Thursday, December 31, 2015

HERO!!! (A One-Punch Man Review)





Title : One-Punch Man


Story by : ONE

Art by : Yusuke Murata

Volume : 1 - 10 (Ongoing)

First time read : 3 April 2015

Reread : November - December 2015

Final Verdict: 

5 of 5 Punches!!!

First of all, aku pertama kali membaca manga ini bukan karena rekomendasi dari siapapun atau manapun. Patut disesalkan, aku benar-benar tidak mengetahui keberadaan manga ini sampai awal tahun 2015. Waktu itu aku baru selesai membaca ulang manga Eyeshield 21 (entah untuk yang keberapa kalinya) dan menonton ulang seluruh episode animenya. Yang kusukai dari Eyeshield 21 bukan hanya ceritanya (yang membuatku rada melek aturan main american football), tapi juga artwork-nya. Entah kenapa aku mendadak kepingin membaca manga lain yang gambarnya juga ditukangi oleh Yusuke Murata. Kalau ada.

Ternyata memang ada. Cukup mencari sebentar di Goodreads, ketemu deh serial yang masih ongoing ini. Setelah mengecek ratingnya yang di atas 4 dan membaca sekilas beberapa review, aku berhasil diyakinkan bahwa manga ini minimal sama menariknya dengan Eyeshield 21.

And you know what, keyakinan itu ternyata terbukti benar!

Sebagai pembaca setia shonen manga serta komik superhero, dapat dikatakan aku langsung mentasbihkan bahwa manga yang merupakan satire (atau parodi?) dari genre yang kugemari ini sebagai salah satu bacaan favoritku tahun ini. Karenanya, tidak lengkap kalau aku tidak menutup tahun ini dengan mengomentarinya, walaupun sedikit saja.

Lalu, apanya sih yang menurutku menarik dari serial ini?


1. The Story

Aslinya, manga ini berupa webcomic yang di-upload secara indie oleh mangaka dengan nama pena ONE di site pribadinya, dengan artwork yang ala kadarnya, bahkan boleh dibilang masih berupa sketsa kasar atau name. Konon ONE membuatnya secara iseng, sebagai hobi, just to entertain himself.

Tapi ternyata, meskipun cuma komik iseng dan dibuat suka-suka, banyak orang yang membaca dan menyukainya. Jadi, sudah pasti yang membuat orang terpikat adalah ceritanya.


One-Punch Man (selanjutnya kita sebut OPM) bertutur tentang seorang hero yang sangat tidak standar. Dengan nama yang merupakan plesetan dari Anpanman--serial komik/anime anak-anak yang terkenal di Jepang (cara membacanya hampir mirip: Wanpanman, dan kostumnya pun mirip cuma terbalik warna merah dan kuningnya saja), 
penampilan sang hero sungguh biasa-biasa saja. Saking tidak menonjolnya, siapapun yang melihat pasti cenderung memandang enteng, atau mungkin tidak merasakan keberadaannya,

Tapi... memang ada tapinya.

Plot cerita manga ini tidak menggunakan pakem shonen-manga/komik superhero/cerita silat yang klise saking terlalu sering di-copy/paste. Tidak ada cerita perjalanan hidup yang panjang dan lama, yang mengisahkan sang hero berjuang mati-matian melatih diri demi menjadi kuat dan sanggup mengalahkan lawan demi lawan yang makin lama makin sakti mandraguna.

Sejak bab pertama kita sudah disuguhi hero yang sanggup mengalahkan monster cukup dengan sekali pukul.


Wan paaaaaaaanch!!!
Yap, premis ceritanya memang persis seperti judulnya. Literally.

Di dunia antah berantah di mana makhluk super--baik hero maupun villain--berkeliaran, hiduplah seorang hero yang dapat mengalahkan musuhnya hanya dengan satu pukulan saja. Sangat kuat, overpowered malah. The strongest man alive.


Kalau cuma membaca judul dan premisnya saja, pasti ada saja (calon) pembaca yang langsung mengkritisi: "Lho, apa serunya cerita tentang jagoan yang pasti selalu menang dengan satu pukulan? Apa nggak membosankan, tuh?"

That's the point.


Manga ini bercerita tentang hero yang saking kuatnya sampai tak ada lawan, dan merasa frustrasi saking bosannya. Waktu masih lemah, ia memang bercita-cita menjadi hero yang bisa mengalahkan musuh sekali pukul, tapi setelah cita-citanya tercapai, tidak ada lagi tantangan yang bisa membuat adrenalin terpacu. Menjadi orang terkuat sejagad raya ternyata membosankan.

Jangan kuatir, meskipun premisnya seperti itu, pembaca takkan mati bosan membaca manga ini. Cara ONE merangkai cerita seputar seorang overpowered hero, dengan meledek keklisean genre shonen-manga/komik superhero yang diusungnya, malah bakal membuat pembaca mati ketawa.

Premis bahwa sang hero (yang seperti klisenya bakal muncul belakangan) pasti menang mudah memang sudah given. Tapi meskipun itu running gag utama, yang lebih menarik adalah cerita tentang kehidupan sehari-hari sang hero atau interaksinya dengan karakter sampingan yang bakal terus bermunculan mengganggu privasinya.

Semakin lama, dengan meluasnya pergaulan sang hero, jalan cerita setiap arc semakin tak bisa ditebak dan membuat pembaca semakin penasaran menunggu kelanjutannya.



2. The Artwork

Webcomic ONE mampu memikat jutaan penggemar, termasuk Yusuke Murata, yang jadi ngidam berat kepingin membuat ilustrasinya. Melalui twitter ia mengajak ONE berkolaborasi, dan gayung pun bersambut. Cerita di balik layar bagaimana komik ini bisa menjadi versi manga resmi yang ada sekarang ternyata penuh drama, yang tadinya kukira cuma bisa terjadi di manga Bakuman saja.

Artwork Yusuke Murata yang sangat detail dan rumit sanggup membawa cerita ONE ke level yang lebih tinggi, sehingga menarik perhatian lebih banyak pembaca yang mungkin semula malas membaca karena ilfil duluan pada artwork originalnya.

Jalan cerita OPM versi manga sangat setia pada sumbernya, begitu pula panel-panelnya. Pembaca yang membaca kedua versi bisa membandingkan secara langsung adegan yang sama. Jelas, karena versi webcomic dapat berfungsi sebagai name bagi versi manga.

Contohnya beberapa panel awal di bab pertama. Dari gambar original seperti ini:


Menjadi gambar yang detail dan mewah seperti ini:

Atau gambar one-punch pertama di atas menjadi begini :


Belum lagi kalau Murata-sensei sedang asyik bereksperimen dengan gaya animasi. Ia bisa menghabiskan berlembar-lembar halaman hanya untuk menggambarkan satu adegan saja. Walhasil, apabila panel-panelnya dibuat gif, bisa jadi adegan animasi pendek.

Seperti ini :

Atau ini :

Atau ini:

Atau ini:

Sayangnya, eksperimen Murata-sensei yang ngabis-ngabisin halaman ini hanya ada pada versi awal yang dirilis di website Young Jump Web Comics. Begitu dijadikan tankobon yang jumlah halamannya terbatas, Murata-sensei merevisi panel-panel mewah ini menjadi cuma satu-dua panel standar *nangis darah di pojokan*

Ngomongin artwork dari ilustrator kelas dewa macam Murata-sensei begini nggak bakal ada habisnya (ini juga udah kepanjangan, neng!). Lanjut deh.


3. The Characters

a. The Main Character

My name is Saitama. I am a hero. My hobby is heroic exploits. I got too strong. And that makes me sad. I can defeat any enemy with one blow. I lost my hair. And I lost all feeling. I want to feel the rush of battle. I would like to meet an incredibly strong enemy. And I would like to defeat it with one blow. That's because I am One-Punch Man.

Backstory Saitama, sang OP hero, sejauh ini masih kurang jelas. Pembaca cuma diberi sedikit kilas balik ke masa tiga tahun lalu waktu Saitama masih lemah (tapi masih punya rambut), namun dengan susah payah mampu mengalahkan seorang (ekor?) monster. Setelah berlatih setiap hari selama tiga tahun sampai botak licin (menu latihannya biarlah tidak kuungkap di sini), ia menjadi hero karena hobi, untuk mendapatkan gairah dari pertarungan hidup mati. Tapi menjadi jagoan tanpa tanding membuatnya bosan dan depresi.

