Showing posts with label kumpulan cerpen. Show all posts
Showing posts with label kumpulan cerpen. Show all posts

Monday, January 30, 2017

Miniatures: The Very Short Fiction of John Scalzi

Judul : Miniatures: The Very Short Fiction of John Scalzi

Penulis : John Scalzi

Penerbit : Subterranean Press

Tebal : 142 halaman

Dibaca tanggal : 26 - 27 Januari 2017

Verdict :






Review :
FYI, aku menjadi penggemar karya-karya John Scalzi sejak pertama kali berkenalan dengan novel pertamanya: Old Man's War, dan setelah mengetahui bahwa Scalzi memiliki situs blog pribadi yaitu whatever.scalzi.com, aku juga menjadi pembaca/pengikut setia blognya. Alasannya banyak. Selain gaya bertuturnya yang enak dibaca, selera humor Scalzi juga rupanya pas dan cocok dengan seleraku. Alhasil aku bukan hanya memburu karya-karya fiksinya, melainkan juga berusaha mencari karya-karya nonfiksinya.

Buku kumpulan cerpen ini merupakan salah satu karya teranyarnya yang terbit di akhir tahun 2016. Menilik daftar isinya, sebenarnya sebagian dari cerpen yang ada sudah pernah kubaca di blognya, khususnya di seksi The Scalzi Creative Sampler.

Menurut pengakuan Scalzi, ia hanya punya dua kecepatan alami dalam menulis cerita fiksi: novel (lebih dari 40.000 kata dan biasanya mendekati 100.000 kata), dan cerpen yang sangat pendek, sekitar 2.000 kata. Sebagai mantan penulis review film dan kolom opini di suratkabar, ia terbiasa dibatasi oleh jumlah kata, yang rata-rata 800 kata atau kurang. Dan di buku ini, yang terdiri atas 18 cerita, panjangnya berkisar antara 427 - 2.296 kata, dengan rata-rata 1.310 kata. Semuanya singkat, padat, to the point. Dan tentu saja, hilarous! Buat yang sreg dengan gaya bercerita Scalzi, reaksi saat membaca cerpen ini bisa berada di antara senyum simpul, terkikik, sampai terpingkal-pingkal.

If drama is a marathon, humor is a sprint.
Get in, make 'em laugh. Get out.
--- John Scalzi

Seperti apakah gambaran singkat cerita-cerita buku ini? Well, sebagian besar karya Scalzi termasuk genre Science Fiction, jadi setting di kumcer kebanyakan berada di dunia di mana interaksi manusia bumi dan alien dari planet lain sudah amat sangat lumrah adanya, Absurd? Itu mah sudah pasti!

Tema dan premisnya gado-gado, antara lain seperti ini:
- Hasil wawancara penulis Sol System Weekly Report dengan sembarang orang yang ditemui di jalan tentang kejadian menarik yang mereka alami berkaitan dengan spesies hewan alien.
- Hasil searching sejarah alternatif di mesin yang bisa mengakses alur waktu alternatif. Untuk keyword THE DEATH OF ADOLF HITLER pada tanggal 13 Agustus 1908 di Wina, ada 8 skenario alternatif, dengan penyebab kematian yang berbeda-beda, dan sejarah alternatif yang berbeda-beda pula. Semuanya diakhiri dengan siapa manusia (atau nonmanusia) yang pertama kali mendarat di bulan (e.g. Vladimir Putin manusia pertama mendarat di bulan, 1988).
- Hasil wawancara ekslusif dengan Pluto, tak lama setelah statusnya di tata surya didemosi dari planet menjadi planet kerdil,
- Transkip tanya jawab dengan Denise Jones, superbooker (baca: agen/calo resmi superhero) dan transkrip tanya jawab dengan Albert Vernon, analis super villain.
- Bagaimana jika yogurt memiliki intelejensi dan mengambil alih tatanan dunia.
- Surat Edaran dari VP Humas bagi karyawan FoodMaster Supermarkets dalam berinteraksi dengan pelanggan alien Manxtse dari planet Cz'Dhe.
- Hasil wawancara dengan Brandon Smith, yang mengajukan class action suit kepada Space Fleet of the Universal Union atas nama kru armada pesawat antariksanya, karena pelanggaran atas regulasi keselamatan kerja. Cerita ini merupakan bahan promosi novel Redshirts, yang biasanya dibacakan oleh Scalzi dan teman/penonton, pada setiap lokasi tur.
- Keluh kesah smart appliances (dari penyegar ruangan, sistem keamanan rumah, kepala shower, kulkas, dll) tentang majikan manusia mereka, seandainya mereka bukan cuma pintar dan punya artificial intelligence, tapi juga perasaan.
- dll.

Duh. Ini seharusnya review, ya, bukannya daftar ringkasan cerita. Lagipula, meskipun bisa memberi sedikit gambaran tentang premis temanya, tetap saja yang namanya ringkasan tidak ada apa-apanya ketimbang cerita aslinya. Saranku, mending langsung baca bukunya saja sekalian. Beneran deh. Serius. Very recommended buat siapapun yang butuh hiburan segar!


Tema : Science Fiction











Monday, February 1, 2016

Politically Correct Bedtime Stories

Judul : Politically Correct Bedtime Stories

Penulis : James Finn Garner

Edisi : Hardcover, 1994

Penerbit : Souvenir Press

Tebal : 79 halaman (Hardcover)

ISBN : 0-285 -63223-X

Dibeli di : Lottemart Ratu Plaza

Harga : Rp. 45.000,-

Dibeli tanggal : 30 Januari 2016

Dibaca tanggal : 31 Januari 2016

Catatan : Program BUBU

Review suka-suka :

Aku pernah membeli dan membaca buku ini pada bulan Mei 2011 (iya, sekarang bukunya sudah raib entah ke mana), tepatnya versi terbitan GPU tahun 1996, dengan judul terjemahan Kumpulan Dongeng Plesetan Bagi Segala Aktivis.

Entah aktivis mana yang dimaksud sang penterjemah. Sebagai seorang aktivis di bidang baca-membaca, terus terang aku merasa buku ini mungkin saja memang ditujukan untukku. Mungkin saja, lho.

Buku ini merupakan satir / parodi dari beberapa dongeng yang rasanya cukup akrab bagi kita. Konon buku ini pernah ditolak oleh 27 penerbit, sebelum akhirnya diterbitkan oleh Macmillan dan menjadi bestseller internasional dan terjual jutaan eksemplar.

Seperti apa model plesetan/satir/parodi kumpulan dongeng ini?

Pertama, dongengnya menjadi rada masuk akal, realistis, pragmatis, dan... terkadang feminis.

Contohnya bisa ditengok pada adegan Si Tudung Merah waktu ketemu Serigala Jahat di bawah ini:

The wolf said, 'You know, my dear, it isn't safe for a little girl to walk through these woods alone.'

Red Riding Hood said, 'I found your sexist remark offensive in the extreme, but I will ignore it because of your traditional status as an outcast from society, the stress of which has caused you to develop your own, entirely valid, worldview. Now, if you'll excuse me, I must be on my way.'

Atau pada cerita Rumpelstiltskin, bagaimana realistisnya cara Esmeralda mengubah jerami menjadi emas:

To turn the straw into gold, they took it to a nearby farmers' cooperative, where it was used to thatch an old roof. With a drier home, the farmers became healthier and more productive, and they brought forth a record harvest of wheat for local consumption. The children of the kingdom grew strong and tall, went to a cooperative school, and gradually turned the kingdom into a model democracy with no economic or sexual injustice and low infant mortality rates. As new investments money poured in from all over the world, the farmers remembered Esmeralds's generous gift of straw and rewarded her with numerous chests of gold.

Oke, mengubah jerami menjadi emas itu... lama banget. Itu juga kalau para petaninya ingat jasa Esmeralda sih.

Cara bercerita James Finn Garner juga terlalu jujur (atau sarkastis sih sebenarnya?) menggambarkan tipikal seorang pria (baca: pangeran) bila melihat wanita cantik, which is judging a book by its cover, seperti ini:

When the prince saw Rapunzel, her greater-than-average physical attractiveness and her long, luxurious hair led him to think, in a typically lookist way, that her personality would also be beautiful. (This is not to imply that all princes judge people solely by their appearance, nor to deny this particular prince his right to make such assumptions.)

Jalan cerita di kumpulan dongeng ini hampir semuanya nyeleneh habis dengan ending yang bisa jadi jauuuuh banget dari ending dongeng yang pernah kita tahu.

