Showing posts with label kuliner. Show all posts
Showing posts with label kuliner. Show all posts

Wednesday, December 9, 2015

Happy Tummy


Judul : Happy Tummy

Penulis : Mariska Tracy

Penerbit : GagasMedia

Tebal : xii + 204 halaman

Tanggal terbit : 27 Mei 2015

Tanggal perolehan : 6 Desember 2015

Tanggal dibaca : 9 Desember 2015

Sinopsis :
Siapa yang happy kalau dapat makanan gratis? Hayo, ngacung!

Oke, gue juga, kok.
Hobi gue itu makan-dengan-porsi-banyak.
Nah, demi menyalurkan hobi gue tersebut, gue suka ikutan lomba makan.
Ini artinya, gue bisa makan gratis sebanyak-banyaknya dan dapat hadiah pula!

Lomba makan? Iya, lomba makan yang kayak di TV Champion itu.

Menurut gue, jadi competitive eater itu merupakan cita-cita yang keren.
Coba bayangkan bagaimana bangganya saat lo bisa menghabiskan makanan
enak dalam waktu singkat?! Lo nggak hanya bisa menikmati makanan
superenak, tapi bisa terkenal kayak gue.
Hahaha…. Yang penting, gue happy ketemu makanan.

Yuk, ikuti cerita seru gue yang kata orang “Jago Makan” ini.
Selamat makan, eh, selamat membaca!


Review :
Aku menemukan buku ini di meja bookswap IRF 2015. Karena ini buku baru, pastinya hasil sumbangan dari penerbit GagasMedia. Apalagi memang ada cap "Buku Ini Tidak Dijual" dan "Persembahan Penerbit". Dan ada tanda tangan penulisnya pula. Tapi kalaupun mencoba mengingat-ingat,  aku lupa buku mana yang kutukar dengan buku ini.

Anyway, seperti biasa aku mengambil buku ini dengan penuh perasaan. Itu lho, perasaan "sepertinya menarik" yang selalu jadi patokanku kalau menemukan buku (dan penulis) yang belum pernah kulihat dan kudengar sebelumnya lewat media apapun. Maklum, sudah lama aku tidak membaca majalah (penulisnya reporter majalah GADIS, majalah remaja yang terakhir kali kubaca waktu aku masih SMA). Dan aku juga bukan tipe yang mengikuti dunia perkulineran.

Kuliner? Ini buku kuliner?

Ya. Nyenggol dikit-lah. Buku ini cukup unik: personal literatur penulis sebagai cewek jago makan yang doyan lomba makan.

Buatku yang kalau makan nasi padang saja minta nasinya seperempat (supaya tiada tangisan dari ribuan butir nasi tak tersantap), jelas meskipun aku suka makan (manusia mana yang nggak suka makan sih, apalagi kalau gratis?), aku bukan tipe yang akan mengejar lomba makan di manapun dan bertarung secara sportif dan kompetitif demi menjadi juaranya. Tapi karena dulu aku juga doyan nonton lomba makan di TV Champion, jelas buku ini langsung menarik perhatianku.

Kembali ke review, buku ini berkisah tentang petualangan Uung (nama cantik sang penulis) di dunia lomba makan nasional, atau setidaknya, di Jakarta, yang ternyata sangat kompetitif, dan penuh pertumpahan darah (iya, ini lebay). Petualangannya itu dituturkan dengan gaya yang kocak, dan membuat kita, meskipun sedang kelaparan belum sempat makan pagi saat membaca bukunya, bisa turut merasakan kekenyangan dan kebegahan yang diderita orang yang kebanyakan makan demi mendapatkan sesuap handphone, televisi, uang tunai, dan berbagai hadiah menarik lain yang menjadi iming-iming bagi para pelaku lomba makan.

