Wednesday, March 11, 2015

Camille

CamilleCamille by Alexandre Dumas-fils
My rating: 3 of 5 stars

Sinopsis:
Marguerite Gautier is the most beautiful, brazen—and expensive—courtesan in all of Paris. Despite being ill with consumption, she lives a glittering, moneyed life of nonstop parties and aristocratic balls and savors every day as if it were her last.

Into her life comes Armand Duval. Young, handsome, and recklessly headstrong, he is hopelessly in love with Marguerite, but not nearly rich enough. Yet Armand is Marguerite’s first true love, and against her better judgment, she throws away her upper-class lifestyle for him. But as intense as their love for each other is, it challenges a reality that cannot be denied.


Review:
Aku membaca ulang kisah cinta klasik dan tragis antara Marguerie Gautier dan Armand Duval ini, karena... pada film adaptasi yang rilis tahun 1984 yang berperan sebagai Armand Duval adalah Colin Firth:


Casting yang pas, tentunya. Armand Duval memang dideskripsikan sebagai pemuda polos yang tampan rupawan yang sanggup membuat seorang courtesan veteran jatuh cinta:

Apanya yang kurang rupawan dari tampang seperti ini?
Setelah menuntaskan film pertamanya, Another Country, pada bulan Agustus 1983 Colin Firth mengikuti audisi untuk peran Armand di film ini. Awalnya, meskipun tampang kerennya tidak bisa dipungkiri, pihak produser merasa Colin tidak cukup romantis untuk peran Armand. Colin mengubah pandangan mereka saat melakukan screen test, dengan menghirup aroma mawar dalam penampilannya. Buat seorang aktor pemula, menjadi pemeran utama dalam film keduanya bagaikan mimpi yang menjadi kenyataan. Apalagi ia bisa bermain bersama aktor sekaliber Ben Kingsley!

Kisah yang dituturkan novel ini sebenarnya kisah cinta yang sederhana, namun tetap indah dalam kesederhanaannya.

Siapa yang mengira, seorang courtesan kelas atas dengan tarif selangit, akan jatuh cinta pada salah satu pengagumnya, pemuda miskin yang uang saku setahunnya hampir tidak mungkin bisa menutupi pengeluaran sang courtesan dalam satu bulan?

Tapi memang, sebelum bertemu Armand, Marguerite belum pernah jatuh cinta dalam hubungannya dengan sekian banyak pria dalam karirnya. Selanjutnya, demi Armand, Marguerite tidak lagi menerima tamu lain. Akibatnya, kondisi keuangannya malah merosot drastis, sampai membuatnya terpaksa menjual dan menggadaikan hartanya untuk tetap dapat bersama Armand.

Armand sendiri bukannya tidak menyadari kalau ia membuat Marguerite berkorban. Harga dirinya sebagai laki-laki menuntutnya untuk bisa menafkahi wanita yang dicintainya, bukan malah menjadi cowok simpanan yang dinafkahi. Tapi keputusannya untuk mengambil jalan pintas dengan berjudi malah membuat keadaan semakin parah.

Lalu, ayah mana yang tidak khawatir apabila putranya terlibat skandal yang bukan saja dapat menghancurkan masa depannya sendiri, tapi juga merusak nama baik keluarga dan masa depan adik perempuannya? Salahkah bila ia ikut campur dan meminta agar perempuan yang mengaku mencintai putranya, mau meninggalkannya demi kebaikannya sendiri?

Novel ini bukan hanya bercerita tentang cinta, tapi juga tentang benci dan dendam. 

Bisakah seorang pria menerima ditinggalkan begitu saja tanpa tahu duduk permasalahannya, hanya tahu kekasihnya kembali ke kehidupan lamanya, kembali ke menjadi simpanan pria kaya raya? Bukankah itu membuatnya seolah hanya dianggap sebagai selingan sesaat, karena ia takkan pernah bisa memenuhi gaya hidup yang glamor dan mewah?

Sakit hati, cemburu, benci. Armand membalas dendam dengan cara yang menurutnya setimpal. Keberuntungannya di meja judi digunakannya untuk memelihara courtesan lain yang jauh lebih muda dan cantik. Dan ia memamerkan hubungan mereka secara terang-terangan di depan Marguerite, pada setiap kesempatan, hingga semakin lama Marguerite semakin hilang dari peredaran.

Tapi, puaskah Armand? Cukupkah semua itu untuk melenyapkan sakit hati, menghapuskan cinta yang tak kunjung hilang? Dapatkah ia memaafkan Marguerite, dan memaafkan dirinya sendiri, jika pada akhirnya ia tahu alasan di balik keputusan yang diambil wanita itu? Penyesalan memang kerap datang terlambat.

Khusus untuk versi film adaptasi yang dibintangi Colin Firth, dibandingkan kisah aslinya penyelesaiannya terasa terlalu terburu-buru, dipaksakan sedikit lebih manis, yang pada akhirnya memudahkan permasalahan, meskipun tidak mengurangi tragedinya. 



View all my reviews

No comments:

Post a Comment