Friday, February 28, 2014

A Chef of Nobunaga (Nobunaga No Chef)

Nobunaga no Chef 1 (Nobunaga no Chef, #1)Nobunaga no Chef 1 by Mitsuru Nishimura
My rating: 4 of 5 stars

Tema Kuliner

Aku suka membaca manga, apapun genrenya. Dan tentu saja, manga bertema kuliner bukan perkecualian. Jadi, begitu menemukan judul komik ini yang sangat eye-catching ini di situs manga online, aku langsung tertarik membacanya. Kenapa? Karena dari judulnya saja sudah jelas premisnya: ini manga kuliner yang bersetting di zaman Oda Nobunaga alias periode Sengoku War, pada abad ke-16. Sebagai penggemar berat novel Taiko karya Eiji Yoshikawa, manga ini terlalu sayang untuk dilewatkan. Dan hal yang lebih penting adalah: seperti apa ya makanan di Jepang pada waktu itu?

Begitu membaca beberapa halaman pertama, aku langsung tertegun. Manga ini ternyata dibuka dengan adegan beberapa orang prajurit di zaman itu mengejar-ngejar dua orang pria berkostum chef. Iya, kostum chef yang putih-putih itu. Kayaknya ada yang salah deh... kecuali ini manga kuliner/sejarah ini juga bergenre... time travel.

Yap, ceritanya memang agak klise, tentang manusia zaman sekarang yang terlempar ke Kyoto masa lalu. Di samping itu, ternyata tokoh utama kita, chef bernama Ken yang lolos dari kejaran para prajurit (chef yang satunya lagi tewas) juga mengalami... amnesia. Waduh, tambah klise saja!

Ya sudahlah, karena toh artwork-nya bagus, aku tetap melanjutkan membaca manga multigenre kuliner/sejarah/time-travel/amnesia ini...

Untungnya, meskipun tidak ingat siapa diri dan masa lalunya, Ken tahu ia berasal dari masa depan. Ia juga masih hafal sejarah Jepang. Dan yang paling penting lagi, ia masih memiliki keahlian memasaknya. Dalam waktu singkat, keahlian memasaknya menjadi terkenal di lingkungan tempatnya tinggal. Tahu-tahu, datanglah seseorang yang merekrutnya menjadi juru masak Oda Nobunaga:
Bagi yang suka membaca sejarah Jepang, pasti tahu bahwa orang yang kelak menjadi Taiko dideskripsikan sebagai si kurus berwajah monyet. Jadi, sebelum perkenalan tokoh pun pembaca bisa menebak bahwa chara ini adalah Hideyoshi yang memang panggilannya Saru alias Monyet.

Sedangkan chara sang daimyo yang dipertuannya sendiri cocok dengan deskripsinya yang terkenal esktrem, penuh kharisma, namun brutal:
Cukup menyeramkan di pertemuan pertama
Rombongan Oda Nobunaga memboyong Ken dari Kyoto ke Gifu, dan orang baru itu langsung menjadi kepala juru masak, menggantikan juru masak lama yang keluarganya telah mengabdi secara turun-temurun selama beberapa generasi pada klan Oda. Lomba masak mempertaruhkan nyawa demi kedudukan kepala juru masak pun digelar. Apakah yang disajikan Ken pertama kali untuk Oda Nobunaga?
Roasted mallard duck, chestnut and kaki puree served with wild mushroom
Hidangan yang belum pernah ada di Jepang pada saat itu, tentu saja. Ken juga menciptakan nasi kepal isi daging dan sayuran, yang bisa menjadi bekal bagi para prajurit di medan perang. Cara penyajiannya cukup dengan disiram air panas. Seperti mie instan, ya...

Berbagai tantangan harus dihadapi Ken sebagai juru masak Nobunaga. Dari menciptakan hidangan bercita rasa eropa bagi pastor jesuit dari Portugal, hidangan yang disajikan sebelum Nobunaga berangkat perang, sampai ikut pergi ke medan perang sebagai juru masak bagi pasukan Owari yang berangkat ke selatan Ise untuk menyerang Kitabatake Tomonori.

Pada perang pertama buat Ken ini, tampak seperti apa Hideyoshi sebagai seorang panglima perang. Sebagai seorang pemimpin, ia berada di garis terdepan, sehingga menjadi paling pertama kena serangan. Tapi meskipun kakinya terluka kena panah, ia tetap maju ke medan perang dan dengan piawai menaklukkan Benteng Asaka bersama Mori Yoshinori. Baru saat seperti itulah Hideyoshi yang pendek dan culun kelihatan menyeramkan. Lho, aku kok malah membahas Hideyoshi sih? Ini pasti gara-gara teringat novel Taiko. Padahal, fokus manga ini adalah hubungan si juru masak dan tuannya, ya?

