Showing posts with label legal-thriller. Show all posts
Showing posts with label legal-thriller. Show all posts

Friday, May 1, 2015

The Client

Klien (The Client)Klien by John Grisham
My rating: 4 of 5 stars

Pertama kali dibeli dan dibaca pada bulan Agustus 1994.

Dibaca kembali dalam rangka Program BUBU pada tanggal 20 April 2015.

======================================================


Sinopsis:
Mark Sway, analk laki-laki berusia sebelas tahun, menyaksikan tindakan bunuh diri seorang pengacara New Orleans. Sebelum meninggal, sang Pengacara menceritakan pembunuhan atas seorang senator Louisiana. Pembunuhnya, anggota mafia, Barry Muldanno, akan segera diajukan ke pengadilan. Polisi, FBI, dan Jaksa Penuntut Umum Federal memaksa Mark membuka suara. Namun membuka suara berarti mengundang bahaya bagi dirinya serta keluarganya. Maka, Mark tetap menutup mulut rapat-rapat.

Untuk mewakilinya, Mark menyewa Reggie Love dengan bayaran satu dolar. Pengacara wanita ini ulet dan senang menolong anak-anak. Berdua mereka menghadapi tekanan serta ancaman dari kiri-kanak. Ketika semua jalan tampaknya telah tertutup, Mark mengusulkan suatu rencana-rencana gila yang berbahaya. Tapi hanya itu satu-satunya jalan yang mungkin berhasil.

Sekedar komentar:
Sudah lewat dari dua puluh tahun sejak pertama kali aku membaca novel ini. Tentu saja, sudah lazim apabila kita membaca salah satu buku favorit yang pernah menjadi bacaan kita dari sisi lain.

Dan komentarku setelah membaca buku ini lagi: D.u.h.

Kalau dipikir-pikir lagi, sebenarnya novel ini tak perlu tebal-tebal amat.

Kalau dipikir-pikir lagi, secara logika, dengan mengabaikan rasa takut si anak kecil, seandainya sejak awal Mark Sway jujur saja pada pihak berwenang tentang apa yang dialami dan didengarnya, dan masuk Program Perlindungan Saksi, maka urusan selesai. Pilihan yang diambilnya malah mempersulit keadaan dan memperpanjang masalah.

Tapi ya kalau seperti itu, memang tidak bakal ada cerita dan bisa-bisa novelnya malah jadi novelet, atau cerpen sekalian.

Rating buku ini kupertahankan dengan alasan sentimental karena aku menyukai buku ini waktu membacanya untuk pertama kali. Dan aku memang suka karakter Reggie Love yang diperankan oleh Sigourney Weaver pada versi adaptasi filmnya yang rilis pada tahun 1994.

Omong-omong, apa kabar Brad Renfro yang memerankan Mark Sway, ya? Setelah terakhir aku melihatnya berakting di Apt Pupil-nya Stephen King, aku belum pernah melihatnya lagi. Sedih memang kalau ada aktor muda yang bagus tersesat di jalan dan susah untuk kembali.

View all my reviews

The Pelican Brief

The Pelican BriefThe Pelican Brief by John Grisham
My rating: 4 of 5 stars

Conspiracy Theory.

Mungkin judul novel yang pertama kali terbit pada tahun 1992 dan diangkat menjadi film pada tahun 1993 ini bisa diganti menjadi seperti itu. Tapi syukurlah tidak demikian, karena empat tahun kemudian Julia Roberts, yang jadi boga lakon dalam versi filmnya bakal main dalam film berjudul Conspiracy Theory bersama Mel Gibson. Lagipula, judulnya Mr. Grisham ini orisinil dan otentik banget, gitu.

Terus, macam mana pula konspirasi dan teorinya?

Begini ceritanya. Dua orang hakim agung AS dibunuh dalam waktu yang berdekatan. Tanpa jejak, tanpa petunjuk, tanpa tersangka. Lalu, seorang mahasiswi hukum bernama Darby Shaw membuat analisis dari kedua kasus pembunuhan itu, dengan menelusuri kasus-kasus yang memiliki kemungkinan besar akan ditangani oleh salah satu dari kedua hakim agung, dan memiliki kemungkinan besar bahwa keputusan para hakim agung itu bakal sangat merugikan pihak tertentu. Laporan analisis tersebut kelak dijuluki Pelican Brief, karena kasus yang dirujuk si mahasiswi melibatkan kasus lingkungan hidup yang dapat mempengaruhi hayat hidup sang burung yang keberadaannya dilindungi oleh negara.

Novel John Grisham yang ketiga ini lebih menjurus pada legal-thriller ketimbang drama pengadilan, lebih mirip novel The Firm ketimbang A Time to Kill.

Thomas Callahan, dosen merangkap pacar Darby memberikan laporan tersebut kepada temannya di FBI. Tak lama kemudian, ia tewas dalam ledakan bom mobil, yang seharusnya juga sekaligus membunuh Darby, sang penulis laporan. Dan ketika Darby hendak meminta perlindungan dari FBI, teman Callahan juga menjadi korban pembunuhan berikutnya. Akhirnya Darby menjadi paranoid dan beralih meminta bantuan pada Gray Grantham, seorang wartawan investigasi.

Padahal, meskipun isinya menarik, laporan Darby kemungkinan besar bakal tidak bakal terlalu menarik perhatian. Namanya juga cuma teori konspirasi yang dibuat anak kuliahan. Tapi gara-gara Darby dijadikan sasaran, tentu saja pihak-pihak yang pernah membaca laporan itu menjadi sadar bahwa teori pelikan itu kemungkinan besar tepat sasaran.

Versi adaptasi film ini, yang dibintangi Julia Roberts dan Denzel Washington, boleh dibilang menegangkan sebagai film thriller. Dan akibatnya, termasuk ke dalam deretan film yang kuanggap kurang berkesan dan tidak perlu ditonton dua kali. Tapi... bisa juga sih karena kedua pemerannya bukan termasuk aktris/aktor favoritku.


View all my reviews

Sunday, April 19, 2015

The Firm

Biro Hukum (The Firm)Biro Hukum by John Grisham
My rating: 4 of 5 stars

#Program BUBU

The Firm yang terbit untuk pertama kali pada tahun 1991 ini merupakan novel kedua John Grisham. Nasibnya berbeda dengan novel pertama, A Time to Kill, yang ditawarkan pada belasan penerbit namun mengalami penolakan demi penolakan. Menurut pendapatku pribadi, mungkin saja karena tema ceritanya tergolong mainstream, Hollywood-friendly, dan tidak sekontroversial buku pertamanya. Meskipun aku cenderung lebih menyukai A Time to Kill yang terasa lebih personal, tapi jelas karena kesuksesan novel kedua inilah Grisham menjadi novelis best-seller, dan barulah kemudian orang-orang menjadi tertarik untuk membaca karya pertamanya. Dan gara-gara kesuksesan novel ini pula Grisham berhenti menjadi pengacara jalanan layaknya Jake Brigance, dan memfokuskan diri untuk menjadi penulis novel.

Novel ini bertutur tentang petualangan Mitch McDeere, fresh graduate top dari Harvard Law School, yang mendapatkan tawaran too good to be true aka too good to refuse dari biro hukum spesialis pajak Bendini, Lambert & Locke yang berbasis di Memphis.

Tapi, itu baru di awal cerita, bukan di akhir dongeng di mana Mitch dan istrinya, Abby, live happily for ever after. Meskipun semula memang terasa demikian.

Belum lama bekerja, Mitch menemukan beberapa kematian/kecelakaan misterius yang menimpa pengacara-pengacara di biro hukumnya. Masih jadi anak bawang, ia sudah didekati oleh agen FBI, yang berusaha merekrutnya dengan menjelaskan bahwa kematian-kematian para pengacara itu ada sebabnya: biro hukumnya merupakan biro milik mafia yang spesialisasinya mengurus cuci uang hasil kejahatan terorganisasi secara "legal".

Pilihan bagi Mitch tidak banyak: bekerja sama dengan FBI, mencari bukti bagi mereka dan menjadi saksi kunci, mencoba keluar dari biro hukum dan kemungkinan besar bakal mati misterius, atau tetap bekerja tanpa mengindahkan tawaran FBI dan pada suatu hari nanti kemungkinan bakal didakwa terlibat dalam kegiatan ilegal bersama semua pengacara di Bendini, Lambert & Locke, sekiranya FBI bisa mengumpulkan bukti dan saksi dengan cara lain.

Sebagai fresh graduate yang masih idealis, mendapati biro hukum impiannya ternyata tidak sebersih yang dibayangkan menjadi masalah besar buat Mitch. Tetap bekerja di sana sambil tutup mata sama sekali bukan pilihan, Tapi, pilihan lain yang ada sama sekali tidak menarik. Keluar dari biro begitu saja apalagi bekerja sama dengan FBI sama-sama memiliki risiko tinggi.

High risk, high return. Begitu hukum investasinya, bukan? Kalau memang memilih yang berisiko tinggi, kenapa tidak sekalian mendapatkan hasil yang tinggi pula? Mitch harus mencari pilihan yang sesuai dengan hati nurani, dan meskipun berisiko tinggi, ia dapat tetap hidup tanpa memikirkan konsekuensi yang harus ditanggungnya dari mafia ataupun terpaksa mengikuti program perlindungan saksi FBI.

Jujur saja, ini bukan novel drama pengadilan. Dan plotnya yang Hollywood banget membuatnya cocok untuk diadaptasi. Tak lama setelah terbit, novel ini dibuat adaptasi filmnya yang rilis pada tahun 1993, dengan sutradara Sidney Pollack dan casting terdiri dari nama-nama seperti Tom Cruise, Gene Hackman atau Ed Harris. Pada tahun 2012, novel ini juga diadaptasi ulang menjadi serial televisi.


