgo

Penerbit : Egmont

Tebal : 122 halaman

Dibeli di : Bybooks FX Senayan

Harga beli : Rp. 20.000,-

Dibeli tanggal : 18 Februari 2017

Dibaca tanggal : 1 Maret 2017

Review :

Jacqueline pernah menulis di salah satu memoarnya bahwa ia kurang menyukai buku anak-anak ala Enid Blyton, karena di sana ceritanya kurang membumi, karena tidak bercerita secara realistis tentang kehidupan sehari-hari seorang anak, terutama yang hidup dalam situasi yang tidak menguntungkan. Oleh karena itu, tema cerita Jacqueline Wilson seringkali cerita tentang anak dari keluarga broken home.

Beda penulis tentu saja beda lagi pendekatannya. Michael Morpurgo banyak menulis novel anak-anak dengan latar belakang yang juga cukup gelap: masa perang dunia.

Dalam buku ini, seperti halnya awal kisah Narnia, David dan temannya Tucky, sebagaimana kebanyakan anak pada masa perang, harus mengungsi dari London yang rawan dihujani bom ke daerah pedesaan yang lebih aman. Selama pengungsian itu, mereka ditampung oleh Bapak dan Ibu Reynolds.

Cerita mulai berkembang ketika dalam peristiwa pemboman kedua anak itu melihat ada pesawat terbang Jerman yang jatuh. Kesaksian mereka tidak diterima pihak berwenang karena tidak ada bukti, sehingga mereka berdua nekad mencari sendiri. Pada saat mencari itulah David mengalami kecelakaan, hampir tenggelam di sungai, kalau saja tidak ditolong oleh salah seorang penerbang Jerman yang mereka cari-cari (omong-omong saat membaca adegan ini aku malah jadi teringat adegan serupa di buku The Eagle Has Landed-nya Jack Higgins).

Kejadian itu menimbulkan dilema. Apakah mereka akan melaporkan kedua penerbang Jerman yang mereka temukan, padahal salah satu dari mereka telah menyelamatkan jiwa David? Dan apabila tidak melaporkan, apakah itu berarti mereka telah mengkhianati negara? Mana yang lebih penting? Sikap manakah yang akhirnya dipilih oleh David dan Tucky?

Buku Friend or Foe ini termasuk salah satu buku Michael Morpurgo yang telah diangkat menjadi film, yaitu pada tahun 1982. Meskipun karena dibuat secara independen film ini tidak seterkenal War Horse yang disutradarai oleh Steven Spielberg, namun film ini telah menjadi bukti bahwa film anak-anak pun dapat menampilkan tema yang sulit dan tidak biasa.

Review buku ini kubuat dalam rangka mengikuti tantangan ini:
Kategori: Lima Buku dari Penulis yang Sama

Farm Boy

Judul : Farm Boy

Penulis : Michael Morpurgo

Penerbit : HarperCollins' Children Books

Tebal : 128 halaman

Dibeli di : Bybooks FX Senayan

Harga beli : Rp. 10.000,-

Dibeli tanggal : 11 Februari 2017

Dibaca tanggal : 23 Februari 2017

Review :
Cover buku ini menyebutkan bahwa buku ini merupakan sekuel dari buku War Horse (yang juga pernah kubahas secara singkat di blog ini), namun demikian setelah kubaca, cerita yang disampaikan dalam buku ini sebenarnya berdiri sendiri, bahkan apabila nama tokoh-tokohnya diganti (termasuk Joey si pensiunan kuda perang), tidak akan mengubah cerita sama sekali.

Buku ini mengisahkan hubungan yang erat antara seorang anak laki-laki yang lahir dan besar di kota dengan kakeknya dari pihak ibu, yang tinggal di daerah pertanian di pedesaan. Berbeda dengan orang tuanya, terutama ayahnya, yang sangat kota-centris dan cenderung tidak menyukai kehidupan di desa, sang anak terobsesi dengan kehidupan pedesaan dan sangat senang apabila berlibur ke rumah kakeknya.

