Showing posts with label historical fiction. Show all posts
Showing posts with label historical fiction. Show all posts

Friday, January 29, 2016

The Chronicles of Ghazi, Seri #3

Judul : The Chronicles of Ghazi, Seri Ketiga

Subjudul : The Howling of Wolf, The Eyesight of Eagle

Penulis : Sayf Muhammad Isa & Felix Y. Siauw

Penerbit : Alfatih Press

Cetakan : I, Agustus 2015

ISBN : 978-602-719-861-6

Tebal : 359 halaman

Dibeli di : Gramedia Plaza Semanggi

Dibeli tanggal : 27 Januari 2016

Dibaca tanggal : 29 Januari 2016

Sinopsis :
Derap langkah para Ghazi berderap menuju satu cita-cita, penaklukan Konstantinopel. MUHAMMAD AL FATIH terus tumbuh dan mengumpulkan kekuatan untuk menuntaskan janji Rasulullah saw. itu. Dia mencari senjata terbaik, belajar memimpin, dan berguru kepada para ulama.

Di tempat lain, VLAD DRACULA tenggelam dalam dendamnya. Dia menghimpun kekuatan gelap yang menjadikannya kejam dan sadis lewat ritual-ritual mengerikan. Dia berguru kepada setan dengan darah dan kengerian. Dia akan menjadi lawan yang sepadan.


Komentar singkat :
Pertama, aku agak terganggu dengan pilihan kata "Derap langkah para Ghazi berderap" dari sinopsis di sampul belakang buku ini di atas. Mungkin akan lebih pas apabila ditulis "Langkah para Ghazi berderap"...

Anyway, buku ini kubeli pada belanja buku kedua-ku di tahun 2016. Tidak, judul ini sama sekali tidak ada dalam daftar belanja, yang seperti biasa cuma terdiri atas daftar komik terbitan KKG. Aku menemukan buku ini setelah berputar-putar keliling toko, hanya gara-gara rasanya aneh kalau hanya belanja buku komik tanpa didampingi buku nonkomik barang satu atau dua biji. Setelah cukup lama mencari buku yang kelihatan menarik terutama di rak nonfiksi, akhirnya aku melipir ke deretan buku agama, lantas menemukan buku ini.

Hm. Kalau melihat cetakannya, terbit Agustus 2015. Tapi kalau melihat label harga toko buku, tanggal masuknya 12 Desember 2015. Sebenarnya kapan sih buku ini mulai beredar? Kok aku tidak tahu sampai sekarang, ya? Kemungkinan besar sih  jawabannya memang akunya yang kudet, tidak pernah iseng-iseng mencari lanjutan serial ini, baik di toko buku offline maupun online.

Iya, aku membeli buku ini karena kagok sudah punya buku jilid pertama dan kedua. Dan iya, aku mengomentari buku ini di blog juga karena kagok sudah pernah mengomentari buku jilid pertama dan kedua. Ceritanya konsisten, gitu (padahal janji mereview lengkap serial Tintin dan Dresden Files tidak juga terpenuhi).

1. Cover
Setelah nuansa merah hitam di jilid pertama dan hijau hitam di jilid kedua, kali ini warna terpilih untuk cover jilid ketiga adalah biru-gradasi-ungu hitam. Pas benar kalau dikontraskan dengan warna emas pada judulnya. Ilustrasi covernya serupa tapi tidak sama dengan cover buku pertama. Mungkin copas demi menghemat energi. Atau mungkin juga upaya cocokologi dengan deskripsi derap langkah para Ghazi berderap.

2. Cerita
Sudah ada perkembangan dibandingkan prolog kepanjangan di jilid pertama dan sekilas info di jilid kedua. Setidaknya teaser Mehmed vs Vlad (yang ngotot minta dipanggil Dracula) di penghujung buku jilid kedua berlanjut. Perkelahian yang mengikuti penyulaan kucing Radu, adik Dracula, berakhir dengan hukuman cambuk bagi Dracula karena berani-beraninya melukai Mehmed. Mereka saling melukai sebenarnya, tapi karena Mehmed pangeran Turki, sebenarnya bisa saja Dracula dihukum mati, lantas cerita pun tamat sampai di sini. Konflik makin memanas ketika Radu ternyata lebih membela Mehmed dan mengucapkan dua kalimat syahadat di depan sang kakak. Dracula jelas pundung dan minggat tanpa ketahuan rimbanya.

Lantas, cerita Mehmed dan Dracula semasa remaja pun dituturkan terpisah. Dan karena sampai akhir buku jilid ketiga ini mereka masih tetap remaja, aku jadi agak curiga serial ini bakal panjaaaang banget kayak cerita silat. Dari sisi jalan ceritanya juga mengarah ke sana. Sementara Mehmed sibuk mencari pedang pusaka, sebagaimana layaknya para pendekar Kang-ouw mencari To-liong-to, Dracula sibuk berkelana mencari jatidiri, tertarik pada kuasa gelap, dan pada akhir buku ini beraksi seperti Liam Neeson di film The Grey.

Tentu saja, buku ini tidak cuma bercerita tentang Mehmed dan Vlad. Masih ada kisah perang Balkan di mana pasukan Turki Utsmani yang dipimpin langsung oleh Sultan Murad II melawan koalisi Kristendom. Masih ada pula intrik-intrik politik Ratu Barbara Celje dari Hungaria.

3. Akhir Kata
Bersambung, tentu saja. Setting novel ini masih jauh dari penaklukan Konstantinopel di tahun 1453. Kalau pembaca tidak sabar ingin segera sampai ke sana, gampang saja, tinggal baca buku Muhammad Al-Fatih 1453 yang juga ditulis Felix Y. Siauw dan juga diterbitkan oleh Alfatih Press.

Oh, iya, buku ini memperkenalkan tokoh baru bernama Zaghanos, anak pendeta Kristen ortodoks Yunani yang masuk Islam, yang di kemudian hari akan menjadi pasha atau komandan militer dan grand vizier pada saat Mehmed II berkuasa. Walau di sini ia masih remaja, ia sudah diramalkan (dan percaya) akan menaklukkan Konstantinopel bersama Mehmed.

By the way, waktu mencari gambar Zaghanos di internet, ketemunya malah gambar Zaghanos Pasha versi manga Shoukoku no Altair. Manga ini sudah diterbitkan oleh Level Comics tapi selama ini aku belum pernah tertarik untuk membeli dan membacanya. Jarang-jarang ada manga dengan setting Kekaisaran Turki. Hm, sepertinya boleh juga untuk ditengok...



Wednesday, October 14, 2015

Appaloosa

Judul : Appaloosa

Penulis : Robert B. Parker

ISBN : 0-425-20432-4

Penerbit : Berkley

Dibeli di : Clearance Kinokuniya Plaza fX Sudirman

Harga : Rp. 45.000,-

Tanggal dibeli : 10 Oktober 2015

Tanggal dibaca : 14 Oktober 2015

Sinopsis :

When Virgil Cole and Everett Hitch arrive in Appaloosa, they find a town suffering at the hands of a renegade rancher who’s already left the city marshal and one of his deputies dead. Cole and Hitch are used to cleaning up after scavengers, but this one raises the stakes by playing not with the rules—but with emotion.

Review :

Well, ternyata buku ini sebenarnya termasuk buku yang versi filmnya sudah kutonton duluan sebelum membaca bukunya:


Aku menonton film western ini karena aku suka Ed Harris (aku suka sejak menonton film The Rock, di mana dia menjadi lawan main Nicholas Cage dan Sean Connery, dan aktingnya sanggup membuatku empati dan simpati, padahal dia jadi main villain di situ). No offense buat penggemar Viggo Mortensen,ya... :))

Jadi, aku tidak merasa telah melakukan pelanggaran aturan baca pribadi ketika menonton film ini, karena aku tidak tahu bahwa film ini diadaptasi dari novel karya Robert B. Parker, bahkan merupakan buku pertama dari serial Virgil Cole & Everett Hitch (nama kedua tokoh utamanya).