Murata-sensei mempertahankan chara-design ONE untuk tokoh utama ini. Selain sebagai homage buat versi asli, desain ini juga sangat cocok menggambarkan karakter Saitama yang polos, lempeng dan datar. Dan justru karena artwork Murata-sensei yang sangat wah dan detail, sosok Saitama jadi malah semakin menonjol.

Tapi tentu saja, chara Saitama yang polos datar kayak telur rebus kalau kondisinya sedang santai atau tanpa semangat. Tapi kalau kebetulan lagi serius, desain dan ekspresinya bisa langsung berubah drastis seperti ini:


Bukan cuma ekspresi, bahkan gambaran bentuk tubuh Saitama juga berubah drastis tergantung sikon. Murata-sensei selalu menggambar tubuh Saitama seperti karakter super-duper-biasa, tapi kalau sedang digambarkan serius, Saitama pun langsung memiliki superbody sebagaimana layaknya superhero XD

Karena itulah running gag lain dari karakter utama ini juga bahwa kebanyakan orang selalu meremehkannya karena penampilannya yang super-average. Hanya manusia yang beruntung masih hidup setelah berhadapan langsung dengan sosok aslinya (karena kalau monster sudah pasti bakal tewas) yang dapat mengakui (atau tidak sudi mengakui) kehebatannya.

Karakter Saitama sendiri sebenarnya tidak begitu suka bersosialisasi dan hidup bermasyarakat. Pada awal cerita ia cukup puas hidup sendirian sebuah apartemen kecil di kota hantu sembari sekali-sekali menjadi hero kala negara api monster menyerang. Tapi sejalan berkembangnya cerita dan semakin banyak kenalan baru, karakternya semakin berkembang. Dan justru interaksi antara karakternya yang antimainstream dengan banyak karakter lain itulah yang menjadi sumber lelucon yang tidak ada habisnya untuk digali, atau malah sumber drama yang bisa membuat pembaca geregetan setengah mati apabila sang hero mendapat perlakuan tidak adil dari para warga yang telah ditolongnya.


b. The Other Heroes

Kalau boleh dibandingkan, OPM Universe (OPMU) mungkin mirip dengan Marvel Universe (MU) pasca episode Civil War, di mana semua superhero yang terdaftar mempunyai wilayah kerja dan tanggung jawab masing-masing.

Bedanya, kalau di MU, semua superhuman wajib mendaftarkan diri, karena kalau tidak mau akan diburu, dianggap penjahat, dan dipenjara. Sedangkan di OPMU, hero yang mendaftarkan diri adalah mereka yang ingin diakui sebagai hero (dan seperti di MU, lumayanlah bisa dapat gaji bulanan dari sumbangan masyarakat). Hero yang tidak terdaftar sangat berisiko tidak dikenal, bahkan prestasinya malah bisa dicatut atau diakui oleh hero yang terdaftar dan kebetulan ada di lokasi.

Hero Association di OPMU terdiri atas ratusan hero yang dibedakan menjadi kelas S, A, B, dan C, tergantung level kekuatannya. Saat Saitama mendaftar dan mengikuti ujian untuk jadi "hero resmi", meskipun powernya level dewa dan menghancurkan semua rekor, ia nyaris tidak lulus gara-gara hasil ujian tertulisnya yang pas-pasan, dan memulai karir dari kelas C.

Tokoh hero pertama yang menjadi kenalan Saitama adalah android muda bernama Genos. Setelah menyaksikan kekuatan Saitama yang di luar nalar, secara sepihak Genos memaksa Saitama menjadi gurunya dan teman sekamarnya. Secara otomatis, Genos menjadi sidekick Saitama.

Karena mereka selalu bersama, karakter mereka jelas tampak sangat kontras. Saitama yang digambar simpel disandingkan dengan Genos yang desainnya serumit Iron Man. Saitama yang santai dan pinpinbo dibandingkan dengan Genos yang serius dan pintar (tapi masih terlalu polos!). Saitama yang tampilannya rata-rata air dijajarkan dengan Genos yang luar biasa canggih. Saitama yang dicap hero Kelas C, dengan Genos yang langsung dicap Kelas S. Tapi tak ada kontras yang lebih kontras apabila yang dibandingkan adalah level power mereka.

Pembaca akan mendapati begitu banyaknya karakter hero di OPMU. Tapi jangan khawatir, walaupun tidak ada yang dibahas secara mendalam semuanya mudah diingat karena unik dengan ciri khas karakter dan powernya masing-masing. Dari Mumen Rider di Kelas C, Fubuki and the gank di Kelas B, Amai Mask sang idola yang nyambi jadi hero, sampai para superhuman di Kelas S seperti Bang, Metal Bat, sampai super esper Tatsumaki.

Dan karena ini action manga, adegan aksi yang paling mendebarkan biasanya adalah pertarungan hidup-mati antara para hero dan para monster. Pakem standar shonen-manga atau komik superhero sangat pas buat para hero selain Saitama. Dan justru karena mereka bertarung mempertaruhkan nyawa sampai tetes darah terakhir itulah yang membuat kekuatan Saitama semakin tampak tak terhingga. Karena begitu ia datang (hero selalu datang paling akhir), dengan mudahnya tamatlah riwayat sang monster.

Dan pertanyaan yang membuat pembaca gemas adalah, kapan Saitama bisa diakui oleh semua pihak sebagai hero yang levelnya (jauh, jauh sekali) di atas Kelas S? Pertanyaan yang sepertinya masih bakalan lama dijawab kreator manga ini.

c. The Villains

Oh, the horror... the horror...

Di OPMU, karakter villains selalu digambar dengan sangat detail, dan kadang-kadang dengan backstory dan motivasi yang lebih mendingan ketimbang backstory dan motivasi Saitama. Sama halnya dengan desain para hero, untuk desain karakternya, Murata-sensei banyak terinspirasi alias merefer shonen-manga atau komik superhero lain.

Sayangnya, beda dengan di genre yang diparodikannya, para villain ini tak ada yang berlama-lama bertahan di cerita untuk membuat kerusakan di muka bumi. Malah, boleh dibilang daripada sebagai villains, mereka lebih pantas disebut sebagai victims di manga ini. Terutama victims buat Saitama.

Tentu saja, Saitama masih pilih-pilih kalau mau main pukul. Buat lawan yang benar-benar monster, tidak masalah dipukul mampus. Tapi kalau lawannya manusia, selalu dibiarkan hidup setelah dihajar seperlunya.

Kadang-kadang, untuk musuh yang nggak ada kapoknya seperti ninja/assassin Speed-o'-Sound Sonic, OPM terasa sebagai kebalikan dari genre shonen manga. Tokoh villain-nya yang terpaksa harus terus-terusan berjuang keras dan berlatih supaya bisa level up untuk kembali menantang sang tokoh hero-nya :)

Omong-omong  tentang villains, apakah keberadaan Saitama yang sangat overpowered melampaui level para monster yang datang dari darat, laut, udara sampai luar angkasa, pada suatu saat nanti akan dianggap sebagai ancaman bagi umat manusia yang tidak bisa menerima kekuatannya dengan akal sehat?

Akankah ia dicap sebagai villain dan bukan hero lagi?


4. The Anime

Versi animenya yang tayang bulan Oktober - Desember tahun ini benar-benar menggebrak dunia kang-ouw (dan membuatku jadi membaca ulang manga ini).

Selain opening song-nya yang menggelegar (dan juga sangat berbahaya karena benar-benar membakar semangat sehingga pendengarnya ingin segera berlari dan menghajar musuh), yang asyik dari anime ini adalah karena pace-nya yang cepat dan sangat setia pada versi manga-nya. Saking cepatnya, nyaris tujuh jilid dihabiskan hanya untuk 12 episode anime saja! Bandingkan dengan manga Naruto, yang 8 jilid awal manga digelar dalam 40-an episode!

