Showing posts with label curcol. Show all posts
Showing posts with label curcol. Show all posts

Monday, March 9, 2020

2020 Second Book Haul!

Pernyataan Resolusi 2020:
- Aku akan lebih banyak baca buku digital ketimbang buku fisik
- Aku akan mengurangi belanja buku fisik karena terbatasnya space perpustakaan pribadi
- Aku akan menghabiskan timbunan buku fisik yang tercatat di rak to-read Goodreads

Kenyataannya:
- Iya sih, sudah menahan diri belanja buku di toko buku offline, tapi beli komik secara online jalan terus tiap minggu... belum kalau tetiba pingin beli komik Program Beli-Ulang-Baca-Ulang
- Resolusi berlaku buat pameran/bazaar rutin seperti IIBF/Islamic Book Fair/dll yang sukses kuhindari, tapi... tidak berlaku untuk Big Bad Wolf!!!

Begini... tiap tahun aku wajib rutin menyambangi event ini, obral buku impor dengan jumlah dan variasi buku seabrek, jadi tentu saja tak mungkin kulewatkan... meski sembari dag-dig-dug bakal sebanyak apa buku yang bakal kubawa pulang, dan ujung-ujungnya menambah timbunan to-read yang sebenarnya baru saja kuturunkan ke bawah 40 buku...

Nah, untuk event tahun ini, aku khusus mengambil cuti di hari Jumat tanggal 6 Maret kemarin, supaya tidak perlu bergadang buat belanja tengah malam lagi seperti 2 tahun terakhir ini. Dan alhamdulillah... sepertinya aku cukup sukses menahan diri, karena belanjaanku tidak lebih dari 1 troli dan tidak lebih dari 2x UMR seperti dahulu...

Tapi... sudah tentu timbunanku jadi bertambah jadi dua kali lipat, jadi naik ke kisaran 90-an buku lagi! Duh. Ya sudah, seperti biasa motto lama tetap berlaku: lebih baik menyesal membeli daripada menyesal tidak membeli.

Jadi, buku-buku apa yang kemarin akhirnya kucomot dan kubawa pulang setelah berputar-putar di Hall 6 - 10 ICE BSD selama kurang lebih 5 jam?

Hardcover Edition

Khusus yang edisi hardcover, lumayan banyak juga ternyata. Bervariasi antara buku fiksi dan nonfiksi, komik dan nonkomik. Yang harganya ngajak nangis tentu saja komik Omnibus Marvel The Stand-nya Stephen King (yang sama mahalnya dengan komik Omnibus Marvel The Dark Tower-nya Stephen King yang kubeli di BBW tahun lalu). Lalu... nggak sengaja nemu komik Civil War-nya Mark Millar dong. Akhirnya punya juga hardcopy-nya selain versi novelnya Stuart Moore. Biasanya kalaupun nemu di Kinokuniya, sayang saja kalau beli dengan harga asli. Ensiklopedia Star Wars terbitan DK juga kudapat tidak sengaja, waktu sedang mencari buku-buku terbitan DK titipan teman.

Softcover Edition

Seperti biasa kalau ada event seperti ini, belanjaanku memang random dan seketemunya saja, buku apapun yang "sepertinya menarik". Jadi tidak ada acara frustrasi kalau ternyata tidak menemukan buku yang ingin dibeli dengan harga banting di BBW. Buku ensiklopedi? Oke. Buku sejarah? Oke. Buku Dilbert? Oke. Novel Star Wars? Sip. Biografi Robert Downey Jr.? OKE BANGET!!!

Buku serial
Kalaupun ada buku yang diniatkan untuk dicari dan dibeli, biasanya sudah dapat bocoran dari teman-teman yang LPM pada saat presale di dua hari sebelumnya bahwa buku-buku ini tersedia. Misalnya boxset Adventure-nya Enid Blyton (padahal sudah punya lengkap versi terjemahan), atau boxset Magisterium-nya Holly Black & Cassandra Clare (padahal selama ini belum tertarik untuk baca sih). Khusus serial Rivers of  London-nya Ben Aaronovitch malah baru tertarik beli setelah minggu lalu baca versi komiknya, padahal di BBW tahun-tahun sebelumnya selalu kucuekin, dan wajar saja sih kalau cuma nemu 4 buku, tanpa buku ke-4 dan ke-5. Santuy aja sih, sisanya bisa dibeli online. Belum tentu juga sih besok-besok langsung kubaca juga...

Ruckus Books

Jarahan terakhirku adalah 2 buku unik ini, yang fungsi sebenarnya lebih untuk dipajang daripada dibaca, itu pun tanpa niat untuk dicari dan dibeli. Namun mengingat aku sudah punya buku Whiskey, ya sudahlah kuembat juga meski tidak jelas di lemari mana bakal kupajang nanti. Lemari perpustakaan sudah luber, Bos!

Hm... sepertinya laporan (curcol) belanja buku di BBW 2020 cukup sekian saja. Niatnya sih aku tidak mau balik lagi ke sana, supaya tidak tergoda untuk belanja dan menambah timbunan lagi.

Sekarang... targetku adalah membaca semuanya di tahun ini. Kalau sempat. Kalau mood. Kalau tidak malas. Kalau tidak sok sibuk kerja. Kalau tidak terjerumus membaca fanfiction di ao3 melulu. Kalau...

Kalau sampai waktuku...










Tuesday, January 28, 2020

2020 First Book Haul!

Pernyataannya:

Ternyata puasa belanja buku nonkomik di bulan Januari 2020 ini hanya bisa bertahan 24 hari.

Pertanyaannya:

Q: Puasa belanja buku? Yang benar?
A: Memang nggak ada niat puasa sih... cuma belum kepingin beli buku nonkomik aja.

Q: Apa alasannya?
A: Kan perpus pribadi sudah overload, jadi kalau bisa jangan tambah buku du--

Q: Lho, kemarin-kemarin masih beli komik di toko buku online, kan?
A: Yang diomongin kan buku nonkomik, kalau komik memang rutin beli mingguan, sekali beli pun paling cuma 4-5 bu--

Q: Yang benar? Terus kemarin beli manga online serial Q.E.D. jilid 1-50 dan C.M.B. jilid 1-38-nya Motohiro Katou itu apa?
A: ... Itu lain, itu proyek BUBU untuk koleksi komik yang dulu dilego maling...

Q: Terus itu komik mau disimpan di mana? Katanya perpustakaan pribadi sudah overload?
A: ...

Kenyataannya:

Entah kenapa belakangan ini aku memang sedang malas saja beli buku nonkomik, baik fiksi maupun nonfiksi. Untuk buku-buku ini aku sudah terbiasa lebih banyak membaca versi ebook di ponsel atau laptop, bahkan punya buku fisik pun yang dibaca seringnya malah versi ebooknya. Sumbernya bisa berasal dari mana saja, baik dari Gramedia Digital Premium, aplikasi ipusnas, ataupun sumber-sumber lain yang tidak bisa kusebutkan di sini. Kunjungan ke pameran dan bazaar buku juga sudah amat sangat kukurangi, IIBF 2019 kemarin saja lewat. Terakhir beli buku fisik nonkomik banyak cuma waktu BBW Jakarta 2019 (itu pun sudah jauh berkurang dibanding tahun-tahun sebelumnya). Alasannya ya itu, ruang perpustakaan pribadi yang terbatas. Mau beli buku baru? Eits, keluarkan dulu dong buku yang sepertinya tidak bakal dibaca (lagi).

Tapi ya itu... Seringnya aturan terbaru itu tidak berlaku sih buat Proyek Beli-Ulang-Baca-Ulang kategori koleksi komik hilang yang ingin kubeli dan kubaca lagi. Padahal lebih makan tempat ketimbang buku fisik. Bah!

Semula kukira bulan Januari ini bisa lewat tanpa sempat membeli buku fisik nonkomik satu pun. Nasib berkata lain. Ceritanya hari Sabtu kemarin pas Imlek, aku akhirnya menonton film di bioskop untuk pertama kalinya di tahun 2020, back-to-back pula: Dolittle/1917/Bad Boys for Life di Cinepolis Plaza Semanggi. Usai nonton film terakhir, aku turun ke basement buat belanja sedikit di Foodmart. Seperti biasa, aku mampir ke lapak Books & Beyond di seberang Foodmart. Biasanya aku menemukan satu-dua buku yang sepertinya menarik. Ternyata kali ini yang menurutku cukup menarik ada lumayan banyak.

Dan hasilnya... eng-ing-eng... ~drum rolls~...

Rekor Book Haul paling sedikit, cuma 10 buku!