Bahkan sebenarnya, sebelum menemukan buku ini di Clearance Sale Kinokuniya, serial Robert B. Parker yang mau kubaca adalah karya yang jauh lebih dulu kuketahui: Spenser, yang serial TV-nya, Spenser for Hire, pernah kutonton di RCTI pada zaman dahulu kala. 

Secara umum, filmnya cukup setia dengan bukunya, dengan sedikit perbedaan di sana-sini, yang tidak mengubah cerita secara keseluruhan.

Pada intinya, novel ini bercerita tentang sepasang Peacekeeper for Hire, Virgil Cole dan Everett Hitch, yang disewa oleh dewan kota Appaloosa untuk melindungi kota, terutama dari pemilik ranch Randall Bragg (dalam film diperankan oleh Jeremy Irons) dan anak buahnya. Marshall dan salah seorang deputinya sebelumnya telah tewas, sementara seorang deputi lainnya telah melarikan diri.

Cole dan Hitch telah lima belas tahun berpartner dalam bisnis keamanan, dan setiap kali Cole menjadi Marshall dan Hitch menjadi deputinya. Reputasi mereka dalam bisnis ini, yang membuat kota terkacau sekalipun bisa jadi aman tenteram dalam waktu singkat, membuat mereka dipanggil ke Appaloosa.

Novel ini dituturkan dari sudut pandang Hitch, sang side-kick. Dari narasinya, kita akan tahu bahwa hubungan mereka berdua bukan sebatas bisnis, tapi lebih sebagai teman, atau malah sebagai sahabat. Sebagai seorang sahabat, Hitch telah mengenalnya secara mendalam, sehingga dapat mengetahui apa yang dipikirkan dan dirasakan Cole hanya dengan melihat ekpresi dan reaksinya. Saking sudah terbiasa satu sama lain, mereka bisa berkomunikasi tanpa kata-kata.  

Pembaca juga dapat merasakan bahwa Hitch mengagumi Cole sejak pertama kali mereka bertemu, dan tetap mengaguminya sampai saat ini. Meskipun Cole bukan penembak tercepat di dunia barat, tapi ia belum pernah kalah dalam pertempuran. Senjata Cole bukan hanya pistol. Dengan kharisma dan wibawanya, ia bisa membuat serombongan bajingan bersenjata mengkeret dan hilang nyali hanya karena tatapan dan ucapannya. Mungkin saja Hitch, sebagai mantan tentara lulusan West Point, lebih jago dengan senjata dibandingkan Cole, tapi ia tetap akan selalu bangga menjadi deputi Cole.

Seperti biasanya, dan dicantumkan dalam kontrak, Cole menetapkan hukumnya sendiri untuk kota yang dijaganya. Dalam menjaga ketertiban kota, ia dan Hitch tidak segan-segan membunuh, apabila ada orang yang berani menentang dan melawan, yang tindak mengindahkan peringatan yang telah diberikannya. Tak lama setelah dewan kota Appaloosa menandatangani kontrak, ia dan Hitch menembak mati tiga orang anak buah Bragg yang berbuat onar di bar.

"I warned them."

Bendera perang telah dikibarkan.

Bragg tidak bisa berpangku tangan. Ia sudah menyingkirkan marshall dan deputi lama, apa bedanya dengan dua orang baru ini? Dengan membawa rombongan bersenjata, ia langsung mengkronfrontasi Cole, untuk menyatakan siapa sebenarnya yang berkuasa dan hukum siapa yang berlaku di Appaloosa.


Then he said, "This town belongs to me. I was here first."
"Can't file no claim on a town, Bragg."
"I was here first."
Cole didn't say anything. He sat perfectly still with his hands relaxed on the top of the table.
Leaning forward toward him, Bragg said, "I got near thirty hands, Cole."
"So far," Cole said.
"You proposin' to kill us all?"
"That'd be up to you boys," Cole said.

Menghadapi Cole yang santai dan kalem (tapi waspada), Bragg malah jeri dan keder sendiri. Ia memutuskan mundur dulu, tapi tentu saja tidak lupa mengumbar ancaman.

Bagi Cole dan Hitch, urusan Bragg adalah business as usual. Bukan hal baru, pekerjaan sehari-hari malah. Masalah baru datang dalam bentuk orang baru di kota, yang (bagi Hitch) bisa mengganggu stabilitas, yaitu Mrs. Allison French (diperankan oleh Renee Zellweger dalam film), janda muda yang langsung membuat Cole mabuk kepayang.


Hitch tahu benar, Cole kurang berpengalaman dengan wanita dibandingkan dirinya. Melihat Allie menggoda dengan Cole yang kikuk dan malu dengan wajah merah padam, seperti melihat kucing yang bermain-main dengan mangsanya. Ia juga tahu kalau Allie bukan wanita baik-baik, bahkan belakangan berani merayunya saat Cole tidak ada, tapi demi Cole ia memutuskan untuk merahasiakannya. 

Plot berkembang dengan munculnya Whitfield, si mantan deputi yang dulu kabur, yang ingin bersaksi bahwa Randall Bragg membunuh Marshall dan deputi Appaloosa yang lama. Hal ini memberikan alasan bagi Cole untuk menangkap dan menyidang Bragg dengan tuduhan pembunuhan. Sebenarnya lebih gampang kalau Bragg melawan atau mencoba kabur waktu ditangkap, tapi tentunya urusan bakal selesai di sana.

Dengan penyidangan Bragg, situasi semakin panas. Ditambah kedatangan pemain baru, kakak beradik Ring dan Mackie Shelton, penembak bayaran kenalan Cole di masa lalu. Mereka mengaku cuma mampir untuk menonton persidangan, tapi Cole menduga mereka ada hubungannya dengan Bragg. Dugaan yang tepat, karena terbukti saat Cole dan Hitch mengawal Bragg ke penjara yang letaknya tujuh jam perjalanan kereta api, kakak beradik Shelton mencegat di jalan dengan menyandera Allie, untuk ditukar dengan Bragg!

Bagaimana selanjutnya? Apakah hukum Cole bisa ditegakkan di luar wilayah kekuasaannya? Dan bagaimana nasib Allie, ketika Cole mendapatinya sebagai jenis wanita yang bisa nempel dengan laki-laki manapun sepanjang menguntungkan baginya?

Well, tentu saja aku takkan menulis ringkasan buku dan menuangkan semakin banyak spoiler di sini (kesalahan yang sering kubuat kalau mengomentari buku). Tapi intinya, aku suka buku ini. Dan aku suka pasangan Cole dan Hitch. Mereka pasangan yang cocok dan saling melengkapi. Seperti Sherlock dan Watson barangkali. Selain kompeten di bidangnya, mereka juga termasuk makhluk langka di dunia western: berpenampilan necis, rapi, dan bersih. Gagah dan ganteng deh pokoknya. Meskipun Ed Harris sudah nyaris botak, buatku ia termasuk tipe boksi, botak tapi seksi.