Gaya berbusana sang emperor yang *ahem* hemat bahan bisa menjadi trend gaya hidup baru. Cinderella bukan hanya membuat sang pangeran kesengsem, tapi juga semua pria di pesta dansa (dan sama sekali tak ada yang mau mengalah) sehingga pesta dansa menjadi battle royale brutal tanpa ada pemenangnya. Dan bagaimana nasib Frog Prince kalau ia ternyata bukan seorang pangeran melainkan hanya seorang pengembang real-estat yang dikutuk tukang sihir yang merasa dicurangi?

The Last Verdict :

Friday, January 16, 2015

The Tiny Book of Tiny Stories


Aku tidak sengaja menemukan buku kecil berisi kumpulan cerita mini ini ketika sedang berselancar di dunia maya. Dan aku langsung tertarik untuk membacanya karena 3 hal yang tidak penting:

1. Cover buku pertamanya yang berwarna merah.

2. Ilustrasinya yang unyu dan imut.

3. Nama Joseph Gordon-Levitt.

Saturday, January 10, 2015

Dreamsongs: A Rretrospective

Penulis: By George R.R. Martin

Penerbit : Gollancz, Great Britain

Book 1 : ISBN: 978-0-75289-008-1, 
Halaman: 656
Harga beli: Rp. 30.000,-
Tanggal beli: 29 Mei 2014

Book 2 : ISBN 978-0-75289-008-1
Halaman: 736
Harga beli: Rp. 69.000,-
Tanggal beli: 03 November 2013


Kedua buku bantal ini termasuk yang kubabat dari timbunan pada awal tahun baru ini. Yay, ini bisa diikutkan Read Big Challenge mestinya :) 

Alasan aku membeli kedua buku ini
1. Penulisnya. 
Rasanya cukup jelas, mengingat aku suka banget serial A Song of Ice and Fire yang sayangnya entah kapan bakal tamat. Semoga beliau diberikan kesehatan dan mood yang baik untuk dapat menyelesaikan masterpiece-nya. Amin.

2. Covernya.
Keren banget. Nget. 'Nuff said.

3. Harga banting
Kedua buku ini kudapat di lapak obral Periplus dalam dua bazar yang berbeda. Yang kudapat duluan malah buku keduanya, yang kubeli waktu IBF 2013. Buku pertamanya kudapat dengan harga lebih miring lagi pas JBF 2014.

4. Penasaran dengan karya-karya lain GRRM selain serial ASOIAF dan Wild Cards.

Review
Sejak aku membeli dan menyampul kedua buku ini, aku sama sekali tidak pernah menyentuh apalagi membuka-buka isinya seperti apa. Iyaa, sosok fisiknya yang gendut memang membuat tangan enggan menjamah sewaktu sedang mengobok-obok timbunan mencari bahan bacaan berikutnya. Yang aku tahu, isinya kumpulan cerpen/novela GRRM, dan salah satunya semacam prekuel dari serial ASOIAF.

Ternyata... Kumcer ini dibagi dalam bab-bab yang selalu diawali dengan memoir GRRM tentang catatan perjalanan sejarahnya sebagai penulis (ini menjelaskan kenapa ada subjudul A Rrestropective). Dan... aku malah jauh lebih menyukai memoir bersambung ini ketimbang kumpulan cerpen/novela-nya itu sendiri :)

Bagi yang mengira GRRM adalah spesialis penulis fantasy-epic seperti ASOIAF, dengan membaca kumpulan karya awalnya ini akan mengetahui bahwa ia tidak menulis dalam satu genre saja. Selain cerita fantasi, ia juga menulis cerita horor, thriller dan sci-fi, malah waktu remaja, sebagai penggemar komik superhero, ia menulis cerita superhero juga. Pada tahun kedua kuliah jurnalisme, dalam mata kuliah Sejarah Skandinavia ia malah menulis paper  dalam bentuk cerpen. Dapat nilai A lagi!

Dreamsongs Buku 1 mencakup cerpen/novela GRRM di masa awal-awal ia berkarya. Setiap bab memoir diikuti dengan beberapa karyanya yang ditulis pada tahapan karir kepenulisan yang dikisahkannya. Misalnya dalam Bab 1: A Four Color Fanboy, mencakup cerpen Fortress, yang merupakan paper/cerpen dari mata kuliah Sejarah Skandinavia-nya.

