Judul : 10 Langkah Menjadi Financian Planner Untuk Diri Sendiri Khusus Karyawan
Penulis: Luthfi Khaerudin
Penerbit : Grasindo
Tebal : 220 halaman
Dibaca di : Gramedia Digital
Dibaca tanggal : 16 Oktober 2019
Sinopsis :
“Gaji saya ‘kan nggak seberapa. Apanya yang mau direncanakan? Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari saja sudah pas-pasan, malah kadang-kadang kurang.”
“Tapi, usia saya sudah hampir 40 tahun. Apakah masih mungkin untuk melakukan perencanaan keangan agar bisa pensiun dengan tenang?”
Jawaban untuk kedua pertanyaan itu: BISA!
Dalam buku ini Anda akan menemukan kesalahan-kesalahan yang paling sering terjadi soal uang. Anda juga akan tahu mengapa Anda perlu melakukan Perencanaan Keuangan.
Tunggu apa lagi?
Atur gaji, jadi orang kaya!
Komentar (iya, curcol doang, bukan ripyu sama sekali) :
666 - 2019
Apa ya korelasinya baca buku tentang jadi financial planner pribadi dengan nomor urut bacaan 666?
Tidak ada sih. Yang jelas, saya memang masih melakukan banyak kesalahan dalam perencanaan keuangan sebagaimana yang tercantum dalam buku ini, antara lain :
1) Kesalahan II: Menabung tanpa tujuan
2) Kesalahan V: Tabungan = Dana Darurat
3) Kesalahan VI: Menabung = Investasi (tapi... deposito masuknya ke investasi, kan?)
4) Kesalahan VIII: Menganggap asuransi bukanlah hal yang penting
Tapi meskipun demikian, pada dasarnya menurut buku ini saya akan dapat mengambil langkah selanjutnya untuk menjadi perencana keuangan, karena saya mau dan bisa melakukan hal-hal berikut:
1. Bersyukur memiliki penghasilan
2. Bersyukur setiap kali bisa membeli sesuatu
3. Berpikir bahwa gaji saat ini cukup untuk memenuhi kebutuhan saat ini
4. Berapapun jumlah penghasilan, pasti bisa diatur
Masalahnya... maukah saya mengambil langkah selanjutnya?
Karena masih menabung tanpa tujuan, saat ini pola investasi saya masih konservatif ala jaman kuda gigit besi. Cuma menabung, kalau sudah sampai batas tertentu, dialihkan ke deposito. Sudah, begitu saja (lihat daftar kesalahan di atas).
Sebagai tipe orang menabung tanpa tujuan, prinsip saya cuma satu: yang penting cukup. Dulu saya naik haji tanpa direncanakan, begitu ada dana cukup, langsung daftar dan tahun depannya berangkat. Ganti laptop dan ponsel pun tanpa penyisihan khusus, yang penting ada uang untuk beli baru, yang penting cash dan tidak nyicil. Saya juga belum ingin beli rumah lagi (sudah pernah punya, tapi tidak asik karena tidak bisa dinikmati sendiri), belum ingin punya mobil selama masih berdomisili di Jakarta (mending memanfaatkan layanan taksi online). Asuransi kesehatan dan jiwa sudah diatur tempat bekerja... Alasannya adaaa saja kalau dicari-cari.
Mungkin pola pikir "yang penting cukup" ini yang memang harus diubah dulu, sebelum mulai membuat perencanaan keuangan?
Catatan :
Iyaaa, karena tahun 2019 hampir habis dan blog ini sudah mati suri berbulan-bulan, ya sudahlah komentar berbau curcol tidak penting di akun Goodreads kupindahkan ke sini untuk sekadar menambah postingan tahun berjalan...
- Confession of a Lazy Blogger (Desember, 2019)
Showing posts with label just a thought. Show all posts
Showing posts with label just a thought. Show all posts
Sunday, December 29, 2019
Thursday, April 11, 2019
Filosofi Teras
Judul : Filosofi Teras
Penulis : Henry Manampiring
Penerbit : Penerbit Kompas
Tebal : 344 halaman
Dibaca tanggal : 5 Februari 2019
Sinopsis :
Apakah kamu sering merasa khawatir akan banyak hal? baperan? susah move-on? mudah tersinggung dan marah-marah di social media maupun dunia nyata?
Lebih dari 2.000 tahun lalu, sebuah mazhab filsafat menemukan akar masalah dan juga solusi dari banyak emosi negatif. Stoisisme, atau Filosofi Teras, adalah filsafat Yunani-Romawi kuno yang bisa membantu kita mengatasi emosi negatif dan menghasilkan mental yang tangguh dalam menghadapi naik-turunnya kehidupan. Jauh dari kesan filsafat sebagai topik berat dan mengawang-awang, Filosofi Teras justru bersifat praktis dan relevan dengan kehidupan Generasi Milenial dan Gen-Z masa kini.
My Two Cents :
Meskipun sehari-hari aku tetap berupaya menghindari stres dengan menghilangkan akar masalahnya (e.g. cari kosan di belakang kantor supaya tak perlu merasakan macetnya Jakarta, tidak iseng membuka socmed terkait pemilu 2019), yang namanya khawatir mah tak akan pernah hilang. Apalagi aku termasuk orang yang overthinking, dan dalam pekerjaan sehari-hari juga selalu mempertimbangkan pros-cons alias tak cuma berpikir positif tapi juga negatifnya (perfectly balance, as all things should be).
Sesekali, biasanya kalau terkait hobi dan kenikmatan duniawi, ada saja rasa khawatir yang pastinya tidak masuk akal dan tidak penting buat orang lain. Misalnya kepikiran "Aduh kalau bisa jangan mati ketabrak mobil dulu sebelum aku sempat menonton Avengers: Endgame." (tahun lalu tentu saja judulnya masih Avengers: Infinity War). Terus kepikiran, bisakah orang yang mati sebelum sempat menonton film yang ditunggu-tunggu, lantas jadi hantu penasaran dan menggentayangi bioskop untuk "menyelesaikan urusannya di dunia". Tapi omong-omong, ternyata bukan cuma aku yang punya kekhawatiran sepele macam begitu. Robert Meyer Burnett, salah satu movie pundit yang kuikuti di youtube, juga sering mengungkapkan hal yang sama persis (bedanya cuma dalam bahasa Inggris sih), dan aku jadi tertawa kalau mendengarnya karena ternyata aku tidak sendirian...
Lho, kok malah curcol nggak penting. Harusnya kan ngomongin buku ini. Yo wis.
Review singkat: buku ini enak dibaca dan perlu.
Penulis : Henry Manampiring
Penerbit : Penerbit Kompas
Tebal : 344 halaman
Dibaca tanggal : 5 Februari 2019
Sinopsis :
Apakah kamu sering merasa khawatir akan banyak hal? baperan? susah move-on? mudah tersinggung dan marah-marah di social media maupun dunia nyata?
Lebih dari 2.000 tahun lalu, sebuah mazhab filsafat menemukan akar masalah dan juga solusi dari banyak emosi negatif. Stoisisme, atau Filosofi Teras, adalah filsafat Yunani-Romawi kuno yang bisa membantu kita mengatasi emosi negatif dan menghasilkan mental yang tangguh dalam menghadapi naik-turunnya kehidupan. Jauh dari kesan filsafat sebagai topik berat dan mengawang-awang, Filosofi Teras justru bersifat praktis dan relevan dengan kehidupan Generasi Milenial dan Gen-Z masa kini.
My Two Cents :
Meskipun sehari-hari aku tetap berupaya menghindari stres dengan menghilangkan akar masalahnya (e.g. cari kosan di belakang kantor supaya tak perlu merasakan macetnya Jakarta, tidak iseng membuka socmed terkait pemilu 2019), yang namanya khawatir mah tak akan pernah hilang. Apalagi aku termasuk orang yang overthinking, dan dalam pekerjaan sehari-hari juga selalu mempertimbangkan pros-cons alias tak cuma berpikir positif tapi juga negatifnya (perfectly balance, as all things should be).