Buku ini juga membuka ingatanku tentang perkenalan pertamaku dengan Kamikaze Karaage. Pertama kali aku tertarik untuk makan di sana adalah karena ada lomba makan di sana yang ditayangkan di televisi. Maklum, sebagai penyuka makanan pedas dan cukup diakui sebagai orang yang paling tahan pedas di lingkungan pribadi dan kantor, aku selalu merasa tertantang kalau ada iklan atau gosip tentang makanan yang superpedas. Ternyata... dari buku ini aku tahu Uung bukan cuma jadi peserta lomba makannya, tapi juga jadi juaranya! Benar-benar salut deh! Sampai dengan saat ini, bagiku cuma Saus Harakiri 2 di Kamikaze Karaage yang benar-benar sesuai dengan promosinya, sebagai saus cabai terpedas di dunia. Waktu pertama kali makan spicy wing berbalut saus Harakiri 2, aku cuma sanggup makan setengah potong ayam, sementara nasi, segelas ocha dan sebotol air mineral 500 ml habis tak tersisa. Jadilah satu setengah potong spicy wing terpaksa kubawa pulang untuk dicemil sedikit demi sedikit.

Buku ini juga membuatku sukses menjadi kepo dengan membuka youtube untuk melihat sendiri aksi para professional competitive eater dari yang lokal seperti Owen Gozali sampai yang interlokal dan god-level macam Takeru Kobayashi (dari sekian banyak klip yang kutonton, yang paling kiyut dan menarik adalah video Kobayashi vs Hamster :P).

Pokoknya, nggak menyesal deh aku membaca buku ini (dan menghabiskan waktu menonton video eating contest yang lama-lama bisa bikin eneg).


View all my reviews

Sunday, December 28, 2014

Aruna & Lidahnya

Aruna & LidahnyaAruna & Lidahnya by Laksmi Pamuntjak
My rating: 3 of 5 stars

Sinopsis:
Aruna Rai, 35 tahun, belum menikah. Pekerjaan: Epidemiologist (Ahli Wabah), Spesialisasi: Flu Unggas. Obsesi: Makanan.

Bono, 30 tahun, terlalu sibuk untuk menikah. Pekerjaan: Chef. Spesialisasi: Nouvelle Cuisine. Obsesi: Makanan.

Nadezhda Azhari: 33 tahun, emoh menikah. Pekerjaan: Penulis. Spesialisasi: Perjalanan dan Makanan. Obsesi: Makanan.

Ketika Aruna ditugasi menyelidiki kasus flu unggas yang terjadi secara serentak di delapan kota seputar Indonesia, ia memakai kesempatan itu untuk mencicipi kekayaan kuliner lokal bersama kedua karibnya. Dalam perjalanan mereka, makanan, politik, agama, sejarah lokal, dan realita sosial tak hanya bertautan dengan korupsi, kolusi, konspirasi, dan misinformasi seputar politik kesehatan masyarakat, namun juga dengan cinta, pertemanan, dan kisah-kisah mengharukan yang mempersatukan sekaligus merayakan perbedaan antarmanusia.


Review (atau sekedar komentar?):

Ini buku wisata kuliner yang menyaru sebagai novel.

Penyelidikan kasus flu burung dengan berkeliling Indonesia boleh jadi sekedar plot driver yang memungkinkan karakternya untuk berburu dan mencicipi makanan/jajanan/apasajayangbisadimakan lokal yang sudah kondang ke mana-mana dan tercantum (atau tidak tercantum sama sekali) dalam Daftar Sakti yang jadi primbon Bono.

Misalnya, pas ke Surabaya, tim yang lebih terobsesi pada makanan daripada wabah flu burung itu mencicipi  botok pakis dan rujak soto. Menyeberang sedikit ke pulau Madura, yang dicari-cari adalah bebek goreng Bangkalan:
yang konon sama lezatnya dengan duck confit yang sempurna. Dan dari buku ini juga aku sama kecewanya dengan Aruna ketika tahu kalau yang namanya Sate Lalat yang tersohor itu cuma sate ayam seukuran lalat:
Iya... aku benar-benar berharap begitu esktrimnya makanan di Indonesia sehingga lalat sekalipun bisa menjadi sumber bahan makanan yang melimpah, menyaingi belalang, capung, dan teman-temannya yang memang lazim dikonsumsi oleh lidah sebagian (kecil? besar?) orang Indonesia.

Menyeberang ke pulau Andalas, tentu saja pempek di Palembang tak boleh dilewatkan. Atau penganan khas Medan yang konon cuma beredar setiap hari Jumat di seputaran Masjid Agung: gulo puan. Atau naniura. Atau rujak Aceh. Atau ayam tangkap.