Hal yang disukai sang anak terutama apabila sang kakek bercerita tentang masa lalu, termasuk masa lalu ayahnya, sang kakek buyut, yang ternyata tokoh pemeran pembantu di cerita War Horse. Sekilas dikisahkan juga sedikit cerita tentang sang kakek buyut yang pergi berperang demi bertemu kembali dengan Joey, kuda kesayangannya, sampai akhirnya ia (yang kemudian dijuluki Pak Kopral sesuai pangkatnya) dan Joey disambut warga desa saat mereka kembali dengan selamat. Namun tentu saja, bukan itu inti cerita buku ini (kalau mau cerita lengkapnya, silakan baca buku prekuelnya, atau nonton versi filmnya sekalian, lumayan ada Benedict Cumberbatch dan Tom Hiddlestone numpang lewat di situ). Tema cerita selanjutnya adalah bagaimana kehidupan Pak Kopral dan Joey setelah kembali ke dunia pertanian.

Ada cerita dalam cerita di buku ini. Setelah sang cucu mengajari sang kakek menulis dan membaca (terutama supaya sang kakek bisa membaca sendiri novel-novel Agatha Christie yang merupakan penulis favoritnya), ternyata kemudian sang kakek menuliskan cerita dengan bahasa yang sederhana tentang ayahnya dan kuda-kuda kesayangannya, dalam menghadapi perubahan teknologi yang mulai merambah dunia pertanian. Keberadaan kuda tidak dibutuhkan lagi untuk membajak tanah, karena sekarang sudah ada traktor yang bisa menggantikan tenaga kuda!

Cerita pendek sang kakek diakhiri dengan lomba plus taruhan yang menegangkan antara Pak Kopral dengan kuda-kuda kesayangannya, Joey dan Zoey, melawan petani modern yang menggunakan traktornya: untuk membuktikan siapa yang bisa membajak ladang lebih banyak dalam waktu yang sama. 

Review singkat ini dibuat dalam rangka mengikuti tantangan ini:
Kategori: Lima Buku dari Penulis Yang Sama





Tuesday, February 28, 2017

February Book Haul

Kalau dipikir-pikir, aku termasuk jarang melaporkan hasil belanja buku di blog. Bukan apa-apa sih, ada masanya aku masih kalap alias gelap mata kalau nemu buku diskonan, terutama di pameran atau bazaar buku. Apalagi waktu masih hot-hotnya pelaksanaan program BUBU (Beli Ulang Baca Ulang). Terlalu banyak soalnya.

Sekarang boleh dibilang aku sudah mengurangi taraf belanja bukuku ke tingkat yang cukup normal, yaitu belanja komik mingguan yang diselingi belanja satu atau dua buku nonkomik, baik secara online atau offline. Kalap belanja terakhir yang kualami sudah lumayan lama, di event Big Bad Wolf BSD tahun lalu, bahkan belanja di event Harbolnas Gramedia.com yang all item 70% saja aku terhitung masih bisa menahan diri. Yay!

Tapi... (iya ada tapinya), kadang-kadang kalau aku main ke mall dengan niat nonton film saja di akhir pekan, adaaaaa saja buku-buku yang tanpa sengaja terbawa pulang, apalagi kalau sampai ketemu lapak obralan Bybooks dan Periplus.

Karena di bulan Februari ini aku kepingin banget nonton Batman Lego, John Wick 2, dan Split... ternyata lumayan banyak juga buku yang kubeli tanpa rencana.

Pulang nonton Batman Lego di FX Senayan, aku mampir ke Bybooks dan Periplus, dan membawa pulang buku-buku yang harganya berkisar antara Rp. 10.000,- s/d Rp. 40.000,- per jilidnya.

11 Februari 2017
Dari lapak Bybooks, aku menemukan beberapa buku anak-anak, dari buku fiksi karya Michael Morpurgo, Jacqueline Wilson, Louis Sachar dan buku nonfiksi dari serial Horrible (Histories/Science/Geography). Yang bukan buku anak-anak antara lain buku Michael Chabon, Mary Roach, sampai buku biografi Andre Agassi.