Sesekali, biasanya kalau terkait hobi dan kenikmatan duniawi, ada saja rasa khawatir yang pastinya tidak masuk akal dan tidak penting buat orang lain. Misalnya kepikiran "Aduh kalau bisa jangan mati ketabrak mobil dulu sebelum aku sempat menonton Avengers: Endgame." (tahun lalu tentu saja judulnya masih Avengers: Infinity War). Terus kepikiran, bisakah orang yang mati sebelum sempat menonton film yang ditunggu-tunggu, lantas jadi hantu penasaran dan menggentayangi bioskop untuk "menyelesaikan urusannya di dunia". Tapi omong-omong, ternyata bukan cuma aku yang punya kekhawatiran sepele macam begitu. Robert Meyer Burnett, salah satu movie pundit yang kuikuti di youtube, juga sering mengungkapkan hal yang sama persis (bedanya cuma dalam bahasa Inggris sih), dan aku jadi tertawa kalau mendengarnya karena ternyata aku tidak sendirian...
Lho, kok malah curcol nggak penting. Harusnya kan ngomongin buku ini. Yo wis.
Review singkat: buku ini enak dibaca dan perlu.
Wednesday, January 2, 2019
The Ugly, The Bad, and The Good: Auwyang Hong at a Glimpse
Dalam setiap cerita, sudah pasti ada tokoh antagonis, yang memang
diciptakan sebagai plot-driver untuk
membuat hidup tokoh protagonisnya semakin sulit.
Dalam cerita silat karya Chin Yung yang pertama kali kukenal, Sia Tiauw Eng Hiong, terdapat segudang
tokoh antagonis, dengan jadwal naik panggung yang berbeda-beda. Ada yang muncul
sejak awal, ada yang baru muncul setelah tokoh kita terjun ke dunia kang-ouw,
ada pula yang baru muncul di babak pertengahan tapi terus mendominasi sampai
akhir dongeng.
Nah, tokoh antagonis yang akan kita bahas sekarang termasuk dalam
kelompok terakhir.
Sebelum Auwyang Hong menampakkan diri pada babak Oey Yok Su
mencari mantu di pulau Tho-hoa-to, pembaca sudah mendapatkan sedikit gambaran
seperti apa tokoh kang-ouw paling sakti di daerah barat ini. Konon kesaktiannya
sejajar dengan tiga tokoh sakti dari tiga mata angin lainnya: Ang Cit Kong dari
Utara, Oey Yok Su dari Timur dan Toan Hongya dari Selatan. Dan level mereka
berempat cuma sedikit di bawah sang pendiri Coan-cin-kauw. Tapi dari julukannya
yang garang, See Tok alias Racun Barat, pembaca sudah dapat menduga bahwa tokoh
satu ini pasti lebih sesat dibandingkan Oey Yok Su si Sesat Timur. Apalagi
pembaca terlanjur kenal duluan dengan keponakannya yang ganteng-ganteng kucing
garong.
Lalu benarkah Auwyang Hong sejahat yang diperkirakan?
Kalau kita melihat dari sudut pandang para tokoh utama yang sangat
dirugikan oleh tindak tanduknya, tentu saja kita semua sepakat bahwa
dosa-dosanya susah dimaafkan. Kalau diukur dengan 7 deadly sins, paling tidak ia menderita penyakit wrath, greed, pride, dan envy.
Ia menghalalkan segala cara dan tidak segan-segan berbuat kriminal dengan
segala macam variasi dan turunannya demi mencapai tujuan utama hampir semua
orang di dunia kang-ouw: menjadi
jagoan nomor satu di kolong langit.
Tapi tentu saja, meskipun pada karya-karya awalnya Chin Yung
cenderung menggambarkan para karakternya dengan sangat hitam putih, kalau kita
mau, kita bisa kok mencari sisi positif dari setiap orang, termasuk karakter
beracun seperti Auwyang Hong.
Jadi, apa saja sisi positif dari Auwyang Hong yang bisa kita
ambil?
1. Ambisius
Seperti kata Gordon Gekko
di Wall Street, Greed is Good. Mau seperti apa hidup manusia tanpa ambisi? Meskipun
ilmu silat Auwyang Hong sudah sangat tinggi dan orang yang bisa menandinginya
hanya bisa dihitung dengan jari sebelah tangan, ia tidak mudah merasa puas.
Kalau di atas gunung masih ada gunung, mari kita taklukkan gunung yang lebih
tinggi. Kalau di atas langit masih ada langit, mari kita bangun roket untuk
menjelajahi angkasa luar. Jadi jagoan nomor satu di dunia kang-ouw? Mari kita
cari dan pelajari ilmu silat yang sakti tiada tandingannya!
2. Rajin Belajar
Meskipun umurnya sudah tua, semangat belajar
Auwyang Hong masih tetap tinggi. Ia juga tidak malu untuk belajar pada
orang-orang muda yang belum kenal asam garam dunia, sepanjang mereka lebih
menguasai ilmu yang ingin dipelajarinya. Meskipun ilmu yang dipelajarinya
sangat sulit dipahami karena sudah diedit habis-habisan oleh trio Ang Cit Kong-Kwee Ceng-Oey Yong, toh ia
tetap maju tak gentar walaupun harus menempuh risiko penurunan kesehatan
mental.
3. Toksikolog Ahli
Julukan Racun Barat yang disandang Auwyang Hong
sangat literal, bukan hanya metafora. Racun ular yang jadi andalannya bukan
hasil belanja dari tukang obat kaki lima, tapi dibuat sendiri di laboratorium
pribadi melalui eksperimen yang komprehensif dan ekstensif. Dan racun yang bisa
ditularkan dari korban pertama pada korban-korban berikutnya? Cuma Auwyang Hong
yang bisa begini!
4. Panjang Akal
Meskipun berkali-kali
dikerjai orang, terutama oleh Oey Yong yang cerdik-cendekia, Auwyang Hong kerap
bisa mengatasinya. Malah, siapa sangka dalam keadaan kepepet ia berhasil
menemukan parasut (meskipun dengan bahan seadanya sehingga terpaksa terjun
payung dari puncak tebing dalam keadaan telanjang). Tanpa ide briliannya, Kwee
Ceng dan Oey Yong pasti tak kepikiran untuk mengerahkan pasukan para pertama di
dunia sehingga pasukan Jenghis Khan bisa menaklukkan kota Samarkand.
5. Tidak Mata Keranjang
Kata orang, buah tidak
jatuh jauh dari pohonnya. Tapi bisa dibilang, untuk urusan ranjang, Auwyang
Hong sama sekali berbeda dengan Auwyang Hok yang gemar memetik bunga tanpa
izin. Iya, bisa saja sih karena sudah tua mungkin saja minatnya ke olahranjang
sudah tidak sebesar waktu masih muda, tapi tetap saja tidak ada ceritanya kalau
ia punya kecenderungan bersikap ganjen pada gadis-gadis cantik yang ditemuinya.
Buktinya, anaknya cuma satu. Kalau ia punya anak segudang dari haremnya di
Gunung Unta Putih, jelas ia tidak akan menerima Yo Kang sebagai murid!
Untuk masalah status Auwyang Hok, aku lebih
memilih versi Wong Kar Wai di Ashes of
Time, di mana Auwyang Hong bukannya berselingkuh dengan istri kakaknya. Ia
hanya terlalu keranjingan pada ilmu silat dan mencari nama di dunia persilatan,
sehingga sering meninggalkan kekasihnya. Wajar saja sih pas ditinggal lama,
dalam keadaan hamil akhirnya sang kekasih terpaksa menikahi calon kakak
iparnya. Yaaa, daripada anaknya lahir sebagai anak di luar nikah. Waktu itu kan
belum ada hape, susah memanggil pulang Bang Toyib buat dipaksa nikah!
6. Sayang Anak
Yang ini tidak usah diragukan lagi. Meskipun
status Auwyang Hok hanya “keponakan”, jelas Auwyang Hong hanya menyayanginya.
