Judul : Sherlock : The Blind Banker
By : Steven Moffat, Mark Gatiss, Jay
Penerbit : m&c!
Tebal : 216 halaman
Dibeli di : Gramedia.com
Harga beli : Rp. 42.500,- (15% off)
Dipesan tanggal : 21 Maret 2017
Diterima tanggal : 22 Maret 2017
Dibaca tanggal : 26 Maret 2017
Review :
BEWARE: REVIEW MANGA INI SANGAT BIAS, karena dibahas oleh salah seorang penggemar serial teve Sherlock yang sudah menonton semua episodenya berulang kali, termasuk episode kedua season pertama yang diwujudkan dalam bentuk manga ini.
1. Cover
Sama seperti manga Sherlock sebelumnya, cover manga ini berupa flap cover, namun kali ini cover dalamnya menampilkan adegan yang sangat domestik: Sherlock sedang berpikir sambil tiduran di sofa panjang, sementara John duduk di sampingnya sambil membaca koran :)
Penampakan ini sudah cukup untuk menggambarkan jeda waktu yang cukup panjang antara buku/episode ini dengan dengan buku/episode sebelumnya, karena sudah tidak terdapat lagi kecanggungan lagi antara dua orang asing yang berbagi sewa apartemen. Sherlock dan John sudah merasa nyaman dengan keberadaan satu sama lain.
2. Artwork & Chara Design
Tidak banyak perubahan dari manga A Study in Pink. Chara yang paling mirip masih tokoh utamanya, Sherlock, sementara karakter lain terutama para pemeran pembantu, hampir tidak ada mirip-miripnya. Ya, nggak apa-apa sih, toh tidak ada pengaruhnya ke jalan cerita, apalagi kalau yang baca bukan penonton setia serial teve Sherlock.
3. Impression
Sebagai manga adaptasi dari episode kedua season pertama serial tevenya, alur ceritanya setia mengikuti adegan demi adegan dan frame demi frame, meskipun kesan yang didapat tidak semenarik versi aslinya, terutama di bagian action-nya. Kurang menegangkan, gitu. Iya sih, manga ini tidak bisa dibandingkan dengan shonen battle manga yang adegan actionnya saja bisa memakan sebagian besar halaman, namanya juga manga misteri yang didominasi narasi. Tapi tetap saja... buat yang menginginkan adegan aksi, akan lebih asyik bila menonton versi live action-nya.
Sebagai cerita misteri, sebenarnya dari tiga episode season pertama, episode The Blind Banker ini kurang nendang dibandingkan episode lainnya. Namun demikian, sisi cerita slice-of-life yang disisipkan para kreator cukup menarik untuk disimak.
Pemirsa/pembaca digiring untuk mengikuti kehidupan sehari-hari para boga lakonnya. John yang veteran tentara dengan uang pensiun tak seberapa mulai gerah dengan statusnya sebagai pengangguran banyak acara. Perseteruannya dengan mesin kasir di supermarket sehingga ia terpaksa meminjam kartu kredit Sherlock buat belanja jelas membuatnya ingin semakin cepat punya pekerjaan selain sebagai asisten pribadi tidak resmi (dan tidak digaji) dari teman seapartemennya itu.
Sherlock sendiri sepertinya sudah tidak sungkan-sungkan lagi memperlakukan John sebagai asprinya dalam urusan investigasi. Ia tidak peduli kalau John sudah punya pekerjaan baru sebagai dokter praktek dan memaksanya ikut kerja lembur dalam "event buku" misalnya, sehingga esoknya John ketiduran seharian nyaris sepanjang jam prakteknya. Ia juga tidak mau tahu kalau John punya urusan pribadi (baca: kencan dengan Sarah) yang seharusnya tidak dicampuradukkan dengan kegiatan penyelidikan yang berbahaya dan berisiko tinggi.
Di sisi lain, Inspektur Lestrade tidak muncul di sini. Sherlock dan John berurusan dengan Inspektur Dimmock, yang jelas belum seimun Lestrade terhadap perilaku Sherlock yang menjengkelkan. Mycroft juga tidak numpang lewat di sini. Tapi seperti halnya di A Study in Pink, Moriarty sudah kelihatan hilalnya, meskipun belum tampak wujudnya.
4. In the end
Kalau melihat data yang ada di Goodreads, rupanya versi adaptasi manga serial teve Sherlock yang hanya season pertama saja, padahal masih ada episode-episode seru di season-season berikutnya. Sayang banget deh. Di sisi lain, aku siap menunggu dan membeli manga The Great Game diterbitkan di Indonesia.
Review ini dibuat untuk mengikuti tantangan berikut:
Showing posts with label detective. Show all posts
Showing posts with label detective. Show all posts
Tuesday, April 11, 2017
Tuesday, February 21, 2017
Sherlock: A Study in Pink
Judul : Sherlock: A Study in Pink
By : Steven Moffat, Mark Gatiss, Jay
Penerbit : m&c!
Tebal : 216 halaman
Dibeli di : Gramedia.com
Harga beli : Rp. 35.000,- (diskon 30%)
Dipesan tanggal : 19 Januari 2017
Diterima tanggal : 29 Januari 2017
Dibaca tanggal : 03 Februari 2017
Review :
BEWARE: REVIEW MANGA INI SANGAT BIAS, karena dibahas oleh salah seorang penggemar serial teve Sherlock, yang sudah menonton semua episodenya berulang kali, apalagi episode pertama season pertama yang diwujudkan dalam bentuk manga ini.
By : Steven Moffat, Mark Gatiss, Jay
Penerbit : m&c!
Tebal : 216 halaman
Dibeli di : Gramedia.com
Harga beli : Rp. 35.000,- (diskon 30%)
Dipesan tanggal : 19 Januari 2017
Diterima tanggal : 29 Januari 2017
Dibaca tanggal : 03 Februari 2017
Review :
BEWARE: REVIEW MANGA INI SANGAT BIAS, karena dibahas oleh salah seorang penggemar serial teve Sherlock, yang sudah menonton semua episodenya berulang kali, apalagi episode pertama season pertama yang diwujudkan dalam bentuk manga ini.
Omong-omong, manga ini
termasuk ke dalam golongan manga yang amat sangat terlambat sekali muncul versi
terjemahan resminya di Indonesia, karena baru terbit tanggal 11 Januari 2017,
saat Sherlock Season 4 sudah tayang. Memang sih aku sudah pernah membaca versi scanlation-nya,
tapi tentu saja aku merasa wajib punya begitu m&c! merilis manga ini.
Oke, sekarang kita bahas
singkat saja yuk...
1. Cover
Begitu segel plastik
dibuka, ternyata cover manga ini berupa flap cover! Jadi nostalgia nih,
teringat masa-masa waktu manga (versi Elex Media) pertama kali terbit di
Indonesia.
![]() |
| cover depan |
![]() |
| cover belakang |
Ada gambar hitam putih
Mycroft Holmes dan John Watson di cover bagian dalamnya! Salah satu
pertimbangan dihilangkannya flap cover untuk manga di
Indonesia sudah pasti untuk menekan biaya. Manga ini harganya lumayan mahal,
lebih dari dua kali harga manga biasa saat ini. Kebetulan saja aku belinya pas
ada diskon 30% di Gramedia.com.
2. Artwork & Chara
Design
Artworknya rapi, dan
boleh dibilang seperti storyboard yang cukup detail untuk
episode pertama serial tevenya. Sedetail apa? Untuk gambar background,
wallpaper dan segala pernak-pernik berantakan yang ada di Flat di Baker Street
221B, misalnya.
Tapi sejujurnya, aku
tidak terlalu suka dengan chara design-nya. Sepertinya dari semua
chara yang ada, menurut pendapatku cuma chara design Sherlock
yang mendekati versi serial tevenya, lengkap dari tulang pipinya yang tinggi
sampai kemejanya yang kekecilan satu nomor.
3. Story
Aku sudah bilang kalau
manga ini seperti storyboard untuk episode pertama season
pertama serial tevenya, kan? Namanya juga versi adaptasi manga. Jalan cerita
dari panel ke panel mengikuti adegan dan dialog di serial tevenya.
4. Terjemahan
Karena aku sudah terlalu
sering menonton episode ini dengan teks bahasa Inggrisnya, otomatis aku jadi
ingat secara verbatim dialog yang diucapkan para karakternya. Sewaktu aku
membaca versi scanlation-nya, dialog asli dari serial teve itulah
yang dicantumkan di sana. Nah sekarang, waktu aku membaca versi terjemahan
Bahasa Indonesianya, aku malah merasa ada sesuatu yang tidak pas, karena
terdapat pergeseran makna di sana-sini. Secara keseluruhan, karena cuma
sedikit, tidak mengganggu jalan ceritanya sih, tapi tetap saja membuatku jadi
merasa gatal. Entah apa penyebabnya. Mungkinkah karena manga ini diterjemahkan
dari versi bahasa Jepangnya, sehingga menimbulkan lost in translation?
5. Verdict
Seperti peringatan di
atas, penilaian atas manga ini sangat bias. Meskipun terdapat beberapa aspek
yang tidak begitu kusukai dari manga ini, aku bersyukur serial Sherlock ada
versi adaptasi manganya, dan aku juga bersyukur akhirnya ada penerbit lokal
yang menerbitkannya secara resmi. Karena itu, apapun kekurangannya, tetap saja
manga ini kuponten :
![]() |
| Graphic Novels & Comic Books |
Sunday, October 2, 2016
Salvation of a Saint
Judul : Salvation of a Saint (Detective Galileo, #5)
Penulis : Keigo Higashino
Penerbit : Minotaur Books, 2014
Edisi : Paperback, 336 halaman
Dibeli di ; Periplus.com
Dibeli tanggal : 28 Agustus 2016
Harga beli : Rp. 197.200,- (diskon ultah 15%)
Diterima tanggal : 17 September 2016
Dibaca tanggal : 24 September 2016
Sinopsis:
In 2011, The Devotion of Suspect X was a hit with critics and readers alike. The first major English language publication from the most popular bestselling writer in Japan, it was acclaimed as “stunning,” “brilliant,” and “ingenious.” Now physics professor Manabu Yukawa—Detective Galileo—returns in a new case of impossible murder, where instincts clash with facts and theory with reality.