Karakter Cole yang dingin kadang masih menyimpan kejutan, bahkan bagi Hitch yang sudah lama mengenalnya. Cole juga tipe langka yang rajin membaca buku. Kemauan untuk belajar ini ditunjukkan dalam humor yang ringan, di mana Cole kadang salah menggunakan kosakata tidak umum, sehingga tidak cocok dengan konteks kalimatnya, tapi biasanya Hitch tahu kosakata yang dimaksud Cole sebenarnya apa. Dalam film, biasanya Cole malah lupa kosakata yang akan diucapkannya, seringnya jadi tersendat dan menoleh pada Hitch, supaya membantunya menyebutkan kata yang dimaksud. Untungnya Hitch selalu tahu dia mau bicara apa :P

Adegan di buku dan film yang kusukai juga bukan hanya bagian aksinya, tapi juga interaksi antara Cole dan Hitch, termasuk waktu mereka sekedar mengobrol dengan santai. Hitch yang sangat mengerti dan memahami Cole dengan segala kelebihan dan kekurangannya dan Cole yang sangat mempercayai Hitch, membuatku bertanya-tanya apakah ini cinta persahabatan antara laki-laki yang tidak bisa dimengerti oleh wanita yang ingin masuk ke lingkaran mereka, seperti halnya Allie? Dan pada ending buku (yang takkan ku-spoil di sini)... keputusan Hitch menunjukkan bahwa ia menginginkan yang terbaik bagi Cole, meskipun ia terpaksa harus meninggalkannya...

Aku jadi ingin baca buku kedua serial ini! 

Dan membaca serial Spenser, dengan harapan interaksi Spenser dan Hawk sama menariknya dengan interaksi Cole dan Hitch. It's buddy time!

Well, untuk semua kelebihan yang kusebutkan di atas, aku menjatuhkan vonis pada buku ini:




Tuesday, October 13, 2015

Mr Midshipman Hornblower (Hornblower Saga: Chronological Order #1)

Judul : Mr. Midshipman Hornblower

Penulis : C.S. Forester

Penerbit : Penguin

Tebal : 320 halaman

Dibeli di : Clearance Kinokuniya Plaza fX Sudirman

Harga : Rp. 104.000,-

Tanggal dibeli : 10 Oktober 2015

Tanggal dibaca : 11 Oktober 2015

Sinopsis :

1793, the eve of the Napoleonic Wars, and Midshipman Horatio Hornblower receives his first command . . . As a seventeen-year-old with a touch of sea sickness, young Horatio Hornblower hardly cuts a dash in His Majesty's navy. Yet from the moment he is ordered to board a French merchant ship in the Bay of Biscay and take command of crew and cargo, he proves his seafaring mettle on the waves. With a character-forming duel, several chases and some strange tavern encounters, the young Hornblower is soon forged into a formidable man of the sea.

Buku ini kutemukan waktu main ke fX Sudirman untuk nonton film hari Sabtu kemarin. Pas masuk lewat pintu lantai basement, tanpa sengaja mataku melihat poster besar bertuliskan Clearance up to 70% di ruang pojok. Karena dari jauh sudah terlihat kalau barang yang diobral adalah buku, ya jelas kusambangi saja, mumpung lagi iseng. Ealah, ternyata obral toko buku Kinokuniya, dan kelihatannya sudah lama pula nongkrong di situ. Yah biarlah, mungkin sudah suratan takdir kalau aku baru tahu sekarang.

Ada beberapa buku impor yang menarik perhatianku, tapi khusus untuk buku ini aku harus menimbang-nimbang untuk membelinya atau tidak. Masalahnya, aku menemukan serial Horatio Hornblower ini dari jilid 1 s/d 10 (dari total 11 buku). Kalau hanya membeli jilid pertama saja, belum tentu aku bisa menemukan kembali sisanya dengan harga cukup miring di kemudian hari.

Akhirnya... okelah, aku beli saja (dan mendadak hilang ingatan akan timbunan buku yang belum terbaca), lalu iseng kubaca keesokan harinya, sebagai bekal perjalanan pulang pergi ke luar kota untuk menghadiri acara resepsi pernikahan rekan kantor.

Anyway, meskipun belum pernah membaca tulisan C.S. Forester sebelumnya, aku cukup tahu bahwa serial Horatio Hornblower merupakan inspirasi bagi kisah navy/war adventure sejenis, misalnya serial Aubrey & Maturin dari Patrick O'Brian (yang pernah diadaptasi menjadi film dengan judul Master and Commander dan dibintangi oleh Russell Crowe), bahkan serial TV Star Trek. Konon karakter James T. Kirk diciptakan berdasarkan berdasarkan ide "Space-age Captain Horatio Hornblower".

Pada buku petualangan Horatio Hornblower yang pertama kali ditulis dan diterbitkan pada tahun 1937, dengan judul The Happy Return, Hornblower telah menjadi seorang kapten. Secara penulisan dan penerbitan, buku Mr Midshipman Hornblower merupakan buku keenam, namun secara kronologis buku ini adalah buku pertama karena mengisahkan awal mula Hornblower bergabung dengan angkatan laut Inggris sebagai midshipman (kadet/calon perwira). Boleh dibilang, buku ini merupakan prekuel, semacam Star Wars Part I.


Mari kita bahas secara singkat buku ini:

1. Cover

Ehm, kemungkinan besar gara-gara covernya aku memutuskan untuk membeli buku ini. Habis, cowok yang menjadi cover boy untuk Horatio Hornblower... ganteng banget. Jadi mantap kan berimajinasi waktu membaca bukunya. Entah siapa yang jadi modelnya. Terima kasih Mas, siapapun Anda, telah berjasa memberikan kesegaran bagi mataku.

2. Protagonist

Sayangnya, deskripsi Hornblower saat perkenalan karakter di awal buku kurang cocok dengan sang model di cover.

It was that of a skinny young man only just leaving boyhood behind, something above middle height, with feet whose adolescent proportions to his size were accentuated by the thinness of his legs and his big half-boots. His gawkiness called attention to his hands and elbows. The newcomer was dressed in a badly fitting uniform which was soaked right through by the spray; a skinny neck stuck out  of the high stock, and above the neck was a white bony face. A white face was a rarity on the deck of ship of war, whose crew soon tanned to a deep mahogany, but this face was not merely whitel in the hollow cheeks there was a faint shade of green -- clearly the newcomer had experienced seasickness in his passage out in the shore boat.

Remaja pemalu yang kurus ceking, dengan seragam kedodoran. Mabuk laut pula! Mana cocok jadi pelaut? Usianya juga sudah tujuh belas tahun, sudah ketuaan untuk memulai karir sebagai midshipman, yang pada umumnya dimulai pada usia dua belas tahun. Mungkin model yang pantas buat gambaran Hornblower yang ceking dan pucat seperti yang tampak pada cover buku tahun 1950 ini:



Hornblower juga bukan berasal dari keluarga dengan tradisi militer, apalagi dari angkatan laut. Namun sebagai anak dokter yang sudah mencicipi bangku sekolah, kepintarannya terutama di bidang matematika dan navigasi membuatnya malah jadi menonjol.

Kelemahan dan kelebihan Hornblower membuatnya menjadi sasaran empuk untuk di-bully. Terutama oleh midshipman senior yang frustrasi karena tidak lulus ujian letnan.

Meskipun demikian, Hornblower berusaha menyesuaikan diri dengan kondisi pekerjaan barunya, bahkan meskipun takut ketinggian ia tidak menolak (meskipun sebenarnya ingin) saat ditugaskan naik ke tiang kapal. Seiring perjalanan waktu, meskipun awalnya tampak tidak cocok, ternyata Hornblower dapat menjadi pelaut yang baik dan menunjukkan leadership dan inisiatif yang tinggi. Tapi sifat Hornblower yang cenderung introvert membuatnya lebih banyak introspeksi, lebih banyak memikirkan kesalahan yang telah ia perbuat daripada kejayaan yang telah diraihnya. Ia lebih suka tidak menerima pujian atas inisiatif dan prestasinya, karena mengingat dalam pencapaian tersebut ia juga melakukan kesalahan, yang meskipun dianggap sepele oleh atasannya, ia sendiri tidak dapat mengabaikannya.

3. Cerita

Buku ini menceritakan dua tahun pertama karir Hornblower di angkatan laut, dari midshipman baru sampai yang tidak mengerti apa-apa sampai menjadi letnan. Dibagi dalam sepuluh bab, masing-masing bab menceritakan satu episode petualangan Hornblower.

Pada bab pertama, sebagai orang baru di angkatan laut Hornblower ditugaskan di HMS Justinian yang dipimpin oleh Kapten Keene. Di sinilah ia menjadi bulan-bulanan Midshipman Simpson, yang ditelan Hornblower karena tak mau cari masalah, sampai suatu ketika Simpson menuduhnya curang saat main kartu whist. Hornblower tidak terima dituduh demikian di depan banyak orang, dan kenyataannya Simpson kurang paham aturan main dan tidak bisa matematika, sedangkan ia bisa menang karena mengerti aturan main dan sebagai jago matematika ia juga jago menghitung kartu (keahlian yang pada zaman sekarang akan membuatnya diusir dari kasino). Karenanya, ia menantang Simpson untuk duel, yang berakhir dengan hasil yang di luar dugaan, dan Hornblower dimutasikan ke HMS Indefatigable agar memiliki kesempatan karir yang lebih baik.

Pada bab-bab selanjutnya, Hornblower mendapat tantangan-tantangan yang berbeda. Terlibat dalam beberapa pertempuran di laut maupun di darat, sampai sempat menjadi tahanan selama dua tahun di Spanyol sebelum akhirnya dibebaskan atas inisiatifnya menolong pelaut Spanyol.

4. Versi live action

Pada tahun 1998 - 2006 telah ditayangkan serial TV Hornblower sebanyak 8 episode, yang didasarkan pada petualangan Hornblower di masa muda, termasuk dari novel Mr Midshipman Hornblower ini, yang ditayangkan oleh stasiun ITV dan A&E di Inggris, dengan pemeran utama Ioan Gruffud.




Tuesday, March 10, 2015

The Last Legion

The Last Legion

My rating: 3 of 5 stars

What if... akhir dari Kekaisaran Romawi merupakan awal dari mitos King Arthur?

Valerio Massino Manfredi bermain-main dengan kemungkinan ini dalam novel The Last Legion yang dirilisnya pada tahun 2002.

Kekaisaran Romawi Barat runtuh pada tahun 476 M, oleh serangan tentara barbar di bawah pimpinan Odoacer. Kaisar terakhir, Romulus Augustus, yang masih berumur 13 tahun, ditangkap dan dibuang ke Pulau Capri. Berdasarkan permintaan terakhir Orestes, ayah Romulus, yang tewas dalam serangan itu, salah seorang tentara dari Legiun Nova Invicta, Aurelius Ambrosius Ventidius, bersumpah untuk membebaskan putranya dari cengkeraman kaum barbar.

Meskipun legiunnya telah hancur, Aurelius tidak bergerak sendirian. Ia mendapat bantuan dari dua legiunnya yang selamat, Rufius Vatrenus dan Cornelius Batiatus, mantan prajurit Yunani Orosius dan Ambrosius, serta "pendekar wanita" dari Venesia, Livia Prisca. Ia berhasil membebaskan Romulus dari Pulau Capri, sekaligus gurunya, laki-laki Celtic misterius dengan nama latin Meridius Ambrosinus. Bukan itu saja, selama ditawan Romulus malah menemukan harta karun, pedang buatan suku Calibia warisan Julius Caesar, Konon, menurut legendanya, barang siapa yang berhasil memiliki pedang itu akan menjadi penguasa. Entah kenapa sampai di sini, aku malah teringat cerita silat To-liong-to.

Sudah, selesai ceritanya? Belum. Cerita baru saja dimulai.

Lolosnya Romulus tidak dapat dibiarkan oleh Odoacer, yang mengutus tangan kanannya Wulfila untuk memburu tawanannya yang kabur. Sial bagi Aurelius dan kawan-kawan, mereka tidak bisa meminta bantuan Kekaisaran Romawi Timur, yang lebih memihak kaum barbar. Pilihan terakhir mereka adalah menyeberang ke Britania, di mana konon masih terdapat Legiun Terakhir Romawi, Legiun XII Draco.

Tapi ternyata, lagi-lagi Aurelius cs harus kecewa, karena Legiun XII Draco sudah tidak ada lagi. Pulau Britania juga berada di bawah kekuasaan oleh Wortigern, yang dibujuk Wulfila untuk bekerja sama untuk menangkap buronannya.

Ke mana perginya Legiun XII Draco? Bisakah segelintir orang mempertahankan diri dari serangan ratusan orang dalam pertempuran terakhir? Dan yang paling penting, apa hubungan kisah legiun terakhir Romawi ini dengan legenda King Arthur?

Spoiler #1:
Nama tradisional Raja Britania adalah Pendragon, yang berarti "Kepala Naga" atau "Pemimpin Naga". Berdasarkan legendanya, ayah Raja Arthur bernama Uther Pendragon. Dalam novel, ada Legiun Keduabelas Naga, yang membuat Romulus, sebagai pemimpin utamanya, dijuluki Pendragon.

Spoiler #2:
Nama asli guru Romulus, Meridius Ambrosinus adalah Myrdin Emries, yang kemudian lama-lama lebih dikenal dengan nama Merlin.

Spoiler #3:
Pedang wasiat Julius Caesar berukiran "Cai.Iul.Caes. Ensis Caliburnus" yang berarti "Pedang buatan Calibia milik Caius Julius Caesar." Di akhir novel, Romulus melontarkan jauh-jauh pedang itu hingga menancap di batu. Seiring dengan berjalannya waktu, ukiran huruf asli memudar, sehingga yang dapat terbaca hanya:



Movie Adaptation:

Saturday, January 10, 2015

Dreamsongs: A Rretrospective

Penulis: By George R.R. Martin

Penerbit : Gollancz, Great Britain

Book 1 : ISBN: 978-0-75289-008-1, 
Halaman: 656
Harga beli: Rp. 30.000,-
Tanggal beli: 29 Mei 2014

Book 2 : ISBN 978-0-75289-008-1
Halaman: 736
Harga beli: Rp. 69.000,-
Tanggal beli: 03 November 2013


Kedua buku bantal ini termasuk yang kubabat dari timbunan pada awal tahun baru ini. Yay, ini bisa diikutkan Read Big Challenge mestinya :) 

Alasan aku membeli kedua buku ini
1. Penulisnya. 
Rasanya cukup jelas, mengingat aku suka banget serial A Song of Ice and Fire yang sayangnya entah kapan bakal tamat. Semoga beliau diberikan kesehatan dan mood yang baik untuk dapat menyelesaikan masterpiece-nya. Amin.

2. Covernya.
Keren banget. Nget. 'Nuff said.

3. Harga banting
Kedua buku ini kudapat di lapak obral Periplus dalam dua bazar yang berbeda. Yang kudapat duluan malah buku keduanya, yang kubeli waktu IBF 2013. Buku pertamanya kudapat dengan harga lebih miring lagi pas JBF 2014.

4. Penasaran dengan karya-karya lain GRRM selain serial ASOIAF dan Wild Cards.

Review
Sejak aku membeli dan menyampul kedua buku ini, aku sama sekali tidak pernah menyentuh apalagi membuka-buka isinya seperti apa. Iyaa, sosok fisiknya yang gendut memang membuat tangan enggan menjamah sewaktu sedang mengobok-obok timbunan mencari bahan bacaan berikutnya. Yang aku tahu, isinya kumpulan cerpen/novela GRRM, dan salah satunya semacam prekuel dari serial ASOIAF.

