Thursday, April 11, 2019

Filosofi Teras

Judul : Filosofi Teras

Penulis : Henry Manampiring

Penerbit : Penerbit Kompas

Tebal : 344 halaman

Dibaca tanggal : 5 Februari 2019

Sinopsis :
Apakah kamu sering merasa khawatir akan banyak hal? baperan? susah move-on? mudah tersinggung dan marah-marah di social media maupun dunia nyata?
Lebih dari 2.000 tahun lalu, sebuah mazhab filsafat menemukan akar masalah dan juga solusi dari banyak emosi negatif. Stoisisme, atau Filosofi Teras, adalah filsafat Yunani-Romawi kuno yang bisa membantu kita mengatasi emosi negatif dan menghasilkan mental yang tangguh dalam menghadapi naik-turunnya kehidupan. Jauh dari kesan filsafat sebagai topik berat dan mengawang-awang, Filosofi Teras justru bersifat praktis dan relevan dengan kehidupan Generasi Milenial dan Gen-Z masa kini.

My Two Cents :
Meskipun sehari-hari aku tetap berupaya menghindari stres dengan menghilangkan akar masalahnya (e.g. cari kosan di belakang kantor supaya tak perlu merasakan macetnya Jakarta, tidak iseng membuka socmed terkait pemilu 2019), yang namanya khawatir mah tak akan pernah hilang. Apalagi aku termasuk orang yang overthinking, dan dalam pekerjaan sehari-hari juga selalu mempertimbangkan pros-cons alias tak cuma berpikir positif tapi juga negatifnya (perfectly balance, as all things should be).

Sesekali, biasanya kalau terkait hobi dan kenikmatan duniawi, ada saja rasa khawatir yang pastinya tidak masuk akal dan tidak penting buat orang lain. Misalnya kepikiran "Aduh kalau bisa jangan mati ketabrak mobil dulu sebelum aku sempat menonton Avengers: Endgame." (tahun lalu tentu saja judulnya masih Avengers: Infinity War). Terus kepikiran, bisakah orang yang mati sebelum sempat menonton film yang ditunggu-tunggu, lantas jadi hantu penasaran dan menggentayangi bioskop untuk "menyelesaikan urusannya di dunia". Tapi omong-omong, ternyata bukan cuma aku yang punya kekhawatiran sepele macam begitu. Robert Meyer Burnett, salah satu movie pundit yang kuikuti di youtube, juga sering mengungkapkan hal yang sama persis (bedanya cuma dalam bahasa Inggris sih), dan aku jadi tertawa kalau mendengarnya karena ternyata aku tidak sendirian...

Lho, kok malah curcol nggak penting. Harusnya kan ngomongin buku ini. Yo wis.

Review singkat: buku ini enak dibaca dan perlu.

2 comments:

  1. "Aduh kalau bisa jangan mati ketabrak mobil dulu sebelum aku sempat menonton Avengers: Endgame."

    Serius parah, apa yang kamu lakukan itu alay. wkwkwk. kayak nggak ada hal lain aja yang perlu dipikirin, hehehe

    ReplyDelete