Yoshitaka, who was about to leave his marriage and his wife, is poisoned by arsenic-laced coffee and dies. His wife, Ayane, is the logical suspect—except that she was hundreds of miles away when he was murdered. The lead detective, Tokyo Police Detective Kusanagi, is immediately smitten with her and refuses to believe that she could have had anything to do with the crime. His assistant, Kaoru Utsumi, however, is convinced Ayane is guilty. While Utsumi’s instincts tell her one thing, the facts of the case are another matter. So she does what her boss has done for years when stymied—she calls upon Professor Manabu Yukawa.
But even the brilliant mind of Dr. Yukawa has trouble with this one, and he must somehow find a way to solve an impossible murder and capture a very real, very deadly murderer. Salvation for a Saint is Keigo Higashino at his mind-bending best, pitting emotion against fact in a beautifully plotted crime novel filled with twists and reverses that will astonish and surprise even the most attentive and jaded of readers.
Verdict :
Review singkat :
Ini novel Keigo Higashino ketiga yang kubaca, dan... lagi-lagi sang pelaku pembunuhan sudah dapat kita ketahui di bab awal, termasuk motivasinya! Yang harus dipecahkan bukanlah who dan why, tapi how. Pihak kepolisian maupun Detektif Galileo dibuat pusing, karena alibi sang tersangka utama yang sangat kuat dan tidak bisa dipatahkan. Pada saat korban tewas keracunan kopi yang mengandung arsenik, ia berada ratusan mil dari TKP, dan praktis tidak melakukan apapun yang mencurigakan sebelum pergi. It's a perfect crime!
Belum lagi, di sini Detektif Kusanagi terpesona (kalau bukan jatuh cinta) pada si tersangka utama, sehingga Detektif Utsumi pun diam-diam meminta bantuan pada Profesor Yukawa untuk memecahkan kejahatan sempurna itu. Dan justru karena kondisi Kusanagi yang tidak biasa itulah, Yukawa yang sebenarnya ogah-ogahan membantu pun mau ikut campur.
Trik pembunuhannya ternyata benar-benar di luar dugaan, dan menunjukkan perencanaan dan kesabaran yang luar biasa dari sang pelaku, di mana triknya justru berhasil karena ia tidak melakukan apa-apa sama sekali menjelang kematian korban!
Higashino-sensei kembali membuat twist yang sukar ditebak pembaca. Well done, Sir!
Penulis : Keigo Higashino
Penerbit : Minotaur Books, 2014
Edisi : Paperback, 336 halaman
Dibeli di ; Periplus.com
Dibeli tanggal : 28 Agustus 2016
Harga beli : Rp. 197.200,- (diskon ultah 15%)
Diterima tanggal : 17 September 2016
Dibaca tanggal : 24 September 2016
Sinopsis:
In 2011, The Devotion of Suspect X was a hit with critics and readers alike. The first major English language publication from the most popular bestselling writer in Japan, it was acclaimed as “stunning,” “brilliant,” and “ingenious.” Now physics professor Manabu Yukawa—Detective Galileo—returns in a new case of impossible murder, where instincts clash with facts and theory with reality.
Yoshitaka, who was about to leave his marriage and his wife, is poisoned by arsenic-laced coffee and dies. His wife, Ayane, is the logical suspect—except that she was hundreds of miles away when he was murdered. The lead detective, Tokyo Police Detective Kusanagi, is immediately smitten with her and refuses to believe that she could have had anything to do with the crime. His assistant, Kaoru Utsumi, however, is convinced Ayane is guilty. While Utsumi’s instincts tell her one thing, the facts of the case are another matter. So she does what her boss has done for years when stymied—she calls upon Professor Manabu Yukawa.
But even the brilliant mind of Dr. Yukawa has trouble with this one, and he must somehow find a way to solve an impossible murder and capture a very real, very deadly murderer. Salvation for a Saint is Keigo Higashino at his mind-bending best, pitting emotion against fact in a beautifully plotted crime novel filled with twists and reverses that will astonish and surprise even the most attentive and jaded of readers.
Verdict :
Review singkat :
Ini novel Keigo Higashino ketiga yang kubaca, dan... lagi-lagi sang pelaku pembunuhan sudah dapat kita ketahui di bab awal, termasuk motivasinya! Yang harus dipecahkan bukanlah who dan why, tapi how. Pihak kepolisian maupun Detektif Galileo dibuat pusing, karena alibi sang tersangka utama yang sangat kuat dan tidak bisa dipatahkan. Pada saat korban tewas keracunan kopi yang mengandung arsenik, ia berada ratusan mil dari TKP, dan praktis tidak melakukan apapun yang mencurigakan sebelum pergi. It's a perfect crime!
Belum lagi, di sini Detektif Kusanagi terpesona (kalau bukan jatuh cinta) pada si tersangka utama, sehingga Detektif Utsumi pun diam-diam meminta bantuan pada Profesor Yukawa untuk memecahkan kejahatan sempurna itu. Dan justru karena kondisi Kusanagi yang tidak biasa itulah, Yukawa yang sebenarnya ogah-ogahan membantu pun mau ikut campur.
Trik pembunuhannya ternyata benar-benar di luar dugaan, dan menunjukkan perencanaan dan kesabaran yang luar biasa dari sang pelaku, di mana triknya justru berhasil karena ia tidak melakukan apa-apa sama sekali menjelang kematian korban!
Higashino-sensei kembali membuat twist yang sukar ditebak pembaca. Well done, Sir!
Tuesday, May 17, 2016
Malice
Judul : Malice
Penulis : Keigo Higashino
Serial : Kyoichiro Kaga #4
Pertama kali terbit : September 1996
Pertama kali terbit Edisi Bahasa Inggris : Oktober 2014
Tebal : 288 halaman (Hardcover)
Sinopsis :
Acclaimed bestselling novelist Kunihiko Hidaka is found brutally murdered in his home on the night before he's planning to leave Japan and relocate to Vancouver. His body is found in his office, a locked room, within his locked house, by his wife and his best friend, both of whom have rock solid alibis. Or so it seems.
At the crime scene, Police Detective Kyochiro Kaga recognizes Hidaka's best friend, Osamu Nonoguchi. Years ago when they were both teachers, they were colleagues at the same public school. Kaga went on to join the police force while Nonoguchi eventually left to become a full-time writer, though with not nearly the success of his friend Hidaka.
As Kaga investigates, he eventually uncovers evidence that indicates that the two writers' relationship was very different that they claimed, that they were anything but best friends. But the question before Kaga isn't necessarily who, or how, but why. In a brilliantly realized tale of cat and mouse, the detective and the killer battle over the truth of the past and how events that led to the murder really unfolded. And if Kaga isn't able to uncover and prove why the murder was committed, then the truth may never come out.
Verdict :
Review :
Pertama-tama, penilaian di atas agak bias karena aku membaca buku ini sambil membayangkan sosok aktor Jepang favoritku, Hiroshi Abe. Maklum, dia berperan sebagai Detektif Kyoichiro Kaga di serial televisi Shinzanmono maupun film The Wings of the Kirin. Jadi... ya bacanya lebih enjoy, gitu.
Ehm.
Baiklah, agak serius sedikit. Sepertinya yang aku sukai dari karya-karya Keigo Higashino adalah gaya bertuturnya. Pace yang pelan tidak jadi masalah, karena pengupasan misteri yang selapis demi selapis dan twist-plot yang unpredictable membuat kelezatan novelnya terasa lebih lama dan membekas.
Sepertinya, meskipun novel ini urutan keempat dari serialnya, ini buku Kyoichiro Kaga pertama yang diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris. Melihat kasus novel The Devotion of Suspect X dari serial Detektif Galileo, apakah ini termasuk novel unggulan dari serial Kyoichiro Kaga?
Novel ini bercerita dari dua sudut pandang dan dua catatan kasus, yaitu dari sisi Osamu Nonoguchi dan sisi Kyoichiro Kaga. Osamu Nonoguchi adalah orang yang pertama kali menemukan mayat korban pembunuhan, Kunihiko Hidaka, rekan sesama penulis dan mantan teman SMP-nya. Sementara Kyoichiro Kaga, detektif yang ditugaskan menangani kasus tersebut, ternyata mantan rekan Nonoguchi sebagai guru SMP, sebelum alih profesi menjadi polisi.
Pertama membaca catatan kasus versi Osamu Nonoguchi, aku sempat curiga ceritanya bakalan mirip dengan The Murder of Roger Ackroyd-nya Agatha Christie. Siapa tahu lho, curiga kan boleh saja. Belum tentu penulis catatan kasus sebersih Dr. Watson dan Arthur Hastings. Ternyata, bukan cuma aku saja yang merasa curiga, Detektif Kaga juga demikian. Dan hanya dalam beberapa bab, Kaga berhasil mementahkan alibi Nonoguchi dan mengungkap trik yang dilakukannya untuk menyesatkan penyidik.
Hanya dalam beberapa bab? Cepat amat?
Iya, karena yang seru untuk dibahas dan dibongkar oleh sang detektif dalam novel ini bukanlah "siapa" dan "bagaimana" seperti novel-novel misteri pada umumnya, melainkan "mengapa". Apa motivasi Nonoguchi membunuh Hidaka? Terencana atau tidak terencana? Siapakah sebenarnya korban utama dalam kisah ini?
Battle of wit antara Kaga dan Nonoguchi benar-benar membuat pembaca tak bisa bisa melepaskan novel ini sebelum tamat. Karakter Kaga yang tidak mudah puas untuk terus menggali informasi--- meskipun fakta dan bukti-bukti tampak gamblang bagi semua orang---membuat ia tidak mudah masuk ke dalam jebakan demi jebakan yang dipasang Nonoguchi.
Dan terakhir, apakah makna judul novel ini? Pada akhirnya, kenyataan yang diungkap oleh Detektif Kaga akan sangat berkaitan dengan judul novel tersebut.