Yap, book hoarder kambuhan sepertiku memang susah menahan diri, apalagi kalau menemukan buku yang dijual dengan harga banting. Ada buku ensiklopedi anak-anak dari DK Publishing cuma 70k! Ada buku hardcover Michael Lewis cuma 60k! Ada buku Patrick Ness (sudah baca versi ebook) cuma 40k! Ada buku jilid 0,5 dan 3,5 serial His Dark Materials-nya Philip Pullman (entah kebetulan atau bagaimana pagi sebelum berangkat nonton aku baru baca versi ebook kedua buku ini!) masing-masing cuma 30k! Dan... ada juga buku Lords of the Sith-nya Star Wars yang sudah lama kucari ebooknya tapi belum dapat juga! Duh... semuanya godaan yang tak bisa ditolak. Jadi... pecah deh telor beli buku nonkomik di tanggal 25 Januari 2020. Ya sudahlah, terima nasib dan jalani hidup sesuai motto:


Lebih baik menyesal membeli, daripada 
menyesal tidak membeli



Laporan selesai.



Sunday, December 29, 2019

Susu dan Kesehatan Manusia: Mitos vs. Fakta

Judul : Susu dan Kesehatan Manusia: Mitos vs. Fakta

Penulis : F.G. Winarno

Penerbit : Gramedia Pustaka Utama

Tebal : 92 halaman

Harga : Rp. 10.000,- 

Dibeli di : Lapak Obralan Gramedia Plaza Semanggi

Dibaca tanggal : 20 Desember 2019

Sinopsis :
Susu telah berabad-abad menjadi salah satu komoditas pangan manusia. Tidak hanya penting bagi peningkatan gizi masyarakat, susu juga dapat digunakan sebagai penangkal penyakit. Meskipun begitu, pada kenyataannya, banyak mitos mengenai susu yang telah mengakar dan tumbuh di masyarakat sebagai sebuah kepercayaan. Mitos-mitos tersebut dapat menjadi informasi yang menyimpang dan membingungkan bagi para konsumen. Padahal, susu dan produk susu merupakan pangan alami yang sangat bergizi yang memberi asupan kalsium, kalium, mineral, vitamin, serta protein yang esensial bagi pertumbuhan dan perkembangan tubuh manusia. Karena alasan tersebut, polemik mengenai susu dan konsumsi produk susu memerlukan fakta hasil penelitian yang telah diuji secara ilmiah oleh para ahli. Dalam buku ini, disajikan berbagai hasil penelitian mengenai susu agar para pembaca sekaligus konsumen susu, dapat menentukan pilihan yang tepat untuk membeli dan mengonsumsi susu.

Komentar (iya curcol doang, sebenarnya ga bisa disebut ripyu) :

798 - 2019

Sebagai lactose intolerant, aku lebih cenderung percaya teori bahwa sebenarnya kita tidak butuh minum susu sapi, karena berarti tubuh manusiaku tak bisa mencerna susu sapi. Apalagi kalsium lebih banyak terdapat di sayuran hijau, yang memang makanan favoritku. Jadi, aku lebih percaya pada mitos kita tak perlu minum susu sapi.

Tapi ya... karena susu sapi dan segala macam turunannya enak di lidah... aku masih tetap minum sekaleng susu bear brand dingin setiap pagi sebagai campuran sarapan dengan muesli dan buah-buahan. Atau mencampur susu dengan softdrink dingin ala soda gembira sebagai minuman guilty pleasure di siang hari yang panas. Atau masih suka makan es krim...

Efek gangguan pencernaan gara-gara lactose intolerant kadang memang tidak menyenangkan sih, apalagi di jam kerja. Buang angin terus-terusan berjam-jam sampai malam hari setelah makan seporsi kecil es krim pas jam istirahat? Pernah. Bolak-balik ke WC? Sering.

Ini mah sama persis dengan jalan hidupku selaku Capsaicin Addict dan Hot Sauce Master. Kuat pedas di lidah, meski pencernaan tidak kuat, dan efek ke gangguan pencernaan juga lebih hot.

Tapi ya...

Terus, apa selain bisa disebut residivis tobat sambal, aku juga pantas didapuk sebagai residivis tobat susu sapi...?

Catatan :
Iyaaa, karena tahun 2019 hampir habis dan blog ini sudah mati suri berbulan-bulan, ya sudahlah komentar berbau curcol tidak penting di akun Goodreads kupindahkan ke sini untuk sekadar menambah postingan tahun berjalan...
- Confession of a Lazy Blogger (Desember, 2019)

10 Langkah Menjadi Financial Planner Untuk Diri Sendiri Khusus Karyawan

Judul : 10 Langkah Menjadi Financian Planner Untuk Diri Sendiri Khusus Karyawan

Penulis: Luthfi Khaerudin

Penerbit : Grasindo

Tebal : 220 halaman

Dibaca di : Gramedia Digital

Dibaca tanggal : 16 Oktober 2019

Sinopsis : 
“Gaji saya ‘kan nggak seberapa. Apanya yang mau direncanakan? Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari saja sudah pas-pasan, malah kadang-kadang kurang.”

“Tapi, usia saya sudah hampir 40 tahun. Apakah masih mungkin untuk melakukan perencanaan keangan agar bisa pensiun dengan tenang?”

Jawaban untuk kedua pertanyaan itu: BISA!

Dalam buku ini Anda akan menemukan kesalahan-kesalahan yang paling sering terjadi soal uang. Anda juga akan tahu mengapa Anda perlu melakukan Perencanaan Keuangan.

Tunggu apa lagi?

Atur gaji, jadi orang kaya!

Komentar (iya, curcol doang, bukan ripyu sama sekali) :

666 - 2019

Apa ya korelasinya baca buku tentang jadi financial planner pribadi dengan nomor urut bacaan 666?

Tidak ada sih. Yang jelas, saya memang masih melakukan banyak kesalahan dalam perencanaan keuangan sebagaimana yang tercantum dalam buku ini, antara lain :

1) Kesalahan II: Menabung tanpa tujuan
2) Kesalahan V: Tabungan = Dana Darurat
3) Kesalahan VI: Menabung = Investasi (tapi... deposito masuknya ke investasi, kan?)
4) Kesalahan VIII: Menganggap asuransi bukanlah hal yang penting

Tapi meskipun demikian, pada dasarnya menurut buku ini saya akan dapat mengambil langkah selanjutnya untuk menjadi perencana keuangan, karena saya mau dan bisa melakukan hal-hal berikut:
1. Bersyukur memiliki penghasilan
2. Bersyukur setiap kali bisa membeli sesuatu
3. Berpikir bahwa gaji saat ini cukup untuk memenuhi kebutuhan saat ini
4. Berapapun jumlah penghasilan, pasti bisa diatur

Masalahnya... maukah saya mengambil langkah selanjutnya?

Karena masih menabung tanpa tujuan, saat ini pola investasi saya masih konservatif ala jaman kuda gigit besi. Cuma menabung, kalau sudah sampai batas tertentu, dialihkan ke deposito. Sudah, begitu saja (lihat daftar kesalahan di atas).

Sebagai tipe orang menabung tanpa tujuan, prinsip saya cuma satu: yang penting cukup. Dulu saya naik haji tanpa direncanakan, begitu ada dana cukup, langsung daftar dan tahun depannya berangkat. Ganti laptop dan ponsel pun tanpa penyisihan khusus, yang penting ada uang untuk beli baru, yang penting cash dan tidak nyicil. Saya juga belum ingin beli rumah lagi (sudah pernah punya, tapi tidak asik karena tidak bisa dinikmati sendiri), belum ingin punya mobil selama masih berdomisili di Jakarta (mending memanfaatkan layanan taksi online). Asuransi kesehatan dan jiwa sudah diatur tempat bekerja... Alasannya adaaa saja kalau dicari-cari.

Mungkin pola pikir "yang penting cukup" ini yang memang harus diubah dulu, sebelum mulai membuat perencanaan keuangan?

Catatan :
Iyaaa, karena tahun 2019 hampir habis dan blog ini sudah mati suri berbulan-bulan, ya sudahlah komentar berbau curcol tidak penting di akun Goodreads kupindahkan ke sini untuk sekadar menambah postingan tahun berjalan...
- Confession of a Lazy Blogger (Desember, 2019)


Thursday, April 11, 2019

Filosofi Teras

Judul : Filosofi Teras

Penulis : Henry Manampiring

Penerbit : Penerbit Kompas

Tebal : 344 halaman

Dibaca tanggal : 5 Februari 2019

Sinopsis :
Apakah kamu sering merasa khawatir akan banyak hal? baperan? susah move-on? mudah tersinggung dan marah-marah di social media maupun dunia nyata?
Lebih dari 2.000 tahun lalu, sebuah mazhab filsafat menemukan akar masalah dan juga solusi dari banyak emosi negatif. Stoisisme, atau Filosofi Teras, adalah filsafat Yunani-Romawi kuno yang bisa membantu kita mengatasi emosi negatif dan menghasilkan mental yang tangguh dalam menghadapi naik-turunnya kehidupan. Jauh dari kesan filsafat sebagai topik berat dan mengawang-awang, Filosofi Teras justru bersifat praktis dan relevan dengan kehidupan Generasi Milenial dan Gen-Z masa kini.