Dan kalau menyeberang lagi ke pulau Borneo, setelah menginjakkan kaki di Pontianak, yang dipikirkan para karakter pertama kali adalah pengkang:
Dan tidak cukup itu, wisata kuliner di Kalimantan Barat tidaklah lengkap kalau tidak sekalian melipir ke Singkawang untuk mencari mi/kwetiauw, tak peduli harus menempuh jalan darat 150 km dari Pontianak. Namanya juga di Singkawang, bisa dipastikan hidangannya mengandung vitamin B, alias babi.

Intinya, wabah flu burung yang disinggung sekali-sekali tidaklah begitu penting dibandingkan obsesi para karakternya terhadap makanan, yang bahkan ketika bermimpi pun temanya tidak jauh-jauh dari makanan.

Namun, sikap terhadap makanan dalam buku ini kadang terasa kontradiktif. Salah satu karakter berusaha sebisa mungkin menghindari makanan yang mengandung daging/minyak babi karena diharamkan oleh agama. Tapi, ia tidak menghindari zina, atau seks di luar nikah. Apakah dosa memakan makanan haram lebih berat dibandingkan melakukan perbuatan haram? Ataukah ini memang sekedar potret sebagian (kecil? besar?) orang Indonesia yang ingin tampak alim di mata masyarakat agamis tapi ternyata zalim pada diri sendiri sepanjang rasanya enak dan tidak banyak orang yang tahu?

Anyway, bagiku yang makan untuk hidup dan bukan hidup untuk makan, buku ini sukses membuatku kepikiran, mengapa kalau aku sedang dalam perjalanan dinas ke kota/provinsi/pulau lain, aku tidak pernah sengaja/niat banget untuk mencari-cari/mencicipi hidangan kuliner lokal. Kalau kebetulan menemukan dan mencobanya, ya dinikmati. Kalau cuma nemu ayam penyet (yang dibilang Bono sebagai penjajah kuliner negeri ini!), ya tetap disyukuri.Tipe orang ignorance terhadap makanan seperti aku ini memang tipe yang dipandang sebelah mata oleh para karakter di buku ini. Lah, passion, obsession dan prioritas setiap orang memang lain, jeng, tidak bisa dipaksakan.

Sebagai tambahan, bagi para calon pembaca buku ini, diusahakan agar makan kenyang dulu sebelum mulai membaca. Pecinta kuliner ataupun bukan, deskripsi penulis atas berbagai makanan nusantara di buku ini sedikit banyak akan membuat pembaca ngiler dan lapar.


View all my reviews

Thursday, March 20, 2014

It's Not Just Dinner, It's An Adventure

Strange Foods: Bush Meat, Bats, and Butterflies; An Epicurean Adventure Around the WorldStrange Foods: Bush Meat, Bats, and Butterflies; An Epicurean Adventure Around the World by Jerry Hopkins
My rating: 5 of 5 stars

Pernah mencoba menyantap makanan yang tidak biasa dimakan?

Sejauh ini, makanan yang tidak biasa yang pernah kucicipi cuma sedikit variasinya, di antaranya telur penyu, ubur-ubur, dan belalang goreng. Sementara itu, banyak makanan yang sudah dianggap biasa di Indonesia, barangkali malah termasuk makanan aneh bagi warga negara asing, misalnya buah durian yang aromanya begitu luar biasa (dan aku termasuk yang tidak begitu suka rajanya buah ini gara-gara aromanya).

Jerry Hopkins, penulis buku ini, adalah koresponden dan editor majalah Rolling Stone selama hampir dua puluh tahun. Ia juga telah menulis puluhan buku,  termasuk biografi Jim Morrison dan Elvis Presley. Buku-bukunya mengulas beragam hal, dari sejarah, humor, jurnalisme, makanan, lingkungan, kebudayaan, dan tentu saja biografi. Ia juga bekerja sebagai penulis feature, reporter, dan kritikus musik. Tapi di atas segalanya, ia seorang petualang, bukan hanya sebagai traveler, tapi juga petualang makanan. Prinsipnya: "Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung", dan makanan bukan perkecualian.