Well, singkat cerita, novel ini memang sialan banget deh. Dari bab awal saja sudah banyak jebakan di sana-sini, berlapis-lapis pula. Kalau Kyoichiro Kaga saja bisa sempat terpeleset, apalagi pembaca yang clueless...
Gawat nih, kayaknya aku bakal ketagihan untuk terus mencari dan membaca buku-buku Higashino-sensei...
Penulis : Keigo Higashino
Serial : Kyoichiro Kaga #4
Pertama kali terbit : September 1996
Pertama kali terbit Edisi Bahasa Inggris : Oktober 2014
Tebal : 288 halaman (Hardcover)
Sinopsis :
Acclaimed bestselling novelist Kunihiko Hidaka is found brutally murdered in his home on the night before he's planning to leave Japan and relocate to Vancouver. His body is found in his office, a locked room, within his locked house, by his wife and his best friend, both of whom have rock solid alibis. Or so it seems.
At the crime scene, Police Detective Kyochiro Kaga recognizes Hidaka's best friend, Osamu Nonoguchi. Years ago when they were both teachers, they were colleagues at the same public school. Kaga went on to join the police force while Nonoguchi eventually left to become a full-time writer, though with not nearly the success of his friend Hidaka.
As Kaga investigates, he eventually uncovers evidence that indicates that the two writers' relationship was very different that they claimed, that they were anything but best friends. But the question before Kaga isn't necessarily who, or how, but why. In a brilliantly realized tale of cat and mouse, the detective and the killer battle over the truth of the past and how events that led to the murder really unfolded. And if Kaga isn't able to uncover and prove why the murder was committed, then the truth may never come out.
Verdict :
Review :
Pertama-tama, penilaian di atas agak bias karena aku membaca buku ini sambil membayangkan sosok aktor Jepang favoritku, Hiroshi Abe. Maklum, dia berperan sebagai Detektif Kyoichiro Kaga di serial televisi Shinzanmono maupun film The Wings of the Kirin. Jadi... ya bacanya lebih enjoy, gitu.
Ehm.
Baiklah, agak serius sedikit. Sepertinya yang aku sukai dari karya-karya Keigo Higashino adalah gaya bertuturnya. Pace yang pelan tidak jadi masalah, karena pengupasan misteri yang selapis demi selapis dan twist-plot yang unpredictable membuat kelezatan novelnya terasa lebih lama dan membekas.
Sepertinya, meskipun novel ini urutan keempat dari serialnya, ini buku Kyoichiro Kaga pertama yang diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris. Melihat kasus novel The Devotion of Suspect X dari serial Detektif Galileo, apakah ini termasuk novel unggulan dari serial Kyoichiro Kaga?
Novel ini bercerita dari dua sudut pandang dan dua catatan kasus, yaitu dari sisi Osamu Nonoguchi dan sisi Kyoichiro Kaga. Osamu Nonoguchi adalah orang yang pertama kali menemukan mayat korban pembunuhan, Kunihiko Hidaka, rekan sesama penulis dan mantan teman SMP-nya. Sementara Kyoichiro Kaga, detektif yang ditugaskan menangani kasus tersebut, ternyata mantan rekan Nonoguchi sebagai guru SMP, sebelum alih profesi menjadi polisi.
Pertama membaca catatan kasus versi Osamu Nonoguchi, aku sempat curiga ceritanya bakalan mirip dengan The Murder of Roger Ackroyd-nya Agatha Christie. Siapa tahu lho, curiga kan boleh saja. Belum tentu penulis catatan kasus sebersih Dr. Watson dan Arthur Hastings. Ternyata, bukan cuma aku saja yang merasa curiga, Detektif Kaga juga demikian. Dan hanya dalam beberapa bab, Kaga berhasil mementahkan alibi Nonoguchi dan mengungkap trik yang dilakukannya untuk menyesatkan penyidik.
Hanya dalam beberapa bab? Cepat amat?
Iya, karena yang seru untuk dibahas dan dibongkar oleh sang detektif dalam novel ini bukanlah "siapa" dan "bagaimana" seperti novel-novel misteri pada umumnya, melainkan "mengapa". Apa motivasi Nonoguchi membunuh Hidaka? Terencana atau tidak terencana? Siapakah sebenarnya korban utama dalam kisah ini?
Battle of wit antara Kaga dan Nonoguchi benar-benar membuat pembaca tak bisa bisa melepaskan novel ini sebelum tamat. Karakter Kaga yang tidak mudah puas untuk terus menggali informasi--- meskipun fakta dan bukti-bukti tampak gamblang bagi semua orang---membuat ia tidak mudah masuk ke dalam jebakan demi jebakan yang dipasang Nonoguchi.
Dan terakhir, apakah makna judul novel ini? Pada akhirnya, kenyataan yang diungkap oleh Detektif Kaga akan sangat berkaitan dengan judul novel tersebut.
Well, singkat cerita, novel ini memang sialan banget deh. Dari bab awal saja sudah banyak jebakan di sana-sini, berlapis-lapis pula. Kalau Kyoichiro Kaga saja bisa sempat terpeleset, apalagi pembaca yang clueless...
Gawat nih, kayaknya aku bakal ketagihan untuk terus mencari dan membaca buku-buku Higashino-sensei...
The Devotion of Suspect X
Judul : The Devotion of Suspect X
Penulis : Keigo Higashino
Penerbit : Minotaur Books, 2011
Edisi : Hardcover
Tebal : 298 halaman
Dibeli di : Big Bad Wolf 2016, ICE BSD
Dibeli tanggal : 30 April 2016
Harga beli : Rp. 60.000,-
Dibaca tanggal : 15 Mei 2016
Sinopsis:
Yasuko Hanaoka is a divorced, single mother who thought she had finally escaped her abusive ex-husband Togashi. When he shows up one day to extort money from her, threatening both her and her teenaged daughter Misato, the situation quickly escalates into violence and Togashi ends up dead on her apartment floor. Overhearing the commotion, Yasuko’s next door neighbor, middle-aged high school mathematics teacher Ishigami, offers his help, disposing not only of the body but plotting the cover-up step-by-step.
When the body turns up and is identified, Detective Kusanagi draws the case and Yasuko comes under suspicion. Kusanagi is unable to find any obvious holes in Yasuko’s manufactured alibi and yet is still sure that there’s something wrong. Kusanagi brings in Dr. Manabu Yukawa, a physicist and college friend who frequently consults with the police. Yukawa, known to the police by the nickname Professor Galileo, went to college with Ishigami. After meeting up with him again, Yukawa is convinced that Ishigami had something to do with the murder. What ensues is a high level battle of wits, as Ishigami tries to protect Yasuko by outmaneuvering and outthinking Yukawa, who faces his most clever and determined opponent yet.
Rating :
Review versi emosional tak lama setelah membaca novel:
Baru kali ini aku membaca novel misteri sampai mencucurkan air mata. Right in the feel. Nyesek banget!!!
Well, aku sudah lama punya ebook novel ini, karena aku suka serial teve Shinzanmono dan Galileo, sehingga sengaja mencari tulisan Keigo Higashino, penulis novel-novel yang diangkat menjadi kedua serial teve itu. Tapi memang, karena pada dasarnya lebih mendahulukan untuk membaca buku fisik ketimbang ebook, aku baru membaca novel ini setelah membeli buku fisiknya di Big Bad Wolf kemarin.
Terus terang, susah untuk tidak merasa empati dan simpati hampir ke semua tokoh yang terlibat, dalam hal ini termasuk si lempeng Detektif Galileo. Biasanya ia memecahkan kasus tanpa emosi, tapi khusus kasus di novel ini, perasaannya saat berhasil memecahkan teka-teki dalam cerita ini (yang sengaja dipasang untuk menjebak polisi dan pembaca) sungguh dapat tersampaikan dengan baik.
Aaargh, jadi menyesal kenapa tidak membaca novel ini dari kemarin-kemarin.
Review versi kalem setelah turbulensi emosi mereda:
Setelah membaca novel ini, aku jadi mengerti mengapa novel ini ditahbiskan sebagai salah satu karya masterpiece dari Keigo Higashino, sehingga rasanya wajar saja apabila novel ketiga, bukan novel pertama, dari serial Detektif Galileo ini yang menjadi novel pertama Higashino-sensei yang diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris.
Kalau pembaca menginginkan cerita misteri model 'whodunnit', maka lebih baik tidak membaca novel ini, karena peristiwa pembunuhan maupun pelakunya telah digambarkan secara gamblang pada bab awal novel.
Persis sebagaimana tercantum di sinopsisnya, dalam upaya membela diri, Yasuko Hanaoka (dibantu anak perempuannya) tanpa sengaja membunuh mantan suaminya Togashi. Semula ia berniat melaporkan diri, namun tetangganya, Ishigami, menawarkan bantuan lengkap, tidak hanya membantu menyingkirkan mayat Togashi, namun juga menyiapkan alibi bagi ibu-anak tersebut.
Berkat bantuan Ishigami itulah, polisi mengalami kesulitan dalam penyelidikan pembunuhan Togashi, karena tersangka utama, Yasuko, memiliki alibi yang kuat pada saat waktu estimasi pembunuhan. Selain itu, banyak petunjuk di lokasi ditemukannya mayat yang malah membuat bingung. Entah bagaimana, dengan analisis dan logika matematikanya, Ishigami mampu menyesatkan penyelidikan kepolisian.
Sayangnya, Ishigami tidak memperhitungkan adanya faktor anomali dalam perhitungannya: mantan teman kuliahnya, Dr. Manabu Yukawa, ahli fisika yang kadang-kadang nyambi sebagai detektif amatir dan dijuluki sebagai Detektif Galileo oleh pihak kepolisian. Walaupun awalnya Detektif Kusanagi, sahabat Yukawa, yang sering curcol dan meminta petunjuk untuk kasus-kasus yang ditanganinya, tidak meminta bantuan Yukawa dalam kasus ini, Yukawa melibatkan diri karena mengenali nama tetangga tersangka, Ishigami, sebagai teman kuliah yang diakuinya sebagai jenius matematika.