Ada lima bab dalam buku ini, termasuk kumpulan karya-karya yang pertama kali dibeli dan diterbitkan oleh majalah, yang membuat GRRM akhirnya memutuskan menjadi penulis full-time. Apalagi ternyata meskipun lulus dengan magna cum laude, cari kerja itu susah, Jenderal.

Khusus untuk cerpen-cerpen di buku ini, aku cenderung lebih menyukai yang bergenre Sci-fi ketimbang genre-genre lainnya.

Dreamsongs Buku 2 mencakup cabang karirnya yang merambah Hollywood sebagai penulis dan produser program televisi, sehingga termasuk dalam karya-karya yang dijejalkan di buku ini adalah salah satu naskah episode Twilight Zone. Ada pula naskah pilot Doorways yang gagal menjadi serial TV. Sayang juga sih, Padahal premis ceritanya mirip-mirip Sliders, karena tokoh-tokohnya bisa jalan-jalan ke dunia lain. Berat biaya produksinya karena settingnya terus berubah, mungkin?

GRRM yang belum melupakan mimpi masa kanak-kanaknya menulis cerita superhero belakangan menciptakan konsep serial cerita (serta mengkompilasi dan mengedit ) Wild Cards yang ditulis oleh para anggota Wild Cards Consortium yang bejibun banyaknya. Tapi tentu saja yang dimasukkan ke Buku 2 ini cerpen-cerpen yang merupakan buah karya GRRM selaku kontributor.

Dan terakhir, yang kucari-cari memang novela yang masih satu universe dengan serial ASOIAF: The Hedge Knight: A Tale of the Seven Kingdom, dengan tokoh utama Dunk alias Ser Duncan the Tall, dengan setting beberapa generasi sebelum ASOIAF.








Tuesday, May 27, 2014

Murjangkung

Murjangkung: Cinta yang Dungu dan Hantu-hantuMurjangkung: Cinta yang Dungu dan Hantu-hantu by A.S. Laksana
My rating: 4 of 5 stars

Setelah menyadari kesalahan fatal dalam membaca petunjuk posting bareng BBI bulan ini, aku pun langsung mengecek list 10 Besar KLA 2013 di sini untuk mengecek apakah ada buku yang sudah pernah kubaca, belum pernah kureview, dan ada di rak buku perpustakaanku.

Ah, ternyata ada dua. Ada Murjangkung dan Surat Panjang tentang Jarak Kita Yang Jutaan Tahun Cahaya. Baiklah, karena waktu untuk balik lagi ke Jakarta sudah mepet dan aku belum kepingin baca Pasung Jiwa, apalagi buru-buru karena deadline posting KLA tinggal satu hari lagi, biar kubahas Murjangkung saja deh.

Buku ini kubeli di Gramedia Banjarmasin. Waktu itu aku sedang melakukan perjalanan dinas, baru pertama kali ke Banjarmasin, dan lokasi wisata kedua yang wajib kukunjungi setelah Pasar Terapung ya toko Gramedia setempat. Karena berdasarkan info teman-teman Goodreads dan BBI bahwa harga buku di luar Jawa lebih mahal, aku cuma membeli satu saja, ceritanya sih untuk dibaca pas perjalanan pesawat balik ke Jakarta. Eh ternyata... baru dibaca seminggu kemudian. Ah, sudahlah.

Apa yang menarik dari buku ini?

Jalinan kalimat yang asyik dan pilihan kata yang apik membuat cerita-cerita pendeknya  yang unik dan absurd malah terasa menarik.

Oh ya, buku ini memang kumpulan cerpen. Tapi seperti biasa kalau membahas kumcer, aku takkan membuat review per judul, hanya membahas hal-hal yang menarik saja... (baca: malas bahas satu-satu, euy!).

Cover
Gambar kapal eropa terbalik di sudut kiri atas dengan judul simpel murjangkung: cinta yang dungu dan hantu-hantu.

Siapa Murjangkung? Buat yang sering baca komik Sawung Kampret-nya Dwi Koen pasti hafal deh ini nama panggilan sayang dari Jan Pieterzoon Coen alias J.P. Coen, Gubernur Jenderal Hindia Belanda yang meninggal di Batavia pada tanggal 21 September 1629 pada usia 42 tahun.

