Tuesday, April 29, 2014

Butir-butir Waktu

Butir-Butir WaktuButir-Butir Waktu by Sidney Sheldon
My rating: 4 of 5 stars

Judul asli: The Sands of Time
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Diterbitkan pertama kali di Indonesia: Januari 1990
Halaman: 576 hal
Pertama kali dibeli: 19 Mei 1990
Dibeli ulang: 19 Juni 2013
Sinopsis:
Butir-butir Waktu menampilkan kisah empat biarawati yang tiba-tiba  terlempar ke luar lingkungan biara mereka yang aman. Mereka terseret dalam perjuangan keras antara gerakan separatis Basque di bawah pimpinan Jaime Miro yang idealis dan penuh kharisma, dan Angkatan Darat Spanyol di bawah komando Kolonel Ramon Acoca yang bertekad menumpas mereka semua.

Megan, si gadis yatim piatu, bersedia mengorbankan apa saja untuk mengetahui identitas orangtuanya. Namun dia tak berdaya melawan daya tarik Jaime Miro.

Lucia, si cantik jelita yang berdarah panas, putri seorang mafioso dari Sicilia, diincar polisi karena perkara pembunuhan. Tetapi, dia rela mengorbankan kekayaan dan masa depannya untuk menyelamatkan nyawa seorang teroris yang sedang sekarat.

Bahkan keheningan dan kesucian biara tak mampu menghapus masa lalu Graciela. Mampukah dia mempertahankan kesuciannya dalam pusaran arus dunia yang bejat dan penuh maksiat ini?

Dan Teresa, yang terombang-ambing antara kenyataan yang dihadapinya dan masa lalu yang ingin dilupakannya, dalam kebingungannya justru mohon bantuan Kolonel Ramon Acoca--kesalahan fatal yang mencelakakan kawan-kawannya sendiri.

Butir-butir Waktu menceritakan suatu kisah tak terlupakan, dituturkan dengan latar belakang kehidupan daerah pedesaan Spanyol yang memikat. Kisah ini menjalin sejarah dan roman asmara dengan ketegangan yang mencekam.

Mengapa aku memilih novel Sidney Sheldon untuk PosBar BBI Tema Perempuan?
Novel-novel Sidney Sheldon (1917-2007) kerap menampilkan wanita-wanita tangguh dalam dunia yang keras dan dikuasai oleh kaum pria yang kejam. Ada alasannya mengapa demikian.
"I like to write about women who are talented and capable, but most important, retain their femininity. Women has tremendous power--their femininity. Because men can't do without it."
Kebanyakan pembaca Sidney Sheldon adalah perempuan, dan aku termasuk di antaranya. Ada masanya ketika Sidney Sheldon pernah menjadi salah satu penulis favoritku, yang buku terjemahannya langsung kubeli begitu pertama kali diterbitkan di Indonesia. Alasannya banyak. Selain ceritanya yang memang menarik dan mencekam, buku-buku Sidney Sheldon merupakan salah satu media awal bagiku yang baru akil balig untuk mengintip "adegan dewasa". Meskipun tetap kena babat sensor (dibandingkan novel-novel Harlequin masa kini), minimal lebih mending dibandingkan adegan sisipan di cersil Kho Ping Hoo yang nggak jelas. FYI, orang tua tidak mengawasi apa yang kubaca. Mungkin, aku sudah dipercaya tidak bakal berbuat aneh-aneh meskipun bacaannya aneh-aneh.

Mengapa memilih novel Butir-butir Waktu?
Berbeda dengan novel Sidney Sheldon lainnya, buku ini tidak hanya berfokus pada satu orang wanita, tapi empat orang sekaligus, dengan kelebihan dan kelemahannya masing-masing, yang berpengaruh pada keputusan-keputusan yang mereka ambil, dan pada akhirnya menentukan nasib mereka.

Gerakan separatisme Basque yang menjadi latar belakang novel juga cukup menarik karena mencerminkan kondisi yang (pernah/masih?) terjadi di negara kita. Begitu pula dengan karakter para pria yang akan sangat menentukan nasib para biarawati yang terlempar dari kedamaian biara ke ganasnya dunia luar.

Dari novel ini juga aku mendapat pengetahuan tentang kehidupan sehari-hari di biara, dari pakaian sehari-hari, komunikasi, ritual ibadah, dan lain-lain. Setidaknya untuk Biara Trapistin di Avila yang menjadi salah satu setting lokasi yang digunakan.

Cerita
Spanyol, tahun 1976. Kisah dimulai di Pamplona, di mana pada acara pelepasan banteng, Fiesta de San Fermin, para pemberontak Basque melepaskan banteng-banteng ke jantung kota untuk mengalihkan perhatian, sementara Jaime Miro dari grup separatis ETA membebaskan dua rekannya, Ricardo Mellado dan Felix Carpio dari penjara, dengan menyamar sebagai seorang pastor.

Kolonel Ramon Acoca, kepala GOE (Grupo de Operaciones Especiales) yang dibentuk untuk menumpas teroris Basque, ditugaskan untuk memburu Jaime Miro dan kawan-kawannya. Acoca membenci pihak Gereja, yang diyakininya membantu kaum separatis karena mengizinkan biara menjadi tempat pertemuan bahkan tempat penyimpanan senjata bagi Pemberontak. Karena terakhir kali Jaime Miro cs terlihat di Avila, maka ia dan pasukan elitnya pun memburu ke sana... dan Biara Trapistin di Avila pun menjadi target sasaran.

Pada saat penyerbuan, ada empat biarawati yang lolos dari biara. Teresa, yang dipercayakan kepala biara untuk membawa salib emas ke biara lain. Lucia, putri bos mafia yang masuk biara untuk bersembunyi dari polisi. Megan dan Graciela kebetulan menurut waktu diajak pergi oleh Lucia. Dan mengingat Lucia yang paling mengenal dunia luar, secara tak sengaja ia menjadi pemimpin dari kelompok pelarian kecil itu. Lucia berencana kabur sendirian ke Swiss, dengan mencuri salib emas yang dibawa Teresa untuk ongkos ke sana.

Kolonel Acoca yang tidak mendapati Miro cs di biara dan mengetahui ada beberapa biarawati yang hilang, otomatis mengira kedua kelompok itu kabur bersama-sama. Pencarian besar-besaran pun dimulai.

Tanpa diduga, kelompok biarawati akhirnya bertemu dengan kelompok Miro, dan melakukan perjalanan bersama. Dan kemudian keputusan Teresa untuk melaporkan keberadaan kelompok mereka pada Kolonel Acoca berakibat kelompok mereka terpencar-pencar dan membentuk jalan cerita perjalanan dari masing-masing biarawati. Dan pada akhirnya, masing-masing dari mereka yang semula memiliki alasannya sendiri sebelum terdampar di biara terpencil, akan memilih nasibnya sendiri, baik kembali ke biara ataupun tidak...

Kesan
Seperti biasanya, novel Sidney Sheldon tidak berjalan lurus, namun penuh flashback yang memungkinkan pembaca mengetahui latar belakang dan masa lalu masing-masing karakternya, sehingga dapat memahami bahkan simpati pada tokoh seperti Kolonel Acoca yang keji sekalipun. Kuatnya penokohan dengan cara flashback juga membuat pembaca dapat memaklumi keputusan yang dibuatnya di masa kini, termasuk keputusan absurd Teresa yang bak mangsa menyerahkan diri pada predator.

Meskipun banyak suspense yang memacu adrenalin di novel ini, terutama waktu kucing-kucingan atau adu cerdik antara para biarawati/separatis dengan grup elit Kolonel Acoca, kadang-kadang ketegangan menurun pada episode flashback. Dan karena banyaknya tokoh dan flashback-nya, cerita jadi bercabang-cabang dan kurang fokus bak cerita sinetron. Dan omong-omong tentang sinetron, cerita tentang anak yatim piatu yang sebenarnya seorang pewaris pun diselipkan di sini... Klise sih, tapi dimaafkan saja deh, karena gaya storytelling Sidney Sheldon yang menarik.

Akhir kata, sudah lama aku tidak baca ulang novel-novel Sidney Sheldon, dan mungkin sihir yang dulu pernah mengikatku dan menjadikanku seorang penggemar setia sudah hilang. Namun, kenangan masa lalu tetap membuatku merasa wajib untuk memiliki dan membaca kembali buku-bukunya.

Best quote from this book
"The difference between a rebel and a patriot depends upon who is in power at the moment."
So true.



View all my reviews

1 comment:

  1. quotenya kereeeen :) udah lama banget nggak baca sydney sheldon, terakhir baca jaman masih abg XD menarik juga tema biarawati dan keolmpok pemberontak ya :)

    ReplyDelete