Ternyata... Kumcer ini dibagi dalam bab-bab yang selalu diawali dengan memoir GRRM tentang catatan perjalanan sejarahnya sebagai penulis (ini menjelaskan kenapa ada subjudul A Rrestropective). Dan... aku malah jauh lebih menyukai memoir bersambung ini ketimbang kumpulan cerpen/novela-nya itu sendiri :)

Bagi yang mengira GRRM adalah spesialis penulis fantasy-epic seperti ASOIAF, dengan membaca kumpulan karya awalnya ini akan mengetahui bahwa ia tidak menulis dalam satu genre saja. Selain cerita fantasi, ia juga menulis cerita horor, thriller dan sci-fi, malah waktu remaja, sebagai penggemar komik superhero, ia menulis cerita superhero juga. Pada tahun kedua kuliah jurnalisme, dalam mata kuliah Sejarah Skandinavia ia malah menulis paper  dalam bentuk cerpen. Dapat nilai A lagi!

Dreamsongs Buku 1 mencakup cerpen/novela GRRM di masa awal-awal ia berkarya. Setiap bab memoir diikuti dengan beberapa karyanya yang ditulis pada tahapan karir kepenulisan yang dikisahkannya. Misalnya dalam Bab 1: A Four Color Fanboy, mencakup cerpen Fortress, yang merupakan paper/cerpen dari mata kuliah Sejarah Skandinavia-nya.

Ada lima bab dalam buku ini, termasuk kumpulan karya-karya yang pertama kali dibeli dan diterbitkan oleh majalah, yang membuat GRRM akhirnya memutuskan menjadi penulis full-time. Apalagi ternyata meskipun lulus dengan magna cum laude, cari kerja itu susah, Jenderal.

Khusus untuk cerpen-cerpen di buku ini, aku cenderung lebih menyukai yang bergenre Sci-fi ketimbang genre-genre lainnya.

Dreamsongs Buku 2 mencakup cabang karirnya yang merambah Hollywood sebagai penulis dan produser program televisi, sehingga termasuk dalam karya-karya yang dijejalkan di buku ini adalah salah satu naskah episode Twilight Zone. Ada pula naskah pilot Doorways yang gagal menjadi serial TV. Sayang juga sih, Padahal premis ceritanya mirip-mirip Sliders, karena tokoh-tokohnya bisa jalan-jalan ke dunia lain. Berat biaya produksinya karena settingnya terus berubah, mungkin?

GRRM yang belum melupakan mimpi masa kanak-kanaknya menulis cerita superhero belakangan menciptakan konsep serial cerita (serta mengkompilasi dan mengedit ) Wild Cards yang ditulis oleh para anggota Wild Cards Consortium yang bejibun banyaknya. Tapi tentu saja yang dimasukkan ke Buku 2 ini cerpen-cerpen yang merupakan buah karya GRRM selaku kontributor.

Dan terakhir, yang kucari-cari memang novela yang masih satu universe dengan serial ASOIAF: The Hedge Knight: A Tale of the Seven Kingdom, dengan tokoh utama Dunk alias Ser Duncan the Tall, dengan setting beberapa generasi sebelum ASOIAF.








Sunday, December 14, 2014

Pendekar Pemanah Rajawali

Pendekar Pemanah Rajawali, Jilid 1Pendekar Pemanah Rajawali, Jilid 1 by Jin Yong
My rating: 4 of 5 stars

Ini baca ulang entah yang kesekian puluh kalinya, barangkali.

Tapi ini pertama kali aku membaca Sia Tiauw Eng Hiong dengan ejaan Mandarin, yang terus terang saja, tidak familiar di mata dan tidak sinkron di otak. Mau bagaimana lagi, seumur-umur tahunya cuma Sia Tiauw Eng Hiong versi ejaan Hokkian (di teks terjemahan serial TVB sekalipun, meskipun pengucapan para aktor dan aktrisnya memang beda) XD

Bukan itu saja, semua nama julukan dan jurus yang biasanya pada cerita silat (saduran maupun bukan) dipertahankan menggunakan bahasa asli (ejaan Hokkian, tentunya) juga diterjemahkan jadi bahasa Indonesia. Mengurangi ketidaksinkronan? Mungkin saja. Tapi bila biasa dengan istilah Kiu-im Cin-keng atau Hang-liong Sip-pat-ciang, siap-siap saja, jangan berharap menemukannya dalam bentuk teks.

Terlepas dari ejaannya (risiko yang sudah kusadari benar saat membeli edisi ini), rupa-rupanya buku ini adalah terjemahan ini dari Edisi Revisi Baru (kalau menurut halaman pendahuluan dari Jin Yong, ini revisi ketiga). Jadi, jelas, ada beberapa perbaikan dari sang master untuk cerita yang mungkin dianggap kurang pas atau kurang nyambung.

Di awal cerita, yang biasanya dimulai dengan pertemuan pertama Kwee Siauw Thian (Guo Xiaotian) dan Yo Tiat Sim (Yang Tiexin) dengan imam Coan-cin-kauw (aliran Quanzhen) Khu Ci Kee (Qiu Chuji), direvisi dengan menampilkan tetangga mereka yang rajin mencuri harta dan benda berharga lainnya dari istana. Tentunya revisi ini, meskipun hanya terasa bagai tempelan, bertujuan untuk memberikan koneksi dengan jalan cerita di masa yang akan datang, yang bakal mengungkapkan bahwa tetangga mereka itu ternyata mantan murid Oey Yok Su (Huang Yaoshi), yang mencuri harta karun demi merebut kembali hati sang guru.

Di akhir cerita, revisi yang mencolok adalah asal usul Yo Ko (Yang Guo). Di versi awal, Yo Ko adalah anak dari gadis pencari ular yang diperkosa oleh Yo Kang (Yang Kang). Berbeda dengan versi sinetron, eh, video silat, di mana Yo Ko adalah anak Bok Liam Cu (Mu Nianci). Mungkin demi kemaslahatan umat perlu dilakukan sinkronisasi antara kedua versi yang berbeda, atau mungkin juga untuk mengurangi kadar kebejatan Yo Kang, yang kalau di versi lama mengaku cinta pada Bok Liam Cu tapi tetap tega memperkosa gadis lain yang diculik dan dipersembahkan oleh Tiat-ciang-pang. Ini murni opini nuduh dariku sih :)

Pada penutup kisah pertama dari Trilogi Rajawali Jin Yong ini, timbul pemikiran filosofis tentang eksistensialisme, yang dirasakan oleh dua orang yang masing-masing telah mencapai puncak kejayaan yang berbeda: Auwyang Hong (Ouyang Feng) yang menjadi nomor satu di dunia persilatan, dan Jenghis Khan yang menjadi penguasa nomor satu di kolong langit.

Sebenarnya siapa aku?
Dalam hidup ini siapa aku?
Sesudah meninggal bagaimana?
Siapa yang berhasil, siapa yang gagal, akhirnya apa bedanya?

View all my reviews

Tuesday, December 2, 2014

SS-GB

SS-GBSS-GB by Len Deighton
My rating: 4 of 5 stars

Aku suka berandai-andai.

Karena itu, aku termasuk yang menyukai cerita dengan setting What-If, atau alternate history.