Apalagi seperti halnya Hiten Mitsurugi
Ryu-nya Seijuro Hiko, ilmu Auwyang Hong hanya bisa diturunkan pada satu
orang dalam setiap generasi. Kalau saja nasib berkata lain, sudah pasti apapun
yang dipelajari dan akan dipelajari Auwyang Hong seumur hidupnya, termasuk
Kiu-im Cin-keng, semuanya akan diwariskan kepada putra semata wayangnya. Belum
lagi urusan jodoh. Meskipun tahu anaknya mata keranjang, sebagai ayah yang baik
ia tidak segan-segan turun tangan langsung membantu anaknya untuk meminang putri
rival besarnya. Dan sayang anak ini tidak hanya berlaku untuk anak kandung, ia
juga menerapkannya pada anak angkatnya, Yo Ko.
7. Ganteng
Apalagi waktu masih muda. Kalau ditanya mirip
siapa, ya… kira-kira mirip Leslie Cheung, lah XD
![]() |
| Kumis tipis hiasan, wajah tampan rupawan |
Yah, pasti sebenarnya masih banyak lagi hal-hal positif yang masih
bisa kita gali dari tokoh antagonis ini. Tapi nanti malah bikin posting
ngalor-ngidul ini jadi kepanjangan :)
Ada yang mau ikut menambahkan?
Catatan :
Tulisan ini sudah lama kubuat, menurut MS Word tanggal 14-02-2017, kira-kira tidak jauh jaraknya dari aku membeli-ulang-baca-ulang serial Sia Tiauw Eng Hiong-nya Chin Yung. Sekarang ku-upload saja untuk memulai postingan di tahun 2019 (selain postingan wajib challenge awal tahun). Anggap saja ini langkah awal niat lamaku untuk memposting serial tulisan yang mengulik sisi positif para villain atau tokoh antagonis dari cerita atau genre apapun.
Tuesday, January 1, 2019
2018 Challenges Wrap Up & 2019 Challenges
Selamat Tahun Baru, semuanya!
Hah... aku mau nulis apa ya di awal tahun baru ini...
Tahun 2018 kemarin aku nyaris tidak pernah mampir lagi ke blog ini setelah memposting 2018 Challenges. Jadi... jelas ada target yang amat sangat tidak tercapai... target posting review, tepatnya. Bukannya aku tidak pernah bikin review singkat di goodreads setelah selesai baca buku sih, tapi komen singkat yang tidak diposting di blog tidak masuk hitungan. Belum lagi... seandainya satpam BBI masih rajin menyambangi blog yang nganggur berbulan-bulan malah nyaris setahun, pasti sudah lama aku ditendang dari BBI. Atau minimal dikasih peringatan dengan hukuman percobaan, barangkali. Ampun deh, aku janji bakal mampir setidaknya sebulan sekali tahun ini!
Jadi, apa saja target 2018 yang tercapai? Yuk kita mulai aja ah, nggak pakai lama...
1. Goodreads Reading Challenge
Oke, tercapai dengan catatan seperti biasa... sebagian besar komik, terutama komik Marvel dan DC. Mwahahah. Curang? Lha, iyalah. Target buku nonkomik tercapai 515 dari target 500 buku, tapi tetap terhitung curang juga sih karena banyak yang halamannya tipis, terutama buku anak-anak. Kalau iseng mengecek statistik Goodreads tentang buku yang dibaca 12 bulan terakhir, aku malah dihitung cuma baca 230 buku! Beda sistem dengan RC mungkin ya, yang tidak peduli pada tebal halaman dan juga menghitung re-read sebagai pencapaian!
2. New Author Reading Challenge
Tercapai 159 dan target 100.
Okay, di mana-mana juga kalau target diturunkan memang lebih mudah dicapai. Mungkin tahun 2019 perlu dinaikkan lagi targetnya ya...
3. Project Baca Buku Cetak
Kelihatannya timbunan malah bertambah dari 70-an buku di akhir tahun 2017 menjadi 80-an di akhir tahun 2018. Bukannya tidak ada usaha membaca buku timbunan sih... tapi ada saja tambahan buku cetak baru yang tak segera kubaca... Lebih banyak plus ketimbang minusnya deh.
4. Review Challenge
Boro-boro bikin review, bikin postingan baru di blog ini dalam setahun terakhir ini saja nggak. Jadi, dengan amat terpaksa aku akhirnya membuat 2 review dari dua buku yang terakhir kubaca, persisnya di malam tahun baru. Padahal targetnya sudah diturunkan dari target 2017 menjadi 52 review saja.
Jadi, sepertinya aku perlu menyusun target 2019 yang lebih realistis dan sesuai dengan tingkat kemalasan? Let's go!
1. Goodreads Reading Challenge
Sepanjang sistem perhitungan RC belum berubah, aku akan tetap mempertahankan tradisi menetapkan target jumlah bacaan sesuai angka tahun.
Sejauh ini masih on the track, dan baru 2 jilid komik, sisanya timbunan buku cetak dan digital. Mudah-mudahan tidak segera kehabisan gas di awal tahun, meskipun jelas aku pasti masih bakal lebih banyak baca komik ketimbang novel.
Target baca buku nonkomik? Tetap 500 saja dulu ya.
2. New Author Reading Challenge
3. Project Baca Buku Cetak
Aslinya sih, saat ini buku cetak di kamar kos (di luar manga) cuma ada 4 jilid. Hebat, ya? Nggak juga sih, karena timbunan yang aku punya versi ebook-nya atau ada di aplikasi GD aku kirim semua ke perpustakaan di Cirebon.
Apakah akhirnya aku akan membaca buku yang sudah tertimbun bertahun-tahun bahkan belasan tahun di tahun 2019 ini? Kita lihat saja nanti.
4. Review Challenge
Apakah challenge ini masih tetap kubuat tahun ini setelah gagal dengan sungguh amat sangat mengenaskan tahun lalu? Bagaimana dengan tingkat kemalasan tahun ini, apakah dapat diprediksi menurun atau malah meningkat?
Ya sudahlah... meskipun masih tidak realistis mengingat level kemalasan posting review (atau posting apapun) di blog ini tahun lalu, aku tetap buat buat challenge-nya, deh.
12 Review saja ya. Itu juga sudah jauh lebih mendingan ketimbang pencapaian tahun 2018 kok, hehehe...
Okay, folks! Kita akhiri resolusi tahun 2019 ini. Mudah-mudahan pencapaian target tahun ini bisa lebih baik dari tahun sebelumnya!
Tuesday, January 9, 2018
2017 Challenges Wrap Up & 2018 Challenges
HAPPY NEW YEAR, EV'RYBODY!!!
Um... sudah lewat 9 hari sih, tapi anggap saja masih sah ya mumpung masih bulan Januari...
Omong-omong, sudah lewat tiga bulan sejak postingan terakhirku di sini. Banyak sih alasannya, dari alasan klise seperti beban kerja yang tinggi sehingga pulang larut nyaris setiap hari selama kwartal terakhir 2017 sampai alasan yang nggak banget seperti kebanyakan baca fanfic sebagai pengisi waktu luang yang sebenarnya sudah mepet. Ujung-ujungnya, jelas alasan alamiah umat manusia: MALAS.
Duh, mau bilang malas saja kok pakai mutar-mutar segala sih...
Gara-gara lebih suka tidur selonjoran (atau meringkuk? pick one please) sambil baca ao3 di ponsel, apa kabarnya dong tantangan pribadi di tahun 2017?
Huahaha... berantakan tentu saja. Gitu saja kok pakai tanya segala. Yuk, kita buka saja aib pencapaian di tahun 2017 kemarin:
1. Goodreads Reading Challenge
Yay. Checked. 2024 dari 2017 buku.
Ehm, tercapai sih tercapai, tapi... sepertinya sampai tiga hari terakhir aku masih behind schedule lebih dari 150 buku. Jurus rahasia mengejar target di injury time pun dilancarkan dengan ganas: sama dengan tahun lalu, binge-reading komik Marvel, kali ini plus komik DC sekalian (Btw, beberapa jilid dari serial Rebirth Batman dan Superman, termasuk serial Super Sons yang mengikuti petualangan anak-anak Bruce dan Clark ternyata asyik juga lho untuk diikuti. Yang belakangan malah serasa membaca petualangan Trunks dan Goten di Dragon Ball).