When in Rome, do as the Romans do

Buku ini dibagi dalam enam segmen, yaitu enam jenis bahan makanan, yang terdiri dari:
- mamalia
- reptil dan makhluk air;
- serangga, laba-laba dan kalajengking;
- burung;
- tumbuhan;
- leftover

Mamalia
Sebagai bahan makanan, mamalia bukan hal yang aneh. Toh kita biasa makan daging sapi dan kambing, atau daging babi buat yang nonmuslim dan nonyahudi. Mamalia yang dibahas Hopkins di sini mencakup yang berukuran kecil macam tikus dan kelelawar, sampai yang berukuran raksasa seperti gajah dan ikan paus. Oh tentu saja, anjing juga umum sebagai bahan makanan di Asia (termasuk di beberapa daerah Indonesia). Para aktivis animal rights di Eropa dan Amerika sudah pasti mencak-mencak, karena anjing dan kucing di sana adalah binatang peliharaan di Eropa, dan tidak diternakkan untuk bahan makanan. Dan bahan makanan yang juga memancing protes dan bisa menimbulkan ketegangan antara negara yang berbeda budaya kuliner termasuk primata dan ikan paus.

Kepala gorila, anyone?

Omong-omong tentang primata, Hopkins juga membahas bahan makanan dari mamalia yang paling akrab dengan kita: manusia. Bukan berarti Hopkins sudah menyantap daging manusia sih (meskipun dia membuat dan memakan hidangan yang berbahan dasar plasenta), tapi sejarah kanibalisme dari zaman prasejarah sampai zaman modern dibahas total di sini.

Reptil & Makhluk Air
Takut dimakan ular, buaya dan ikan hiu? Tenang, statistik membuktikan jauuuuuh lebih banyak ular, buaya dan ikan hiu yang dimakan manusia. Sebagai omnivora yang bisa makan apa saja, manusia juga tidak sungkan-sungkan menyantap kadal (termasuk iguana dan komodo!), katak dan kodok, ikan fugu, ubur-ubur, siput, ulat, dan telur ikan.

Ih, seladanya layu! #salahfokus


Burung
Saat ini, burung paling populer sebagai bahan makanan di dunia adalah ayam. Berikutnya, kalkun, bebek, angsa, dan itik. Saat ini, burung unta dan kasuari juga sudah mulai masuk katalog bahan makanan. Dan meskipun kecil, burung-burung seperti merpati, gagak, dan walet juga biasa dimakan di banyak tempat. Dan bukan hanya telurnya yang juga disantap, tapi sarangnya juga. Buatku tidak ada yang aneh, sampai ketemu balut: telur bebek rebus berisi embrio berusia enam belas sampai delapan belas hari. Sudah hampir jadi anak bebek!

Serangga, Laba-laba, dan Kalajengking

Kalau bahan makanan yang ini, baru deh kuanggap aneh (meskipun aku pernah makan belalang goreng, yang rasanya memang enak, renyah kriuk-kriuk, asal tidak memperhatikan kepala, kaki dan sayapnya :P). Katanya sih kandungan protein dan nutrisinya luar biasa, tapi... makan capung, semut (ini juga pernah, tapi nggak sengaja biasanya), rayap, laba-laba, kalajengking, kumbang, jangkrik, tonggeret, kupu-kupu...

Asparagus-nya kelihatan enak, ya?


Tumbuhan
Bahan makanan yang dianggap aneh di sini adalah jamur beracun, buah keluak, kelopak bunga, kaktus, dan iya... buah durian.

Leftover
Yang dimaksud di sini memang makanan sisa, atau bahan yang umumnya tidak dipakai bahan makanan, seperti darah misalnya. Tapi selain itu dibahas juga bahan makanan yang disantap hidup-hidup macam ikan, udang, gurita, belut, atau lobster... di mana makanannya masih bergerak-gerak, setengah hidup, malah bisa kabur sekalian.

