Sunday, January 18, 2015

No Expectations

Januari 2015

Sebelum membaca sebuah buku, biasanya seorang pembaca memiliki ekspektasi tersendiri atas apa yang akan dibacanya. Dan terkait hal dimaksud, pada prinsipnya untukku pribadi, ekspektasi ini bisa dibagi menjadi tiga varian utama, yaitu...




1. GREAT EXPECTATIONS

You know, misalnya ada sebuah buku yang direkomendasikan sebagai "greatest book of all time" dari segala penjuru. Rekomendasi ini bisa datang dari teman, atasan, keluarga, acara televisi, toko buku, iklan, atau kalau kita nggak sengaja kepentok review buku yang menggoda banget waktu berselancar di dunia maya. Lantas, kita jadi ikutan excited untuk turut mencicipi buku yang dipuja-puji sejuta umat itu (baca: korban iklan). Selain buku hasil rekomendasi, bisa saja ini buku yang ingin kita baca karena kita pernah membaca karya lain dari penulisnya, dan suka banget buku itu.

Lalu, tentu saja, reaksi yang didapat setelah membaca buku keramat itu bisa bermacam-macam.

They are right.
Bersyukurlah kalau buku yang kita baca itu ternyata memang sebagus yang kita harapkan. Biasanya kita akan menutup buku sambil tersenyum bahagia dan mengamini para perekomendasi. Terus kita langsung masuk ke piramida Member Get Member dengan merekomendasikan buku yang sama pada siapa saja yang mau mendengarkan kita:

Teriak kalau perlu.

It's okay.
Alias: Biasa saja tuh. It's just not my cup of tea. Lalu kita beranjak membaca buku yang lain tanpa memikirkan apa-apa tentang buku yang baru dibaca. Bagus? Tidak terlalu. Jelek? Tidak juga. Biasa saja tuh. Mau baca ulang? Sepertinya juga tidak. Masih ada bacaan lain yang sudah menanti di timbunan.

Point taken.

Meh.
Apa-apaan sih ini? Di mana bagusnya? Boooooring! Gaaaaaring! Heh, karakter cemen begini dibilang mewakili semua gadis di dunia? Karakter cemen begitu yang jadi dambaan anak gadis dan calon mertua? Mau dibawa kemana generasi muda kita? #mendadaksoktua

Kalau untuk buku dari pengarang yang karya lainnya kita suka, biasanya komentar kita macam-macam tergantung sejauh mana kesoktahuan kita. Mikir apa sih dia waktu nulis buku ini? Nggak banget deh. Oh, ini kan karya awal-awal dia, pantas saja sih.

Nah, masih mending kalau bukunya hasil pinjam. Kalau hasil beli? Rasanya rugi dua kali lipat. Kalau bisa sih, bukunya langsung disingkirkan dari lemari sebelum merusak pemandangan, karena membaca judul di punggung bukunya saja sudah mengingatkan kita akan penderitaan yang harus ditanggung kala membacanya.

Let it go, let it go, teu tiasa nahan deui... 


2. PREPARED TO BE TORTURED

Nah, kalau ini kebalikannya. Biasanya sih, kita sudah tahu kalau buku yang akan kita baca itu bukan selera kita. Alasannya juga macam-macam. Bisa jadi bukunya terlalu tebal untuk ketahanan baca kita. Atau gaya penulisannya yang tidak cocok buat kita yang lahir berbeda generasi dengan penulisnya (bisa terlalu jadul atau terlalu alay, pilih salah satu). Biasanya sih kita membaca buku tersebut cuma gara-gara penasaran saja. Atau yang lebih buruk lagi, kita terpaksa membacanya karena satu dan lain hal.

Dan reaksi yang didapat ternyata bisa bermacam-macam juga.

Just as predicted.
Tidak usah pakai misuh-misuh, toh sudah tahu segala risikonya sebelum mulai membaca bukunya. Just endure it all the way.

Yes, you have courage!!!

Not as bad as we think.
Hm, ternyata tidak separah yang dikira. Ya, paling cuma nggak cocok dengan gaya penulisannya saja. Kalau saja kita masih muda, mungkin kita bakal suka dengan cara bercerita model begini. Kalau saja kita lebih sabar, mungkin kita akan lebih memahami maksud penulisnya. Kalau saja...



Wow, I like it!
Meskipun jarang, kadang-kadang yang begini kejadian juga. Biasanya karena bukunya tergolong genre yang not my cup of tea, atau bukunya tebal audzubillah yang baru melihatnya saja kita sudah mengantuk karena mengingatkan kita pada bantal. Tapi ternyata kita suka. Suka, suka, SUKA!!! Dan buku bantal itu ternyata membuat kita rela melek semalaman demi terus membacanya sampai selesai!

Another!!!


3. NO EXPECTATIONS AT ALL

Oke, varian ini memang "gue banget deh". Aku lebih sering tidak punya ekspektasi apa-apa atas buku yang akan kubaca. Sebagai omnireader, banyak buku yang kubeli atau kupinjam untuk dibaca hanya karena kupikir "sepertinya menarik".



Memang sih, jadinya seperti berjudi. Kalau ternyata bagus dan kita suka banget, ya alhamdulilah, kalau tidak ya... kebangetan. Biasanya kadang kita jadi ngedumel sendiri, mikir apa sih aku waktu ngambil buku ini? Mentang-mentang harga obral! Mentang-mentang gratis! Mentang-mentang boleh pinjam! Tapi memang, kalau kebetulan buku yang dibaca jelek, nyeseknya nggak separah kalau kita terlanjur punya ekspektasi tinggi.

Dalam membaca buku, aku memang lebih menganut prinsip: Don't expect too much. It's always better to feel surprised than to feel disappointed.

Toh, Shakespeare juga pernah bilang "I always feel happy. You know why? Because I don't expect anything from anyone! Expectations always hurt..."

Tapi apapun yang terjadi, bahagia atau kecewa saat selesai membaca buku, tak akan pernah membuatku kapok. Karena...



4 comments:

  1. Huahaha, aku setuju banget nih.
    Memang terbagi tiga nih, aku pun demikian. Seringnya yang menyenangkan saat no expectation dan baguss :P

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, lebih sip kalo no expectation atau bad expectation tapi hasilnya malah suka banget :))

      Delete
  2. No expectation itu paling aman dah, wakakakak

    ReplyDelete