Kabar buruknya, target buku nonkomik cuma tercapai 469 dari 1000. Sepertinya tahun ini lebih banyak fanfic dengan puluhan chapter yang kubaca ketimbang buku nonkomik.
2. New Author Reading Challenge
Nay. Kalau yang ini rapor merah, karena cuma tercapai 109 dari target 200. Benar-benar tanpa perencanaan dan strategi sama sekali, apalagi kemauan untuk mencapai target. Habisnya, new author ini cuma dihitung dari buku nonkomik, sementara buku nonkomik yang kubaca tahun ini ini cuma setengah dari tahun lalu. Lagipula, yang namanya new author itu benar-benar gambling banget deh. Kalau bisa sih, sebelum dibaca, harus dipastikan dulu bukunya tidak meh apalagi mengecewakan.
3. Project Baca Buku Cetak
Ah, no comment deh kali ini. Karena kecepatan membeli buku fisik berbanding terbalik dengan kecepatan membacanya, boro-boro menurunkan buku fisik TBR menjadi 25 buku, yang ada malah bertambah dari 1 kontener menjadi 2... dan dari 74 buku menjadi lebih dari 100 buku (belum kuinput di Goodreads sih). BBW dan Halbornas benar-benar membantu kegagalan pencapaian target kali ini.
4. Review Challenge
Oh, ternyata bertambah satu dari tahun kemarin. 22 Review. Itu pun kebanyakan buku anak-anak. Itu pun kebanyakan ngegas di awal tahun, lantas melempem di akhir tahun. Mau bagaimana lagi, kemauan untuk membaca buku fisik saja sudah malas, apalagi membuat reviewnya. Damn you, fanfic!!! (Tapi tetap susah berhentinya, nih).
Well, melihat rapornya merah semua begitu, masih pantaskah aku membuat tantangan tahun 2018 ini? Pantas saja sih, asal mungkin targetnya dibuat lebih realistis, dengan mempertimbangkan banyak faktor, termasuk kesibukan pekerjaan, banyaknya fanfic yang masih menggoda, dan unsur kemalasan yang kronis :P
Yuk langsung saja, yuk...
1. Goodreads Reading Challenge
Karena cuma nambah satu dari tahun kemarin, sepertinya masih wajar untuk tercapai. Apalagi tabungan buku fisik dan ebook yang sebenarnya aku ingin baca masih banyak banget.
Mudah-mudahan sih semangat baca yang dimulai awal tahun ini tetap konsisten sampai akhir tahun. Iya, kemungkinan besar bakal disumbangkan dari buku komik sih. Ternyata banyak banget yang belum kubaca!
Dari 2018 buku, target buku nonkomik kuturunkan ke tingkat yang lebih realistis deh. Mudah-mudahan target 500 buku nonkomik di tahun 2018 bukan hil yang mustahal. Sampai postingan ini, sudah 11 buku nonkomik yang kubaca. Mudah-mudahan konsisten dan sekaligus menurunkan jumlah buku fisik TBR.
2. New Author Reading Challenge
Challenge ini tetap tak perlu dihapus, karena bagaimanapun masih banyak sekali penulis yang bukunya belum pernah kubaca, termasuk penulis yang bukunya terdaftar di 1001 Books You Must Read Before You Die, daftar yang masuk ke dalam target baca selow-ku.
Mungkin 100 penulis saja ya, tahun ini?
3. Project Baca Buku Cetak
Cukuplah berharap timbunan buku di kamar kos tidak sampai memerlukan 1 kontener seperti sekarang. Dan itu pun bukan karena bukunya malah dikirimkan ke perpustakaan di Cirebon untuk menambah timbunan buku TBR yang juga sudah lebih dari 1 kontener juga...
4. Review Challenge
Hm... diturunkan deh jadi 52 review tahun 2018 ini. Masa sih, segitu malasnya sampai satu review per minggu juga tidak kesampaian? Ayo semangat, Indah, semangat!!!
Nah, sampai saat ini yang sudah kumulai adalah usaha pencapaian target nomor 1 s/d 3... mudah-mudahan besok-besok aku mulai tergerak untuk memulai usaha pencapaian target nomor 4.
Yuk ah, wassalam dulu...
![]() |
| Setori tahunan tiap kali challenges wrap up :P |
Friday, September 16, 2016
The Life-Changing Magic of Tidying Up
Judul : The Life-Changing Magic of Tidying Up
(Seni Beres-Beres dan Metode Merapikan ala Jepang)
Penulis : Marie Kondo
Penerbit : Bentang
Tebal : xviii + 206 halaman
ISBN : 9786022912446
Dibeli di : Gramedia.com
Harga beli : Rp. 45.900,- (disc. 15%)
Diterima pada tanggal : 26 Agustus 2016
Dibaca pada tanggal : 29 Agustus 2016
Singkatnya, sebagai pengumpul buku, pakaian, sepatu, kartu pos, perangko, mug, koin... eh, intinya segala macam barang (tapi terutama buku), aku merasa guidance dari Marie Kondo ini sangat penting!
Titik.
Eh, nggak juga ding, masih koma, karena
Mulai dari mana ya...
Bagiku buku ini sangat menohok, karena sebagai orang (merasa) cukup apik, rapi, dan rajin berbenah setiap hari (terutama di kantor), ternyata banyak kebiasaanku dalam berbenah yang rupanya salah kaprah.
Menurut Marie Kondo, mendingan kita merapikan sekaligus daripada sedikit-sedikit, karena berbenah sedikit-sedikit berarti berbenah tanpa henti. Aku sependapat dalam hal ini, karena sudah kupraktekkan di kantor. Setelah berbenah dengan membuang barang-barang tak dibutuhkan, aku selalu menjaga kondisi ruang kerja dalam kondisi rapi-kinclong-hampir tidak ada barang di atas meja setiap kali kutinggal pulang di akhir hari. Tapi... ada tapinya, ini hanya bisa dilakukan karena aku tidak menyimpan barang-barang pribadi di kantor, termasuk buku!
Cerita jadi lain kalau sudah menyangkut barang-barang pribadi. Sebagai manusia tipe pengumpul (kadang-kadang tipe pemburu juga sih, khususnya barang diskonan), barang-barang pribadiku selalu bertambah setiap hari. Meskipun aku pecinta buku kelas kakap yang anggaran belanja buku setiap bulannya jauh lebih besar daripada anggaran sandang/pangan/papan, ternyata koleksi pakaian dan sepatuku baik di kamar kos maupun di rumah orang tua juga memakan banyak tempat penyimpanan! Pertambahan baju/sepatu memang tidak seperti pertambahan buku yang eksponensial, cuma beberapa bulan sekali atau sampai setahun sekali, tapi tetap bertambah karena barang yang sudah bertahun-tahun tidak dipakai pun masih disimpan.
Tidak tega membuang barang memang penyakit turunan khas tipe pengumpul. Sudah susah-susah dikumpulkan, mahal-mahal dibeli, masa dibuang begitu saja. Sayang kan, masih bisa dipakai lagi kapan-kapan, apalagi ukuran baju/sepatu tetap sama dari zaman SMP. Sayang kan, siapa tahu buku yang itu mau dibaca lagi kapan-kapan.
Menurut Marie Kondo, "kapan-kapan" berarti "takkan pernah", jadi semua barang yang statusnya tidak jelas seperti itu harus dibuang! Ia juga menyarankan agar kita memulai dengan membuang semuanya sekaligus, tanpa ampun, dan sampai tuntas! Caranya adalah, kita mengumpulkan barang yang akan dibereskan di satu tempat, lalu memilih mana yang akan disimpan dan yang akan dibuang, dengan mengambil dan memegangi setiap barang dan bertanya "Apakah ini membangkitkan kegembiraan?" Jika ya, simpanlah. Jika tidak, buang saja. Dan urutan terbaik untuk berbenah per kategori barang adalah: pakaian, buku, kertas, pernak-pernik, dan terakhir kenang-kenangan. Tapi karena koleksiku yang paling banyak adalah buku, untukku pribadi sepertinya koleksi buku yang harus dibereskan duluan.