Terus terang, karena aku bukan penggemar Tom Cruise, sepertinya aku cuma menonton versi adaptasi filmnya sebanyak satu kali, dan tidak terlalu kepingin untuk menonton ulang. Ternyata efek aktor di film juga kadang berimbas pada keinginan untuk membaca versi novelnya. Novel ini termasuk novel Grisham yang paling jarang kubaca ulang, kemungkinan besar karena covernya yang memajang foto pemeran utamanya besar-besar. Bias? Tidak objektif? Tentu saja. Mungkin aku harus membeli edisi lain yang memiliki gambar cover yang berbeda. 


View all my reviews

A Time to Kill

Saat Untuk Membunuh - A Time to KillSaat Untuk Membunuh - A Time to Kill by John Grisham
My rating: 4 of 5 stars

#Program BUBU

Beberapa hari lalu aku membaca novel John Grisham yang berjudul Sycamore Row. Seperti lazimnya sebagian besar novel Grisham, ceritanya seputar drama pengadilan. Namun, untuk novel ini kita dipertemukan lagi dengan tokoh pengacara dari novel pertamanya, Jake Brigance. Mau tak mau, setelah menamatkan novel itu, aku jadi teringat pada tumpukan novel John Grisham dari Program Beli Ulang Baca Ulang yang mendekam dalam kontener di sudut kamar kost.

Meskipun terlantarnya koleksi BUBU John Grisham itu jelas disebabkan aku lebih memprioritaskan timbunan novel lain yang jelas-jelas belum pernah kubaca, tapi dipikir-pikir lagi sudah saatnya aku membaca ulang karya-karya John Grisham. Apalagi, dia termasuk salah satu penulis favoritku, terutama dari subgenre legal-thriller.

A Time to Kill ini merupakan novel pertama Grisham, yang dituliskannya di sela-sela pekerjaannya sebagai pengacara. Kalau kita ingin mengetahui seperti apa Grisham sebagai pengacara saat masih berpraktek, kita tidak usah mencari tahu jauh-jauh, cukup dengan membaca karakter utama di novel ini: Jake Brigance, sebagaimana yang diakui Grisham pada kata pengantar.

Novel ini sangat kuat dalam detil proses sidang pengadilan, dan juga sangat membangkitkan emosi. Pembaca akan dihadapkan pada dilema yang sama dengan yang dihadapi juri pada kasus pidana yang disidangkan di sini: pembunuhan tingkat pertama, pembunuhan terencana dari seorang ayah terhadap dua laki-laki yang telah memperkosa dan menganiaya putrinya yang baru berusia sepuluh tahun.

Pantaskah seseorang yang telah melakukan pembunuhan secara terencana dibebaskan? Pantaskah suatu pembunuhan dilihat dari siapa korbannya dan apa motivasi di balik pembunuhan? 

Beberapa novel misteri Agatha Christie, khususnya dengan Hercule Poirot sebagai detektifnya, menunjukkan sang detektif kadang menutup mata dan berpaling ke arah lain, membiarkan sang pembunuh bebas apabila ia menganggap sang korban memang pantas dibunuh. Seperti halnya kalau kita membaca cerita silat, di mana pembaca mendukung misi sang tokoh utama untuk membalas dendam dan membunuh musuh bebuyutannya, tanpa ada konsekuensi si tokoh utama ditangkap pihak yang berwenang dan diadili atas perbuatannya.

Hal ini akan berbeda apabila dibawa ke ranah serial komik Detektif Conan misalnya, di mana pembunuh tetap harus ditangkap, apapun motivasinya dan tak peduli betapapun jahatnya sang korban. Namun demikian, kita takkan pernah tahu bagaimana nasib mereka setelah dibawa ke pengadilan. 

Dalam A Time to Kill, pembaca tidak hanya dihadapkan pada konflik utama yang telah disebut di atas. Konflik makin panas karena masalah ras pihak yang terlibat. Pelaku pembunuhan berkulit hitam, sementara dua orang korbannya berkulit putih. Dan semua ini terjadi di Ford County di Negara Bagian Mississippi, di mana sebagian besar penduduknya berkulit putih. Apabila seluruh juri yang terpilih berkulit putih, apakah sang terdakwa bisa memiliki kesempatan untuk mendapatkan sidang yang adil? Dan apa yang akan terjadi apabila sang pengacara yang berkulit putih menjadi incaran para rasis Ku Klux Klan yang menganggap ia telah mengkhianati rasnya sendiri dengan membela pembunuh berkulit hitam. Hanya dengan melakukan pembelaan di sidang pengadilan saja, Jake Brigance telah diteror habis-habisan. Bagaimana apabila ia bisa, sekecil apapun peluangnya, membebaskan klien-nya dari segala dakwaan?

Selesai membaca ulang novel ini, aku juga jadi mendadak ingin menonton ulang versi adaptasi filmnya, yang rilis pada tahun 1996, yang disutradarai Joel Schumacher dan melibatkan cast ensamble yang kuat, antara lain Matthew McConaughey, Samuel L. Jackson, Kevin Spacey, Sandra Bullock, dan Donald Sutherland. 


View all my reviews