Tentu saja, meskipun artwork animasinya sangat keren, sebaiknya kita tidak membanding-bandingkannya dengan versi manga yang artworknya memang sangat detail. Sebagus apapun gambar animasi, kalau ilustratornya dipaksa membuat gambar bergerak dengan artwork yang sangat detail, bisa-bisa animenya nggak kelar-kelar. Yang penting, imajinasi yang kita lihat di versi di manga bisa diejawantahkan di layar kaca dalam versi paling sempurnanya. Dan tentu saja, kita juga jangan berharap animasi ala Murata-sensei muncul di versi anime. Kenapa? Karena versi anime ini sangat setia terhadap versi tankobon-nya, yang memang sudah menghilangkan panel-panel buang-buang halaman Murata-sensei :P

Yang juga tak kalah pentingnya, versi anime-nya tidak bertele-tele dan ditambahi episode filler yang mengada-ada. Aku sudah cukup kenyang menonton anime Naruto atau One Piece yang diisi episode tambahan yang tidak ada pada versi manga karena harus menunggu versi manga-nya mengejar versi anime. Aku juga termasuk yang bete waktu anime Full Metal Alchemist pertama akhirnya terpaksa memilih menggunakan jalan cerita alternatif gara-gara tidak mau menunggu versi manganya selesai. Untung dibuat versi Brotherhood-nya yang jauh lebih memuaskan.

Lho, kok malah curcol. Tapi bagaimana lagi, mau novel ataupun manga, sebagai pembaca aku lebih suka versi film atau animasi yang setia pada buku sumbernya.

Jadi, mengingat manga OPM masih ongoing di arc yang belum tuntas, aku tidak terlalu berharap ada season berikutnya sebelum cerita di manga cukup untuk diangkat menjadi episode anime lagi. Meskipun begitu, aku tidak menolak apabila ada cerita anime tambahan, asalkan dibuat dalam bentuk OVA. Dan iya, aku akan cukup puas menunggu rilis dan menonton OVA-nya dulu sampai episode anime untuk arc berikutnya siap ditayangkan.

Halah, komentarnya kepanjangan, euy! Baiklah untuk sementara kusudahi sampai di sini dulu. Dan sebagai penutup, akan kutambahkan plesetan quote dari salah satu film superhero DC Universe, dengan berandai-andai OPM kelak dianggap sebagai ancaman bagi umat manusia karena konon kekuatannya dapat menghancurkan alam semesta:

He's the hero Earth's deserves
but not the one it needs right now
So we'll hunt him
Because he can take it
Because he's not a hero
He's a silent guardian
A watchful protector
The Bald Knight
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Bonus:
Silakan cari perbedaan antara kedua gambar di bawah ini










Saturday, December 26, 2015

Rencana Besar



Judul : Rencana Besar

Penulis : Tsugaeda

Penerbit : Bentang Pustaka

Tebal : 384 halaman

ISBN : 9786027888654

Beli di : Bukabuku.com

Harga : Rp. 15.000,- (Mizan Obral Akhir Tahun)

Diperoleh tanggal : 8 Desember 2015

Dibaca tanggal : 26 Desember 2015

Sinopsis :
Rifad Akbar. Pemimpin Serikat Pekerja yang sangat militan dalam memperjuangkan kesejahteraan rekan-rekannya.

Amanda Suseno. Pegawai berprestasi yang mendapat kepercayaan berlebih dari pihak manajemen.

Reza Ramaditya. Pegawai cerdas yang tiba-tiba mengalami demotivasi kerja tanpa alasan jelas.

Lenyapnya uang 17 miliar rupiah dari pembukuan Universal Bank of Indonesia menyeret tiga nama itu ke dalam daftar tersangka. Seorang penghancur, seorang pembangun, dan seorang pemikir dengan motifnya masing-masing. Penyelidikan serius dilakukan dari balik selubung demi melindungi reputasi UBI. 

Akan tetapi, bagaimana jika kasus tersebut hanyalah awal dari sebuah skenario besar? Keping domino pertama yang sengaja dijatuhkan seseorang untuk menciptakan serangkaian kejadian. Tak terelakkan, keping demi keping berjatuhan, mengusik sebuah sistem yang mapan, tetapi usang dan penuh kebobrokan ….



Sekedar komentar :

Actually, sebagai orang yang bekerja di industri perbankan, aku mengalami kesulitan untuk menghubungkan buku ini dengan dunia nyata.

Pertama, pernyataan bahwa skala Universal Bank of Indonesia (UBI), bank menjadi pusat cerita novel ini, yang disebut sudah masuk dalam lima bank besar di Asia Tenggara, terutama pada tahun 2012 yang menjadi setting buku ini. Well, bank-bank di Indonesia belum masuk dalam 5 besar Asia Tenggara apabila dilihat dari sisi modal dan kapitalisasi pasar. Beda ceritanya kalau kita bicara tentang laba tertinggi dan pertumbuhan aset tercepat.

Kedua, jabatan ketiga orang yang masuk ke dalam daftar tersangka levelnya masih asisten manajer, terlalu jauh dengan level dewan direksi, sehingga aku tidak bisa diyakinkan kalau mereka dapat memiliki pengaruh yang besar. Yah, barangkali seharusnya aku memandang UBI dari sisi bank yang mungkin dijadikan model, yang boleh jadi struktur organisasinya lebih simpel dan tidak sebesar bank tempatku bekerja. Perbandingannya memang jadi tidak apple to apple sih.

Anyway, namanya juga fiksi, anggap saja novel ini bersetting di Indonesia di dunia paralel. Meskipun tidak begitu bisa relate dengan ceritanya, aku tambah satu bintang deh untuk temanya yang tidak biasa buat novel Indonesia.

N.B.
Kalau boleh nitpick sekali lagi untuk hal yang mungkin sepele bagi pembaca lain, baru mulai membaca bab satu saja aku sudah membuat catatan untuk pemilihan kata yang kurang pas, yaitu saat tokoh Agung Suditama mengenalkan diri sebagai direksi termuda di UBI.

Istilah direksi itu bermakna jamak, sekumpulan orang yang menjadi pengurus sebuah perusahaan. Akan lebih pas bila si tokoh mengenalkan diri sebagai anggota direksi termuda, atau direktur termuda.

Well, meskipun aku seorang pemerhati kelirumologi dan doyan mencoba meluruskan sesuatu yang menurutku keliru sehingga nyaris mendekati grammar nazi (atau malah sudah?), aku bukan tipe pembaca yang cukup telaten untuk membuat daftar typo dan merasa tidak punya cukup waktu untuk itu. Jadi catatan tambahannya cukup sampai di sini saja.

View all my reviews

Wednesday, December 9, 2015

Happy Tummy


Judul : Happy Tummy

Penulis : Mariska Tracy

Penerbit : GagasMedia

Tebal : xii + 204 halaman

Tanggal terbit : 27 Mei 2015

Tanggal perolehan : 6 Desember 2015

Tanggal dibaca : 9 Desember 2015

Sinopsis :
Siapa yang happy kalau dapat makanan gratis? Hayo, ngacung!

Oke, gue juga, kok.
Hobi gue itu makan-dengan-porsi-banyak.
Nah, demi menyalurkan hobi gue tersebut, gue suka ikutan lomba makan.
Ini artinya, gue bisa makan gratis sebanyak-banyaknya dan dapat hadiah pula!

Lomba makan? Iya, lomba makan yang kayak di TV Champion itu.

Menurut gue, jadi competitive eater itu merupakan cita-cita yang keren.
Coba bayangkan bagaimana bangganya saat lo bisa menghabiskan makanan
enak dalam waktu singkat?! Lo nggak hanya bisa menikmati makanan
superenak, tapi bisa terkenal kayak gue.
Hahaha…. Yang penting, gue happy ketemu makanan.

Yuk, ikuti cerita seru gue yang kata orang “Jago Makan” ini.
Selamat makan, eh, selamat membaca!


Review :
Aku menemukan buku ini di meja bookswap IRF 2015. Karena ini buku baru, pastinya hasil sumbangan dari penerbit GagasMedia. Apalagi memang ada cap "Buku Ini Tidak Dijual" dan "Persembahan Penerbit". Dan ada tanda tangan penulisnya pula. Tapi kalaupun mencoba mengingat-ingat,  aku lupa buku mana yang kutukar dengan buku ini.

Anyway, seperti biasa aku mengambil buku ini dengan penuh perasaan. Itu lho, perasaan "sepertinya menarik" yang selalu jadi patokanku kalau menemukan buku (dan penulis) yang belum pernah kulihat dan kudengar sebelumnya lewat media apapun. Maklum, sudah lama aku tidak membaca majalah (penulisnya reporter majalah GADIS, majalah remaja yang terakhir kali kubaca waktu aku masih SMA). Dan aku juga bukan tipe yang mengikuti dunia perkulineran.

Kuliner? Ini buku kuliner?

Ya. Nyenggol dikit-lah. Buku ini cukup unik: personal literatur penulis sebagai cewek jago makan yang doyan lomba makan.

Buatku yang kalau makan nasi padang saja minta nasinya seperempat (supaya tiada tangisan dari ribuan butir nasi tak tersantap), jelas meskipun aku suka makan (manusia mana yang nggak suka makan sih, apalagi kalau gratis?), aku bukan tipe yang akan mengejar lomba makan di manapun dan bertarung secara sportif dan kompetitif demi menjadi juaranya. Tapi karena dulu aku juga doyan nonton lomba makan di TV Champion, jelas buku ini langsung menarik perhatianku.

Kembali ke review, buku ini berkisah tentang petualangan Uung (nama cantik sang penulis) di dunia lomba makan nasional, atau setidaknya, di Jakarta, yang ternyata sangat kompetitif, dan penuh pertumpahan darah (iya, ini lebay). Petualangannya itu dituturkan dengan gaya yang kocak, dan membuat kita, meskipun sedang kelaparan belum sempat makan pagi saat membaca bukunya, bisa turut merasakan kekenyangan dan kebegahan yang diderita orang yang kebanyakan makan demi mendapatkan sesuap handphone, televisi, uang tunai, dan berbagai hadiah menarik lain yang menjadi iming-iming bagi para pelaku lomba makan.

Buku ini juga membuka ingatanku tentang perkenalan pertamaku dengan Kamikaze Karaage. Pertama kali aku tertarik untuk makan di sana adalah karena ada lomba makan di sana yang ditayangkan di televisi. Maklum, sebagai penyuka makanan pedas dan cukup diakui sebagai orang yang paling tahan pedas di lingkungan pribadi dan kantor, aku selalu merasa tertantang kalau ada iklan atau gosip tentang makanan yang superpedas. Ternyata... dari buku ini aku tahu Uung bukan cuma jadi peserta lomba makannya, tapi juga jadi juaranya! Benar-benar salut deh! Sampai dengan saat ini, bagiku cuma Saus Harakiri 2 di Kamikaze Karaage yang benar-benar sesuai dengan promosinya, sebagai saus cabai terpedas di dunia. Waktu pertama kali makan spicy wing berbalut saus Harakiri 2, aku cuma sanggup makan setengah potong ayam, sementara nasi, segelas ocha dan sebotol air mineral 500 ml habis tak tersisa. Jadilah satu setengah potong spicy wing terpaksa kubawa pulang untuk dicemil sedikit demi sedikit.

Buku ini juga membuatku sukses menjadi kepo dengan membuka youtube untuk melihat sendiri aksi para professional competitive eater dari yang lokal seperti Owen Gozali sampai yang interlokal dan god-level macam Takeru Kobayashi (dari sekian banyak klip yang kutonton, yang paling kiyut dan menarik adalah video Kobayashi vs Hamster :P).

Pokoknya, nggak menyesal deh aku membaca buku ini (dan menghabiskan waktu menonton video eating contest yang lama-lama bisa bikin eneg).


View all my reviews

Tuesday, December 8, 2015

Parodi Film Seru

Parodi Film Seru: 15 Skenario GokilParodi Film Seru: 15 Skenario Gokil by Isman H. Suryaman
My rating: 4 of 5 stars

#Program BUBU

Pertama kali dibeli dan dibaca : 18 Desember 2008.

Diperoleh kembali : 5 Desember 2015

Dibaca ulang : 8 Desember 2015

Setelah kehilangan buku yang satu ini, aku cukup lama mencarinya kembali tapi tidak kunjung dapat. Untunglah akhirnya aku menemukan buku ini di meja bookswap IRF 2015. Meskipun sudah agak menguning, tidak jadi masalah besar. Apalagi ternyata buku ini signed and personalized sama Kang Isman, meskipun ditujukan untuk orang lain. Kepada pemilik asli buku yang telah meletakkan buku ini di lapak bookswap, thank you very much ya... :D

Anyway, setelah membaca ulang buku ini, aku merasa buku ini lebih lucu ketimbang waktu membacanya untuk pertama kali. Mungkin karena sekarang sudah jauh lebih terbiasa dengan gaya humor yang sarkastis atau yang breaking the fourth wall.

Dan setelah lewat tujuh tahun, aku juga baru sadar bahwa dari 15 judul film ada di buku ini, jumlah film yang sudah kutonton tetap sama banyaknya. Tetap 7 dari 15, Kemungkinan besar, gara-gara membaca buku ini aku sudah tidak merasa perlu lagi untuk menonton film sisanya.

Mengapa?

Skenario gokil dan ancur di buku ini boleh dibilang kritikan pedas bin nyinyir buat film-film yang plotnya bolong-bolong, jalan ceritanya nggak jelas atau penuh dengan kebetulan. Ayo mengaku saja, kita pasti pernah menonton film lalu tanpa sengaja bertanya-tanya tentang hal sepele (atau malah sebenarnya penting banget?) yang mungkin sebaiknya tak usah kita pikirkan kalau nggak mau pusing atau malah bete. Nah, di buku ini Kang Isman sengaja mencoba memikirkan jawaban atau behind the scene-nya untuk kita semua. Dengan cara yang bisa membuat kita terpingkal-pingkal pula, terutama kalau kita sudah pernah menonton filmnya dan hafal jalan ceritanya.

Mau tahu contohnya?

Di halaman skenario pertama (Resident Evil 2002), terdapat adegan para peneliti di laboratorium yang berusaha keluar melalui lift dengan tertib setelah terdengar bunyi sirene.

PENELITI #1
Uh oh.

PENELITI #2
Kenapa?

PENELITI #1
Sadar nggak bahwa nama kita sama sekali nggak disebut?

PENELITI #3
Iya juga. Padahal ini sudah lewat tiga menit pertama film.

PENELITI #2
(MENELAN LUDAH) Kalian ngerti kan itu artinya apa?

PENELITI #1
(MENGANGGUK DENGAN PANIK) Kita semua adalah figuran yang akan tewas.

Mereka pun tewas.

Well, membaca skenario ini aku malah langsung teringat adegan awal novel Redshirts-nya John Scalzidi mana narasi dari seorang tokoh figuran menggambarkan dengan jelas bahwa ia sadar betul bahwa kemungkinan besar ia akan segera mati.

Dan itu baru halaman pertama.

Selanjutnya, mungkin lebih baik baca sendiri ya...


N.B. Ilfil pada film aslinya setelah membaca skenario gokilnya tidak ditanggung.


View all my reviews

Monday, November 30, 2015

Summer Knight

Judul : Summer Knight

Serial : The Dresden Files (Buku Ke-4)

Penulis : Jim Butcher

ISBN : 978-0-451-45892-6

Tebal : 446 halaman

Pertama kali dibaca : 4 November 2012

Dibaca ulang : 29 November 2015

Sinopsis:

HARRY DRESDEN -- WIZARD

Lost items found. Paranormal Investigations. Consulting. Advice. Reasonable Rates. No Love Potions, Endless Purses, or Other Entertainment

Ever since his girlfriend left town to deal with her newly acquired taste for blood, Harry Dresden has been down and out in Chicago. He can't pay his rent. He's alienating his friends. He can't even recall the last time he took a shower.

The only professional wizard in the phone book has become a desperate man.

And just when it seems things can't get any worse, in saunters the Winter Queen of Faerie. She has an offer Harry can't refuse if he wants to free himself of the supernatural hold his faerie godmother has over him--and hopefully end his run of bad luck. All he has to do is find out who murdered the Summer Queen's right-hand man, the Summer Knight, and clear the Winter Queen's name.

It seems simple enough, but Harry knows better than to get caught in the middle of faerie politics. Until he finds out that the fate of the entire world rests on his solving this case. No pressure or anything...


