Thursday, July 24, 2014

Holyland (Manga)

Review ini ditulis dalam rangka:
Tema masalah remaja
Judul: Holyland 
Jilid: 1 - 18
Mangaka: Kouji Mori
Dibaca tanggal: 31 Maret 2013

I wanted to become stonger, so that I could protect my (holyland) place.

Dalam hal manga, aku tidak hanya membaca manga yang diterbitkan secara resmi oleh penerbit di Indonesia. Pada zaman jahiliyah dulu, waktu penerbit Indonesia masih kelewat hati-hati dan belum berani secara resmi menerbitkan komik bertema dewasa atau setidaknya yang pasti kalaupun terbit bakal banyak disensor (bahkan Fushigi Yuugi Jilid 2 saja sampai ditarik lagi dari peredaran!), aku membeli berbagai judul komik yang belum terbit di Indonesia karena faktor X tadi (macam GTO atau Shin Kotaro Makaritoru) dari penerbit underground. Setelah tahu ada versi yang lebih hemat, aku membeli versi mangascan dari taman bacaan langganan. Lantas, setelah melek internet dan tahu cara mudah mengunduh sendiri, aku malah jadi doyan mengumpulkan manga hanya berdasarkan deskripsi cerita yang "sepertinya menarik", untuk dibaca kapan-kapan kalau ada waktu. Tentu saja, ketiga metode koleksi manga yang sangat tidak disarankan itu, bagiku semacam proses natural selection, karena bila aku suka atau malah suka banget manganya, aku pasti akan membeli dan mengoleksi kalau sudah terbit edisi resmi terjemahan Indonesianya.

Anyway, manga yang satu ini termasuk yang kuperoleh dengan metode ketiga, dan yang kupilih untuk dibaca secara random dari ratusan judul yang ada, hanya gara-gara aku sedang malas-malasnya membaca novel pada hari libur. Tidak disangka-sangka jalinan cerita menarik serta didukung oleh artwork yang bagus ternyata malah membuatku terdorong untuk menyelesaikannya dalam satu hari. Kalau tidak salah ingat (maklum sudah lebih dari setahun yang lalu), paling-paling kutinggalkan sebentar untuk beberapa kegiatan kurang penting seperti mandi, makan, dan luluran di salon (lah, itu mah lama ya... :)). Tapi yang jelas, rasanya tidak sia-sia menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk menyelesaikan serial manga ini. Sayangnya, sampai saat ini aku belum tahu apakah manga ini bakal terbit di Indonesia atau tidak.

Oke, pertanyaan pertama adalah, apakah manga ini memang sesuai dengan tema baca bareng? Menurutku sih jawabannya tentu saja iya. Wong manga ini tokoh utamanya remaja yang bermasalah.

Between the worlds of boys and men, there lies holyland. Where laws don't matter and the strongest rule. In that world, "he" roamed. Kamishiro Yuu, he was there.

Kamishiro Yuu berpenampilan sangat biasa, seperti cowok lemah yang gampang di-bully dan dipalak preman. Tapi, siapa sangka ia bisa melancarkan "one-two punch" tinju dengan mudahnya pada preman yang mem-bully-nya? Malah, Yagi, yang konon salah satu orang terkuat di SMA Sawa, bukan pertama yang menjadi korbannya. Di luar sepengetahuan Yuu sendiri, ia malah dikenal di lingkungan tempat ia berkeliarah sebagai petinju yang memburu anak geng, karena ia sudah memukul jatuh 4-5 orang hanya dengan satu pukulan.

Padahal, setiap kali, Yuu cuma membela diri dari preman yang memalaknya. Habis, tampangnya yang culun itu memang mengundang mereka yang merasa lebih kuat untuk mengerjainya sih. Tapi reputasi Yuu sebagai Shimokita's Hunter Boxer malah menimbulkan perburuan tersendiri atas dirinya. Baik itu dilakukan oleh para "korban" yang kepingin membalas dendam, maupun banyak anak geng lain yang tidak mengetahui sosoknya, yang penasaran untuk menemukan, dan tentu saja, mengalahkannya. Bukannya Yuu tidak sadar konsekuensinya menghajar preman, malah ia bergidik kalau memikirkan mereka bakal balas dendam. Tapi ia punya berpikir: "Once the bullying starts there is no end. If I don't put a stop to it, I'll be nothing again. In this world, if I don't stay strong, I won't exist anywhere..."

Yuu menganggap keberhasilannya membela diri karena kebetulan ia beruntung saja. Benarkah demikian? Duh. Yang namanya kebetulan dan keberuntungan itu, apa iya bisa terjadi sampai 4-5 kali berturut-turut? Lantas, apa rahasia Yuu sehingga mampu menghajar para preman meskipun dengan ketakutan? Dan kalau sudah tahu bakal ada aksi balas dendam dari para "korban", kenapa juga Yuu tetap ngotot setiap malam sepulang sekolah malah terus berkeliaran di jalanan yang notabene bukan lingkungan yang cocok untuknya? Atau... malah sebenarnya lingkungan jalanan itu satu-satunya tempat yang dapat membuatnya merasa hidup? Sehingga ia lebih suka kelayapan di sana ketimbang buru-buru pulang ke rumah?