Pertama-tama, sepertinya aku merasa kurang sreg dengan prinsip Marie Kondo bahwa "kapan-kapan" berarti "takkan pernah", khususnya terkait dengan timbunan buku tak terbaca. Aku pernah menelantarkan buku selama puluhan tahun (Tinker, Tailor, Soldier, Spy), belasan tahun (War and Peace, The Stand, The Dark Tower Series), atau beberapa tahun (ah, ini mah tidak bisa disebut satu persatu), tapi buku-buku itu tidak kubuang karena aku meyakini kualitasnya, dan toh akhirnya benar-benar kubaca. Tapi, itu bukan berarti aku tidak pernah membuang buku yang belum kubaca sama sekali. Aku juga pernah kok menyortir timbunan buku belum terbaca dan menyumbangkan sebagian di antaranya. Pertimbangannya simpel saja, aku mungkin tidak akan terlalu suka membacanya dan toh buku itu kubeli dengan harga obral.
Dulu, aku pernah berencana kapan-kapan membuka perpustakaan umum atau rumah baca gratis di kampungku, demi meningkatkan minat baca anak-anak di lingkungan sekitar rumah yang saat ini kelihatannya sangat kurang, yang mungkin disebabkan tidak adanya akses yang mudah dan murah ke buku bacaan. Jadi, aku sering memanfaatkan pameran atau sale buku sebagai ajang berinvestasi sejak dini, dengan membeli buku-buku yang kuanggap sepertinya menarik, termasuk buku anak-anak, dalam jumlah yang lumayan banyak. Tapi aku mulai berpikir ulang sejak insiden menyedihkan beberapa tahun yang lalu, waktu nyaris 3/4 koleksi bukuku dilego ke tukang loak (KILOAN!!!) oleh orang yang seharusnya menjaganya.
Lantas, aku pun mengubah prinsip dalam mengoleksi buku, dari semula mengoleksi sebanyak-banyaknya menjadi hanya mengoleksi buku yang kusukai saja. Waktu aku membeli ulang buku-buku yang raib, aku pastikan buku-buku itu adalah favoritku, yang dengan memiliki dan membacanya saja dapat membuatku bahagia. Nah, sudah cocok dengan prinsip Marie Kondo, kan?
Lalu, bagaimana dengan buku koleksi yang sekarang kalau kupegang satu per satu tidak ada getar terasa? Padahal dulu mungkin waktu membelinya aku senang banget kayak nemu harta karun, yang bisa jadi gara-gara kudapat dengan gratis atau harga murah meriah.
Ya... Persis seperti anjuran Marie Kondo juga: buang saja. Tapi tentunya bukan buang sembarangan ke kali atau dikilo ke tukang loak. Selalu ada tempat untuk buku. Kalau rencanaku membuka rumah baca sendiri di kampungku baru bisa terlaksana di masa yang akan datang karena aku belum bisa menemukan orang lain yang bisa kupercaya untuk merawat koleksiku, mungkin lebih baik apabila buku-bukuku bermanfaat dan berguna saat ini, baik di tangan para pecinta buku lain ataupun di perpustakaan di kampung lain yang lebih membutuhkan.
Jadi, mungkin acara beres-beres perpustakaan (dan giveaway di blog ini) sepertinya akan selalu menjadi kegiatan rutinku. Aku tidak bisa mengikuti anjuran Marie Kondo untuk berbenah secara sekaligus, selain karena waktu yang terbatas, aku juga masih belum bisa (baca: belum mau) menghentikan belanja buku, baik yang rutin maupun nonrutin. Iya, aku masih menggunakan prinsip berbenah versi lama: kalau ada barang yang masuk, harus ada barang yang keluar. Tapi itu pun hasilnya sudah cukup lumayan, kok. Tumpukan buku tanpa tempat di lemari perpustakaanku yang ruangnya terbatas semakin berkurang, dan hati pun terasa lebih ringan.
Kepada buku-buku yang kulepas, terima kasih atas kebahagiaan yang telah kalian berikan saat aku memperoleh dan memiliki kalian selama ini. Mudah-mudahan kalian dapat memberikan kebahagiaan di tempat yang baru.
Kepada teman-teman yang mengadopsi buku-bukuku, terima kasih atas kesediaannya untuk menampung buku-bukuku dan mensukseskan kegiatan beres-beres dan merapikan perpustakaan pribadiku.
P.S. Kutipan buku yang kucuplik di sini cuma sedikit, jadi kalau tertarik untuk belajar teknik Marie Kondo lebih lanjut, silakan baca sendiri ya. Very recommended buat hoarder kambuhan.
P.P.S. Meskipun aku belum bisa mempraktekkan isinya, buku ini sudah menjadi salah satu buku favoritku saat ini. Jadi tidak, aku tidak akan membuangnya. Di Goodreads, aku merating buku ini:
P.P.P.S. Dengan membaca buku ini, atau mempraktekkan seni Marie Kondo, minimal kita akan menyadari apa saja yang sebenarnya kita butuhkan untuk menjalani hidup sehari-hari dengan gembira, dan apa saja yang lebih baik kita singkirkan supaya kita dapat merasa lebih bahagia. Buku ini dilengkapi dengan testimoni dari klien-klien yang dibantu Marie Kondo untuk berbenah, meskipun kadang-kadang terlalu ekstrim seperti ini:
Kursus Anda mengajarkan kepada saya untuk melihat apa saja yang sungguh saya butuhkan dan apa saja yang tidak saya perlukan. Jadi, saya lantas minta cerai. Sekarang saya merasa jauh lebih bahagia.
Wednesday, September 23, 2015
Everything Is Connected
Everything Is Connected: Reimagining the World One Postcard at a Time by Keri SmithMy rating: 3 of 5 stars
Ini bukan review. Cuma komentar singkat :)
Aku suka mengumpulkan kartu pos, meskipun cuma sesukanya dan sedapatnya. Jadi, pas menemukan buku kartu pos ini di slot bargain books-nya Peri+ online, ya kubeli deh.
Anyway, seperti biasa, Keri Smith menganjurkan pada pembacanya untuk berkreasi dengan memanfaatkan koleksi kartu pos ini. Misalnya... ada yang disarankan untuk dikubur di halaman tetangga. Atau ada juga yang diminta untuk dilipat-lipat dan dijadikan perahu kertas (perahu kartu?) dan dibiarkan mengalir sampai jauh...
Seperti kasus buku-buku Keri Smith sebelumnya, semua "perintah" Keri Smith kucuekin deh. Buku kartu pos ini tetap utuh, karena aku cuma membaca apa yang ditulis Keri Smith pada setiap lembar kartu pos :P
Masa sih aku begitu teganya, teganya, teganya... untuk menghancurkan sebuah buku (ataupun selembar kartu pos), meskipun demi melepas stress...
View all my reviews
Wednesday, June 10, 2015
Reading Deadpool
Perkenalanku dengan Marvel Universe dimulai sejak aku masih SD, waktu aku rajin main rumah anak tetangga untuk merambah dan meminjam koleksi komik superheronya. Yang pertama kukenal malah serial The Avengers. Setelah SMA, aku mulai membaca dan mengumpulkan serial komik Spiderman, kebanyakan terbitan Misurind. Tapi bagaimanapun, karena komik Amerika terjemahan yang beredar di Indonesia sangat terbatas, kebanyakan yang kubeli dan kubaca adalah komik-komik DC, macam Batman dan Superman, dan aku kurang terpapar oleh dunia Marvel.
Barulah ketika Marvel Cinematic Universe tercipta dan aku sudah menemukan jalan untuk membaca komik Amerika secara masif, aku mulai banyak membaca komik keluaran Marvel. Tapi... terus terang saja, aku memang melewatkan komik Deadpool. Sampai sekarang. Itu pun awalnya karena penasaran saja, mentang-mentang Deadpool bakal dibuat film solonya, setelah numpang lewat di film X-Men Origins: Wolverine.
Dan... aku menyesal kenapa baru menyempatkan baca sekarang. Karena oh karena... karakter Deadpool benar-benar hilarious!
Tanya kenapa?
