Saturday, May 18, 2013

Highway to Hell

Inferno (Robert Langdon, #4)Inferno by Dan Brown
My rating: 3 of 5 stars

329 - 2013

Okay, saatnya pop quiz, everybody! Sebutkan judul novel yang dimulai dengan tokoh utama siuman dalam keadaan amnesia!

Dan jawabannya adalah... (drum roll sound effect) ...banyak. Mau yang mana? The Bourne Identity-nya Robert Ludlum? Sudah pasti. Remember Me?-nya Sophie Kinsella? Oke. The Maze Runner-nya James dashner? Yah, daftarnya ternyata sudah cukup panjang, saudara-saudara. Dan tahun ini daftarnya bertambah satu lagi dengan novel terbaru Dan Brown untuk kisah petualangan keempat ahli simbol favorit kita, Robert Langdon.

Jadi, Robert Langdon terjaga di sebuah kamar rumah sakit di Florence, Italia, dan tidak tahu bagaimana dia bisa ujug-ujug ada di sana. Untungnya, tidak seperti Bourne yang boro-boro ingat namanya sendiri, Langdon cuma tidak ingat apa yang terjadi selama beberapa hari terakhir. Tapi apapun itu, amnesia sucks. Apalagi kalau begitu bangun diberi tahu dokter kalau kita hampir mati karena kepala kita terserempet peluru, lantas belum sempat mencari tahu lebih lanjut, tiba-tiba saja seorang pembunuh terlatih menerjang masuk ke rumah sakit dan membunuh salah satu dokter yang merawat kita! Yap, yang bisa dilakukan hanya lari menyelamatkan diri sambil terus-terusan berpikir "apa yang terjadi", "apa yang kulakukan", "mengapa aku dikejar-kejar?" and so on.

Untungnya Langdon tidak lari sendirian, karena tentunya ia tak tahu harus lari ke mana. Salah satu dokter yang merawatnya, gadis muda dan cantik (tentu saja selalu ada gadis muda dan cantik yang berbeda di setiap novel seperti halnya James Bond) bernama Sienna Brooks membantunya melarikan diri dari musuh yang entah siapa gerangan itu. Dan belakangan diketahui bahwa Langdon membawa sebuah kanister yang ternyata berisi petunjuk yang akan membawanya mengungkap sedikit demi sedikit misteri yang melingkupi keberadaannya di Italia serta untuk tujuan apa ia berada di sana. Dan semua itu berkaitan dengan masterpiece Dante Alighieri, Divine Comedy, khususnya di bagian pertama: Inferno.

Seperti biasa, membaca serial Robert Langdon akan lebih asyik dalam versi illustrated-nya, karena kita akan disuguhi berbagai museum, lukisan, dan apapun yang berkaitan dengannya, yang sulit dibayangkan kalau belum pernah melihatnya. Jadi, mungkin lebih baik kalau membaca buku ini dengan browsing internet. Minimal kita jadi tahu beberapa lokasi yang dipilih Dan Brown untuk novelnya ini, seperti:

Boboli Gardens, Florence

Atau

Palazzo Vecchio, Florence


Sampai dengan lokasi final:

Yerebatan Sarayi, Istanbul


Atau karya seni yang dirujuk, misalnya lukisan Sandro Botticelli:

La Mappa dell'Inferno


Atau death mask-nya Dante Alighieri:


Ah, sebelum tulisan ini dianggap brosur pariwisata, sebaiknya kita kembali ke review novel lagi. Jadi, spoiler alert, inti cerita novel ini adalah bagaimana Robert Langdon dengan segala pengetahuannya mengenai Divine Comedy (dan semua yang berkaitan dengan karya tersebut) berusaha mencegah terwujudnya cita-cita seorang ahli biokimia brilian bernama Bertrand Zobrist, yang bermaksud menyebarkan virus yang akan mengurangi jumlah populasi manusia yang sudah tak terkontrol di dunia ini. Hmm... rasanya bukan ide baru, sih. Apalagi belum lama ini aku baru saja membaca komik Iron Man Director of S.H.I.E.L.D. seri Haunted, di mana Mandarin berencana melepas virus airborne Ektremis yang dapat memusnahkan 97,5% populasi manusia. Tapi Zobrist tidak sesinting Mandarin sih, karena hanya berniat mengurangi sepertiga populasi manusia saja demi mencegah kepunahan umat manusia di masa depan.

Seperti novel-novel sebelumnya, petualangan Langdon bisa dihitung dalam jam, dengan pace cepat, dan banyak adegan kejar-kejaran. Karena menderita amnesia, Langdon tidak tahu harus mempercayai siapa, apalagi sepertinya semua orang memburu dan ingin membunuhnya. Tapi karena berurusan dengan wabah penyakit yang bisa menyapu bersih umat manusia, Langdon tetap berusaha memecahkan teka-teki yang diumpankan Zobrist untuk menemukan lokasi virus buatannya.

Meskipun jalan ceritanya dan twistnya klise (tapi membuatku teringat pada Loki, The God of Deception), endingnya cukup mengejutkan karena.... *SPOILER ALERT SPOILER ALERT SPOILER ALERT* well, jarang-jarang tokoh utama GAGAL mencegah rencana brilian sang antagonis!

Omong-omong karena membaca novel ini, dan dikuliahi Langdon tentang Divine Comedy, jadi teringat kalau salah satu penulis favoritku, Jeffrey Archer, menggunakan pola Dante untuk menceritakan pengalaman pribadinya waktu di penjara. Bila Dante membuat Divine Comedy dalam tiga bagian yaitu Inferno, Purgatorio dan Paradiso, Archer membuat Prison Diary-nya dalam tiga bagian yaitu Belmarsh: Hell, Wayland: Purgatory dan North Sea Camp: Heaven.

The darkest places in hell are reserved for those who maintain their neutrality in times of moral crisis
- Dante Alighieri

Kutipan itu disimpulkan oleh Robert Langdon menjadi: In dangerous times, there is no sin greater than inaction. Sedangkan kalau yang menerjemahkannya Mbah GW Bush, mungkin jadi begini: You're either with us, or against us!

View all my reviews

2 comments: