Showing posts with label komik. Show all posts
Showing posts with label komik. Show all posts

Tuesday, January 28, 2020

City Hunter ~Rebirth~ Vol. 1

Judul : City Hunter ~Rebirth~ Vol. 1

Penulis : Sakura Nishiki, Hojo Tsukasa

Penerbit : Akasha (m&c!)

Tebal : 180 halaman

Harga : Rp. 36.000,- (Harga asli Rp. 45.000)

Dibeli di : Komik Store (tokopedia)

Diperoleh tanggal : 19 Januari 2020

Dibaca tanggal : 22 Januari 2020

Sinopsis:
Kaori Aoyama adalah seorang karyawati yang masih lajang di usia 40 tahun. Sejak remaja, pria idamannya adalah Ryo Saeba. Suatu hari, Kaori tertabrak kereta yang sedang melaju, namun saat tersadar, Kaori mendapati dirinya kembali ke sosoknya di masa SMA, dan hidup di alam komik “City Hunter” yang sangat disukainya.

Tak ada seorang pun yang bisa dimintai pertolongan oleh Kaori, dan tanpa sadar kakinya melangkah menuju papan pengumuman di Shinjuku. Harapan terakhirnya hanyalah huruf-huruf “XYZ”, kode untuk menghubungi City Hunter.

Di dunia City Hunter, Kaori memulai kehidupannya yang kedua!

Komentar singkat:

Kesimpulan pertama setelah baca buku ini: Ini bukan Rebirth, ini Recycle!

Sebagaimana bisa kita lihat di sinopsisnya, plot komik ini adalah "tokoh utama terlempar ke alam lain", yang dalam hal ini ke alam komik City Hunter. Seperti halnya Kaori Aoyama, aku juga penggemar serial komik City Hunter yang sudah baca sampai khatam berkali-kali, jadi cukup hafal jalan ceritanya. Membaca kisah Kaori yang terjebak menjadi karakter remaja di alam lain (dan lalu memakai nama samaran Saori Saiaonji) ini, jelas serasa membaca ulang komik City Hunter panel per panel, hanya saja ada tambahan karakter Saori, yang kehadirannya bisa jadi membelokkan sedikit jalan cerita tapi tidak mengubah akhir cerita.

Misalnya di jilid pertama ini, Saori sedikit banyak mempengaruhi dan mengubah jalan cerita di episode Miki vs Ryo Saeba demi cinta Umibozu. Sejauh ini, meskipun melenceng sedikit dari cerita asli, tetap saja yang unggul masih Ryo...

Membaca komik ini memang jadi serasa membaca fanfic sih, di mana kita menambahkan karakter original di jalan cerita yang sudah ada. Apakah di jilid-jilid selanjutnya Saori akan merusak cerita asli? Yah, kita tunggu saja nanti perkembangannya.

Sebenarnya, aku berharap dengan adanya Level Comics dan Akasha (yang merupakan imprint Elex Media Komputindo dan m&c! untuk komik khusus dewasa), serial komik City Hunter asli akan diterbitkan di Indonesia. Memang sih komik jadul ini pernah beredar versi tidak resminya (terbitan Rajawali Grafiti), tapi kurasa pasti ada penggemar yang ingin membeli versi terjemahan resminya. Aku misalnya, terutama karena koleksi City Hunter jadulku hilang dilego maling dan sampai sekarang belum beli ulang. Konon (berdasarkan gosip di internet), versi aslinya juga akan diterbitkan oleh Akasha. Well, ini juga kita tunggu saja benar atau tidaknya.

Tuesday, April 11, 2017

Sherlock: The Blind Banker

Judul : Sherlock : The Blind Banker

By : Steven Moffat, Mark Gatiss, Jay

Penerbit : m&c!

Tebal : 216 halaman

Dibeli di : Gramedia.com

Harga beli : Rp. 42.500,- (15% off)

Dipesan tanggal : 21 Maret 2017

Diterima tanggal : 22 Maret 2017

Dibaca tanggal : 26 Maret 2017

Review :
BEWARE: REVIEW MANGA INI SANGAT BIAS, karena dibahas oleh salah seorang penggemar serial teve Sherlock yang sudah menonton semua episodenya berulang kali, termasuk episode kedua season pertama yang diwujudkan dalam bentuk manga ini.

1. Cover
Sama seperti manga Sherlock sebelumnya, cover manga ini berupa flap cover, namun kali ini cover dalamnya menampilkan adegan yang sangat domestik: Sherlock sedang berpikir sambil tiduran di sofa panjang, sementara John duduk di sampingnya sambil membaca koran :)


Penampakan ini sudah cukup untuk menggambarkan jeda waktu yang cukup panjang antara buku/episode ini dengan dengan buku/episode sebelumnya, karena sudah tidak terdapat lagi kecanggungan lagi antara dua orang asing yang berbagi sewa apartemen. Sherlock dan John sudah merasa nyaman dengan keberadaan satu sama lain.

2.  Artwork & Chara Design
Tidak banyak perubahan dari manga A Study in Pink. Chara yang paling mirip masih tokoh utamanya, Sherlock, sementara karakter lain terutama para pemeran pembantu, hampir tidak ada mirip-miripnya. Ya, nggak apa-apa sih, toh tidak ada pengaruhnya ke jalan cerita, apalagi kalau yang baca bukan penonton setia serial teve Sherlock.

3. Impression
Sebagai manga adaptasi dari episode kedua season pertama serial tevenya, alur ceritanya setia mengikuti adegan demi adegan dan frame demi frame, meskipun kesan yang didapat tidak semenarik versi aslinya, terutama di bagian action-nya. Kurang menegangkan, gitu. Iya sih, manga ini tidak bisa dibandingkan dengan shonen battle manga yang adegan actionnya saja bisa memakan sebagian besar halaman, namanya juga manga misteri yang didominasi narasi. Tapi tetap saja... buat yang menginginkan adegan aksi, akan lebih asyik bila menonton versi live action-nya.

Sebagai cerita misteri, sebenarnya dari tiga episode season pertama, episode The Blind Banker ini kurang nendang dibandingkan episode lainnya. Namun demikian, sisi cerita slice-of-life yang disisipkan para kreator cukup menarik untuk disimak.

Pemirsa/pembaca digiring untuk mengikuti kehidupan sehari-hari para boga lakonnya. John yang veteran tentara dengan uang pensiun tak seberapa mulai gerah dengan statusnya sebagai pengangguran banyak acara. Perseteruannya dengan mesin kasir di supermarket sehingga ia terpaksa meminjam kartu kredit Sherlock buat belanja jelas membuatnya ingin semakin cepat punya pekerjaan selain sebagai asisten pribadi tidak resmi (dan tidak digaji) dari teman seapartemennya itu.

Sherlock sendiri sepertinya sudah tidak sungkan-sungkan lagi memperlakukan John sebagai asprinya dalam urusan investigasi. Ia tidak peduli kalau John sudah punya pekerjaan baru sebagai dokter praktek dan memaksanya ikut kerja lembur dalam "event buku" misalnya, sehingga esoknya John ketiduran seharian nyaris sepanjang jam prakteknya. Ia juga tidak mau tahu kalau John punya urusan pribadi (baca: kencan dengan Sarah) yang seharusnya tidak dicampuradukkan dengan kegiatan penyelidikan yang berbahaya dan berisiko tinggi.

Di sisi lain, Inspektur Lestrade tidak muncul di sini. Sherlock dan John berurusan dengan Inspektur Dimmock, yang jelas belum seimun Lestrade terhadap perilaku Sherlock yang menjengkelkan. Mycroft juga tidak numpang lewat di sini. Tapi seperti halnya di A Study in Pink, Moriarty sudah kelihatan hilalnya, meskipun belum tampak wujudnya.

4. In the end
Kalau melihat data yang ada di Goodreads, rupanya versi adaptasi manga serial teve Sherlock yang hanya season pertama saja, padahal masih ada episode-episode seru di season-season berikutnya. Sayang banget deh. Di sisi lain, aku siap menunggu dan membeli manga The Great Game diterbitkan di Indonesia.

Review ini dibuat untuk mengikuti tantangan berikut:











Tuesday, February 21, 2017

Sherlock: A Study in Pink

Judul : Sherlock: A Study in Pink

By : Steven Moffat, Mark Gatiss, Jay

Penerbit : m&c!

Tebal : 216 halaman

Dibeli di : Gramedia.com

Harga beli : Rp. 35.000,- (diskon 30%)

Dipesan tanggal : 19 Januari 2017

Diterima tanggal : 29 Januari 2017

Dibaca tanggal : 03 Februari 2017

Review :
BEWARE: REVIEW MANGA INI SANGAT BIAS, karena dibahas oleh salah seorang penggemar serial teve Sherlock, yang sudah menonton semua episodenya berulang kali, apalagi episode pertama season pertama yang diwujudkan dalam bentuk manga ini.

Omong-omong, manga ini termasuk ke dalam golongan manga yang amat sangat terlambat sekali muncul versi terjemahan resminya di Indonesia, karena baru terbit tanggal 11 Januari 2017, saat Sherlock Season 4 sudah tayang. Memang sih aku sudah pernah membaca versi scanlation-nya, tapi tentu saja aku merasa wajib punya begitu m&c! merilis manga ini.

Oke, sekarang kita bahas singkat saja yuk...   

1. Cover
Begitu segel plastik dibuka, ternyata cover manga ini berupa flap cover! Jadi nostalgia nih, teringat masa-masa waktu manga (versi Elex Media) pertama kali terbit di Indonesia.

cover depan
cover belakang
Ada gambar hitam putih Mycroft Holmes dan John Watson di cover bagian dalamnya! Salah satu pertimbangan dihilangkannya flap cover untuk manga di Indonesia sudah pasti untuk menekan biaya. Manga ini harganya lumayan mahal, lebih dari dua kali harga manga biasa saat ini. Kebetulan saja aku belinya pas ada diskon 30% di Gramedia.com. 

2. Artwork & Chara Design
Artworknya rapi, dan boleh dibilang seperti storyboard yang cukup detail untuk episode pertama serial tevenya. Sedetail apa? Untuk gambar background, wallpaper dan segala pernak-pernik berantakan yang ada di Flat di Baker Street 221B, misalnya. 

Tapi sejujurnya, aku tidak terlalu suka dengan chara design-nya. Sepertinya dari semua chara yang ada, menurut pendapatku cuma chara design Sherlock yang mendekati versi serial tevenya, lengkap dari tulang pipinya yang tinggi sampai kemejanya yang kekecilan satu nomor.



3. Story
Aku sudah bilang kalau manga ini seperti storyboard untuk episode pertama season pertama serial tevenya, kan? Namanya juga versi adaptasi manga. Jalan cerita dari panel ke panel mengikuti adegan dan dialog di serial tevenya.

4. Terjemahan
Karena aku sudah terlalu sering menonton episode ini dengan teks bahasa Inggrisnya, otomatis aku jadi ingat secara verbatim dialog yang diucapkan para karakternya. Sewaktu aku membaca versi scanlation-nya, dialog asli dari serial teve itulah yang dicantumkan di sana. Nah sekarang, waktu aku membaca versi terjemahan Bahasa Indonesianya, aku malah merasa ada sesuatu yang tidak pas, karena terdapat pergeseran makna di sana-sini. Secara keseluruhan, karena cuma sedikit, tidak mengganggu jalan ceritanya sih, tapi tetap saja membuatku jadi merasa gatal. Entah apa penyebabnya. Mungkinkah karena manga ini diterjemahkan dari versi bahasa Jepangnya, sehingga menimbulkan lost in translation

5. Verdict
Seperti peringatan di atas, penilaian atas manga ini sangat bias. Meskipun terdapat beberapa aspek yang tidak begitu kusukai dari manga ini, aku bersyukur serial Sherlock ada versi adaptasi manganya, dan aku juga bersyukur akhirnya ada penerbit lokal yang menerbitkannya secara resmi. Karena itu, apapun kekurangannya, tetap saja manga ini kuponten :

Graphic Novels & Comic Books





Saturday, February 18, 2017

Au Revoir: Sorcier

Judul : Au Revoir, Sorcier

Mangaka : Hozumi

Penerbit : Level Comics

Terbit : Desember dan Januari 2017

Dibeli di : Gramedia.com

Dipesan tanggal : 19 Januari 2017

Diterima tanggal : 29 Januari 2017

Dibaca tanggal : 02 Februari 2017

Final Verdict :

Review :
Buat mereka yang mengenali nama Vincent Van Gogh dan mengetahui satu atau dua karyanya yang terkenal (atau termahal)...

Atau buat mereka yang pernah membaca novel Lust for Life karya Irving Stone atau versi filmnya yang digawangi Kirk Douglas...

Atau buat mereka yang pernah menonton film dokumenter BBC tahun 2010, Van Gogh: Painted with Words yang diperkuat oleh akting Benedict Cumberbatch...

minimal tahu sedikit (meskipun lupa-lupa ingat) seperti apa kisah hidup Van Gogh dan bagaimana hubungannya dengan adiknya, Theodore Van Gogh.

Manga dua jilid karya Hozumi ini berkisah tentang kehidupan (dan kematian) kakak beradik Van Gogh. Namun demikian, peringatan khusus buat yang sudah terlanjur berharap jalan ceritanya mendekati sama dengan karya-karya di atas, karena manga ini merekonstruksi total karakter dan kisah hidup Vincent Van Gogh.

Petunjuk utama: lihat saja cover manga dua jilid ini.

Cover jilid 1 menampilkan Theo Van Gogh, sang adik yang berprofesi sebagai art dealer jenius dan sukses di galeri seni ternama, Goupil & Cie. Dukungan finansial dan emosional dari sang adik inilah yang membuat sang kakak bisa fokus dan mendedikasikan seluruh hidupnya untuk melukis.

Cover jilid 2 menampilkan Vincent Van Gogh, sang kakak yang pelukis jenius, yang memandang dunia dengan segala macam suka dukanya dari kacamata keindahan, dan semua itu tercermin dari karya-karyanya yang mencerminkan keindahan semata, apapun objeknya. Vincent Van Gogh yang digambarkan di sini memang merupakan karakter yang easy going dan happy-go-lucky! Kelihatan banget dari covernya, lugu dan polos, kan?