My Two Cents :
Meskipun sehari-hari aku tetap berupaya menghindari stres dengan menghilangkan akar masalahnya (e.g. cari kosan di belakang kantor supaya tak perlu merasakan macetnya Jakarta, tidak iseng membuka socmed terkait pemilu 2019), yang namanya khawatir mah tak akan pernah hilang. Apalagi aku termasuk orang yang overthinking, dan dalam pekerjaan sehari-hari juga selalu mempertimbangkan pros-cons alias tak cuma berpikir positif tapi juga negatifnya (perfectly balance, as all things should be).

Sesekali, biasanya kalau terkait hobi dan kenikmatan duniawi, ada saja rasa khawatir yang pastinya tidak masuk akal dan tidak penting buat orang lain. Misalnya kepikiran "Aduh kalau bisa jangan mati ketabrak mobil dulu sebelum aku sempat menonton Avengers: Endgame." (tahun lalu tentu saja judulnya masih Avengers: Infinity War). Terus kepikiran, bisakah orang yang mati sebelum sempat menonton film yang ditunggu-tunggu, lantas jadi hantu penasaran dan menggentayangi bioskop untuk "menyelesaikan urusannya di dunia". Tapi omong-omong, ternyata bukan cuma aku yang punya kekhawatiran sepele macam begitu. Robert Meyer Burnett, salah satu movie pundit yang kuikuti di youtube, juga sering mengungkapkan hal yang sama persis (bedanya cuma dalam bahasa Inggris sih), dan aku jadi tertawa kalau mendengarnya karena ternyata aku tidak sendirian...

Lho, kok malah curcol nggak penting. Harusnya kan ngomongin buku ini. Yo wis.

Review singkat: buku ini enak dibaca dan perlu.

Tuesday, January 1, 2019

2018 Challenges Wrap Up & 2019 Challenges


Selamat Tahun Baru, semuanya!


Hah... aku mau nulis apa ya di awal tahun baru ini...

Tahun 2018 kemarin aku nyaris tidak pernah mampir lagi ke blog ini setelah memposting 2018 Challenges. Jadi... jelas ada target yang amat sangat tidak tercapai... target posting review, tepatnya. Bukannya aku tidak pernah bikin review singkat di goodreads setelah selesai baca buku sih, tapi komen singkat yang tidak diposting di blog tidak masuk hitungan. Belum lagi... seandainya satpam BBI masih rajin menyambangi blog yang nganggur berbulan-bulan malah nyaris setahun, pasti sudah lama aku ditendang dari BBI. Atau minimal dikasih peringatan dengan hukuman percobaan, barangkali. Ampun deh, aku janji bakal mampir setidaknya sebulan sekali tahun ini!

Jadi, apa saja target 2018 yang tercapai?  Yuk kita mulai aja ah, nggak pakai lama...

1. Goodreads Reading Challenge


Oke, tercapai dengan catatan seperti biasa... sebagian besar komik, terutama komik Marvel dan DC. Mwahahah. Curang? Lha, iyalah. Target buku nonkomik tercapai 515 dari target 500 buku, tapi tetap terhitung curang juga sih karena banyak yang halamannya tipis, terutama buku anak-anak. Kalau iseng mengecek statistik Goodreads tentang buku yang dibaca 12 bulan terakhir, aku malah dihitung cuma baca 230 buku! Beda sistem dengan RC mungkin ya, yang tidak peduli pada tebal halaman dan juga  menghitung re-read sebagai pencapaian!


2. New Author Reading Challenge

Tercapai 159 dan target 100.

Okay, di mana-mana juga kalau target diturunkan memang lebih mudah dicapai. Mungkin tahun 2019 perlu dinaikkan lagi targetnya ya...


3. Project Baca Buku Cetak

Kelihatannya timbunan malah bertambah dari 70-an buku di akhir tahun 2017 menjadi 80-an di akhir tahun 2018. Bukannya tidak ada usaha membaca buku timbunan sih... tapi ada saja tambahan buku cetak baru yang tak segera kubaca... Lebih banyak plus ketimbang minusnya deh.


4. Review Challenge

Boro-boro bikin review, bikin postingan baru di blog ini dalam setahun terakhir ini saja nggak. Jadi, dengan amat terpaksa aku akhirnya membuat 2 review dari dua buku yang terakhir kubaca, persisnya di malam tahun baru. Padahal targetnya sudah diturunkan dari target 2017 menjadi 52 review saja.



Jadi, sepertinya aku perlu menyusun target 2019 yang lebih realistis dan sesuai dengan tingkat kemalasan? Let's go!





1. Goodreads Reading Challenge

Sepanjang sistem perhitungan RC belum berubah, aku akan tetap mempertahankan tradisi menetapkan target jumlah bacaan sesuai angka tahun.


Sejauh ini masih on the track, dan baru 2 jilid komik, sisanya timbunan buku cetak dan digital. Mudah-mudahan tidak segera kehabisan gas di awal tahun, meskipun jelas aku pasti masih bakal lebih banyak baca komik ketimbang novel.

Target baca buku nonkomik? Tetap 500 saja dulu ya.


2. New Author Reading Challenge

Melihat pencapaian tahun lalu, baiklah kunaikkan lagi targetnya dari 100 menjadi 150. Masih ada terlalu banyak penulis yang belum kukenal, baik dari dalam negeri maupun luar negeri.


3. Project Baca Buku Cetak

Aslinya sih, saat ini buku cetak di kamar kos (di luar manga) cuma ada 4 jilid. Hebat, ya? Nggak juga sih, karena timbunan yang aku punya versi ebook-nya atau ada di aplikasi GD aku kirim semua ke perpustakaan di Cirebon.

Apakah akhirnya aku akan membaca buku yang sudah tertimbun bertahun-tahun bahkan belasan tahun di tahun 2019 ini? Kita lihat saja nanti.


4. Review Challenge

Apakah challenge ini masih tetap kubuat tahun ini setelah gagal dengan sungguh amat sangat mengenaskan tahun lalu? Bagaimana dengan tingkat kemalasan tahun ini, apakah dapat diprediksi menurun atau malah meningkat?

Ya sudahlah... meskipun masih tidak realistis mengingat level kemalasan posting review (atau posting apapun) di blog ini tahun lalu, aku tetap buat buat challenge-nya, deh. 

12 Review saja ya. Itu juga sudah jauh lebih mendingan ketimbang pencapaian tahun 2018 kok, hehehe...


Okay, folks! Kita akhiri resolusi tahun 2019 ini. Mudah-mudahan pencapaian target tahun ini bisa lebih baik dari tahun sebelumnya!


  

Monday, December 31, 2018

Goodbye, Things: Hidup Minimalis ala Orang Jepang

Judul : Goodbye, Things: Hidup Minimalis ala Orang Jepang

Penulis : Fumio Sasaki

Penerbit : Gramedia Pustaka Utama

Tebal : 280 halaman

Dibaca di : Gramedia Digital

Tanggal baca : 30 Desember 2018

Sinopsis :
Fumio Sasaki bukan ahli dalam hal minimalisme; ia hanya pria biasa yang mudah tertekan di tempat kerja, tidak percaya diri, dan terus-menerus membandingkan diri dengan orang lain—sampai suatu hari, ia memutuskan untuk mengubah hidupnya dengan mengurangi barang yang ia miliki. Manfaat luar biasa langsung ia rasakan: tanpa semua “barangnya”, Sasaki akhirnya merasakan kebebasan sejati, kedamaian pikiran, dan penghargaan terhadap momen saat ini.

Di buku ini, Sasaki secara sederhana berbagi pengalaman hidup minimalisnya, menawarkan tips khusus untuk proses hidup minimalis, dan mengungkapkan fakta bahwa menjadi minimalis tidak hanya akan mengubah kamar atau rumah Anda, tapi juga benar-benar memperkaya hidup Anda. Manfaat hidup minimalis bisa dinikmati oleh siapa pun, dan definisi Sasaki tentang kebahagiaan sejati akan membuka mata Anda terhadap apa yang bisa dihadirkan oleh hidup minimalis.

Curcol suka-suka:
Aku membaca buku ini via aplikasi Gramedia Digital di handphone. Yang artinya: aku sudah selangkah lebih maju menuju hidup minimalis!