Jangankan sampai mencicipi makanan yang aneh-aneh, membaca buku meja kopi (apa sih terjemahan yang benar dari coffee table book?) yang tebal dan bersampul keras ini sudah merupakan petualangan tersendiri. Foto-foto makanannya asyik-asyik dan kelihatan lezat pula, meskipun mungkin aku tidak seberani itu untuk menyantap sebagian besar di antaranya.

Berani mencoba tantangan ini?


View all my reviews

Friday, February 28, 2014

What Did You Eat Yesterday?

きのう何食べた? 1きのう何食べた? 1 by Fumi Yoshinaga
My rating: 4 of 5 stars

What did you eat yesterday?

Buatku itu pertanyaan mudah, karena aku termasuk orang yang... jarang makan. Eh, bukan ding, karena sebagai penghuni kosan yang malas masak aku kebanyakan beli makanan jadi dengan menu yang gampang diingat karena sedikit variasinya. Hm... kalau dipikir-pikir kok jadi menyedihkan ya... *lah kok mendadak curhat*. Buat yang doyan masak makanan sendiri, seharusnya itu juga pertanyaan mudah. Nggak mungkin kan, masak dan makan sambil sleep-walking, terus nggak ingat apa-apa.

Manga ini dibuka dengan pertanyaan simpel seorang rekan kerja tokoh utamanya: "Hey, what did you eat for dinner last night?"

Sementara beberapa rekan kerja lain masih berusaha mengingat-ingat apa saja yang mereka makan semalam, tokoh utama kita dengan lancarnya menjawab: "Miso soup with komatsuna, wakame, spring onion and aburaage. Mentaiko and nagaimo dressed with nihaizu, topped with wasabi and nori. Daikon with sweet and spicy chicken wings, broccoli okaakae, ang lastly white rice mixed with a third of brown rice." Wajar saja kalau mendadak ruangan sunyi senyap setelah mendengar jawaban itu.

Oh, iya, perkenalkan tokoh utama seri manga karya Fumi Yoshinaga yang sumpah bikin lapar hanya dengan membacanya:

Hah? Tokoh utamanya laki-laki 40 tahunan? Iya, ini manga seinen tentang pasangan gay berusia 40 tahunan yang hidup bersama. Tokoh utamanya Shirou Kakei, pengacara doyan masak yang penuh perhitungan (demi pengiritan anggaran makan), yang menyiapkan makan malam ala Jepang lengkap hampir tiap malam. Yang enak tentu saja pacarnya, Yabuki Kenji, meskipun kadang-kadang ia menyesali sok hematnya Kakei. Sekali-sekali pingin kan makan di luar atau beli es krim Haaden Dazs rasa terbaru, meskipun ya... memang mahal sih.

By the way, berbeda dengan Kenji yang status gay-nya sudah jelas bagi banyak orang (agak stereotip sih kalau dilihat dari profesinya), rekan sekantor Kakei tidak tahu kalau ia seorang gay, dan menganggapnya sebagai eligible bachelor yang belum ketemu jodoh saja. Orang tuanya sih sudah tahu orientasi seksualnya, tapi malah membuat Kakei merasa repot dengan dukungan mereka agar anaknya "come out" juga di lingkungan kerjanya. Kakei malah merasa Kenji lebih beruntung, tidak diakui lagi oleh orang tuanya begitu ketahuan gay. Minimal, tidak ada orang tua yang terus ikut campur dalam urusan pribadinya.

Sebagai orang yang penuh perhitungan dalam masalah keuangan, Kakei mirip dengan ibu-ibu pada umumnya. Kalau sedang belanja, pasti membanding-bandingkan harga, dan langsung memikirkan menu di benak begitu menemukan bahan makanan yang kebetulan sedang diskon. Begitu pulang ke rumah, langsung deh semuanya diracik dan dimasak. Duh... sedapnya kalau punya suami seperti Kakei :)

Cuma Fumi Yoshinaga yang bisa membuat kehidupan sehari-hari sepasang gay berumur 40 tahunan menjadi cerita yang menarik. Padahal hampir di setiap bab kita hanya mengikuti kegiatan Kakei yang (di luar pekerjaannya sebagai pengacara) setiap hari sibuk memikirkan menu yang cocok dengan bahan baku yang sedang diskon plus adegan memasaknya. Tapi seirit-iritnya Kakei, hidangan makan malam buatannya tetap selalu tampak lezat bin nikmat. Yummy!

