Judul : Djoeroe Masak: Jenang Bukan Dodol
Penulis : Dyah Prameswarie
Penerbit : Metamind, imprint Tiga Serangkai
Terbit : November 2018 (Cetakan Pertama)
Tebal : 148 halaman
Dibaca di : Aplikasi ipusnas
Dibaca tanggal : 13 Februari 2020
Sinopsis :
Kegagalan membuka restoran menjadi alasan mengapa. Aidan terbang ke Yogya untuk belajar membuat jajanan tradisional. Aidan, lulusan sekolah kuliner luar negeri, dianggap chef gagal yang tak tahu kuliner negaranya sendiri. Namun, siapa sangka kesempatan tersebut adalah awal Aidan bertemu Sedayu, wanita penjual jenang di Pasar Ngasem.
Inilah awal pasangan tersebut dipertemukan. Awal dari kisah Aidan dan Sedayu menjadi pasangan djoeroe masak.
Review singkat :
Mengapa aku memilih buku ini untuk salah satu bacaanku di bulan Februari?
Pertama: jelas tema bukunya.
Karena memang sengaja mencari buku bertema makanan, dari yang jenis buku kesehatan sampai buku resep, baik di aplikasi Gramedia Digital, ipusnas, maupun di sumber lainnya, akhirnya pilihanku jatuh pada buku ini.
Kedua: warna sampul bukunya
Warna favoritku, gitu lho. Merah cabe ngejreng yang sungguh menimbulkan nafsu makan. Iya, seperti gambar tema blog ini, aku suka makanan yang pedas-pedas, dan di benakku, merah analoginya pedas.
Ketiga: judul bukunya.
Meskipun aku penderita Capsaicin Addict kronis yang selalu gagal tobat, aku juga suka kok mengudap cemilan tradisional, termasuk jenang dan dodol (bukan sinonim kata buku ini), walau seiring bertambahnya usia dan pola makan yang cenderung mengurangi asupan gula, kalau bisa rasanya tidak manis-manis amat.
Keempat : ketebalan bukunya.
Fiksi kuliner berbumbu roman ini tergolong tipis banget buat standar bacaanku. Bisa dibilang cemilan juga sih, meski tidak setipis dan seringan komik Amerika yang jadi andalanku mengembalikan mood kalau semangat baca mulai kedodoran. Kisah fiksinya cuma sampai halaman 99 sih, sisanya resep jajanan tradisional yang disebut-sebut dalam cerita.
Kelima : jalan ceritanya.
Ringan banget, serasa membaca manga kuliner one-shot. Aneka jajanan tradisional yang bikin ngeces bertebaran, dibalut sedikit roman picisan, plus backstabbing story, ditambah cooking battle. Yang bikin beda cuma di cooking battle-nya yang kurang menegangkan dan tidak ada efek samping berlebihan yang terjadi pada juri pencicip makanan.
Keenam : ilustrasinya.
Khususnya di bagian resep di belakang buku. Jadi kepingin makan nagasari, rujak serut, mi godhog, dan klepon... Iyaaa, aku kok nggak terlalu minat sama jenangnya...
Ketujuh : memenuhi target Reading Challenge Goodreads Indonesia bulan Februari.
Buku tentang makanan. Omong-omong, sepertinya ini buku fiksi bertema kuliner Indonesia pertama yang kubaca setelah Aruna dan Lidahnya.
Showing posts with label Challenge. Show all posts
Showing posts with label Challenge. Show all posts
Thursday, February 13, 2020
Tuesday, January 28, 2020
Will My Cat Eat My Eyeballs?
Judul : Will My Cat Eat My Eyeballs? Big Questions from Tiny Mortals About Death
Penulis : Caitlin Doughty
Penerbit : W.W. Norton Company
Tebal : 222 halaman
Penghargaan : Goodreads Choice Award for Science and Technology (2019)
Dibaca tanggal : 25 Januari 2020
Sinopsis :
Best-selling author and mortician Caitlin Doughty answers real questions from kids about death, dead bodies, and decomposition.
Every day, funeral director Caitlin Doughty receives dozens of questions about death. What would happen to an astronaut’s body if it were pushed out of a space shuttle? Do people poop when they die? Can Grandma have a Viking funeral?
In Will My Cat Eat My Eyeballs?, Doughty blends her mortician’s knowledge of the body and the intriguing history behind common misconceptions about corpses to offer factual, hilarious, and candid answers to thirty-five distinctive questions posed by her youngest fans. In her inimitable voice, Doughty details lore and science of what happens to, and inside, our bodies after we die. Why do corpses groan? What causes bodies to turn colors during decomposition? And why do hair and nails appear longer after death? Readers will learn the best soil for mummifying your body, whether you can preserve your best friend’s skull as a keepsake, and what happens when you die on a plane. Beautifully illustrated by DiannĂ© Ruz, Will My Cat Eat My Eyeballs? shows us that death is science and art, and only by asking questions can we begin to embrace it.
Review singkat :
Judul bukunya bikin penasaran.
Itu alasan aku memilih untuk membaca buku ini duluan dalam rangka memenuhi tantangan baca Goodreads Indonesia bulan Januari 2020, padahal ada banyak buku yang mendapatkan penghargaan di tahun 2019. The Institute-nya Stephen King saja kutunda bacanya, bisa jadi kapan-kapan kalau sudah punya buku fisiknya. The Calculating Stars-nya Mary Robinette Kowal juga kutunda bacanya, padahal pemenang Hugo Award 2019 untuk kategori Best Novel.
Buku ini ditujukan bagi future corpses of all ages, jadi aku yang sisa usianya sudah semakin sedikit ini juga termasuk di dalamnya. Namun demikian, pertanyaannya berasal dari anak-anak dan jawaban serta pembahasannya menggunakan bahasa yang ringan dan mudah untuk dipahami anak-anak pula. Humor yang digunakan penulisnya juga asyik, sehingga pembaca tidak akan merasa jijik meskipun pembahasannya kadang-kadang memang menjijikkan secara harfiah. Ini sains gitu loh! Yang dibahas seputar kematian pula! Jadi mayat, darah, organ tubuh, kotoran dan segala macamnya tak mungkin dikecualikan dari pembicaraan.
Karena pertanyaannya berasal dari anak-anak yang rasa ingin tahunya memang besar, kadang-kadang pertanyaan nyeleneh, tapi penulis buku ini bisa menyajikan jawabannya dengan serius tapi santai, dan tetap berdasarkan fakta. Ada banyak pertanyaan lain selain yang dijadikan judul buku ini. Ingin tahu apakah kita masih bisa duduk atau berbicara (atau buang kotoran) setelah mati? Atau kenapa warna tubuh kita berubah setelah mati? Atau apakah orang kembar siam meninggal di waktu yang sama? Apakah kita boleh dikubur bersama hamster peliharaan kita? Atau apakah darah jenazah bisa digunakan untuk transfusi?
Kalau ingin tahu jawabannya, silakan baca buku ini. Recommended, dan di Goodreads kuberi bintang:
Spoiler:
Untuk judul buku ini, jawabannya YA! Terutama kalau kita cuma hidup berdua dengan si kucing peliharaan di tempat terpencil, lalu kita mati mendadak tanpa diketahui orang selama berhari-hari. Karena peran kita sebagai penyedia makanan berakhir, kucing yang kelaparan bisa makan apa saja yang ada di rumah. Termasuk bagian tubuh mayat kita... Ingat, kucing itu adalah predator, yang punya kesamaan DNA sebanyak 95,6% dengan singa.
Buku ini kubaca dan kureview dalam rangka memenuhi Tantangan Baca Goodreads Indonesia Tahun 2020 untuk bulan Januari :
Penulis : Caitlin Doughty
Penerbit : W.W. Norton Company
Tebal : 222 halaman
Penghargaan : Goodreads Choice Award for Science and Technology (2019)
Dibaca tanggal : 25 Januari 2020
Sinopsis :
Best-selling author and mortician Caitlin Doughty answers real questions from kids about death, dead bodies, and decomposition.
Every day, funeral director Caitlin Doughty receives dozens of questions about death. What would happen to an astronaut’s body if it were pushed out of a space shuttle? Do people poop when they die? Can Grandma have a Viking funeral?
In Will My Cat Eat My Eyeballs?, Doughty blends her mortician’s knowledge of the body and the intriguing history behind common misconceptions about corpses to offer factual, hilarious, and candid answers to thirty-five distinctive questions posed by her youngest fans. In her inimitable voice, Doughty details lore and science of what happens to, and inside, our bodies after we die. Why do corpses groan? What causes bodies to turn colors during decomposition? And why do hair and nails appear longer after death? Readers will learn the best soil for mummifying your body, whether you can preserve your best friend’s skull as a keepsake, and what happens when you die on a plane. Beautifully illustrated by DiannĂ© Ruz, Will My Cat Eat My Eyeballs? shows us that death is science and art, and only by asking questions can we begin to embrace it.
Review singkat :
Judul bukunya bikin penasaran.
Itu alasan aku memilih untuk membaca buku ini duluan dalam rangka memenuhi tantangan baca Goodreads Indonesia bulan Januari 2020, padahal ada banyak buku yang mendapatkan penghargaan di tahun 2019. The Institute-nya Stephen King saja kutunda bacanya, bisa jadi kapan-kapan kalau sudah punya buku fisiknya. The Calculating Stars-nya Mary Robinette Kowal juga kutunda bacanya, padahal pemenang Hugo Award 2019 untuk kategori Best Novel.
Buku ini ditujukan bagi future corpses of all ages, jadi aku yang sisa usianya sudah semakin sedikit ini juga termasuk di dalamnya. Namun demikian, pertanyaannya berasal dari anak-anak dan jawaban serta pembahasannya menggunakan bahasa yang ringan dan mudah untuk dipahami anak-anak pula. Humor yang digunakan penulisnya juga asyik, sehingga pembaca tidak akan merasa jijik meskipun pembahasannya kadang-kadang memang menjijikkan secara harfiah. Ini sains gitu loh! Yang dibahas seputar kematian pula! Jadi mayat, darah, organ tubuh, kotoran dan segala macamnya tak mungkin dikecualikan dari pembicaraan.
Karena pertanyaannya berasal dari anak-anak yang rasa ingin tahunya memang besar, kadang-kadang pertanyaan nyeleneh, tapi penulis buku ini bisa menyajikan jawabannya dengan serius tapi santai, dan tetap berdasarkan fakta. Ada banyak pertanyaan lain selain yang dijadikan judul buku ini. Ingin tahu apakah kita masih bisa duduk atau berbicara (atau buang kotoran) setelah mati? Atau kenapa warna tubuh kita berubah setelah mati? Atau apakah orang kembar siam meninggal di waktu yang sama? Apakah kita boleh dikubur bersama hamster peliharaan kita? Atau apakah darah jenazah bisa digunakan untuk transfusi?
Kalau ingin tahu jawabannya, silakan baca buku ini. Recommended, dan di Goodreads kuberi bintang:
Spoiler:
Untuk judul buku ini, jawabannya YA! Terutama kalau kita cuma hidup berdua dengan si kucing peliharaan di tempat terpencil, lalu kita mati mendadak tanpa diketahui orang selama berhari-hari. Karena peran kita sebagai penyedia makanan berakhir, kucing yang kelaparan bisa makan apa saja yang ada di rumah. Termasuk bagian tubuh mayat kita... Ingat, kucing itu adalah predator, yang punya kesamaan DNA sebanyak 95,6% dengan singa.
Buku ini kubaca dan kureview dalam rangka memenuhi Tantangan Baca Goodreads Indonesia Tahun 2020 untuk bulan Januari :
Wednesday, January 1, 2020
2019 Challenges Wrap Up & 2020 Challenges
Selamat Tahun Baru, Gaes...
Singkat cerita, yuk langsung saja ke Laporan Pertanggungjawaban Tahun 2019:
1. Goodreads Reading Challenges
Tercapai dengan Catatan : 1215 di antaranya adalah buku komik, baik komik Amerika terbitan Marvel, DC, Image, Dark Horse atau manga, manhwa, dan segala macam buku komik lainnya. Namun demikian, itu sudah menurun kok dari tahun sebelumnya, karena buku nonkomik yang kubaca tahun ini mencapai 828 dari target 500 buku, naik dari tahun sebelumnya yang cuma 515 buku. Ada peningkatan sedikitlah.
