Showing posts with label fantasy. Show all posts
Showing posts with label fantasy. Show all posts

Tuesday, March 7, 2017

The Hidden Oracle

Judul : The Hidden Oracle

Serial : The Trials of Apollo #1

Penulis : Rick Riordan

Penerbit : Mizan Fantasi

Tebal : 472 halaman

Dibeli di : Gramedia.com

Harga beli : Rp. 67.150,- (off 15%)

Dipesan tanggal : 27 Februari 2017

Diperoleh tanggal : 2 Maret 2017

Dibaca tanggal : 6 - 7 Maret 2017

Review :
Setelah membaca keluh kesah tokoh utama cerita ini di sepanjang buku dari halaman awal sampai halaman akhir, aku hanya bisa mengutip kata-kata bijak di bawah ini:


Meskipun setiap kali terbit sudah pasti kubeli, aku sudah nyaris bosan dengan serial fantasi hasil produksi Rick Riordan (iya, sudah kayak pabrik saja soalnya). Dari serial demigod Dewa-Dewi Yunani, demigod Dewa-Dewi Romawi, demigod Dewa-Dewi Mesir, demigod Dewa-Dewi Viking, dan entah apakah suatu hari nanti dunia Dewa-Dewi India bakal dibahas juga atau tidak. Apalagi, ternyata semua serial itu masih satu universe! Yang namanya cerita berbasis mitologi bisa jadi sumber bahan cerita yang tidak ada habisnya, bisa diulik dari berbagai segi dan sudut pandang, bahkan untuk cerita yang pada dasarnya sama bisa dibuat dalam berbagai versi.

Namun ternyata... buku yang satu ini tidak bikin bosan, malah sangat menghibur saking kocak dan ancurnya!

Kali ini, Riordan masih mengambil cerita dari dunia Dewa-Dewi Yunani, tapi narator dan tokoh utamanya bukan demigod lagi, melainkan seorang dewa malang yang dihukum buang menjadi manusia fana gara-gara tidak becus mendidik anak. Ya, dari nama serialnya sudah jelas siapa: Apollo.

Mau tidak mau, otomatis aku jadi teringat dan membandingkannya dengan cerita dewa lain (yang dibuang ke bumi dan menjadi manusia fana juga) dari universe yang berbeda, Marvel Cinematic Universe, tepatnya Thor. Di situ Odin cuma membuat Thor kehilangan kesaktiannya, sementara tampang dan body-nya masih oke, minimal mirip-mirip Chris Hemsworth-lah.

Zeus tidak sebaik itu. Apollo dijadikan berwujud remaja 16 tahun yang penampilan dan namanya tidak ada keren-kerennya. Kesaktian? Tidak ada yang tersisa, dipalak preman kelas teri pun ia babak belur tak berdaya. Fasilitas pun tidak ada lagi, ia cuma dapat bekal seratus dolar di dompet bututnya. Mana cukup buat hidup di New York.

Untungnya, Apollo tidak dibuat lupa ingatan. Minimal ia bisa memikirkan cara untuk survive dan kalau bisa mencari cara untuk kembali ke khittahnya sebagai dewa. Masalahnya, ia tidak tahu apa misi yang harus dijalankannya di dunia, karena ketiadaan oracle yang juga mempengaruhi nasib para demigod yang jadi pengangguran banyak acara. Tapi sebagai (mantan) dewa ramalan, tentu saja Apollo tetap merasa bertanggung jawab untuk memulihkan keadaan.

Kisah perjuangan hidup Apollo ini asyik untuk diikuti karena kita dibawa melihat dunia dengan sudut pandang dan cara berpikir seorang dewa yang super egois dan narsis berat. Saking terlalu biasanya hidup mudah, adaaaaa saja yang dikeluhkan Apollo. Mungkin hampir semua hal yang terjadi di sekelilingnya menjadi bahan komentar dan curhatnya, yang selalu membandingkannya dengan kondisi seandainya ia masih seorang dewa.

Namun demikian, apabila kita bisa tahan menelan keluhan dan kesombongan Apollo sepanjang buku, kita juga bakal tahu kok kalau ia ternyata punya banyak kelebihan juga, yang dapat membuat kita menjadi jatuh simpati dan respek kepadanya, sehingga berharap ia mampu dan tabah menjalani cobaan, serta berhasil menyelamatkan dunia dengan segala keterbatasannya.

Omong-omong, sepertinya Riordan menganggap pembaca buku ini sudah pernah membaca buku-buku sebelumnya, karena banyak cameo dan referensi numpang lewat yang mungkin bisa memuaskan para pembaca setia, namun dijamin bisa membuat bingung mereka yang baru berkenalan dengan karya Riordan lewat buku ini.

Kesimpulan :
Ditunggu sekuelnya, Om Riordan!

Review singkat buku ini dibuat dalam rangka mengikuti tantangan ini:
Kategori : Fantasy Fiction

Thursday, January 26, 2017

Arcanum Unbounded: The Cosmere Collection

Judul : Arcanum Unbounded: The Cosmere Collection

Penulis : Brandon Sanderson

Penerbit : Gollancz

Tebal : Hardcover, 672 halaman

Dibeli di : Periplus.com

Harga beli : Rp. 271.000,- (10% off)

Dipesan tanggal : 13 Desember 2016

Diterima tanggal : 5 Januari 2017

Dibaca tanggal : 22 - 25 Januari 2017

Review:
Pada waktu pertama kali menerima paket buku ini, aku sama sekali tidak yakin bakal membacanya dalam waktu dekat. Mengapa? Untuk buku karya Brandon Sanderson, masih ada 3 jilid buku cetak lainnya yang sampai sekarang masih terlantar, dan dua di antaranya adalah serial Stormlight Archive, yang kalau dilihat dari tebalnya saja sudah bikin malas baca duluan. Dari penampakan dan dimensinya, buku ini juga boleh dibilang tebal.

Namun demikian, saat persediaan buku di kamar kosan menipis, akhirnya dari 4 buku Brandon Sanderson yang tersedia, buku ini kupilih duluan. Alasannya sederhana, buku ini kumpulan cerpen dan novella, jadi membacanya bisa dicicil per cerita, dan kalaupun ditinggal tidur atau kerja tak ada cerita menggantung yang dapat merongrong kesehatan jiwa. Cerita yang ada dalam buku ini juga tidak semuanya benar-benar baru, karena (selain cerpen-cerpen Sanderson yang belum pernah diterbitkan) masih berkaitan dengan buku-buku lain yang pernah kubaca sebelumnya, seperti Elantris dan serial Mistborn, misalnya.

Lalu, mengapa buku ini disebut Cosmere Collection?

Begini, bukan cuma Kevin Feige saja yang ingin semua cerita dan karakter dalam Marvel Cinematic Universe (yang masing-masing bisa dinikmati secara terpisah) sebenarnya terhubung atau berada dalam satu universe yang sama, meskipun di galaksi atau dimensi yang berbeda. Kadang-kadang ada penulis buku yang punya obsesi yang sama. Stephen King adalah salah satunya. Kalau kita teliti membaca novel-novel dan cerpennya, banyak yang berkaitan satu sama lain, terutama serial Dark Tower yang suka nyelip dan bertebaran di mana-mana.