Dalam manga ini, Ken berperan penting dalam taktik diplomasi Nobunaga. Untuk menunjukkan bahwa pengetahuan Nobunaga lebih tinggi dan luas daripada lawannya, sang juru masak menyajikan masakan yang belum ada pada masa itu, seperti membuat sushi dengan ikan mentah (ternyata sushi yang kita kenal sekarang baru muncul pada tahun 1830-an lho). Bahkan keahlian Ken yang membuat Shogun Ashikaga Yoshiaki ngiler abis, digunakan Nobunaga untuk menegaskan bahwa sang shogun tak lebih dari sekedar bonekanya!

Seiring dengan berjalannya waktu, Ken seperti menjadi salah satu senjata rahasia Nobunaga, khususnya apabila ia ingin menyampaikan pesan secara tidak langsung kepada kawan maupun lawan, dan berperan penting dalam perang-perang selanjutnya.

Secara tidak langsung, pembaca dapat melihat seperti apa Oda Nobunaga dari dekat, bagaimana pikiran dan tindakannya yang terlalu maju untuk orang-orang pada masanya, sehingga jangankan lawan, keluarga dan anak buahnya sendiri kadang tidak sanggup memahami visinya. Ken yang telah mengetahui sejarah, mendapati bahwa karakter Oda Nobunaga barangkali tidak sebrutal yang digambarkan dalam buku-buku sejarah. Apabila Nobunaga memang hanya otokrat tiran sekejam setan, mengapa para pengikutnya tetap setia dan mencintainya?

Lagipula, siapakah yang mencatat sejarah? Penggemar berat, atau musuh berat?

Rakyat Srilanka memuja Rahwana sebagai pahlawan dan menghujat Rama sebagai penjahat.

Sakit hati dan dendam dari zaman Perang Bubat memastikan tidak terdapat seruas pun jalan raya dengan nama Gajah Mada di wilayah Sunda.

Dan untuk seorang Oda Nobunaga, versi sejarah mana yang dapat kita percaya?

Apakah kita harus terlempar ke masa lalu hanya untuk mengetahui seperti apa sebenarnya seorang tokoh sejarah? Mungkin kita bisa mengetahuinya bila bisa berada di lingkaran dalam tokoh tersebut, tapi bagaimana bila kita hanya bisa berada di luar lingkaran? Bisa-bisa yang kita dapat hanya rumor belaka.

Kisah juru masak Oda Nobunaga ini masih berlanjut, dengan twist tersendiri karena Ken bukan satu-satunya chef dari masa depan yang terjebak di era perang saudara itu. Sampai jilid ketujuh, apa penyebab mereka bisa terjebak di zaman yang salah belum diketahui, apalagi bagaimana cara mereka bisa kembali ke masa depan.

Hal asyik yang bisa diperoleh pada halaman terakhir setiap jilid manga ini adalah salah satu resep masakan yang disajikan Ken pada jilid itu. Sebagai penutup, dan karena ini review tema kuliner, tidak ada salahnya kupajang resep dari ketujuh jilid yang sudah kubaca. Itadakimasu!



View all my reviews

7 comments:

  1. baru tau ada makanan khusus untuk perang, keren ya. meski berbau2 amnesia juga gapapa, ceritanya tetep keren kayanya :))

    ReplyDelete
    Replies
    1. Memang keren ceritanya...

      *berharap suatu saat diterbitkan versi terjemahannya*

      Delete
  2. Aaa untung baca begini pas makan siang, laper walau makanannya khusus perang :P

    ReplyDelete
  3. mbak threez, aku juga kemarin pengin ngerepiu manga ini, tapi gak sempeet.... *halah* *alesan*
    aku baru baca sampai #5. selain memeakai makanan sebagai alat diplomasi, hal lain yang paling aku suka itu, kalau Ken nggak punya bahan-bahan masakan 'modern' seperti gula, dll, terus harus usaha sendiri, atau cari bahan penggantinya. keren :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, pas bikin tempura juga pakai minyak camelia nut yang dibikin sendiri. Terus meski dilarang pakai pisau, Ken ini tetap bisa masak hamburger buat Chacha.

      Delete
  4. oohh, masakan ada sejarahnya juga ya.. kereeenn!

    ReplyDelete
  5. Wah...Mbak Indah hobi baca manga via online ya, jadi keinget murid-murid unyu suka nebeng online di perpus sekolah demi baca komik terbitan terbaru :D

    @lucktygs
    http://luckty.wordpress.com/2014/02/27/review-macaroon-love/

    ReplyDelete