Dari lapak Periplus, aku menemukan jilid 10 seri How to Train Your Dragon, dua buku Mohsin Hamid, David & Goliath-nya Malcolm Gladwell, The Rosie Project-nya Graeme Simsion dan In The Heart of the Sea-nya Nathaniel Philbrick (niatnya dibaca dulu sebelum ditonton versi filmnya).

12, 15, dan 18 Februari 2017
Selain buku-buku tersebut, masih ada buku yang kubeli dengan harga normal, misalnya manga Hunter X Hunter, Bakuman, dan Nisekoi yang kubeli di Gramedia Mal Ambassador sebelum menyeberang ke Lotte Shopping Avenue buat nonton film John Wick 2. Atau buku jilid 6 seri Mistborn-nya Brandon Sanderson dan buku Joe Hill yang kupesan dari Periplus. Buku lainnya adalah Koleksi Kasus 2 Sherlock Holmes yang kubeli via Tokopedia. Buku yang terakhir itu terpaksa kubeli dengan harga normal di sana karena aku terlanjur punya buku pertamanya. Waktu Halbornas di Gramedia.com aku order buku satu dan dua sekaligus sih, yang meskipun ordernya sukses, belakangan dibatalkan sepihak oleh Gramedia dengan alasan stok di gudang kosong. Eh, pas paket bukunya kubuka, buku yang masih tersegel ini ternyata masih terbungkus kantong plastik Gramedia... Ih, jadi curiga deh kalau si penjual buku mungkin salah satu sainganku waktu mengorder buku ini di Halbornas!

Minggu depannya, setelah selesai nonton film Split di FX Senayan, aku tetap mampir di lapak Bybooks dengan asumsi tak bakal banyak beli karena menduga koleksinya masih belum banyak perubahan, toh baru saja satu minggu. Eh, ternyata stoknya sudah bertambah... Jadinya... belanja lagi deh...

18 Februari 2017

Yang banyak kubeli kali ini adalah buku cerita anak-anak karya Dick King-Smith, penulis buku The Sheep-pig yang sudah diadaptasi jadi film Babe. Biasanya sih karena aku memprioritaskan untuk melengkapi koleksi Horrible Series, buku penulis anak-anak lain (kecuali buku Jacqueline Wilson) kulewatkan. Tentu saja, selain buku Michael Morpurgo dan Eoin Colfer, kali ini aku juga masih mencomot beberapa buku dari seri Horrible yang belum kumiliki (ada sebanyak apa sih serial ini?) Pas mau bayar di kasir, eh malah nemu buku ensiklopedi Sherlock Holmes. Harganya masih bikin nyeri dompet sih... tapi ya sudahlah.

Selanjutnya, pada weekend terakhir bulan Februari ini, aku tidak main ke bioskop. Selain belum ada film yang menarik, aku memang ada acara outbond kantor ke Yogyakarta. Pas acara bebas, sementara rekan-rekan main ke toko atau pasar di Malioboro untuk mencari oleh-oleh, aku main ke Taman Pintar Bookstore untuk sekadar "melihat-lihat". Apa boleh buat, ada saja buku yang kelihatannya menarik, meskipun sebenarnya sebagian bisa kubeli di toko buku online atau offline di Jakarta.

25 Februari 2017
Yang kugondol pulang antara lain buku-buku kumpulan cerpen Kompas, buku-buku Marjin Kiri, buku-buku Komunitas Bambu, dan buku-buku Benedict Anderson yang diterbitkan oleh Matabangsa. Bikin berat tas saja deh. Untungnya lima dari sekian buku di atas bisa kubaca selama perjalanan kereta api balik ke Jakarta.

Nah, pas sudah kembali ke kosan, eh pesanan komikku di Gramedia.com empat hari sebelumnya juga ternyata sudah datang.