Yang membuat novel ini sangat menarik adalah battle of wit antara sesama jenius. Trik yang diciptakan Ishigami mungkin saja bisa menyesatkan detektif biasa, tapi tidak dapat mengecoh fisikawan yang sangat memahami logika berpikirnya. Namun pengungkapan trik yang dilakukan Ishigami oleh Yukawa bukanlah hal yang paling istimewa dari kisah ini, melainkan pengungkapan seberapa jauh Ishigami rela berkorban demi wanita yang dicintai dan dipujanya. Hence the title.
Novel ini termasuk salah satu novel misteri pembunuhan di mana aku mendukung pelaku atau pihak yang membantu si pelaku agar tidak tertangkap polisi (selain Dexter Morgan).
Bab-bab terakhir, terutama beberapa halaman terakhir novel, benar-benar nyeredet hate. Dan seperti biasa, kalau sampai ada novel yang bisa membuatku tak bisa berhenti membacanya sekaligus mengacak-acak perasaanku sampai mengucurkan air mata karena empati pada para tokohnya, meskipun itu novel misteri, aku cenderung bias dan memberikan nilai sempurna,
View all my reviews
Penulis : Keigo Higashino
Penerbit : Minotaur Books, 2011
Edisi : Hardcover
Tebal : 298 halaman
Dibeli di : Big Bad Wolf 2016, ICE BSD
Dibeli tanggal : 30 April 2016
Harga beli : Rp. 60.000,-
Dibaca tanggal : 15 Mei 2016
Sinopsis:
Yasuko Hanaoka is a divorced, single mother who thought she had finally escaped her abusive ex-husband Togashi. When he shows up one day to extort money from her, threatening both her and her teenaged daughter Misato, the situation quickly escalates into violence and Togashi ends up dead on her apartment floor. Overhearing the commotion, Yasuko’s next door neighbor, middle-aged high school mathematics teacher Ishigami, offers his help, disposing not only of the body but plotting the cover-up step-by-step.
When the body turns up and is identified, Detective Kusanagi draws the case and Yasuko comes under suspicion. Kusanagi is unable to find any obvious holes in Yasuko’s manufactured alibi and yet is still sure that there’s something wrong. Kusanagi brings in Dr. Manabu Yukawa, a physicist and college friend who frequently consults with the police. Yukawa, known to the police by the nickname Professor Galileo, went to college with Ishigami. After meeting up with him again, Yukawa is convinced that Ishigami had something to do with the murder. What ensues is a high level battle of wits, as Ishigami tries to protect Yasuko by outmaneuvering and outthinking Yukawa, who faces his most clever and determined opponent yet.
Rating :
Review versi emosional tak lama setelah membaca novel:
Baru kali ini aku membaca novel misteri sampai mencucurkan air mata. Right in the feel. Nyesek banget!!!
Well, aku sudah lama punya ebook novel ini, karena aku suka serial teve Shinzanmono dan Galileo, sehingga sengaja mencari tulisan Keigo Higashino, penulis novel-novel yang diangkat menjadi kedua serial teve itu. Tapi memang, karena pada dasarnya lebih mendahulukan untuk membaca buku fisik ketimbang ebook, aku baru membaca novel ini setelah membeli buku fisiknya di Big Bad Wolf kemarin.
Terus terang, susah untuk tidak merasa empati dan simpati hampir ke semua tokoh yang terlibat, dalam hal ini termasuk si lempeng Detektif Galileo. Biasanya ia memecahkan kasus tanpa emosi, tapi khusus kasus di novel ini, perasaannya saat berhasil memecahkan teka-teki dalam cerita ini (yang sengaja dipasang untuk menjebak polisi dan pembaca) sungguh dapat tersampaikan dengan baik.
Aaargh, jadi menyesal kenapa tidak membaca novel ini dari kemarin-kemarin.
Review versi kalem setelah turbulensi emosi mereda:
Which is harder: devising an unsolvable problem, or solving that problem?
Setelah membaca novel ini, aku jadi mengerti mengapa novel ini ditahbiskan sebagai salah satu karya masterpiece dari Keigo Higashino, sehingga rasanya wajar saja apabila novel ketiga, bukan novel pertama, dari serial Detektif Galileo ini yang menjadi novel pertama Higashino-sensei yang diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris.
Kalau pembaca menginginkan cerita misteri model 'whodunnit', maka lebih baik tidak membaca novel ini, karena peristiwa pembunuhan maupun pelakunya telah digambarkan secara gamblang pada bab awal novel.
Persis sebagaimana tercantum di sinopsisnya, dalam upaya membela diri, Yasuko Hanaoka (dibantu anak perempuannya) tanpa sengaja membunuh mantan suaminya Togashi. Semula ia berniat melaporkan diri, namun tetangganya, Ishigami, menawarkan bantuan lengkap, tidak hanya membantu menyingkirkan mayat Togashi, namun juga menyiapkan alibi bagi ibu-anak tersebut.
Berkat bantuan Ishigami itulah, polisi mengalami kesulitan dalam penyelidikan pembunuhan Togashi, karena tersangka utama, Yasuko, memiliki alibi yang kuat pada saat waktu estimasi pembunuhan. Selain itu, banyak petunjuk di lokasi ditemukannya mayat yang malah membuat bingung. Entah bagaimana, dengan analisis dan logika matematikanya, Ishigami mampu menyesatkan penyelidikan kepolisian.
Sayangnya, Ishigami tidak memperhitungkan adanya faktor anomali dalam perhitungannya: mantan teman kuliahnya, Dr. Manabu Yukawa, ahli fisika yang kadang-kadang nyambi sebagai detektif amatir dan dijuluki sebagai Detektif Galileo oleh pihak kepolisian. Walaupun awalnya Detektif Kusanagi, sahabat Yukawa, yang sering curcol dan meminta petunjuk untuk kasus-kasus yang ditanganinya, tidak meminta bantuan Yukawa dalam kasus ini, Yukawa melibatkan diri karena mengenali nama tetangga tersangka, Ishigami, sebagai teman kuliah yang diakuinya sebagai jenius matematika.
Yang membuat novel ini sangat menarik adalah battle of wit antara sesama jenius. Trik yang diciptakan Ishigami mungkin saja bisa menyesatkan detektif biasa, tapi tidak dapat mengecoh fisikawan yang sangat memahami logika berpikirnya. Namun pengungkapan trik yang dilakukan Ishigami oleh Yukawa bukanlah hal yang paling istimewa dari kisah ini, melainkan pengungkapan seberapa jauh Ishigami rela berkorban demi wanita yang dicintai dan dipujanya. Hence the title.
Novel ini termasuk salah satu novel misteri pembunuhan di mana aku mendukung pelaku atau pihak yang membantu si pelaku agar tidak tertangkap polisi (selain Dexter Morgan).
Bab-bab terakhir, terutama beberapa halaman terakhir novel, benar-benar nyeredet hate. Dan seperti biasa, kalau sampai ada novel yang bisa membuatku tak bisa berhenti membacanya sekaligus mengacak-acak perasaanku sampai mengucurkan air mata karena empati pada para tokohnya, meskipun itu novel misteri, aku cenderung bias dan memberikan nilai sempurna,
View all my reviews
Monday, February 29, 2016
A Walk Among The Tombstones
Judul : A Walk Among The Tombstones
Penulis : Lawrence Block
Penerbit : Orion, 2014
Tebal : 339 halaman
Dibeli di : Lapak Periplus FX Senayan
Dibeli tanggal : 20 Februari 2016
Harga beli : Rp. 71.000,-
Dibaca tanggal : 28 Februari 2016
Lokasi baca : Tanjung Lesung
Sinopsis :
Private eye Matt Scudder is investigating a very unusual kidnapper. Big-time dope dealer Kenan Khoury is a wealthy man, and it comes as no surprise when his wife, Francine, is kidnapped and a ransom demanded. Kenan pays up and his wife is duly returned to him --- in small pieces, left in the boot of an abandoned car.
Soon Scudder is on a trail of a pair of ruthlessly sadistic psycopaths whose insanely cruel games have only just begun...
Review :
Ini buku karya Lawrence Block pertama yang kubeli dan kubaca. Jujur saja, aku tertarik untuk membelinya hanya karena buku ini masuk bargain books Periplus, dan aku memang suka mengumpulkan buku dengan cover film. Padahal aku tidak tertarik untuk menonton versi filmnya, karena keburu bosan melihat Liam Neeson main film action dengan tema serupa tapi tidak sama dan karakter yang serupa tapi tidak sama pula.
Dan tema buku ini? Penculikan! Whoa... Taken alert!
Tapiiii... ternyata buku yang tidak sengaja kubawa buat bekal acara outbond kantor ini ternyata menarik, dan akhirnya habis kubaca dalam sekali duduk. Kenapa? It's very gripping, That's why.
Tokoh-tokohnya tidak biasa.
Tokoh utamanya, Matt Scuder, mantan polisi yang alih profesi menjadi detektif swasta tanpa lisensi. Dari serialnya, ini adalah buku kesepuluh. Latar belakangnya dan lingkungan pertemanannya dengan pihak-pihak yang kurang lazim membuatku bertanya-tanya dan penasaran dengan buku-buku sebelumnya. Sebagai mantan alkoholik, kadang-kadang ia bertemu dengan orang-orang tak biasa di pertemuan AA, dan dari sanalah ia tanpa sengaja terlibat dalam kasus ini...
Klien yang menyewa Matt Scuder, Kenan Khoury, juga bukan orang biasa. Sebagai bandar narkoba yang tak pernah tersentuh hukum, kasus penculikan/pembunuhan istrinya tidak bisa dilaporkan kepada polisi, hingga ia meminta bantuan Scuder, dengan tujuan yang jelas: membunuh mereka. Apa jawaban Scuder? Ya.
Wow.
Karakter dalam buku ini jelas lebih banyak abu-abunya daripada putih ataupun hitam. Apakah Scuder terlibat dalam kejahatan terencana dengan membantu Kenan melacak para penculik/pembunuh istrinya, dengan mengetahui apa yang akan terjadi pada para pelaku kejahatan itu seandainya mereka ditemukan?