Brandon Sanderson melakukannya dengan cara yang berbeda. Pertama, ia membangun universe yang disebutnya Cosmere, dan di universe itulah terdapat beragam tata surya, lalu di masing-masing tata surya itu terdapat planet yang ia jadikan setting ceritanya.

Ada enam tata surya yang tercantum di buku ini, yaitu:
- The Selish System (setting serial Elantris)
- The Scadrian System (setting serial Mistborn)
- The Taldain System
- The Threnodite System
- The Drominad System
- The Rosharan System (setting serial Stormlight Archive)

Konon suatu saat nanti, Sanderson berencana membuat cerita yang akan membuktikan bahwa para karakternya berada di universe yang sama. Kita tunggu saja bagaimana perkembangannya. Mungkin saja teknologi manusia di salah satu tata surya tersebut sudah begitu canggihnya sehingga nanti ada karakter yang bisa melakukan perjalanan antar sistem dengan pesawat antariksa layaknya Star Trek. Atau jalan-jalan antar sistemnya cukup dengan dengan kesaktian supranatural yang bisa membuka portal multiguna. Apa saja bisa kok, terserah pengarangnya. Toh, di serial Mistborn saja ada tokoh yang begitu sakti mandraguna sehingga dapat menggeser orbit planet mendekati atau menjauhi matahari!

Kalau dipikir-pikir lagi sepertinya serial Alcatraz dan Reckoners yang sama-sama bersetting di bumi (tapi di dimensi yang berbeda?) mungkin tidak ada kaitannya, kecuali kalau Sanderson memaksa bahwa tata surya kita juga merupakan bagian dari Cosmere-nya.

Nah, dari sekian banyak cerita yang ada di buku ini, hampir semuanya menarik dan asyik dibaca (dan ada yang dibuat dengan versi komiknya!). Tapi tentu saja, saat ini yang paling kusukai adalah cerita-cerita dari bab The Scadrian System. Bukan apa-apa, saat ini serial Mistborn masih yang paling favorit dari seluruh karya Sanderson yang sudah kubaca. Apalagi, dua dari empat cerita yang berasal dari Scadrian dilakoni oleh karakter favoritku, Kelsier, dengan setting yang berbeda. Ehm, peringatan buat yang belum selesai membaca trilogi Mistborn maupun kelanjutannya karena... SPOILERS! Terutama dari cerita Mistborn: Secret History. Kalau bisa, jangan membaca novella ini dulu sebelum selesai membaca serial utamanya.

Cerita favorit keduaku adalah cerita dari Rosharan System. Nah, konon cerita berjudul Edgedancer ini juga mengandung spoiler untuk buku Words of Radiance, buku kedua dari serial Stormlight Archive. Well, meskipun aku sudah punya 2 jilid serial ini, buku pertamanya saja, The Way of Kings aku baru sempat membaca bab-bab awal, jadi jelas aku belum mudeng dengan dunianya, dan jelas aku belum tahu apa yang menjadi spoilernya. Tapi terus terang, meskipun cerita ini boleh dibilang cuma sempilan dari dunia yang jauh lebih besar dan kompleks, jalan cerita Edgedancer sangat mudah dan enak diikuti, dan karakter utamanya, Lift serta partnernya, Wyndle, juga sangat hidup dan utuh. Cerita ini jatuhnya ke genre action comedy gara-gara witty banter karakter utamanya yang koplak.

Hm... mungkin sudah saatnya aku mulai membaca serial Stormlight Archive? Siapa tahu nanti aku bisa bertemu Lift dan Wyndle lagi, seminor apapun mereka di serial utama itu nanti. Dan siapa tahu, serial ini nanti malah bisa menggantikan kedudukan serial Mistborn sebagai serial Sanderson favoritku?

Ulasan singkat ini dibuat dalam rangka mengikuti :
Kategori: Brick Books




Sunday, December 25, 2016

The Gunslinger by Stephen King


Judul : The Gunslinger (Sang Gunslinger)

Serial : The Dark Tower (#1)

Penulis : Stephen King

Penerbit : Gramedia Pustaka Utama

ISBN : 978-602-03-3561-2

Tebal : 304 halaman

Dibeli di : Gramedia.com

Harga beli : Rp. 25.500 (Harbolnas 70% off)

Dibaca tanggal : 25 Desember 2016

Komentar doang bukan review:
Aku sudah punya dan baca satu set lengkap edisi bahasa Inggris serial ini, dan sudah lama pula bertanya-tanya apakah bakalan ada versi terjemahan bahasa Indonesianya.

Eng, ing, eng... GPU menerbitkan jilid pertamanya! Jelas kubeli, apalagi pas harbolnas kemarin buku ini dikorting 70%! Sikaaat!

Aku penasaran bagaimana istilah "gunslinger" diterjemahkan. "Penembak jitu"? Ternyata tidak diterjemahkan sama sekali! Sang Gunslinger. Mungkin memang repot kalau diterjemahkan ya.

Lalu tibalah pada Bab 2 buku ini, di mana Sang Gunslinger teringat pada sebuah lagu anak-anak, yang bunyinya begini:

Hujan di Jawa jatuh ke rawa.
Ada tangis ada tawa
Sayang hujan di Jawa jatuh ke Jawa.


Langsung buru-buru ngecek versi aslinya, yang ternyata bunyinya begini:

The rain in Spain falls mainly on the plain.
There is joy and also pain
but the rain in Spain falls mainly on the plain


Alihbahasa sajak berima memang susah. Perlu kreativitas sendiri untuk menggubahnya, sehingga Spanyol pun bisa berubah jadi Jawa (terjemahan ini Indonesiawi sekali!) dan padang berubah jadi rawa.

Coba pikirkan alternatifnya kalau tetap pakai Spanyol yuk!
Hujan di Spanyol jatuh ke ---

...
(loading....)
(berusaha mencari-cari kata berima yang cocok)
...
Jengkol?
Tongkol?
Karambol?
Ompol?
...

Ah, jadi teringat belum sempat baca serial Pasukan Mau Tahu edisi bahasa Inggris yang belum lama ini kubeli. Penasaran seperti apa "bantun-bantun" Ern Goon (dan versi kocaknya dari Fatty!) dalam versi aslinya!

Anyway, mudah-mudahan GPU tidak menerbitkan jilid pertama saja, hanya karena versi filmnya --di mana Sang Gunslinger diperankan oleh Idris Elba--bakal rilis dalam waktu dekat. Kalaupun lanjut, kita lihat saja bagaimana buku-buku berikutnya, terutama yang tebal-tebal, bakal diterbitkan. Apakah satu judul bakal dibagi dua jilid macam Under the Dome? Atau nekat terbit dalam satu jilid yang super-duper tebal?

Omong-omong tentang sosok Gunslinger, gara-gara Stephen King konon terinspirasi sosok The Man With No Name di film The Good, The Bad, and the Ugly, yang terbayang selama membaca serial ini ya versi koboi Clint Eastwood muda. Jadinya agak susah membayangkannya sebagai Idris Elba. Kita lihat saja seperti apa filmnya nanti. Toh Denzel Washington cocok saja menggantikan Yul Brynner sebagai pemimpin The Magnificent Seven.

Kembali ke buku Sang Gunslinger ini.

Membaca ulang serial ini dari jilid pertama, pas membalik halaman bertuliskan 19 di awal buku... Sebagai pembaca yang telah menamatkan serial ini dan sudah tahu endingnya yang bikin pengen najong, aku jadi mengerti mengapa Stephen King menuliskan kalimat yang satu itu...


BEWARE!!!
SPOILER!!!
RIGHT FROM THE START!!!


Stephen King, I've come to bargain!


View all my reviews

Thursday, July 21, 2016

Steelheart

Judul : Steelheart

Serial : Reckoners #1

Penulis : Brandon Sanderson

Penerbit : Noura Books

Tebal : 562 halaman

ISBN : 9786020989983

Dibeli di : Gramedia.com

Harga beli : Rp. 84.000,- (sebelum diskon 15% + 22%)

Diterima tanggal : 2 Juli 2016

Selesai dibaca tanggal : 20 Juli 2016

Sinopsis:
Steelheart menghancurkan ruangan, membunuh siapa pun yang dia lihat. Tiran itu berteriak penuh kemurkaan. Kemudian, gelombang energi terpancar dari tubuhnya, dan lantai di sekelilingnya pun berubah warna—menjelma logam.
Saat Calamity muncul, manusia yang terkena efeknya mendapatkan kekuatan super. Orang-orang menyebut mereka Epic. Namun, alih-alih menjadi pahlawan, mereka menggunakan kekuatan untuk menguasai dunia dan menghancurkan siapa pun yang menghalangi tujuan mereka.
Teror menyebar ke seluruh negeri. Bumi diliputi kegelapan. Para manusia biasa harus hidup di bawah tanah. Tak ada yang berani memberontak, kecuali Reckoners—sekelompok manusia biasa yang mengabdikan diri melawan Epic.David ingin bergabung dengan Reckoners karena dialah satu-satunya saksi mata kelemahan Steelheart. Dan sudah saatnya dia membalaskan kematian ayahnya.


Review :
Sinopsis buku di atas memberikan gambaran yang cukup jelas mengenai isi buku ini. Dunia berubah drastis dengan bermunculannya manusia-manusia berkekuatan super, yang disebut Epic, yang hampir semuanya memiliki ambisi untuk berkuasa dengan menafikan hukum dan hak asasi manusia biasa. Saat pemerintahan runtuh dan saat kompetisi antar Epic mereda, dunia terbagi-bagi menjadi daerah kekuasaan Epic-Epic terkuat.

Sulit untuk tidak membayangkan dunia dalam buku ini seperti yang ada dalam serial Old Man Logan-nya Wolverine, di mana dunia (atau AS) terbagi-bagi menjadi daerah kekuasaan villain berkekuatan super, dan nyaris tidak ada hero yang tersisa untuk melawan. Sebagian besar Avengers dan X-Men tewas berguguran, sementara yang masih hidup memilih untuk bersembunyi, menyerah, atau menyesuaikan diri dengan keadaan.

Dalam buku ini, hampir semua Epic terkuat memilih untuk menjadi villain yang menggunakan kekuatannya secara sewenang-wenang. Kalaupun ada Epic yang tingkat kekuatannya tidak begitu besar dan tidak jahat-jahat amat, mereka memilih untuk menjadi keroco Epic terkuat. Benarkah tidak ada Epic yang sanggup dan bersedia menjadi pahlawan pembela kebenaran dan kaum yang lemah? Ataukah semuanya sudah patah arang, lantas memilih untuk menyerah dan menerima keadaan sebagaimana halnya Wolverine Old Man Logan?

Well, ending buku ini akan menjawab pertanyaan itu.

Secara ringkas, buku pertama ini berpusat pada tokoh utama bernama David, yang sewaktu kecil menyaksikan bagaimana Epic bernama Steelheart membunuh ayahnya, sehingga ia bersumpah untuk membunuh sang Epic, meskipun ia hanya manusia biasa. Ia menjadi ensiklopedia berjalan khusus Epic demi mengetahui kelemahan musuh utamanya. Iya, seperti halnya Superman dan kryptonite, para Epic di sini memiliki kelemahan masing-masing yang bisa membuat mereka terluka atau mati, dan berusaha keras menyembunyikan kelemahannya dengan segala cara.

Dengan segala pengetahuannya, yang belum dimiliki David hanya kemampuan dan kesempatan untuk menjalankan skenarionya untuk membunuh para Epic yang jahat. Karena itu, ia bertekad untuk bergabung dengan Reckoners, gerakan bawah tanah para manusia biasa yang berjuang melawan (baca: membunuh) para Epic dengan menggunakan taktik gerilya dan teknologi terkini. Dan tentu saja, berdasarkan hasil penelitiannya atas aksi-aksi terorisme Reckoners, David berhasil menemukan kelompok itu.

Dan selanjutnya, dapatkah David, yang akhirnya menjadi anggota terbaru Reckoners, mampu meyakinkan para Reckoner (yang selama ini main aman dengan hanya membunuhi Epic rendahan dan membiarkan Epic level tertinggi) untuk membantunya membalas dendam terhadap Steelheart, membunuh Epic terkuat yang menguasai kota Newcago?

Kesimpulan:
Struktur cerita dan dunia dalam buku ini lebih sederhana dibandingkan serial Brandon Sanderson lainnya yang menjadi favoritku, Mistborn. Mungkin karena buku ditujukan untuk pembaca YA, sehingga penulisannya dibuat supaya lebih mudah dicerna? Kekuatan yang dimiliki para Epic pun standar sebagaimana halnya cerita komik superhero, tidak serumit sistem kekuatan Allomancy, Hemalurgy, atau Feruchemy misalnya, yang memerlukan kamus tersendiri sebagai panduan bagi pembaca.

Sebenarnya, aku kurang suka membaca buku YA, apalagi yang genrenya sci-fi dystopia. Aku lebih suka universe di mana apabila orang-orang berkekuatan super ujug-ujug bermunculan dengan alasan apapun, mereka tetap terbagi secara berimbang baik dalam kekuatan maupun jumlah antara superhero dan supervillain. Seperti universe di komik/film Marvel dan DC, misalnya. Atau universe My Hero Academia. Atau universe One-Punch Man (meskipun untuk yang satu ini, kekuatan boga lakon dengan musuh-musuhnya nggak seimbang banget sih, hehehe).

Let them fight!!!

View all my reviews

Monday, November 30, 2015

Summer Knight

Judul : Summer Knight

Serial : The Dresden Files (Buku Ke-4)

Penulis : Jim Butcher

ISBN : 978-0-451-45892-6

Tebal : 446 halaman

Pertama kali dibaca : 4 November 2012

Dibaca ulang : 29 November 2015

Sinopsis:

HARRY DRESDEN -- WIZARD

Lost items found. Paranormal Investigations. Consulting. Advice. Reasonable Rates. No Love Potions, Endless Purses, or Other Entertainment

Ever since his girlfriend left town to deal with her newly acquired taste for blood, Harry Dresden has been down and out in Chicago. He can't pay his rent. He's alienating his friends. He can't even recall the last time he took a shower.

The only professional wizard in the phone book has become a desperate man.

And just when it seems things can't get any worse, in saunters the Winter Queen of Faerie. She has an offer Harry can't refuse if he wants to free himself of the supernatural hold his faerie godmother has over him--and hopefully end his run of bad luck. All he has to do is find out who murdered the Summer Queen's right-hand man, the Summer Knight, and clear the Winter Queen's name.

It seems simple enough, but Harry knows better than to get caught in the middle of faerie politics. Until he finds out that the fate of the entire world rests on his solving this case. No pressure or anything...


Dibaca ulang dalam rangka :

Tema Crime / Mystery
First Quote :

"Call me crazy, but lately I've been thinking that if something's too good to be true, then it's probably isn't. "

Review :

Mungkin bakal ada yang protes dan bilang, "Nggak salah nih? Novel Dresden Files kan genrenya urban fantasy, bukan cerita kriminal/misteri/detektif!"

I beg to differ.

Terlepas dari latar belakang dunia Harry Dresden yang penuh dengan sihir dan makhluk-makhluk supranatural, seperti kata iklan halaman kuningnya, Harry menjual jasa sebagai seorang penyidik. Paranormal Investigator, tepatnya. Meskipun kadang-kadang imbalan yang diterimanya kurang setimpal dengan risikonya. Atau kadang-kadang ia bekerja gratisan, dan bisa jadi hitungannya malah tekor.

Buktinya di buku keempat ini, Harry Dresden terpaksa bekerja sebagai penyidik tanpa bayaran untuk Mab, Queen of Air and Darkness. Monarch of the Winter Court of the Sidhe. Pendeknya, Winter Queen. Ratu Peri yang dingin dan sadis, dengan kecantikan non duniawi dan manusiawi.

Kenapa juga bisa bekerja gratisan? Well, ternyata dunia peri tidak beda jauh dengan dunia manusia. Di sana juga ada yang namanya debt purchasing alias anjak piutang. Harry berutang pada Lea, dan Mab membelinya dari Lea. Sesimpel itu, dan Mab langsung memiliki kuasa untuk memberi perintah dan berbuat ini-itu pada Harry.

Harry bisa bebas dari hutang selamanya, asal mau memenuhi tiga permintaan Mab. Hm, entah kenapa nasib Harry jadi mirip dengan jin lampu. Tapi meskipun awalnya Harry agak keberatan, ia akhirnya bersedia, asalkan ia boleh memilih permintaan mana yang bisa dipenuhinya.

Tugas pertama yang diminta Mab pada Harry-lah yang membawa kita pada misteri yang harus dipecahkan.

Korban : manusia, artis lokal Chicago bernama Ronald Reuel.
Kondisi : mati di bawah tangga dengan leher patah, polisi menduga karena kecelakaan.
Perintah Mab : cari pembunuhnya, dan temukan sesuatu yang dicuri dari si korban. Dan tentunya, selama bertugas, Harry memiliki kuasa sebgai utusan Mab.

Kedengarannya sederhana, tapi Harry tidak serta merta menerima. Hih, tahu sendiri kelakuan peri. Apalagi ratunya. Pasti ada tipu-tipu.

Sementara itu, insiden antara Harry dengan vampir Red Court telah menyulut perang terbuka antara para penyihir White Council dengan vampir Red Court. Tentu saja, Harry yang menjadi kambing hitam, diadili White Council dengan tuduhan utama sebagai penyebab terjadinya perang. Dan... bisa jadi White Council menyerahkan Harry pada Red Court sebagai salah satu cara untuk menghentikan perang!

Untungnya, Harry masih mendapat dukungan dari mentornya, Ebenezar, dan beberapa anggota senior White Council lain seperti Martha Liberty, Listens to Wind, dan Gatekeeper. Dan untungnya lagi (atau sialnya?), White Council sedang membutuhkan bantuan Winter Queen (mengingat Summer Queen memilih tidak terlibat urusan manusia dan vampir). Sepanjang Harry menjadi Utusan Mab dan sanggup memenuhi permintaannya, ia akan terbebas dari hukuman.

Semacam lolos dari mulut buaya dan masuk ke mulut singa, gitu.

Jadi, mau tidak mau Harry terpaksa memenuhi tugas pertama dari Mab.

Terus, kenapa juga kematian seorang manusia jadi perhatian seorang ratu peri yang berkuasa seperti Mab? Kenapa Harry harus repot-repot mencari tahu siapa pembunuhnya? Dan barang curian apa yang harus ditemukannya?

Ternyata korban pembunuhan itu bukan manusia biasa, tapi manusia yang dipilih oleh Summer Queen untuk menjadi tangan kanannya, alias Summer Knight (hence the title). Tugas Harry adalah membuktikan bahwa pembunuhan itu bukan didalangi oleh pihak Winter Queen. Salah sedikit saja, bakal timbul perang lagi, kali ini antara peri Summer dan Winter!

Hm... kurang apa lagi novel ini?

A war between wizards and vampires? Checked.
A war between Summer and Winter faeries? Checked.
Harry Dresden trapped and struggled his way out of the whole mess? Checked.

Good god. What a fun read!  

P.S.
Dunia Harry meluas dan akan semakin meluas. Dan percayalah, dunia peri tidak sekedar hiasan di Dresdenverse!!!


Saturday, January 10, 2015

Dreamsongs: A Rretrospective

Penulis: By George R.R. Martin

Penerbit : Gollancz, Great Britain

Book 1 : ISBN: 978-0-75289-008-1, 
Halaman: 656
Harga beli: Rp. 30.000,-
Tanggal beli: 29 Mei 2014

Book 2 : ISBN 978-0-75289-008-1
Halaman: 736
Harga beli: Rp. 69.000,-
Tanggal beli: 03 November 2013


Kedua buku bantal ini termasuk yang kubabat dari timbunan pada awal tahun baru ini. Yay, ini bisa diikutkan Read Big Challenge mestinya :) 

Alasan aku membeli kedua buku ini
1. Penulisnya. 
Rasanya cukup jelas, mengingat aku suka banget serial A Song of Ice and Fire yang sayangnya entah kapan bakal tamat. Semoga beliau diberikan kesehatan dan mood yang baik untuk dapat menyelesaikan masterpiece-nya. Amin.

2. Covernya.
Keren banget. Nget. 'Nuff said.

3. Harga banting
Kedua buku ini kudapat di lapak obral Periplus dalam dua bazar yang berbeda. Yang kudapat duluan malah buku keduanya, yang kubeli waktu IBF 2013. Buku pertamanya kudapat dengan harga lebih miring lagi pas JBF 2014.