26 Februari 2017

Duh, nambah-nambahin timbunan saja, meskipun belanjaan yang terakhir ini sebenarnya bisa segera dibaca sih, kalau badan tidak tepar gara-gara perjalanan jauh.

Omong-omong, saat ini sebenarnya masih ada buku yang kubeli secara online yang masih dalam perjalanan, tapi karena pada prinsipnya aku menginput database buku berdasarkan buku yang sudah kuterima secara fisik, biarlah buku-buku itu masuk ke laporan book haul berikutnya saja.

Fiuh, sudah ah, kok malah jadi panjang. Laporannya sampai di sini dulu saja, ya...


George Speaks

Judul : George Speaks

Penulis : Dick King-Smith

Penerbit : Puffin Books

Tebal : 92 halaman

Dibeli di : Bybooks FX Senayan

Harga beli : Rp. 20.000,-

Dibeli tanggal : 18 Februari 2017

Dibaca tanggal : 22 Februari 2017

Sinopsis :
George is no ordinary baby.
He looks ordinary, with his round face and squashy nose. But his sister Laura soon discovers that he's absolutely extraordinary. Everyone's life is turned upside down from the day George speaks!

Review :

1. Cover
Tanpa perlu membaca sinopsis di sampul belakang buku ini, calon pembaca sudah dapat mengira-ngira bagaimana isi buku ini kalau dikaitkan dengan judul dan gambar di sampul depannya. George Speaks. Padahal George masih bayi lho!

2. Cerita
Plot utamanya persis seperti yang tersirat di sampul bukunya. George yang masih bayi sudah bisa berbicara sejak lahir!

Lupakan cerita serupa tentang bayi lain yang juga sudah bisa berbicara sejak lahir. Kita tidak akan pernah tahu sebab-musababnya di balik kemampuan George atau hal-hal supranatural yang mungkin saja ada, karena alur buku ini murni membawa ceritanya ke ranah komedi situasi.

Meskipun sudah bisa berbicara sejak lahir, George baru berbicara dengan kakaknya yang sudah berumur tujuh tahun, Laura, ketika usianya menginjak empat minggu. Bayangkan seperti apa kagetnya Laura, karena mendadak adiknya bisa berbicara dengan fasih dan lancar, dengan tutur kata yang layaknya orang dewasa. Bukan itu saja, George jauh lebih pintar dari Laura, sampai membantunya untuk menghafal tabel perkalian segala!

Karena rahasia mereka tidak bisa disimpan lama-lama, George mulai berbicara sedikit-sedikit kepada orang tuanya. Mulanya satu-dua kata dulu, mengulangi kata-kata orang lain seperti beo. Lama-lama, ketika akhirnya George mulai berbicara dengan kalimat pendek, mereka sudah tidak kaget lagi.

"George speaks!"

Tentu saja George tidak puas kalau tidak bisa berbicara dengan bebas, sehingga akhirnya menentukan untuk mulai berbicara normal dengan siapa saja pada pesta ulang tahunnya yang pertama. Ia menentukan sendiri menu pesta, hadiah ulang tahun (ensiklopedia, tentu saja), dan tamu undangannya. Tidak, ia tidak mau tamu sesama bayi, melainkan orang dewasa semua (kecuali Laura tentunya)! Kakek-nenek, paman-bibi, semuanya diundang. Sederhananya, George ingin coming out!

3. Kesimpulan
Ceritanya absurd!

Membaca kalimat-kalimat yang diucapkan George, rasanya dia bukan seperti bayi yang terlalu pintar sehingga dewasa sebelum waktunya. Ia malah seperti orang dewasa yang terjebak dalam tubuh seorang bayi!

Well, coba tebak, dengan keahlian berbicara seperti itu, akan menjadi apa George saat benar-benar dewasa kelak!