Kalau cuma lihat cover depan dan tidak membaca sinopsis di cover belakang, bisa-bisa calon pembaca menuduh buku ini adalah kompilasi cerita cinta dan cerita horor yang dialami Murjangkung...

Isi
Benarkah ini terdiri dari cerita romhor (roman-horor) Murjangkung selama hidup di Indonesia?

Jelas tidak sih, tapi cerpen pertama yang berjudul Bagaimana Murjangkung mendirikan kota dan mati sakit perut menjelaskan apa yang terjadi sejak ia datang sampai meninggal di Batavia pada usia 42 tahun itu. Sakit perut? Tepatnya sih gara-gara terjangkit kolera/muntaber/disentri (pilih salah satu). Gosipnya, wabah penyakit itu disebarkan oleh tentara Sultan Agung dari Mataram yang menyerang Batavia tahun sebelumnya, tapi versi A.S. Laksana ini menyebutkan awalnya gara-gara sampah dan tahi yang dibuang di kanal oleh anak-anak buah Murjangkung sendiri.

Selain bercerita tentang hikayat Batavia dan Murjangkung, A.S. Laksana bermain-main kata dan logika pada cerpen-cerpen lainnya.

Ada cerita dari hantu yang merasuki A.S. Laksana sendiri untuk menuliskan kisah asal-usul dan keluarganya (sepertinya menarik ya, kalau memang prosesnya demikian :P), ada kisah skinwalker yang bikin merinding, dan beberapa kisah cinta yang terasa absurd yang... lebih baik tak dipikirkan logikanya kalau tidak mau pusing. Tapi itu terserah pembaca, kok.

Seperti halnya seorang penulis wanita Indonesia yang gemar menggunakan nama Nayla untuk tokohnya (bukan berarti mereka orang yang sama), A.S. Laksana sepertinya gemar menggunakan nama Seto untuk tokoh-tokoh cerpennya (kembali, bukan berarti mereka orang yang sama).

Akhir kata
Is it worth to read?

Menurutku, ya. Meskipun kebanyakan cerpennya cukup absurd dan menimbulkan banyak tanya tak terjawab dan kerutan kening yang harus segera disetrika biar tak berbekas, kumpulan cerpen ini enak untuk dinikmati karena gaya penulisannya yang asyik dan absurditas ceritanya itu sendiri :)

Review ini dibuat dalam rangka...
Tema KLA 2013

View all my reviews

Friday, May 31, 2013

Roald Dahl's Adult Stories

Switch BitchSwitch Bitch by Roald Dahl
My rating: 4 of 5 stars


Switch Bitch merupakan kumpulan cerita pendek Roald Dahl yang pernah diterbitkan oleh majalah Playboy. Jadi, wajar saja kalau isinya bukan cuma nyeleneh khas Dahl tapi juga ngeres dan vulgar, sehingga sudah selayaknya dijauhkan dari jangkauan anak-anak.

Let me tell you sex some stories...



The Visitor merupakan salah satu cerita dari 28 volume buku harian Oswald Hendryks Cornelius yang diwariskan kepada keponakannya. Iya, ini Uncle Oswald yang sama dengan yang mengumpulkan sperma dari 51 orang jenius dan keluarga kerajaan di dunia, Michelangelo of Seduction yang membuat Casanova kelihatan seperti Winnie The Pooh. Konon 28 volume buku harian Oswald itu penuh dengan kisah petualangan cintanya, namun hanya beberapa cerita yang cukup aman untuk dipublikasikan alias kemungkinannya kecil untuk terkena tuntutan hukum dari ribuan wanita yang terlibat, atau lebih mungkin lagi dari ribuan suami yang merasa dipermalukan. Cerita pendek ini menuturkan pengalaman Oswald sewaktu terdampar di Gurun Sinai, karena mobilnya mengalami kerusakan. Ia menginap di rumah seorang Syria kaya yang memiliki istri dan anak perempuan yang sama rupawannya, sampai-sampai Oswald menginginkan keduanya sekaligus. Pada malam harinya, di kamar tamu yang gulita, Oswald dikunjungi seorang wanita yang memberikan layanan ranjang yang luar biasa. Esok paginya, Oswald sibuk menerka-nerka siapa teman tidurnya semalam. Nyonya rumahkah? Atau putrinya? Atau...? Jawabannya ternyata membuat Oswald merinding ketakutan.