Sebagai orang yang menyukai seni namun tidak punya bakat menggambar sedikit pun, Theo iri sekaligus kagum pada bakat kakaknya, yang terlalu polos untuk menyadari karunia yang dimilikinya. Namun berbeda dengan kakaknya yang putus sekolah, Theo bisa menyalurkan minatnya pada dunia seni dengan caranya sendiri. Keinginan besarnya untuk menunjukkan kejeniusan dan karya kakaknya pada dunia, sekaligus karya para pelukis jalanan lainnya yang terpinggirkan, membuatnya melancarkan perang gerilya, bahkan perang terbuka dengan pihak Academie Des Beaux-Arts, yang membatasi bahwa seni adalah melukis objek yang mermartabat dan hanya bisa diapresiasi oleh kalangan yang bermartabat pula.

Perjuangannya membebaskan seni hingga bisa dibuat oleh siapa saja dan dinikmati siapa saja ini membuat Theo mendapat musuh dari pihak Academie, yang berusaha menyakitinya dengan menggunakan orang yang paling dekat dengannya. Pada saat Theo diancam untuk memilih antara mundur dari dunia seni atau Vincent mati di depan matanya, baru terungkap bahwa Vincent yang tampak selalu bahagia tanpa memikirkan apapun sebenarnya juga iri dan kagum pada adiknya, yang memiliki kecerdasan dan kharisma yang tidak dimilikinya. Dalam drama yang menyusul kemudian, tragedi telinga Van Gogh di sini mendapat asal-usul yang berbeda!

Namun, bukan berarti manga ini menafikan kisah Van Gogh bersaudara yang kita kenal selama ini, karena... semua kisah hidup Vincent Van Gogh yang tragis itu, yang didasarkan pada korespondensi antara Theo dan Vincent, "ternyata" merupakan hasil karangan Theo semata! Mengapa?

"Almarhum kakakku tidak punya nama, tapi dia seorang pelukis genius. Tapi kehidupannya amat sangat biasa. Dia itu selalu mengembara tanpa tujuan dan melukis. Selalu melukis untuk orang lain dan tertawa cengenesan, lalu meninggal ditusuk penjahat di saat akan memulai karier... kehidupannya membosankan. Kau ingin melihat lukisan pria macam itu? Kehidupan pelukis yang menarik perhatian orang seharusnya menyedihkan dan penuh gairah."

Semata-mata agar masyarakat tertarik untuk mengenal dan mengapresiasi karya lukis kakaknya...

Terlepas dari kisah ceritanya yang kugolongkan ke golongan "what if" ini, yang membuatku memberi nilai lebih pada manga ini seperti biasa adalah hubungan cinta dan kasih sayang yang digambarkan begitu dalam di antara para karakternya, dalam hal ini Van Gogh bersaudara. Dan tentu saja, karakter Theo yang digambarkan jauh lebih menonjol dibandingkan Vincent. Bagaimanapun, dialah tokoh utamanya, dan dialah yang disebut sebagai Sorcier, sang penyihir, pada judul manga ini,






Sunday, May 8, 2016

Komikus Nekat

Judul : Komikus Nekat

Penulis : Ekyu

Penerbit : Muffin Graphics

ISBN : 978-602-367-150-2

Tebal : 100 halaman

Review:
Kocak abis!

Nggak nyangka, masa kecil Ekyu (khususnya Ega dan Oni) entah kenapa mirip denganku, terutama dari sisi bacaan, meskipun beda generasinya cukup jauh.

Sejarah bacaan Ega rada mirip sih. Terutama bacaan komik dan silatnya (bacaan novel mah nggak terungkap di sini). Komik wayang. Asterix (celeng panggangnya keliatan enak banget?!). Komik superhero Amerika (kenapa laki-lakinya pada pake celana dalam di luar, perempuannya pake baju renang doang?). Kho Ping Hoo (judul macam Pendekar Binal/Pendekar Mata Keranjang jadi scandalous sekarang). Komik Tiger Wong. Candy-Candy. Miss Modern. Dan sejak itu terus ketagihan membaca manga. 

Sejarah bacaan Oni yang mirip? Mungkin di bagian bacaan misteri. Selain novel-novel misteri Agatha Christie, aku juga membaca majalah Misteri dan Detektif Romantika, terutama kalau sudah nggak ada bacaan lain di rumah. Kalau membaca majalah serius seperti Tempo atau Intisari pun cerita misteri dan kriminalitasnya sudah pasti dilalap juga. Tapi nggak sampai dikliping segala. Aku cuma menggunting dan mengumpulkan kolom Catatan Pinggir-nya GM, atau cerita bersambung harian di koran yang ceritanya kuanggap seru.

Bedanya, walaupun suka menggambar juga sampai bikin komik sendiri (kualitasnya cukup bikin ngikik kalau dibaca lagi sekarang), aku nggak sampai segitunya kepingin bisa menggambar komik sebagaimana layaknya artis profesional.

Membaca komik semibiografi ini, aku juga jadi teringat masa-masa waktu masih berlangganan majalah Animonster (ternyata Ekyu juara tiga lomba komiknya toh, tapi kumpulan komik submission-nya sudah hilang sekarang).

Aku juga jadi teringat pernah punya dua komik Ekyu terbitan Koloni, baik yang Fix-Up maupun yang Morte (sudah hilang juga sekarang mah). Kalau tidak salah, aku memberi rating "it was ok" buat karya mereka di Goodreads.

Lah, cerita masa lalu komikusnya malah lebih entertaining buatku ketimbang buku komik pertama mereka, yang proses pembuatannya sampai bikin stress dan berdarah-darah?

Eniwei, mungkin aku perlu membeli dan melihat lagi karya-karya mereka setelah membaca komik behind the scene-nya ini :)

View all my reviews

Saturday, May 7, 2016

Break Shot Terbit Lagi!

Judul : Break Shot Vol. 1

Mangaka : Takeshi Maekawa

Penerbit : Elex Media Komputindo

ISBN : 978-602-02-8470-5

Tebal : 336 halaman

Tanggal terbit : 27 April 2016

Review :
Setelah nyaris 23 tahun sejak pertama kali terbit di Indonesia, ternyata akhirnya manga Break Shot diterbitkan lagi!

Well, terus terang aku tidak menyangka sih, sehingga waktu koleksi serial ini hilang, aku cukup kelimpungan mencari gantinya di lapak-lapak buku bekas. Buntutnya, aku terpaksa menurunkan standar dan mau membeli satu set yang kondisinya tidak bagus-bagus amat (boro-boro mint, dah!) hanya sekedar demi memiliki dan membacanya lagi.

Tentu saja, begitu tahu manga ini terbit lagi dalam edisi premium, aku langsung membelinya tanpa pikir panjang. Apalagi, selain membuat koleksiku menjadi mint lagi, ada beberapa keuntungan lain yang diperoleh dengan membeli edisi baru ini.

Apa saja keuntungannya? Yuk, kita bahas sedikit.

1. R-to-L
Yup. Sekarang kita bisa membaca manga ini sesuai versi aslinya, dari kanan ke kiri. Waktu manga baru saja diperkenalkan di Indonesia, hampir semuanya dicetak dengan versi terbalik, demi kenyamanan para pembaca Indonesia yang belum siap membaca komik ala Jepang. Walhasil, teks jadi tidak nyambung dengan gambar apabila bicara tentang kanan dan kiri. Meskipun tahu alasannya, kondisi seperti ini rada menjengkelkan, apalagi kalau yang dibaca bukan serial cantik, melainkan manga olahraga seperti Break Shot.