Sayangnya, aku baru membaca manga ini secara online sampai volume 3 saja, dan tidak jelas apakah ada lanjutannya atau tidak. Dan tentunya, meskipun tidak ada adegan dewasa yang berbahaya satu halaman pun, aku tidak begitu yakin manga ini akan diterbitkan di Indonesia. Make a wish saja deh, dan... itadakimasu!






View all my reviews

A Chef of Nobunaga (Nobunaga No Chef)

Nobunaga no Chef 1 (Nobunaga no Chef, #1)Nobunaga no Chef 1 by Mitsuru Nishimura
My rating: 4 of 5 stars

Tema Kuliner

Aku suka membaca manga, apapun genrenya. Dan tentu saja, manga bertema kuliner bukan perkecualian. Jadi, begitu menemukan judul komik ini yang sangat eye-catching ini di situs manga online, aku langsung tertarik membacanya. Kenapa? Karena dari judulnya saja sudah jelas premisnya: ini manga kuliner yang bersetting di zaman Oda Nobunaga alias periode Sengoku War, pada abad ke-16. Sebagai penggemar berat novel Taiko karya Eiji Yoshikawa, manga ini terlalu sayang untuk dilewatkan. Dan hal yang lebih penting adalah: seperti apa ya makanan di Jepang pada waktu itu?

Begitu membaca beberapa halaman pertama, aku langsung tertegun. Manga ini ternyata dibuka dengan adegan beberapa orang prajurit di zaman itu mengejar-ngejar dua orang pria berkostum chef. Iya, kostum chef yang putih-putih itu. Kayaknya ada yang salah deh... kecuali ini manga kuliner/sejarah ini juga bergenre... time travel.

Yap, ceritanya memang agak klise, tentang manusia zaman sekarang yang terlempar ke Kyoto masa lalu. Di samping itu, ternyata tokoh utama kita, chef bernama Ken yang lolos dari kejaran para prajurit (chef yang satunya lagi tewas) juga mengalami... amnesia. Waduh, tambah klise saja!

Ya sudahlah, karena toh artwork-nya bagus, aku tetap melanjutkan membaca manga multigenre kuliner/sejarah/time-travel/amnesia ini...

Untungnya, meskipun tidak ingat siapa diri dan masa lalunya, Ken tahu ia berasal dari masa depan. Ia juga masih hafal sejarah Jepang. Dan yang paling penting lagi, ia masih memiliki keahlian memasaknya. Dalam waktu singkat, keahlian memasaknya menjadi terkenal di lingkungan tempatnya tinggal. Tahu-tahu, datanglah seseorang yang merekrutnya menjadi juru masak Oda Nobunaga:
Bagi yang suka membaca sejarah Jepang, pasti tahu bahwa orang yang kelak menjadi Taiko dideskripsikan sebagai si kurus berwajah monyet. Jadi, sebelum perkenalan tokoh pun pembaca bisa menebak bahwa chara ini adalah Hideyoshi yang memang panggilannya Saru alias Monyet.

Sedangkan chara sang daimyo yang dipertuannya sendiri cocok dengan deskripsinya yang terkenal esktrem, penuh kharisma, namun brutal:
Cukup menyeramkan di pertemuan pertama
Rombongan Oda Nobunaga memboyong Ken dari Kyoto ke Gifu, dan orang baru itu langsung menjadi kepala juru masak, menggantikan juru masak lama yang keluarganya telah mengabdi secara turun-temurun selama beberapa generasi pada klan Oda. Lomba masak mempertaruhkan nyawa demi kedudukan kepala juru masak pun digelar. Apakah yang disajikan Ken pertama kali untuk Oda Nobunaga?
Roasted mallard duck, chestnut and kaki puree served with wild mushroom
Hidangan yang belum pernah ada di Jepang pada saat itu, tentu saja. Ken juga menciptakan nasi kepal isi daging dan sayuran, yang bisa menjadi bekal bagi para prajurit di medan perang. Cara penyajiannya cukup dengan disiram air panas. Seperti mie instan, ya...