Sewaktu SMP, Yuu selalu menjadi korban penindasan sampai memilih untuk tidak masuk sekolah sekalian. Karena punya banyak waktu luang, ia membaca buku tentang tinju di toko buku dan mulai berlatih secara otodidak. Ia melatih straight lima ribu kali sehari, ditambah olahraga untuk menguatkan otot dan badan, selama dua tahun. Tapi namanya juga belajar dari buku (yang cuma dicolong baca di toko buku pula), maka kemampuan bertinjunya sama sekali tidak diiringi footwork yang benar (makanya beli bukunya sekalian, dong!). Baru belakangan, dari pengalaman bertarung dan teman-teman yang diperolehnya, Yuu menyerap ilmu untuk berkelahi dengan lebih baik. 


Lawan yang harus dihadapi Yuu tidak mudah. Masih mending kalau korban yang mau balas dendam hanya datang sendiri, tapi seperti umumnya preman kelas teri, kalau bisa minta bantuan orang lain yang lebih kuat, kenapa tidak? Misalnya, Yuu harus menghadapi jagoan judo dari SMA lain, padahal kenal juga tidak. Dan yang namanya street fighting, judo jelas sangat berbahaya. Beda dengan di tempat latihan atau pertandingan judo yang menggunakan matras atau tatami, alas street judo jelas aspal atau beton. Kebayang kan, kalau bisa sampai kena banting? Dan meskipun Yuu menang, penantang lain yang lebih kuat segera muncul. Benar-benar tidak ada habisnya, tapi Yuu sendiri tetap tidak mau lari dan sembunyi.


Tapi selain lawan yang terus bermunculan satu demi satu, teman Yuu pun terus bermunculan satu demi satu. Pertama teman sekelasnya Kaneda Shinichi, yang mengajaknya berteman dan siap melindunginya sebelum tahu bahwa Yuu tidak selemah yang ia kira, lalu Izawa Mai, teman sekelas yang belakangan menjadi love interest, Izawa Masaki, mantan atlet tinju level interhigh sekaligus preman terkenal di sekolahnya, atau Midorikawa Shougo, mantan lawan berkelahinya. Melalui lingkaran pertemanan yang semakin besar inilah, Yuu terus berkembang. Bukan hanya berkembang dari sisi kemanusiaan, dari kesepian dan kesendirian ke persahabatan, tapi juga berkembang dalam skill dan knowledge. Dari semula hanya menguasai one-two punch tanpa footwork dan balance, menjadi seorang street fighter yang tangguh dan komplet.

Bagiku, yang menarik dari manga ini bukan sekedar street fighting satu lawan satu atau tawuran antar geng/sekolah seperti serial Crows dan Shonan Junai Gumi, yang teknik berantemnya boleh dibilang tidak jelas apa. Dalam hal teknis, manga ini mungkin lebih setipe dengan Kotaro Makaritoru, yang mengupas dan menjelaskan dengan detil teknik beladiri yang digunakan para karakternya, baik itu tinju, karate, judo, capoeira sampai MMA. Tapi beda dengan Tatsuya Hiruta-sensei yang menuturkan penjelasan teknis secara sambil lalu melalui dialog para karakternya, di manga ini kelebihan khusus penjelasan teknis bela diri nyaris terpeleset jadi nilai minus sih. Ini gara-gara Kouji Mori-sensei suka kebablasan, karena ketimbang penjelasan via dialog, ia lebih sering memberi penjelasan via narasi, jadi kelihatan banget seperti sengaja menguliahi pembacanya :P Terlepas dari itu, serial ini wajib dibaca kalau kita mau belajar tentang teknik street fighting, at least in theory.

Oh, ya, manga ini sudah ada versi teve live action-nya. Bukan J-dorama sih, melainkan K-Drama, yang terdiri dari 4 episode dan tayang tahun 2012, dengan tokoh Kang-Yoo diperankan oleh Dong-Ho. Hm, dari fotonya memang kelihatan mirip dengan karakter Kamishiro Yuu.

  

5 comments:

  1. hehehe tetep ya, malah jadi K-Drama XD aku dulu taunya cuman street fighter kayaknya mba, jadul berat...udah lama banget ngga baca komik euy..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Street Fighter yang game itu, ya? Beda jauh itu mah, terlalu banyak jurus yang nggak masuk akalnya.

      Street fighting di manga ini realistis banget, dan kalo kita mau bisa coba dilatih dan dipraktekkan :)

      Delete
  2. manga. :D
    kayaknya kalau diterbitin sekarang,nggak akan banyak sensor.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, sekarang sih gunting sensornya tumpul.

      Level Comics bablas saja sekarang untuk adegan dewasa.

      Delete