Dibaca ulang dalam rangka :

Tema Crime / Mystery
First Quote :

"Call me crazy, but lately I've been thinking that if something's too good to be true, then it's probably isn't. "

Review :

Mungkin bakal ada yang protes dan bilang, "Nggak salah nih? Novel Dresden Files kan genrenya urban fantasy, bukan cerita kriminal/misteri/detektif!"

I beg to differ.

Terlepas dari latar belakang dunia Harry Dresden yang penuh dengan sihir dan makhluk-makhluk supranatural, seperti kata iklan halaman kuningnya, Harry menjual jasa sebagai seorang penyidik. Paranormal Investigator, tepatnya. Meskipun kadang-kadang imbalan yang diterimanya kurang setimpal dengan risikonya. Atau kadang-kadang ia bekerja gratisan, dan bisa jadi hitungannya malah tekor.

Buktinya di buku keempat ini, Harry Dresden terpaksa bekerja sebagai penyidik tanpa bayaran untuk Mab, Queen of Air and Darkness. Monarch of the Winter Court of the Sidhe. Pendeknya, Winter Queen. Ratu Peri yang dingin dan sadis, dengan kecantikan non duniawi dan manusiawi.

Kenapa juga bisa bekerja gratisan? Well, ternyata dunia peri tidak beda jauh dengan dunia manusia. Di sana juga ada yang namanya debt purchasing alias anjak piutang. Harry berutang pada Lea, dan Mab membelinya dari Lea. Sesimpel itu, dan Mab langsung memiliki kuasa untuk memberi perintah dan berbuat ini-itu pada Harry.

Harry bisa bebas dari hutang selamanya, asal mau memenuhi tiga permintaan Mab. Hm, entah kenapa nasib Harry jadi mirip dengan jin lampu. Tapi meskipun awalnya Harry agak keberatan, ia akhirnya bersedia, asalkan ia boleh memilih permintaan mana yang bisa dipenuhinya.

Tugas pertama yang diminta Mab pada Harry-lah yang membawa kita pada misteri yang harus dipecahkan.

Korban : manusia, artis lokal Chicago bernama Ronald Reuel.
Kondisi : mati di bawah tangga dengan leher patah, polisi menduga karena kecelakaan.
Perintah Mab : cari pembunuhnya, dan temukan sesuatu yang dicuri dari si korban. Dan tentunya, selama bertugas, Harry memiliki kuasa sebgai utusan Mab.

Kedengarannya sederhana, tapi Harry tidak serta merta menerima. Hih, tahu sendiri kelakuan peri. Apalagi ratunya. Pasti ada tipu-tipu.

Sementara itu, insiden antara Harry dengan vampir Red Court telah menyulut perang terbuka antara para penyihir White Council dengan vampir Red Court. Tentu saja, Harry yang menjadi kambing hitam, diadili White Council dengan tuduhan utama sebagai penyebab terjadinya perang. Dan... bisa jadi White Council menyerahkan Harry pada Red Court sebagai salah satu cara untuk menghentikan perang!

Untungnya, Harry masih mendapat dukungan dari mentornya, Ebenezar, dan beberapa anggota senior White Council lain seperti Martha Liberty, Listens to Wind, dan Gatekeeper. Dan untungnya lagi (atau sialnya?), White Council sedang membutuhkan bantuan Winter Queen (mengingat Summer Queen memilih tidak terlibat urusan manusia dan vampir). Sepanjang Harry menjadi Utusan Mab dan sanggup memenuhi permintaannya, ia akan terbebas dari hukuman.

Semacam lolos dari mulut buaya dan masuk ke mulut singa, gitu.

Jadi, mau tidak mau Harry terpaksa memenuhi tugas pertama dari Mab.

Terus, kenapa juga kematian seorang manusia jadi perhatian seorang ratu peri yang berkuasa seperti Mab? Kenapa Harry harus repot-repot mencari tahu siapa pembunuhnya? Dan barang curian apa yang harus ditemukannya?

Ternyata korban pembunuhan itu bukan manusia biasa, tapi manusia yang dipilih oleh Summer Queen untuk menjadi tangan kanannya, alias Summer Knight (hence the title). Tugas Harry adalah membuktikan bahwa pembunuhan itu bukan didalangi oleh pihak Winter Queen. Salah sedikit saja, bakal timbul perang lagi, kali ini antara peri Summer dan Winter!

Hm... kurang apa lagi novel ini?

A war between wizards and vampires? Checked.
A war between Summer and Winter faeries? Checked.
Harry Dresden trapped and struggled his way out of the whole mess? Checked.

Good god. What a fun read!  

P.S.
Dunia Harry meluas dan akan semakin meluas. Dan percayalah, dunia peri tidak sekedar hiasan di Dresdenverse!!!


Friday, October 30, 2015

Thinner

Judul : Thinner

Penulis : Stephen King

ISBN : 978-0-451-16134-5

Penerbit : Signet

Tebal : 318 halaman

Dibeli di : Periplus Online Indonesia

Harga beli : Rp. 102.000,- (diskon ultah)

Tanggal dipesan : 29 Agustus 2015

Tanggal diterima : 28 September 2015

Pertama kali dibaca : Tahun 1996

Tanggal dibaca ulang : 13 Oktober 2015 #Program BUBU

Sinopsis :

When an old gypsy man curses Billy Halleck for sideswiping his daughter, six weeks later he's ninety-three pounds lighter. Now Billy is terrified. And desperate enough for one last gamble...that will lead him to a nightmare showdown with the forces of evil melting his flesh away. 


Review singkat :

Buat mereka yang obesitas dan pingin cepet kurus, bacalah buku ini! Kutukan Gypsy misterius dapat menurunkan berat badan secara maksimal tanpa diet dan rasa sakit! 

Begini cara mendapatkannya:
1. Kemudikan mobilmu dengan kecepatan secukupnya.
2. Tanpa menghentikan mobil, minta istri/pasanganmu melakukan handjob.
3. Tabrak orang Gypsy pertama yang kautemui di jalan

Kutukan berlaku efektif setelah dukun Gyspy menyentuh pipimu sambil mengucapkan mantra. Tapi ingat, kutukan takkan bisa ditarik sebelum kau minta maaf!



Review agak panjang :

Hm... mungkin sinopsis dan review singkat di atas sebenarnya sudah cukup menjelaskan plotnya?

Billy Halleck adalah seorang pengacara montok (iya, kita tahu kata yang cocok sebenarnya obesitas), yang telah menabrak seorang nenek gipsi yang tiba-tiba menyeberang jalan tanpa lihat kiri-kanan. Kalau saja perhatiannya tidak teralihkan gara-gara Heidi, istrinya, memberikan servis dadakan, mungkin ia sempat mengerem. Kenyataannya, ia menabrak wanita itu sampai mati. Tapi, Billy dibebaskan dari tuntutan pada sidang pendahuluan. Bagaimanapun, koneksi itu penting. Apalagi kalau koneksinya seorang hakim!

Usai sidang, ayah sang korban mengelus pipi Billy, dan berkata, "Thinner."

Hm... mungkin terjemahan bebasnya... "Kusumpahin kurus, lo!"

Anyway, awalnya Billy mengabaikan kejadian aneh itu, sampai kemudian bobotnya berkurang sedikit lebih sedikit... terus... terus... dan terus...... berkurang. Diet hebat tanpa mengubah pola makan! Yay! Beli baju baru! Beli ikat pinggang baru!

Tapi... turunnya begitu drastis dan cepat, dari 114 kg jadi 53 kg!!! Jangan-jangan Billy sebenarnya sakit? Kanker misalnya? Apalagi penjelasan yang logis? Tapi mimpi-mimpi buruk serta seringnya Billy mendengar bisikan si dukun gipsi, ia mulai yakin kalau ia kena kutuk.

Kekhawatiran yang sangat mungkin benar. Apalagi, sepertinya bukan cuma Billy yang kena kutuk. Si hakim yang membebaskannya dan polisi yang membantu meringankan kasusnya juga mengalami hal yang mirip, meskipun bukan jadi kurus. Kutukan yang membuat mereka frustrasi sampai akhirnya bunuh diri.