2. Nama-nama tokoh
Sekarang, aku jadi tahu bahwa boga lakon manga ini bernama Shinsuke Oda, bukan Chinmi. Terus terang, dulu aku sempat bertanya-tanya, apakah Takeshi Maekawa memang sengaja menggunakan nama Chinmi untuk semua jagoan di manga buatannya (Selain di Kungfu Boy dan Break Shot, nama Chinmi juga dipakai untuk terjemahan manga tentang olahraga sumo Hakkeyoi, misalnya). Ternyata tidak demikian. Di halaman-halaman awal versi terjemahan lama, tokoh utamanya sempat dipanggil Oda, tapi selanjutnya selalu dipanggil Chinmi, sehingga aku mengira nama lengkapnya Chinmi Oda. Kalau bukan Maekawa-sensei, entah siapa yang memutuskan kalau nama semua tokoh utama di manga terjemahan jadi Chinmi semua. Iya sih, chara design Maekawa-sensei memang serupa tapi tak sama, tapi tidak berarti nama tokoh utamanya juga dibikin sama, dong.

Nama tokoh-tokoh lain juga berubah menjadi nama aslinya. Seperti si Ketua OSIS/Manajer Klub Biliar Olive, misalnya, nama aslinya ternyata Asako Hayakawa. Atau rivalnya, Paul dari SMA Harapan, aslinya ternyata Ryoji Kano dari SMA Toto. Widiw, jauh banget ya westernisasi namanya! Padahal di Edge of Tomorrow saja nama Cage-nya Tom Cruise masih cukup dekat dengan nama aslinya, Keiji, di All You Need Is Kill.

3. Terjemahan dan Gambar
Bukan cuma dari sisi nama, kualitas terjemahan juga menjadi lebih baik. Untuk terbitan versi baru ini, semua istilah biliar yang digunakan menjadi lebih sesuai, belum lagi ditambah catatan kaki sebagai penjelasan bagi pembaca yang awam olahraga biliar. Dari sisi editan gambar, terutama untuk efek suara, kualitasnya juga jauh lebih baik apabila kita bandingkan secara langsung.

Well, wajar saja sih sebenarnya. Dengan rentang waktu dan perbedaan pengalaman selama 23 tahun, tentu saja kualitas terjemahan dan pengeditan gambar sudah seharusnya menjadi lebih baik.

Pendeknya, aku tidak merasa rugi membeli ulang manga Break Shot versi premium ini :P


Anyway, terlepas dari kualitas manga terjemahan versi awal, manga Break Shot termasuk salah satu manga olahraga favoritku. Setidaknya dengan membaca manga ini, aku jadi cukup mengetahui aturan permainan biliar, minimal untuk permainan 9 bola.

Dan meskipun dibandingkan cerita pada jilid-jilid awal yang cukup wajar, ceritanya semakin ke belakang semakin fantastis, dengan jurus pukulan maut dengan tongkat ajaib yang sama fantastisnya, Takeshi Maekawa-sensei sanggup menyajikan cerita manga olahraga biliar jadi sebagaimana layaknya shonen manga: penuh petualangan yang mengasyikkan dan menegangkan, dengan pertarungan duel satu lawan satu yang penuh perhitungan, jurus, tipuan, namun kadang-kadang tetap bergantung pada keberuntungan.

Break Shot: from realistic to fantastic


Tuesday, March 29, 2016

Superman/Batman Annual: Stop Me If You've Heard This One...

Aku salah satu penggemar komik Batman dan Superman sejak masa kanak-kanak, tapi aku termasuk golongan yang merasa kecewa saat menyaksikan versi live action berjudul Batman v Superman (BvS) yang kutonton pada hari pertama penayangannya di Indonesia.

Sebenarnya bukan kejutan sih, karena jujur saja aku juga tidak begitu suka intrepretasi Zack Snyder atas Superman di film sebelumnya, Man of Steel, sehingga ekspektasiku untuk BvS sebenarnya sudah kupasang cukup rendah. Tapi kalau ternyata hasilnya masih di bawah ekspektasi yang sudah kadung terlalu rendah… rasa kecewanya jadi semakin bertambah. Berbeda halnya dengan ekspektasi tinggi saat aku menantikan tayangnya film Deadpool---karakter yang komiknya malah baru kubaca kurang dari setahun sebelum versi filmnya rilis---di mana hasilnya sesuai, atau bahkan melebihi ekspektasi.

Kenapa aku tidak suka? Alasannya banyak. Tapi versi singkatnya: it's not fun & entertaining! Bukan berarti aku kepingin filmnya cerah ceria kayak Teletubbies. Banyak buku/komik/film yang grim, dark & gritty yang fun & entertaining sehingga menjadi favoritku, tapi BvS simply membuatku bosan setengah mati. Belum ditambah adegan versus yang dinanti-nanti dengan melewati siksaan selama 2 jam, malah selesai dengan cara yang enggak banget m(_._)m

Eksekutif WB membela produknya dengan “It's fun, it doesn’t take itself seriously.”

Oh, really? Terus buat apa repot-repot mencoba membangun latar belakang cerita ala political-thriller yang sok serius dan berat kalau terus mengaku itu semua tidak serius? Istilah macam itu lebih cocok buat Deadpool, yang karakternya memang ngawur dan 90% jalan cerita komik/film-nya tidak ada serius-seriusnya.

Kalau mau cerita Superman/Batman yang bisa dibilang doesn’t take itself seriously, salah satu contoh yang pantas dinobatkan begitu adalah Superman/Batman Annual yang terbit tahun 2006 ini:


Cerita dibuka dengan Batman dan Superman yang baru selesai bekerja sama menangani doppelganger mereka dari dimensi lain. Di sini, mereka sama-sama belum tahu identitas di balik kostum rekan kerjanya, tapi punya niat untuk kapan-kapan mencari tahu. Berdasarkan kuasa penulis komik, baik Clark Kent maupun Bruce Wayne masing-masing punya agenda yang ternyata malah bakal mempertemukan mereka lagi:

Alfred-nya in full Jeeves mode deh!

Interaksi antara Clark Kent dan Bruce Wayne dengan identitas KTP benar-benar hilarious, apalagi kalau Bruce Wayne sepertinya serius betul memerankan milyarder/playboy brengsek yang suka menggampangkan masalah dengan uang. Kondisi makin gawat ketika Clark dan Bruce terpaksa harus tinggal sekamar...


bahkan seranjang berdua...

Adegan paling menegangkan di komik ini...

Duh. Coba Lois Lane mau berbagi kamar dengan salah satu dari mereka. King-size bed jelas tidak cukup buat dua laki-laki dengan superbody! Tapi, tenang, tidak ada adegan bromance di sini. Dari ekspresinya saja sudah jelas seperti apa perasaan mereka. Tapi untuk urusan rebutan selimut, sepertinya Bruce yang menang, deh...