Serial TV Sliders (1995-2000) yang bercerita tentang parallel universes, di mana sejarah di dunia-dunia lain berjalan ke arah yang berbeda-beda dengan dunia kita, juga salah satu serial TV favoritku. Untuk komik, serial Elseworlds-nya DC atau manga Zipang juga jadi bacaan favoritku.

Bagaimana dengan novel?

Sejauh ini Fatherland-nya Robert Harris, yang bersetting di Jerman setelah usai Perang Dunia II di mana Jerman menjadi pemenangnya, masih berada di urutan teratas novel kesukaanku. Tapi, ternyata konon Robert Harris sendiri mendapatkan inspirasi dari novel Len Deighton yang satu ini.

SS-GB bersetting di Inggris pada bulan November 1941, sembilan bulan setelah invasi Jerman yang kemudian menaklukkan dan menduduki Inggris.

Tokoh utamanya adalah Detective Superintendent Douglas Archer, detektif pembunuhan Scotland Yard yang terkenal dengan julukan Archer of the Yard, atau Sherlock Holmes tahun 1940an. Sebagai polisi, ia tetap bersikap profesional, tanpa mempedulikan siapapun yang berkuasa di Inggris.

Ceritanya sendiri dimulai dari penyelidikan pembunuhan di sebuah toko barang antik, yang entah kenapa menimbulkan perhatian pemerintah pusat di Jerman. SS Standartenfuhrer Huth diutus untuk memimpin penyelidikan, dan mengusik ketenangan Gruppenfuhrer Kellerman, yang menjabat sebagai kepala kepolisian di Inggris.

Penyelidikan pembunuhan itu membawa Archer pada kelompok bawah tanah Inggris yang ingin membebaskan sang Raja yang ditahan di Menara London serta penelitian bom atom yang dilakukan secara diam-diam oleh militer Jerman di Inggris. Bukan hanya itu, Archer juga terjebak di tengah-tegah perebutan kekuasaan antara militer Jerman dengan SS, bahkan dalam tubuh SS sendiri, karena Kellerman ingin menyingkirkan Huth yang berpotensi mengambil alih "kerajaan"-nya, sedangkan Huth ingin membersihkan kepolisian Inggris dari pejabat yang korup sekaligus berusaha mencegah militer Jerman mengambil alih kekuasaan di Inggris dari tangan sipil.

Archer yang semula hanya berprinsip menunaikan tugas sebagai detektif dengan sebaik-baiknya pun harus memilih untuk berada di pihak yang mana untuk tetap survive tanpa mengorbankan integritasnya. Membantu kelompok bawah tanah yang pernah berusaha membunuhnya karena profesinya sebagai polisi membuatnya dianggap anjing pemburu Jerman? Membantu Huth membersihkan kepolisian Inggris yang korup? Atau cukup jadi polisi yang lurus dan jujur tanpa peduli apapun yang terjadi di sekitarnya?

Dalam novel ini, karakter yang paling kusukai bukan tokoh utamanya, melainkan Standartenfuhrer Huth. Meskipun ia memilih masuk SS karena prinsip memilih pihak yang menang, dan termasuk jenis atasan yang mementingkan hasil tanpa mau tahu prosesnya, ia adalah gambaran polisi yang efektif, efisien, dan yang paling penting: bersih. Kemampuannya memahami karakter manusia dengan sangat baik membuatnya sanggup membaca strategi dan arah permainan lawan. Pada akhir novel, Huth-lah, dan bukan Archer, yang mengungkap dan menguraikan apa yang sebenarnya terjadi dan apa yang akan terjadi, dalam kaitannya dengan benang kusut konspirasi dan tragedi yang melibatkan Archer.

Omong-omong, kalau membaca tentang Raja Inggris di kurun waktu ini, mau tak mau yang kubayangkan adalah Colin Firth, sebagaimana penampilannya di film The King's Speech. Sayangnya, nasib Raja Inggris di kisah sejarah alternatif ini kurang menguntungkan. Sudah kalah perang, invalid, ditawan di Menara London, lalu masih juga harus... *spoiler alert*


View all my reviews

Monday, September 29, 2014

Sia Tiauw Eng Hiong

Sia Tiauw Eng Hiong (Pendekar Pemanah Rajawali) Vol. 1Sia Tiauw Eng Hiong (Pendekar Pemanah Rajawali) Vol. 1 by Jin Yong
My rating: 5 of 5 stars

Perkenalan pertamaku dengan cerita Sia Tiauw Eng Hiong (selanjutnya kita sebut saja STEH) karya Chin Yung ini terjadi waktu aku masih SD, melalui media kaset video Betamax rentalan. Serial TVB Hongkong tahun 1983 yang kuikuti waktu itu tokoh utamanya diperankan oleh Felix Wong Yat Wa sebagai Kwee Ceng dan Barbara Yung Mei Ling sebagai Oey Yong. Serial teve ini sukses membuatku jadi penggemar cerita silat, meskipun belum pernah membaca buku cerita silat apapun sebelumnya. Dan tentunya membuat orang tua bersedia mensubsidi ongkos rental video secara mingguan demi hiburan anak-anak. Mungkin pertimbangannya, mendingan anak-anak anteng di rumah nonton video silat, ketimbang kelayapan di luar rumah nggak ketahuan juntrungannya.

Buku cerita silat yang pertama kubaca waktu SD adalah cersil Kho Ping Hoo. Baru setelah SMP, aku menemukan taman bacaan yang menyewakan cersil Chin Yung. Beginilah penampakan buku cersil STEH yang kusewa waktu itu:

Jadul banget ya. Buku stensilannya yang sampai 67 jilid itu hasil terjemahan O.K.T (Oey Kim Tiang), yang menurut pendapatku paling bagus dibandingkan hasil saduran lainnya. Ternyata penerbit GPU juga berpendapat sama, sehingga menerbitkan STEH terjemahan O.K.T. ini pada waktu aku sudah kuliah. Namun meskipun belasan tahun sudah berlalu, foto-foto yang dijadikan sampul oleh GPU tetap versi Wong Yat Wa-Barbara Ling. Tahu saja kalau target pasar lebih ngeh dengan serial TV jadul itu ketimbang versi yang lebih baru. Tentunya aku membeli dan mengoleksi 19 jilid terbitan GPU ini. Sayang, koleksinya sempat raib dan sekarang harus kubeli ulang dengan harga yang ngajak bokek T.T

Oke, karena cerita aslinyanya panjang, reviewnya kali ini kubuat singkat saja :

1. Tema cerita
Sangat khas cersil: balas dendam.

Tersebutlah sepasang pendekar suku Han keturunan 108 Pendekar dari cerita Batas Air, Kwee Siauw Thian dan Yo Tiat Sim, yang menjadi korban siasat seorang pangeran dari Kerajaan Kim, Wanyen Lieh, hanya gara-gara si pangeran jatuh nafsu pada istri Yo Tiat Sim. Pada saat itu, Nyonya Kwee dan Nyonya Yo dalam keadaan hamil, dan permainan nasib membuat anak-anak mereka lahir di luar Kerajaan Song: Kwee Ceng lahir di gurun pasir Mongolia, Yo Kang lahir di istana pangeran Negara Kim.

Karena nasib (dan taruhan) pula sahabat kedua pendekar, imam Khu Chi Kee menjadi guru silat pertama Yo Kang, sedangkan Kwee Ceng menjadi murid dari tujuh orang aneh Kang Lam (enam sih sebenarnya, karena yang seorang gugur sebelum sempat mengajarinya). Rencananya, apabila keturunan Pendekar Yo dan Kwee sudah dewasa dan mewarisi ilmu dari guru masing-masing, mereka akan bertanding silat untuk menuntaskan rasa penasaran dan kesalahpahaman, lalu selanjutnya bersama-sama membalaskan dendam ayah mereka.