Lalu, apa yang harus Billy lakukan? Mencari si dukun gipsi tua yang keberadaannya entah di mana untuk memintanya membatalkan kutukannya? Lantas, kalaupun ketemu, memangnya si dukun mau memaafkan begitu saja?

I never take it off, white man from town.
You die thin, town man! You die thin!

Verdict:
Everybody pays, even for things they didn't do.

Habisnya, meskipun si dukun akhirnya memberi jalan keluar setelah rombongannya diteror mafia yang membantu Billy, yaitu mengalihkan kutukannya pada orang lain dengan suatu media (semacam video Sadako di The Ring), hasil akhirnya belum tentu sesuai dengan harapan...

Iya, ini SPOILER!!!
Maaf, telat :))

Catatan tambahan:
Buku Thinner terbit pertama kali tahun 1984 di bawah nama pena alternatif Stephen King: Richard Bachman.

Pada tahun 1996, buku ini diangkat menjadi film, dengan sutradara Tom Holland dan karakter Billy diperankan oleh Robert John Burke.


Review ini dibuat dalam rangka :
Tema Horror



'Salem's Lot

Judul : 'Salem's Lot

Penulis : Stephen King

ISBN : 9780307743671

Penerbit : Anchor Books

Tebal : 672 halaman

Dibeli di : Periplus Online Bookstore

Harga beli : Rp. 102.000,- (diskon ultah)

Tanggal dipesan : 29 Agustus 2015

Tanggal diterima : 28 September 2015

Pertama kali dibaca : Tahun 1996

Tanggal dibaca ulang : 11 Oktober 2015 #Program BUBU

Sinopsis :

'Salem's Lot is a small New England town with white clapboard houses, tree-lined streets, and solid church steeples. That summer in 'Salem's Lot was a summer of home-coming and return; spring burned out and the land lying dry, crackling underfoot. Late that summer, Ben Mears returned to 'Salem's Lot hoping to cast out his own devils... and found instead a new unspeakable horror.

A stranger had also come to the Lot, a stranger with a secret as old as evil, a secret that would wreak irreparable harm on those he touched and in turn on those they loved.

All would be changed forever—Susan, whose love for Ben could not protect her; Father Callahan, the bad priest who put his eroded faith to one last test; and Mark, a young boy who sees his fantasy world become reality and ironically proves the best equipped to handle the relentless nightmare of 'Salem's Lot.
 


Review :

Tidak sah kiranya gelar Stephen King sebagai The Master of Horror, apabila ia tidak menulis novel dengan vampir sebagai villain of the book-nya.  'Salem's Lot merupakan novel kedua King, yang diterbitkan pertama kali pada tahun 1975. Premisnya sederhana, bagaimana kalau Dracula muncul pada abad ke-20 di sebuah kota kecil di Amerika.

Protagonis novel ini adalah seorang penulis bernama Ben Mears, yang pulang kampung ke kota tempat ia dibesarkan, Jerusalem's Lot, yang lebih dikenal dengan nama singkatnya, 'Salem's Lot. Pada saat yang bersamaan, kota itu juga kedatangan penghuni baru, sepasang partner bisnis bernama Kurt Barlow dan Richard Straker, meskipun Barlow tak pernah terlihat oleh umum.

Tak lama setelah kedatangan mereka, kota kecil itu mulai mengalami peristiwa-peristiwa misterius. Diawali dengan kejadian yang menimpa kakak beradik Glick yang hilang di hutan. Ralphie Glick tidak pernah ditemukan, sementara kakaknya Danny ditemukan, meskipun hanya untuk sementara sebelum dinyatakan meninggal dunia. Tapi sebenarnya, Danny telah menjadi "patient zero", penduduk 'Salem's Lot pertama yang berubah menjadi vampir dan kemudian mulai menginfeksi para penduduk 'Salem's Lot... yang selanjutnya juga menginfeksi penduduk lainnya...

Ben dan teman barunya guru sekolah Matt Burke, mulai menyadari ada yang tidak beres di kota kecil itu. Mereka membentuk tim dengan Susan Norton, pacar Ben, Jimmy Cody, dokter Matt, dan Mark Metrie, salah seorang murid Matt yang berhasil lolos dari serangan Danny. Mereka meminta bantuan pastor setempat, Pastor Callahan, untuk membantu pencegahan laju vampirisasi di kota mereka.

Tidak mudah, tentu saja, karena "Kurt Barlow" bukan vampir kemarin sore, apalagi vampir bling-bling, dan telah berjalan di muka bumi selama ribuan tahun. Apa yang bisa dilakukan oleh enam orang manusia fana menghadapi vampir yang sudah biasa mengkonversi sebuah kota menjadi kota hantu vampir?

Novel diawali dengan prolog berisi potongan berita tentang kota hantu Jerusalem's Lot di Maine, di mana lebih dari seribu tiga ratus penduduknya menghilang secara misterius.

Novel diakhiri dengan epilog berisi potongan-potongan berita tentang peristiwa-peristiwa misterius di sekitar 'Salem's Lot. Kecelakaan mobil misalnya, di mana satu keluarga yang mengendarainya lenyap tanpa jejak. Hilang atau meninggalnya orang-orang yang tinggal tidak jauh dari kota itu.

Novel ini adalah cerita sebelum 'Salem's Lot menjadi kota hantu. Novel ini adalah cerita tentang bagaimana 'Salem's Lot berubah menjadi kota hantu, di mana penduduknya bersembunyi di siang hari, namun berkeliaran di malam hari.,, mencari mangsa.

Adaptasi TV:

Novel ini telah dibuat versi live action-nya dalam bentuk miniseri di televisi pada tahun 1979 dan 2004.


Review singkat ini dibuat dalam rangka :
Tema Horror

The Mist

Judul : The Mist

Penulis : Stephen King

ISBN : 978-0-451-22329-6

Penerbit : Signet

Tebal : 230 halaman

Dibeli di : Periplus Online Bookstore

Harga beli : Rp. 89.250,- (diskon ultah)

Tanggal dipesan : 29 Agustus 2015

Tanggal diterima : 28 September 2015

Tanggal pertama kali dibaca : 14 Desember 2010

Tanggal dibaca ulang : 10 Oktober 2015 #Program BUBU

Sinopsis : 
It's a hot, lazy day, perfect for a cookout, until you see those strange dark clouds. Suddenly a violent storm sweeps across the lake and ends as abruptly and unexpectedly as it had begun. Then comes the mist...creeping slowly, inexorably into town, where it settles and waits, trapping you in the supermarket with dozens of others, cut off from your families and the world. The mist is alive, seething with unearthly sounds and movements. What unleashed this terror? Was it the Arrowhead Project---the top secret government operation that everyone has noticed but no one quite understands? And what happens when the provisions have run out and you're forced to make your escape, edging blindly through the dim light?

Review singkat :
Apabila kabut tebal melanda dan monster-monster misterius tiba-tiba berkeliaran di muka bumi, di manakah kau ingin berada?

Apakah di rumah? Yang meskipun kemungkinan besar tidak aman dan tidak bisa menghalau monster, yang penting kita berada di tempat yang paling familiar dan nyaman bagi kita?

Atau markas militer? Yang memastikan kita bisa berlindung di balik benteng dengan para prajurit terpilih dan persenjataan canggih?

Dan bagaimana bila kita malah terjebak di supermarket, dengan banyak orang yang tidak kita kenal? Sementara di luar supermarket, di dalam kabut, para monster menunggu. Mereka tidak bisa menembus dinding kaca, tapi mereka akan menyambar siapapun yang meninggalkan keamanan supermarket dengan alasan apapun,,,

Novella ini dituturkan dari sudut pandang David Drayton, yang terjebak di supermarket bersama anaknya yang masih kecil, Billy, dan tetangga mereka, si pengacara Brent Norton. Kesadaran bahwa dalam kabut terdapat bahaya misterius mulai terungkap ketika korban-korban mulai berjatuhan. Dari pegawai supermarket yang pergi keluar untuk memperbaiki generator ventilasi, sampai orang-orang yang pergi karena tidak mau tetap berada di supermarket dan tidak percaya akan adanya bahaya yang menunggu di luar sana.