2. New Author Reading Challenge
Tercapai 329 penulis dari target 150. Ini targetnya yang terlalu rendah atau akunya yang sering kepo buat coba-coba baca buku penulis baru sih?
3. Project Baca Buku Cetak
Rak Want-to-Read atau TBR atau timbunan buku fisik di akhir tahun 2019 ini ada 47 buku, turun dari sebelumnya 80-an buku di akhir tahun 2018. Yang cukup menggembirakan adalah aku akhirnya berhasil menyelesaikan buku-buku bantal Stormlight Archives-nya Brandon Sanderson yang jilid 1 dan 2-nya sudah terlantar bertahun-tahun. Yang kurang membanggakan adalah sekitar selusin buku romance yang sudah bertahun-tahun terlantar akhirnya aku hibahkan tanpa sempat kubaca sama sekali.
Yang jelas, angka di bawah 50 ini lumayan melegakan sih...
4. Review Challenge
.....
..........
...............
Wassalam.
Tetap gagal dengan amat sangat mengenaskan.
Cuma ada 3 postingan di blog ini, itu pun ala kadarnya, cuma salinan komentar agak panjang dari review di akun Goodreads, di mana aku sedikit gatal untuk curcol atas buku yang baru dibaca.
Apakah Review Challenge harus kuhapuskan saja?
Lalu, bagaimana dong menyikapi pencapaian tahun 2019 untuk target yang lebih realistis di tahun 2020? Yuk, kita pasang saja.
1. Goodreads Reading Challenges
Sesuai tradisi saja ya, disesuaikan dengan angka tahun.
Aku belum selesai baca satu buku pun sih di tahun 2020 pas menuliskan postingan ini. Sepanjang aku masih doyan baca komik, aku optimis target ini pasti bisa tercapai. Yang jadi pertanyaan, berapa buku nonkomik yang bisa kubaca tahun ini? Apakah target tahun lalu terlalu rendah?
Ya sudah, supaya lebih menantang, target buku nonkomik kunaikkan jadi 750 buku deh.
2. New Author Reading Challenge
Apakah target tahun lalu masih tergolong rendah? Untuk amannya, targetnya kunaikkan jadi 250 penulis baru ya.
3. Project Baca Buku Cetak
Dengan ini dilaporkan bahwa hari ini tidak ada buku timbunan di kamar kosan, yaaay!
Jelas saja karena 47 buku timbunan semuanya ada di perpuspri di Cirebon.
Untuk realistisnya, mudah-mudahan timbunan buku terlantar bisa diturunkan ke angka di bawah 30 buku tahun ini.
4. Review Challenge
Iya, iya... target review ini tetap kupertahankan deh. Minimal 12 review... Setidaknya ada harapan kalau aku mau (baca: tidak malas) mencoba Tantangan Baca Goodreads Indonesia di bawah ini:
Ini... kalau baca bukunya saja sepertinya mudah sih. Yang malas biasanya memang menulis review-nya :)
Terakhir, aku sebenarnya ingin sekali bisa menetapkan resolusi ala Ivan Lanin, yaitu membuat satu tulisan setiap hari (yang bukan kerjaan kantor, tentunya) di tahun 2020. Tapi... buat target yang realistis saja dulu saja ya.
Yuk ah, aku tinggal baca buku lagi...
Tuesday, January 1, 2019
2018 Challenges Wrap Up & 2019 Challenges
Selamat Tahun Baru, semuanya!
Hah... aku mau nulis apa ya di awal tahun baru ini...
Tahun 2018 kemarin aku nyaris tidak pernah mampir lagi ke blog ini setelah memposting 2018 Challenges. Jadi... jelas ada target yang amat sangat tidak tercapai... target posting review, tepatnya. Bukannya aku tidak pernah bikin review singkat di goodreads setelah selesai baca buku sih, tapi komen singkat yang tidak diposting di blog tidak masuk hitungan. Belum lagi... seandainya satpam BBI masih rajin menyambangi blog yang nganggur berbulan-bulan malah nyaris setahun, pasti sudah lama aku ditendang dari BBI. Atau minimal dikasih peringatan dengan hukuman percobaan, barangkali. Ampun deh, aku janji bakal mampir setidaknya sebulan sekali tahun ini!
Jadi, apa saja target 2018 yang tercapai? Yuk kita mulai aja ah, nggak pakai lama...
1. Goodreads Reading Challenge
Oke, tercapai dengan catatan seperti biasa... sebagian besar komik, terutama komik Marvel dan DC. Mwahahah. Curang? Lha, iyalah. Target buku nonkomik tercapai 515 dari target 500 buku, tapi tetap terhitung curang juga sih karena banyak yang halamannya tipis, terutama buku anak-anak. Kalau iseng mengecek statistik Goodreads tentang buku yang dibaca 12 bulan terakhir, aku malah dihitung cuma baca 230 buku! Beda sistem dengan RC mungkin ya, yang tidak peduli pada tebal halaman dan juga menghitung re-read sebagai pencapaian!
2. New Author Reading Challenge
Tercapai 159 dan target 100.
Okay, di mana-mana juga kalau target diturunkan memang lebih mudah dicapai. Mungkin tahun 2019 perlu dinaikkan lagi targetnya ya...
3. Project Baca Buku Cetak
Kelihatannya timbunan malah bertambah dari 70-an buku di akhir tahun 2017 menjadi 80-an di akhir tahun 2018. Bukannya tidak ada usaha membaca buku timbunan sih... tapi ada saja tambahan buku cetak baru yang tak segera kubaca... Lebih banyak plus ketimbang minusnya deh.
4. Review Challenge
Boro-boro bikin review, bikin postingan baru di blog ini dalam setahun terakhir ini saja nggak. Jadi, dengan amat terpaksa aku akhirnya membuat 2 review dari dua buku yang terakhir kubaca, persisnya di malam tahun baru. Padahal targetnya sudah diturunkan dari target 2017 menjadi 52 review saja.
Jadi, sepertinya aku perlu menyusun target 2019 yang lebih realistis dan sesuai dengan tingkat kemalasan? Let's go!
1. Goodreads Reading Challenge
Sepanjang sistem perhitungan RC belum berubah, aku akan tetap mempertahankan tradisi menetapkan target jumlah bacaan sesuai angka tahun.
Sejauh ini masih on the track, dan baru 2 jilid komik, sisanya timbunan buku cetak dan digital. Mudah-mudahan tidak segera kehabisan gas di awal tahun, meskipun jelas aku pasti masih bakal lebih banyak baca komik ketimbang novel.
Target baca buku nonkomik? Tetap 500 saja dulu ya.
2. New Author Reading Challenge
3. Project Baca Buku Cetak
Aslinya sih, saat ini buku cetak di kamar kos (di luar manga) cuma ada 4 jilid. Hebat, ya? Nggak juga sih, karena timbunan yang aku punya versi ebook-nya atau ada di aplikasi GD aku kirim semua ke perpustakaan di Cirebon.
Apakah akhirnya aku akan membaca buku yang sudah tertimbun bertahun-tahun bahkan belasan tahun di tahun 2019 ini? Kita lihat saja nanti.
4. Review Challenge
Apakah challenge ini masih tetap kubuat tahun ini setelah gagal dengan sungguh amat sangat mengenaskan tahun lalu? Bagaimana dengan tingkat kemalasan tahun ini, apakah dapat diprediksi menurun atau malah meningkat?
Ya sudahlah... meskipun masih tidak realistis mengingat level kemalasan posting review (atau posting apapun) di blog ini tahun lalu, aku tetap buat buat challenge-nya, deh.
12 Review saja ya. Itu juga sudah jauh lebih mendingan ketimbang pencapaian tahun 2018 kok, hehehe...
Okay, folks! Kita akhiri resolusi tahun 2019 ini. Mudah-mudahan pencapaian target tahun ini bisa lebih baik dari tahun sebelumnya!
Tuesday, January 9, 2018
2017 Challenges Wrap Up & 2018 Challenges
HAPPY NEW YEAR, EV'RYBODY!!!
Um... sudah lewat 9 hari sih, tapi anggap saja masih sah ya mumpung masih bulan Januari...
Omong-omong, sudah lewat tiga bulan sejak postingan terakhirku di sini. Banyak sih alasannya, dari alasan klise seperti beban kerja yang tinggi sehingga pulang larut nyaris setiap hari selama kwartal terakhir 2017 sampai alasan yang nggak banget seperti kebanyakan baca fanfic sebagai pengisi waktu luang yang sebenarnya sudah mepet. Ujung-ujungnya, jelas alasan alamiah umat manusia: MALAS.
Duh, mau bilang malas saja kok pakai mutar-mutar segala sih...
Gara-gara lebih suka tidur selonjoran (atau meringkuk? pick one please) sambil baca ao3 di ponsel, apa kabarnya dong tantangan pribadi di tahun 2017?
Huahaha... berantakan tentu saja. Gitu saja kok pakai tanya segala. Yuk, kita buka saja aib pencapaian di tahun 2017 kemarin:
1. Goodreads Reading Challenge
Yay. Checked. 2024 dari 2017 buku.
Ehm, tercapai sih tercapai, tapi... sepertinya sampai tiga hari terakhir aku masih behind schedule lebih dari 150 buku. Jurus rahasia mengejar target di injury time pun dilancarkan dengan ganas: sama dengan tahun lalu, binge-reading komik Marvel, kali ini plus komik DC sekalian (Btw, beberapa jilid dari serial Rebirth Batman dan Superman, termasuk serial Super Sons yang mengikuti petualangan anak-anak Bruce dan Clark ternyata asyik juga lho untuk diikuti. Yang belakangan malah serasa membaca petualangan Trunks dan Goten di Dragon Ball).
Kabar buruknya, target buku nonkomik cuma tercapai 469 dari 1000. Sepertinya tahun ini lebih banyak fanfic dengan puluhan chapter yang kubaca ketimbang buku nonkomik.
2. New Author Reading Challenge
Nay. Kalau yang ini rapor merah, karena cuma tercapai 109 dari target 200. Benar-benar tanpa perencanaan dan strategi sama sekali, apalagi kemauan untuk mencapai target. Habisnya, new author ini cuma dihitung dari buku nonkomik, sementara buku nonkomik yang kubaca tahun ini ini cuma setengah dari tahun lalu. Lagipula, yang namanya new author itu benar-benar gambling banget deh. Kalau bisa sih, sebelum dibaca, harus dipastikan dulu bukunya tidak meh apalagi mengecewakan.
3. Project Baca Buku Cetak
Ah, no comment deh kali ini. Karena kecepatan membeli buku fisik berbanding terbalik dengan kecepatan membacanya, boro-boro menurunkan buku fisik TBR menjadi 25 buku, yang ada malah bertambah dari 1 kontener menjadi 2... dan dari 74 buku menjadi lebih dari 100 buku (belum kuinput di Goodreads sih). BBW dan Halbornas benar-benar membantu kegagalan pencapaian target kali ini.
4. Review Challenge
Oh, ternyata bertambah satu dari tahun kemarin. 22 Review. Itu pun kebanyakan buku anak-anak. Itu pun kebanyakan ngegas di awal tahun, lantas melempem di akhir tahun. Mau bagaimana lagi, kemauan untuk membaca buku fisik saja sudah malas, apalagi membuat reviewnya. Damn you, fanfic!!! (Tapi tetap susah berhentinya, nih).
Well, melihat rapornya merah semua begitu, masih pantaskah aku membuat tantangan tahun 2018 ini? Pantas saja sih, asal mungkin targetnya dibuat lebih realistis, dengan mempertimbangkan banyak faktor, termasuk kesibukan pekerjaan, banyaknya fanfic yang masih menggoda, dan unsur kemalasan yang kronis :P
Yuk langsung saja, yuk...
1. Goodreads Reading Challenge
Karena cuma nambah satu dari tahun kemarin, sepertinya masih wajar untuk tercapai. Apalagi tabungan buku fisik dan ebook yang sebenarnya aku ingin baca masih banyak banget.
Mudah-mudahan sih semangat baca yang dimulai awal tahun ini tetap konsisten sampai akhir tahun. Iya, kemungkinan besar bakal disumbangkan dari buku komik sih. Ternyata banyak banget yang belum kubaca!
Dari 2018 buku, target buku nonkomik kuturunkan ke tingkat yang lebih realistis deh. Mudah-mudahan target 500 buku nonkomik di tahun 2018 bukan hil yang mustahal. Sampai postingan ini, sudah 11 buku nonkomik yang kubaca. Mudah-mudahan konsisten dan sekaligus menurunkan jumlah buku fisik TBR.
2. New Author Reading Challenge
Challenge ini tetap tak perlu dihapus, karena bagaimanapun masih banyak sekali penulis yang bukunya belum pernah kubaca, termasuk penulis yang bukunya terdaftar di 1001 Books You Must Read Before You Die, daftar yang masuk ke dalam target baca selow-ku.
Mungkin 100 penulis saja ya, tahun ini?
3. Project Baca Buku Cetak
Cukuplah berharap timbunan buku di kamar kos tidak sampai memerlukan 1 kontener seperti sekarang. Dan itu pun bukan karena bukunya malah dikirimkan ke perpustakaan di Cirebon untuk menambah timbunan buku TBR yang juga sudah lebih dari 1 kontener juga...
4. Review Challenge
Hm... diturunkan deh jadi 52 review tahun 2018 ini. Masa sih, segitu malasnya sampai satu review per minggu juga tidak kesampaian? Ayo semangat, Indah, semangat!!!
Nah, sampai saat ini yang sudah kumulai adalah usaha pencapaian target nomor 1 s/d 3... mudah-mudahan besok-besok aku mulai tergerak untuk memulai usaha pencapaian target nomor 4.
Yuk ah, wassalam dulu...
![]() |
| Setori tahunan tiap kali challenges wrap up :P |
Saturday, September 2, 2017
Amangkurat, Amangkurat
Judul : Amangkurat, Amangkurat (Lakon Dalam Empatbelas Adegan)
Penulis : Goenawan Mohamad
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tebal : 53 halaman
Dibeli di : Gramedia.com
Harga beli : Rp. 50.000,-
Dipesan tanggal : 29 Agustus 2017
Diterima tanggal : 30 Agustus 2017
Dibaca tanggal : 31 Agustus 2017
Sinopsis:
Goenawan Mohamad, yang menulis beberapa naskah lakon, "Visa", "Surti dan Tiga Sawunggaling", "Surat-Surat Karna", "Tan Malaka", "Gundala Gawat", kali ini mengolah satu bagian sejarah Mataram di abad ke-17.
Tapi ini bukan lakon sejarah. Lakon ini lebih merupakan delirium seorang raja menjelang kematian--paparan tentang apa yang terjadi dengan kekuasaan.
Review singkat :
Judul buku ini membuat calon pembaca bertanya-tanya: Amangkurat keberapakah ini?
Begitu mulai membaca dialog pada naskah lakon empat belas adegan ini, dari nama-nama dan situasi yang dipercakapkan, cukuplah untuk mengetahui bahwa Amangkurat yang dimaksud, sang raja yang tengah menjelang kematian, adalah Amangkurat I, yang mewarisi Mataram setelah ayahandanya, Sultan Agung, wafat.
Buku ini begitu tipisnya, sama sekali tidak membahas sejarah buat pembaca awam. Mungkin pembaca dianggap sudah tahu sejarah kerajaan Mataram, atau mungkin juga pembaca dianggap tidak perlu tahu. Cukuplah agar maksud lakon itu tersampaikan.
Konon, menjelang kematian, seluruh perjalanan hidup kita akan terpampang di benak atau di pandangan kita, seperti layaknya menonton film lama yang mungkin kita tidak ingat lagi jalan ceritanya. Amangkurat I dihadapkan pada pilihan hidup dan tindakan yang dibuatnya, khususnya setelah ayahandanya wafat. Bagaimana perebutan kekuasaan membuatnya harus membunuh adiknya sendiri, dan bagaimana kekuasaan membuatnya tega bertindak kejam, sekejam yang diingat oleh sejarah, pada siapapun yang tidak sejalan dengannya. Namun pada akhirnya, untuk apa semua kekuasaan itu apabila kematian tak bisa ditolak kedatangannya?
Tersingkir dari kekuasaan oleh para pemberontak, menjelang kematian yang diinginkannya hanya membalas dendam. Tapi, apakah perintahnya pada Adipati Anom, putra yang mendampinginya dalam pengungsian, untuk bersumpah merebut kembali kekuasaan adalah tindakan yang benar?
Amangkurat I tidak hanya melihat masa lalunya yang penuh darah. Ia juga mendapat kilasan masa depan. Kekejian Adipati Anom di masa yang akan datang, mengikuti sumpahnya untuk merebut kembali Mataram. Tapi jalan yang ditempuh Adipati akan membawanya berhadapan dengan adiknya, Puger. Jalan yang ditempuhnya juga akan membawa keruntuhan kedaulatan kerajaan di tanah Jawa, karena melibatkan VOC.
Ah, mungkin judul buku ini bukan merujuk satu, melainkan dua orang, Amangkurat I dan Amangkurat II.
Ada lagi yang harus diketahui?
Masa laluku menakutkan.
Ceritakan saja masa depan.
Kau diam.
Mungkin tak ada masa depan.
Catatan :
1. Aku belum pernah melihat pentas lakon ini, tapi deskripsi naskah cukup membuatku bisa membayangkan lakon minimalis ini apabila dipentaskan.
2. Review singkat atas buku tipis yang membuatku terpaksa membaca kembali sejarah Mataram yang menjadi latarnya ini dibuat dalam rangka mengikuti :
Penulis : Goenawan Mohamad
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tebal : 53 halaman
Dibeli di : Gramedia.com
Harga beli : Rp. 50.000,-
Dipesan tanggal : 29 Agustus 2017
Diterima tanggal : 30 Agustus 2017
Dibaca tanggal : 31 Agustus 2017
Sinopsis:
Goenawan Mohamad, yang menulis beberapa naskah lakon, "Visa", "Surti dan Tiga Sawunggaling", "Surat-Surat Karna", "Tan Malaka", "Gundala Gawat", kali ini mengolah satu bagian sejarah Mataram di abad ke-17.
Tapi ini bukan lakon sejarah. Lakon ini lebih merupakan delirium seorang raja menjelang kematian--paparan tentang apa yang terjadi dengan kekuasaan.
Review singkat :
Judul buku ini membuat calon pembaca bertanya-tanya: Amangkurat keberapakah ini?
Begitu mulai membaca dialog pada naskah lakon empat belas adegan ini, dari nama-nama dan situasi yang dipercakapkan, cukuplah untuk mengetahui bahwa Amangkurat yang dimaksud, sang raja yang tengah menjelang kematian, adalah Amangkurat I, yang mewarisi Mataram setelah ayahandanya, Sultan Agung, wafat.
Buku ini begitu tipisnya, sama sekali tidak membahas sejarah buat pembaca awam. Mungkin pembaca dianggap sudah tahu sejarah kerajaan Mataram, atau mungkin juga pembaca dianggap tidak perlu tahu. Cukuplah agar maksud lakon itu tersampaikan.
Konon, menjelang kematian, seluruh perjalanan hidup kita akan terpampang di benak atau di pandangan kita, seperti layaknya menonton film lama yang mungkin kita tidak ingat lagi jalan ceritanya. Amangkurat I dihadapkan pada pilihan hidup dan tindakan yang dibuatnya, khususnya setelah ayahandanya wafat. Bagaimana perebutan kekuasaan membuatnya harus membunuh adiknya sendiri, dan bagaimana kekuasaan membuatnya tega bertindak kejam, sekejam yang diingat oleh sejarah, pada siapapun yang tidak sejalan dengannya. Namun pada akhirnya, untuk apa semua kekuasaan itu apabila kematian tak bisa ditolak kedatangannya?
Tersingkir dari kekuasaan oleh para pemberontak, menjelang kematian yang diinginkannya hanya membalas dendam. Tapi, apakah perintahnya pada Adipati Anom, putra yang mendampinginya dalam pengungsian, untuk bersumpah merebut kembali kekuasaan adalah tindakan yang benar?
Amangkurat I tidak hanya melihat masa lalunya yang penuh darah. Ia juga mendapat kilasan masa depan. Kekejian Adipati Anom di masa yang akan datang, mengikuti sumpahnya untuk merebut kembali Mataram. Tapi jalan yang ditempuh Adipati akan membawanya berhadapan dengan adiknya, Puger. Jalan yang ditempuhnya juga akan membawa keruntuhan kedaulatan kerajaan di tanah Jawa, karena melibatkan VOC.
Ah, mungkin judul buku ini bukan merujuk satu, melainkan dua orang, Amangkurat I dan Amangkurat II.
Ada lagi yang harus diketahui?
Masa laluku menakutkan.
Ceritakan saja masa depan.
Kau diam.
Mungkin tak ada masa depan.
Catatan :
1. Aku belum pernah melihat pentas lakon ini, tapi deskripsi naskah cukup membuatku bisa membayangkan lakon minimalis ini apabila dipentaskan.
2. Review singkat atas buku tipis yang membuatku terpaksa membaca kembali sejarah Mataram yang menjadi latarnya ini dibuat dalam rangka mengikuti :
![]() |
| Kategori: Asian Literature |
Tuesday, March 7, 2017
The Hidden Oracle
Judul : The Hidden Oracle
Serial : The Trials of Apollo #1
Penulis : Rick Riordan
Penerbit : Mizan Fantasi
Tebal : 472 halaman
Dibeli di : Gramedia.com
Harga beli : Rp. 67.150,- (off 15%)
Dipesan tanggal : 27 Februari 2017
Diperoleh tanggal : 2 Maret 2017
Dibaca tanggal : 6 - 7 Maret 2017
Review :
Setelah membaca keluh kesah tokoh utama cerita ini di sepanjang buku dari halaman awal sampai halaman akhir, aku hanya bisa mengutip kata-kata bijak di bawah ini:
Meskipun setiap kali terbit sudah pasti kubeli, aku sudah nyaris bosan dengan serial fantasi hasil produksi Rick Riordan (iya, sudah kayak pabrik saja soalnya). Dari serial demigod Dewa-Dewi Yunani, demigod Dewa-Dewi Romawi, demigod Dewa-Dewi Mesir, demigod Dewa-Dewi Viking, dan entah apakah suatu hari nanti dunia Dewa-Dewi India bakal dibahas juga atau tidak. Apalagi, ternyata semua serial itu masih satu universe! Yang namanya cerita berbasis mitologi bisa jadi sumber bahan cerita yang tidak ada habisnya, bisa diulik dari berbagai segi dan sudut pandang, bahkan untuk cerita yang pada dasarnya sama bisa dibuat dalam berbagai versi.
Namun ternyata... buku yang satu ini tidak bikin bosan, malah sangat menghibur saking kocak dan ancurnya!
Kali ini, Riordan masih mengambil cerita dari dunia Dewa-Dewi Yunani, tapi narator dan tokoh utamanya bukan demigod lagi, melainkan seorang dewa malang yang dihukum buang menjadi manusia fana gara-gara tidak becus mendidik anak. Ya, dari nama serialnya sudah jelas siapa: Apollo.
Mau tidak mau, otomatis aku jadi teringat dan membandingkannya dengan cerita dewa lain (yang dibuang ke bumi dan menjadi manusia fana juga) dari universe yang berbeda, Marvel Cinematic Universe, tepatnya Thor. Di situ Odin cuma membuat Thor kehilangan kesaktiannya, sementara tampang dan body-nya masih oke, minimal mirip-mirip Chris Hemsworth-lah.
Zeus tidak sebaik itu. Apollo dijadikan berwujud remaja 16 tahun yang penampilan dan namanya tidak ada keren-kerennya. Kesaktian? Tidak ada yang tersisa, dipalak preman kelas teri pun ia babak belur tak berdaya. Fasilitas pun tidak ada lagi, ia cuma dapat bekal seratus dolar di dompet bututnya. Mana cukup buat hidup di New York.
Untungnya, Apollo tidak dibuat lupa ingatan. Minimal ia bisa memikirkan cara untuk survive dan kalau bisa mencari cara untuk kembali ke khittahnya sebagai dewa. Masalahnya, ia tidak tahu apa misi yang harus dijalankannya di dunia, karena ketiadaan oracle yang juga mempengaruhi nasib para demigod yang jadi pengangguran banyak acara. Tapi sebagai (mantan) dewa ramalan, tentu saja Apollo tetap merasa bertanggung jawab untuk memulihkan keadaan.
Kisah perjuangan hidup Apollo ini asyik untuk diikuti karena kita dibawa melihat dunia dengan sudut pandang dan cara berpikir seorang dewa yang super egois dan narsis berat. Saking terlalu biasanya hidup mudah, adaaaaa saja yang dikeluhkan Apollo. Mungkin hampir semua hal yang terjadi di sekelilingnya menjadi bahan komentar dan curhatnya, yang selalu membandingkannya dengan kondisi seandainya ia masih seorang dewa.
Namun demikian, apabila kita bisa tahan menelan keluhan dan kesombongan Apollo sepanjang buku, kita juga bakal tahu kok kalau ia ternyata punya banyak kelebihan juga, yang dapat membuat kita menjadi jatuh simpati dan respek kepadanya, sehingga berharap ia mampu dan tabah menjalani cobaan, serta berhasil menyelamatkan dunia dengan segala keterbatasannya.
Omong-omong, sepertinya Riordan menganggap pembaca buku ini sudah pernah membaca buku-buku sebelumnya, karena banyak cameo dan referensi numpang lewat yang mungkin bisa memuaskan para pembaca setia, namun dijamin bisa membuat bingung mereka yang baru berkenalan dengan karya Riordan lewat buku ini.
Kesimpulan :
Ditunggu sekuelnya, Om Riordan!
Review singkat buku ini dibuat dalam rangka mengikuti tantangan ini:
Serial : The Trials of Apollo #1
Penulis : Rick Riordan
Penerbit : Mizan Fantasi
Tebal : 472 halaman
Dibeli di : Gramedia.com
Harga beli : Rp. 67.150,- (off 15%)
Dipesan tanggal : 27 Februari 2017
Diperoleh tanggal : 2 Maret 2017
Dibaca tanggal : 6 - 7 Maret 2017
Review :
Setelah membaca keluh kesah tokoh utama cerita ini di sepanjang buku dari halaman awal sampai halaman akhir, aku hanya bisa mengutip kata-kata bijak di bawah ini:
Meskipun setiap kali terbit sudah pasti kubeli, aku sudah nyaris bosan dengan serial fantasi hasil produksi Rick Riordan (iya, sudah kayak pabrik saja soalnya). Dari serial demigod Dewa-Dewi Yunani, demigod Dewa-Dewi Romawi, demigod Dewa-Dewi Mesir, demigod Dewa-Dewi Viking, dan entah apakah suatu hari nanti dunia Dewa-Dewi India bakal dibahas juga atau tidak. Apalagi, ternyata semua serial itu masih satu universe! Yang namanya cerita berbasis mitologi bisa jadi sumber bahan cerita yang tidak ada habisnya, bisa diulik dari berbagai segi dan sudut pandang, bahkan untuk cerita yang pada dasarnya sama bisa dibuat dalam berbagai versi.
Namun ternyata... buku yang satu ini tidak bikin bosan, malah sangat menghibur saking kocak dan ancurnya!
Kali ini, Riordan masih mengambil cerita dari dunia Dewa-Dewi Yunani, tapi narator dan tokoh utamanya bukan demigod lagi, melainkan seorang dewa malang yang dihukum buang menjadi manusia fana gara-gara tidak becus mendidik anak. Ya, dari nama serialnya sudah jelas siapa: Apollo.
Mau tidak mau, otomatis aku jadi teringat dan membandingkannya dengan cerita dewa lain (yang dibuang ke bumi dan menjadi manusia fana juga) dari universe yang berbeda, Marvel Cinematic Universe, tepatnya Thor. Di situ Odin cuma membuat Thor kehilangan kesaktiannya, sementara tampang dan body-nya masih oke, minimal mirip-mirip Chris Hemsworth-lah.
Zeus tidak sebaik itu. Apollo dijadikan berwujud remaja 16 tahun yang penampilan dan namanya tidak ada keren-kerennya. Kesaktian? Tidak ada yang tersisa, dipalak preman kelas teri pun ia babak belur tak berdaya. Fasilitas pun tidak ada lagi, ia cuma dapat bekal seratus dolar di dompet bututnya. Mana cukup buat hidup di New York.
Untungnya, Apollo tidak dibuat lupa ingatan. Minimal ia bisa memikirkan cara untuk survive dan kalau bisa mencari cara untuk kembali ke khittahnya sebagai dewa. Masalahnya, ia tidak tahu apa misi yang harus dijalankannya di dunia, karena ketiadaan oracle yang juga mempengaruhi nasib para demigod yang jadi pengangguran banyak acara. Tapi sebagai (mantan) dewa ramalan, tentu saja Apollo tetap merasa bertanggung jawab untuk memulihkan keadaan.
Kisah perjuangan hidup Apollo ini asyik untuk diikuti karena kita dibawa melihat dunia dengan sudut pandang dan cara berpikir seorang dewa yang super egois dan narsis berat. Saking terlalu biasanya hidup mudah, adaaaaa saja yang dikeluhkan Apollo. Mungkin hampir semua hal yang terjadi di sekelilingnya menjadi bahan komentar dan curhatnya, yang selalu membandingkannya dengan kondisi seandainya ia masih seorang dewa.
Namun demikian, apabila kita bisa tahan menelan keluhan dan kesombongan Apollo sepanjang buku, kita juga bakal tahu kok kalau ia ternyata punya banyak kelebihan juga, yang dapat membuat kita menjadi jatuh simpati dan respek kepadanya, sehingga berharap ia mampu dan tabah menjalani cobaan, serta berhasil menyelamatkan dunia dengan segala keterbatasannya.
Omong-omong, sepertinya Riordan menganggap pembaca buku ini sudah pernah membaca buku-buku sebelumnya, karena banyak cameo dan referensi numpang lewat yang mungkin bisa memuaskan para pembaca setia, namun dijamin bisa membuat bingung mereka yang baru berkenalan dengan karya Riordan lewat buku ini.
Kesimpulan :
Ditunggu sekuelnya, Om Riordan!
Review singkat buku ini dibuat dalam rangka mengikuti tantangan ini:
![]() |
| Kategori : Fantasy Fiction |
Monday, March 6, 2017
CockaDoodle-Doo, Mr Sultana!
Judul : CockaDoodle-Doo, Mr Sultana!
Penulis : Michael Morpurgo
Penerbit : HarperCollins' Children Books
Tebal : 96 halaman
Dibeli di ; Bybooks FX Senayan
Harga beli : Rp. 10.000,-
Dibeli tanggal : 11 Februari 2017
Dibaca tanggal : 23 Februari 2017
Review :
Membaca buku-buku Michael Morpurgo belakangan ini, rasanya cuma buku ini yang jelas sangat berbeda.
Mengapa?
Pada umumnya latar belakang cerita Morpurgo cukup suram, ya peranglah, ya sakitlah, etc, etc. Buku ini berbeda, karena murni cerita anak-anak... yang absurd!
Plotnya sederhana saja, tentang seorang sultan di kerajaan antah berantah yang sangat kaya, sangat pemalas, sangat tamak, dan sangat gendut!
Begitu kayanya, sampai istananya terbuat dari marmer dan emas berkilauan. Sampai kancing pakaian sutranya terbuat dari berlian. Begitu pemalasnya, sampai untuk gosok gigi pun ada pelayan yang khusus mengerjakannya. Begitu tamaknya, sampai setiap saat makan pagi/siang/malam, ia makan seekor merak gemuk dan semangkuk besar daging sendirian. Semua itu membuatnya sangat gendut dan kasurnya saja bisa muat lima orang!
Nah, tapi, yang paling ia sukai tentu saja hartanya. Saking sayangnya, ke manapun ia pergi ia membawa kotak hartanya. Sayangnya, sang sultan ternyata pelit luar biasa, karena rakyatnya hanya bisa hidup seadanya.
Itu baru pembukaan sih. Cerita sebenarnya dimulai ketika sang sultan pergi berburu, lalu kudanya yang sudah tua ambruk karena tak kuat menahan beban yang luar biasa. Ndilalah, salah satu kancing berlian sultan copot di luar pengetahuannya, dan baru ketahuan waktu pemiliknya sudah balik ke istana. Sang sultan pun mengamuk dan menginstruksikan pencarian sebutir berlian itu.
Eh, ternyata berlian itu ditemukan oleh seekor ayam jago milik seorang wanita miskin. Dan si ayam ternyata punya prinsip: Finders Keepers!
Begitu ketahuan oleh sang sultan, karena tak ada yang mau mengalah, akhirnya anak buah sultan berebut berlian dengan si ayam! Si ayam berhasil lolos, tapi berliannya jatuh dan kembali ke tangan sultan.
Berakhirkah cerita ini? Belum. Karena si ayam jago akhirnya membalas dendam, berubah jadi teroris, yang masuk ke istana, meneror sang sultan, menganggu ketenangan hidupnya sambil terus berseru: "Kukuruyuk, Mr. Sultana!"
Bagaimana akhir kisah perang antara sultan vs ayam jago ini? Apakah kita memihak tirani? Atau kita memihak teroris?
Kesimpulan :
Ambil sendiri setelah membaca cerita absurd pembalasan dendam sang ayam ini.
Review ini dibuat dalam rangka memenuhi tantangan di bawah ini:
![]() |
| Kategori : Children Literature |
Toro! Toro!
Judul : Toro! Toro!
Penulis : Michael Morpurgo
Penerbit : HarperCollins' Children Books
Tebal : 128 halaman
Dibeli di : Bybooks FX Senayan
Harga beli : Rp.10.000,-
Dibeli tanggal : 11 Februari 2017
Dibaca tanggal : 1 Maret 2017
Review :
Pada novel ini, meskipun tetap bertema perang, kali ini latar belakangnya adalah Perang Saudara Spanyol di tahun 1930-an, yaitu perang antara kaum Republikan, golongan sosialis kiri, dengan kaum Nasionalis, golongan fasis kanan.
Seperti gaya Morpurgo pada umumnya, kisahnya diceritakan di masa kini oleh orang yang mengisahkan masa lalunya. Ini adalah kisah seorang kakek pada cucunya.
Sang kakek, yang semasa kecilnya dipanggil Antonito, tinggal di Andalusia, di sebuah tanah pertanian kecil di Sauceda. Ia tinggal bersama orang tuanya dan kakak perempuan yang lebih tua sepuluh tahun. Mereka memelihara berbagai ternak, tapi utamanya sapi, banteng hitam untuk atraksi banteng. Dan dari puluhan banteng, Antonito paling dekat dengan anak banteng yang dinamai Paco, karena ia memeliharanya sejak kelahirannya, sampai mereka berdua dipisahkan agar Paco dapat dibesarkan sebagai banteng sejati.
Antonito baru menyadari nasib yang akan menimpa Paco yang disayanginya ketika untuk pertama kalinya ia ikut menonton atraksi banteng. Kebetulan, pamannya Juan adalah seorang matador yang dijuluki El Bailarin, Sang Penari, karena keahliannya menari bersama banteng. Namun ternyata, matador tidak cuma "menari" bersama para banteng, tapi bersama para banderillero dan picador, menusuk dan membunuh banteng sampai mati di lapangan.
Demi menolong Paco, Antonito bertekad untuk membawanya kabur dari pertanian. Di tengah suasana perang yang mulai mempengaruhi kehidupan desa tanpa terlalu dipahaminya, Antonito menyusun ide dan mencari waktu yang tepat untuk melaksanakan rencananya. Namun demikian, Antonito tak pernah menduga apabila waktu yang dipilihnya bertepatan dengan pemboman yang dilakukan beberapa pesawat yang melintas di atas desanya.
Apakah itu nasib baik? Atau nasib buruk? Ia berhasil membebaskan Paco ke alam liar, namun seluruh keluarganya tewas dalam api dan bara.
Antonito mengakhiri ceritanya dengan perjuangannya untuk bertahan hidup dalam peperangan. Dan tentang legenda The Black Phantom, banteng muda yang melindungi pasukan kaum Republikan dari kejaran Guardia Civil. Sepanjang hayatnya, Antonito selalu meyakini bahwa banteng itu adalah Paco, yang telah hidup liar di alam bebas.
Kesimpulan :
Seperti biasa, Michael Morpurgo bertutur tanpa eufemisme. Kita dibawa ke medan corrida, dan diajak menahan nafas saat menyaksikan tarian maut antara matador dan banteng. Kita dibawa menyaksikan pembantaian banteng demi atraksi massa. Ada di manakah kita? Di sisi para penonton yang bersorak melihat bagaimana ahlinya sang matador menghabisi sang banteng? Atau di sisi mereka yang memiliki sudut pandang yang sama dengan Antonito? Bahwa corrida hanyalah panggung kematian para banteng yang telah dibesarkan dengan penuh kasih sayang?
Kita juga dibawa menyaksikan kekejaman perang dari sisi anak-anak yang tidak memahami politik dan ideologi, namun tetap menjadi korban.
Selain itu, kita jadi sadar mengapa Morpurgo senang bercerita dengan model dongeng seorang kakek kepada cucunya.
Well, saat menuliskan cerita-cerita belakangan ini, Morpurgo sudah menjadi seorang kakek.
Review singkat ini dibuat dalam rangka mengikuti tantangan di bawah ini:
Penulis : Michael Morpurgo
Penerbit : HarperCollins' Children Books
Tebal : 128 halaman
Dibeli di : Bybooks FX Senayan
Harga beli : Rp.10.000,-
Dibeli tanggal : 11 Februari 2017
Dibaca tanggal : 1 Maret 2017
Review :
Pada novel ini, meskipun tetap bertema perang, kali ini latar belakangnya adalah Perang Saudara Spanyol di tahun 1930-an, yaitu perang antara kaum Republikan, golongan sosialis kiri, dengan kaum Nasionalis, golongan fasis kanan.
Seperti gaya Morpurgo pada umumnya, kisahnya diceritakan di masa kini oleh orang yang mengisahkan masa lalunya. Ini adalah kisah seorang kakek pada cucunya.
Sang kakek, yang semasa kecilnya dipanggil Antonito, tinggal di Andalusia, di sebuah tanah pertanian kecil di Sauceda. Ia tinggal bersama orang tuanya dan kakak perempuan yang lebih tua sepuluh tahun. Mereka memelihara berbagai ternak, tapi utamanya sapi, banteng hitam untuk atraksi banteng. Dan dari puluhan banteng, Antonito paling dekat dengan anak banteng yang dinamai Paco, karena ia memeliharanya sejak kelahirannya, sampai mereka berdua dipisahkan agar Paco dapat dibesarkan sebagai banteng sejati.
Antonito baru menyadari nasib yang akan menimpa Paco yang disayanginya ketika untuk pertama kalinya ia ikut menonton atraksi banteng. Kebetulan, pamannya Juan adalah seorang matador yang dijuluki El Bailarin, Sang Penari, karena keahliannya menari bersama banteng. Namun ternyata, matador tidak cuma "menari" bersama para banteng, tapi bersama para banderillero dan picador, menusuk dan membunuh banteng sampai mati di lapangan.
I didn't tell Paco what I'd seen that day -- I didn't ever want him to know.
"I'll take you away so you can live wild up in the hills, where you'll be safe for ever and ever. I'll work something out, I promise you."
Demi menolong Paco, Antonito bertekad untuk membawanya kabur dari pertanian. Di tengah suasana perang yang mulai mempengaruhi kehidupan desa tanpa terlalu dipahaminya, Antonito menyusun ide dan mencari waktu yang tepat untuk melaksanakan rencananya. Namun demikian, Antonito tak pernah menduga apabila waktu yang dipilihnya bertepatan dengan pemboman yang dilakukan beberapa pesawat yang melintas di atas desanya.
Apakah itu nasib baik? Atau nasib buruk? Ia berhasil membebaskan Paco ke alam liar, namun seluruh keluarganya tewas dalam api dan bara.
Antonito mengakhiri ceritanya dengan perjuangannya untuk bertahan hidup dalam peperangan. Dan tentang legenda The Black Phantom, banteng muda yang melindungi pasukan kaum Republikan dari kejaran Guardia Civil. Sepanjang hayatnya, Antonito selalu meyakini bahwa banteng itu adalah Paco, yang telah hidup liar di alam bebas.
Kesimpulan :
Seperti biasa, Michael Morpurgo bertutur tanpa eufemisme. Kita dibawa ke medan corrida, dan diajak menahan nafas saat menyaksikan tarian maut antara matador dan banteng. Kita dibawa menyaksikan pembantaian banteng demi atraksi massa. Ada di manakah kita? Di sisi para penonton yang bersorak melihat bagaimana ahlinya sang matador menghabisi sang banteng? Atau di sisi mereka yang memiliki sudut pandang yang sama dengan Antonito? Bahwa corrida hanyalah panggung kematian para banteng yang telah dibesarkan dengan penuh kasih sayang?
Kita juga dibawa menyaksikan kekejaman perang dari sisi anak-anak yang tidak memahami politik dan ideologi, namun tetap menjadi korban.
Selain itu, kita jadi sadar mengapa Morpurgo senang bercerita dengan model dongeng seorang kakek kepada cucunya.
Well, saat menuliskan cerita-cerita belakangan ini, Morpurgo sudah menjadi seorang kakek.
Review singkat ini dibuat dalam rangka mengikuti tantangan di bawah ini:
![]() |
| Kategori: Lima Buku dari Penulis Yang Sama |
The Butterfly Lion
Judul : The Butterfly Lion
Penulis : Michael Morpurgo
Penerbit : HarperCollins' Children Book
Tebal : 112 halaman
Dibeli di : Bybooks FX Senayan
Harga beli : Rp. 10.000,-
Dibeli tanggal : 11 Februari 2017
Dibaca tanggal : 1 Maret 2017
Review :
Cerita yang dituturkan Michael Morpurgo ini lagi-lagi berlatar belakang perang, dan kali ini Perang Dunia I, sama seperti cerita War Horse. Benang merah ceritanya pun agak mirip dengan War Horse: seseorang yang mendaftarkan diri untuk terjun sebagai prajurit di pasukan Inggris demi bertemu kembali dengan binatang peliharaannya. Bedanya, di novel ini binatangnya adalah seekor singa berbulu putih!
Cerita diawali dengan seorang anak laki-laki yang kabur dari sekolah berasrama gara-gara sering dibully. Tanpa sengaja, ia masuk ke sebuah rumah besar yang dihuni seorang nenek tua bersama anjing peliharaannya.
Bukan, anak laki-laki itu bukan tokoh utama cerita ini.
Sang nenek, yang belakangan diketahui bernama Millie, kemudian bercerita tentang anak laki-laki lain yang zaman dahulu kala juga kabur dari sekolah asrama yang sama dan juga nyasar ke rumahnya. Anak laki-laki lain itu bernama Bertie, dan ia punya cerita lain yang menarik.
Bertie lahir dan besar di tanah pertanian di Afrika Selatan, tanpa saudara dan teman untuk bermain. Suatu saat, ia menyelamatkan seekor anak singa berbulu putih dari gerombolan hyena, yang selanjutnya menjadi binatang peliharaan kesayangannya dan dinamai . Namun saat tiba waktunya untuk berangkat sekolah ke Inggris, singa kesayangannya terpaksa dilepas dan dijual ke pemilik sirkus berkebangsaan Prancis. Bertie bersumpah akan mencari singanya kembali kalau ia sudah besar nanti.
Sementara itu Bertie akhirnya bersahabat dengan Millie, dan akhirnya berkembang ke hubungan yang lebih romantis. Namun hubungan mereka tidak berjalan mulus karena pecahnya Perang Dunia I. Bertie yang saat itu sudah kuliah masuk ke ketentaraan. Motivasinya pergi berperang tidak murni nasionalisme: menemukan kembali singa putihnya di Prancis!
Apakah Bertie bisa bertemu kembali dengan sahabat semasa kanak-kanaknya? Tentu saja. Tapi bagaimana caranya ia bisa sampai bertemu kembali adalah cerita lain, karena kita tetap harus dibawa melewati terlebih dahulu neraka perang parit di Prancis, dan menyaksikan banyaknya para prajurit muda yang tewas berguguran di sekitar Bertie.
Kisah Bertie di medan perang bukanlah cerita yang ringan untuk dibaca anak-anak, namun cerita itu pun sudah banyak disensor, karena pada dasarnya Bertie tidak banyak bercerita tentang kengerian di sana kepada Millie. Untunglah, cerita berakhir manis untuk Bertie. Yah, namanya juga buku cerita anak-anak,agak riskan jadinya kalau Bertie diceritakan tewas di medan perang.
Ada dua twist ending untuk novel ini, yang cukup mengejutkan karena aku tidak mengira endingnya bakal seperti itu. Tapi cuma satu yang akan kuspoiler di sini: anak laki-laki pertama yang kabur dari sekolah dan akhirnya mendengarkan dongeng tentang Bertie dan singa putihnya ternyata adalah... Michael Morpurgo! Well, kan jadi menimbulkan pertanyaan deh: apakah cerita ini diangkat dari kisah nyata, atau hanya khayalan belaka?
Omong-omong, kalau penasaran dan ingin tahu kenapa judulnya The Butterfly Lion, bukannya The White Lion, lebih baik baca bukunya sendiri saja, ya.
Review singkat ini kubuat dalam rangka mengikuti tantangan di bawah ini:
Penulis : Michael Morpurgo
Penerbit : HarperCollins' Children Book
Tebal : 112 halaman
Dibeli di : Bybooks FX Senayan
Harga beli : Rp. 10.000,-
Dibeli tanggal : 11 Februari 2017
Dibaca tanggal : 1 Maret 2017
Review :
Cerita yang dituturkan Michael Morpurgo ini lagi-lagi berlatar belakang perang, dan kali ini Perang Dunia I, sama seperti cerita War Horse. Benang merah ceritanya pun agak mirip dengan War Horse: seseorang yang mendaftarkan diri untuk terjun sebagai prajurit di pasukan Inggris demi bertemu kembali dengan binatang peliharaannya. Bedanya, di novel ini binatangnya adalah seekor singa berbulu putih!
Cerita diawali dengan seorang anak laki-laki yang kabur dari sekolah berasrama gara-gara sering dibully. Tanpa sengaja, ia masuk ke sebuah rumah besar yang dihuni seorang nenek tua bersama anjing peliharaannya.
Bukan, anak laki-laki itu bukan tokoh utama cerita ini.
Sang nenek, yang belakangan diketahui bernama Millie, kemudian bercerita tentang anak laki-laki lain yang zaman dahulu kala juga kabur dari sekolah asrama yang sama dan juga nyasar ke rumahnya. Anak laki-laki lain itu bernama Bertie, dan ia punya cerita lain yang menarik.
Bertie lahir dan besar di tanah pertanian di Afrika Selatan, tanpa saudara dan teman untuk bermain. Suatu saat, ia menyelamatkan seekor anak singa berbulu putih dari gerombolan hyena, yang selanjutnya menjadi binatang peliharaan kesayangannya dan dinamai . Namun saat tiba waktunya untuk berangkat sekolah ke Inggris, singa kesayangannya terpaksa dilepas dan dijual ke pemilik sirkus berkebangsaan Prancis. Bertie bersumpah akan mencari singanya kembali kalau ia sudah besar nanti.
Sementara itu Bertie akhirnya bersahabat dengan Millie, dan akhirnya berkembang ke hubungan yang lebih romantis. Namun hubungan mereka tidak berjalan mulus karena pecahnya Perang Dunia I. Bertie yang saat itu sudah kuliah masuk ke ketentaraan. Motivasinya pergi berperang tidak murni nasionalisme: menemukan kembali singa putihnya di Prancis!
Apakah Bertie bisa bertemu kembali dengan sahabat semasa kanak-kanaknya? Tentu saja. Tapi bagaimana caranya ia bisa sampai bertemu kembali adalah cerita lain, karena kita tetap harus dibawa melewati terlebih dahulu neraka perang parit di Prancis, dan menyaksikan banyaknya para prajurit muda yang tewas berguguran di sekitar Bertie.