Just kidding, bro. Aku membaca buku digital bukan berarti aku berhenti membeli buku cetak. Itu hanya salah satu cara untuk menentukan apakah aku membeli versi cetaknya atau tidak, tak perlu lagi aku berjudi membeli buku cetak dengan alasan "sepertinya menarik".

Lalu, karena ternyata aku suka buku ini, apakah aku akan membeli edisi cetaknya? Oh, dilema...

Pertama, perlu ditegaskan bahwa meskipun aku menyukai buku ini, belum tentu aku bisa menjalankan apa yang disarankan penulisnya yang tergolong ekstrimis dalam aliran minimalis ini. Aku selalu kagum pada mereka yang bisa melakukan apa yang tak bisa kulakukan dengan mudah, misalnya: membuang barang tanpa pikir-pikir konsekuensinya. Yang ada malahan aku lebih sering membeli barang tanpa pikir-pikir konsekuensinya.

Begini, bukannya aku tidak pernah berusaha membuang barang. Aku bukan orang sentimental yang suka menyimpan barang-barang kenangan. Buat apa? Menuh-menuhin tempat saja. Setelah membaca buku Marie Kondo tentang seni beres-beres, aku juga sudah berupaya membuang sebagian koleksi baju, tas, sepatu, bahkan buku!

Etapi ndilalah, aksi buang barang dilakukan, aksi beli barang tetap jalan terus dong... Hiks! Ini yang susah, apalagi di jaman belanja online semakin gampang begini. Sambil tiduran dan ngemil di atas ranjang, bisa asyik browsing di aplikasi marketplace ini itu, eng-ing-eng..., punya baju, tas, dan buku baru deh. Ih, ini pasti yang salah jarinya!

Jadi, membaca buku ini, pertama melihat foto sebelum dan sesudah dari kamar, apartemen atau rumah para minimalis teladan, lantas melihat sekeliling kamar kos... Hm, jadi gatal ingin membereskan kamar kos yang entah kenapa kok kelihatan selalu penuh dengan barang yag belum tentu penting dan... omong-omong, kapan ya kubeli dan kapan terakhir kali kupakai? Jawabannya: boro-boro ingat.

Tapi... tapi... Fumio Sasaki ini terlalu ekstrim deh!

Mana tega aku membuang buku begitu saja? Yang ada paling aku memaketkan timbunan buku di Jakarta ke Cirebon. Paling tidak buku yang sudah kubaca, buku yang belum kubaca tapi aku punya e-booknya, atau buku yang belum kubaca tapi aku bisa baca versi digitalnya di aplikasi. Baru kalau aku punya waktu, kapan-kapan menyiangi buku yang memenuhi perpustakaan pribadi di Cirebon.

Mana bisa aku membuang baju begitu saja? Oke, ada beberapa potong yang memang baru kupakai sekali dua dan sepertinya tak bakalan kupakai lagi karena alasan tertentu, jadi lebih baik dihibahkan. Tapi sisanya? Masih kupakai semua kok! Memang tidak setiap hari, tapi kan variasi baju itu perlu supaya tidak bosan (dan tidak dinyinyiri pakai baju yang itu-itu saja, kayak nggak punya baju lain saja!).

Mana mungkin aku mengurangi gadget! HP yang ini khusus keperluan kantor, HP yang ini khusus untuk entertainment seperti menonton youtube dan mendengarkan musik, HP yang ini khusus untuk membaca buku digital. Kalau cuma pakai satu HP, baterenya bakal cepat habis, harus sering di-charge, dan lebih cepat rusak. Mending punya lebih dari satu dan dipisahkan berdasarkan fungsinya!

Hahaha... tidak ada habisnya memang alasan untuk mempertahankan keberadaan barang dan mencari alasan untuk itu. Hidup kita diatur oleh barang-barang kita? Memang! Persis seperti bit-nya alm. George Carlin tentang A Place For Your Stuff, yang pernah kukutip panjang lebar di review buku beliau di blog ini. Semua barang kita itu penting! Jadi perlu disediakan tempatnya. Itulah gunanya rumah: tempat untuk menaruh barang kita! Kalau kita tidak punya barang, kita tak perlu rumah dan bisa bebas berpergian ke mana saja tanpa khawatir kehilangan barang milik kita...

Hadeh. Seperti biasa kalau review buku model begini versi curcol pasti tidak akan ada habisnya, karena terlalu banyak alasan untuk menolak semua kiat yang ditawarkan penulis ekstrimis ini. Tapi pada prinsipnya, inti buku ini adalah di mana ada kemauan, di situ pasti ada jalan. Karena kiat pertama adalah: buang jauh-jauh pikiran bahwa kita tidak mampu membuang barang. Kalau ada kemauan untuk membuang barang kita, apapun bentuk dan rupanya, pasti kita bisa deh.

Kalau ada kemauan tapinya...

Slugfest: Inside the Epic, 50-year Battle between Marvel and DC

Judul : Slugfest: Inside the Epic, 50-year Battle between Marvel and DC

Penulis : Reed Tucker

Penerbit : Da Capo Press

Tebal : 286 halaman

Dibaca tanggal : 30 November s/d 30 Desember 2018

Sinopsis :
The most bruising battle in the superhero world isn't between spandex-clad characters; it's between the publishers themselves. For more than 50 years, Marvel and DC have been locked in an epic war, tirelessly trading punches and trying to do to each other what Batman regularly does to the Joker's face. Slugfest, the first book to tell the history of this epic rivalry into a single, juicy narrative, is the story of the greatest corporate rivalry never told. It is also an alternate history of the superhero, told through the lens of these two publishers.

Slugfest will combine primary-source reporting with in-depth research to create a more fun Barbarians at the Gate for the comic book industry. Complete with interviews with the major names in the industry, Slugfest reveals the arsenal of schemes the two companies have employed in their attempts to outmaneuver the competition, whether it be stealing ideas, poaching employees, planting spies, ripping off characters or launching price wars. Sometimes the feud has been vicious, at other times, more cordial. But it has never completely disappeared, and it simmers on a low boil to this day.

The competition has spilled over to the even the casual fans, bisecting the world into two opposing tribes. You are either a Marvel or a DC fan, and allegiance is hardly a trivial matter. Perhaps the most telling question one can ask of a superhero fan is, Marvel or DC? The answer often reveals something deeper about personality, and the reason is wrapped up in the history of both companies.

Reading Experience :
Apakah Anda penikmat komik, khususnya komik superhero?

Kalau jawabannya iya, apakah Anda pembaca komik terbitan Marvel atau terbitan DC? Atau kedua-duanya?

Apakah Anda bertanya-tanya mengapa banyak karakter dari kedua komik yang penampakannya mirip, sama dan sebangun? Apakah mereka masih sepupu jauh?

Apakah Anda bertanya-tanya mengapa karakter Captain Marvel dari DC terpaksa ganti nama jadi Shazam? Kan repot, harus ganti akte, lantas kudu bikin selamatan pakai bubur merah bubur putih segala biar orang sekampung tahu?

Apakah Anda ingin tahu bagaimana Marvel bisa melibas dominasi DC di ajang perkomikan pada tahun 1960-70an? Bagaimana DC terseok-seok berusaha mengejar ketertinggalan tanpa pernah dapat memahami alasan pembaca komik lebih tertarik membeli dan membaca komik Marvel?

Apakah Anda ingin tahu bagaimana Marvel bisa mendominasi ajang film superhero di awal abad ke-21 dengan Marvel Cinematic Universe-nya, sementara DC jatuh bangun mengejar dengan DC Expanded Universe (atau sudah ganti nama jadi DC Universe saja, ya? Whatever.)-nya?

Kalau memang Anda punya banyak pertanyaan tak terjawab tentang kompetisi Marvel vs DC dari jaman kuda gigit besi sampai sekarang, buku ini cocok untuk dibaca di saat iseng untuk membuka cakrawala. Mungkin juga sebagai penikmat dan pemerhati komik/film superhero sebenarnya Anda sudah cukup tahu semua jawaban pertanyaan di atas, tapi buku ini tetap dapat dijadikan bacaan wajib, minimal memperkuat basis pengetahuan Anda sekiranya di masa yang akan datang Anda tanpa sengaja terlibat ajang perdebatan berdarah-darah antara fans Marvel dan fans DC yang ora uwis-uwis.

Sebagai salah seorang pembaca komik dengan segala bentuk dan turunannya, sebenarnya aku lebih dulu mengenal dan menggemari komik Eropa macam Tintin, Lucky Luke, Asterix, Smurf, dlsb, karena pada masa kecilku, komik seperti inilah yang lebih banyak beredar di toko buku di Indonesia (dari sini ketahuan jelas angkatannya deh!). Komik superhero AS cuma komik yang kubaca sambil lalu, itu pun karena pinjam koleksi anak tetangga yang punya akses bacaan yang berbeda denganku.

Lanjut ke masa manga mulai beredar di Indonesia, dimulai dengan angkatan Candy-Candy, Kungfu-boy, Dragon Ball, Pop Corn cs, aku mulai menyisihkan komik Eropa, apalagi komik superhero AS. Komik selain manga cuma jadi bacaan tersier. Menu utamaku tentu saja novel dan manga.

Kalaupun harus ditilik mana dulu komik superhero yang kubaca, DC atau Marvel, ya jelas DC-lah, terutama komik Batman dan Superman (karakter lain mah cuma figuran) yang lebih banyak beredar di pasaran. Kalaupun ada komik Marvel yang kubeli dan kubaca, paling komik Ultimate Spider-Man, yang cuma kubeli enam jilid. Alasannya? Rugi euy, harganya yang mahal tidak sepadan dengan jilidnya yang supertipis. Maklum, aku penggemar novel dan manga, yang jauh lebih tebal dan lebih memuaskan keinginan membaca.

Aku mulai lebih banyak membaca komik DC dan Marvel setelah mendapat kemudahan akses via internet. Kembali, yang lebih banyak kubaca terlebih dulu adalah komik DC yang karakternya lebih familiar. Aku mulai beralih ke komik Marvel setelah bosan membaca semua komik Batman/Superman modern termasuk versi Elsewhere (dan iya, aku kurang tertarik membaca komik karakter DC lainnya!) dan... yap, setelah film-film Marvel dari Spider-Man versi Sony dan MCU mulai bermunculan. Late to the party? Sure. Hop to the bandwagon? Not really.

Kalau ditodong pertanyaan apakah aku fans Marvel atau DC, aku tak akan pernah bisa menjawab. Aku penggemar komik. Titik. Apapun bentuknya, dari komik eropa, manga, maupun komik superhero amerika. Aku penggemar cerita yang menarik dengan storytelling dan artwork yang bagus. Hanya ada sedikit komik dengan artwork di luar seleraku yang bisa kumaafkan, karena cerita dan storytelling yang memang mumpuni. Namun aku lebih sering kehilangan mood baca duluan begitu melihat artwork yang tidak sesuai selera. Boleh dibilang, salah satu kekurangan komik Marvel dan DC adalah kualitas cerita dan artworknya bisa berubah suka-suka karena seringnya berganti penulis dan ilustrator dalam suatu serial. Berbeda halnya dengan manga yang selalu konsisten, karena penulis atau mangaka untuk suatu serial tetap orang yang sama.

Banyak komik DC yang menjadi favoritku (iya, mayoritas komik Batman), tapi lebih banyak lagi yang cuma kubaca selintasan karena ceritanya yang meh dan gitu doang. Begitu pula dengan komik Marvel (meskipun variasi karakter utama yang kubaca lebih banyak). Sami mawon. Malah kadang komik klasik yang digadang-gadang sebagai top-ten dari masing-masing penerbit pun bisa kulewatkan karena kualitas gambarnya yang jadul dan bikin malas baca. Bahkan bisa jadi ada faktor selain artwork yang juga berpengaruh. Sampai sekarang aku masih belum berminat mengikuti serial komik X-Men. Cuma beberapa jilid yang pernah kubaca, itu pun karena penulisnya Joss Whedon. Duh. Sudahlah. Mungkin kapan-kapan kubaca kalau sudah kehabisan bahan bacaan.

Tapi, seambigu apapun posisiku terhadap komik Marvel dan DC, buku ini tetap asyik untuk dibaca. Bagaimana Marvel yang awalnya penerbit kecil tukang jiplak dengan oplah rendah bisa menemukan formula komik yang bisa membuat pembaca komik DC berpindah ke lain hati. Bagaimana Stan Lee membuat disruption yang merevolusi dunia komik AS yang stagnan. Bagaimana panasnya perang antara dua penerbit ini, dari bajak-membajak penulis dan artis, saling intip dan saling jiplak cerita (corporate spying level ganas!), sampai perang kata di editorial (jaman jadul) dan media sosial (jaman now). Perang berpuluh-puluh tahun antar penerbit ini belum selesai sampai sekarang... dan malah berlanjut ke media yang berbeda...

Selain penggemar buku (termasuk komik), aku juga penggemar film (termasuk film yang diangkat dari komik). Jelas perang Marvel/DC di ranah perfilman ini juga menjadi cemilan sehari-hariku, yang menonton nyaris semua film genre superhero yang dirilis abad ini. Kembali, sama halnya dengan komik, intinya sepanjang cerita dan storytelling-nya bagus, aku pasti suka.

Sayangnya untuk film DC, sejauh ini aku cuma menyukai Batman versi Nolan (kecuali jilid 3, gara-gara adegan actionnya yang meh). Ada saja yang bikin sebal dari versi DCEU. Mungkin gara-gara aku kebanyakan baca komik Batman dan Superman, aku jadi kurang bisa mengapresiasi interpretasi dan visi sutradaranya yang tidak sejalan dengan karakter ideal di benakku. Tapi yang jelas, aku bete karena storytelling-nya yang bikin mulas dan males, bikin kepingin keluar studio di tengah jalan tapi batal karena sayang uang tiketnya. Sedangkan untuk film dengan karakter DC lainnya... mungkin aku kurang konek karena aku juga malas baca versi komiknya.

Lalu, apa bedanya dengan film Marvel? Kalau tetap ditodong juga, harus kuakui aku lebih condong untuk menyukai film-film Marvel, khususnya versi MCU (rilisan Fox dan Sony pun secara umum oke, meskipun ada beberapa yang lebih baik dicoret dari daftar binge-watching). Alasannya? Sederhana saja. Cerita, akting, storytelling. Bisa saja ada karakter yang mbalelo dari pakem komik, tapi dapat kumaafkan sepanjang tiga unsur utamanya tetap di atas standar. Karakter yang kurang kukenal karena tidak pernah baca versi komiknya? Tidak masalah, sepanjang... idem (lihat alasan sebelumnya). Ini hanya opini pribadiku... yang boleh dibilang kurang lebih sama dengan pendapat umum penikmat film non partisan pada umumnya.

Sejarah kembali berulang. DC pernah berjaya dan mendominasi dunia perkomikan, sebelum kemudian Marvel menciptakan formula storytelling yang tidak sepenuhnya dapat ditiru oleh DC sampai dengan saat ini. DC lebih dulu berjaya mengangkat karakter komiknya ke media film dengan kualitas dan rekor box office yang memadai, sementara Marvel cuma bisa membuat film level medioker dengan kualitas yang mana tahan... Sampai akhirnya film X-Men mengubah nasib genre superhero di jagad perfilman secara signifikan dan studio Marvel menciptakan formula storytelling dengan MCU-nya, yang ternyata juga sukar ditiru oleh DC sampai dengan saat ini.

Apakah perang antara Marvel dan DC akan terus berlanjut? Entahlah. Bagaimana bila suatu saat nanti penikmat film akhirnya bosan dengan genre superhero? Who knows. Kita lihat saja perkembangannya.

Tapi yang jelas, kita harus tetap ingat bahwa di luar komik Marvel dan DC, masih banyak komik yang dirilis penerbit lain yang juga populer dan layak diangkat dan digubah ke media lain. Mungkin sebagian malah telah diangkat ke media televisi dan film, tanpa kita tidak sadar bahwa itu sebenarnya cerita komik juga, meskipun bukan genre superhero.

Aku tetap berharap suatu saat nanti komik Saga-nya Brian K. Vaughan diangkat ke media televisi atau film. Tapi mungkin aku tunggu saja sampai Y-The Last Man jadi dibuat serial televisinya. Atau lebih realistis lagi, kalau aku lebih baik menunggu kehadiran serial komik lain yang sudah jelas bakal tayang dalam waktu dekat, seperti The Boys-nya Warren Ellis.

Tuesday, January 9, 2018

2017 Challenges Wrap Up & 2018 Challenges


HAPPY NEW YEAR, EV'RYBODY!!!

Um... sudah lewat 9 hari sih, tapi anggap saja masih sah ya mumpung masih bulan Januari...

Omong-omong, sudah lewat tiga bulan sejak postingan terakhirku di sini. Banyak sih alasannya, dari alasan klise seperti beban kerja yang tinggi sehingga pulang larut nyaris setiap hari selama kwartal terakhir 2017 sampai alasan yang nggak banget seperti kebanyakan baca fanfic sebagai pengisi waktu luang yang sebenarnya sudah mepet. Ujung-ujungnya, jelas alasan alamiah umat manusia: MALAS.

Duh, mau bilang malas saja kok pakai mutar-mutar segala sih...

Gara-gara lebih suka tidur selonjoran (atau meringkuk? pick one please) sambil baca ao3 di ponsel, apa kabarnya dong tantangan pribadi di tahun 2017?

Huahaha... berantakan tentu saja. Gitu saja kok pakai tanya segala. Yuk, kita buka saja aib pencapaian di tahun 2017 kemarin:

1. Goodreads Reading Challenge



Yay. Checked. 2024 dari 2017 buku.

Ehm, tercapai sih tercapai, tapi... sepertinya sampai tiga hari terakhir aku masih behind schedule lebih dari 150 buku. Jurus rahasia mengejar target di injury time pun dilancarkan dengan ganas: sama dengan tahun lalu, binge-reading komik Marvel, kali ini plus komik DC sekalian (Btw, beberapa jilid dari serial Rebirth Batman dan Superman, termasuk serial Super Sons yang mengikuti petualangan anak-anak Bruce dan Clark ternyata asyik juga lho untuk diikuti. Yang belakangan malah serasa membaca petualangan Trunks dan Goten di Dragon Ball).

Kabar buruknya, target buku nonkomik cuma tercapai 469 dari 1000. Sepertinya tahun ini lebih banyak fanfic dengan puluhan chapter yang kubaca ketimbang buku nonkomik.


2. New Author Reading Challenge

Nay. Kalau yang ini rapor merah, karena cuma tercapai 109 dari target 200. Benar-benar tanpa perencanaan dan strategi sama sekali, apalagi kemauan untuk mencapai target. Habisnya, new author ini cuma dihitung dari buku nonkomik, sementara buku nonkomik yang kubaca tahun ini ini cuma setengah dari tahun lalu. Lagipula, yang namanya new author itu benar-benar gambling banget deh. Kalau bisa sih, sebelum dibaca, harus dipastikan dulu bukunya tidak meh apalagi mengecewakan.


3. Project Baca Buku Cetak

Ah, no comment deh kali ini. Karena kecepatan membeli buku fisik berbanding terbalik dengan kecepatan membacanya, boro-boro menurunkan buku fisik TBR menjadi 25 buku, yang ada malah bertambah dari 1 kontener menjadi 2... dan dari 74 buku menjadi lebih dari 100 buku (belum kuinput di Goodreads sih). BBW dan Halbornas benar-benar membantu kegagalan pencapaian target kali ini.   

4. Review Challenge

Oh, ternyata bertambah satu dari tahun kemarin. 22 Review. Itu pun kebanyakan buku anak-anak. Itu pun kebanyakan ngegas di awal tahun, lantas melempem di akhir tahun. Mau bagaimana lagi, kemauan untuk membaca buku fisik saja sudah malas, apalagi membuat reviewnya. Damn you, fanfic!!! (Tapi tetap susah berhentinya, nih).


Well, melihat rapornya merah semua begitu, masih pantaskah aku membuat tantangan tahun 2018 ini? Pantas saja sih, asal mungkin targetnya dibuat lebih realistis, dengan mempertimbangkan banyak faktor, termasuk kesibukan pekerjaan, banyaknya fanfic yang masih menggoda, dan unsur kemalasan yang kronis :P

Yuk langsung saja, yuk...


1. Goodreads Reading Challenge

Karena cuma nambah satu dari tahun kemarin, sepertinya masih wajar untuk tercapai. Apalagi tabungan buku fisik dan ebook yang sebenarnya aku ingin baca masih banyak banget.


Mudah-mudahan sih semangat baca yang dimulai awal tahun ini tetap konsisten sampai akhir tahun. Iya, kemungkinan besar bakal disumbangkan dari buku komik sih. Ternyata banyak banget yang belum kubaca!

Dari 2018 buku, target buku nonkomik kuturunkan ke tingkat yang lebih realistis deh. Mudah-mudahan target 500 buku nonkomik di tahun 2018 bukan hil yang mustahal. Sampai postingan ini, sudah 11 buku nonkomik yang kubaca. Mudah-mudahan konsisten dan sekaligus menurunkan jumlah buku fisik TBR.


2. New Author Reading Challenge

Challenge ini tetap tak perlu dihapus, karena bagaimanapun masih banyak sekali penulis yang bukunya belum pernah kubaca, termasuk penulis yang bukunya terdaftar di 1001 Books You Must Read Before You Die, daftar yang masuk ke dalam target baca selow-ku.

Mungkin 100 penulis saja ya, tahun ini?


3. Project Baca Buku Cetak

Cukuplah berharap timbunan buku di kamar kos tidak sampai memerlukan 1 kontener seperti sekarang. Dan itu pun bukan karena bukunya malah dikirimkan ke perpustakaan di Cirebon untuk menambah timbunan buku TBR yang juga sudah lebih dari 1 kontener juga...


4. Review Challenge

Hm... diturunkan deh jadi 52 review tahun 2018 ini. Masa sih, segitu malasnya sampai satu review per minggu juga tidak kesampaian? Ayo semangat, Indah, semangat!!!


Nah, sampai saat ini yang sudah kumulai adalah usaha pencapaian target nomor 1 s/d 3... mudah-mudahan besok-besok aku mulai tergerak untuk memulai usaha pencapaian target nomor 4.

Yuk ah, wassalam dulu...


Setori tahunan tiap kali challenges wrap up :P




Friday, May 5, 2017

April Book Haul

Rasanya belum lama aku memposting Book Haul bulan Maret 2017, kini sudah tiba saatnya untuk melaporkan hasil jarahan bulan April. Duh, setelah membuat laporan rutin begini jadi sadar banget memang kalau aku belanja buku nyaris setiap minggu.

Pertama-tama, sesuai janji postingan sebelumnya, buku-buku yang kubeli secara online akhir Maret tapi baru sampai bulan April bakal kulaporkan di sini:

01 April 2017
Komiknya masih setumpuk gara-gara pergeseran jadwal terbit, dan... akhirnya Level Comics merilis terjemahan manga All You Need Is Kill! Suka deh. Ilustrasi Takeshi Obata memang top!

08 April 2017
Minggu depannya, sebelum menonton film Get Out, aku mampir di lapak Bybooks, dan akhirnya mendapatkan buku The Blue Planet, setelah di beberapa minggu sebelumnya sempat kalah cepat dengan pembeli lain. Sementara belum ada lagi buku anak-anak yang menarik minatku sih. Jadi tumben-tumbennya cuma beli 3 buah buku.

10 April 2017

15 April 2017

Tentu saja, aku masih tetap belanja buku rutin, terutama untuk komik yang terbit mingguan, baik secara online maupun offline. Sebagai perkecualian, aku membeli buku Neil Gaiman, Mark Twain, dan Alex Ferguson. Jadi bertanya-tanya dan berharap, kapan GPU mau menerbitkan buku Managing My Life-nya Oom Alex. Aku penasaran!  

19 April 2017
Pas libur Pilkada DKI, aku main ke Ratu Plaza untuk belanja isi kulkas, dan seperti biasa aku "tidak sengaja" mampir ke lapak Bybooks di lantai dasar. Well, ada saja buku yang dibeli tanpa niatan, misalnya buku Terry Pratchett dan Garth Nix. Cuma satu buku yang sebenarnya sudah lama masuk daftar pertimbangan (karena harga obralnya masih tetap mahal) tapi akhirnya dibeli juga, Planet Earth.

20 April 2017
Belanja besarku bulan April ini tentu saja di event Big Bad Wolf. Dibandingkan belanja tahun lalu, boleh dibilang tahun ini aku menahan diri, karena jumlah buku dan nominal rupiah yang kukeluarkan hanya setengahnya dari tahun lalu. Pertimbangannya tentu saja space perpustakaan di Cirebon yang sudah padat, selain timbunan buku belum terbaca yang masih lumayan banyak. Sebenarnya aku sempat tertarik untuk membeli boxset Horrible Histories-nya Terry Deary, tapi mengingat sebenarnya aku sudah punya semuanya (meskipun tidak seragam edisi dan kondisinya, namanya juga buku bekas), aku terpaksa menahan diri untuk membelinya. Boxset yang kucomot hanya koleksi Michael Morpurgo, yang kucuekin pada BBW tahun lalu tapi sekarang kubeli karena aku sedang serius mengumpulkan buku-buku Morpurgo. Omong-omong, karena ini postingan khusus laporan belanja buku, aku mengesampingkan horrible history-ku dengan event "Presale" dan "tiket VIP" BBW yang kuikuti tahun ini. Mudah-mudahan pada BBW selanjutnya masalah yang membuat bete banyak pecinta buku impor ini bisa diperbaiki.