Dan setelah akhirnya orang-orang yang tersisa di supermarket percaya akan adanya bahaya monster di luar sana, mereka terbagi pada beberapa kubu dengan keyakinan yang berbeda. Ada yang meyakini bahwa bencana itu adalah hukuman dari Tuhan dan merupakan tanda-tanda datangnya kiamat. Ada pula yang tetap berusaha untuk meninggalkan supermarket dengan harapan bisa menghindari apapun yang ada di luar sana.

Stephen King tidak memberikan konklusi yang jelas untuk akhir novella ini, yang dibiarkan menggantung. Ia membiarkan pembaca mengira-ngira bagaimana kisah selanjutnya. Apakah David dan putranya selamat? Apakah dunia berakhir setelah monster-monster berkuasa di muka bumi? Tak ada yang tahu.

P.S. Inspirasi memang bisa datang dari mana saja. Stephen King kepikiran ide novella ini ketika ia dan putranya (Joe? Atau Owen?) sedang mengantri di kasir supermarket, dan King membayangkan bagaimana seandainya ada monster misterius yang mengepung supermaket dan para pembeli (dan pegawai toko) terjebak di dalamnya.


Movie adaptation :

Disutradarai oleh Frank Darabont (yang juga menyutradarai adaptasi karya Stephen King lainnya, The Shawshank Redemption dan The Green Mile), dengan tokoh David Drayton diperankan oleh Thomas Jane.

Pada prinsipnya, Darabont cukup setia pada versi novella King, dengan beberapa perkecualian.

Perkecualian yang sangat drastis adalah endingnya, yang dibuat sangat gelap dengan twist yang bisa menyesakkan hati penonton. Alternative ending yang dibuat dengan izin King, tentunya. Bagaimanapun, ending novella The Mist dibuat menggantung kok, tentu saja seperti halnya penikmat karya ini, Darabont bisa merekayasa versinya sendiri tentang nasib para tokohnya. Tapi tetap saja... membuatku emosi jiwa waktu menontonnya.

Review singkat ini dibuat dalam rangka :

Tema Horror

The Dead Zone

Judul : The Dead Zone

Penulis : Stephen King

ISBN : 978-0-451-15575-7

Penerbit : Signet

Tebal : 402 halaman

Dibeli di : Periplus Online Bookstore

Harga beli : Rp. 102.000,- (diskon ultah)

Tanggal dipesan : 29 Agustus 2015

Tanggal diterima : 28 September 2015

Pertama kali dibaca : Tahun 1994 

Tanggal dibaca ulang : 6 Oktober 2015 #Program BUBU

Sinopsis:

Johnny, the small boy who skated at breakneck speed into an accident that for one horrifying moment plunged him into The Dead Zone

Johnny Smith, the small-town schoolteacher who spun the wheel of fortune and won a four-and-a-half-year trip into The Dead Zone

John Smith, who awakened from an interminable coma with an accursed power—the power to see the future and the terrible fate awaiting mankind in The Dead Zone.



Premis :

1. What if you are a psychometrer, but you just don't know it

2. What if you can see the past and the future, by making phisical contact with a person or an object, but you just don't know it

3. What if you know you are a psychometrer, will you help people with your psychometry and precognition? Or you just make a fortune for yourself?

4. What if you know you have that accursed power, and you know someone will be THE president who START THE NUCLEAR WAR in the future...

4. What will you do?

5. WHAT WILL YOU DO?


Komentar singkat :

Novel ini merupakan novel pertama Stephen King kubeli dan kubaca. Novel yang terbit pertama kali pada tahun 1980 ini telah diangkat ke layar lebar pada tahun 1983, dengan casting Christopher Walken dan Martin Sheen dan disutradarai oleh David Cronenberg:


Selain itu, versi serial TV-nya pun pernah ditayangkan selama 6 season antara tahun 2002 sampai dengan 2007, dengan Antony Michael Hall sebagai pemeran tokoh utamanya:


Jujur saja, versi film-nya Christopher Walken sudah kutonton terlebih dulu sebelum membaca novel aslinya, sehingga mengurangi unsur kejutan saat membaca sumber aslinya. Tapi tentu saja, seperti biasa versi novelnya jauh lebih enak untuk dinikmati.

Inti cerita novel ini tentang seorang Johnny Smith, yang memiliki bakat ESP (Extrasensory Perception), terutama psikometri, sejak kecil. Namun bakatnya baru benar-benar bangkit setelah ia dewasa dan mengalami kecelakaan yang membuatnya koma selama empat setengah tahun. Meskipun ia sempat dituduh sebagai cenayang palsu oleh media lokal, Johnny tetap membantu Sheriff Bannerman menyelesaikan kasus pembunuhan berantai.

Bersamaan dengan kisah hidup Johnny, kita dibawa mengikuti perjalanan hidup seorang Greg Stillson, dari semula salesman kitab suci dari pintu ke pintu sampai kemudian menjadi politisi. Dari awal kita sudah diperlihatkan bagaimana karakter asli Greg Stillson, sehingga ketika suatu hari jalan hidup Johnny dan Stillson bertemu, di mana Johnny bisa melihat masa depan Stillson sebagai presiden yang akan membawa kehancuran bagi umat manusia...


Apa yang akan kaulakukan bila bertemu Hitler pada saat ia masih belum berkuasa, dan mengetahui dengan pasti bencana yang akan dtimbulkannya? Dosa mana yang lebih besar, membunuh seseorang saat ini untuk mencegah malapetaka yang masih belum terjadi, atau tidak berbuat apa-apa meskipun kita tahu apa yang akan terjadi?

Trivia :
Dalam versi film The Dead Zone tahun 1983, tokoh Greg Stillson diperankan oleh Martin Sheen.
Selama tahun 1999 s/d 2006, Martin Sheen memerankan Presiden Josiah Bartlett dalam serial TV The West Wing.


Well, untunglah karakter Bartlett berbeda jauh dengan Stillson, sehingga prekognisi Christopher Walken tidak terjadi, karena tak ada perang nuklir selama administrasi Bartlett.

N.B. Tokoh dunia nyata yang sekarang digadang-gadangkan sebagai penjelmaan Greg Stillson adalah Donald Trump. Apakah ia akan menjadi presiden AS yang memulai perang nuklir? Well, mari kita sambangi dan jabat tangannya. Oh wait, kita harus punya kekuatan psikometri setara Johnny Smith dulu untuk itu.

Buku ini dibaca dan dikomentari dalam rangka :
Tema Horror





Wednesday, October 14, 2015

Appaloosa

Judul : Appaloosa

Penulis : Robert B. Parker

ISBN : 0-425-20432-4

Penerbit : Berkley

Dibeli di : Clearance Kinokuniya Plaza fX Sudirman

Harga : Rp. 45.000,-

Tanggal dibeli : 10 Oktober 2015

Tanggal dibaca : 14 Oktober 2015

Sinopsis :

When Virgil Cole and Everett Hitch arrive in Appaloosa, they find a town suffering at the hands of a renegade rancher who’s already left the city marshal and one of his deputies dead. Cole and Hitch are used to cleaning up after scavengers, but this one raises the stakes by playing not with the rules—but with emotion.

Review :

Well, ternyata buku ini sebenarnya termasuk buku yang versi filmnya sudah kutonton duluan sebelum membaca bukunya:


Aku menonton film western ini karena aku suka Ed Harris (aku suka sejak menonton film The Rock, di mana dia menjadi lawan main Nicholas Cage dan Sean Connery, dan aktingnya sanggup membuatku empati dan simpati, padahal dia jadi main villain di situ). No offense buat penggemar Viggo Mortensen,ya... :))

Jadi, aku tidak merasa telah melakukan pelanggaran aturan baca pribadi ketika menonton film ini, karena aku tidak tahu bahwa film ini diadaptasi dari novel karya Robert B. Parker, bahkan merupakan buku pertama dari serial Virgil Cole & Everett Hitch (nama kedua tokoh utamanya).

Bahkan sebenarnya, sebelum menemukan buku ini di Clearance Sale Kinokuniya, serial Robert B. Parker yang mau kubaca adalah karya yang jauh lebih dulu kuketahui: Spenser, yang serial TV-nya, Spenser for Hire, pernah kutonton di RCTI pada zaman dahulu kala. 

Secara umum, filmnya cukup setia dengan bukunya, dengan sedikit perbedaan di sana-sini, yang tidak mengubah cerita secara keseluruhan.