2. MacGuffin
Cerita silat tidak lengkap tanpa MacGuffin, alias plot device dalam bentuk barang yang jadi rebutan semua orang. Kalau Infinity Gem jadi MacGuffin dalam film-film superhero Marvel, dalam cerita silat biasanya senjata pusaka atau kitab silat. Di STEH, yang jadi idaman semua orang adalah kitab Kiu-im Cin-keng , karena konon barangsiapa yang bisa menguasai ilmu silat yang ada di dalamnya maka ia akan merajai rimba persilatan.

3. Tokoh Sakti
Tokoh sakti mandraguna wajib ada di dalam cerita silat. Di STEH diwakili oleh lima orang paling sakti di rimba persilatan. Dari Dewa Tengah, Pengemis Utara, Sesat Timur, Kaisar Selatan, dan Racun Barat, dengan kesaktian dan kelebihan ilmu silat yang berbeda-beda. Mana yang lebih kuat? Lweekang atau Gwakang? It-yang-ci atau Hang-liong Sip-pat-ciang? Konon kalau masing-masing pendekar sudah mencapai puncak ilmunya, cuma tipis bedanya.

Entah kenapa, penokohan berdasarkan mata angin ini lazim ditemukan di cerita silat, terutama yang empat mata angin. Meskipun ada kungfu bernama Delapan Mata Angin (Pat-kwa-kun atau Baji-Quan), tapi jarang tokoh sakti dalam satu cerita silat sampai terdiri dari delapan orang, termasuk yang mewakili Timur Laut, Barat Laut, Barat Daya dan Tenggara. Kebanyakan barangkali. 

4. From Hero To Zero 
Kwee Ceng, tokoh utama STEH digambarkan luar biasa dungunya, sampai membuat guru-guru pertamanya sempat putus asa. Sebenarnya Kwee Ceng tidak bego-bego amat sih, tapi kalau dibandingkan dengan kekasihnya Oey Yong, atau dua tokoh utama trilogi Chin Yung lain, Yo Ko apalagi Thio Bu Ki, jelas Kwee Ceng butuh waktu lama untuk mempelajari suatu ilmu silat sampai bisa. Tapi, konon kesuksesan itu 1% bakat dan 99% kerja keras. Kwee Ceng sukses karena mau bekerja keras dan... kebetulan bernasib baik.

5. Faktor Kebetulan
Faktor kebetulan sangat berpengaruh terhadap jalan hidup dan kesuksesan Kwee Ceng. Kebetulan ia bisa menjadi pengikut Jenghis Khan, kebetulan bertemu Kang-lam Cit-hiap, kebetulan bertemu dengan Oey Yong dan membuatnya jatuh cinta dalam kesempatan pertama, kebetulan belajar silat dari Ang Cit Kong, kebetulan mengantongi Kiu-im Cin-keng, kebetulan bersaudara angkat dengan Ciu Pek Thong...

Euh... daripada disebut kebetulan, sepertinya lebih pas kalau Chin Yung memang sengaja memberkahi Kwee Ceng dengan banyak keberuntungan. Mungkin untuk mengimbangi karakternya yang lugu-lugu bego.

6. Kepahlawanan
Di buku ini, kepahlawanan yang ditekankan Chin Yung bukan hanya sifat-sifat pendekar (hiap) melainkan juga pembela tanah air (enghiong). Selain berbakti pada orang tua (dalam bentuk membalaskan dendam), guru, dan sesama, yang paling penting adalah berbakti kepada negara. Dalam hal ini, Kwee Ceng berbakti pada negara suku Han saat itu, Kerajaan Song, hanya karena ia berdarah suku Han. Tak peduli ia dilahirkan dan dibesarkan di Mongolia, bahkan menjadi panglima perang dan calon menantu Jenghis Khan, ia tetap memperjuangkan agar Kerajaan Song tidak jatuh ke tangan Kerajaan Kim, bahkan ke tangan Mongolia.  

Dalam hal ini, sikap dan pendirian Kwee Ceng yang sangat dipuja-puji sebagai enghiong ini dikontraskan dengan sikap dan pendirian Yo Kang, yang dilahirkan dan dibesarkan di Kerajaan Kim, sebagai anak pangeran Wanyen Lieh. Meskipun belakangan Yo Kang tahu asal usulnya sebagai keturunan suku Han, ia tetap membela Kerajaan Kim. Sikap yang diambilnya membuatnya dicaci dan dicap sebagai pengkhianat oleh para pendekar dunia persilatan (yang bersuku Han, tentu saja).

Pada masa negara bangsa didasarkan pada kesukuan, pendirian Yo Kang memang dianggap nyeleneh. Tapi pada masa modern, di mana kewarganegaraan seseorang bisa didasarkan tempat ia dilahirkan, apakah Yo Kang akan tetap dianggap pengkhianat? 

Dalam konsep kewarganegaraan modern, bisa jadi Yo Kang bukan pengkhianat. Ia warga negara Kerajaan Kim, tempat ia lahir dan dibesarkan, maka sudah sewajarnya bila membela kepentingan negaranya. Dan bisa jadi Kwee Ceng adalah pengkhianat, karena tidak membela kepentingan Mongolia, negara tempat ia dilahirkan dan dibesarkan.

Sebagai catatan, serial STEH sebanyak 19 jilid ini kubaca ulang pada bulan Juli. Tapi karena baru sekarang kubuat review-nya, anggap saja sah ya untuk mengikuti event:
Tema Buku Silat
Cersil STEH ini, bersama-sama dengan To-liong-to, merupakan cersil Chin Yung yang paling sering kubaca ulang. Dan gara-gara STEH, setiap kali aku membaca buku tentang Jenghis Khan baik fiksi maupun nonfiksi, aku selalu teringat pada Kwee Ceng (sewaktu menjadi panglima perang untuk penyerbuan ke Barat), dan pasukan para alias pasukan terjun payung pertama di dunia sewaktu menaklukkan Khoresm.


View all my reviews

Thursday, March 13, 2014

How to Build an Imaginary World a la Westerfeld

The Manual of Aeronautics: An Illustrated Guide to the Leviathan SeriesThe Manual of Aeronautics: An Illustrated Guide to the Leviathan Series by Scott Westerfeld
My rating: 4 of 5 stars

Pernah membaca serial Leviathan-nya Scott Westerfeld? Selain dari ilustrasi sketsa hitam putih yang menghiasi lembaran bukunya, terbayang tidak sih bagaimana wujud para makhluk dan mesin fantastis yang menjadi andalan kubu Darwinist maupun Clanker?

Scott Westerfeld sangat detail ketika berusaha membangun dunia Leviathan. Bekerja sama dengan ilustrator Keith Thompson, ia merancang secara presisi apa saja yang ada dalam imajinasinya. Seperti apa dimensi mesin fantastisnya? Bagaimana seragam dan senjata pasukan tentara Inggris, Jerman, Turki, Rusia, dan Austro-Hungaria? Ribuan detail yang mungkin terlewatkan dalam adegan tertulis harus ditetapkan. Dan semua hal penting itu akhirnya menjadi buku tersendiri.

Buku ini kuperoleh waktu iseng berselancar di bagian bargain books salah satu toko buku impor online. Buku hardcover dengan harga cuma 30k, illustrated guide-nya serial Leviathan pula? Dan waktu mengecek harga aslinya di toko buku impor online yang lain, harga aslinya ternyata mencapai 236k? KLIK! Meskipun ternyata buku hardcover ini hanya terdiri dari 54 halaman yang habis dibaca kurang dari setengah jam, semua ilustrasinya menjadi pengimbang yang tiada tara :)

Baiklah, kuberi beberapa teaser yang asyik:

The characters
The Leviathan, dari luar dan dalam
Gondola. Perhatikan detail dapur, kabin kapten, mess perwira, sampai kamar mandi
Anjungan Leviathan
Seragam di Leviathan

Stormwalker
Ilustrasinya kereeen! Rasanya nggak rugi beli buku ini dengan harga banting (ya iyalah...).