Review ini dibuat dalam rangka mengikuti tantangan ini:
Kategori: Lima Buku dari Penulis Yang Sama




Mr Ape

Judul : Mr Ape

Penulis : Dick King-Smith

Penerbit : Corgi Yearling Books

Tebal : 128 halaman

Dibeli di : Bybooks FX Senayan

Harga beli : Rp. 15.000,-

Dibeli tanggal : 18 Februari 2017

Dibaca tanggal : 23 Februari 2017

Sinopsis :
Abandoned by his bossy wife and children, old Mr Ape finds himself living all alone in his huge and rambling house. And then he gets a brilliant idea: he can fill the house with animals, the pets his wife and children would never let him have. But pets have a habit of increasing and soon every room is stuffed to the brim with animals.

Review :

1. Cover
Iya, gambar sampulnya menipu. Kukira seperti cerita-cerita Dick King-Smith yang kubaca belakangan, tokoh utamanya binatang, yang dari judulnya sempat kukira seekor monyet, yang penampakannya seperti di film Planet of the Apes dan sekuel-sekuelnya. Gambar guinea pig yang terpajang di cover depan malah tambah bikin bingung. Apakah ini guinea pig yang dinamai Mr Ape?

2. Cerita
APE di sini ternyata singkatan nama tokoh utamanya, Archibald Peregrine Edmund Spring-Russell. Panjang benar ya namanya, mungkin karena itu disingkat jadi Mr. A.P.E. Spring-Russell.

Pertama kita berkenalan dengan Mr. Ape, ternyata ia hidup di rumah besar yang sunyi, sepi, sendirian. Setelah 30 tahun menikah, istrinya pergi meninggalkannya, dengan kalimat perpisahan yang menyakitkan,

"Right, Ape, i'm sick of this ugly great house and i'm tired of you, so I'm off."

Tiba-tiba saja Mr Ape kepikiran, daripada tinggal sendirian, ia bisa mengisi rumah dengan binatang, yang selama ini tidak bisa dipeliharanya karena dilarang oleh istri dan anak-anaknya.

Setelah melakukan garage sale sehingga isi rumahnya benar-benar kosong,  Mr Ape mulai menjalankan niatnya mengoleksi binatang. Dimulai dari ayam-ayam betina yang ditaruh di ruang tengah, lalu guinea pig di ruang makan, lantas keledai di kebun, disusul kelincim anjing, burung beo, dan seterusnya! Bagaimana lagi, rumahnya kan besar dan luas, bisa diisi banyak binatang!

Selain hidup bersama banyak binatang, Mr Ape juga berkenalan dan berteman dengan anak gipsi, Jake dan ayahnya Joe, hal yang menimbulkan gosip miring dari tetangga yang nyinyir, mengingat reputasi kaum gipsi yang kurang sedap, apalagi di lingkungan bangsawan. Hanya saja, Mr Ape sudah tidak peduli lagi pandangan orang lain, yang penting happy!

Dipikir-pikir, urusan Mr. Ape dan kebun rumah binatangnya ini mengingatkanku pada penulis buku ini, Dick King-Smith, yang penjelasan di Goodreads berbunyi : "Dick King-Smith was born and raised in Gloucestershire, surrounded by pet animals." Wajar saja kalau buku anak-anak yang ditulisnya kebanyakan bertema binatang!

Anyway, terlepas dari jalan ceritanya, judul-judul dari bab di buku ini membuatku teringat pada judul-judul episode (atau buku) dari serial Mr. Monk (detektif, bukan biksu), yang bisa dilihat dari daftar bawah ini:
- Ape Has a Brainwave
- Ape Goes to Market
- Ape Has Visitors
- Ape Has Gets Some Pets
- Ape Has a Birthday
- Ape Get Nice Surprises
- Ape Does a Deal
- Ape Starts a Fire
- Ape Hits Rock Bottom
- Ape Buys a House
- Ape Makes a Decision

3. Pelajaran yang bisa diambil
Jangan main api sembarangan, kalau tidak mau kebakaran!


Review singkat ini dibuat dalam rangka mengikuti tantangan ini:
Kategori: Lima Buku dari Penulis Yang Sama


Fat Lawrence

Judul : Fat Lawrence

Penulis : Dick King-Smith

Penerbit : Puffin Books

Tebal : 64 halaman

Dibeli di : Bybooks FX Senayan

Harga beli : Rp. 10.000,-

Dibeli tanggal : 18 Februari 2017

Dibaca tanggal : 23 Februari 2017

Sinopsis :
Lawrence is indeed a very fat cat. Well, he does manage to eat four good meals a day. But even Lawrence begins to think a cat can be just too fat. What can he do?