1. Crazy like a Fox
Wade Wilson aka Deadpool lebih sinting dari Murdock-nya The A-Team. Oke, ada alasannya kenapa dia bisa begitu, terutama gara-gara jadi objek eksperimen Weapon X. Tapi... sebelum itu pun sepertinya memang punya bakat psikopat sih. Jadinya, semua tindak-tanduknya unpredictable, baik bagi kawan, lawan, maupun pembaca.
2. Awesome Ability
Sebelum mendapat kemampuan regenerasi yang sangat cepat, jauh lebih hebat dari Wolverine (bahkan kepala putus pun tidak bakal mati, bisa disambung atau tumbuh lagi!), Wade Wilson sudah menjadi mercenary/assassin yang hebat. Setelah punya kemampuan regenerasi, ia menjadi lawan yang menyusahkan, karena setelah mati jadi abu pun tetap bisa hidup kembali. Bahkan, kalau lawannya tidak tahu kemampuannya, ia kerap sengaja mati sebagai bagian dari strategi. Kalau ia mau, serius dan fokus (plus tak segan main curang), mengalahkan superhero dan supervillain Marvel Universe itu perkara gampang.
3. The Merc with a Mouth
Terlepas dari keahlian beladiri tangan kosong ataupun menangani segala jenis senjata yang ada di dunia, senjata utama Deadpool adalah mulutnya, yang lebih cerewet dari senapan mesin. He never shuts up, bahkan ketika sedang berantem. Mungkin lawannya merasa lebih baik bunuh diri saja daripada terus-terusan mendengarkan ocehan Deadpool.
4. Pop Culture Reference
Ocehan Deadpool sering dianggap does not make sense. Tapi itu lebih karena yang dengar (atau yang baca) tidak mengerti atau tidak tahu referensi pop-culture yang dikutip Deadpool. Dalam hal ini, referensi Deadpool bisa ke mana-mana, sesukanya, termasuk mengutip manga Naruto.
5. Breaking the Fourth Wall
Mungkin di dunia Marvel hanya Deadpool yang sadar betul kalau ia cuma karakter komik, dan bahwa apapun yang terjadi di dunianya cuma rekaan belaka. Selain berbicara langsung kepada pembaca atau menyebutkan pada jilid komik keberapa suatu peristiwa terjadi, Deadpool bahkan bisa melangkah keluar dunia komik untuk meneror komikus bahkan pembacanya!
6. Do not take it seriously
Dengan karakter seperti ini, penulis bebas membuat cerita seancur dan seabsurd mungkin. Meskipun tingkat kekerasan dan pertumpahan darah yang gore menjadi ciri khas komik Deadpool, tapi penulis selalu punya ruang untuk mengimbanginya dengan humor yang variatif, dari yang dumb, slapstick, sinis, bahkan sampai sarkastis. Mau Deadpool kembali ke masa lalu untuk membunuh Sun Tzu? Mau Deadpool bertualang ke dunia paralel dan menemui berbagai versi lain karakternya? Mau Deadpool membunuh seluruh superhero Marvel? Yap. Apapun bisa terjadi. Namanya juga komik!
Setelah dua minggu lebih maraton membaca komik Deadpool, aku resmi menjadikan Deadpool sebagai salah satu karakter favoritku dari Marvel Universe.
Tinggal menunggu apakah film solo Deadpool yang bakal rilis Februari 2016 kelak tetap setia atau tidak pada versi komiknya (lupakan film X-Men Origins: Wolverine yang tega-teganya menjahit mulutnya yang cerewet).
Tuesday, April 7, 2015
Enter the Magical Realm: Underrated Top 3 Best SF Books [+Giveaway Hop]
Mau bagaimana lagi... buku-buku genre science fiction memang tergolong criminally underrated di Indonesia. Alasannya jelas karena kurang peminat dan pembaca (apalagi kalau dibandingkan dengan peminat dan pembaca genre romance), sehingga ujung-ujungnya penerbit lokal malas menerbitkan buku bergenre scifi. Beberapa scifi klasik, khususnya karya Jules Verne dan H.G. Wells kadang-kadang terlihat penampakannya di rak toko buku (atau lapak obralan), tapi bagaimana dengan nasib buku-buku yang digadang-gadang sebagai best of the best nya scifi?
Oke, sebelum masuk ke pokok bahasan, pertanyaan pertama adalah: Apa parameter the best yang pas untuk genre science fiction?
Berdasarkan situs yang ini, idealnya cerita SF terbaik mampu menggabungkan storystelling yang baik dengan berbagai macam pertanyaan fundamental tentang segala hal: masyarakat, agama, politik, hubungan antar ras, ruang, waktu, takdir manusia, tempat kita di alam semesta ini, dll. Dan akan jauh lebih baik lagi apabila ceritanya disertai plot dan karakter yang kuat. Sayangnya, hal itu jarang kita temukan dalam satu buku.
Dari 25 buku SF terbaik di dunia versi situs yang sama, aku mencomot tiga buku teratas saja untuk sharing kali ini. Selain karena pembahasan 25 buku bisa panjang bukan kepalang, sebagai pembaca level cemen untuk genre ini, aku baru membaca 6 dari 25 buku yang ada dalam daftar. Itu pun setengahnya baru kubaca beberapa hari belakangan ini :P
Yuk kita mulai saja!
#1 Dune
![]() |
| First edition cover |
Novel yang pertama kali diterbitkan pada tahun 1965 ini memenangkan Hugo Award dan Nebula Award untuk kategori Best Novel pada tahun 1966, yang merupakan penghargaan tahunan untuk karya science fiction/fantasy terbaik.
Novel ini bersetting di masa depan yang jauh, dengan sistem pemerintahan antarbintang berbentuk kekaisaran. Tokoh utama buku ini adalah Paul Atreides, yang masih berusia lima belas tahun saat pertama kali muncul di awal novel. Ia adalah putra tunggal Duke Leto Atreides, yang ditugaskan untuk mengelola planet Arrakis, yang disebut juga Dune, karena planetnya berupa gurun pasir. Tapi jangan melihat penampilannya, planet itu merupakan satu-satunya sumber "spice" melange, yang sangat diperlukan dalam perjalanan antar planet / antar ruang, menjadikannya sumber daya alam yang paling berharga di alam semesta. Siapa yang menguasainya, berarti menguasai alam semesta.
Yang membuat Dune dinilai best of the best untuk novel genre scifi adalah cakupan pembahasannya yang berlapis-lapis, dari politik, agama, ekologi, imperialisme, teknologi, emosi manusia, saat semua pihak berkonfrontasi dalam perebutan kekuasaan atas planet Arrakis dan sumber daya alamnya.
Versi filmnya dirilis pada tahun 1984, yang disutradarai oleh David Lynch dengan cast antara lain Kyle McLachlan, Patrick Stewart dan Sting.
Tapi konon film Star Wars yang sudah rilis lebih dulu terinspirasi dari novel Dune, meskipun sejauh yang bisa kulihat persamaannya hanya dari sisi sistem kekaisaran antargalaksi dan tokoh utama remaja yang berasal dari planet gurun pasir. Pada tahun 1970-an sebenarnya sudah ada usaha mentransfer novel ini ke seluloid, dengan sutradara Alejandro Jodorowsky, tapi gagal. Dokumentasi pembuatan film itu malah diangkat menjadi film tersendiri yang rilis pada tahun 2013, dengan judul Jodorowsky's Dune.
Pendapat pribadi (sekaligus review colongan):
Setting novel bisa diparalelkan dengan lokasi khusus di bumi: gurun pasir di semenanjung Arabia. Sumber daya alam yang menjadi sumber konflik, well, apalagi kalau bukan minyak. Siapa yang menguasai minyak, berarti menguasai dunia.
Siapapun yang membaca buku ini pasti akan menyadari bahwa Frank Herbert banyak meminjam referensi Arab, bukan hanya setting gurun pasirnya, tapi juga bahasanya. Kita akan menemukan kamus mini di bagian belakang novel,yang menjelaskan istilah-istilah yang digunakan dalam novel. Banyak istilah arab yang akan kita kenali, seperti adab, alam, aql, ayat, baraka, fiqh, hajj, hajra, ilm, jihad, karama, kitab, lisan al-gaib, mahdi, sampai shaitan.