WARNING: Buku ini memiliki efek samping yang berbahaya buat kesehatan dompet Anda.

Aku jadi ngiler kepingin membeli boxset serialnya! Duh!

View all my reviews

Thursday, February 27, 2014

Jaka Galing

Jaka GalingJaka Galing by Asmaraman S. Kho Ping Hoo
My rating: 2 of 5 stars

Kalau bicara tentang cerita silat (cersil) made in Indonesia, buat mereka yang segenerasi denganku, pasti teringat Asmaraman S. Kho Ping Hoo (KPH). Tapi kalau bicara tentang cersil di Indonesia, bisa jadi ingatnya malah SH Mintardja dengan Api di Bukit Menoreh atau Nagasasra Sabukinten-nya, Arswendo Atmowiloto dengan Senopati Pamungkas-nya, atau malah Bastian Tito dengan Wiro Sableng Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212 (Dari dulu angka 212 ini bikin penasaran, karena sepertinya setting Wiro Sableng sebelum angka model begini masuk ke Indonesia). Padahal, selain menuliskan puluhan judul cersil yang bersetting di Tiongkok, KPH juga menuliskan banyak cersil dengan setting di Jawa, lho!

Karena itulah, demi memperkenalkan sisi lain karya KPH dan sekalian bernostalgia, aku sengaja membaca salah satu cersil beliau yang bersetting di Jawa untuk posting bareng BBI dengan tema historical fiction Indonesia.

Apakah cersil memenuhi syarat untuk dianggap historical fiction?

Menurut Mbah Wiki, historical fiction is a literary genre that takes place in the past. Dan berhubung cersil yang kubaca ini bersetting pada zaman Majapahit di bawah kekuasaan Prabu Brawijaya, maka kuanggap memenuhi syarat untuk dianggap historical fiction, meskipun tidak ada peristiwa bersejarah sama sekali di dalamnya.

Mengapa memilih cersil Jaka Galing?

Kebetulan cersil 4 jilid ini diberikan secara gratis oleh toko buku bekas langganan di Plaza Semanggi sebagai bonus setelah membeli ulang satu set cersil Sia Tiauw Eng Hiong dan satu set manga Akemi Yoshimura. Aku sih maunya dikasih cersil KPH yang berjudul Sejengkal Tanah Sepercik Darah yang 23 jilid, tapi orangnya cuma rela melepas gratis cersil yang serinya sedikit (ya iyalah...). Sebenarnya ada beberapa judul cersil pendek yang bisa kupilih, Bajak Laut Kertapati misalnya. Namun akhirnya kupilih Jaka Galing karena sepertinya match dengan rambutku yang Juga Galing.

Apakah tokoh utamanya benar-benar galing?

Ilustrasi sampulnya sih menunjukkan sedikit bukti bahwa rambut tokoh utamanya lumayan galing, meskipun pada ilustrasi dalam buku tokohnya mengenakan blangkon sehingga rambutnya tidak kelihatan. Tapi... kenapa juga sih terus membahas galing apa tidaknya? Lebih baik membahas ceritanya saja yuk.

Tersebutlah sebuah kadipaten di bawah kekuasaan Majapahit yang bernama Tandes, yang dipimpin seorang adipati bernama Gendrosakti. Sang adipati suatu malam bermimpi melihat api kecil menyala di dalam rumahnya, dan lama-lama api itu membesar hingga rumahnya menjadi lautan api dan terbakar habis. Seperti halnya dalam cerita Nabi Sulaiman, ia pun meminta bantuan orang pintar untuk mengartikan mimpinya. Tapi meskipun dapat menebak maknanya, tidak ada satupun cendekiawan yang berani berterus terang kepada sang adipati, sehingga akhirnya dipanggillah Panembahan Ciptaning yang terkenal sakti dan bijaksana.

Berbeda dengan cendekiawan lain yang main aman, Panembahan Ciptaning langsung menyatakan bahwa api kecil di rumah itu adalah siluman yang berwujud manusia yang akan mendatangkan bencana dan kehancuran pada sang adipati. Tanpa tedeng aling-aling lagi ia pun menyebutkan bahwa selir jelita kesayangan sang Adipati bernama Sariti-lah api yang dimaksud. Percayakah sang Adipati? Tentu tidak. Ujung-ujungnya ia malah membunuh sang panembahan.

Cerita akan berhenti sampai di sini, kalau saja sang panembahan tidak punya anak. Eh, cucu yang diaku sebagai anak, ding. Sang cucu yang bernama Jaka Galing itu pun bersumpah akan membalas dendam.
Belakangan ia dibantu banyak penduduk yang menderita di bawah kekuasaan Adipati Gendrosakti yang sewenang-wenang dalam pengaruh buruk selirnya. Ceritanya pun berkembang menjadi semacam cerita Robin Hood, karena Jaka Galing dan merry-men-nya bermarkas di hutan dan meneror sang adipati.

Meskipun ceritanya pendek dan sederhana, cukup banyak bumbu sinetron bertebaran di sini. Selain tema balas dendam, ada rencana pembunuhan istri tua adipati, ada perselingkuhan antara si selir dengan tamu negara, ada kisah cinta segitiga, bahkan sampai cerita anak raja yang baru pertama kali bertemu bapaknya.

Begitu saja? Nggak ada kesan lain?

Pasti ada lah. Yang lebih banyak membuat nostalgia malah gaya bahasa KPH yang jadul banget. Waktu aku membaca cersil KPH di masa SD sampai SMA saja sudah terasa lebay, apalagi sekarang, ya? Pembaca zaman sekarang bisa jadi gatal-gatal dibuatnya.

Contohnya dalam kalimat-kalimat seperti ini:
"Alangkah hebat pemuda itu!"
atau
"Duhai Eyang Panembahan yang tercinta..."
atau di kala memuji kecantikan seorang dara
"Bibirnya manis benar, coba kauperhatikan. Seperti potongan gendewa Sang Arjuna, lengkung lekuknya demikian sempurna, tipis-tipis penuh dan halus kemerah-merahan, senyumnya  melebihi madu manisnya, dan giginya bagaikan mutiara berderet. Dan... kau pernah melihat lesung pipit di sebelah kiri mulutnya? Aduh, memang manis benar mulut itu!"

Wadaw banget nggak sih. Belum lagi wejangan-wejangan yang cukup makan tempat di sana-sini. Eh, justru itu kelebihan cersil KPH, ya, tetap ada pesan moral untuk membimbing pembaca ke jalan yang benar meskipun yang dibaca cersil dan bukan buku filsafat apalagi buku agama.

Selain cersil ini, sebenarnya aku juga dapat cersil gratisan lain yang berjudul Rondo Kuning. Entah rondo muda atau rondo tua, dan entah apanya yang kuning. Mungkin giginya. Tapi aku tidak sepenasaran itu untuk segera membacanya. Mungkin aku perlu waktu sebelum mulai membaca cersil KPH lainnya.

Sebagai bonus, kutambahkan quote KPH dari cersil Jaka Galing ini, yang sepertinya relevan dengan kondisi politik Indonesia yang carut-marut:

Memang demikian sifat orang yang telah lupa. Yang bodoh memaki orang lain goblok, yang edan memaki orang lain gila.




View all my reviews