4. Penasaran dengan karya-karya lain GRRM selain serial ASOIAF dan Wild Cards.

Review
Sejak aku membeli dan menyampul kedua buku ini, aku sama sekali tidak pernah menyentuh apalagi membuka-buka isinya seperti apa. Iyaa, sosok fisiknya yang gendut memang membuat tangan enggan menjamah sewaktu sedang mengobok-obok timbunan mencari bahan bacaan berikutnya. Yang aku tahu, isinya kumpulan cerpen/novela GRRM, dan salah satunya semacam prekuel dari serial ASOIAF.

Ternyata... Kumcer ini dibagi dalam bab-bab yang selalu diawali dengan memoir GRRM tentang catatan perjalanan sejarahnya sebagai penulis (ini menjelaskan kenapa ada subjudul A Rrestropective). Dan... aku malah jauh lebih menyukai memoir bersambung ini ketimbang kumpulan cerpen/novela-nya itu sendiri :)

Bagi yang mengira GRRM adalah spesialis penulis fantasy-epic seperti ASOIAF, dengan membaca kumpulan karya awalnya ini akan mengetahui bahwa ia tidak menulis dalam satu genre saja. Selain cerita fantasi, ia juga menulis cerita horor, thriller dan sci-fi, malah waktu remaja, sebagai penggemar komik superhero, ia menulis cerita superhero juga. Pada tahun kedua kuliah jurnalisme, dalam mata kuliah Sejarah Skandinavia ia malah menulis paper  dalam bentuk cerpen. Dapat nilai A lagi!

Dreamsongs Buku 1 mencakup cerpen/novela GRRM di masa awal-awal ia berkarya. Setiap bab memoir diikuti dengan beberapa karyanya yang ditulis pada tahapan karir kepenulisan yang dikisahkannya. Misalnya dalam Bab 1: A Four Color Fanboy, mencakup cerpen Fortress, yang merupakan paper/cerpen dari mata kuliah Sejarah Skandinavia-nya.

Ada lima bab dalam buku ini, termasuk kumpulan karya-karya yang pertama kali dibeli dan diterbitkan oleh majalah, yang membuat GRRM akhirnya memutuskan menjadi penulis full-time. Apalagi ternyata meskipun lulus dengan magna cum laude, cari kerja itu susah, Jenderal.

Khusus untuk cerpen-cerpen di buku ini, aku cenderung lebih menyukai yang bergenre Sci-fi ketimbang genre-genre lainnya.

Dreamsongs Buku 2 mencakup cabang karirnya yang merambah Hollywood sebagai penulis dan produser program televisi, sehingga termasuk dalam karya-karya yang dijejalkan di buku ini adalah salah satu naskah episode Twilight Zone. Ada pula naskah pilot Doorways yang gagal menjadi serial TV. Sayang juga sih, Padahal premis ceritanya mirip-mirip Sliders, karena tokoh-tokohnya bisa jalan-jalan ke dunia lain. Berat biaya produksinya karena settingnya terus berubah, mungkin?

GRRM yang belum melupakan mimpi masa kanak-kanaknya menulis cerita superhero belakangan menciptakan konsep serial cerita (serta mengkompilasi dan mengedit ) Wild Cards yang ditulis oleh para anggota Wild Cards Consortium yang bejibun banyaknya. Tapi tentu saja yang dimasukkan ke Buku 2 ini cerpen-cerpen yang merupakan buah karya GRRM selaku kontributor.

Dan terakhir, yang kucari-cari memang novela yang masih satu universe dengan serial ASOIAF: The Hedge Knight: A Tale of the Seven Kingdom, dengan tokoh utama Dunk alias Ser Duncan the Tall, dengan setting beberapa generasi sebelum ASOIAF.








Sunday, October 26, 2014

Academ's Fury

Academ's Fury (Codex Alera, #2)Academ's Fury by Jim Butcher
My rating: 4 of 5 stars

OK.

Ternyata harapanku terkabul. Kisah Tavi si shepherd apprentice dari Lembah Calderon ternyata berkembang menjadi lebih baik pada buku kedua.

This second book is better than the first. Trust me. 

Berkat jasanya pada Perang Calderon Kedua, di mana ia berhasil mencegah usaha kudeta salah seorang High Lord Alera, Tavi dapat masuk ke akademi di ibukota dengan jaminan dari Gaius Sextus, First Lord Alera, yang menjadi patronnya. Padahal, akademi di Alera Imperia itu seharusnya hanya bisa dimasuki oleh kalangan elit yang disebut Citizen. Iyaaa... sistem kasta di Alera sedikit banyak memang mirip dengan Imperium Romawi. Kasta tertinggi memang Citizen, yang berada di atas rakyat merdeka, sementara yang terendah adalah kalangan budak. Dan Citizen adalah kasta warrior dengan bakat furycraft yang tinggi.

Tavi yang tidak bisa furycraft sama sekali jelas salah tempat di akademi, kalau di dunia Harry Potter ibarat seorang squib yang entah kenapa bisa masuk Sekolah Sihir Hogwarts. Jelasnya, seperti waktu di kampungnya, Tavi pun di-bully habis-habisan di akademi. Warga Alera yang tidak bisa furycraft? Freak! Bisa masuk akademi paling-paling karena KKN, mentang-mentang page-nya First Lord Alera!

Untungnya, Tavi mendapat beberapa sahabat karib, seperti Ehren dan Maximus. Dan untungnya lagi, Tavi tidak semata-mata belajar di akademi, ia juga menjalani pendidikan sebagai Cursor, alias agen rahasia Alera. Ini agak luar biasa sebenarnya, karena pada umumnya seorang Cursor juga mestinya memiliki furycraft yang luar biasa.

Ujian bagi Tavi di sini adalah ketika Gaius Sextus roboh dan koma karena terlalu banyak menggunakan kemampuannya untuk melindungi Alera. Bisa berbahaya kalau sampai kondisi kesehatan Gaius diketahui umum, karena bisa menciptakan instabilitas dan memberi peluang bagi para pengkhianat yang ingin menggulingkannya dari kedudukan First Lord.

Dan seperti halnya di buku pertama, novel ini tidak hanya berpusat pada Tavi, melainkan juga pada tokoh-tokoh lain seperti kisah paman Tavi, Bernard, dan Cursor Amara, yang bekerja sama dengan klan Marat untuk menumpas serbuan musuh yang sama sekali baru dan berbahaya, kaum Vord, yang mirip koloni belalang. Tidak lupa bercerita juga tentang bibi Tavi, Isana, yang malah menyeberang ke pihak musuh demi melindungi Tavi.

Seperti halnya Dresden Files, Jim Butcher gemar membuka latar belakang tokoh utamanya sedikit demi sedikit, meskipun dari judul-judul serial ini, yang ternyata spoiler habis, kita akan bisa menebak jalur karir Tavi dari buku ke buku, termasuk latar belakangnya!

Ah, well, meskipun predictable, yang penting dari sebuah cerita adalah bagaimana cara menceritakan sebuah kisah, dan Jim Butcher memang jago banget di situ. Kita bisa membayangkan setting Alera Imperia yang bak Kota Roma di zaman Julius Caesar, bisa membayangkan sistem kastanya yang dibagi berdasarkan kemampuan untuk mengendalikan kekuatan alam, sampai dapat membayangkan jalan pertempuran yang merupakan kombinasi antara permainan pedang dan furycraft!

Setting serial ini yang Romawi banget dan furycraft-nya, entah kenapa malah mengingatkanku pada manga Full Metal Alchemist yang Jerman banget dengan alchemy-nya. Namun yang paling penting adalah tokoh utama buku ini, yang karena sejak kecil tidak punya kemampuan furycraft seperti orang lain, jadi lebih mengandalkan kecerdikannya untuk mengalahkan musuh.


View all my reviews

Sunday, October 12, 2014

Furies of Calderon

Furies of Calderon (Codex Alera, #1)Furies of Calderon by Jim Butcher
My rating: 3 of 5 stars

Aku membeli buku ini hanya karena nama pengarangnya, Jim Butcher. I love his Dresden Files Books.

Premisnya sebenarnya menjanjikan. Realm dunia fantasi Alera mengambil setting yang menyerupai zaman Romawi / Celtic kuno, dengan tambahan tokoh-tokohnya bisa memanggil makhluk yg disebut fury, yg bisa dibilang element based.

Unsur fantasy yg klise? Yap. Ditambah ada akademi buat para pemilik kekuatan. It's so... common.

Tapi ini baru buku pertama. Well, even Dresden Files menggunakan tema yang cukup sering digunakan, tapi setelah buku pertama, progres storytellingnya luar biasa.

Kuharap di buku-buku selanjutnya, kisah Tavi si penggembala kambing ini bisa berkembang dengan progres yang sama mengejutkannya dengan kisah Harry Dresden.

Habisnya, aku sudah terlanjur beli buku-buku sekuelnya juga...

View all my reviews

Thursday, March 13, 2014

How to Build an Imaginary World a la Westerfeld

The Manual of Aeronautics: An Illustrated Guide to the Leviathan SeriesThe Manual of Aeronautics: An Illustrated Guide to the Leviathan Series by Scott Westerfeld
My rating: 4 of 5 stars

Pernah membaca serial Leviathan-nya Scott Westerfeld? Selain dari ilustrasi sketsa hitam putih yang menghiasi lembaran bukunya, terbayang tidak sih bagaimana wujud para makhluk dan mesin fantastis yang menjadi andalan kubu Darwinist maupun Clanker?

Scott Westerfeld sangat detail ketika berusaha membangun dunia Leviathan. Bekerja sama dengan ilustrator Keith Thompson, ia merancang secara presisi apa saja yang ada dalam imajinasinya. Seperti apa dimensi mesin fantastisnya? Bagaimana seragam dan senjata pasukan tentara Inggris, Jerman, Turki, Rusia, dan Austro-Hungaria? Ribuan detail yang mungkin terlewatkan dalam adegan tertulis harus ditetapkan. Dan semua hal penting itu akhirnya menjadi buku tersendiri.

Buku ini kuperoleh waktu iseng berselancar di bagian bargain books salah satu toko buku impor online. Buku hardcover dengan harga cuma 30k, illustrated guide-nya serial Leviathan pula? Dan waktu mengecek harga aslinya di toko buku impor online yang lain, harga aslinya ternyata mencapai 236k? KLIK! Meskipun ternyata buku hardcover ini hanya terdiri dari 54 halaman yang habis dibaca kurang dari setengah jam, semua ilustrasinya menjadi pengimbang yang tiada tara :)

Baiklah, kuberi beberapa teaser yang asyik:

The characters
The Leviathan, dari luar dan dalam
Gondola. Perhatikan detail dapur, kabin kapten, mess perwira, sampai kamar mandi
Anjungan Leviathan
Seragam di Leviathan

Stormwalker
Ilustrasinya kereeen! Rasanya nggak rugi beli buku ini dengan harga banting (ya iyalah...).

WARNING: Buku ini memiliki efek samping yang berbahaya buat kesehatan dompet Anda.

Aku jadi ngiler kepingin membeli boxset serialnya! Duh!

View all my reviews

Wednesday, February 19, 2014

All You Need Is Read This Book!

All You Need Is KillAll You Need Is Kill by Hiroshi Sakurazaka
My rating: 5 of 5 stars

I must say that I really love this book.

Meskipun memang pada awalnya aku tertarik baca light novel ini hanya karena penasaran saja. Mengapa juga sampai penasaran? Simply karena salah satu mangaka favoritku, Takeshi Obata (Hikaru No Go, Death Note, Bakuman), membuat versi manganya.

Nice artwork, as expected of Obata-sensei
Baru setelah itu aku ngeh, bahwa versi manga All You Need Is Kill (sebut saja AYNIK) ini diterbitkan di Weekly Shonen Jump Jepang dan Amerika karena untuk menyambut perilisan versi filmnya yang konon bakal tayang mulai tanggal 6 Juni 2014. Buat yang belum tahu, judul filmnya Edge of Tomorrow, dan dibintangi oleh Tom Cruise dan Emily Blunt.
Gimana mau ngeh kalo film ini based on AYNIK, judulnya aja beda banget.
And I don't really care about Tom Cruise's movie projects
Jadi... seperti apa sih cerita novel ini?

Cover buku, gambar Obata-sensei dan poster film di atas jelas menunjukkan: perang, prajurit yang mengenakan armor exoskeleton, dan kematian di medan perang. Tapi tagline poster Edge of Tomorrow jelas mengungkapkan alur cerita AYNIK dengan akurat: LIVE. DIE. REPEAT.

Q: Tunggu, tunggu, kok kayak main game banget sih?

Tepat sekali. Karena sebagaimana dituturkan Hiroshi Sakurazaka di bagian afterword, inspirasi novel ini memang berasal dari pengalaman bermain game. Kita menyelesaikan suatu game bukan dengan sekali main, dan bukan karena kita sudah jago dari awal. Tapi karena setiap kali bermain, lalu avatar kita mati, dan ketika permainan mulai dari awal lagi, kita belajar dari pengalaman sebelumnya. Kita bermain sekaligus melatih jurus dan trik dalam kesempatan berikutnya, lantas mati lagi, reset, dan kembali menyempurnakan jurus dan trik dalam kesempatan berikutnya.

Meskipun aku tidak gape main game, menganggapnya wasting time, dan jelas lebih suka menghabiskan waktu luang untuk membaca buku, pengalamanku bermain game Prince of Persia pakai floppy disk 5.25 inci (zaman kapan tuuuuuh?) yang tidak bisa di-save pada level terakhir si pangeran mati kena bacok dan selalu balik lagi ke level 1, membuatku bisa memahami konsep yang ditawarkan penulis novel ini.
Let's hope this time is better, Prince!
Buat generasi sekarang, mungkin main Flappy Bird yang bikin galau dan stres sejuta umat saat ini bisa menjadi contoh betapa nyeseknya kalau harus memulai kembali game dari awal banget :)
Are you ready to get start again?

Q: Lalu, bagaimana kalau kita mengalami hal serupa di dunia nyata?

Keiji Kiriya, prajurit hijau United Defense Force, tewas tak lama setelah ia terjun dalam pertempuran pertamanya melawan pasukan alien yang disebut dengan nama Mimics. Namun, ia hidup kembali pada satu hari sebelum pertempuran. Pada kehidupan keduanya, ia menganggap apa yang dialaminya cuma mimpi belaka. Tapi ketika ia mulai merasa deja-vu karena semua hal berlangsung persis seperti mimpinya, lalu ia kembali bertempur dan kembali tewas, lantas kembali bangun pada satu hari sebelum pertempuran... Keiji sadar bahwa ia mengalami time-loop, dan bahwa nasibnya tidak terelakkan, bahwa ia akan kembali merasakan kematian.

Lalu, bagaimana cara Keiji mencoba menghindari nasib mengenaskan di medan perang? Pada kehidupan ketiga, ia langsung melakukan desersi, kabur jauh-jauh dari markas. Tapi toh tetap mati, dan hidup lagi. Pada kehidupan keempat, begitu bangun ia langsung pinjam pistol dan bunuh diri. Tidak ada gunanya. Ia tetap bangun lagi satu hari sebelum pertempuran pertamanya.

Pada kehidupan kelima, ia menyerah pada takdirnya untuk terus mengulang kematian. Tapi di saat yang sama, ia bertekad untuk melawan takdirnya dengan melatih diri untuk pertempuran berikutnya, agar lebih siap, dapat bertahan hidup lebih lama, dengan harapan semakin terlatih semakin besar kemungkinan untuk menang dalam pertempuran dan tidak ada lagi alien yang bisa membunuhnya. Toh, ia punya banyak waktu...

Dalam mengasah kemampuannya dari hari ke hari, Keiji mengacu pada Rita Vrataski, prajurit andalan US Special Forces yang membantu UDF mempertahankan garis pantai Jepang dari invasi Mimics. Terkenal dengan julukan Full Metal Bitch atau Mad Wargarita, meskipun usianya tak jauh beda dengan Keiji, Rita Vrataski adalah prajurit veteran yang sanggup membunuh lebih dari 100 Mimics dalam satu pertempuran. Dengan melatih diri sangat disiplin, mempelajari dan mempraktekkan cara bertempur Rita, bahkan sampai ikut menggunakan battle-axe yang lebih efektif dalam membunuh Mimics, lama kelamaan Keiji berubah dari prajurit yang tidak tahu apa-apa menjadi prajurit veteran dengan level kemampuan tempur yang setara dengan gadis yang dikaguminya, dan mungkin pada akhirnya dicintainya...

Titik balik cerita dimulai pada kehidupan/pertempuran ke-158, di mana Keiji akhirnya mengetahui rahasia di balik time-loop yang dialaminya...

Sebagian besar cerita dituturkan dari sudut pandang Keiji Kiriya, sehingga kita bisa mengetahui apa saja yang berkecamuk dalam hati dan pikirannya, baik pada saat berada di medan tempur, pada saat sekarat, pada saat mengutuk para jenderal yang seenaknya memberikan latihan fisik sebagai hukuman atau berada di tempat aman selagi para prajurit berguguran, atau pada saat mengapresiasi kelebihan lawan jenis. Sebagian cerita dituturkan dengan sudut pandang orang ketiga pada saat fokus cerita beralih pada masa lalu dan latar belakang Rita Vrataski. Tapi kurasa itu wajar saja, karena dalam time-loop yang berkisar 30 jam, tidak ada waktu bagi Keiji untuk mengetahui masa lalu Rita, sehingga pembaca juga tak akan mendapat gambaran utuh tentang karakter yang "baru dikenal sebentar" kalau hanya mengandalkan sudut pandang Keiji. Dalam sudut pandang dewa ini juga, penulis berusaha menceritakan latar belakang Mimics, sehingga pembaca mendapatkan gambaran utuh tentang apa dan bagaimana lawan yang berusaha memusnahkan seluruh umat manusia dari muka bumi itu.

Q: Reset lebih dari 150 kali? Apa tidak bikin bosan, tuh?

Kalau Keiji Kiriya bosan setengah mati mengulang hari, itu sudah pasti. Tapi tidak bagi pembaca. Variasi cerita berdasarkan tindakan yang dipilih serta pace cerita yang cepat dan memacu adrenalin akan mengikat pembaca untuk mengetahui perkembangan Keiji dan bagaimana caranya mengakhiri time-loop yang dialaminya. Pembaca juga tidak usah khawatir dibawa mengikuti setiap kehidupan Keiji. Cerita bisa melompati puluhan kehidupan, karena Keiji menyusun jadwal yang ketat sehingga pembaca bisa tahu rutinitasnya selama puluhan kehidupan, namun tetap mengetahui setiap variasi baru kala Keiji mencoba suatu hal baru untuk memperbaiki kinerjanya.

Setelah menyukai versi novel dan manga AYNIK (baru rilis 6 bab, baru sampai kehidupan ke-158, tapi aduh keren banget artwork-nya, bikin nggak sabar untuk membandingkan dengan novelnya!), sekarang aku malah khawatir akan versi filmnya. Bukan apa-apa, tapi pemilihan cast-nya itu lho. Ini cerita tentang prajurit rookie kinyis-kinyis yang nggak tahu apa-apa tentang perang sampai jadi veteran di hari pertempuran pertamanya! Lah, ini Keiji Kiriya versi Amrik-nya (Bill Cage, Keiji = Cage) sudah tua, berpangkat letkol, dan wajarnya sih sudah veteran gitu lo. Belum lagi armor tempur yang seharusnya canggih terlihat sederhana banget dibandingkan apa yang digambarkan dalam novel dan manga (apakah takut mirip dengan armor Iron Man, kali ya?).  Damn. Please don't ruin this story for me, Cruise cs!

Akhir kata, losing your life is not the worst thing that can happen. The worst thing is to lose your reason for living. Dan iya, this quote is not mine, but Jo Nesbo's.

View all my reviews

Monday, August 12, 2013

Farmer Giles of Ham by J.R.R. Tolkien

Petani Penakluk NagaPetani Penakluk Naga by J.R.R. Tolkien
My rating: 4 of 5 stars

"Tahu buku Farmer Giles of Ham-nya J.R.R. Tolkien, nggak?"