Untungnya situasi awkward tidak berlangsung lama, karena lokasi pelayaran di Segitiga Bermuda mulai unjuk gigi: timbul retakan antar dimensi. Belum lagi, Deathstroke muncul untuk menjalankan misi membunuh Bruce Wayne. Tapi di saat yang sama, mulai bermunculan doppelganger dari dimensi lain yang membuat huru-hara. Yang paling bikin susah, tentu saja doppelganger dengan power yang setara:

Versi bego Superman dan Batman:
Ultraman
(yang bener aje!) dan Owlman (serasa crossover Watchmen deh)

Kocaknya, meskipun punya power yang setara, para doppelganger ini kelakuannya bertolak belakang dan... kayaknya beberapa level lebih bego... Doppelganger Lois Lane yang juga muncul malah punya power dan berjulukan Superwoman... dan juga berprofesi sebagai assassin yang mengejar Bruce Wayne. Mungkin Wayne versi Owlman yang dikejar, tapi yang jadi bulan-bulanan malah Bruce Wayne versi Batman.

Yang bikin komik ini tambah kocak, jelas kemunculan doppelganger Deathstroke yang malah diutus sebagai bodyguard Bruce Wayne. Kenapa? Karena karakter, kelakuan, dan kebegoannya (dan desain topengnya) jelas plek-plek Deadpool. Tapi mengingat Marvel menciptakan karakter Deadpool sebagai parodi dari karakter Deathstroke-nya DC, rasanya wajar saja sih. Apalagi penulis komik ancur ini juga pernah jadi penulis serial Deadpool di Marvel.

Versi bego Deathstroke (alias Deadpool?)

Versi asli Deathstroke, tentu saja

Cuma demi menyiasati hak cipta saja, karakter bodyguard ini tidak diberi kesempatan memperkenalkan diri. Waktu Batman menanyakan namanya untuk disampaikan pada Bruce Wayne, dia cuma sempat menjawab "Deaaaaaa-----" sebelum terlempar kembali ke dimensinya (mungkin balik ke Marvel Universe?).

Interaksi Batman dan Superman dalam kostum (dalam kondisi sudah tahu identitas masing-masing) sama kocaknya dengan interaksi antara Owlman dan Ultraman. You know lah, Batman/Owlman sedikit lebih pintar ketimbang Superman/Ultraman. 

   

Ending komik battle-royale ngawur ini biarlah tak perlu kusharing di sini, karena akan lebih seru kalau komik ini dibaca sendiri. Tapi rasanya review sharing singkat ini sudah cukup menjelaskan cerita model bagaimana yang lebih cocok dianggap doesn't take itself seriously, dan meskipun ceritanya ngaco jauh lebih fun and entertaining ketimbang apa yang kita dapat dari keluaran terakhir Zack Snyder.

P.S. Cerita Batman/Superman versi klasik banget mungkin malah lebih ngaco ketimbang komik ini. Rasanya pantas saja kalau serial televisi tahun 1960-an menggambarkan Batman versi komedi.




Thursday, February 11, 2016

Watching Deadpool


Setelah penantian yang terasa begitu lama, akhirnya kesampaian juga nonton film yang satu ini.


Lokasi : Cinemaxx Plaza Semanggi

Hari / Tanggal : Rabu / 10 Februari 2016

Jam Tayang : 06:45 PM

Harga Tiket : Rp. 30.000,-

Studio : 3

Kursi : F - 14

Trailer (sesuai urutan) :
- Batman vs Superman : Dawn of Justice
- X-Men : Apocalypse
- Captain America : Civil War 


Seperti label posting ini, ini bukan review, tapi sekedar curcol setelah menonton versi live-action alias adaptasi film dari komik Deadpool. Seperti biasa, pertanyaan sejuta umat dari setiap film hasil adaptasi novel/komik: seberapa setia pada versi aslinya?

Pertama-tama, kudos untuk Ryan Reynolds cs yang sudah berjuang keras bertahun-tahun untuk mewujudkan film Deadpool dengan hasil yang setia, atau setidaknya mendekati, versi komiknya. Bagaimanapun, tetap saja ada deviasi yang sepertinya disengaja demi plot cerita.

Eh, tunggu, memang ada plot-nya?

Ada sih, tapi jujur saja, plotnya sangat sederhana. Origin story standar yang ada sekedar untuk menjustifikasi aksi Deadpool.

Boy meets girl. Wade Wilson, mantan tentara special force yang jadi mercenary, bertemu dengan Vanessa, love of his life. Tragedi memisahkan mereka: Wade menderita kanker. Demi Vanessa, diam-diam Wade mengikuti program eksperimen yang konon selain bisa menyembuhkan kanker juga mungkin bisa memberinya kekuatan superhero. Tapi program itu ternyata bertujuan untuk membentuk superslave yang akan dijual ke penawar tertinggi. Wade lolos, sembuh dari kanker karena kekuatan super yang diperoleh dari eksperimen, namun penampilannya hancur. Ia pun mencari biang kerok program itu, Ajax, untuk membalas dendam dan mengembalikan wujud aslinya.

Ringkasan plot ini bukan spoiler, kok, karena siapapun yang pernah menonton trailernya pasti minimal tahu garis besarnya.

Berikutnya, seperti halnya kalau kita menonton film (adaptasi ataupun bukan), ada saja up dan down-nya. Here we go...


The Ups

1. The Humor
Humornya khas spoof movie banget, dan sudah dimulai sejak menit pertama opening credit. Kita tidak bakal disuguhi nama-nama pemain, produser, atau penulis naskah sama sekali. Buat yang biasa melihat video "honest trailer" di youtube mungkin bisa kebayang modelnya seperti apa. Selanjutnya, hampir setiap menit ada saja joke-nya, baik verbal maupun nonverbal, yang bisa jadi lucu, garing, atau tidak lucu, tergantung selera humor penonton. Kebanyakan verbal jokes keluar dari mulut Wade Wilson/Deadpool, membuat Ryan Reynolds kebagian paling banyak dialog. Wajar saja sih, karena Deadpool terkenal sebagai...

2. The Merc with a Mouth
Bahkan sebelum jadi Deadpool sekalipun, tokoh utamanya sudah cerewet, bikin orang gatal ingin menyumpal mulutnya, atau menjahit mulutnya (deja vu!!!). Thank God tragedi X-Men Origins; Wolverine tidak diulang di sini. Dan sesuai karakter Deadpool di komik yang sadar betul kalau dia cuma tokoh komik, di film pun dia sadar betul kalau cuma tokoh film, karena dia tetap...

3. Breaking the Fourth Wall
Bicara langsung pada penonton? Check. Menggeser kamera supaya penonton tidak melihat adegan berdarah-darah? Check. Menyindir peran sendiri di film Green Lantern dan X-Men Origins: Wolverine? Check. Mempertanyakan Professor Xavier mana yang harus dihadapinya: McAvoy atau Stewart? Check. Menyindir studio yang pelit karena cuma bisa menyediakan 2 orang anggota X-Men? Check.
And many more. Tak lupa Deadpool juga selalu menyelipkan...

4. Pop Culture Reference
This. Bertebaran di mana-mana. Kadang ada yang kutahu, kadang ada yang aku nggak tahu Deadpool (atau tokoh lain) lagi ngomongin apa. Maklum, bisa jadi akunya yang kudet. Terus, kalau kebetulan aku tahu referensi yang dicetusin Deadpool, eh si Negasonic Teenage Warhead (satu dari 2 karakter X-Men yang dipinjamkan untuk film ini) malah ngomong, "Damn, you're old." Wadaw, ceceu, sakitnya tuh di siniiih... m(>.<)m

5. Do not take it seriously
90% film ini tidak ada serius-seriusnya. Kalaupun situasi kelihatan mulai agak serius, biasanya Deadpool sendiri yang bikin situasi serius menjadi 100% tidak serius dengan segala tingkah yang sinting dan kadang-kadang bego. Bahkan saat adegan gore di mana Deadpool sibuk membantai lawan dalam misi "Where's Francis"-nya.