Selain itu, meskipun fotonya tidak kuhadirkan di sini, sebenarnya pada tanggal 25, 27, dan 29 April aku masih tetap menambah timbunan buku, baik dari belanja komik online di Gramedia.com (yang diskonnya turun drastis dari 15% menjadi 6%!) dan belanja offline lagi di Bybooks FX Senayan. Buat yang terakhir, aku kembali membeli buku anak-anak (Morpurgo, Dick King-Smith, Eoin Colfer, Joseph Delaney dan Garth Nix), simply karena kebetulan saja ada yang menarik.

Mudah-mudahan tambahan timbunan baru ini bisa segera kubaca dalam waktu dekat, sehingga bisa segera kukirim ke perpustakaan di Cirebon. Dengan demikian, pada libur panjang lebaran nanti aku bisa menyiangi buku-buku di perpustakaan untuk dicarikan calon adopternya.

Kalau memang ada yang berminat menjadi adopter buku-bukuku, tunggu tanggal mainnya ya!




Wednesday, April 12, 2017

March Book Haul

Sedianya aku melaporkan belanja buku bulan Maret ini pada akhir bulan Maret. Tapi karena satu dan lain hal (a. sibuk; b. malas; c. selain a dan b; d. semua jawaban benar), akhirnya baru bisa kulaporkan hari ini. Tadinya sih mau sekalian kugabung dengan laporan belanja buku bulan April, tapi mengingat di akhir bulan April akan ada event Big Bad Wolf yang mungkin saja bisa bikin daftarnya semakin panjang, ya sudah kuputuskan dilaporkan terpisah saja.

Pertama-tama, tentu saja buku yang kubeli secara online pada bulan Februari namun baru kuterima di bulan Maret :
02 Maret 2017
Buku-buku di tumpukan sebelah kiri kubeli dari Gramedia.com, di antaranya ada novel terakhir seri Reckoners-nya Brandon Sanderson, novel pertama serial The Trials of Apollo-nya Rick Riordan, serta novel Ziggy Z terbaru yang kubeli karena kepo. Buku-buku di tumpukan sebelah kanan kubeli dari Kompas.id. Yang bikin jengkel, di situ buku-buku Kumcer Pilihan Kompas sedang didiskon promosi 50%, padahal baru akhir Februari kemarin aku beli setumpuk di Yogya dengan diskon seadanya. Karena diskon 50% itu juga aku tumben-tumbennya membeli buku TTS Kompas, padahal selama ini meskipun diobral di pameran buku manapun tak pernah kulirik!

Selanjutnya, dalam rangka menghabiskan timbunan saldo deposit di salah satu toko buku online yang belakangan ini sangat lambat memenuhi pesanan buku terbitan terbaru yang kuminta, aku sengaja belanja buku yang dilabeli "Stok Tersedia. Dikirim dalam 24 Jam". Rata-rata buku-buku yang diobral, dan kebanyakan terbitan Alvabet:

03 Maret 2017
Buku-buku ini termasuk ke dalam tipe yang jarang kubeli dengan harga normal atau diskon standar. Dan setelah kubaca, tentunya ada beberapa yang sebenarnya jadi harta karun :)

Untuk bulan Maret, belanja komik mingguan terpaksa tertunda karena adanya perubahan proses transisi sistem internal di grup ritel dan penerbit Kompas Gramedia, sehingga aku baru pesan secara online di Gramedia.com pada dua minggu terakhir. Bete karena kurangnya bacaan bisa berakibat fatal, karena membuatku sampai sengaja datang ke obralan Bybooks dan Periplus di FX Senayan meskipun tidak ada kepentingan untuk menonton film!

18 Maret 2017
Setelah beberapa kunjungan terakhir ke Bybooks cuma melihat-lihat karena harga setelah obralnya masih ngajak bokek, kali ini aku nekad membeli beberapa buku hardcover BBC yang bikin ngiler. Selain itu tentu saja aku mencomot buku anak-anak yang murah meriah, dari karya Michael Morpurgo, Eva Ibbotson, Rick Riordan, sampai Anthony Horowitz. Di lapak Periplus aku mencomot buku-buku nonfiksi, termasuk di antaranya biografi Richard Dawkins yang ternyata asyik buat dibaca.

Di sisi lain, perubahan sistem internal di grup ritel dan penerbit Kompas Gramedia ternyata berbuah manis. Setelah beberapa bulan terakhir lamanya pengiriman buku yang dibeli secara online di Gramedia.com sempat menjadi ajang uji kesabaran bagiku, sekarang kembali cepat seperti dahulu. Buku pesananku sekarang sudah datang dalam 1-2 hari. Yay!

22 Maret 2017
27 Maret 2017
Oh iya, selain itu masih ada juga buku yang kubeli dari Periplus.com, yang kuterima di pertengahan dan akhir bulan :

22 Maret 2017
Minta Periplus kirim langsung ke Cirebon,
karena yang Human Footprint saja beratnya mencapai 3,76 kg

30 Maret 2017
Sebenarnya masih ada setumpuk komik yang kubeli online pada tanggal 30 Maret, tapi karena baru kuterima tanggal 1 April, biar kumasukkan ke Book Haul bulan April saja deh.

Eniwei... kalau dilihat-lihat, belanjaanku bulan Maret ini boleh dibilang moderat deh, apalagi yang belum kubaca tinggal beberapa buku anak-anak yang kuperoleh dari obralan Bybooks. Mudah-mudahan sebelum menyambangi BBW akhir bulan ini, aku bisa menyelesaikan peer timbunan dari Bulan Maret ini.

Yuk, tetap semangat! Bukan cuma semangat belanja, tapi juga semangat baca!

Tuesday, February 28, 2017

February Book Haul

Kalau dipikir-pikir, aku termasuk jarang melaporkan hasil belanja buku di blog. Bukan apa-apa sih, ada masanya aku masih kalap alias gelap mata kalau nemu buku diskonan, terutama di pameran atau bazaar buku. Apalagi waktu masih hot-hotnya pelaksanaan program BUBU (Beli Ulang Baca Ulang). Terlalu banyak soalnya.

Sekarang boleh dibilang aku sudah mengurangi taraf belanja bukuku ke tingkat yang cukup normal, yaitu belanja komik mingguan yang diselingi belanja satu atau dua buku nonkomik, baik secara online atau offline. Kalap belanja terakhir yang kualami sudah lumayan lama, di event Big Bad Wolf BSD tahun lalu, bahkan belanja di event Harbolnas Gramedia.com yang all item 70% saja aku terhitung masih bisa menahan diri. Yay!

Tapi... (iya ada tapinya), kadang-kadang kalau aku main ke mall dengan niat nonton film saja di akhir pekan, adaaaaa saja buku-buku yang tanpa sengaja terbawa pulang, apalagi kalau sampai ketemu lapak obralan Bybooks dan Periplus.

Karena di bulan Februari ini aku kepingin banget nonton Batman Lego, John Wick 2, dan Split... ternyata lumayan banyak juga buku yang kubeli tanpa rencana.

Pulang nonton Batman Lego di FX Senayan, aku mampir ke Bybooks dan Periplus, dan membawa pulang buku-buku yang harganya berkisar antara Rp. 10.000,- s/d Rp. 40.000,- per jilidnya.

11 Februari 2017
Dari lapak Bybooks, aku menemukan beberapa buku anak-anak, dari buku fiksi karya Michael Morpurgo, Jacqueline Wilson, Louis Sachar dan buku nonfiksi dari serial Horrible (Histories/Science/Geography). Yang bukan buku anak-anak antara lain buku Michael Chabon, Mary Roach, sampai buku biografi Andre Agassi.

Dari lapak Periplus, aku menemukan jilid 10 seri How to Train Your Dragon, dua buku Mohsin Hamid, David & Goliath-nya Malcolm Gladwell, The Rosie Project-nya Graeme Simsion dan In The Heart of the Sea-nya Nathaniel Philbrick (niatnya dibaca dulu sebelum ditonton versi filmnya).

12, 15, dan 18 Februari 2017
Selain buku-buku tersebut, masih ada buku yang kubeli dengan harga normal, misalnya manga Hunter X Hunter, Bakuman, dan Nisekoi yang kubeli di Gramedia Mal Ambassador sebelum menyeberang ke Lotte Shopping Avenue buat nonton film John Wick 2. Atau buku jilid 6 seri Mistborn-nya Brandon Sanderson dan buku Joe Hill yang kupesan dari Periplus. Buku lainnya adalah Koleksi Kasus 2 Sherlock Holmes yang kubeli via Tokopedia. Buku yang terakhir itu terpaksa kubeli dengan harga normal di sana karena aku terlanjur punya buku pertamanya. Waktu Halbornas di Gramedia.com aku order buku satu dan dua sekaligus sih, yang meskipun ordernya sukses, belakangan dibatalkan sepihak oleh Gramedia dengan alasan stok di gudang kosong. Eh, pas paket bukunya kubuka, buku yang masih tersegel ini ternyata masih terbungkus kantong plastik Gramedia... Ih, jadi curiga deh kalau si penjual buku mungkin salah satu sainganku waktu mengorder buku ini di Halbornas!