Kalau pertanyaan itu dilontarkan padaku sebelum aku menemukan (dan membeli) buku seri Kancil terbitan PT Gramedia (tanpa embel-embel Pustaka Utama) tahun 1980 (bentar, itu berapa tahun lalu ya? *ambil kalkulator*) ini di salah satu toko buku bekas di Plaza Semanggi, mungkin aku akan menjawab dengan gaya lebay Jaja Miharja: "Hah? Apaan tuuuh?" lengkap dengan mata menyipit, dahi berkerut, dan mulut manyun (Oke, ini gaya yang sangat tidak disarankan karena bikin cepat tua). Sepanjang pengetahuanku (yang terbatas), buku-bukunya Tolkien hanya trilogi The Lord of the Rings, The Hobbit, dan The Silmarillion. Dari buku-buku tersebut, cuma buku terakhir yang belum kubaca.

Kalau kemudian pertanyaan yang sama kulontarkan pada teman-teman sesama pembaca buku, kebanyakan memang menjawab tidak tahu. Lantas, setelah mengecek statistiknya di Goodreads, kudapati kenyataan yang memang cukup menyedihkan. Pada saat aku menulis review ini, kondisinya seperti ini:
- The Hobbit: 1,1 juta rating, 21.611 review
- The Fellowship of the Rings: 863 ribu rating, 7.932 review
- The Two Towers: 277 ribu rating, 3.472 review
- The Return of the King: 269 ribu rating, 3.404 review
- The Simarillion: 82 ribu rating, 3.138 review

Dan Farmer Giles of Ham (diterjemahkan Gramedia menjadi Petani Penakluk Naga)...... jreng-jreng-jreng ... 2.539 rating dan 82 review!!!

Heuh? Apakah buku ini sedemikian langkanya? Atau mereka yang sudah pernah membaca buku ini memang kebetulan belum bergabung di Goodreads?

Padahal, setelah membaca buku ini, aku merasa buku ini lebih enak dibaca, lebih ringan, dan lebih mudah dipahami daripada buku terjemahan seri Middle-Earth yang lebih asyik ditonton dalam versi filmnya. Tapi... mungkin karena buku ini memang termasuk buku anak-anak sih. Mana tipis lagi. Semula kukira terbitan Gramedia ini terjemahan dari versi abridged-nya, tapi ternyata sudah full version walaupun cuma 112 halaman, mengingat edisi lain berkisar antara 64 s/d 144 halaman.

Buku Farmer Giles of Ham merupakan fabel jaman Medieval yang ditulis J.R.R. Tolkien pada tahun 1937 dan diterbitkan pada tahun 1949. Tokoh utamanya seorang petani bernama Aegidius Ahenobarbus Julius Agricola de Hammo, dengan nama panggilan Giles. Masalah panjangnya nama si tokoh utama ini dibahas secara kocak. Konon pada masa itu nama orang umumnya panjang-panjang, semakin panjang semakin tinggi martabatnya. Maka orang yang ingin dianggap punya martabat tinggi tinggal memakai saja nama yang panjang! Membaca bagian ini, mau tidak mau aku jadi teringat kebiasaan orang Indonesia sekarang yang senang memberi nama panjang buat anak-anaknya. Semakin panjang, semakin asing dan susah dilafalkan, dianggap semakin keren. Padahal di masa depan pasti bakal menyusahkan kalau si anak ikut ujian yang mewajibkan dituliskannya nama lengkap. Dan padahal ujung-ujungnya panggilan sehari-hari yang melekat biasanya pendek dan kurang keren, Dedek atau Neneng misalnya :)

Giles ini bisa dibilang accidental hero. Ia tidak sengaja menjadi pahlawan desa karena berhasil mengusir raksasa yang sedang mengacak-acak desa dan tanah pertaniannya dengan senapan lantak miliknya. Itu pun si raksasa tidak sadar kena tembak, dikiranya cuma kena gigitan serangga, yang membuatnya pulang karena menganggap daerah yang dikunjunginya kurang baik bagi kesehatan. Mendengar prestasinya, Raja pun memberikan surat penghargaan disertai sebilah pedang panjang warisan leluhur. Omong-omong, tanda tangan sang Raja di akhir suratnya sangat panjang, sebagai berikut: EGO AUGUSTUS BONIFACIUS AMBROSIUS AURELIANUS ANTONIUS PIUS ET MAGNIFICUS, DUX REX, TYRANNUS, ET BASILEUS MEDITERRANEARUM PARTIUM, SUBSCRIBO. Iyaa, semakin panjang nama, semakin tinggi martabatnya :)


Masalah muncul ketika si raksasa yang pulang kampung membual dengan hebohnya tentang negeri yang indah, banyak makanan yang tinggal ambil saja, sapi dan kambing ada di mana-mana, tidak ada manusia, kekurangannya paling-paling beberapa ekor serangga penyengat. Berita ini, khususnya tentang tidak ada atau jarangnya manusia, sangat menarik bagi para naga, yang pada zaman dahulu kala sering diburu para ksatria kerajaan. Tapi hanya seekor naga yang benar-benar menapak tilas perjalanan wisata kuliner si raksasa, yaitu Chrysophylax.

Dan waktu Chrysophylax merajalela, para ksatria kerajaan enggan bertindak dengan berbagai alasan. Apalagi waktu itu hari Natal sudah tiba dan pada Hari Santo Johannes bakal diselenggarakan pertandingan olahraga besar-besaran. Pokoknya para ksatria sibuk, tidak punya waktu memburu naga sebelum pertandingan berakhir! Para penduduk yang putus asa pun mulai mengharapkan bantuan Giles si pahlawan. Namanya pahlawan kebetulan, Giles tidak senang dan tidak mau dipaksa memburu si naga. Dengan berbagai alasan, ia berusaha menghindar, tapi belakangan terpaksa menghadapi takdirnya.

Lantas, apakah Giles bisa mengalahkan Chrysophylax? Judul versi terjemahan Indonesianya jelas memberikan jawaban atas pertanyaan itu :)

Kisah ini dituturkan secara ringan dan kocak, dan menjadi parodi dari dongeng ksatria penakluk naga pada umumnya. Sementara para ksatria kerajaan kocar-kacir menghadapi naga, si petani mendadak pahlawan malah bisa menundukkan naga dan menyita harta karunnya. Belakangan, waktu Raja ingin merebut pampasan perangnya, si petani malah membangkang dan mendirikan kerajaan dalam kerajaan! Yah, novel tipis ini memang boleh dibilang biografi mini dari seorang petani yang menjadi raja pertama di Kerajaan Kecil.

Sudah lewat 33 tahun sejak versi terjemahan buku ini terbit di Indonesia. Pertanyaannya adalah, apakah akan terbit versi cetak ulangnya sebagaimana trilogi LOTR dan The Hobbit yang sudah cetak ulang berkali-kali?

N.B. Sedianya review ini dimaksudkan untuk posting bareng BBI untuk kategori buku cerita anak pada bulan Juli 2013 kemarin. Namun apa daya, faktor M lebih berjaya. Tapi akhirnya, aku merasa perlu menuliskan review ini, minimal untuk sekedar sharing informasi kepada teman-teman pembaca Tolkien yang mungkin belum memiliki kesempatan untuk membaca buku kecil ini.


View all my reviews