Review :
Lawrence, kucing hitam yang luar biasa gendut, hanya makan satu hari sekali.

Tapi, yang namanya satu kali itu:
- satu kali sarapan di rumah Mrs Higgins (di mana ia dikenal sebagai Lawrence Higgins)
- satu kali makan siang di rumah keluarga Norman (di mana ia dikenal sebagai Lawrence Norman)
- satu kali minum teh di rumah Mr Mason (di mana ia dikenal sebagai Lawrence Mason)
- satu kali makan malam di kediaman Barclay-Lloyds (di mana ia dikenal sebagai Lawrence Barclay-Lloyds).

Well, dia punya empat majikan, dan semuanya bingung karena Lawrence begitu gendutnya, padahal mereka cuma memberi makanan satu kali sehari.

Lawrence sendiri bukannya happy-happy saja. Lama-lama karena makin gendut, ia makin capek berkeliling dari rumah ke rumah. Belum lagi, ia jadi tidak pede untuk mendekati gebetannya, kucing betina bernama Bella. Mulailah ia cari petunjuk ke teman-teman di lingkungan rumah majikannya. Saran mereka serupa tapi tak sama: diet dong, bro!

"Tapi aku kan cuma makan satu kali sehari," rengek Lawrence pada masing-masing temannya, Bert, Fred, dan Percy.

Cuma Darius teman yang tahu alasan Lawrence menjadi gendut dengan makan satu kali sehari. Dan cuma Darius yang memberikan nasehat yang menggentarkan: Lawrence benar-benar harus makan satu kali sehari, dengan mengunjungi setiap majikannya secara bergantian setiap hari.

Tips diet dari Darius mulanya membuat Lawrence lapar dan para majikannya bingung, tapi jelas efektif karena Lawrence menjadi kurus dan fit.

Tapi... ada tapinya. Begitu Lawrence berani pedekate ke Bella...



Bella ternyata sudah jatuh cinta pada seekor kucing jantan hitam gendut yang sering dilihatnya berkeliaran di jalan!

Verdict :
Twist ending-nya, yang mengubah diet Lawrence kembali seperti semula membuatku merasa wajib memberi ponten lebih pada cerita ini:



Oh, Bella... You just wait!


Review (atau ringkasan cerita ya?) ini kubuat untuk mengikuti tantangan berikut:

Kategori: Lima Buku dari Penulis Yang Sama



The Hodgeheg

Judul : The Hodgeheg

Penulis : Dick King-Smith

Penerbit : Puffin Books

Tebal : 86 halaman

Dibeli di : Bybooks FX Senayan

Harga beli : Rp. 10.000,-

Dibeli tanggal : 18 Februari 2017

Dibaca tanggal : 23 Februari 2017

Sinopsis :
The story of Max, the hedgehog who becomes a hodgeheg, who becomes a hero!
Max's family dreams of reaching the Park. But no one has ever found a safe way of crossing the very busy road. Can Max really solve the problem?

Review :
Pertanyaan pertama yang timbul: mengapa landak menyeberang jalan?
Padahal biasanya pertanyaan yang standar adalah mengapa ayam menyeberang jalan.
Jawabannya sesuai keterangan di sinopsis buku: sampai ke tanah impian yang dijanjikan: taman.

Premis cerita buku anak-anak ini sederhana saja: bagaimana cara menyeberang jalan dengan aman, mengingat kakek, sepupu, dan tante dari tokoh utama buku ini telah menjadi korban.