Berbagai tantangan harus dihadapi Ken sebagai juru masak Nobunaga. Dari menciptakan hidangan bercita rasa eropa bagi pastor jesuit dari Portugal, hidangan yang disajikan sebelum Nobunaga berangkat perang, sampai ikut pergi ke medan perang sebagai juru masak bagi pasukan Owari yang berangkat ke selatan Ise untuk menyerang Kitabatake Tomonori.

Pada perang pertama buat Ken ini, tampak seperti apa Hideyoshi sebagai seorang panglima perang. Sebagai seorang pemimpin, ia berada di garis terdepan, sehingga menjadi paling pertama kena serangan. Tapi meskipun kakinya terluka kena panah, ia tetap maju ke medan perang dan dengan piawai menaklukkan Benteng Asaka bersama Mori Yoshinori. Baru saat seperti itulah Hideyoshi yang pendek dan culun kelihatan menyeramkan. Lho, aku kok malah membahas Hideyoshi sih? Ini pasti gara-gara teringat novel Taiko. Padahal, fokus manga ini adalah hubungan si juru masak dan tuannya, ya?

Dalam manga ini, Ken berperan penting dalam taktik diplomasi Nobunaga. Untuk menunjukkan bahwa pengetahuan Nobunaga lebih tinggi dan luas daripada lawannya, sang juru masak menyajikan masakan yang belum ada pada masa itu, seperti membuat sushi dengan ikan mentah (ternyata sushi yang kita kenal sekarang baru muncul pada tahun 1830-an lho). Bahkan keahlian Ken yang membuat Shogun Ashikaga Yoshiaki ngiler abis, digunakan Nobunaga untuk menegaskan bahwa sang shogun tak lebih dari sekedar bonekanya!

Seiring dengan berjalannya waktu, Ken seperti menjadi salah satu senjata rahasia Nobunaga, khususnya apabila ia ingin menyampaikan pesan secara tidak langsung kepada kawan maupun lawan, dan berperan penting dalam perang-perang selanjutnya.

Secara tidak langsung, pembaca dapat melihat seperti apa Oda Nobunaga dari dekat, bagaimana pikiran dan tindakannya yang terlalu maju untuk orang-orang pada masanya, sehingga jangankan lawan, keluarga dan anak buahnya sendiri kadang tidak sanggup memahami visinya. Ken yang telah mengetahui sejarah, mendapati bahwa karakter Oda Nobunaga barangkali tidak sebrutal yang digambarkan dalam buku-buku sejarah. Apabila Nobunaga memang hanya otokrat tiran sekejam setan, mengapa para pengikutnya tetap setia dan mencintainya?

Lagipula, siapakah yang mencatat sejarah? Penggemar berat, atau musuh berat?

Rakyat Srilanka memuja Rahwana sebagai pahlawan dan menghujat Rama sebagai penjahat.

Sakit hati dan dendam dari zaman Perang Bubat memastikan tidak terdapat seruas pun jalan raya dengan nama Gajah Mada di wilayah Sunda.

Dan untuk seorang Oda Nobunaga, versi sejarah mana yang dapat kita percaya?

Apakah kita harus terlempar ke masa lalu hanya untuk mengetahui seperti apa sebenarnya seorang tokoh sejarah? Mungkin kita bisa mengetahuinya bila bisa berada di lingkaran dalam tokoh tersebut, tapi bagaimana bila kita hanya bisa berada di luar lingkaran? Bisa-bisa yang kita dapat hanya rumor belaka.

Kisah juru masak Oda Nobunaga ini masih berlanjut, dengan twist tersendiri karena Ken bukan satu-satunya chef dari masa depan yang terjebak di era perang saudara itu. Sampai jilid ketujuh, apa penyebab mereka bisa terjebak di zaman yang salah belum diketahui, apalagi bagaimana cara mereka bisa kembali ke masa depan.

Hal asyik yang bisa diperoleh pada halaman terakhir setiap jilid manga ini adalah salah satu resep masakan yang disajikan Ken pada jilid itu. Sebagai penutup, dan karena ini review tema kuliner, tidak ada salahnya kupajang resep dari ketujuh jilid yang sudah kubaca. Itadakimasu!



View all my reviews