6. Other Characters
Bukan, bukan mau ngomongin cameo Stan Lee, tapi para karakter yang cukup rajin wara-wiri di sekitar Deadpool dalam versi komik, dimunculkan juga dalam versi film. Blind Al, yang aslinya "tawanan" Deadpool, di versi film menjadi roommate sukarela (kayaknya sih) berkat bantuan Craiglist (atau gara-gara ketemu di laundry, ya? I confused). Atau Weasel, yang di sini jadi sohib Deadpool. Atau Bob, si anggota pasukan H.Y.D.R.A. yang kadang diakui Deadpool sebagai teman, di sini numpang lewat sebagai mantan rekan Special Force Deadpool yang bekerja di pihak lawan. Aku mengharapkan munculnya Cable atau Domino. Well, mungkin lain kali.

7. The Romance
Film ini dirilis menjelang Hari Valentine dan digadang-gadang sebagai film romance, sebagaimana dipasarkan lewat poster semacam ini:


Dan... terlepas dari jalan cerita yang cukup berbeda dari versi komiknya, kisah cinta Wade dan Vanessa versi film memang co cweet, gitu. Penonton dibuat cukup peduli pada kelangsungan cinta mereka. Dan juga cukup peduli pada Deadpool yang kuatir kalau penampilan barunya yang cocok untuk main film horor bisa bikin Vanessa takut dan kabur, sehingga memilih tidak ketemu sama sekali.

8. The Ending Credit
Hilarious. Breaking the fourth wall, definitely. Dan sepertinya cukup optimis dengan hasil film ini ke depannya, untuk memberikan harapan pada penonton bahwa sekuelnya bakal dibikin. Sepertinya lho.


The Downs

1. The Censored Scenes
Begitu melihat LSI mengkategorikan film yang aslinya berating 'R' ini sebagai 17 Tahun Ke Atas, aku yakin bakal banyak adegan yang disensor. Masalahnya, waktu minggu lalu aku menonton The Hateful Eight yang digolongkan 21 Tahun Ke Atas saja, masih ada saja adegan yang kena babat gunting sensor. Yang hilang tentu saja adegan sex montage sepanjang tahun antara Wade-Vanessa. Atau adegan-adegan pembantaian Deadpool baik yang menggunakan pistol kaliber berat maupun katana. Beuh, padahal adegan film The Raid 2 yang lebih sadis saja tidak dipotong. Pilih kasih, ah.

Buat ibu-ibu di Amrik yang sempat meminta agar rating Deadpool diturunkan dari R ke PG13 dengan menghilangkan adegan seksnya, supaya anaknya bisa ikut nonton film ini, datang ke Indonesia saja, gih. Paling-paling yang bakal bikin terganggu adalah...

2. The Subtitles
Subtitle-nya cukup mengganggu. Terutama kalau terjemahannya tidak pas atau jauh ke mana-mana. Atau kalau terjemahannya pakai istilah KBBI yang jarang digunakan. Kata "merancap" misalnya... aku lebih biasa mendengar istilah "onani" atau "masturbasi" sih. Mungkin maksud semua itu untuk memperhalus terjemahan? Sepanjang film, aku berusaha keras untuk tidak memperhatikan teks terjemahan.

Hm... tidak banyak sih yang bikin down. Dan itu bisa terselesaikan kalau versi Blue-Ray nya sudah rilis nanti, toh film ini worth to re-watch meskipun kejutan-kejutannya bakal tidak terasa baru lagi.


Other Nitpicks
Tapi masih ada nitpick yang tidak penting sih, misalnya saja tentang Deadpool yang sudah sembuh kankernya berkat kemampuan regenerasi tapi tampangnya hancur gara-gara eksperimen. Versi aslinya sih, justru yang bikin penampilan Deadpool parah adalah kankernya yang sudah menyebar ke seluruh tubuh. Masalahnya, kankernya bersaing ketat dengan kemampuan regenerasinya yang diperoleh dari gen Wolverine via Program Weapon X, sehingga kondisi Deadpool bagaikan kanker berjalan.



Atau tentang Deadpool yang mengaku bukan hero, bahkan malas banget dipaksa-paksa Colossus buat bergabung dengan X-Men. Iya sih, kelakuannya yang tidak bisa dipegang membuat Deadpool tidak bisa dianggap hero, tapi kalau dilihat dari versi komiknya, yang jelas kelihatan sih Deadpool sebenarnya ingin diakui oleh para hero lain, sehingga ia kepingin bergabung dengan kelompok X-Men, bahkan ngidam berat kepingin jadi anggota Avengers. Malah para anggota X-Men dan Avengers yang keberatan kalau Deadpool mengaku-ngaku sebagai anggota, atau malah beneran jadi anggota (sementara sekalipun). Kenapa? Karena Deadpool selalu bikin rusuh dan merusak nama baik kelompok, tentunya, gara-gara tingkahnya yang tidak memenuhi standar keheroan.



Gerundelan lainnya adalah keterbatasan ruang gerak Deadpool di dunia Marvel. Gara-gara hak cipta, Deadpool saat ini hanya bisa bergerak di universe X-Men (itu pun terbatas, karena sepertinya dia tidak bakal numpang lewat di X-Men Apocalypse). Deadpool lebih hilarious apabila dipasangkan dengan para hero lainnya, termasuk hero yang ada di Marvel Cinematic Universe, seperti Avengers (terutama Spidey dan Wolvie), Daredevil, Luke Cage, Iron Fist, dan lain-lain. Simply, karena keberadaannya mengganggu ketenangan lahir batin semua orang yang berinteraksi dengannya :))

Yah, boleh kan berharap kalau suatu hari nanti crossover Marvel pada media film bisa dibuat sesukanya sebagaimana pada media komik, tanpa peduli hak cipta filmnya dipegang siapa. Seperti Spidey, yang hak ciptanya masih dipegang Sony, bisa muncul di film Captain America: Civil War, misalnya.

Yang jelas, mungkin terlalu jauh kalau kita berharap bisa melihat Deadpool di-crossover dengan karakter DC, seperti Batman...












Friday, January 15, 2016

Rookies (A Delinquent / Sports Manga Review)


Judul : Rookies

Mangaka : Masanori Morita

Jilid : 1 - 24 (Completed)

Waktu baca : 1 - 2 Januari 2016

Final Verdict :



Kalau ada yang iseng mengintip timeline Goodreads-ku pada awal tahun 2016 (tapi memangnya ada orang segitu nggak ada kerjaannya, sampai men-stalking akun Goodreads orang lain?), pasti tahu ngapain saja aku pas kebanyakan orang mungkin menghabiskan long weekend tahun baru dengan berwisata atau jalan-jalan ke mall.

I was on a roll, reading manga all the time.