Apakah Kenan yang berprinsip bahwa ia berjual beli narkoba dalam kuantitas besar sebagai pedagang murni, hanya sepanjang ada permintaan dan penjualan, tanpa benar-benar mengedarkan narkoba pada konsumen hilir, adalah penjahat kelas kakap? Pantaskah bila istrinya mati dalam keadaan terpotong-potong kecil untuk itu?
Penyelidikan Scuder membawanya kepada kenyataan bahwa para penculik/pembunuh itu telah beraksi sebelum kasus istri Kenan. Bedanya, sebelumnya mereka melakukannya untuk sekedar hobi dan bersenang-senang. Sekarang, mereka sengaja mengambil keuntungan komersial dari sana. Penculikan yang menghasilkan uang! Korbannya? Tentu saja para penjahat kerah putih yang tak mungkin melaporkan kasusnya ke polisi! Dan setelah uang diperoleh, tak usah menepati janji. Perkosaan, penyiksaan, pembunuhan, mutilasi, tetap jalan terus! Double bonus!
Tegangan semakin tinggi ketika para pelaku kembali melakukan penculikan, dan kali ini yang menjadi korban adalah anak gadis seorang mantan gangster Rusia. Berpacu dengan waktu, dengan bantuan mantan rekan di kepolisian dan teman-teman baru di dunia bawah tanah termasuk para hacker jaman awal 90-an (setting buku ini), Scudder harus segera menemukan para psikopat itu.
Ya. Tema cerita ini cukup lazim untuk cerita detektif/thriller.
Yang tidak lazim memang tokoh-tokohnya. Termasuk motivasi para pelakunya yang sama sekali tidak menganggap korbannya sebagai manusia begitu mereka masuk ke dalam wilayah kekuasaannya.
Dilema moralnya, apakah Scudder akan membiarkan kliennya membunuh para pelaku kejahatan? Atau sepanjang perbuatan mereka memang sepantasnya diganjar hukuman mati, siapa yang lebih pantas menjadi algojonya selain keluarga korban? Dan apakah sang klien benar-benar sanggup melakukan pembunuhan?
Pilihan dan keputusan yang diambil para tokoh di novel yang mencekam ini membuatku pada akhirnya berseru "Yes!" tanpa lagi memikirkan dilema moralnya.
Penulis : Lawrence Block
Penerbit : Orion, 2014
Tebal : 339 halaman
Dibeli di : Lapak Periplus FX Senayan
Dibeli tanggal : 20 Februari 2016
Harga beli : Rp. 71.000,-
Dibaca tanggal : 28 Februari 2016
Lokasi baca : Tanjung Lesung
Sinopsis :
Private eye Matt Scudder is investigating a very unusual kidnapper. Big-time dope dealer Kenan Khoury is a wealthy man, and it comes as no surprise when his wife, Francine, is kidnapped and a ransom demanded. Kenan pays up and his wife is duly returned to him --- in small pieces, left in the boot of an abandoned car.
Soon Scudder is on a trail of a pair of ruthlessly sadistic psycopaths whose insanely cruel games have only just begun...
Review :
Ini buku karya Lawrence Block pertama yang kubeli dan kubaca. Jujur saja, aku tertarik untuk membelinya hanya karena buku ini masuk bargain books Periplus, dan aku memang suka mengumpulkan buku dengan cover film. Padahal aku tidak tertarik untuk menonton versi filmnya, karena keburu bosan melihat Liam Neeson main film action dengan tema serupa tapi tidak sama dan karakter yang serupa tapi tidak sama pula.
Dan tema buku ini? Penculikan! Whoa... Taken alert!
Tapiiii... ternyata buku yang tidak sengaja kubawa buat bekal acara outbond kantor ini ternyata menarik, dan akhirnya habis kubaca dalam sekali duduk. Kenapa? It's very gripping, That's why.
Tokoh-tokohnya tidak biasa.
Tokoh utamanya, Matt Scuder, mantan polisi yang alih profesi menjadi detektif swasta tanpa lisensi. Dari serialnya, ini adalah buku kesepuluh. Latar belakangnya dan lingkungan pertemanannya dengan pihak-pihak yang kurang lazim membuatku bertanya-tanya dan penasaran dengan buku-buku sebelumnya. Sebagai mantan alkoholik, kadang-kadang ia bertemu dengan orang-orang tak biasa di pertemuan AA, dan dari sanalah ia tanpa sengaja terlibat dalam kasus ini...
Klien yang menyewa Matt Scuder, Kenan Khoury, juga bukan orang biasa. Sebagai bandar narkoba yang tak pernah tersentuh hukum, kasus penculikan/pembunuhan istrinya tidak bisa dilaporkan kepada polisi, hingga ia meminta bantuan Scuder, dengan tujuan yang jelas: membunuh mereka. Apa jawaban Scuder? Ya.
Wow.
Karakter dalam buku ini jelas lebih banyak abu-abunya daripada putih ataupun hitam. Apakah Scuder terlibat dalam kejahatan terencana dengan membantu Kenan melacak para penculik/pembunuh istrinya, dengan mengetahui apa yang akan terjadi pada para pelaku kejahatan itu seandainya mereka ditemukan?
Apakah Kenan yang berprinsip bahwa ia berjual beli narkoba dalam kuantitas besar sebagai pedagang murni, hanya sepanjang ada permintaan dan penjualan, tanpa benar-benar mengedarkan narkoba pada konsumen hilir, adalah penjahat kelas kakap? Pantaskah bila istrinya mati dalam keadaan terpotong-potong kecil untuk itu?
Penyelidikan Scuder membawanya kepada kenyataan bahwa para penculik/pembunuh itu telah beraksi sebelum kasus istri Kenan. Bedanya, sebelumnya mereka melakukannya untuk sekedar hobi dan bersenang-senang. Sekarang, mereka sengaja mengambil keuntungan komersial dari sana. Penculikan yang menghasilkan uang! Korbannya? Tentu saja para penjahat kerah putih yang tak mungkin melaporkan kasusnya ke polisi! Dan setelah uang diperoleh, tak usah menepati janji. Perkosaan, penyiksaan, pembunuhan, mutilasi, tetap jalan terus! Double bonus!
Tegangan semakin tinggi ketika para pelaku kembali melakukan penculikan, dan kali ini yang menjadi korban adalah anak gadis seorang mantan gangster Rusia. Berpacu dengan waktu, dengan bantuan mantan rekan di kepolisian dan teman-teman baru di dunia bawah tanah termasuk para hacker jaman awal 90-an (setting buku ini), Scudder harus segera menemukan para psikopat itu.
Ya. Tema cerita ini cukup lazim untuk cerita detektif/thriller.
Yang tidak lazim memang tokoh-tokohnya. Termasuk motivasi para pelakunya yang sama sekali tidak menganggap korbannya sebagai manusia begitu mereka masuk ke dalam wilayah kekuasaannya.
Dilema moralnya, apakah Scudder akan membiarkan kliennya membunuh para pelaku kejahatan? Atau sepanjang perbuatan mereka memang sepantasnya diganjar hukuman mati, siapa yang lebih pantas menjadi algojonya selain keluarga korban? Dan apakah sang klien benar-benar sanggup melakukan pembunuhan?
Pilihan dan keputusan yang diambil para tokoh di novel yang mencekam ini membuatku pada akhirnya berseru "Yes!" tanpa lagi memikirkan dilema moralnya.
Verdict:
Tuesday, December 2, 2014
SS-GB
SS-GB by Len DeightonMy rating: 4 of 5 stars
Aku suka berandai-andai.
Karena itu, aku termasuk yang menyukai cerita dengan setting What-If, atau alternate history.
Serial TV Sliders (1995-2000) yang bercerita tentang parallel universes, di mana sejarah di dunia-dunia lain berjalan ke arah yang berbeda-beda dengan dunia kita, juga salah satu serial TV favoritku. Untuk komik, serial Elseworlds-nya DC atau manga Zipang juga jadi bacaan favoritku.
Bagaimana dengan novel?
Sejauh ini Fatherland-nya Robert Harris, yang bersetting di Jerman setelah usai Perang Dunia II di mana Jerman menjadi pemenangnya, masih berada di urutan teratas novel kesukaanku. Tapi, ternyata konon Robert Harris sendiri mendapatkan inspirasi dari novel Len Deighton yang satu ini.
SS-GB bersetting di Inggris pada bulan November 1941, sembilan bulan setelah invasi Jerman yang kemudian menaklukkan dan menduduki Inggris.
Tokoh utamanya adalah Detective Superintendent Douglas Archer, detektif pembunuhan Scotland Yard yang terkenal dengan julukan Archer of the Yard, atau Sherlock Holmes tahun 1940an. Sebagai polisi, ia tetap bersikap profesional, tanpa mempedulikan siapapun yang berkuasa di Inggris.
Ceritanya sendiri dimulai dari penyelidikan pembunuhan di sebuah toko barang antik, yang entah kenapa menimbulkan perhatian pemerintah pusat di Jerman. SS Standartenfuhrer Huth diutus untuk memimpin penyelidikan, dan mengusik ketenangan Gruppenfuhrer Kellerman, yang menjabat sebagai kepala kepolisian di Inggris.
Penyelidikan pembunuhan itu membawa Archer pada kelompok bawah tanah Inggris yang ingin membebaskan sang Raja yang ditahan di Menara London serta penelitian bom atom yang dilakukan secara diam-diam oleh militer Jerman di Inggris. Bukan hanya itu, Archer juga terjebak di tengah-tegah perebutan kekuasaan antara militer Jerman dengan SS, bahkan dalam tubuh SS sendiri, karena Kellerman ingin menyingkirkan Huth yang berpotensi mengambil alih "kerajaan"-nya, sedangkan Huth ingin membersihkan kepolisian Inggris dari pejabat yang korup sekaligus berusaha mencegah militer Jerman mengambil alih kekuasaan di Inggris dari tangan sipil.