Minggu depannya, setelah selesai nonton film Split di FX Senayan, aku tetap mampir di lapak Bybooks dengan asumsi tak bakal banyak beli karena menduga koleksinya masih belum banyak perubahan, toh baru saja satu minggu. Eh, ternyata stoknya sudah bertambah... Jadinya... belanja lagi deh...

18 Februari 2017

Yang banyak kubeli kali ini adalah buku cerita anak-anak karya Dick King-Smith, penulis buku The Sheep-pig yang sudah diadaptasi jadi film Babe. Biasanya sih karena aku memprioritaskan untuk melengkapi koleksi Horrible Series, buku penulis anak-anak lain (kecuali buku Jacqueline Wilson) kulewatkan. Tentu saja, selain buku Michael Morpurgo dan Eoin Colfer, kali ini aku juga masih mencomot beberapa buku dari seri Horrible yang belum kumiliki (ada sebanyak apa sih serial ini?) Pas mau bayar di kasir, eh malah nemu buku ensiklopedi Sherlock Holmes. Harganya masih bikin nyeri dompet sih... tapi ya sudahlah.

Selanjutnya, pada weekend terakhir bulan Februari ini, aku tidak main ke bioskop. Selain belum ada film yang menarik, aku memang ada acara outbond kantor ke Yogyakarta. Pas acara bebas, sementara rekan-rekan main ke toko atau pasar di Malioboro untuk mencari oleh-oleh, aku main ke Taman Pintar Bookstore untuk sekadar "melihat-lihat". Apa boleh buat, ada saja buku yang kelihatannya menarik, meskipun sebenarnya sebagian bisa kubeli di toko buku online atau offline di Jakarta.

25 Februari 2017
Yang kugondol pulang antara lain buku-buku kumpulan cerpen Kompas, buku-buku Marjin Kiri, buku-buku Komunitas Bambu, dan buku-buku Benedict Anderson yang diterbitkan oleh Matabangsa. Bikin berat tas saja deh. Untungnya lima dari sekian buku di atas bisa kubaca selama perjalanan kereta api balik ke Jakarta.

Nah, pas sudah kembali ke kosan, eh pesanan komikku di Gramedia.com empat hari sebelumnya juga ternyata sudah datang.

26 Februari 2017

Duh, nambah-nambahin timbunan saja, meskipun belanjaan yang terakhir ini sebenarnya bisa segera dibaca sih, kalau badan tidak tepar gara-gara perjalanan jauh.

Omong-omong, saat ini sebenarnya masih ada buku yang kubeli secara online yang masih dalam perjalanan, tapi karena pada prinsipnya aku menginput database buku berdasarkan buku yang sudah kuterima secara fisik, biarlah buku-buku itu masuk ke laporan book haul berikutnya saja.

Fiuh, sudah ah, kok malah jadi panjang. Laporannya sampai di sini dulu saja, ya...


Tuesday, February 21, 2017

The War of Art

Judul : The War of Art

Subjudul : Break Through the Blocks and Win Your Inner Creative Battles

Penulis : Steven Pressfield

Penerbit : Black Irish Entertainment

Tebal : 190 halaman

Tanggal dibaca : 06 Februari 2017

Verdict :

Review :
Judul buku ini bukan salah ketik. Ini bukan bukunya Sun Tzu yang kesohor berabad-abad itu.

Judul buku ini juga sempat bikin aku salah paham, sih. Mengingat beberapa buku Steven Pressfield yang sudah kumiliki dan kubaca termasuk genre historical fiction, semula kukira buku ini juga setipe, atau minimal historical nonfiction gitu. Mungkin karena belum lama ini aku membaca manga Au Revoir, Sorcier yang membahas perseteruan antara kaum ningrat yang ingin memonopoli seni dengan para seniman jalanan.

Ternyata... perang yang dimaksud pada judul buku ini adalah perang para artis, khususnya penulis, melawan dirinya sendiri, melawan kecenderungan untuk resisten dan suka menunda-nunda.

Bukan cuma buat artis atau penulis, tentunya, karena secara umum buku ini juga dapat dibaca dan dijadikan pedoman buat kita semua, manusia biasa yang punya penyakit bawaan yang sama: malas.

Di halaman awal, Pressfield memberi daftar contoh kegiatan yang pada umumnya menimbulkan resistensi:
1. Memenuhi panggilan jiwa dalam menulis, melukis, bermusik, menari, atau seni kreatif apapun;
2. Membuka usaha, baik yang mencari laba ataupun tidak;
3. Berdiet atau bergaya hidup sehat;
4. Meningkatkan kegiatan spiritual;
5. Setiap aktivitas yang bertujuan mengencangkan otot perut;
6. Setiap kursus atau program yang dirancang untuk mengatasi kebiasaan buruk atau ketagihan;
7. Segala bentuk pendidikan;
8. Setiap tindakan politis, moral atau etis, termasuk keputusan untuk berubah untuk menjadi lebih baik dalam pikiran maupun perbuatan;
9. Melakukan kegiatan yang bertujuan membantu orang lain;
10. Mengambil tindakan yang membutuhkan komitmen: menikah, punya anak, memperbaiki hubungan

Dari daftar di atas, kira-kira mana saja yang menjadi resolusi kita di awal tahun, dan kemudian kita tetapkan sebagai resolusi awal tahun berikutnya?

Perilaku menunda-nunda adalah manifestasi yang paling lazim dari resistensi.

Ada satu quote yang selalu kuamini selama ini, karena... cocok:

Never put off until tomorrow what you can do the day after tomorrow
---Mark Twain

Tidak ada yang lebih asyik daripada menunda-nunda sesuatu yang sebenarnya bisa dikerjakan sekarang (kalau mau), dengan seribu satu alasan yang rasa-rasanya sih valid :P

Kalau yang ditunda sifatnya iseng (seperti menulis review buku ini, misalnya) sih kemungkinan besar tidak apa-apa. Tapi kalau sudah masuk ranah pekerjaan dan profesional, konsekuensinya bisa ke mana-mana deh. Ujung-ujungnya duit. Bisa duit perusahaan, duit orang lain, dan yang lebih gawat lagi: duit sendiri.

Omong-omong, apa sih definisi profesional menurut Pressfield?
1. We show up everyday.
2. We show up no matter what.
3. We stay on the job all day.
4. We are committed over the long haul.
5. The stakes for us are high and real.
6. We accept remuneration for our labor.
7. We do not overidentify with our jobs.
8. We master the technique of our jobs.
9. We have a sense of humor about our jobs.
10. We receive praise or blame in the real world.

Bersikap profesional bagi orang kantoran lebih mudah karena hak dan kewajiban, kedisiplinan, penghargaan dan sanksi sudah diatur jelas dalam peraturan perusahaan. Bersikap profesional bagi seniman relatif lebih berat karena ia sendiri yang harus bisa mengendalikan kedisiplinannya.

Di buku ini, Pressfield memberikan resep dan strategi bagi para profesional di bidang seni (khususnya para penulis seperti dirinya) untuk melawan resistensi dan perilaku menunda-nunda agar tidak berkembang menjadi kebiasaan, karena terlalu banyak godaannya. Sengaja tidak kukutip di sini, karena selain terlalu banyak, tulisan ini hanya dimaksudkan sebagai review singkat, bukan ringkasan buku. Kalau memang ingin tahu lebih jauh, akan lebih baik bila membaca bukunya saja.

Akhir kata, kututup review ini dengan surat dari seniman Sol LeWitt kepada rekannya Eva Hesse, pada tahun 1965:


Just stop thinking, worrying, looking over your shoulder, wondering, doubting, fearing, hurting, hoping for some easy way out, struggling, grasping, confusing, itching, scratching, mumbling, bumbling, grumbling, humbling, stumbling, numbling, rambling, gambling, tumbling, scumbling, scrambling, hitching, hatching, bitching, moaning, groaning, honing, boning, horse-shitting, hair-splitting, nit-picking, piss-trickling, nose sticking, ass-gouging, eyeball-poking, finger-pointing, alleyway-sneaking, long waiting, small stepping, evil-eyeing, back-scratching, searching, perching, besmirching, grinding, grinding, grinding away at yourself. Stop it and just DO.


Serta kata-kata bijak dari Yoda kepada Luke Skywalker:

Do. Or Not Do. There Is No Try.


Self Improvement and Self-Help