Paul Atreides bukan penduduk asli Dune, kaum Fremen, tapi pada akhirnya ia merupakan perwujudan dari Mahdi (messiah/nabi) yang ditunggu-tunggu kaum Fremen dalam kepercayaan agama mereka, dan memimpin mereka dalam perang militer melawan para penjajah: dalam hal ini musuh keluarga Atreides, keluarga Harkonnen, yang menguasai planet Arrakis.
Frank Herbert menuliskan perwujudan Paul sebagai nabi/panglima militer yang sukses meruntuhkan kekuasaan kekaisaran atas Arrakis ini sebagai "When religion and politics ride in the same cart and that cart is driven by a living Holy man, nothing can stand in the path of such a people."
Oh, well. Kita tahu maksud dan referensinya.
Tapi sudahlah, bagi yang tidak tertarik pada benang merah yang menurutku tidak cukup subtle ini, masih banyak yang bisa dieksplorasi dari novel ini. Setelah Butlerian Jihad alias perang antara manusia melawan komputer yang memiliki artificial intelligence (iya, mengingatkan kita pada tema The Matrix), menciptakan mesin yang bisa berpikir seperti manusia adalah dosa besar. Karena itu, yang terus dikembangkan adalah kemampuan otak manusia. Ada kaum yang bisa menggunakan kemampuan otaknya sampai batas maksimal sehingga mirip komputer, ada kaum yang mengembangkan kemampuan psikis, dan ada pula kaum yang berusaha menciptakan manusia super melalui persilangan genetis. Mau cari action? Selain antara pihak Atreides vs Harkonnen vs Fremen, ada pula monster asli Arrakis, cacing pasir yang panjangnya antara seratus sepuluh sampai empat ratus meter dan diameternya minimal dua puluh dua meter. Bayangkan kalau pesawat saja bisa ditelan olehnya, bagaimana dengan manusia. Dan bayangkan, bila kau bisa menaklukkan dan menunggang monster itu ke medan perang... XD
Novel ini agak susah untuk kureview secara singkat, karena kompleksitas dan luas cakupannya. Dan terus terang saja, secara Dune konon Lord of the Ring-nya genre scifi, boleh dibilang secara pribadi pendapatku pribadi saat membaca buku ini sama dengan ketika membaca LotR. Terlepas dari worldbuilding-nya yang luar biasa, gaya bahasa dan penuturannya kurang sreg dan bikin males... >,<
Underrated?
Di negara asalnya sih jelas tidak, bahkan disebut world best-selling science fiction novel (jumlah pastinya sih entah berapa). Rating di GR saat ini juga termasuk tinggi, 4.14. Tapi di Indonesia...? Di luar pembaca dan penggemar scifi, boleh dibilang di kalangan pembaca awam akreditasinya nyaris tidak terdengar. Terjemahannya juga belum ada. Memang sudah ada versi filmnya, lebih dari 30 tahun yang lalu, dan siapa yang ingat coba? Jangan dibandingkan dengan Return of the Jedi (1983, dengan sutradara yang sama) atau Back to the Future (1985), yang saking klasiknya masih banyak orang yang ingat. Waktu mencoba menonton versi filmnya kemarin, aku nyaris nangis melihat efek spesialnya (iya sih 31 tahun lalu, tapi tetep saja...), dan buat penonton yang belum membaca novelnya, bisa jadi susah dimengerti dan bikin tersesat di alam semesta. Oh iya, ada beberapa buku sekuel dari novel. Tapi mengingat buku pertamanya saja belum ada yang menerjemahkan sampai saat ini, apalagi sekuelnya...
#2 Ender's Game
![]() |
| First edition cover |
Novel yang pertama kali diterbitkan pada tahun 1985 ini memenangkan penghargaan sebagai best novel pada Nebula Award 1985 dan Hugo Award 1986.
Novel ini merupakan military science fiction yang bersetting di masa depan, di mana bumi telah mengalami dua kali invasi dari alien mirip serangga (yang disebut "Buggers"). Dalam rangka mencegah serangan berikutnya, maka pasukan bumi merencanakan pre-emptive strike ke home planet musuh, dan melatih sekumpulan anak-anak berbakat, termasuk Ender Wiggin, tokoh utama buku ini, untuk berpartisipasi dalam serangan tersebut. Judulnya berkorelasi erat dengan pelatihan-pelatihan berupa game pada Battle School yang levelnya semakin lama semakin sulit dan kompleks, yang bertujuan untuk mendapatkan pemimpin militer yang memiliki kemampuan berpikir taktis dan strategis yang tinggi.
Membaca novel ini kita akan dibawa mengikuti proses pelatihan Ender di Battle School hingga lulus dan promosi ke level yang lebih tinggi: Command School. Di tempat baru, ia diberikan game dan simulasi pertempuran yang lebih kompleks. Dalam setiap simulasi, ia memegang komando tertinggi armada spaceship dan pesawat tempur pasukan bumi melawan armada alien.
Novel ini diadaptasi menjadi film yang dirilis pada tahun 2013, dengan casting antara lain Harrison Ford, Asa Butterfield dan Ben Kingsley.
Terdapat beberapa penyesuaian yang cukup signifikan, terutama perubahan usia Ender yang dalam versi buku masih anak-anak menjadi remaja.
Pendapat pribadi (bukan review)
Pertama kali aku membaca buku ini dalam bentuk ebook pada tahun 2010. Asbabun nujul-nya tidak jelas, karena tidak ada seorang pun yang berbaik hati merekomendasikan buku ini padaku. Kalau tidak salah awalnya karena aku membaca komik Iron Man yang ditulis oleh Orson Scott Card. Tapi yang jelas, storytelling-nya yang asyik dan twist ending-nya yang epik membuatku langsung memberi rating 5/5 dan memasukkannya ke daftar buku favorit. Baru setelah filmnya rilis, aku membeli buku fisiknya (dengan cover film tentunya).
Tapi sampai dengan saat ini, aku belum tertarik untuk membaca buku sekuelnya. Bagiku, buku ini bisa berdiri sendiri sebagai satu cerita utuh.
Underrated?
Di negara asalnya sudah pasti tidak. Dalam setiap daftar best sci-fi novels, buku ini termasuk selalu masuk papan atas dan best seller, dengan rating di GR saat ini 4.28. Di Indonesia? Nasibnya jauh lebih baik dibandingkan novel Dune, karena sudah diterjemahkan dan diterbitkan. Tapi karena penerbitannya berbarengan dengan peluncuran filmnya sebagai novel movie-tie-in, jangan terlalu berharap sekuelnya (serial ini terdiri dari 7 buku) akan diterbitkan juga, apabila versi filmnya tidak dibuat sekuelnya. Tapi untuk versi terjemahan, cukup lumayanlah pembacanya, setidaknya sampai saat ini di GR ada 297 orang yang memberi rating dengan rata-rata 4.15.
#3 Starship Troopers
![]() |
| First edition cover |
Novel yang pertama kali diterbitkan pada tahun 1959 ini memenangkan Best Novel pada Hugo Award tahun 1960.
Diceritakan dari sudut pandang orang pertama, pemuda bernama Juan "Johnnie" Rico yang bergabung dengan Mobile Infantry. Perkembangan karir Johnnie sejak pertama kali bergabung dengan MI sampai menjadi perwira diceritakan dengan latar belakang perang melawan alien mirip serangga yang disebut "the Bugs", yang berujung pada pre-emptive strike terhadap home planet musuh (jelas tampak pengaruhnya terhadap novel-novel scifi sejenis, termasuk Ender's Game).
Tapi yang jelas, di novel ini perang melawan alien bukan sajian utama. Yang lebih banyak mengambil porsi adalah pemikiran-pemikiran filosofis tentang hidup, sistem sosial, politik, dan militer, yang kadang terselip dalam narasi Johnnie atau dialog antara Johnnie dengan tokoh-tokoh lainnya.
Novel ini telah diadaptasi menjadi film pada tahun 1997, dengan sutradara Paul Verhoeven (Robocop, Total Recall), dan casting antara lain Casper Van Dien, Denise Richards, dan Neil Patrick Harris.
Berbeda dengan versi aslinya, versi film ini lebih mengedepankan adegan aksi dan perang melawan alien-nya.
Pendapat pribadi
Sepertinya sudah panjang lebar kubahas di sini.
Underrated?
Sudahlah, tak usah membahas kepopuleran buku scifi ini di negara asalnya. Di Indonesia, sepertinya sih memang iya. Meskipun filmnya beredar di bioskop dan sering diputar ulang di stasiun TV Indonesia, tetap saja versi bukunya belum diterjemahkan dan diterbitkan di Indonesia. (Tapi CMIIW ya, karena ini buku terbitan tahun 1959, siapa tahu di jaman tahun 1960-70an ada versi terjemahan Indonesia yang tidak kuketahui?). Dan pada tahun 1990-an saat filmnya rilis, masih jarang ada penerbit yang rajin dan mau menerbitkan novel movie-tie-in, meskipun harus kuakui penerbit GPU mau menerbitkan buku Species, Independence Day, atau Mission Impossible (semuanya aku punya), buku Robert A. Heinlein ini tidak termasuk yang seberuntung itu.
Nah, bagaimana, ada yang mau berkampanye agar lebih banyak buku genre scifi yang diterjemahkan dan diterbitkan di Indonesia? Konsekuensinya, konsisten ya, beli bukunya kalau sudah diterjemahkan dan diterbitkan :)
Baiklah, masih dalam meramaikan BBI 4th Anniversary Event yaitu Around the Genres in 30 Days, tibalah kita pada saat yang ditunggu-tunggu:
Peraturannya:
1. Tebak judul buku dari petunjuk yang diberikan masing-masing blog.
2. Ambil hanya huruf pertama dari judul buku tersebut.
3. Judul buku yang digunakan adalah versi aslinya, bukan terjemahan. (Misalkan Inheritance yang meski diterjemahkan GM menjadi Warisan, tapi yang kita gunakan tetaplah huruf I nya)
4. Khusus untuk judul buku yang ternyata berawalan The, harap abaikan huruf T di depan, sehingga yang digunakan adalah kata setelah "The". (Misalkan The Alchemist, maka yang digunakan dalam menyusun kata adalah huruf A bukan T)
5. Setelah menemukan 16 huruf dari masing-masing blog, susunlah huruf-huruf tersebut menjadi banyak kata. Ingat, hanya kata bukan kalimat (seperti permainan scrabble)
6. Jumlah minimal huruf yang digunakan dalam menyusun kata tersebut adalah 4 huruf.
7. Setiap huruf yang merupakan jawaban tidak dapat digunakan berulang dalam satu kata. Kecuali kalau memang ada huruf yang sama dalam 16 judul tersebut.
8. Jawaban dimasukkan ke dalam google docs yang bisa diakses lewat masing-masing blog peserta SF/F. Hanya diperbolehkan mengisi sekali, mohon untuk tidak menjawab berulang-ulang di blog yang berbeda.
9. Setiap kata yang berhasil disusun, bernilai satu poin, peserta yang paling banyak menyusun kata (kata tersebut harus dalam bahasa Indonesia dan tercantum di KBBI), dialah yang menjadi pemenangnya.
10. Peserta yang bisa membuat kata yang berhubungan dengan dunia fantasi (contoh: dewa, dewi, peri, dsb) mendapatkan bonus satu poin.
Dan hadiahnya... (drum rolls sound)
Sekarang clue dari blog ini:
1. Buku asli berbahasa Inggris.
2. Genre scifi, subgenre space opera.
3. Bercerita tentang perang real estate antara manusia bumi dengan alien-alien lain.
4. Gambar cover dari edisi-edisi berbahasa selain Inggris:
Gampang kan ya?
Silakan mengisi jawaban kalian di form Google Docs berikut ini:
Underrated?
Sudahlah, tak usah membahas kepopuleran buku scifi ini di negara asalnya. Di Indonesia, sepertinya sih memang iya. Meskipun filmnya beredar di bioskop dan sering diputar ulang di stasiun TV Indonesia, tetap saja versi bukunya belum diterjemahkan dan diterbitkan di Indonesia. (Tapi CMIIW ya, karena ini buku terbitan tahun 1959, siapa tahu di jaman tahun 1960-70an ada versi terjemahan Indonesia yang tidak kuketahui?). Dan pada tahun 1990-an saat filmnya rilis, masih jarang ada penerbit yang rajin dan mau menerbitkan novel movie-tie-in, meskipun harus kuakui penerbit GPU mau menerbitkan buku Species, Independence Day, atau Mission Impossible (semuanya aku punya), buku Robert A. Heinlein ini tidak termasuk yang seberuntung itu.
Nah, bagaimana, ada yang mau berkampanye agar lebih banyak buku genre scifi yang diterjemahkan dan diterbitkan di Indonesia? Konsekuensinya, konsisten ya, beli bukunya kalau sudah diterjemahkan dan diterbitkan :)
Baiklah, masih dalam meramaikan BBI 4th Anniversary Event yaitu Around the Genres in 30 Days, tibalah kita pada saat yang ditunggu-tunggu:
Peraturannya:
1. Tebak judul buku dari petunjuk yang diberikan masing-masing blog.
2. Ambil hanya huruf pertama dari judul buku tersebut.
3. Judul buku yang digunakan adalah versi aslinya, bukan terjemahan. (Misalkan Inheritance yang meski diterjemahkan GM menjadi Warisan, tapi yang kita gunakan tetaplah huruf I nya)
4. Khusus untuk judul buku yang ternyata berawalan The, harap abaikan huruf T di depan, sehingga yang digunakan adalah kata setelah "The". (Misalkan The Alchemist, maka yang digunakan dalam menyusun kata adalah huruf A bukan T)
5. Setelah menemukan 16 huruf dari masing-masing blog, susunlah huruf-huruf tersebut menjadi banyak kata. Ingat, hanya kata bukan kalimat (seperti permainan scrabble)
6. Jumlah minimal huruf yang digunakan dalam menyusun kata tersebut adalah 4 huruf.
7. Setiap huruf yang merupakan jawaban tidak dapat digunakan berulang dalam satu kata. Kecuali kalau memang ada huruf yang sama dalam 16 judul tersebut.
8. Jawaban dimasukkan ke dalam google docs yang bisa diakses lewat masing-masing blog peserta SF/F. Hanya diperbolehkan mengisi sekali, mohon untuk tidak menjawab berulang-ulang di blog yang berbeda.
9. Setiap kata yang berhasil disusun, bernilai satu poin, peserta yang paling banyak menyusun kata (kata tersebut harus dalam bahasa Indonesia dan tercantum di KBBI), dialah yang menjadi pemenangnya.
10. Peserta yang bisa membuat kata yang berhubungan dengan dunia fantasi (contoh: dewa, dewi, peri, dsb) mendapatkan bonus satu poin.
Dan hadiahnya... (drum rolls sound)
Untuk 4 orang pemenang akan mendapatkan hadiah di bawah ini:
Juara 1: Voucher buku senilai IDR 240k
Juara 2: A Game of Thrones karya G.R.R. Martin edisi terjemahan
Juara 3: Seri 1-3 Scary Tales karya James Preller & Iacopo Bruno
Juara 4: Paranormancy karya Kiersten White & Wings karya Aprilynne Pike
Sekarang clue dari blog ini:
1. Buku asli berbahasa Inggris.
2. Genre scifi, subgenre space opera.
3. Bercerita tentang perang real estate antara manusia bumi dengan alien-alien lain.
4. Gambar cover dari edisi-edisi berbahasa selain Inggris:
Gampang kan ya?
Silakan mengisi jawaban kalian di form Google Docs berikut ini:
Labels:
Giveaway,
just a thought,
Opini,
Review 2015,
Sci-Fi
Subscribe to:
Posts (Atom)



























.jpg)



-tile.jpg)