Showing posts with label kumpulan puisi. Show all posts
Showing posts with label kumpulan puisi. Show all posts

Friday, March 28, 2014

Danau Angsa

Danau Angsa? Ada hubungannya dengan dongeng HC Andersen-kah? Atau dengan pertunjukan balet yang digubah oleh Tchaikovsky?

Nope. Tidak ada hubungannya sama sekali.

Sehubungan buku yang kubahas kali ini merupakan antologi haiku, Danau Angsa yang dimaksud pada judul buku ini diambil dari nama komunitas para penulisnya, Komunitas Danau Angsa, yang bergiat dalam penulisan haiku di Indonesia.

Mengapa aku memilih buku kumpulan haiku untuk review Posbar BBI Tema Puisi? Tidak ada alasan istimewa sih. Selain haiku memang termasuk puisi, dalam hal ini sajak pendek yang lahir dari tradisi perpuisian Jepang klasik, belum lama ini aku kebetulan menemukan buku ini di acara shocking sale sebuah toko buku besar di Matraman.

Alasan lainnya karena bentuk puisi haiku yang unik, singkat, padat, jelas. Berdasarkan tradisi klasik, haiku terdiri dari 17 suku kata, 3 baris, dengan pola 5-7-5. Hm, polanya kok mirip 3 nomor terdepan telepon kantorku ya *tibatibaOOT*. Tapi, untuk haiku modern dan ngepop yang dipopulerkan di Indonesia, pola tradisional itu seringkali "dilanggar" menjadi 5-5-7 atau 7-5-5, atau malah nggak pakai pakem 17 suku kata lagi, yang penting pendek dan terdiri dari tiga baris. Maksa amat ya ^.^;

Tema haiku di buku ini benar-benar bebas merdeka. Ada yang fokus pada keindahan alam, ada yang membahas perasaan, bahkan ada juga seperti penulis Arief Joko Wicaksono, yang haiku-nya politik banget. Misalnya:

Darah Kotor
Dokter tak tahu
darah kotor koruptor
bisakah di donor?

Perkawinan Politik
janji yang palsu
membuat bulan madu
jadi kelabu

Atau tentang perbandingan pecandu di Indonesia:

Statistik
Oho, negeriku
pecandu buku hanya satu
narkoba beribu-

Beberapa haiku karya Dewi Hani malah diberi judul alat-alat dapur, seperti cobek, parut, wajan, dandang, pisau dan panci. Isinya juga dibuat nyambung dengan bahan makanan yang diracik ;)

Tema lain yang hadir di kumpulan haiku ini juga mencakup cinta (sudah pasti lah), curcol, potret sosial, dan religi.

Dan bahasa yang digunakan di sini juga bukan cuma bahasa Indonesia, ada yang menggunakan bahasa Inggris seperti Nugroho Suksmanto, bahkan ada yang menggunakan bahasa Jawa seperti Amie Williams!

Mencontek ungkapan Arswendo Atmowiloto bahwa "Menulis Itu Gampang", sebenarnya menulis haiku itu juga gampang (terlepas dari bagus tidaknya, sih :p). Maka, review singkatku untuk buku berisi sajak-sajak singkat ini, biarlah kututup dengan dua haiku yang mendadak kubikin di kantor ini:




Sunday, June 30, 2013

Gandari

GandariGandari by Goenawan Mohamad
My rating: 4 of 5 stars

Sejauh pengalamanku membaca cerita wayang, hampir tidak ada kisah yang menjadikan Gandari, ibu para Kurawa, sebagai tokoh utamanya. Kisah seorang wanita cantik yang terpaksa menikah dengan seorang pangeran buta namun tetap berupaya dengan segala cara untuk memenuhi ambisinya agar suami dan keturunannya berkuasa.

Mungkin kalau menggunakan sudut pandang cerita wayang yang sangat Pandawa-centric, kita melihat Gandari sebagai salah seorang yang termasuk dalam daftar tokoh antagonis. Tapi kalau ditelaah dari sisi karakter, boleh dibilang tokoh semacam Gandari bisa jadi malah menjadi tokoh sentral di novel-novel yang menonjolkan karakter wanita yang kuat, penuh ambisi, berani mempertaruhkan segalanya demi ambisinya, meski akhirnya mungkin nasib tetap tidak berpihak kepadanya. Beberapa tokoh utama di novel Sidney Sheldon dan Jackie Collins mungkin bisa jadi padanannya.

Dan alih-alih mengglorifikasi kemenangan lima orang Pandawa (dengan mengorbankan generasi penerus mereka), pernahkah kita membayangkan bagaimana perasaan seorang ibu yang kehilangan seratus orang anaknya? Meskipun tahu bahwa sang anak hanya menuai badai yang ditaburnya sendiri, tegakah sang ibu membayangkan betapa tragis akhir hidupnya?

Sebenarnya ia bergidik:
ia membayangkan perempuan hitam
yang datang ke sudut selatan pertempuran
mendekati tubuh Dursasana.

Kepala itu telah terpenggal.
'Dan dengan wajah yang dingin, tuanku,'
kata sang utusan, 'Drupadi mencuci rambutnya
dalam darah.'

'Dursasana.'
Seperti jauh ia dari nama itu.
'Darah anakku.'



View all my reviews