Tokoh utama buku ini adalah seekor landak bernama Victor Maximilian St George, atau disingkat Max. Max bukan tipe yang hanya bermimpi untuk bisa mencapai Taman, tapi juga mau berusaha sampai ke tujuan dengan menempuh banyak risiko utama: tertabrak kendaraan yang lalu lalang di jalan raya!

Pertayaan kedua: mengapa judulnya Hodgeheg, bukan Hedgehog?

Begini ceritanya...Max nekad mencoba menyeberangi jalan, raya. Meskipun sebenarnya sudah sesuai aturan dengan berusaha menyeberang di zebra cross, tapi tetap saja ia tertabrak sepeda. membentur trotoar, dan mengalami gegar otak. Akibatnya, otaknya mulai korslet, terutama dalam berbicara. Setelah tertabrak, omongan Max mulai ngaco, tidak sinkron antara apa yang dipikirkan dan ada yang diucapkan. Hedgehog menjadi Hodgeheg, OK menjadi KO!

Meskipun otak dan mulutnya sudah tidak sinkron, tapi Max tetap gigih dalam upayanya menyeberangi jalan untuk mencapai ke taman. Masalahnya, menyeberang sendirian saja sudah amat sangat berbahaya sekali, bagaimana kalau ia mau mengajak rombongan keluarganya sekaligus? Bagaimana caranyaa?

Hikmah yang bisa diambil:
Do not give up, even if you cannot talk right again because of it!

Review ini dibuat dalam rangka memenuhi tantangan berikut :
Kategori: Lima Buku dari Penulis Yang Sama





Horse Pie

Judul : Horse Pie

Penulis : Dick King-Smith

Penerbit : Young Corgi

Tebal : 64 halaman

Dibeli di : Bybooks FX Senayan

Harga beli : Rp. 10.000,-

Dibeli tanggal : 18 Februari 2017

Dibaca tanggal : 22 Februari 2017

Sinopsis :
Captain, Ladybird and Herbert - two Shire horses and a Suffolk Punch - are not pleased when Jenny, a retired seaside donkey, arrives at the Old Horses' Home. It's supposed to be a home for horses, and they don't want to share their field with a common little donkey.
Then rustlers are spotted in the area: thieves who like nothing better than to steal horses and ship them abroad - to be made into horse pie! Can Jenny and her friends save the huge heavy horses?


Review :

1. Cover
Unyuuuu! Eh salah, unguuuu!
Kalau tidak membaca cover belakangnya, bisa jadi ada pertanyaan yang muncul saat melihat gambar cover depannya seperti ini : "Judulnya sih Horse Pie, tapi kenapa gambar sampulnya keledai?"
Catatan: ini kalau yang memberi komentar bisa membedakan gambar kuda dan keledai.

2. Cerita
Oke, seperti ditunjukkan gambar di cover buku ini, tokoh utama cerita ini adalah seekor keledai bernama Jenny.

Lalu apa hubungannya dengan judul yang secara harfiah berarti Pie Daging Kuda?

Jenny adalah satu-satunya keledai yang dititipkan di Old Horses' Home. Kehadirannya di sana tidak disukai oleh beberapa kuda, khususnya yang bernama Captain, Ladybird dan Herbert. Namanya juga tempat penampungan kuda tua, masa ada spesies yang derajatnya lebih rendah ikutan numpang. Ih, dideportasi sana!

Cerita jadi lain waktu mulai timbul rumor tentang pencuri kuda yang berkeliaran di sekitar tempat penampungan kuda. Dan gosip semakin sip karena konon kuda-kuda yang dicuri dikirim ke Prancis buat disembelih dan dijadikan pie daging kuda! Siap-siap saja, kuda yang kelihatan gemuk dan sehat pasti bakal diincar untuk dicuri. Captain, Ladybird dan Herbert termasuk ke golongan ini!

Cuma Alfie, salah seekor kuda yang mau berteman dengan Jenny. Tapi berbeda pandangan dengan Alfie, Jenny merasa perlu untuk berusaha menolong kuda-kuda lainnya dari nasib mengenaskan berakhir di perut orang Prancis. Dan semua itu tidak mudah. Perlu kerja sama yang kompak dengan para kuda, termasuk tiga kuda gemuk yang demen membully Jenny!