Archer yang semula hanya berprinsip menunaikan tugas sebagai detektif dengan sebaik-baiknya pun harus memilih untuk berada di pihak yang mana untuk tetap survive tanpa mengorbankan integritasnya. Membantu kelompok bawah tanah yang pernah berusaha membunuhnya karena profesinya sebagai polisi membuatnya dianggap anjing pemburu Jerman? Membantu Huth membersihkan kepolisian Inggris yang korup? Atau cukup jadi polisi yang lurus dan jujur tanpa peduli apapun yang terjadi di sekitarnya?
Dalam novel ini, karakter yang paling kusukai bukan tokoh utamanya, melainkan Standartenfuhrer Huth. Meskipun ia memilih masuk SS karena prinsip memilih pihak yang menang, dan termasuk jenis atasan yang mementingkan hasil tanpa mau tahu prosesnya, ia adalah gambaran polisi yang efektif, efisien, dan yang paling penting: bersih. Kemampuannya memahami karakter manusia dengan sangat baik membuatnya sanggup membaca strategi dan arah permainan lawan. Pada akhir novel, Huth-lah, dan bukan Archer, yang mengungkap dan menguraikan apa yang sebenarnya terjadi dan apa yang akan terjadi, dalam kaitannya dengan benang kusut konspirasi dan tragedi yang melibatkan Archer.
Omong-omong, kalau membaca tentang Raja Inggris di kurun waktu ini, mau tak mau yang kubayangkan adalah Colin Firth, sebagaimana penampilannya di film The King's Speech. Sayangnya, nasib Raja Inggris di kisah sejarah alternatif ini kurang menguntungkan. Sudah kalah perang, invalid, ditawan di Menara London, lalu masih juga harus... *spoiler alert*
View all my reviews
Friday, October 31, 2014
Curtain: Poirot's Last Case
Curtain: Poirot's Last Case by Agatha ChristieMy rating: 4 of 5 stars
And now, the end is here
And so I face the final curtain
My friend, I'll say it clear
I'll state my case, of which I'm certain
I've lived a life that's full
I traveled each and ev'ry high way
And more, much more than this, I did it my way
Sungguh, lirik lagu Frank Sinatra di atas terus terngiang ketika aku membaca ulang novel terakhir seri Poirot dalam rangka mengikuti event ini:
![]() |
| Tema 1st Published on the Year You Are Born |
SPOILER ALERT! SPOILER ALERT! SPOILER ALERT!
Ups. Telat ya? Dan masih mau baca review ini?
Oke, sekalian saja kutekankan, dengan alasan for the greater good, Poirot melakukan pembunuhan tingkat pertama: pembunuhan terencana. Sebagai detektif vigilante, ia tidak mengambil jalur Batman, tapi jalur Punisher. Tanpa senapan mesin, tentu saja.
Mengapa seorang Poirot harus berbuat sejauh itu? Oke, simak sinopsis di sampul belakang novel ini:
Lima pembunuhan di tempat berbeda, dengan motif berbeda. Hanya satu kesamaannya: X. X terlibat dalam kelima pembunuhan itu dan berada di sekitar lima tempat itu ketika pembunuhan terjadi. X-lah otak kelima pembunuhan itu. Tapi dengan licik dia berhasil menghindar dari kecurigaan orang. Kelima pembunuhan itu begitu sempurna. Sekarang X berada di Styles. Berarti tak lama lagi akan ada pembunuhan di sana.
Baru kali ini Poirot menemukan lawan yang seimbang. Sayangnya Poirot sudah tua. Jantungnya sudah lemah. Memang otaknya masih tetap tajam. Tapi fisiknya sudah uzur dan jantungnya bisa berhenti berdenyut setiap saat. Tinggal menunggu waktu. Dan waktunya yang singkat itu mungkin takkan cukup untuk bisa menyeret X ke pengadilan.
Sebagaimana tercantum dalam sinopsis, kasus terakhir Poirot adalah perfect crimes. Mengapa? Karena lawannya adalah seorang puppetmaster piawai yang menggunakan keahlian berbicaranya untuk mempengaruhi orang lain untuk membunuh. Dan ia melakukan semua itu tanpa motivasi pembunuhan pada umumnya: harta, tahta dan wanita, melainkan hanya demi kesenangan pribadi. Perfect serial killer!
Hanya dengan deduksi tanpa bukti kuat, Poirot harus mencegah orang itu membunuh lagi. Tapi bagaimana caranya, sementara waktunya sudah kian dekat? Okelah, sebagai vigilante yang baik ia pun memanggil sidekick-nya yang setia, Kapten Arthur Hastings, ke Styles (Oh, sengaja betul Dame Agatha Christie menggunakan lokasi di Styles sebagai bookend petualangan Poirot!).
Dan berdasarkan deskripsi Hastings pulalah, kita melihat bagaimana kondisi Porot di penghujung kejayaannya:
Sahabatku yang malang. Aku sudah sering bercerita tentangnya, kukira. Sekarang dia sudah hampir lumpuh diserang penyakit artritis, jadi kalau hendak bergerak ke mana-mana, dia harus menggunakan kursi rodanya. Perawakannya yang dulu gemuk sekarang sudah tidak kelihatan lagi. Sekarang dia sudah menjadi lelaki kecil yang kurus. Wajahnya dihiasi garis-garis ketuaan dan penuh kerut-merut di sana-sini.
Intinya, karena meskipun otaknya masih cemerlang, Poirot sudah susah bergerak sehingga ia meminta sobatnya Hastings untuk membantu di bagian yang lebih aktif dalam rencananya menghentikan aksi si X.
Tapi, seperti biasa, karena Hastings tidak punya poker face, meskipun Poirot sudah tahu siapa si X ini, Hastings tidak diberi tahu, dan akibatnya Hastings (dan pembaca) dibiarkan berada dalam kegelapan dan berusaha menebak-nebak sendiri siapa di X dari sekian banyak tamu di hotel Styles.
Tragedi apa saja yang terjadi di Styles gara-gara lidah berbisa X?
Seorang pria hampir membunuh istrinya dengan alasan yang nggak banget: "salah tembak kukira kelinci liar".
Arthur Hastings sendiri hampir meracuni lelaki buaya darat yang dicurigainya mendekati putrinya, Judith.
Seorang wanita tewas keracunan.
Seorang pria mati tertembak tepat di tengah dahinya.
Benar-benar produktif, apalagi ditutup dengan matinya Poirot karena serangan jantung,
Pada awal novel, dengan nada berat dan sedih Hercule Poirot berkata kepada Hastings: "Akan ada pembunuhan di sini--di tempat ini." Dan itu bukan merujuk pada pembunuhan yang akan dilakukan si misterius X, namun lebih pada pembunuhan yang akan dilakukan Poirot terhadap si X!
Tanpa perlu berpanjang lebar menjelaskan plotnya, salah satu hal yang perlu diperhatikan pembaca (atau calon pembaca) adalah: Poirot sudah biasa menipu Hastings yang jujur, polos dan gampang percaya seumur persahabatan mereka, dan ia tetap melakukannya sampai akhir. Tapi seperti biasa juga, Poirot melempar banyak petunjuk ke hadapan Hastings, dan kalau saja Hastings (dan pembaca) cukup jeli dan sigap menangkap semua sinyal Poirot, sebenarnya tidak sulit untuk menebak identitas X, dan trik yang dilakukan Poirot dalam melaksanakan aksi kriminalnya.
Dalam penjelasan tertulis pada sahabatnya, Poirot tidak menyampaikan justifikasi atas pembunuhan yang dilakukannya.
Aku tak tahu, Hastings, apakah yang kulakukan ini bisa dibenarkan atau tidak. Tidak--aku tidak tahu. Aku tidak percaya bahwa orang boleh main hakim sendiri, boleh menetapkan hukum bagi dirinya sendiri.
Pada akhirnya, boleh dikatakan Poirot mati karena bunuh diri. Serangan jantungnya bisa diatasi andai saja ia meminum obat amyl nitrite-nya. Namun Poirot sengaja menyingkirkan obatnya agar kematian segera datang menjemputnya. Apakah ia melakukannya demi menebus dosa karena telah mengambil nyawa orang lain?
Regrets, I've had a few
But then again, too few too mention
I did what I had to do and saw it through without exemption
I planned each charted course, each careful step along the byway
And more, much more than this, I did it my way
So true. In the end, Hercule Poirot did it his way.
View all my reviews
Tuesday, October 28, 2014
Pena Beracun
Pena Beracun - The Moving Finger by Agatha ChristieMy rating: 4 of 5 stars
Program BUBU (Beli Ulang Baca Ulang) Agatha Christie yang kulakoni ini tantangannya lumayan berat. Masalahnya, buku-buku Agatha Christie itu banyak banget! Kalau dulu bacanya dicicil sejak jaman SD, sekarang... ya tetap dicicil juga sih. Tapi... masalahnya masih banyak timbunan buku TBR lain yang terus memanggil-manggil minta dijamah duluan... (ah, keluhan klise banget ini!)
Tapi... setelah dipikir-pikir buku-buku Agatha Christie itu tipis-tipis kok, bila dibandingkan buku-buku TBR lainnya. Jadilah belakangan ini aku cukup rajin membaca Agatha Christie lagi.
Buku Pena Beracun alias The Moving Finger ini termasuk salah satu buku Agatha Christie favoritku. Namun setelah membacanya kembali saat ini, sepertinya terdapat beberapa hal yang rasanya ingin kukomentari sedikit:
1. Buku ini mengingatkanku pada buku-buku Enid Blyton.
Sebagai pembaca setia karya Enid Blyton, aku merasa cukup banyak cerita misteri dan petualangan yang dimulai karena para tokoh utamanya baru sembuh dari sakit, dan harus melakukan tetirah alias memulihkan kesehatan dengan pergi beristirahat di tempat lain (umumnya daerah pedesaan). Lantas, mau tak mau, sengaja tak sengaja, terlibat misteri atau petualangan.