Awalnya, setelah serial Clover-nya Hirakawa-sensei mentok di jilid 28 (dari total 42 jilid), aku mencari-cari manga berandalan lain, lantas menemukan dan membaca serial Rokudenashi Blues karya Morita-sensei. Ternyata manga ini sudah mentok di jilid 14 (padahal dari total 42 jilid juga!). Untungnya, ada karya lain Morita-sensei yang sudah tamat, dan itu adalah serial manga Rookies ini, yang kubaca langsung 24 jilid, back to back.


rook·ie
ˈro͝okÄ“/
noun
informal
plural noun: rookies
  1. a new recruit, especially in the army or police.
    "a rookie cop"
    • a member of an athletic team in his or her first full season in that sport.


Sinopsis:
Koichi Kawato is the new Japanese teacher at the ill-famed Futakotamagawa high school, whose baseball club is composed of thugs and bullies who have been suspended for a year from all school competitions, for causing a brawl during an official match. The newly appointed teacher finds that the club members left are only interested in women, smoking and doing nothing until, under Kawato's guidance, they discover a new dream called the Koshien. However, the road to the Koshien is far from easy as many obstacles await them.


Ya. Ini bukan hanya manga berandalan, tapi juga manga olahraga, di mana olahraganya adalah baseball.

Bicara tentang manga berandalan/olahraga baseball, otomatis dari sekian banyak serial manga yang kubaca, yang langsung teringat adalah serial The Pitcher-nya Kei Sadayasu :
dan Wild Base Ballers-nya Toru Fujisawa.

Judul pertama berfokus pada Magoroku Kai, pemuda yang memiliki bakat luar biasa sebagai seorang pitcher namun juga sangat jago berantem sehingga karir baseball dari jaman SMA dan pro di Jepang sampai jaman Major League di AS berkelindan dengan kelakuan premannya. Judul kedua berkisah tentang sekolah anak nakal di Hokkaido yang kedatangan murid baru yang bukan hanya jago berantem tapi juga berbakat dalam baseball, yang disusul dengan usaha untuk membangkitkan kembali klub baseball yang sudah mati suri.

Rookie jelas lebih mirip dengan serial manga kedua

Bedanya, selain jalan ceritanya yang lebih panjang sehingga tidak terasa terburu-buru dan menggantung seperti WBB, dari deskripsi sinopsisnya jelas bahwa fokus atau karakter yang paling penting di serial ini adalah Koichi Kawato, seorang guru muda idealis yang baru direkrut oleh SMA Futakomagawa. Tugasnya di sekolah baru, selain mengajar Bahasa Jepang Modern, tidaklah gampang. Sebagai pembimbing klub baseball, yang tengah dilarang bertanding karena berkelahi di pertandingan resmi, ia bertekad untuk membangkitkannya kembali dan memberikan kesempatan baru pada para anggotanya untuk meraih mimpi para atlet baseball SMA: Stadium Koushien.

Koichi Kawato adalah seorang rookie dalam arti sebenarnya. Masih berusia 24 tahun, belum setahun mengajar waktu dikeluarkan dari sekolah lamanya karena kasus memukul murid sampai hampir mati. Justru karena kasusnya itu, Kawato direkrut oleh kepala sekolah SMA Futakotamagawa, yang selain sebagai guru juga sebagai pembimbing klub baseball. Sebenarnya sekolah ini bukan sekolah khusus berandalan macam Suzuran atau Housen di Crows atau Hanasaki di Clover, tapi anggota klub baseball yang tersisa ternyata hampir semuanya anak berandalan yang tidak bisa diatur dan ditakuti para murid lain. Maksud terselubung sang kepsek merekrut Kawato adalah untuk menimbulkan keributan di antara mereka, yang harapannya berakhir dengan keluarnya murid-murid bermasalah itu dengan Kawato sebagai kambing hitamnya.

Rencana sang kepsek ternyata tak berjalan lancar karena ia salah menilai Kawato. Kawato ternyata orang yang super positif yang selalu berusaha agar para murid memiliki mimpi, sekecil apapun mimpi itu. Kejadian di sekolah lama itu terjadi kalau dia korslet sih, yang bisa terjadi kalau tingkat toleransi dan kesabaranannya yang luar biasa itu mendadak korslet.

Selain menyoroti interaksi Kawato dengan para murid, baik murid biasa maupun anggota klub baseball, manga ini juga menyoroti perbedaan antara Kawato dengan sebagian guru lain, yang menganggap Kawato terlalu naif dan lugu dalam bergaul dengan para murid. Tapi selain itu, ada juga kok guru cantik dan seksi yang kelihatannya lumayan tertarik pada Kawato.

Alur cerita  beberapa volume awal serial manga ini cukup lambat, karena berfokus pada usaha Kawato merekrut satu demi para berandal klub baseball dengan sangat antusias, gigih dan persuasif. Karena Kawato orang yang walk the talk dan selalu mendahulukan kepentingan orang lain tanpa memikirkan efeknya pada diri sendiri, perlahan-lahan, satu demi satu, anggota klub baseball terjangkit penyakit virus Kawateria, pada akhirnya mau kembali aktif berlatih! Mission accomplished!

Pada beberapa volume awal ini juga kita akan berkenalan dengan masing-masing anggota klub baseball dengan kepribadian, kelebihan, dan kekurangan masing-masing. Saking detailnya chara design untuk masing-masing chara, meskipun mereka cukup banyak, dijamin pembaca tidak bakal tertukar satu sama lain.

Komentarku untuk serial manga ini tidak banyak :
1. Artwork Morita-sensei sudah jauh lebih baik ketimbang Rokudenashi Blues.
2. Selera humor Morita-sensei cocok denganku, rupanya.
3. Serial ini khas shonen-manga sekali terutama dalam spirit, friendship, and dream. Kita tidak hanya belajar untuk selalu berpikir positif dan memiliki mimpi. Kita juga belajar bahwa tidak ada jalan pintas untuk meraih mimpi.
4. Dalam hal karakter guru baru yang tidak biasa, Koichi Kawato jauh lebih believable ketimbang Eikichi Onizuka yang terlalu ektstrim buat jadi guru teladan yang dicintai murid-murid
5. 24 jilid komik tidak cukup. I need more!!!
6. Tapi kalau ceritanya diperpanjang, sepertinya tidak pantas kalau tetap berjudul Rookies, karena baik guru dan murid asuhannya bakal tidak pantas lagi disebut rookie, melainkan sudah jadi veteran.
7. Sudah ada versi live actionnya :


Setelah menonton satu-dua episode (saat review ini dibuat, aku belum sempat menonton semua episodenya), aku merasa ada beberapa cast yang tidak pas dengan karakter di manga, terutama dari segi fisik, sehingga pas pertama melihat kita bisa tidak konek dan harus menebak dulu karakter mana yang diperankan. Terutama, entah kenapa aku kepingin Tomoya Nagase saja yang jadi Kawato.


Thursday, January 7, 2016

Clover (A Delinquent Manga Review)


Dalam rangka ingin segera move on dari demam OPM yang melanda sepanjang bulan Oktober sampai dengan Desember 2015, aku mencoba mencari manga action lain untuk dibaca. Mulanya aku mencoba membaca manga lain yang dibuat ONE, si penulis OPM, yaitu Mob Psycho 100. Tapi entah bagaimana ceritanya, pada tanggal 20 Desember 2015, aku kepentok manga Clover karya Tetsuhiro Hirakawa ini. Lantas mendadak melupakan si Mob Psycho. Lantas tidak bisa berhenti membaca sampai dengan bab scanlation terakhir.