3. Pelajaran yang bisa dipetik
Pertama, orang Prancis suka makan daging kuda, terutama dalam bentuk pie.
Kedua, jangan rasis, ah. Kuda dan keledai memang berbeda spesies, tapi kan masih satu Ordo, Ordo Perissodactyla, masih sama-sama mamalia, masih sama-sama makhluk Tuhan.
Ketiga, jangan terjebak stereotype yang menuduh keledai itu bodoh dan keras kepala.


Review ini dibuat untuk mengikuti tantangan :
Kategori : Lima Buku dari Penulis Yang Sama

E.S.P.

Judul : E.S.P.

Penulis : Dick King-Smith

Penerbit : Young Corgi

Tebal : 80 halaman

Dibeli di: Bybooks FX Senayan

Harga beli : Rp. 10.000,-

Dibeli tanggal : 18 Februari 2017

Dibaca tanggal : 22 Februari 2017

Sinopsis :
Old Smelly loves to bet on the horse races, but he never has much luck - until he meets Eric Stanley Pigeon, that is. For this young bird has a very unusual talent... Old Smelly dreams of winning a fortune, but will his dreams come true?

Review :

1. Cover
Aku suka warna merah oranye yang mendominasi cover buku ini. Aslinya, di lapak Bybooks ada dua jilid buku ini dengan dua macam cover yang berbeda. Jilid yang pertama kucomot covernya didominasi warna biru muda, sementara jilid yang kutemukan berikutnya adalah jilid dengan cover di atas. Sebagai pecinta warna merah, sudah pasti yang kubeli jilid buku yang terakhir.

2. Cerita
Apa arti E.S.P. di judul ini?

Apakah singkatan dari Extra Sensory Perception? Apakah ini buku tentang seekor burung yang memiliki kekuatan ajaib?

Yah, memang itu sih plot utama cerita ini. Buku tentang burung merpati yang mungkin saja seekor esper. Tapi ESP juga bisa berarti singkatan dari Eric Stanley Pigeon, nama burung merpati yang bersangkutan.

Lahir dan bersarang di tumpukan koran di puncak gedung bertingkat, ESP ternyata punya hobi mematuk-matuk koran. Segmen koran yang dipatuknya spesial pula: pacuan kuda. Sudah begitu, ternyata nama kuda yang dipatuk ESP ternyata nama kuda pemenang pacuan!

Meski ESP tidak tahu kebetulan tersebut, ternyata hasil patukannya dibaca oleh seorang gelandangan yang dijuluki Old Smelly (kira-kira asal usul julukannya sudah cukup jelas). Karena sehari-harinya ia hobi tidur beralas dan berselimutkan koran, tanpa sengaja ia menemukan bahwa ada seekor burung yang suka mematuk pemenang pacuan! (Iya, ini aslinya permainan kata, pecked a winner dari picked a winner).

Namanya juga manusia. Begitu dapat kesempatan untuk menguji teori kekuatan ajaib ESP, langsung deh Old Smelly memasang taruhan di pacuan yang akan datang, dan... menang! Begitu dicoba lagi... eh ternyata menang lagi!

Jangan-jangan, ESP memang punya kekuatan ESP!
Jangan-jangan Old Smelly bisa kaya raya!
Jangan-jangan Old Smelly bisa tidak bau lagi!
Eh, yang terakhir mah kayaknya belum tentu deh... tapi yang pertama dan kedua juga belum tentu!

3. Hikmah
Sebagaimana layaknya buku cerita anak-anak, selalu ada hikmah yang bisa dipetik dan dipelajari oleh pembaca. Di sini, intinya jelas: jangan menggantungkan diri pada keberuntungan, melainkan pada usaha dan kerja keras!


Review singkat ini kubuat dalam rangka mengikuti tantangan ini:

Kategori: Children Literature