Buku ini dimulai dengan gaya yang persis sama. Naratornya, Jerry Burton, yang baru sembuh dari kecelakaan pesawat, melakukan tetirah ditemani oleh adiknya ke sebuah desa terpencil. Dan terlibat misteri? Ya iyalah.
2. Buku ini mengingatkanku pada salah satu buku Pasukan Mau Tahu
Sebenarnya, ditilik dari ceritanya (di luar kasus pembunuhannya), judul buku ini mungkin lebih pas bila diterjemahkan menjadi Misteri Surat Kaleng seperti buku The Mystery of the Spiteful Letters-nya Pasukan Mau Tahu. Isi surat-surat tanpa nama pengirim itu sama-sama spiteful dan sok tahu, bagai tulisan wartawan tabloid gosip yang malas melakukan check and re-check terhadap sumber beritanya. Dan suratnya tidak ditulis dengan pena, beracun maupun tidak.
Konon, judul asli buku ini diambil dari salah satu ayat dari terjemahan Rubaiyat Omar Khayam yang dialihbahasakan oleh Edward Fitzgerald:
The Moving Finger writes; and, having writ,
Moves on: nor all thy Piety nor Wit
Shall lure it back to cancel half a Line,
Nor all thy Tears wash out a Word of it
3. Kisah si Itik Buruk Rupa
Sepertinya yang dulu membuatku suka pada buku ini adalah cerita dongengnya. Tentang seorang gadis desa yang berpenampilan jelek dan sederhana, dan merasa "tidak diinginkan siapapun", namun setelah didandani sebentar di kota langsung berubah cantik, dan membuat si narator jadi merasa sebenarnya ia telah jatuh cinta pada si gadis.
Hm... My Fair Lady hanya dalam satu hari.
4. Miss Marple cuma tampil sebentar di penghujung buku.
Mungkin ini juga yang membuatku suka pada buku ini? Entah mengapa buku-buku Miss Marple bagiku lebih menarik kalau fokus utamanya bukan si detektifnya. Berbeda halnya dengan buku-buku Hercule Poirot, aku merasa keberatan kalau Poirot cuma muncul sebentar :))
View all my reviews
Sunday, October 26, 2014
Death on the Nile
Pembunuhan Di Sungai Nil by Agatha ChristieMy rating: 3 of 5 stars
Kalau dipikir-pikir, cerita Agatha Christie sering dimulai dari sebuah kebetulan.
Seringkali kebetulan itu dimulai dengan Hercule Poirot yang duduk di sebuah restoran atau lobby hotel sambil iseng mengobservasi apa dan siapa saja. Bukan hanya itu, telinganya juga telinga neraka, yang mampu menangkap (menguping?) pembicaraan orang lain meskipun tidak kepingin. Belum lagi ditambah betapa perseptifnya Poirot dalam psikologi, terutama dalam urusan cinta dari sepasang insan.
Une qui aime et un qui se laisse aimer--seseorang yang mencinta dan seorang yang menjauhi cinta.
Di atas semuanya, semua observasi iseng Poirot pastinya disimpan di salah satu loci di sel-sel kelabu otaknya, dan dapat ditarik keluar kapan saja ia mau.
Karena itu, tak heran apabila kebetulan beberapa bulan kemudian Poirot bertemu dengan orang-orang yang sempat jadi bahan observasinya, ia bisa ingat lagi kapan dan di mana pernah melihat atau mendengar mereka.
Kasus yang dihadapi Poirot di buku ini murni disebabkan oleh motivasi pembunuhan paling umum sepanjang sejarah manusia: harta dan cinta.
Demi harta, seseorang dapat melakukan apa saja, termasuk membunuh orang lain.
Demi harta, seseorang bisa lupa akan bahaya dan mencoba memeras seorang pembunuh.
Demi cinta, seseorang bisa membiarkan orang yang dicintainya membunuh orang lain demi harta, dan bisa membunuh orang yang dicintainya supaya tidak menderita saat segalanya terungkap.
And know I'm falling apart, it's killing my heart
Again and again and again
Love made me stupid, love made me do it
Love made me mess up everything in my life
Omong-omong, sejauh ini aku nggak menebar spoiler, kan? Menebar plot ceritanya saja nggak... :)
Kucing di Tengah Burung Dara
Kucing di Tengah Burung Dara by Agatha ChristieMy rating: 3 of 5 stars
Waktu mencari arti kiasan cat among the pidgeons di internet, yang kudapat adalah ini:
to put/set cat among the pidgeons:
to do or say something that causes trouble and make a lot of people angry or worried.
Yah, sebenarnya sih yang terbayang di kepala benar-benar harfiah, seperti ini:
![]() |
| Olahraga, Cuy! |
Ceritanya sendiri tidak seharfiah itu, sih, dan tidak ada detektif yang berusaha mencari kucing garong mana yang telah membunuh tiga ekor burung dara dengan kejamnya.
Kisahnya sendiri dimulai dengan semester baru di sekolah asrama putri Meadowbank, yang merupakan salah satu sekolah paling berhasil di Inggris. Dengan setting Inggris tahun 1950-an, jelas yang terbayang adalah sekolah asrama versi Enid Blyton, semisal Malory Towers atau St. Clare, bukannya Sekolah Sihir Hogwarts.
Tapi yang jelas, selain di Sekolah Sihir Hogwarts, sepertinya di Inggris jarang terdapat kisah pembunuhan yang terjadi di sekolah, beda banget dengan manga Jepang, yang sepertinya sering terjadi di sekolah Kindaichi.
Nah, di novel ini, ada pembunuhan di sekolah. Dan tidak cukup satu, tapi sampai tiga orang yang jadi korban!
Apakah ini pembunuhan serial? Seram banget kalau iya, mending pindah sekolah saja!
Siapakah pelakunya? Satu atau sekelompok orang? Apa motivasinya?
Sebenarnya, di awal novel diceritakan pula apa yang kira-kira menjadi penyebab dari kekacauan di sekolah bergengsi ini. Dari kancah revolusi di Timur Tengah, Pangeran Ali Yusuf berusaha menyelundupkan harta karun berupa permata keluarga ke luar negeri lewat pilotnya, Bob Rawlinson. Belakangan mereka berdua tewas ketika pesawat yang mereka naiki disabotase. Koleksi permata sang pangeran tidak pernah ditemukan.
Lalu apa hubungannya dengan sekolah asrama yang jadi TKP?
Konon ada yang melihat Bob Rawlinson menyembunyikan sesuatu di antara barang bawaan adik perempuannya dan keponakan perempuannya yang sedang berkunjung ke negara si pangeran. Karena itu, pihak intelejen Inggris memusatkan pencarian permata di sekolah keponakan Rawlinson, Jennifer Sutcliffe. Apalagi, keponakan Pangeran Ali, Shaista juga bersekolah di sana.
Lalu di bawah hidung pihak intelejen, pembunuhan-pembunuhan mulai terjadi. Dimulai dari guru olahraga, Miss Springer (namanya cocok sekali dengan profesi, ya!), lalu Miss Vansittart, dan akhirnya Miss Blanche. Belum cukup kasus pembunuhan, Shaista juga diculik!
Sayang sekali, Poirot baru terlibat di akhir buku. Itu pun setelah seorang murid, Julia Upjohn, kabur dari asrama untuk meminta bantuannya karena pernah mendengar cerita tentang kehebatan Poirot. Terutama karena Julia... menemukan permatanya!
View all my reviews
Sunday, October 19, 2014
The Body In The Library
Mayat Dalam Perpustakaan by Agatha ChristieMy rating: 3 of 5 stars
"Aduh, Nyonya, aduh, Nyonya, ada mayat dalam perpustakaan."
Menurut Agatha Christie, untuk cerita-cerita detektif, plot yang umum dan terkenal adalah mayat yang ditemukan dalam perpustakaan. Dan ia ingin membuat salah satu variasinya, dan mencurahkan keinginan itu dengan menuliskan novel dengan judul yang sangat harfiah ini.
Oke, pertanyaannya: kenapa harus di perpustakaan???
Apakah tidak ada tempat lain yang lebih cocok untuk membunuh orang atau membuang mayat? Perpustakaan sudah cukup membuat alergi kebanyakan orang tanpa harus ditambah embel-embel ada mayat di situ sehingga hanya para pemburu hantu saja yang berkenan masuk ke dalamnya.
Dalam novel ini, ternyata perpustakaan bukanlah tempat pembunuhan yang sebenarnya. Bahkan, bukan si pelaku kejahatan yang menitipkan mayat di situ (Oke, ini spoiler sebenarnya!).
Jadi, si pemilik rumah yang perpustakaannya mendadak jadi crime scene tidak tahu apa-apa. Tapi, meskipun ia tidak bersalah, yang namanya gosip, semakin digosok semakin sip. Apalagi mayat yang ditemukan seorang gadis muda belia yang cantik.
Misi Miss Marple membantu penyelesaian kasus ini sederhana saja. Selain menangkap pelakunya dan mencegah adanya pembunuhan lain, yang paling penting adalah menjernihkan gosip yang dapat selamanya mencoreng nama baik si pemilik rumah, yang juga kenalan baiknya.
Seperti layaknya cerita misteri, ada beberapa red herring di sini. Selain ada pemindahan mayat, ada juga penukaran mayat (iya, iya, ini juga spoiler!). Jika dan hanya jika pembaca mau repot-repot membaca secara detail, ia bisa mendahului Miss Marple menebak alur cerita dan pelakunya...
View all my reviews
Wednesday, October 8, 2014
Heat Wave
Heat Wave by Richard CastleMy rating: 4 of 5 stars
Don't judge a book by its cover.
Well, ini saran yang sering kulanggar. I do judge a book by its cover. Terutama sampul belakangnya. Maksudnya, karena foto penulis yang dipajang di sana. Terus terang, aku menjadi penggemar Richard Castle karena dia ruggedly handsome, sih. Habisnya, dia mirip banget dengan si ganteng Nathan Fillion yang jadi Kapten Malcolm Reynolds di Firefly, serial TV Joss Whedon favoritku (setelah Buffy the Vampire Slayer, tentu saja).
![]() |
| Richard Castle... he really is ruggedly handsome! |
![]() |
| Nathan Fillion as Capt Mal Reynolds... he really is ruggedly handsome, too! |
Oke, oke aku memang shallow. Mau bagaimana lagi? I <3 Castle, very very much.
Jadi, karena foto di sampul belakang itu, nggak salah dong kalau aku membayangkan Rick Castle sebagai Derrick Storm? Dan nggak salah dong, kalau aku nangis bombay waktu tahu Castle membunuh Storm di Storm Fall? Aduh, itu kan sama saja dengan bunuh diri! (T.T)
Untunglah, akhirnya Castle menerbitkan buku ini. Tapi... masa sih, untuk menulis buku ini, Castle harus membuntuti seorang detektif wanita NYPD kemana-mana. Berbulan-bulan pula! Ugh! Aku nggak suka!!!
Dan setelah baca bukunya, aku tambah tidak suka! Terutama pada tokoh utamanya, Nikki Heat. Detektif wanita yang cantik dan seksi bak model bikini. Huh! Yang benar saja! Dari namanya yang mirip nama stripper saja, kita tahu dia bukan perempuan baik-baik.
Tapi... masih ada yang membuatku sedikit terhibur, sih. Aku masih bisa membayangkan tampang Castle sebagai jurnalis investigasi Jameson Rook, yang membuntuti Nikki Heat kemana-mana! Sip!
Kalau dilihat dari jalan ceritanya, Castle telah kembali ke akarnya sebagai penulis cerita misteri. Misteri pembunuhan seorang taipan real estate yang mati gara-gara terjun bebas dari balkon di lantai enam sekaligus cerita heist. Cerita detektif standar, dengan bumbu humor dan... roman.
Yang aku tidak suka, ada adegan olahranjang antara Jameson Rook dan Nikki Heat. Di tengah-tengah buku pula!
Kalau dilihat karakternya, jelas-jelas Jameson Rook mencerminkan Castle, sedangkan Nikki Heat terinspirasi dari si detektif wanita itu, Kate Beckett. Duh. Jangan-jangan ada apa-apa antara Castle dengan Beckett. Adegan olahranjang itu nggak mungkin cuma fantasi dan imajinasi Castle saja! Pasti berdasarkan kisah nyata. Uuh, aku nggak suka!!! Dasar perempuan jalang! Berani-beraninya merayu Castle! He's mine!!!
Anyway, di luar karakter Nikki Heat, aku suka serial baru Castle ini. Jameson Rook-nya bukan cuma ganteng dan seksi, tapi juga witty. Mirip Castle, pokoknya. Empat dari lima bintang deh!
Ah... aku memang bias <3 <3 <3
Castlefreak288
N.B.
Review ini dibuat dari sudut pandang seorang penggemar hardcore (fiktif) dari Richard Castle.
Abaikan bahwa Richard Castle hanya tokoh fiktif.
Abaikan bahwa Richard Castle memang diperankan Nathan Fillion.
Review aslinya singkat saja:
Novel tie-in pertama dari serial TV Castle ini nyaris copas dari serial TV-nya. Namanya juga "terinspirasi kisah nyata", maka bukan hanya karakter Richard Castle dan Kate Beckett yang tampil di sini, melainkan juga para pemeran pembantu, seperti Esposito, Ryan, Lanie, bahkan Kapten Montgomery. Dengan perubahan nama, tentunya, meskipun ada juga yang inisialnya tetap sama.
Jalan ceritanya juga bisa dibilang copas dari serial TVnya. Drama prosedural kepolisian dengan bumbu komedi dan roman. Ada beberapa kalimat yang diucapkan para karakter di serial televisinya yang dikutip di novel ini. Perbedaan yang sangat signifikan memang bumbu romannya. Di novel ini tidak ada yang namanya deferred gratification. Nikki Heat dan Jameson Rook tidak butuh waktu empat tahun untuk naik ranjang. Namanya juga masturbasi verbal literal dari Rick Castle :P
Misterinya sendiri... gampang ditebak sih sebenarnya. Tapi aku tetap memberikan empat dari lima bintang, simply karena aku suka serial TV-nya.
Iya, iya... aku memang bias <3 <3 <3
Sebagai bonus suka-suka, kutambahkan pelajaran grammar dari Richard Castle ya...
View all my reviews
Monday, October 6, 2014
Trio Detektif: Misteri Puri Setan
Misteri Puri Setan by Robert ArthurMy rating: 3 of 5 stars
Untuk generasi 80/90-an, kalau bicara tentang bacaan wajib remaja di kala itu tidak mungkin melewatkan serial Trio Detektif. Pada masa itu, aku turut membaca semua jilid terjemahannya baik dengan cara pinjam dari teman atau taman bacaan. Namun serial ini tidak masuk daftar prioritas untuk dibeli dan dikoleksi, maklumlah, namanya juga anak sekolah dengan uang saku terbatas. Dari sekian puluh jilid, buku Trio Detektif yang kumiliki masih bisa dihitung jari, sebelah tangan pula.
Jadi, ketika mengetahui GPU menerbitkan ulang serial Trio Detektif, aku pun membeli versi terbarunya ini.
Dan, kesan setelah membaca ulang buku pertama Trio Detektif ini adalah....
1. Wow! Betapa waktu telah lama berlalu!
Buku ini langsung membuatku sadar bahwa setting-nya berada di masa lalu. That 70's Show! Pembaca sama sekali tidak bisa membayangkan bahwa para tokoh utama buku ini, Jupiter Jones, Pete Crenshaw dan Bob Andrews, beraksi di abad 21.
Mengapa? Jelas karena teknologi yang digunakan.
Please deh... para remaja di novel ini masih terkagum-kagum pada telepon di mobil Rolls Royce yang berhak digunakan Jupiter Jones berkat menang undian. Di zaman novel ini terbit pertama kali, yaitu di akhir 1960-an, bahkan di zaman ketika aku pertama kali membacanya, telepon di mobil (bukan mobile phone) benar-benar masih kemewahan yang tak bisa dinikmati rakyat jelata. Tapi sekarang, di zaman pengemis yang nongkrong di jembatan penyeberangan saja bermodalkan telepon seluler, telepon mobil jelas-jelas sudah amat sangat ketinggalan zaman.
2. Tidak ada lagi Alfred Hitchcock!
Sutradara ternama yang memberikan endorsement gratis bagi Trio Detektif bukan lagi Alfred Hitchcock. Padahal seumur-umur aku membaca serial ini, namanya selalu nampang lebih dulu dari nama Trio Detektif, seperti di cover depan versi jadul novel ini:
![]() |
Wohoho, lebih gede ukuran font buat tulisan Alfred Hitchcock-nya ketimbang Trio Detektif-nya. Dan itu potret sang sutradara dengan pose khasnya jelas sekali. Omong-omong tentang cover jadul tahun 80-an ini, gambaran ketiga remaja yang jadi boga lakon serial ini kenapa tua banget kayak orang kantoran ya?
Alfred Hitchcock sudah meninggal dunia tahun 1980, jadi mungkin untuk konsumsi pembaca remaja jaman sekarang, sutradara film yang "dipaksa" memberikan endorsement bagi Trio Detektif diubah namanya menjadi Albert Hitfield, sehingga jadi sama fiktif-nya dengan para tokoh utama. Dan tentunya, karena itu tidak pantas lagi dipasang di cover buku untuk menarik perhatian.
3. Copyright
Menilik halaman copyright, penerbitan ulang serial Trio Detektif ini tidak dari Random House lagi, melainkan dari Franckh-Kosmos Verlags-GmbH & Co, KG, Stuttgart, Germany. Aku tidak tahu alasannya. Barangkali ada yang bisa memberikan pencerahan?
Untungnya, terjemahan novel ini tetap menggunakan terjemahan lama dari Agus Setiadi. Coba kalau tiba-tiba menggunakan versi Jerman. Jupiter Jones-nya bisa-bisa ganti nama jadi Justus Jonas. Lah, kan nantinya nggak bisa dipanggil Jupe (tidak ada hubungannya dengan penyanyi dangdut tertentu).
4. Tokoh Utama
Um... kenapa ya, kalau dipikir-pikir lagi, otak kelompok detektif ini, Jupiter Jones, karakternya mirip dengan otak kelompok detektif remaja-nya Enid Blyton di serial Pasukan Mau Tahu alias Five-Find Outers, Frederick Algernon Trotteville alias Fatty.
Bukan hanya dari kecemerlangan sel-sel kelabunya yang sama, sifat arogannya juga sama. Belum kalau kita bicara dari segi fisik, di mana keduanya juga sama-sama... montok.
Apakah Robert Arthur terinspirasi dari buku-buku Enid Blyton? Who knows.
5. Misteri
Alfred Hitchcock Hitfield butuh lokasi untuk film horornya, dan Jupe yang sok aksi menawarkan jasa mencarikan rumah hantu, tanpa meminta bayaran, melainkan endorsement untuk publisitas kisah pengalaman kelompok detektifnya.
Untuk tantangan ini, terpilihlah rumah yang terkenal berhantu selama lebih dari dua puluh tahun, Terror Castle alias Puri Setan.
Trio Detektif harus mengungkap kebenaran mengenai hantu biru yang bermain orgel, kabut kengerian, sampai jeritan menyeramkan yang membuat orang terberani sekalipun lari tunggang langgang.
Dan, spoiler alert, ternyata petualangan pertama Trio Detektif ini lebih mirip cerita Scooby-Doo ketimbang Ghostbusters. Boleh dibilang jalan cerita dan misteri hantu yang dihadapi Trio Detektif standar saja bagi mereka yang biasa nonton serial kartun Scooby-Doo.
6. Akhir Kata
Layak koleksikah serial ini?
Buatku, ya. Terlepas dari ceritanya, yang setelah kubaca ulang malah terasa jadul dan standar, aku tetap akan mengoleksi serial ini.
Alasannya sederhana saja: demi kenangan masa lalu.
View all my reviews
Subscribe to:
Posts (Atom)