Well, sebenarnya sebagian besar manga ini kubaca pada tahun 2015 sih. Tapi karena scanlations-nya masih ongoing dan aku masih rajin mengintip lanjutannya di tahun ini, ya sudahlah. Anggap saja sah untuk direview tahun 2016 :)

Lalu, kenapa juga aku bisa kepincut manga ini dan tidak bisa berhenti membaca sampai jilid 28?

Pertama, aku memang suka membaca delinquent manga, semacam Kotaro Makaritoru, The Pitcher, Crows, Gokusen, Holyland, Worst, QP, GTO, Shonan Junai Gumi, Beelzebub, Rokudenashi Blues... Too many to cover, eh? 

Alasannya tidak jelas. Mungkin karena aku demen sama cowok yang kuat dan jago berkelahi (tapi IMHO, sejauh ini tidak ada yang bisa melampaui OPM). Tapi mungkin juga karena masa-masa sekolahku terlalu steril dari hal-hal ekstrem macam begini.

Kedua, ceritanya yang mengalir lancar dengan pace yang cepat. Maklum, isinya kebanyakan berantem. Jalan ceritanya sih biasa saja, standar manga tipe begini, malah boleh dibilang sebelas-dua belas dengan Crows.

Jalan ceritanya mengikuti kehidupan sehari-hari si tokoh utama dan orang-orang di sekitarnya. Si tokoh utama adalah anak baru di sekolah, yang sebenarnya tidak suka cari perkara, tapi selalu diikuti masalah, dan menyelesaikannya dengan berantem. Secara mencolok, sengaja ataupun tidak sengaja, ia membuktikan diri sebagai yang terkuat di antara anak-anak berandalan baik di sekolahnya sendiri maupun sekolah lain di lingkungannya. Kekuatannya, tapi terutama rasa setiakawannya yang tinggi, membuat kawan dan lawan mengakui dan menghormatinya. Khas shonen manga, lingkungan perkawanan si tokoh utama semakin lama semakin luas, terutama setelah mantan lawan-lawannya secara otomatis malah menjadi kawannya.

Ketiga, si tokoh utama, Hayato Misaki, menurutku sih ganteng.


Minimal bila dibandingkan dengan Harumichi Bouya dari Crows. Apalagi kalau dibandingkan dengan Magoroku dari The Pitcher. Mungkin karena artwork Hirakawa-sensei yang keren, dan chara designnya agak mirip dengan Inoue Takehiko. Lebih realistis dibandingan chara design manga pada umumnya.

Sayangnya, meskipun ganteng dan jago berantem, seperti pada umumnya tokoh utama cerita model begini, Hayato Misaki digambarkan bego. Meskipun begonya tidak sebegitu mengkhawatirkan sampai tidak naik kelas seperti Harumichi atau Onizuka. Meskipun ada, agak jarang sih tokoh utama delinquent manga yang serbabisa: ganteng, jago berkelahi, plus pintar. Biasanya kalaupun ada tokoh seperti ini, kebanyakan menjadi tokoh sampingan.

Yang agak berbeda dibandingkan tokoh utama manga sejenis, meskipun jago berkelahi, Hayato Misaki lebih suka memancing. Bahkan tidak jarang ia mengabaikan tantangan berkelahi dan mendahulukan hobinya. Ia siap memancing setiap saat, tak peduli waktu dan musim, dan suka memaksakan hobinya pada orang lain yang tidak berminat sama sekali. Bahkan kalau acara memancingnya sampai terseling perkelahian, setelahnya dalam kondisi babak belur sekalipun ia bisa melanjutkan kegiatannya.


Faktor plus manga ini, dengan membacanya, kita bisa sekaligus belajar teori memancing.

Lalu, adakah kisah cinta dalam manga ini?

Dibandingkan manga Crows yang gersang, banyak pasangan yang berhasil jadian dalam manga ini. Sayangnya, itu tidak terjadi pada tokoh utama. Meskipun sempat naksir gadis cantik bernama Yui, tapi sejak tahu gadis itu masih anak SMP, Hayato dengan cepat kehilangan selera. Sampai jilid 28, Hayato masih jomblo. Tapi meskipun suka terlihat iri dan cemburu pada teman-temannya yang sudah punya pacar, kelihatannya Hayato merasa oke-oke saja dengan statusnya. Bahkan, setelah Yui sudah menjadi adik kelasnya di SMA dan terang-terangan mengejarnya, Hayato malah merasa terganggu!

Untuk tokoh-tokoh sampingan, secara umum sidekick bagi Hayato bisa berubah-ubah sesuai cerita. Awalnya sidekick Hayato hanya dua orang teman masa kecilnya, tapi ke depannya ia bisa berpartner dengan siapa saja, kebanyakan mantan lawan berkelahi, yang baik sengaja maupun tidak sengaja bekerja sama dengannya demi mengalahkan kelompok lain yang sama tangguhnya.

Salah satu hal yang cukup mengganggu dari karakter Hayato Misaki di manga Clover ini (ataupun karakter setipe seperti Harumichi Bouya di Crows dan Eikichi Onizuka di Shonan Junai Gumi), ia tidak pernah kelihatan melakukan latihan fisik, entah itu lari jarak jauh atau push up atau angkat beban. Setidaknya Kotaro Shindo atau Maeda Taison digambarkan melakukan latihan dari waktu ke waktu. Hayato lebih sering terlihat naik sepeda, yang bisa makan satu setengah jam perjalanan untuk mencapai lokasi memancing yang sip, tapi seiring perjalanan waktu, kekuatannya terus bertambah.



Become a lot stronger than a year ago? Tahu dari mana? Kapan latihannya? Off-screen? Pembaca tidak perlu tahu montase adegan latihan yang membosankan? Ataukah seorang jago berkelahi tidak perlu berlatih? Ataukah memang latihannya adalah perkelahian itu sendiri? Apakah logika manga berandalan memang semakin banyak seorang tokoh utama berkelahi, maka ia akan semakin kuat?

Sejauh ini, manga Clover memang memiliki ciri-ciri klise yang khas shonen manga banget, antara lain:
1. Tokoh utamanya kuat, tapi sempat dikira lemah di awal cerita
2. Tokoh utamanya lumayan bego
3. Tokoh utama akan menjadi yang terkuat di antara yang terkuat
4. Motivasi utama tokoh utama bertarung adalah demi membela teman
5. Ada rival yang sifatnya bertolak belakang dari tokoh utama
6. Tokoh utama bersifat ceria, tapi latar belakangnya cukup muram
7. Tokoh utama tidak populer di kalangan para gadis, tapi meskipun ada gadis yang benar-benar jatuh cinta padanya, tokoh utama tidak tahu atau pura-pura tidak tahu.

Huh. Sebenarnya template karakter Hayato Misaki sama persis dengan Eikichi Onizuka! Atau Naruto Uzumaki. Pick one.

Oh iya, pada tahun 2012, manga ini sudah dibuat versi live actionnya berupa j-dorama 12 episode:


Aktor Kenko Kaku yang memerankan Hayato Misaki, lumayan mirip dengan chara design manganya:


Karena aku belum menontonnya, komentar untuk versi jdorama-nya cukup sampai di sini saja.