The Great Switcheroo mengisahkan Vic dan Jerry, dua orang pria yang tinggal bersebelahan, yang berkonspirasi untuk saling meniduri istri tetangganya. Tidak, tidak, ini bukan cerita tentang swingers club, karena syarat utamanya adalah: jangan sampai para istri tahu kalau yang meniduri mereka bukan suaminya sendiri! Maka selama beberapa minggu Vic dan Jerry menyusun rencana dan strategi. Dari menetapkan Hari-H dan Jam-J aksi barteran, sampai mulai menggunakan minyak rambut dan after shave lotion yang sama. Dan pelajaran yang paling penting: mereka harus saling mempelajari prosedur bercinta satu sama lain supaya para istri tidak curiga akan perbedaan kebiasaan. Di sinilah mereka berbeda jauh, karena rupanya Vic tipe yang cepat selesai sedangkan Jerry tipe yang berlama-lama dalam bercinta. Singkat cerita, misi mereka sukses besar. Tapi, bagaimana kalau pagi harinya sang istri mengaku bahwa selama ini ia membenci seks, tapi berubah pendapat dan malah berterima kasih karena aksi ranjang semalam?

Berbeda dengan tiga cerpen lainnya, The Last Act dikisahkan dari sudut pandang seorang wanita bernama Anna Greenwood. Sejak ditinggal mati suami yang sangat dicintainya dan ditinggalkan oleh anak-anaknya satu demi satu, rasa kesepian dan putus asa membuat Anna memutuskan untuk bunuh diri. Tapi rencananya terinterupsi ketika ia membantu pekerjaan temannya, dan kesibukannya untuk sementara membuatnya kembali merasa bahagia. Sampai suatu hari ia bertemu lagi dengan Conrad, mantan pacarnya semasa SMA yang ternyata masih mencintainya. Apakah Anna sanggup menerima laki-laki asing sebagai pengganti suaminya?

Bitch merupakan kisah Oswald yang lain lagi. Oswald mendapati ahli kimia berkebangsaan Belgia yang didanainya, Henri Biotte, telah menciptakan parfum yang paling berbahaya di dunia, yang dapat membuat kaum pria kehilangan kendali dan langsung menggagahi di tempat wanita yang menggunakannya. Untuk melihat bukti keampuhan parfum yang dinamai Bitch tersebut, Oswald pun ikut menyaksikan "percobaan ilmiah" pertama di mana Simone, rekan Henri, selaku pengguna parfum pertama dipertemukan dengan seorang petinju muda dan gagah. Percobaan berlangsung sukses, dan mungkin karena ketagihan, esoknya Simone menggunakan seluruh sisa parfum yang ada untuk menggoda Henri. Masalahnya, Henri menderita penyakit jantung dan langsung semaput karena terlalu horny. Sialnya lagi, Henri belum sempat menuliskan hasil penemuannya, sehingga formula parfumnya terkubur bersamanya. Untunglah sebagai penyandang dana, Oswald sempat mendapat satu dosis kecil Bitch. Dan karena ia tidak suka presiden AS yang sedang menjabat saat ini, ia berencana membuat sang presiden beraksi di depan umum dengan bantuan parfum ajaibnya...

Dari empat cerita pendek di buku ini, The Last Act merupakan cerita yang paling serius dan kelam, menjurus ke tragedi, sementara The Great Switcheroo dapat digolongkan dramedi dalam artian drama komedi tragedi. Sedangkan untuk cerita-cerita si Paman Oswald yang nyentrik dan comedy centric, dari gaya penuturannya kita akan teringat gaya penulisan novel anak-anak Roald Dahl yang kocak, nyeleneh, dan mengandung twist tak terduga.

Cerita-cerita dewasa Roald Dahl yang dikategorikan dalam genre sexual fantasy ini mungkin cukup mengejutkan pada zaman pertama kali diterbitkan, karena begitu bebas dan kasual membahas seks dan adegannya. Tapi kalau zaman sekarang, dengan begitu maraknya novel roman dan erotika yang vulgar dan eksplisit, bisa jadi cerita Roald Dahl sudah dianggap biasa saja.

Tapi, apapun genrenya, cerita-cerita Roald Dahl tetaplah...


View all my reviews