Kisah Bertie di medan perang bukanlah cerita yang ringan untuk dibaca anak-anak, namun cerita itu pun sudah banyak disensor, karena pada dasarnya Bertie tidak banyak bercerita tentang kengerian di sana kepada Millie. Untunglah, cerita berakhir manis untuk Bertie. Yah, namanya juga buku cerita anak-anak,agak riskan jadinya kalau Bertie diceritakan tewas di medan perang.
Ada dua twist ending untuk novel ini, yang cukup mengejutkan karena aku tidak mengira endingnya bakal seperti itu. Tapi cuma satu yang akan kuspoiler di sini: anak laki-laki pertama yang kabur dari sekolah dan akhirnya mendengarkan dongeng tentang Bertie dan singa putihnya ternyata adalah... Michael Morpurgo! Well, kan jadi menimbulkan pertanyaan deh: apakah cerita ini diangkat dari kisah nyata, atau hanya khayalan belaka?
Omong-omong, kalau penasaran dan ingin tahu kenapa judulnya The Butterfly Lion, bukannya The White Lion, lebih baik baca bukunya sendiri saja, ya.
Review singkat ini kubuat dalam rangka mengikuti tantangan di bawah ini:
![]() |
| Kategori : Lima Buku dari Penulis Yang Sama |
Cool!
Judul : Cool!
Penulis : Michael Morpurgo
Penerbit : HarperCollins' Children Books
Tebal : 112 halaman
Dibeli di : Bybooks FX Senayan
Harga beli : Rp. 10.000,-
Dibeli tanggal : 11 Februari 2017
Dibaca tanggal : 1 Maret 2017
Review:
Bagaimana rasanya apabila kita berada dalam keadaan koma?
Buku ini dituturkan dari sudut pandang Robbie Ainsley, 10 tahun, yang sedang mengalami koma setelah tertabrak mobil di depan rumahnya, saat mencoba menyelamatkan Lucky, anjingnya. Ia hanya bisa terbaring di ranjang rumah sakit, tak bisa bergerak, berbicara atau apapun. Namun, sebenarnya, ia sadar, mengetahui apa yang terjadi di sekitarnya, dan mendengarkan semuanya.
Keluarga dan teman-temannya berupaya keras untuk "membangunkan"-nya. Mereka berbicara kepadanya, meskipun sepertinya tidak terlalu yakin kalau Robbie bisa mendengarkan mereka. Tahu-tahu, Robbie malah jadi tempat mereka curcol dan membuka rahasia. Robbie jadi tahu urusan pribadi perawat favoritnya. Ayahnya, yang pisah rumah dengan ibunya, untungnya membawa cerita baik, ingin rujuk dengan ibunya.
Selain keluarga, teman-temannya juga datang untuk menyanyi dan memberikan semangat. Bahkan, pemain bola favoritnya, Gianfranco Zola, juga datang dan menghadiahkannya kaos yang baru dikenakannya dalam pertandingan (sudah dicuci dulu, tentu saja!). Duh, sayang ia tetap tidak bisa bangun!
Berapa lama Robbie harus terus terlelap? Dan mengapa ia tak dapat pulih? Apakah karena Robbie merasa bersalah telah mencelakakan anjingnya? Bagaimana caranya agar Robbie bisa benar-benar bangun?
Jangan khawatir, Michael Morpurgo mengemas cerita ini dengan ringan, sehingga meskipun kondisinya suram bagi semua orang yang mengkhawatirkan Robbie, kita takkan dibawa pada depresi dan keputusasaam yang berkepanjangan. Endingnya pun sangat khas cerita anak-anak!
Review singkat buku ini dibuat dalam rangka mengikuti tantangan di bawah ini:
Penulis : Michael Morpurgo
Penerbit : HarperCollins' Children Books
Tebal : 112 halaman
Dibeli di : Bybooks FX Senayan
Harga beli : Rp. 10.000,-
Dibeli tanggal : 11 Februari 2017
Dibaca tanggal : 1 Maret 2017
Review:
Bagaimana rasanya apabila kita berada dalam keadaan koma?
Buku ini dituturkan dari sudut pandang Robbie Ainsley, 10 tahun, yang sedang mengalami koma setelah tertabrak mobil di depan rumahnya, saat mencoba menyelamatkan Lucky, anjingnya. Ia hanya bisa terbaring di ranjang rumah sakit, tak bisa bergerak, berbicara atau apapun. Namun, sebenarnya, ia sadar, mengetahui apa yang terjadi di sekitarnya, dan mendengarkan semuanya.
Keluarga dan teman-temannya berupaya keras untuk "membangunkan"-nya. Mereka berbicara kepadanya, meskipun sepertinya tidak terlalu yakin kalau Robbie bisa mendengarkan mereka. Tahu-tahu, Robbie malah jadi tempat mereka curcol dan membuka rahasia. Robbie jadi tahu urusan pribadi perawat favoritnya. Ayahnya, yang pisah rumah dengan ibunya, untungnya membawa cerita baik, ingin rujuk dengan ibunya.
Selain keluarga, teman-temannya juga datang untuk menyanyi dan memberikan semangat. Bahkan, pemain bola favoritnya, Gianfranco Zola, juga datang dan menghadiahkannya kaos yang baru dikenakannya dalam pertandingan (sudah dicuci dulu, tentu saja!). Duh, sayang ia tetap tidak bisa bangun!
Berapa lama Robbie harus terus terlelap? Dan mengapa ia tak dapat pulih? Apakah karena Robbie merasa bersalah telah mencelakakan anjingnya? Bagaimana caranya agar Robbie bisa benar-benar bangun?
Jangan khawatir, Michael Morpurgo mengemas cerita ini dengan ringan, sehingga meskipun kondisinya suram bagi semua orang yang mengkhawatirkan Robbie, kita takkan dibawa pada depresi dan keputusasaam yang berkepanjangan. Endingnya pun sangat khas cerita anak-anak!
Review singkat buku ini dibuat dalam rangka mengikuti tantangan di bawah ini:
![]() |
| Kategori: Lima Buku dari Penulis Yang Sama |
Friend or Foe
Judul : Friend or Foe
Penulis : Michael Morpurgo
Penerbit : Egmont
Tebal : 122 halaman
Dibeli di : Bybooks FX Senayan
Harga beli : Rp. 20.000,-
Dibeli tanggal : 18 Februari 2017
Dibaca tanggal : 1 Maret 2017
Review :
Jacqueline pernah menulis di salah satu memoarnya bahwa ia kurang menyukai buku anak-anak ala Enid Blyton, karena di sana ceritanya kurang membumi, karena tidak bercerita secara realistis tentang kehidupan sehari-hari seorang anak, terutama yang hidup dalam situasi yang tidak menguntungkan. Oleh karena itu, tema cerita Jacqueline Wilson seringkali cerita tentang anak dari keluarga broken home.
Beda penulis tentu saja beda lagi pendekatannya. Michael Morpurgo banyak menulis novel anak-anak dengan latar belakang yang juga cukup gelap: masa perang dunia.
Dalam buku ini, seperti halnya awal kisah Narnia, David dan temannya Tucky, sebagaimana kebanyakan anak pada masa perang, harus mengungsi dari London yang rawan dihujani bom ke daerah pedesaan yang lebih aman. Selama pengungsian itu, mereka ditampung oleh Bapak dan Ibu Reynolds.
Cerita mulai berkembang ketika dalam peristiwa pemboman kedua anak itu melihat ada pesawat terbang Jerman yang jatuh. Kesaksian mereka tidak diterima pihak berwenang karena tidak ada bukti, sehingga mereka berdua nekad mencari sendiri. Pada saat mencari itulah David mengalami kecelakaan, hampir tenggelam di sungai, kalau saja tidak ditolong oleh salah seorang penerbang Jerman yang mereka cari-cari (omong-omong saat membaca adegan ini aku malah jadi teringat adegan serupa di buku The Eagle Has Landed-nya Jack Higgins).
Kejadian itu menimbulkan dilema. Apakah mereka akan melaporkan kedua penerbang Jerman yang mereka temukan, padahal salah satu dari mereka telah menyelamatkan jiwa David? Dan apabila tidak melaporkan, apakah itu berarti mereka telah mengkhianati negara? Mana yang lebih penting? Sikap manakah yang akhirnya dipilih oleh David dan Tucky?
Buku Friend or Foe ini termasuk salah satu buku Michael Morpurgo yang telah diangkat menjadi film, yaitu pada tahun 1982. Meskipun karena dibuat secara independen film ini tidak seterkenal War Horse yang disutradarai oleh Steven Spielberg, namun film ini telah menjadi bukti bahwa film anak-anak pun dapat menampilkan tema yang sulit dan tidak biasa.
Review buku ini kubuat dalam rangka mengikuti tantangan ini:
Penulis : Michael Morpurgo
Penerbit : Egmont
Tebal : 122 halaman
Dibeli di : Bybooks FX Senayan
Harga beli : Rp. 20.000,-
Dibeli tanggal : 18 Februari 2017
Dibaca tanggal : 1 Maret 2017
Review :
Jacqueline pernah menulis di salah satu memoarnya bahwa ia kurang menyukai buku anak-anak ala Enid Blyton, karena di sana ceritanya kurang membumi, karena tidak bercerita secara realistis tentang kehidupan sehari-hari seorang anak, terutama yang hidup dalam situasi yang tidak menguntungkan. Oleh karena itu, tema cerita Jacqueline Wilson seringkali cerita tentang anak dari keluarga broken home.
Beda penulis tentu saja beda lagi pendekatannya. Michael Morpurgo banyak menulis novel anak-anak dengan latar belakang yang juga cukup gelap: masa perang dunia.
Dalam buku ini, seperti halnya awal kisah Narnia, David dan temannya Tucky, sebagaimana kebanyakan anak pada masa perang, harus mengungsi dari London yang rawan dihujani bom ke daerah pedesaan yang lebih aman. Selama pengungsian itu, mereka ditampung oleh Bapak dan Ibu Reynolds.
Cerita mulai berkembang ketika dalam peristiwa pemboman kedua anak itu melihat ada pesawat terbang Jerman yang jatuh. Kesaksian mereka tidak diterima pihak berwenang karena tidak ada bukti, sehingga mereka berdua nekad mencari sendiri. Pada saat mencari itulah David mengalami kecelakaan, hampir tenggelam di sungai, kalau saja tidak ditolong oleh salah seorang penerbang Jerman yang mereka cari-cari (omong-omong saat membaca adegan ini aku malah jadi teringat adegan serupa di buku The Eagle Has Landed-nya Jack Higgins).
Kejadian itu menimbulkan dilema. Apakah mereka akan melaporkan kedua penerbang Jerman yang mereka temukan, padahal salah satu dari mereka telah menyelamatkan jiwa David? Dan apabila tidak melaporkan, apakah itu berarti mereka telah mengkhianati negara? Mana yang lebih penting? Sikap manakah yang akhirnya dipilih oleh David dan Tucky?
Buku Friend or Foe ini termasuk salah satu buku Michael Morpurgo yang telah diangkat menjadi film, yaitu pada tahun 1982. Meskipun karena dibuat secara independen film ini tidak seterkenal War Horse yang disutradarai oleh Steven Spielberg, namun film ini telah menjadi bukti bahwa film anak-anak pun dapat menampilkan tema yang sulit dan tidak biasa.
Review buku ini kubuat dalam rangka mengikuti tantangan ini:
![]() |
| Kategori: Lima Buku dari Penulis yang Sama |
Farm Boy
Judul : Farm Boy
Penulis : Michael Morpurgo
Penerbit : HarperCollins' Children Books
Tebal : 128 halaman
Dibeli di : Bybooks FX Senayan
Harga beli : Rp. 10.000,-
Dibeli tanggal : 11 Februari 2017
Dibaca tanggal : 23 Februari 2017
Review :
Cover buku ini menyebutkan bahwa buku ini merupakan sekuel dari buku War Horse (yang juga pernah kubahas secara singkat di blog ini), namun demikian setelah kubaca, cerita yang disampaikan dalam buku ini sebenarnya berdiri sendiri, bahkan apabila nama tokoh-tokohnya diganti (termasuk Joey si pensiunan kuda perang), tidak akan mengubah cerita sama sekali.
Buku ini mengisahkan hubungan yang erat antara seorang anak laki-laki yang lahir dan besar di kota dengan kakeknya dari pihak ibu, yang tinggal di daerah pertanian di pedesaan. Berbeda dengan orang tuanya, terutama ayahnya, yang sangat kota-centris dan cenderung tidak menyukai kehidupan di desa, sang anak terobsesi dengan kehidupan pedesaan dan sangat senang apabila berlibur ke rumah kakeknya.
Hal yang disukai sang anak terutama apabila sang kakek bercerita tentang masa lalu, termasuk masa lalu ayahnya, sang kakek buyut, yang ternyata tokoh pemeran pembantu di cerita War Horse. Sekilas dikisahkan juga sedikit cerita tentang sang kakek buyut yang pergi berperang demi bertemu kembali dengan Joey, kuda kesayangannya, sampai akhirnya ia (yang kemudian dijuluki Pak Kopral sesuai pangkatnya) dan Joey disambut warga desa saat mereka kembali dengan selamat. Namun tentu saja, bukan itu inti cerita buku ini (kalau mau cerita lengkapnya, silakan baca buku prekuelnya, atau nonton versi filmnya sekalian, lumayan ada Benedict Cumberbatch dan Tom Hiddlestone numpang lewat di situ). Tema cerita selanjutnya adalah bagaimana kehidupan Pak Kopral dan Joey setelah kembali ke dunia pertanian.
Ada cerita dalam cerita di buku ini. Setelah sang cucu mengajari sang kakek menulis dan membaca (terutama supaya sang kakek bisa membaca sendiri novel-novel Agatha Christie yang merupakan penulis favoritnya), ternyata kemudian sang kakek menuliskan cerita dengan bahasa yang sederhana tentang ayahnya dan kuda-kuda kesayangannya, dalam menghadapi perubahan teknologi yang mulai merambah dunia pertanian. Keberadaan kuda tidak dibutuhkan lagi untuk membajak tanah, karena sekarang sudah ada traktor yang bisa menggantikan tenaga kuda!
Cerita pendek sang kakek diakhiri dengan lomba plus taruhan yang menegangkan antara Pak Kopral dengan kuda-kuda kesayangannya, Joey dan Zoey, melawan petani modern yang menggunakan traktornya: untuk membuktikan siapa yang bisa membajak ladang lebih banyak dalam waktu yang sama.
Review singkat ini dibuat dalam rangka mengikuti tantangan ini:
Penulis : Michael Morpurgo
Penerbit : HarperCollins' Children Books
Tebal : 128 halaman
Dibeli di : Bybooks FX Senayan
Harga beli : Rp. 10.000,-
Dibeli tanggal : 11 Februari 2017
Dibaca tanggal : 23 Februari 2017
Review :
Cover buku ini menyebutkan bahwa buku ini merupakan sekuel dari buku War Horse (yang juga pernah kubahas secara singkat di blog ini), namun demikian setelah kubaca, cerita yang disampaikan dalam buku ini sebenarnya berdiri sendiri, bahkan apabila nama tokoh-tokohnya diganti (termasuk Joey si pensiunan kuda perang), tidak akan mengubah cerita sama sekali.
Buku ini mengisahkan hubungan yang erat antara seorang anak laki-laki yang lahir dan besar di kota dengan kakeknya dari pihak ibu, yang tinggal di daerah pertanian di pedesaan. Berbeda dengan orang tuanya, terutama ayahnya, yang sangat kota-centris dan cenderung tidak menyukai kehidupan di desa, sang anak terobsesi dengan kehidupan pedesaan dan sangat senang apabila berlibur ke rumah kakeknya.
Hal yang disukai sang anak terutama apabila sang kakek bercerita tentang masa lalu, termasuk masa lalu ayahnya, sang kakek buyut, yang ternyata tokoh pemeran pembantu di cerita War Horse. Sekilas dikisahkan juga sedikit cerita tentang sang kakek buyut yang pergi berperang demi bertemu kembali dengan Joey, kuda kesayangannya, sampai akhirnya ia (yang kemudian dijuluki Pak Kopral sesuai pangkatnya) dan Joey disambut warga desa saat mereka kembali dengan selamat. Namun tentu saja, bukan itu inti cerita buku ini (kalau mau cerita lengkapnya, silakan baca buku prekuelnya, atau nonton versi filmnya sekalian, lumayan ada Benedict Cumberbatch dan Tom Hiddlestone numpang lewat di situ). Tema cerita selanjutnya adalah bagaimana kehidupan Pak Kopral dan Joey setelah kembali ke dunia pertanian.
Ada cerita dalam cerita di buku ini. Setelah sang cucu mengajari sang kakek menulis dan membaca (terutama supaya sang kakek bisa membaca sendiri novel-novel Agatha Christie yang merupakan penulis favoritnya), ternyata kemudian sang kakek menuliskan cerita dengan bahasa yang sederhana tentang ayahnya dan kuda-kuda kesayangannya, dalam menghadapi perubahan teknologi yang mulai merambah dunia pertanian. Keberadaan kuda tidak dibutuhkan lagi untuk membajak tanah, karena sekarang sudah ada traktor yang bisa menggantikan tenaga kuda!
Cerita pendek sang kakek diakhiri dengan lomba plus taruhan yang menegangkan antara Pak Kopral dengan kuda-kuda kesayangannya, Joey dan Zoey, melawan petani modern yang menggunakan traktornya: untuk membuktikan siapa yang bisa membajak ladang lebih banyak dalam waktu yang sama.
Review singkat ini dibuat dalam rangka mengikuti tantangan ini:
![]() |
| Kategori: Lima Buku dari Penulis Yang Sama |
Tuesday, February 28, 2017
George Speaks
Judul : George Speaks
Penulis : Dick King-Smith
Penerbit : Puffin Books
Tebal : 92 halaman
Dibeli di : Bybooks FX Senayan
Harga beli : Rp. 20.000,-
Dibeli tanggal : 18 Februari 2017
Dibaca tanggal : 22 Februari 2017
Sinopsis :
George is no ordinary baby.
He looks ordinary, with his round face and squashy nose. But his sister Laura soon discovers that he's absolutely extraordinary. Everyone's life is turned upside down from the day George speaks!
Review :
1. Cover
Tanpa perlu membaca sinopsis di sampul belakang buku ini, calon pembaca sudah dapat mengira-ngira bagaimana isi buku ini kalau dikaitkan dengan judul dan gambar di sampul depannya. George Speaks. Padahal George masih bayi lho!
2. Cerita
Plot utamanya persis seperti yang tersirat di sampul bukunya. George yang masih bayi sudah bisa berbicara sejak lahir!
Lupakan cerita serupa tentang bayi lain yang juga sudah bisa berbicara sejak lahir. Kita tidak akan pernah tahu sebab-musababnya di balik kemampuan George atau hal-hal supranatural yang mungkin saja ada, karena alur buku ini murni membawa ceritanya ke ranah komedi situasi.
Meskipun sudah bisa berbicara sejak lahir, George baru berbicara dengan kakaknya yang sudah berumur tujuh tahun, Laura, ketika usianya menginjak empat minggu. Bayangkan seperti apa kagetnya Laura, karena mendadak adiknya bisa berbicara dengan fasih dan lancar, dengan tutur kata yang layaknya orang dewasa. Bukan itu saja, George jauh lebih pintar dari Laura, sampai membantunya untuk menghafal tabel perkalian segala!
Karena rahasia mereka tidak bisa disimpan lama-lama, George mulai berbicara sedikit-sedikit kepada orang tuanya. Mulanya satu-dua kata dulu, mengulangi kata-kata orang lain seperti beo. Lama-lama, ketika akhirnya George mulai berbicara dengan kalimat pendek, mereka sudah tidak kaget lagi.
"George speaks!"
Tentu saja George tidak puas kalau tidak bisa berbicara dengan bebas, sehingga akhirnya menentukan untuk mulai berbicara normal dengan siapa saja pada pesta ulang tahunnya yang pertama. Ia menentukan sendiri menu pesta, hadiah ulang tahun (ensiklopedia, tentu saja), dan tamu undangannya. Tidak, ia tidak mau tamu sesama bayi, melainkan orang dewasa semua (kecuali Laura tentunya)! Kakek-nenek, paman-bibi, semuanya diundang. Sederhananya, George ingin coming out!
3. Kesimpulan
Ceritanya absurd!
Membaca kalimat-kalimat yang diucapkan George, rasanya dia bukan seperti bayi yang terlalu pintar sehingga dewasa sebelum waktunya. Ia malah seperti orang dewasa yang terjebak dalam tubuh seorang bayi!
Well, coba tebak, dengan keahlian berbicara seperti itu, akan menjadi apa George saat benar-benar dewasa kelak!
Review ini dibuat dalam rangka mengikuti tantangan ini:
Penulis : Dick King-Smith
Penerbit : Puffin Books
Tebal : 92 halaman
Dibeli di : Bybooks FX Senayan
Harga beli : Rp. 20.000,-
Dibeli tanggal : 18 Februari 2017
Dibaca tanggal : 22 Februari 2017
Sinopsis :
George is no ordinary baby.
He looks ordinary, with his round face and squashy nose. But his sister Laura soon discovers that he's absolutely extraordinary. Everyone's life is turned upside down from the day George speaks!
Review :
1. Cover
Tanpa perlu membaca sinopsis di sampul belakang buku ini, calon pembaca sudah dapat mengira-ngira bagaimana isi buku ini kalau dikaitkan dengan judul dan gambar di sampul depannya. George Speaks. Padahal George masih bayi lho!
2. Cerita
Plot utamanya persis seperti yang tersirat di sampul bukunya. George yang masih bayi sudah bisa berbicara sejak lahir!
Lupakan cerita serupa tentang bayi lain yang juga sudah bisa berbicara sejak lahir. Kita tidak akan pernah tahu sebab-musababnya di balik kemampuan George atau hal-hal supranatural yang mungkin saja ada, karena alur buku ini murni membawa ceritanya ke ranah komedi situasi.
Meskipun sudah bisa berbicara sejak lahir, George baru berbicara dengan kakaknya yang sudah berumur tujuh tahun, Laura, ketika usianya menginjak empat minggu. Bayangkan seperti apa kagetnya Laura, karena mendadak adiknya bisa berbicara dengan fasih dan lancar, dengan tutur kata yang layaknya orang dewasa. Bukan itu saja, George jauh lebih pintar dari Laura, sampai membantunya untuk menghafal tabel perkalian segala!
Karena rahasia mereka tidak bisa disimpan lama-lama, George mulai berbicara sedikit-sedikit kepada orang tuanya. Mulanya satu-dua kata dulu, mengulangi kata-kata orang lain seperti beo. Lama-lama, ketika akhirnya George mulai berbicara dengan kalimat pendek, mereka sudah tidak kaget lagi.
"George speaks!"
Tentu saja George tidak puas kalau tidak bisa berbicara dengan bebas, sehingga akhirnya menentukan untuk mulai berbicara normal dengan siapa saja pada pesta ulang tahunnya yang pertama. Ia menentukan sendiri menu pesta, hadiah ulang tahun (ensiklopedia, tentu saja), dan tamu undangannya. Tidak, ia tidak mau tamu sesama bayi, melainkan orang dewasa semua (kecuali Laura tentunya)! Kakek-nenek, paman-bibi, semuanya diundang. Sederhananya, George ingin coming out!
3. Kesimpulan
Ceritanya absurd!
Membaca kalimat-kalimat yang diucapkan George, rasanya dia bukan seperti bayi yang terlalu pintar sehingga dewasa sebelum waktunya. Ia malah seperti orang dewasa yang terjebak dalam tubuh seorang bayi!
Well, coba tebak, dengan keahlian berbicara seperti itu, akan menjadi apa George saat benar-benar dewasa kelak!
Review ini dibuat dalam rangka mengikuti tantangan ini:
![]() |
| Kategori: Lima Buku dari Penulis Yang Sama |
Mr Ape
Judul : Mr Ape
Penulis : Dick King-Smith
Penerbit : Corgi Yearling Books
Tebal : 128 halaman
Dibeli di : Bybooks FX Senayan
Harga beli : Rp. 15.000,-
Dibeli tanggal : 18 Februari 2017
Dibaca tanggal : 23 Februari 2017
Sinopsis :
Abandoned by his bossy wife and children, old Mr Ape finds himself living all alone in his huge and rambling house. And then he gets a brilliant idea: he can fill the house with animals, the pets his wife and children would never let him have. But pets have a habit of increasing and soon every room is stuffed to the brim with animals.
Review :
1. Cover
Iya, gambar sampulnya menipu. Kukira seperti cerita-cerita Dick King-Smith yang kubaca belakangan, tokoh utamanya binatang, yang dari judulnya sempat kukira seekor monyet, yang penampakannya seperti di film Planet of the Apes dan sekuel-sekuelnya. Gambar guinea pig yang terpajang di cover depan malah tambah bikin bingung. Apakah ini guinea pig yang dinamai Mr Ape?
2. Cerita
APE di sini ternyata singkatan nama tokoh utamanya, Archibald Peregrine Edmund Spring-Russell. Panjang benar ya namanya, mungkin karena itu disingkat jadi Mr. A.P.E. Spring-Russell.
Pertama kita berkenalan dengan Mr. Ape, ternyata ia hidup di rumah besar yang sunyi, sepi, sendirian. Setelah 30 tahun menikah, istrinya pergi meninggalkannya, dengan kalimat perpisahan yang menyakitkan,
Tiba-tiba saja Mr Ape kepikiran, daripada tinggal sendirian, ia bisa mengisi rumah dengan binatang, yang selama ini tidak bisa dipeliharanya karena dilarang oleh istri dan anak-anaknya.
Setelah melakukan garage sale sehingga isi rumahnya benar-benar kosong, Mr Ape mulai menjalankan niatnya mengoleksi binatang. Dimulai dari ayam-ayam betina yang ditaruh di ruang tengah, lalu guinea pig di ruang makan, lantas keledai di kebun, disusul kelincim anjing, burung beo, dan seterusnya! Bagaimana lagi, rumahnya kan besar dan luas, bisa diisi banyak binatang!
Selain hidup bersama banyak binatang, Mr Ape juga berkenalan dan berteman dengan anak gipsi, Jake dan ayahnya Joe, hal yang menimbulkan gosip miring dari tetangga yang nyinyir, mengingat reputasi kaum gipsi yang kurang sedap, apalagi di lingkungan bangsawan. Hanya saja, Mr Ape sudah tidak peduli lagi pandangan orang lain, yang penting happy!
Dipikir-pikir, urusan Mr. Ape dankebun rumah binatangnya ini mengingatkanku pada penulis buku ini, Dick King-Smith, yang penjelasan di Goodreads berbunyi : "Dick King-Smith was born and raised in Gloucestershire, surrounded by pet animals." Wajar saja kalau buku anak-anak yang ditulisnya kebanyakan bertema binatang!
Anyway, terlepas dari jalan ceritanya, judul-judul dari bab di buku ini membuatku teringat pada judul-judul episode (atau buku) dari serial Mr. Monk (detektif, bukan biksu), yang bisa dilihat dari daftar bawah ini:
- Ape Has a Brainwave
- Ape Goes to Market
- Ape Has Visitors
- Ape Has Gets Some Pets
- Ape Has a Birthday
- Ape Get Nice Surprises
- Ape Does a Deal
- Ape Starts a Fire
- Ape Hits Rock Bottom
- Ape Buys a House
- Ape Makes a Decision
3. Pelajaran yang bisa diambil
Jangan main api sembarangan, kalau tidak mau kebakaran!
Review singkat ini dibuat dalam rangka mengikuti tantangan ini:
Penulis : Dick King-Smith
Penerbit : Corgi Yearling Books
Tebal : 128 halaman
Dibeli di : Bybooks FX Senayan
Harga beli : Rp. 15.000,-
Dibeli tanggal : 18 Februari 2017
Dibaca tanggal : 23 Februari 2017
Sinopsis :
Abandoned by his bossy wife and children, old Mr Ape finds himself living all alone in his huge and rambling house. And then he gets a brilliant idea: he can fill the house with animals, the pets his wife and children would never let him have. But pets have a habit of increasing and soon every room is stuffed to the brim with animals.
Review :
1. Cover
Iya, gambar sampulnya menipu. Kukira seperti cerita-cerita Dick King-Smith yang kubaca belakangan, tokoh utamanya binatang, yang dari judulnya sempat kukira seekor monyet, yang penampakannya seperti di film Planet of the Apes dan sekuel-sekuelnya. Gambar guinea pig yang terpajang di cover depan malah tambah bikin bingung. Apakah ini guinea pig yang dinamai Mr Ape?
2. Cerita
APE di sini ternyata singkatan nama tokoh utamanya, Archibald Peregrine Edmund Spring-Russell. Panjang benar ya namanya, mungkin karena itu disingkat jadi Mr. A.P.E. Spring-Russell.
Pertama kita berkenalan dengan Mr. Ape, ternyata ia hidup di rumah besar yang sunyi, sepi, sendirian. Setelah 30 tahun menikah, istrinya pergi meninggalkannya, dengan kalimat perpisahan yang menyakitkan,
"Right, Ape, i'm sick of this ugly great house and i'm tired of you, so I'm off."
Tiba-tiba saja Mr Ape kepikiran, daripada tinggal sendirian, ia bisa mengisi rumah dengan binatang, yang selama ini tidak bisa dipeliharanya karena dilarang oleh istri dan anak-anaknya.
Setelah melakukan garage sale sehingga isi rumahnya benar-benar kosong, Mr Ape mulai menjalankan niatnya mengoleksi binatang. Dimulai dari ayam-ayam betina yang ditaruh di ruang tengah, lalu guinea pig di ruang makan, lantas keledai di kebun, disusul kelincim anjing, burung beo, dan seterusnya! Bagaimana lagi, rumahnya kan besar dan luas, bisa diisi banyak binatang!
Selain hidup bersama banyak binatang, Mr Ape juga berkenalan dan berteman dengan anak gipsi, Jake dan ayahnya Joe, hal yang menimbulkan gosip miring dari tetangga yang nyinyir, mengingat reputasi kaum gipsi yang kurang sedap, apalagi di lingkungan bangsawan. Hanya saja, Mr Ape sudah tidak peduli lagi pandangan orang lain, yang penting happy!
Dipikir-pikir, urusan Mr. Ape dan
Anyway, terlepas dari jalan ceritanya, judul-judul dari bab di buku ini membuatku teringat pada judul-judul episode (atau buku) dari serial Mr. Monk (detektif, bukan biksu), yang bisa dilihat dari daftar bawah ini:
- Ape Has a Brainwave
- Ape Goes to Market
- Ape Has Visitors
- Ape Has Gets Some Pets
- Ape Has a Birthday
- Ape Get Nice Surprises
- Ape Does a Deal
- Ape Starts a Fire
- Ape Hits Rock Bottom
- Ape Buys a House
- Ape Makes a Decision
3. Pelajaran yang bisa diambil
Jangan main api sembarangan, kalau tidak mau kebakaran!
Review singkat ini dibuat dalam rangka mengikuti tantangan ini:
![]() |
| Kategori: Lima Buku dari Penulis Yang Sama |
The Hodgeheg
Judul : The Hodgeheg
Penulis : Dick King-Smith
Penerbit : Puffin Books
Tebal : 86 halaman
Dibeli di : Bybooks FX Senayan
Harga beli : Rp. 10.000,-
Dibeli tanggal : 18 Februari 2017
Dibaca tanggal : 23 Februari 2017
Sinopsis :
The story of Max, the hedgehog who becomes a hodgeheg, who becomes a hero!
Max's family dreams of reaching the Park. But no one has ever found a safe way of crossing the very busy road. Can Max really solve the problem?
Review :
Pertanyaan pertama yang timbul: mengapa landak menyeberang jalan?
Padahal biasanya pertanyaan yang standar adalah mengapa ayam menyeberang jalan.
Jawabannya sesuai keterangan di sinopsis buku: sampai ke tanah impian yang dijanjikan: taman.
Premis cerita buku anak-anak ini sederhana saja: bagaimana cara menyeberang jalan dengan aman, mengingat kakek, sepupu, dan tante dari tokoh utama buku ini telah menjadi korban.
Tokoh utama buku ini adalah seekor landak bernama Victor Maximilian St George, atau disingkat Max. Max bukan tipe yang hanya bermimpi untuk bisa mencapai Taman, tapi juga mau berusaha sampai ke tujuan dengan menempuh banyak risiko utama: tertabrak kendaraan yang lalu lalang di jalan raya!
Pertayaan kedua: mengapa judulnya Hodgeheg, bukan Hedgehog?
Begini ceritanya...Max nekad mencoba menyeberangi jalan, raya. Meskipun sebenarnya sudah sesuai aturan dengan berusaha menyeberang di zebra cross, tapi tetap saja ia tertabrak sepeda. membentur trotoar, dan mengalami gegar otak. Akibatnya, otaknya mulai korslet, terutama dalam berbicara. Setelah tertabrak, omongan Max mulai ngaco, tidak sinkron antara apa yang dipikirkan dan ada yang diucapkan. Hedgehog menjadi Hodgeheg, OK menjadi KO!
Meskipun otak dan mulutnya sudah tidak sinkron, tapi Max tetap gigih dalam upayanya menyeberangi jalan untuk mencapai ke taman. Masalahnya, menyeberang sendirian saja sudah amat sangat berbahaya sekali, bagaimana kalau ia mau mengajak rombongan keluarganya sekaligus? Bagaimana caranyaa?
Hikmah yang bisa diambil:
Do not give up, even if you cannot talk right again because of it!
Review ini dibuat dalam rangka memenuhi tantangan berikut :
Penulis : Dick King-Smith
Penerbit : Puffin Books
Tebal : 86 halaman
Dibeli di : Bybooks FX Senayan
Harga beli : Rp. 10.000,-
Dibeli tanggal : 18 Februari 2017
Dibaca tanggal : 23 Februari 2017
Sinopsis :
The story of Max, the hedgehog who becomes a hodgeheg, who becomes a hero!
Max's family dreams of reaching the Park. But no one has ever found a safe way of crossing the very busy road. Can Max really solve the problem?
Review :
Pertanyaan pertama yang timbul: mengapa landak menyeberang jalan?
Padahal biasanya pertanyaan yang standar adalah mengapa ayam menyeberang jalan.
Jawabannya sesuai keterangan di sinopsis buku: sampai ke tanah impian yang dijanjikan: taman.
Premis cerita buku anak-anak ini sederhana saja: bagaimana cara menyeberang jalan dengan aman, mengingat kakek, sepupu, dan tante dari tokoh utama buku ini telah menjadi korban.
Tokoh utama buku ini adalah seekor landak bernama Victor Maximilian St George, atau disingkat Max. Max bukan tipe yang hanya bermimpi untuk bisa mencapai Taman, tapi juga mau berusaha sampai ke tujuan dengan menempuh banyak risiko utama: tertabrak kendaraan yang lalu lalang di jalan raya!
Pertayaan kedua: mengapa judulnya Hodgeheg, bukan Hedgehog?
Begini ceritanya...Max nekad mencoba menyeberangi jalan, raya. Meskipun sebenarnya sudah sesuai aturan dengan berusaha menyeberang di zebra cross, tapi tetap saja ia tertabrak sepeda. membentur trotoar, dan mengalami gegar otak. Akibatnya, otaknya mulai korslet, terutama dalam berbicara. Setelah tertabrak, omongan Max mulai ngaco, tidak sinkron antara apa yang dipikirkan dan ada yang diucapkan. Hedgehog menjadi Hodgeheg, OK menjadi KO!
Meskipun otak dan mulutnya sudah tidak sinkron, tapi Max tetap gigih dalam upayanya menyeberangi jalan untuk mencapai ke taman. Masalahnya, menyeberang sendirian saja sudah amat sangat berbahaya sekali, bagaimana kalau ia mau mengajak rombongan keluarganya sekaligus? Bagaimana caranyaa?
Hikmah yang bisa diambil:
Do not give up, even if you cannot talk right again because of it!
Review ini dibuat dalam rangka memenuhi tantangan berikut :
![]() |
| Kategori: Lima Buku dari Penulis Yang Sama |
Subscribe to:
Posts (Atom)






