Pada intinya, novel ini bercerita tentang sepasang Peacekeeper for Hire, Virgil Cole dan Everett Hitch, yang disewa oleh dewan kota Appaloosa untuk melindungi kota, terutama dari pemilik ranch Randall Bragg (dalam film diperankan oleh Jeremy Irons) dan anak buahnya. Marshall dan salah seorang deputinya sebelumnya telah tewas, sementara seorang deputi lainnya telah melarikan diri.

Cole dan Hitch telah lima belas tahun berpartner dalam bisnis keamanan, dan setiap kali Cole menjadi Marshall dan Hitch menjadi deputinya. Reputasi mereka dalam bisnis ini, yang membuat kota terkacau sekalipun bisa jadi aman tenteram dalam waktu singkat, membuat mereka dipanggil ke Appaloosa.

Novel ini dituturkan dari sudut pandang Hitch, sang side-kick. Dari narasinya, kita akan tahu bahwa hubungan mereka berdua bukan sebatas bisnis, tapi lebih sebagai teman, atau malah sebagai sahabat. Sebagai seorang sahabat, Hitch telah mengenalnya secara mendalam, sehingga dapat mengetahui apa yang dipikirkan dan dirasakan Cole hanya dengan melihat ekpresi dan reaksinya. Saking sudah terbiasa satu sama lain, mereka bisa berkomunikasi tanpa kata-kata.  

Pembaca juga dapat merasakan bahwa Hitch mengagumi Cole sejak pertama kali mereka bertemu, dan tetap mengaguminya sampai saat ini. Meskipun Cole bukan penembak tercepat di dunia barat, tapi ia belum pernah kalah dalam pertempuran. Senjata Cole bukan hanya pistol. Dengan kharisma dan wibawanya, ia bisa membuat serombongan bajingan bersenjata mengkeret dan hilang nyali hanya karena tatapan dan ucapannya. Mungkin saja Hitch, sebagai mantan tentara lulusan West Point, lebih jago dengan senjata dibandingkan Cole, tapi ia tetap akan selalu bangga menjadi deputi Cole.

Seperti biasanya, dan dicantumkan dalam kontrak, Cole menetapkan hukumnya sendiri untuk kota yang dijaganya. Dalam menjaga ketertiban kota, ia dan Hitch tidak segan-segan membunuh, apabila ada orang yang berani menentang dan melawan, yang tindak mengindahkan peringatan yang telah diberikannya. Tak lama setelah dewan kota Appaloosa menandatangani kontrak, ia dan Hitch menembak mati tiga orang anak buah Bragg yang berbuat onar di bar.

"I warned them."

Bendera perang telah dikibarkan.

Bragg tidak bisa berpangku tangan. Ia sudah menyingkirkan marshall dan deputi lama, apa bedanya dengan dua orang baru ini? Dengan membawa rombongan bersenjata, ia langsung mengkronfrontasi Cole, untuk menyatakan siapa sebenarnya yang berkuasa dan hukum siapa yang berlaku di Appaloosa.


Then he said, "This town belongs to me. I was here first."
"Can't file no claim on a town, Bragg."
"I was here first."
Cole didn't say anything. He sat perfectly still with his hands relaxed on the top of the table.
Leaning forward toward him, Bragg said, "I got near thirty hands, Cole."
"So far," Cole said.
"You proposin' to kill us all?"
"That'd be up to you boys," Cole said.

Menghadapi Cole yang santai dan kalem (tapi waspada), Bragg malah jeri dan keder sendiri. Ia memutuskan mundur dulu, tapi tentu saja tidak lupa mengumbar ancaman.

Bagi Cole dan Hitch, urusan Bragg adalah business as usual. Bukan hal baru, pekerjaan sehari-hari malah. Masalah baru datang dalam bentuk orang baru di kota, yang (bagi Hitch) bisa mengganggu stabilitas, yaitu Mrs. Allison French (diperankan oleh Renee Zellweger dalam film), janda muda yang langsung membuat Cole mabuk kepayang.


Hitch tahu benar, Cole kurang berpengalaman dengan wanita dibandingkan dirinya. Melihat Allie menggoda dengan Cole yang kikuk dan malu dengan wajah merah padam, seperti melihat kucing yang bermain-main dengan mangsanya. Ia juga tahu kalau Allie bukan wanita baik-baik, bahkan belakangan berani merayunya saat Cole tidak ada, tapi demi Cole ia memutuskan untuk merahasiakannya. 

Plot berkembang dengan munculnya Whitfield, si mantan deputi yang dulu kabur, yang ingin bersaksi bahwa Randall Bragg membunuh Marshall dan deputi Appaloosa yang lama. Hal ini memberikan alasan bagi Cole untuk menangkap dan menyidang Bragg dengan tuduhan pembunuhan. Sebenarnya lebih gampang kalau Bragg melawan atau mencoba kabur waktu ditangkap, tapi tentunya urusan bakal selesai di sana.

Dengan penyidangan Bragg, situasi semakin panas. Ditambah kedatangan pemain baru, kakak beradik Ring dan Mackie Shelton, penembak bayaran kenalan Cole di masa lalu. Mereka mengaku cuma mampir untuk menonton persidangan, tapi Cole menduga mereka ada hubungannya dengan Bragg. Dugaan yang tepat, karena terbukti saat Cole dan Hitch mengawal Bragg ke penjara yang letaknya tujuh jam perjalanan kereta api, kakak beradik Shelton mencegat di jalan dengan menyandera Allie, untuk ditukar dengan Bragg!

Bagaimana selanjutnya? Apakah hukum Cole bisa ditegakkan di luar wilayah kekuasaannya? Dan bagaimana nasib Allie, ketika Cole mendapatinya sebagai jenis wanita yang bisa nempel dengan laki-laki manapun sepanjang menguntungkan baginya?

Well, tentu saja aku takkan menulis ringkasan buku dan menuangkan semakin banyak spoiler di sini (kesalahan yang sering kubuat kalau mengomentari buku). Tapi intinya, aku suka buku ini. Dan aku suka pasangan Cole dan Hitch. Mereka pasangan yang cocok dan saling melengkapi. Seperti Sherlock dan Watson barangkali. Selain kompeten di bidangnya, mereka juga termasuk makhluk langka di dunia western: berpenampilan necis, rapi, dan bersih. Gagah dan ganteng deh pokoknya. Meskipun Ed Harris sudah nyaris botak, buatku ia termasuk tipe boksi, botak tapi seksi.

Karakter Cole yang dingin kadang masih menyimpan kejutan, bahkan bagi Hitch yang sudah lama mengenalnya. Cole juga tipe langka yang rajin membaca buku. Kemauan untuk belajar ini ditunjukkan dalam humor yang ringan, di mana Cole kadang salah menggunakan kosakata tidak umum, sehingga tidak cocok dengan konteks kalimatnya, tapi biasanya Hitch tahu kosakata yang dimaksud Cole sebenarnya apa. Dalam film, biasanya Cole malah lupa kosakata yang akan diucapkannya, seringnya jadi tersendat dan menoleh pada Hitch, supaya membantunya menyebutkan kata yang dimaksud. Untungnya Hitch selalu tahu dia mau bicara apa :P

Adegan di buku dan film yang kusukai juga bukan hanya bagian aksinya, tapi juga interaksi antara Cole dan Hitch, termasuk waktu mereka sekedar mengobrol dengan santai. Hitch yang sangat mengerti dan memahami Cole dengan segala kelebihan dan kekurangannya dan Cole yang sangat mempercayai Hitch, membuatku bertanya-tanya apakah ini cinta persahabatan antara laki-laki yang tidak bisa dimengerti oleh wanita yang ingin masuk ke lingkaran mereka, seperti halnya Allie? Dan pada ending buku (yang takkan ku-spoil di sini)... keputusan Hitch menunjukkan bahwa ia menginginkan yang terbaik bagi Cole, meskipun ia terpaksa harus meninggalkannya...

Aku jadi ingin baca buku kedua serial ini! 

Dan membaca serial Spenser, dengan harapan interaksi Spenser dan Hawk sama menariknya dengan interaksi Cole dan Hitch. It's buddy time!

Well, untuk semua kelebihan yang kusebutkan di atas, aku menjatuhkan vonis pada buku ini: