Showing posts with label movie tie in. Show all posts
Showing posts with label movie tie in. Show all posts

Tuesday, February 4, 2020

Lost Stars

Judul : Lost Stars

Penulis : Claudia Gray

Penerbit : Disney Lucasfilm Press

Tebal : 551 halaman

Selesai dibaca tanggal : 1 Februari 2020

Sinopsis :
A long time ago in a galaxy far, far away…

Eight years after the fall of the Old Republic, the Galactic Empire now reigns over the known galaxy. Resistance to the Empire has been all but silenced. Only a few courageous leaders such as Bail Organa of Alderaan still dare to openly oppose Emperor Palpatine.

After years of defiance, the many worlds at the edge of the Outer Rim have surrendered. With each planet’s conquest, the Empire’s might grows stronger.

The latest to fall under the Emperor’s control is the isolated mountain planet Jelucan, whose citizens hope for a more prosperous future even as the Imperial Starfleet gathers overhead…

Review :

Buku ini kubaca karena John Campea, salah seorang movie pundit yang kanal youtube-nya rutin kusambangi setiap hari, sudah berulang kali merekomendasikannya sebagai salah satu novel Star Wars terbaik yang pernah ia baca, meskipun genrenya yang tergolong Young Adult Romance, yang bukan genre favoritnya. Jujur saja, meskipun aku terkadang terjebak ketagihan membaca genre Romance, genre Young Adult juga bukan my cup of tea. Lebih sering tidak cocoknya daripada cocoknya.

Jadi... sama halnya dengan John Campea, aku ternyata menyukai buku ini. Cukup untuk memberi ponten really like it ala Goodreads:



Oke, yuk kita bahas sedikit alasan mengapa aku suka buku ini...

1. Movie tie-in

Yap. Aku memang hobi membaca dan mengoleksi buku-buku yang masih terkait film, meskipun bisa jadi kadang-kadang aku tidak suka versi filmnya. Nah, khusus buku ini, ada kaitannya dengan film tapi secara harfiah, ini bukan buku yang diadaptasi menjadi film, atau buku yang diadaptasi dari naskah film sih.

Tepatnya, cerita dalam buku ini mengambil setting dan latar belakang film Star Wars Original Trilogy, alias Episode IV s/d VI, alias dari periode  Battle of Yavin sampai Battle of Endor, hanya saja dari sudut pandang mereka yang selama ini mungkin sama sekali tidak kita pikirkan dan pedulikan nasibnya sepanjang trilogi: para "figuran" dari sisi Imperial maupun Rebellion.


2. Karakter Utama

Kuatnya karakterisasi tokoh utama buku ini, Ciena Ree dan Thane Kyrell, cukup kuat hingga pembaca cukup peduli dengan nasib mereka, dan dapat memahami sudut pandang masing-masing dalam menyikapi suatu peristiwa.

Meskipun bersahabat sejak kecil, sama-sama berasal dari Planet Jelucan, salah satu planet gugus terluar yang dianeksasi Imperial setelah kehancuran Old Republic, meskipun punya cita-cita yang sama yaitu masuk akademi Imperial untuk menjadi perwira di Imperial Starfleet, Ciena dan Thane memiliki prinsip dan motivasi yang berbeda.

Berasal dari golongan bawah Jelucan yang sangat mementingkan nilai-nilai kesetiaan dan kehormatan, Ciena memiliki prinsip untuk tidak melanggar sumpah dan loyalitasnya kepada Empire.

Berasal dari keluarga kaya terpandang namun tanpa kasih sayang keluarga, motivasi Thane menjadi perwira Starfleet adalah untuk melepaskan diri dari keluarganya, dan ia lebih pragmatis dan logis dalam hal loyalitasnya.

Bagaimana sikap mereka menghadapi kenyataan bahwa Empire tega menghancurkan Planet Alderaan dan milyaran penduduknya sebagai contoh bagi pihak Rebellion? Bagaimana pendapat mereka atas pihak Rebellion yang membalasnya dengan menghancurkan stasiun angkasa Death Star beserta jutaan penghuninya?


3. Plot

Plotnya standar saja sih... cinta di antara dua insan yang berbeda kubu yang berseberangan dalam perang bintang. Namun demikian, aku tidak menggolongkannya sebagai kisah cinta ala Romeo dan Juliet. Mengapa? Jelas karena penghalang utama cinta mereka tidak sepenuhnya dipaksakan pihak luar, melainkan akibat perbedaan prinsip yang membuat mereka mengambil pilihan dan keputusan yang berbeda meskipun sadar akan konsekuensinya, di mana mereka akan berada di pihak yang berseberangan. 

Konflik yang muncul karena perbedaan prinsip itulah yang menjadi plot driver cerita, dan bahkan  lebih menonjol dibandingkan kisah cintanya sendiri. Konflik malah sudah dimulai sejak awal mereka meniti karier di Akademi Militer, di mana setiap murid diuji kesetiaannya terhadap Empire untuk memastikan mereka menempatkan kepentingan Empire di atas segalanya, baik planet asal, hubungan keluarga, hubungan pertemanan, apalagi cinta.

Setelah yang satu tetap loyal pada Empire sedangkan yang satunya beralih ke pihak Rebellion meskipun sekadar the lesser of two evils? Sudah jelas semakin banyak konflik dan dilema yang akan dihadapi. Apakah cinta akan mengalahkan segalanya?


4. Cameo

Tentu saja cameo dari Star Wars Original Trilogy wajib ada untuk memastikan posisi setiap adegan dan bab kisah dalam buku ini di cerita utama. Mulai dari Grand Moff Tarkin yang muncul saat aneksasi Planet Jelucan menjadi bagian dari Empire, Senator Junior dari Alderaan Leia Organa yang muncul di pesta yang diadakan di Planet Coruscant, Wedge Antilles yang merekrut Thane setelah ia menjadi desertir pengembara, Darth Vader dan TIE-fighter-nya yang harus diselamatkan setelah hancurnya Death Star, atau Lando Calrissian yang menjadi komandan Thane saat Rebellion menghancurkan Death Star ver. 2.

Bagaimana dengan Luke Skywalker dan Han Solo? Karena para karakter buku ini tidak ada yang pernah berhadapan langsung atau melihat sosok mereka dengan mata kepala sendiri, status mereka di buku ini hanya "terdengar", dan seringkali malah tokoh buku ini tidak menganggap mereka penting-penting amat. Yah, tapi masih mending sih ketimbang Chewbacca, C3PO atau R2D2 yang keberadaannya tidak relevan dalam konteks buku ini.


5. Ending

Mengapa? Karena realistis.



P.S.
Sudah itu saja dulu ya. Setelah lama vakum menulis review, sepertinya masih belum terbiasa membuat komentar panjang-panjang. Lagipula, kalau komentarnya panjang biasanya aku terpeleset ke ranah spoiler sih.

P.P.S.
Khusus untuk buku ini, sepertinya kalau pembaca review ini sudah tahu jalan cerita Star Wars Original Trilogy, tidak perlu kuspoiler juga sudah tahu siapa yang menang antara pihak Empire dan Rebellion pada Battle of Endor di film Return of the Jedi.














Tuesday, April 11, 2017

Sherlock: The Blind Banker

Judul : Sherlock : The Blind Banker

By : Steven Moffat, Mark Gatiss, Jay

Penerbit : m&c!

Tebal : 216 halaman

Dibeli di : Gramedia.com

Harga beli : Rp. 42.500,- (15% off)

Dipesan tanggal : 21 Maret 2017

Diterima tanggal : 22 Maret 2017

Dibaca tanggal : 26 Maret 2017

Review :
BEWARE: REVIEW MANGA INI SANGAT BIAS, karena dibahas oleh salah seorang penggemar serial teve Sherlock yang sudah menonton semua episodenya berulang kali, termasuk episode kedua season pertama yang diwujudkan dalam bentuk manga ini.

1. Cover
Sama seperti manga Sherlock sebelumnya, cover manga ini berupa flap cover, namun kali ini cover dalamnya menampilkan adegan yang sangat domestik: Sherlock sedang berpikir sambil tiduran di sofa panjang, sementara John duduk di sampingnya sambil membaca koran :)


Penampakan ini sudah cukup untuk menggambarkan jeda waktu yang cukup panjang antara buku/episode ini dengan dengan buku/episode sebelumnya, karena sudah tidak terdapat lagi kecanggungan lagi antara dua orang asing yang berbagi sewa apartemen. Sherlock dan John sudah merasa nyaman dengan keberadaan satu sama lain.

2.  Artwork & Chara Design
Tidak banyak perubahan dari manga A Study in Pink. Chara yang paling mirip masih tokoh utamanya, Sherlock, sementara karakter lain terutama para pemeran pembantu, hampir tidak ada mirip-miripnya. Ya, nggak apa-apa sih, toh tidak ada pengaruhnya ke jalan cerita, apalagi kalau yang baca bukan penonton setia serial teve Sherlock.

3. Impression
Sebagai manga adaptasi dari episode kedua season pertama serial tevenya, alur ceritanya setia mengikuti adegan demi adegan dan frame demi frame, meskipun kesan yang didapat tidak semenarik versi aslinya, terutama di bagian action-nya. Kurang menegangkan, gitu. Iya sih, manga ini tidak bisa dibandingkan dengan shonen battle manga yang adegan actionnya saja bisa memakan sebagian besar halaman, namanya juga manga misteri yang didominasi narasi. Tapi tetap saja... buat yang menginginkan adegan aksi, akan lebih asyik bila menonton versi live action-nya.

Sebagai cerita misteri, sebenarnya dari tiga episode season pertama, episode The Blind Banker ini kurang nendang dibandingkan episode lainnya. Namun demikian, sisi cerita slice-of-life yang disisipkan para kreator cukup menarik untuk disimak.

Pemirsa/pembaca digiring untuk mengikuti kehidupan sehari-hari para boga lakonnya. John yang veteran tentara dengan uang pensiun tak seberapa mulai gerah dengan statusnya sebagai pengangguran banyak acara. Perseteruannya dengan mesin kasir di supermarket sehingga ia terpaksa meminjam kartu kredit Sherlock buat belanja jelas membuatnya ingin semakin cepat punya pekerjaan selain sebagai asisten pribadi tidak resmi (dan tidak digaji) dari teman seapartemennya itu.

Sherlock sendiri sepertinya sudah tidak sungkan-sungkan lagi memperlakukan John sebagai asprinya dalam urusan investigasi. Ia tidak peduli kalau John sudah punya pekerjaan baru sebagai dokter praktek dan memaksanya ikut kerja lembur dalam "event buku" misalnya, sehingga esoknya John ketiduran seharian nyaris sepanjang jam prakteknya. Ia juga tidak mau tahu kalau John punya urusan pribadi (baca: kencan dengan Sarah) yang seharusnya tidak dicampuradukkan dengan kegiatan penyelidikan yang berbahaya dan berisiko tinggi.

Di sisi lain, Inspektur Lestrade tidak muncul di sini. Sherlock dan John berurusan dengan Inspektur Dimmock, yang jelas belum seimun Lestrade terhadap perilaku Sherlock yang menjengkelkan. Mycroft juga tidak numpang lewat di sini. Tapi seperti halnya di A Study in Pink, Moriarty sudah kelihatan hilalnya, meskipun belum tampak wujudnya.

4. In the end
Kalau melihat data yang ada di Goodreads, rupanya versi adaptasi manga serial teve Sherlock yang hanya season pertama saja, padahal masih ada episode-episode seru di season-season berikutnya. Sayang banget deh. Di sisi lain, aku siap menunggu dan membeli manga The Great Game diterbitkan di Indonesia.

Review ini dibuat untuk mengikuti tantangan berikut:











Monday, March 6, 2017

Friend or Foe

Judul : Friend or Foe

Penulis : Michael Morpurgo

Penerbit : Egmont

Tebal : 122 halaman

Dibeli di : Bybooks FX Senayan

Harga beli : Rp. 20.000,-

Dibeli tanggal : 18 Februari 2017

Dibaca tanggal : 1 Maret 2017

Review :

Jacqueline pernah menulis di salah satu memoarnya bahwa ia kurang menyukai buku anak-anak ala Enid Blyton, karena di sana ceritanya kurang membumi, karena tidak bercerita secara realistis tentang kehidupan sehari-hari seorang anak, terutama yang hidup dalam situasi yang tidak menguntungkan. Oleh karena itu, tema cerita Jacqueline Wilson seringkali cerita tentang anak dari keluarga broken home.

Beda penulis tentu saja beda lagi pendekatannya. Michael Morpurgo banyak menulis novel anak-anak dengan latar belakang yang juga cukup gelap: masa perang dunia.

Dalam buku ini, seperti halnya awal kisah Narnia, David dan temannya Tucky, sebagaimana kebanyakan anak pada masa perang, harus mengungsi dari London yang rawan dihujani bom ke daerah pedesaan yang lebih aman. Selama pengungsian itu, mereka ditampung oleh Bapak dan Ibu Reynolds.

Cerita mulai berkembang ketika dalam peristiwa pemboman kedua anak itu melihat ada pesawat terbang Jerman yang jatuh. Kesaksian mereka tidak diterima pihak berwenang karena tidak ada bukti, sehingga mereka berdua nekad mencari sendiri. Pada saat mencari itulah David mengalami kecelakaan, hampir tenggelam di sungai, kalau saja tidak ditolong oleh salah seorang penerbang Jerman yang mereka cari-cari (omong-omong saat membaca adegan ini aku malah jadi teringat adegan serupa di buku The Eagle Has Landed-nya Jack Higgins).

Kejadian itu menimbulkan dilema. Apakah mereka akan melaporkan kedua penerbang Jerman yang mereka temukan, padahal salah satu dari mereka telah menyelamatkan jiwa David? Dan apabila tidak melaporkan, apakah itu berarti mereka telah mengkhianati negara? Mana yang lebih penting? Sikap manakah yang akhirnya dipilih oleh David dan Tucky?

Buku Friend or Foe ini termasuk salah satu buku Michael Morpurgo yang telah diangkat menjadi film, yaitu pada tahun 1982. Meskipun karena dibuat secara independen film ini tidak seterkenal War Horse yang disutradarai oleh Steven Spielberg, namun film ini telah menjadi bukti bahwa film anak-anak pun dapat menampilkan tema yang sulit dan tidak biasa.

Review buku ini kubuat dalam rangka mengikuti tantangan ini:
Kategori: Lima Buku dari Penulis yang Sama

Tuesday, February 28, 2017

The Sheep-Pig

Judul : The Sheep-Pig

Penulis : Dick King-Smith

Penerbit : Puffin Books

Tebal : 134 halaman

Literary Awards : Guardian's Children's Fiction Prize (1984)

Dibeli di : Bybooks

Harga beli : Rp. 20.000,-

Dibeli tanggal : 18 Februari 2017

Dibaca tanggal : 22 Februari 2017

Sinopsis :
When Babe, the little orphaned piglet, is won at a fair by Farmer Hogget, he is adopted by Fly, the kind-hearted sheep-dog. Babe is determined to learn everything he can from Fly. He knows he can't be a sheep-dog. But maybe, just maybe, he might be a sheep-pig.

Review :
Pernah menonton film Babe (1995)?


Kisah tentang babi penggembala domba ini ternyata merupakan adaptasi dari buku anak-anak karya Dick King-Smith, yang pertama kali terbit pada tahun 1983.

Kisahnya sederhana, tentang seekor anak babi (yang kemudian dipanggil Babe, karena ia ingat ibu kandungnya pernah memanggilnya demikian), yang dipelihara oleh seorang petani bernama Hogget, yang memperolehnya secara tak sengaja karena berhasil menebak beratnya dengan tepat. Karena Pak Hogget tidak memelihara babi, rencananya Bu Hogget akan menyembelihnya untuk hidangan natal.

Sebagai babi sebatang kara, akhirnya Babe menjadi anak angkat Fly, anjing gembala betina yang tengah membesarkan anak-anaknya.  Justru karena salah asuhan itulah tingkah laku Babe meniru dan menyerupai anjing, sampai belajar pula bagaimana menggiring ternak. Begitu anak-anak Fly dibeli orang untuk bekerja sebagai anjing gembala profesional di tempat lain, Fly mencurahkan segala perhatian dan usahanya untuk mendidik Babe.

Lalu, bagaimana cara Babe menggiring kawanan domba? Apakah benar-benar sama dengan ajing gembala pada umumnya?

Ternyata tidak. Kawanan domba patuh kepada anjing gembala karena ketakutan, karena bagi mereka para anjing sama dengan srigala. Mereka patuh dan menurut kepada Babe, justru karena babi kecil itu selalu bersikap sopan dan meminta mereka untuk melakukan apa yang disampaikannya secara baik-baik.

Tapi tentu saja, bakat Babe tidak terlewatkan begitu saja oleh Pak Hogget. Diam-diam ia mendaftarkan babinya pada kompetisi anjing gembala yang disiarkan di televisi secara nasional! Masalahnya, semua domba di pertanian Hogget mematuhi perintah Babe karena mereka sudah mengenalnya dan menganggapnya teman baik, sementara para domba yang ada di kompetisi benar-benar domba asing yang tidak mengenal Babe! Bagaimana caranya agar Babe bisa mengalahkan para anjing gembala profesional yang menjadi saingannya?

Babe, versi adaptasi film buku ini dibuat di Australia, dengan sutradara Chris Noonan, sedangkan visual effect dikerjakan oleh Rhythm & Hues Studios dan Jim Henson's Creature Shop. Selain sukses secara finansial, filmnya juga sukses menuai pujian (saat ini rating di Rotten Tomatoes masih 97%!), mendapatkan tujuh nominasi Academy Award, termasuk Best Picture, Best Director, Best Adapted Screenplay, dan menang di kategori Best Visual Effect. Selain itu, film Babe juga memenangkan Best Motion Picture - Musical or Comedy di Golden Globe Award.

Omong-omong, ternyata salah satu pengisi suaranya adalah Hugo Weaving, lho. Sayangnya tokoh yang diperankannya adalah tokoh tambahan yang tidak ada di versi bukunya.

Best quote :
"That'll do, Pig. That'll do."

Verdict :


Review ini dibuat dalam rangka mengikuti :

Kategori: Award Winning Books



Tuesday, February 21, 2017

Sherlock: A Study in Pink

Judul : Sherlock: A Study in Pink

By : Steven Moffat, Mark Gatiss, Jay

Penerbit : m&c!

Tebal : 216 halaman

Dibeli di : Gramedia.com

Harga beli : Rp. 35.000,- (diskon 30%)

Dipesan tanggal : 19 Januari 2017

Diterima tanggal : 29 Januari 2017

Dibaca tanggal : 03 Februari 2017

Review :
BEWARE: REVIEW MANGA INI SANGAT BIAS, karena dibahas oleh salah seorang penggemar serial teve Sherlock, yang sudah menonton semua episodenya berulang kali, apalagi episode pertama season pertama yang diwujudkan dalam bentuk manga ini.

Omong-omong, manga ini termasuk ke dalam golongan manga yang amat sangat terlambat sekali muncul versi terjemahan resminya di Indonesia, karena baru terbit tanggal 11 Januari 2017, saat Sherlock Season 4 sudah tayang. Memang sih aku sudah pernah membaca versi scanlation-nya, tapi tentu saja aku merasa wajib punya begitu m&c! merilis manga ini.

Oke, sekarang kita bahas singkat saja yuk...   

1. Cover
Begitu segel plastik dibuka, ternyata cover manga ini berupa flap cover! Jadi nostalgia nih, teringat masa-masa waktu manga (versi Elex Media) pertama kali terbit di Indonesia.

cover depan
cover belakang
Ada gambar hitam putih Mycroft Holmes dan John Watson di cover bagian dalamnya! Salah satu pertimbangan dihilangkannya flap cover untuk manga di Indonesia sudah pasti untuk menekan biaya. Manga ini harganya lumayan mahal, lebih dari dua kali harga manga biasa saat ini. Kebetulan saja aku belinya pas ada diskon 30% di Gramedia.com. 

2. Artwork & Chara Design
Artworknya rapi, dan boleh dibilang seperti storyboard yang cukup detail untuk episode pertama serial tevenya. Sedetail apa? Untuk gambar background, wallpaper dan segala pernak-pernik berantakan yang ada di Flat di Baker Street 221B, misalnya. 

Tapi sejujurnya, aku tidak terlalu suka dengan chara design-nya. Sepertinya dari semua chara yang ada, menurut pendapatku cuma chara design Sherlock yang mendekati versi serial tevenya, lengkap dari tulang pipinya yang tinggi sampai kemejanya yang kekecilan satu nomor.



3. Story
Aku sudah bilang kalau manga ini seperti storyboard untuk episode pertama season pertama serial tevenya, kan? Namanya juga versi adaptasi manga. Jalan cerita dari panel ke panel mengikuti adegan dan dialog di serial tevenya.

4. Terjemahan
Karena aku sudah terlalu sering menonton episode ini dengan teks bahasa Inggrisnya, otomatis aku jadi ingat secara verbatim dialog yang diucapkan para karakternya. Sewaktu aku membaca versi scanlation-nya, dialog asli dari serial teve itulah yang dicantumkan di sana. Nah sekarang, waktu aku membaca versi terjemahan Bahasa Indonesianya, aku malah merasa ada sesuatu yang tidak pas, karena terdapat pergeseran makna di sana-sini. Secara keseluruhan, karena cuma sedikit, tidak mengganggu jalan ceritanya sih, tapi tetap saja membuatku jadi merasa gatal. Entah apa penyebabnya. Mungkinkah karena manga ini diterjemahkan dari versi bahasa Jepangnya, sehingga menimbulkan lost in translation

5. Verdict
Seperti peringatan di atas, penilaian atas manga ini sangat bias. Meskipun terdapat beberapa aspek yang tidak begitu kusukai dari manga ini, aku bersyukur serial Sherlock ada versi adaptasi manganya, dan aku juga bersyukur akhirnya ada penerbit lokal yang menerbitkannya secara resmi. Karena itu, apapun kekurangannya, tetap saja manga ini kuponten :

Graphic Novels & Comic Books





Sunday, December 25, 2016

The Gunslinger by Stephen King


Judul : The Gunslinger (Sang Gunslinger)

Serial : The Dark Tower (#1)

Penulis : Stephen King

Penerbit : Gramedia Pustaka Utama

ISBN : 978-602-03-3561-2

Tebal : 304 halaman

Dibeli di : Gramedia.com

Harga beli : Rp. 25.500 (Harbolnas 70% off)

Dibaca tanggal : 25 Desember 2016

Komentar doang bukan review:
Aku sudah punya dan baca satu set lengkap edisi bahasa Inggris serial ini, dan sudah lama pula bertanya-tanya apakah bakalan ada versi terjemahan bahasa Indonesianya.

Eng, ing, eng... GPU menerbitkan jilid pertamanya! Jelas kubeli, apalagi pas harbolnas kemarin buku ini dikorting 70%! Sikaaat!

Aku penasaran bagaimana istilah "gunslinger" diterjemahkan. "Penembak jitu"? Ternyata tidak diterjemahkan sama sekali! Sang Gunslinger. Mungkin memang repot kalau diterjemahkan ya.

Lalu tibalah pada Bab 2 buku ini, di mana Sang Gunslinger teringat pada sebuah lagu anak-anak, yang bunyinya begini:

Hujan di Jawa jatuh ke rawa.
Ada tangis ada tawa
Sayang hujan di Jawa jatuh ke Jawa.


Langsung buru-buru ngecek versi aslinya, yang ternyata bunyinya begini:

The rain in Spain falls mainly on the plain.
There is joy and also pain
but the rain in Spain falls mainly on the plain


Alihbahasa sajak berima memang susah. Perlu kreativitas sendiri untuk menggubahnya, sehingga Spanyol pun bisa berubah jadi Jawa (terjemahan ini Indonesiawi sekali!) dan padang berubah jadi rawa.

Coba pikirkan alternatifnya kalau tetap pakai Spanyol yuk!
Hujan di Spanyol jatuh ke ---

...
(loading....)
(berusaha mencari-cari kata berima yang cocok)
...
Jengkol?
Tongkol?
Karambol?
Ompol?
...

Ah, jadi teringat belum sempat baca serial Pasukan Mau Tahu edisi bahasa Inggris yang belum lama ini kubeli. Penasaran seperti apa "bantun-bantun" Ern Goon (dan versi kocaknya dari Fatty!) dalam versi aslinya!

Anyway, mudah-mudahan GPU tidak menerbitkan jilid pertama saja, hanya karena versi filmnya --di mana Sang Gunslinger diperankan oleh Idris Elba--bakal rilis dalam waktu dekat. Kalaupun lanjut, kita lihat saja bagaimana buku-buku berikutnya, terutama yang tebal-tebal, bakal diterbitkan. Apakah satu judul bakal dibagi dua jilid macam Under the Dome? Atau nekat terbit dalam satu jilid yang super-duper tebal?

Omong-omong tentang sosok Gunslinger, gara-gara Stephen King konon terinspirasi sosok The Man With No Name di film The Good, The Bad, and the Ugly, yang terbayang selama membaca serial ini ya versi koboi Clint Eastwood muda. Jadinya agak susah membayangkannya sebagai Idris Elba. Kita lihat saja seperti apa filmnya nanti. Toh Denzel Washington cocok saja menggantikan Yul Brynner sebagai pemimpin The Magnificent Seven.

Kembali ke buku Sang Gunslinger ini.

Membaca ulang serial ini dari jilid pertama, pas membalik halaman bertuliskan 19 di awal buku... Sebagai pembaca yang telah menamatkan serial ini dan sudah tahu endingnya yang bikin pengen najong, aku jadi mengerti mengapa Stephen King menuliskan kalimat yang satu itu...


BEWARE!!!
SPOILER!!!
RIGHT FROM THE START!!!


Stephen King, I've come to bargain!


View all my reviews

Tuesday, May 17, 2016

The Devotion of Suspect X

Judul : The Devotion of Suspect X

Penulis : Keigo Higashino

Penerbit : Minotaur Books, 2011

Edisi : Hardcover

Tebal : 298 halaman

Dibeli di : Big Bad Wolf 2016, ICE BSD

Dibeli tanggal : 30 April 2016

Harga beli : Rp. 60.000,-

Dibaca tanggal : 15 Mei 2016

Sinopsis:
Yasuko Hanaoka is a divorced, single mother who thought she had finally escaped her abusive ex-husband Togashi. When he shows up one day to extort money from her, threatening both her and her teenaged daughter Misato, the situation quickly escalates into violence and Togashi ends up dead on her apartment floor. Overhearing the commotion, Yasuko’s next door neighbor, middle-aged high school mathematics teacher Ishigami, offers his help, disposing not only of the body but plotting the cover-up step-by-step.

When the body turns up and is identified, Detective Kusanagi draws the case and Yasuko comes under suspicion. Kusanagi is unable to find any obvious holes in Yasuko’s manufactured alibi and yet is still sure that there’s something wrong. Kusanagi brings in Dr. Manabu Yukawa, a physicist and college friend who frequently consults with the police. Yukawa, known to the police by the nickname Professor Galileo, went to college with Ishigami. After meeting up with him again, Yukawa is convinced that Ishigami had something to do with the murder. What ensues is a high level battle of wits, as Ishigami tries to protect Yasuko by outmaneuvering and outthinking Yukawa, who faces his most clever and determined opponent yet.


Rating :


Review versi emosional tak lama setelah membaca novel:

Baru kali ini aku membaca novel misteri sampai mencucurkan air mata. Right in the feel. Nyesek banget!!!

Well, aku sudah lama punya ebook novel ini, karena aku suka serial teve Shinzanmono dan Galileo, sehingga sengaja mencari tulisan Keigo Higashino, penulis novel-novel yang diangkat menjadi kedua serial teve itu. Tapi memang, karena pada dasarnya lebih mendahulukan untuk membaca buku fisik ketimbang ebook, aku baru membaca novel ini setelah membeli buku fisiknya di Big Bad Wolf kemarin.

Terus terang, susah untuk tidak merasa empati dan simpati hampir ke semua tokoh yang terlibat, dalam hal ini termasuk si lempeng Detektif Galileo. Biasanya ia memecahkan kasus tanpa emosi, tapi khusus kasus di novel ini, perasaannya saat berhasil memecahkan teka-teki dalam cerita ini (yang sengaja dipasang untuk menjebak polisi dan pembaca) sungguh dapat tersampaikan dengan baik.

Aaargh, jadi menyesal kenapa tidak membaca novel ini dari kemarin-kemarin.


Review versi kalem setelah turbulensi emosi mereda:

Which is harder: devising an unsolvable problem, or solving that problem?

Setelah membaca novel ini, aku jadi mengerti mengapa novel ini ditahbiskan sebagai salah satu karya masterpiece dari Keigo Higashino, sehingga rasanya wajar saja apabila novel ketiga, bukan novel pertama, dari serial Detektif Galileo ini yang menjadi novel pertama Higashino-sensei yang diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris.

Kalau pembaca menginginkan cerita misteri model 'whodunnit', maka lebih baik tidak membaca novel ini, karena peristiwa pembunuhan maupun pelakunya telah digambarkan secara gamblang pada bab awal novel.

Persis sebagaimana tercantum di sinopsisnya, dalam upaya membela diri, Yasuko Hanaoka (dibantu anak perempuannya) tanpa sengaja membunuh mantan suaminya Togashi. Semula ia berniat melaporkan diri, namun tetangganya, Ishigami, menawarkan bantuan lengkap, tidak hanya membantu menyingkirkan mayat Togashi, namun juga menyiapkan alibi bagi ibu-anak tersebut.

Berkat bantuan Ishigami itulah, polisi mengalami kesulitan dalam penyelidikan pembunuhan Togashi, karena tersangka utama, Yasuko, memiliki alibi yang kuat pada saat waktu estimasi pembunuhan. Selain itu, banyak petunjuk di lokasi ditemukannya mayat yang malah membuat bingung. Entah bagaimana, dengan analisis dan logika matematikanya, Ishigami mampu menyesatkan penyelidikan kepolisian.

Sayangnya, Ishigami tidak memperhitungkan adanya faktor anomali dalam perhitungannya: mantan teman kuliahnya, Dr. Manabu Yukawa, ahli fisika yang kadang-kadang nyambi sebagai detektif amatir dan dijuluki sebagai Detektif Galileo oleh pihak kepolisian. Walaupun awalnya Detektif Kusanagi, sahabat Yukawa, yang sering curcol dan meminta petunjuk untuk kasus-kasus yang ditanganinya, tidak meminta bantuan Yukawa dalam kasus ini, Yukawa melibatkan diri karena mengenali nama tetangga tersangka, Ishigami, sebagai teman kuliah yang diakuinya sebagai jenius matematika.

Yang membuat novel ini sangat menarik adalah battle of wit antara sesama jenius. Trik yang diciptakan Ishigami mungkin saja bisa menyesatkan detektif biasa, tapi tidak dapat mengecoh fisikawan yang sangat memahami logika berpikirnya. Namun pengungkapan trik yang dilakukan Ishigami oleh Yukawa bukanlah hal yang paling istimewa dari kisah ini, melainkan pengungkapan seberapa jauh Ishigami rela berkorban demi wanita yang dicintai dan dipujanya. Hence the title.

Novel ini termasuk salah satu novel misteri pembunuhan di mana aku mendukung pelaku atau pihak yang membantu si pelaku agar tidak tertangkap polisi (selain Dexter Morgan).

Bab-bab terakhir, terutama beberapa halaman terakhir novel, benar-benar nyeredet hate. Dan seperti biasa, kalau sampai ada novel yang bisa membuatku tak bisa berhenti membacanya sekaligus mengacak-acak perasaanku sampai mengucurkan air mata karena empati pada para tokohnya, meskipun itu novel misteri, aku cenderung bias dan memberikan nilai sempurna,


View all my reviews

Monday, February 29, 2016

A Walk Among The Tombstones

Judul : A Walk Among The Tombstones

Penulis : Lawrence Block

Penerbit : Orion, 2014

Tebal : 339 halaman

Dibeli di : Lapak Periplus FX Senayan

Dibeli tanggal : 20 Februari 2016

Harga beli : Rp. 71.000,-

Dibaca tanggal : 28 Februari 2016

Lokasi baca : Tanjung Lesung

Sinopsis :
Private eye Matt Scudder is investigating a very unusual kidnapper. Big-time dope dealer Kenan Khoury is a wealthy man, and it comes as no surprise when his wife, Francine, is kidnapped and a ransom demanded. Kenan pays up and his wife is duly returned to him --- in small pieces, left in the boot of an abandoned car. 

Soon Scudder is on a trail of a pair of ruthlessly sadistic psycopaths whose insanely cruel games have only just begun...


Review :
Ini buku karya Lawrence Block pertama yang kubeli dan kubaca. Jujur saja, aku tertarik untuk membelinya hanya karena buku ini masuk bargain books Periplus, dan aku memang suka mengumpulkan buku dengan cover film. Padahal aku tidak tertarik untuk menonton versi filmnya, karena keburu bosan melihat Liam Neeson main film action dengan tema serupa tapi tidak sama dan karakter yang serupa tapi tidak sama pula.

Dan tema buku ini? Penculikan! Whoa... Taken alert!

Tapiiii... ternyata buku yang tidak sengaja kubawa buat bekal acara outbond kantor ini ternyata menarik, dan akhirnya habis kubaca dalam sekali duduk. Kenapa? It's very gripping, That's why.

Tokoh-tokohnya tidak biasa.

Tokoh utamanya, Matt Scuder, mantan polisi yang alih profesi menjadi detektif swasta tanpa lisensi. Dari serialnya, ini adalah buku kesepuluh. Latar belakangnya dan lingkungan pertemanannya dengan pihak-pihak yang kurang lazim membuatku bertanya-tanya dan penasaran dengan buku-buku sebelumnya. Sebagai mantan alkoholik, kadang-kadang ia bertemu dengan orang-orang tak biasa di pertemuan AA, dan dari sanalah ia tanpa sengaja terlibat dalam kasus ini...

Klien yang menyewa Matt Scuder, Kenan Khoury, juga bukan orang biasa. Sebagai bandar narkoba yang tak pernah tersentuh hukum, kasus penculikan/pembunuhan istrinya tidak bisa dilaporkan kepada polisi, hingga ia meminta bantuan Scuder, dengan tujuan yang jelas: membunuh mereka. Apa jawaban Scuder? Ya.

Wow.

Karakter dalam buku ini jelas lebih banyak abu-abunya daripada putih ataupun hitam. Apakah Scuder terlibat dalam kejahatan terencana dengan membantu Kenan melacak para penculik/pembunuh istrinya, dengan mengetahui apa yang akan terjadi pada para pelaku kejahatan itu seandainya mereka ditemukan?

Apakah Kenan yang berprinsip bahwa ia berjual beli narkoba dalam kuantitas besar sebagai pedagang murni, hanya sepanjang ada permintaan dan penjualan, tanpa benar-benar mengedarkan narkoba pada konsumen hilir, adalah penjahat kelas kakap? Pantaskah bila istrinya mati dalam keadaan terpotong-potong kecil untuk itu?

Penyelidikan Scuder membawanya kepada kenyataan bahwa para penculik/pembunuh itu telah beraksi sebelum kasus istri Kenan. Bedanya, sebelumnya mereka melakukannya untuk sekedar hobi dan bersenang-senang. Sekarang, mereka sengaja mengambil keuntungan komersial dari sana. Penculikan yang menghasilkan uang! Korbannya? Tentu saja para penjahat kerah putih yang tak mungkin melaporkan kasusnya ke polisi! Dan setelah uang diperoleh, tak usah menepati janji. Perkosaan, penyiksaan, pembunuhan, mutilasi, tetap jalan terus! Double bonus!

Tegangan semakin tinggi ketika para pelaku kembali melakukan penculikan, dan kali ini yang menjadi korban adalah anak gadis seorang mantan gangster Rusia. Berpacu dengan waktu, dengan bantuan mantan rekan di kepolisian dan teman-teman baru di dunia bawah tanah termasuk para hacker jaman awal 90-an (setting buku ini), Scudder harus segera menemukan para psikopat itu.

Ya. Tema cerita ini cukup lazim untuk cerita detektif/thriller.

Yang tidak lazim memang tokoh-tokohnya. Termasuk motivasi para pelakunya yang sama sekali tidak menganggap korbannya sebagai manusia begitu mereka masuk ke dalam wilayah kekuasaannya.

Dilema moralnya, apakah Scudder akan membiarkan kliennya membunuh para pelaku kejahatan? Atau sepanjang perbuatan mereka memang sepantasnya diganjar hukuman mati, siapa yang lebih pantas menjadi algojonya selain keluarga korban? Dan apakah sang klien benar-benar sanggup melakukan pembunuhan?

Pilihan dan keputusan yang diambil para tokoh di novel yang mencekam ini membuatku pada akhirnya berseru "Yes!" tanpa lagi memikirkan dilema moralnya.


Verdict:


Under The Skin

Judul : Under The Skin

Penulis : Michel Faber

Penerbit : Mariner

Tebal : 319 halaman

Dibeli di : Lapak Periplus FX Senayan

Dibeli tanggal : 20 Februari 2016

Harga beli : Rp. 65.000,-

Dibaca tanggal : 27 Februari 2016

Lokasi baca : Antara Jakarta - Tanjung Lesung

Review :

Isserley always drove straight past a hitch-hiker when she first saw him, to give herself time to size him up. She was looking for big muscles: a hunk on legs. Puny, scrawny specimens were no use to her.

Paragraf pertama novel ini terasa sangat kuat, karena langsung menarik perhatian dan menimbulkan pertanyaan. Siapakah Isserley? Mengapa ia mengincar hitchhiker, khususnya hitchhiker laki-laki yang berpostur kuat dan gagah?

Coba bayangkan adegan ini:
Anda seorang laki-laki yang sedang putus asa mencari tebengan di pinggir jalan raya yang sepi dalam cuaca yang buruk. Bagaimana reaksi Anda bila sebuah mobil menepi, dan pengendara yang menawarkan tebengan ternyata perempuan cantik dan seksi bak Scarlett Johansson? Apakah Anda akan langsung menerima tawarannya, melompat masuk ke dalam mobil tanpa berpikir panjang lagi? Sebagian besar jawabannya: TENTU SAJA IYA!

Scarlett Johansson sedang mencari mangsa...

Yah, kalau Anda belum membaca buku ini atau menonton versi filmnya yang rilis tahun 2013, ada baiknya segera meninggalkan laman ini, karena:

Soalnya aku lagi kepingin membahas sedikit detail, yang ujung-ujungnya tentu saja membandingkan versi novel dan versi filmnya.


1. Siapakah Isserley?

Saat membaca buku ini, lupakan dulu sosok Scarlett Johansson, yang di versi film tidak diberi nama, cuma disebut The Female saja. Terus terang, karena aku sudah menonton versi filmnya dulu (tanpa mengetahui bahwa film itu adaptasi dari novel), pada awalnya aku jadi agak susah klik dengan deskripsi karakter utama yang bernama Isserley ini.

Novel ini dituturkan dari sudut pandang Isserley, perempuan misterius yang kerjaannya setiap hari berkeliaran dengan Toyota Corolla butut di jalan raya sepi dataran tinggi Skotlandia, mencari para lelaki gagah yang butuh tebengan.

Tapi selain itu, pembaca juga mendapat sudut pandang dari para penebeng di mobil Isserley. Dan jelas, gambaran mereka atas penampakan perempuan pemberi tebengan sama sekali tidak ada mirip-miripnya dengan Scarlett Johansson. Bertubuh kecil, pendek, dengan tangan dan jemari yang kurus dan kasar. Wajahnya tirus, dengan sepasang mata besar yang tampak semakin besar di balik kaca mata lensa tebalnya. Satu-satunya kelebihan perempuan aneh itu yang paling menonjol adalah sepasang payudaranya yang besar, yang sengaja dipamerkan dengan pakaian yang terlalu terbuka di bagian dada.

Yap. Sepasang payudara itulah yang menjadi senjata utama Isserley untuk menarik perhatian para lelaki yang masuk ke dalam mobil.

Jadi, siapakah Isserley? Pilih salah satu jawaban di bawah ini:
a. Predator yang menjerat lelaki demi petualangan seks kilat
b. Predator yang menjerat lelaki tanpa ada hubungannya sama sekali dengan seks


2. Mengapa Isserley mengincar lelaki bertubuh besar, sehat, dan kuat?

Pertama-tama, jawaban pertanyaan di atas itu adalah b.

Iya, Isserley sengaja memamerkan payudaranya, hanya supaya para lelaki yang masuk ke mobilnya mereka menjadi lengah dan mau banyak bicara. Dengan demikian, ia bisa mengorek informasi lebih lanjut, yang pada intinya: adakah orang yang akan menyadari dan mencari bila si lelaki tiba-tiba lenyap tak ketahuan rimbanya?

Isserley adalah seorang predator, pemburu, dalam arti yang paling harfiah.

Baginya, lelaki bertubuh besar, sehat dan kuat adalah... bahan makanan berkualitas unggul.

Jadi, pertanyaan berikutnya adalah, apakah Isserley sebenarnya?
a. Kanibal di dunia modern.
b. Alien dari dunia lain.

Dan jawabannya?


3. Alien, tentu saja.

Sejatinya, kalau dilihat dari sudut pandang kita, Isserley bukan manusia. Tapi kalau kita dibawa ke sudut pandang Isserley, dialah yang manusia, sedangkan kita tak lebih dari binatang buruan, bahan makanan. Bagi kaumnya, makhluk berkaki dua seperti manusia berada pada tingkatan yang lebih rendah. Iya, ras Isserley berkaki empat dan berekor. Dari deskripsi Isserley tentang laki-laki bangsawan dari kaumnya yang konon sangat tampan, dengan bulu hitam mengilap, entah kenapa yang terbayang malah anjing ras doberman pinscher raksasa.

Demi menjadi pemburu vodsel (istilah mereka untuk kita), Isserley harus menjalani operasi bedah yang traumatik. Ekor dipotong, tulang belakang diluruskan dengan kaki belakang sehingga posturnya menjadi mirip vodsel yang berkaki dua, kelenjar susu di perut dilenyapkan, buah dada palsu ala vodsel betina dipasang, rambut dan bulu yang indah dicukur habis. Yang jelas, aku belum bisa membayangkan sosok asli Isserley yang konon sangat cantik untuk ukuran kaumnya itu seperti apa. Mirip anjing pudel? Atau collie?

Hasil tangkapan Isserley dikumpulkan di sebuah peternakan terpencil di Skotlandia, di mana para korban diproses: dilucuti semua pakaiannya, dibersihkan, dan dipotong organ yang tak penting seperti lidah dan testikelnya, lantas digemukkan. Pada akhirnya, disembelih dan dibuat fillet untuk kemudian dikirim ke kampung halaman via pesawat kargo antariksa sebagai bahan makanan mewah yang harganya selangit.

Tentu saja, bagiku yang sudah pernah membaca cerita scifi tentang alien yang memangsa dan memasak manusia seperti di Old Man's War-nya John Scalzi, pertanyaan yang benar-benar mengusik adalah kenapa sih Isserley harus berburu sendirian secara diam-diam, demi menangkap manusia satu demi satu, dan berusaha jangan sampai perbuatannya diketahui oleh manusia? Benar-benar tidak efektif dan efisien. Bukankah kalau mereka ras yang lebih unggul dengan teknologi yang jauh lebih canggih, mereka bisa saja menangkap manusia dalam jumlah besar, lantas membuat peternakan manusia untuk produksi daging secara masal?

Tapi kalau dipikir-pikir lagi, mungkin ras alien ini mencari jalan aman. Bisa jadi kalau manusia sampai sadar ada makhluk berintelejensi lain yang memandang mereka sebagai bahan baku makanan, bakal ada perlawanan dan jatuhnya ke perang antar planet. Repot deh. Mendingan diam-diam saja. Lagipula, kalau sampai pasokan daging manusia meningkat drastis, harganya bisa jatuh karena tidak lagi langka. Memang menjelang akhir novel, perusahaan yang membawahi Isserley mulai meminta pasokan ditingkatkan, dengan pesanan tambahan untuk mulai menyediakan vodsel betina, khususnya yang masih memiliki banyak telur (sampai di sini yang kepikiran malah hidangan kaviar atau telur ikan salmon). Tapi sampai saat itu pun, sama sekali belum tersirat keinginan untuk ekspansi produk secara besar-besaran.


4. Lalu, inti cerita alien pemburu manusia ini apa?

Well, secara permukaan saja, dengan membaca cerita dari sudut pandang Isserley, kita bisa menganggap buku ini sebagai memoar seorang (?) alien perempuan dari kasta terendah di planetnya yang gersang, di mana air dan oksigen begitu langka hingga harus dibeli. Ia terpaksa bekerja sebagai pemburu bahan makanan langka di planet yang jauh (namun dengan air dan oksigen yang berlimpah!), dan demi pekerjaan baru itu terpaksa mengalami penderitaan dengan perubahan fisik yang menyakitkan. Sebagai pemburu profesional, strategi yang digunakannya mirip pembunuh berantai, yang berprinsip jangan sampai perbuatannya ketahuan dan terendus pihak berwajib. Tapi bahkan seorang pemburu handal yang sangat berhati-hati pun bisa terpeleset dan salah memilih calon korban, yang berani-beraninya mencoba memperkosanya. Trauma atas kejadian tersebut membuat Isserley terganggu secara psikologis sehingga mempengaruhi pekerjaannya sehingga ia kurang berhati-hati dalam memilih korban berikutnya. Belakangan, setelah mengetahui bahwa posisinya dalam perusahaan tidak istimewa karena bisa digantikan oleh siapa saja kapan saja, Isserley mulai mempertanyakan tujuan hidupnya di bumi.

Dari sisi lain, mungkin saja ada yang berpendapat buku ini membawa agenda vegan. Meskipun pekerjaannya berburu vodsel, Isserley bukan pemakan daging. Dan dari sekilas info kampung halaman, kabarnya mulai bermunculan berbagai penyakit aneh dan baru yang diderita para pemakan daging vodsel. Mungkin seharusnya Isserley mengecek dulu data kesehatan para lelaki yang masuk ke dalam perangkapnya?

Isu lain yang mungkin diusung adalah kesetaraan hak hidup. Ada adegan di mana Amlis Vess---anak pemilik perusahaan yang mempekerjakan Isserley---yang sedang berkunjung incognito mempertanyakan apakah makhluk berkaki empat yang ada di sekitar peternakan, yang disebut domba, bisa dimakan. Isserley jadi histeris, karena baginya domba nyaris setara dengan ras mereka (karena berkaki empat dan berekor) sehingga ide untuk memakan domba benar-benar tak boleh dipikirkan. Dari sisi kita, mungkin seperti isu tentang memakan daging makhluk berkaki dua seperti monyet, orangutan, simpanse, atau gorila. Mengapa wajar saja jika kita memakan daging makhluk berkaki empat seperti sapi, rusa, dan domba, tapi tidak lazim jika memakan daging makluk berkaki dua yang secara DNA nyaris sama dengan manusia?

Sisi berikutnya yang bisa jadi bahan diskusi adalah adanya pembalikan peran di novel ini, di mana sosok perempuan yang kelihatan lemah sebenarnya predator yang berburu laki-laki. Penggambaran adegan perburuan Isserley, yang dimulai dari penilaian Isserley dari sisi fisik hingga faktor keamanannya (laki-laki tanpa keluarga, teman, atau pekerjaan), disertai dengan penilaian calon korban terhadap penampilan fisik Isserley. Ada sebagian calon korban yang bisa melihat kalau wujud Isserley memang agak aneh dan mencurigakan, tapi ada juga yang tidak peduli terutama karena penampakan payudara montok yang bisa membuat pikiran jadi kurang jernih! Jadi, para lelaki, berhati-hatilah. Jangan sembarangan menerima tawaran tebengan dari perempuan muda yang menyetir mobil sendirian, meskipun perempuan itu secantik Scarlett Johansson!


5. The Movie

Bicara tentang Scarlett Johansson, berarti kita kembali bicara tentang versi filmnya, yang terus terang saja sangat berbeda dengan novelnya, dan di sini kita bukan hanya bicara tentang wujud karakter utamanya.

Dalam versi film, sang alien yang wujudnya tidak jelas digambarkan "mengenakan kostum" manusia serupa Scarlett Johansson, yang secara harfiah mewujudkan judul Under The Skin. Secara prinsip, pekerjaan sehari-hari si alien persis seperti Isserley, memberi tebengan pada lelaki yang kurang waspada dan terlalu mudah terpesona pada penampakan luar si alien predator. Dan, setelah si alien membawa sang lelaki ke sarangnya, selalu ada adegan surreal tidak jelas di mana si alien membuka pakaian sepotong demi sepotong, memancing dan memesona calon korban yang tanpa busana hingga terangsang dan tenggelam dalam kolam sehitam tinta yang tanpa dasar.


Pertanyaan bagi penonton awam sepertiku, bagaimana nasib para korban selanjutnya? Apakah adegan itu merupakan simbol bahwa mereka sedang dimangsa atau bagaimana? Sama sekali tidak ada gambaran yang resmi seperti dalam versi novelnya, di mana mereka diproses secara mekanis dan higienis untuk dijadikan irisan daging yang mahal harganya. Tapi, mungkin, secara lambat laun, kita mengikuti perjalanan si alien yang dalam pergaulannya di dunia manusia, mempelajari kehidupan manusia, dan mungkin, hanya mungkin, menjadi manusia, meskipun hanya sebentar.


Verdict :




Thursday, February 11, 2016

Watching Deadpool


Setelah penantian yang terasa begitu lama, akhirnya kesampaian juga nonton film yang satu ini.


Lokasi : Cinemaxx Plaza Semanggi

Hari / Tanggal : Rabu / 10 Februari 2016

Jam Tayang : 06:45 PM

Harga Tiket : Rp. 30.000,-

Studio : 3

Kursi : F - 14

Trailer (sesuai urutan) :
- Batman vs Superman : Dawn of Justice
- X-Men : Apocalypse
- Captain America : Civil War 


Seperti label posting ini, ini bukan review, tapi sekedar curcol setelah menonton versi live-action alias adaptasi film dari komik Deadpool. Seperti biasa, pertanyaan sejuta umat dari setiap film hasil adaptasi novel/komik: seberapa setia pada versi aslinya?

Pertama-tama, kudos untuk Ryan Reynolds cs yang sudah berjuang keras bertahun-tahun untuk mewujudkan film Deadpool dengan hasil yang setia, atau setidaknya mendekati, versi komiknya. Bagaimanapun, tetap saja ada deviasi yang sepertinya disengaja demi plot cerita.

Eh, tunggu, memang ada plot-nya?

Ada sih, tapi jujur saja, plotnya sangat sederhana. Origin story standar yang ada sekedar untuk menjustifikasi aksi Deadpool.

Boy meets girl. Wade Wilson, mantan tentara special force yang jadi mercenary, bertemu dengan Vanessa, love of his life. Tragedi memisahkan mereka: Wade menderita kanker. Demi Vanessa, diam-diam Wade mengikuti program eksperimen yang konon selain bisa menyembuhkan kanker juga mungkin bisa memberinya kekuatan superhero. Tapi program itu ternyata bertujuan untuk membentuk superslave yang akan dijual ke penawar tertinggi. Wade lolos, sembuh dari kanker karena kekuatan super yang diperoleh dari eksperimen, namun penampilannya hancur. Ia pun mencari biang kerok program itu, Ajax, untuk membalas dendam dan mengembalikan wujud aslinya.

Ringkasan plot ini bukan spoiler, kok, karena siapapun yang pernah menonton trailernya pasti minimal tahu garis besarnya.

Berikutnya, seperti halnya kalau kita menonton film (adaptasi ataupun bukan), ada saja up dan down-nya. Here we go...


The Ups

1. The Humor
Humornya khas spoof movie banget, dan sudah dimulai sejak menit pertama opening credit. Kita tidak bakal disuguhi nama-nama pemain, produser, atau penulis naskah sama sekali. Buat yang biasa melihat video "honest trailer" di youtube mungkin bisa kebayang modelnya seperti apa. Selanjutnya, hampir setiap menit ada saja joke-nya, baik verbal maupun nonverbal, yang bisa jadi lucu, garing, atau tidak lucu, tergantung selera humor penonton. Kebanyakan verbal jokes keluar dari mulut Wade Wilson/Deadpool, membuat Ryan Reynolds kebagian paling banyak dialog. Wajar saja sih, karena Deadpool terkenal sebagai...

2. The Merc with a Mouth
Bahkan sebelum jadi Deadpool sekalipun, tokoh utamanya sudah cerewet, bikin orang gatal ingin menyumpal mulutnya, atau menjahit mulutnya (deja vu!!!). Thank God tragedi X-Men Origins; Wolverine tidak diulang di sini. Dan sesuai karakter Deadpool di komik yang sadar betul kalau dia cuma tokoh komik, di film pun dia sadar betul kalau cuma tokoh film, karena dia tetap...

3. Breaking the Fourth Wall
Bicara langsung pada penonton? Check. Menggeser kamera supaya penonton tidak melihat adegan berdarah-darah? Check. Menyindir peran sendiri di film Green Lantern dan X-Men Origins: Wolverine? Check. Mempertanyakan Professor Xavier mana yang harus dihadapinya: McAvoy atau Stewart? Check. Menyindir studio yang pelit karena cuma bisa menyediakan 2 orang anggota X-Men? Check.
And many more. Tak lupa Deadpool juga selalu menyelipkan...

4. Pop Culture Reference
This. Bertebaran di mana-mana. Kadang ada yang kutahu, kadang ada yang aku nggak tahu Deadpool (atau tokoh lain) lagi ngomongin apa. Maklum, bisa jadi akunya yang kudet. Terus, kalau kebetulan aku tahu referensi yang dicetusin Deadpool, eh si Negasonic Teenage Warhead (satu dari 2 karakter X-Men yang dipinjamkan untuk film ini) malah ngomong, "Damn, you're old." Wadaw, ceceu, sakitnya tuh di siniiih... m(>.<)m

5. Do not take it seriously
90% film ini tidak ada serius-seriusnya. Kalaupun situasi kelihatan mulai agak serius, biasanya Deadpool sendiri yang bikin situasi serius menjadi 100% tidak serius dengan segala tingkah yang sinting dan kadang-kadang bego. Bahkan saat adegan gore di mana Deadpool sibuk membantai lawan dalam misi "Where's Francis"-nya.

6. Other Characters
Bukan, bukan mau ngomongin cameo Stan Lee, tapi para karakter yang cukup rajin wara-wiri di sekitar Deadpool dalam versi komik, dimunculkan juga dalam versi film. Blind Al, yang aslinya "tawanan" Deadpool, di versi film menjadi roommate sukarela (kayaknya sih) berkat bantuan Craiglist (atau gara-gara ketemu di laundry, ya? I confused). Atau Weasel, yang di sini jadi sohib Deadpool. Atau Bob, si anggota pasukan H.Y.D.R.A. yang kadang diakui Deadpool sebagai teman, di sini numpang lewat sebagai mantan rekan Special Force Deadpool yang bekerja di pihak lawan. Aku mengharapkan munculnya Cable atau Domino. Well, mungkin lain kali.

7. The Romance
Film ini dirilis menjelang Hari Valentine dan digadang-gadang sebagai film romance, sebagaimana dipasarkan lewat poster semacam ini:


Dan... terlepas dari jalan cerita yang cukup berbeda dari versi komiknya, kisah cinta Wade dan Vanessa versi film memang co cweet, gitu. Penonton dibuat cukup peduli pada kelangsungan cinta mereka. Dan juga cukup peduli pada Deadpool yang kuatir kalau penampilan barunya yang cocok untuk main film horor bisa bikin Vanessa takut dan kabur, sehingga memilih tidak ketemu sama sekali.

8. The Ending Credit
Hilarious. Breaking the fourth wall, definitely. Dan sepertinya cukup optimis dengan hasil film ini ke depannya, untuk memberikan harapan pada penonton bahwa sekuelnya bakal dibikin. Sepertinya lho.


The Downs

1. The Censored Scenes
Begitu melihat LSI mengkategorikan film yang aslinya berating 'R' ini sebagai 17 Tahun Ke Atas, aku yakin bakal banyak adegan yang disensor. Masalahnya, waktu minggu lalu aku menonton The Hateful Eight yang digolongkan 21 Tahun Ke Atas saja, masih ada saja adegan yang kena babat gunting sensor. Yang hilang tentu saja adegan sex montage sepanjang tahun antara Wade-Vanessa. Atau adegan-adegan pembantaian Deadpool baik yang menggunakan pistol kaliber berat maupun katana. Beuh, padahal adegan film The Raid 2 yang lebih sadis saja tidak dipotong. Pilih kasih, ah.

Buat ibu-ibu di Amrik yang sempat meminta agar rating Deadpool diturunkan dari R ke PG13 dengan menghilangkan adegan seksnya, supaya anaknya bisa ikut nonton film ini, datang ke Indonesia saja, gih. Paling-paling yang bakal bikin terganggu adalah...

2. The Subtitles
Subtitle-nya cukup mengganggu. Terutama kalau terjemahannya tidak pas atau jauh ke mana-mana. Atau kalau terjemahannya pakai istilah KBBI yang jarang digunakan. Kata "merancap" misalnya... aku lebih biasa mendengar istilah "onani" atau "masturbasi" sih. Mungkin maksud semua itu untuk memperhalus terjemahan? Sepanjang film, aku berusaha keras untuk tidak memperhatikan teks terjemahan.

Hm... tidak banyak sih yang bikin down. Dan itu bisa terselesaikan kalau versi Blue-Ray nya sudah rilis nanti, toh film ini worth to re-watch meskipun kejutan-kejutannya bakal tidak terasa baru lagi.


Other Nitpicks
Tapi masih ada nitpick yang tidak penting sih, misalnya saja tentang Deadpool yang sudah sembuh kankernya berkat kemampuan regenerasi tapi tampangnya hancur gara-gara eksperimen. Versi aslinya sih, justru yang bikin penampilan Deadpool parah adalah kankernya yang sudah menyebar ke seluruh tubuh. Masalahnya, kankernya bersaing ketat dengan kemampuan regenerasinya yang diperoleh dari gen Wolverine via Program Weapon X, sehingga kondisi Deadpool bagaikan kanker berjalan.



Atau tentang Deadpool yang mengaku bukan hero, bahkan malas banget dipaksa-paksa Colossus buat bergabung dengan X-Men. Iya sih, kelakuannya yang tidak bisa dipegang membuat Deadpool tidak bisa dianggap hero, tapi kalau dilihat dari versi komiknya, yang jelas kelihatan sih Deadpool sebenarnya ingin diakui oleh para hero lain, sehingga ia kepingin bergabung dengan kelompok X-Men, bahkan ngidam berat kepingin jadi anggota Avengers. Malah para anggota X-Men dan Avengers yang keberatan kalau Deadpool mengaku-ngaku sebagai anggota, atau malah beneran jadi anggota (sementara sekalipun). Kenapa? Karena Deadpool selalu bikin rusuh dan merusak nama baik kelompok, tentunya, gara-gara tingkahnya yang tidak memenuhi standar keheroan.



Gerundelan lainnya adalah keterbatasan ruang gerak Deadpool di dunia Marvel. Gara-gara hak cipta, Deadpool saat ini hanya bisa bergerak di universe X-Men (itu pun terbatas, karena sepertinya dia tidak bakal numpang lewat di X-Men Apocalypse). Deadpool lebih hilarious apabila dipasangkan dengan para hero lainnya, termasuk hero yang ada di Marvel Cinematic Universe, seperti Avengers (terutama Spidey dan Wolvie), Daredevil, Luke Cage, Iron Fist, dan lain-lain. Simply, karena keberadaannya mengganggu ketenangan lahir batin semua orang yang berinteraksi dengannya :))

Yah, boleh kan berharap kalau suatu hari nanti crossover Marvel pada media film bisa dibuat sesukanya sebagaimana pada media komik, tanpa peduli hak cipta filmnya dipegang siapa. Seperti Spidey, yang hak ciptanya masih dipegang Sony, bisa muncul di film Captain America: Civil War, misalnya.

Yang jelas, mungkin terlalu jauh kalau kita berharap bisa melihat Deadpool di-crossover dengan karakter DC, seperti Batman...












Thursday, December 31, 2015

HERO!!! (A One-Punch Man Review)





Title : One-Punch Man


Story by : ONE

Art by : Yusuke Murata

Volume : 1 - 10 (Ongoing)

First time read : 3 April 2015

Reread : November - December 2015

Final Verdict: 

5 of 5 Punches!!!

First of all, aku pertama kali membaca manga ini bukan karena rekomendasi dari siapapun atau manapun. Patut disesalkan, aku benar-benar tidak mengetahui keberadaan manga ini sampai awal tahun 2015. Waktu itu aku baru selesai membaca ulang manga Eyeshield 21 (entah untuk yang keberapa kalinya) dan menonton ulang seluruh episode animenya. Yang kusukai dari Eyeshield 21 bukan hanya ceritanya (yang membuatku rada melek aturan main american football), tapi juga artwork-nya. Entah kenapa aku mendadak kepingin membaca manga lain yang gambarnya juga ditukangi oleh Yusuke Murata. Kalau ada.

Ternyata memang ada. Cukup mencari sebentar di Goodreads, ketemu deh serial yang masih ongoing ini. Setelah mengecek ratingnya yang di atas 4 dan membaca sekilas beberapa review, aku berhasil diyakinkan bahwa manga ini minimal sama menariknya dengan Eyeshield 21.

And you know what, keyakinan itu ternyata terbukti benar!

Sebagai pembaca setia shonen manga serta komik superhero, dapat dikatakan aku langsung mentasbihkan bahwa manga yang merupakan satire (atau parodi?) dari genre yang kugemari ini sebagai salah satu bacaan favoritku tahun ini. Karenanya, tidak lengkap kalau aku tidak menutup tahun ini dengan mengomentarinya, walaupun sedikit saja.

Lalu, apanya sih yang menurutku menarik dari serial ini?


1. The Story

Aslinya, manga ini berupa webcomic yang di-upload secara indie oleh mangaka dengan nama pena ONE di site pribadinya, dengan artwork yang ala kadarnya, bahkan boleh dibilang masih berupa sketsa kasar atau name. Konon ONE membuatnya secara iseng, sebagai hobi, just to entertain himself.

Tapi ternyata, meskipun cuma komik iseng dan dibuat suka-suka, banyak orang yang membaca dan menyukainya. Jadi, sudah pasti yang membuat orang terpikat adalah ceritanya.


One-Punch Man (selanjutnya kita sebut OPM) bertutur tentang seorang hero yang sangat tidak standar. Dengan nama yang merupakan plesetan dari Anpanman--serial komik/anime anak-anak yang terkenal di Jepang (cara membacanya hampir mirip: Wanpanman, dan kostumnya pun mirip cuma terbalik warna merah dan kuningnya saja), 
penampilan sang hero sungguh biasa-biasa saja. Saking tidak menonjolnya, siapapun yang melihat pasti cenderung memandang enteng, atau mungkin tidak merasakan keberadaannya,

Tapi... memang ada tapinya.

Plot cerita manga ini tidak menggunakan pakem shonen-manga/komik superhero/cerita silat yang klise saking terlalu sering di-copy/paste. Tidak ada cerita perjalanan hidup yang panjang dan lama, yang mengisahkan sang hero berjuang mati-matian melatih diri demi menjadi kuat dan sanggup mengalahkan lawan demi lawan yang makin lama makin sakti mandraguna.

Sejak bab pertama kita sudah disuguhi hero yang sanggup mengalahkan monster cukup dengan sekali pukul.


Wan paaaaaaaanch!!!
Yap, premis ceritanya memang persis seperti judulnya. Literally.

Di dunia antah berantah di mana makhluk super--baik hero maupun villain--berkeliaran, hiduplah seorang hero yang dapat mengalahkan musuhnya hanya dengan satu pukulan saja. Sangat kuat, overpowered malah. The strongest man alive.


Kalau cuma membaca judul dan premisnya saja, pasti ada saja (calon) pembaca yang langsung mengkritisi: "Lho, apa serunya cerita tentang jagoan yang pasti selalu menang dengan satu pukulan? Apa nggak membosankan, tuh?"

That's the point.


Manga ini bercerita tentang hero yang saking kuatnya sampai tak ada lawan, dan merasa frustrasi saking bosannya. Waktu masih lemah, ia memang bercita-cita menjadi hero yang bisa mengalahkan musuh sekali pukul, tapi setelah cita-citanya tercapai, tidak ada lagi tantangan yang bisa membuat adrenalin terpacu. Menjadi orang terkuat sejagad raya ternyata membosankan.

Jangan kuatir, meskipun premisnya seperti itu, pembaca takkan mati bosan membaca manga ini. Cara ONE merangkai cerita seputar seorang overpowered hero, dengan meledek keklisean genre shonen-manga/komik superhero yang diusungnya, malah bakal membuat pembaca mati ketawa.

Premis bahwa sang hero (yang seperti klisenya bakal muncul belakangan) pasti menang mudah memang sudah given. Tapi meskipun itu running gag utama, yang lebih menarik adalah cerita tentang kehidupan sehari-hari sang hero atau interaksinya dengan karakter sampingan yang bakal terus bermunculan mengganggu privasinya.

Semakin lama, dengan meluasnya pergaulan sang hero, jalan cerita setiap arc semakin tak bisa ditebak dan membuat pembaca semakin penasaran menunggu kelanjutannya.



2. The Artwork

Webcomic ONE mampu memikat jutaan penggemar, termasuk Yusuke Murata, yang jadi ngidam berat kepingin membuat ilustrasinya. Melalui twitter ia mengajak ONE berkolaborasi, dan gayung pun bersambut. Cerita di balik layar bagaimana komik ini bisa menjadi versi manga resmi yang ada sekarang ternyata penuh drama, yang tadinya kukira cuma bisa terjadi di manga Bakuman saja.

Artwork Yusuke Murata yang sangat detail dan rumit sanggup membawa cerita ONE ke level yang lebih tinggi, sehingga menarik perhatian lebih banyak pembaca yang mungkin semula malas membaca karena ilfil duluan pada artwork originalnya.

Jalan cerita OPM versi manga sangat setia pada sumbernya, begitu pula panel-panelnya. Pembaca yang membaca kedua versi bisa membandingkan secara langsung adegan yang sama. Jelas, karena versi webcomic dapat berfungsi sebagai name bagi versi manga.

Contohnya beberapa panel awal di bab pertama. Dari gambar original seperti ini:


Menjadi gambar yang detail dan mewah seperti ini:

Atau gambar one-punch pertama di atas menjadi begini :


Belum lagi kalau Murata-sensei sedang asyik bereksperimen dengan gaya animasi. Ia bisa menghabiskan berlembar-lembar halaman hanya untuk menggambarkan satu adegan saja. Walhasil, apabila panel-panelnya dibuat gif, bisa jadi adegan animasi pendek.

Seperti ini :

Atau ini :

Atau ini:

Atau ini:

Sayangnya, eksperimen Murata-sensei yang ngabis-ngabisin halaman ini hanya ada pada versi awal yang dirilis di website Young Jump Web Comics. Begitu dijadikan tankobon yang jumlah halamannya terbatas, Murata-sensei merevisi panel-panel mewah ini menjadi cuma satu-dua panel standar *nangis darah di pojokan*

Ngomongin artwork dari ilustrator kelas dewa macam Murata-sensei begini nggak bakal ada habisnya (ini juga udah kepanjangan, neng!). Lanjut deh.


3. The Characters

a. The Main Character

My name is Saitama. I am a hero. My hobby is heroic exploits. I got too strong. And that makes me sad. I can defeat any enemy with one blow. I lost my hair. And I lost all feeling. I want to feel the rush of battle. I would like to meet an incredibly strong enemy. And I would like to defeat it with one blow. That's because I am One-Punch Man.

Backstory Saitama, sang OP hero, sejauh ini masih kurang jelas. Pembaca cuma diberi sedikit kilas balik ke masa tiga tahun lalu waktu Saitama masih lemah (tapi masih punya rambut), namun dengan susah payah mampu mengalahkan seorang (ekor?) monster. Setelah berlatih setiap hari selama tiga tahun sampai botak licin (menu latihannya biarlah tidak kuungkap di sini), ia menjadi hero karena hobi, untuk mendapatkan gairah dari pertarungan hidup mati. Tapi menjadi jagoan tanpa tanding membuatnya bosan dan depresi.

Murata-sensei mempertahankan chara-design ONE untuk tokoh utama ini. Selain sebagai homage buat versi asli, desain ini juga sangat cocok menggambarkan karakter Saitama yang polos, lempeng dan datar. Dan justru karena artwork Murata-sensei yang sangat wah dan detail, sosok Saitama jadi malah semakin menonjol.

Tapi tentu saja, chara Saitama yang polos datar kayak telur rebus kalau kondisinya sedang santai atau tanpa semangat. Tapi kalau kebetulan lagi serius, desain dan ekspresinya bisa langsung berubah drastis seperti ini:


Bukan cuma ekspresi, bahkan gambaran bentuk tubuh Saitama juga berubah drastis tergantung sikon. Murata-sensei selalu menggambar tubuh Saitama seperti karakter super-duper-biasa, tapi kalau sedang digambarkan serius, Saitama pun langsung memiliki superbody sebagaimana layaknya superhero XD

Karena itulah running gag lain dari karakter utama ini juga bahwa kebanyakan orang selalu meremehkannya karena penampilannya yang super-average. Hanya manusia yang beruntung masih hidup setelah berhadapan langsung dengan sosok aslinya (karena kalau monster sudah pasti bakal tewas) yang dapat mengakui (atau tidak sudi mengakui) kehebatannya.

Karakter Saitama sendiri sebenarnya tidak begitu suka bersosialisasi dan hidup bermasyarakat. Pada awal cerita ia cukup puas hidup sendirian sebuah apartemen kecil di kota hantu sembari sekali-sekali menjadi hero kala negara api monster menyerang. Tapi sejalan berkembangnya cerita dan semakin banyak kenalan baru, karakternya semakin berkembang. Dan justru interaksi antara karakternya yang antimainstream dengan banyak karakter lain itulah yang menjadi sumber lelucon yang tidak ada habisnya untuk digali, atau malah sumber drama yang bisa membuat pembaca geregetan setengah mati apabila sang hero mendapat perlakuan tidak adil dari para warga yang telah ditolongnya.


b. The Other Heroes

Kalau boleh dibandingkan, OPM Universe (OPMU) mungkin mirip dengan Marvel Universe (MU) pasca episode Civil War, di mana semua superhero yang terdaftar mempunyai wilayah kerja dan tanggung jawab masing-masing.

Bedanya, kalau di MU, semua superhuman wajib mendaftarkan diri, karena kalau tidak mau akan diburu, dianggap penjahat, dan dipenjara. Sedangkan di OPMU, hero yang mendaftarkan diri adalah mereka yang ingin diakui sebagai hero (dan seperti di MU, lumayanlah bisa dapat gaji bulanan dari sumbangan masyarakat). Hero yang tidak terdaftar sangat berisiko tidak dikenal, bahkan prestasinya malah bisa dicatut atau diakui oleh hero yang terdaftar dan kebetulan ada di lokasi.

Hero Association di OPMU terdiri atas ratusan hero yang dibedakan menjadi kelas S, A, B, dan C, tergantung level kekuatannya. Saat Saitama mendaftar dan mengikuti ujian untuk jadi "hero resmi", meskipun powernya level dewa dan menghancurkan semua rekor, ia nyaris tidak lulus gara-gara hasil ujian tertulisnya yang pas-pasan, dan memulai karir dari kelas C.

Tokoh hero pertama yang menjadi kenalan Saitama adalah android muda bernama Genos. Setelah menyaksikan kekuatan Saitama yang di luar nalar, secara sepihak Genos memaksa Saitama menjadi gurunya dan teman sekamarnya. Secara otomatis, Genos menjadi sidekick Saitama.

Karena mereka selalu bersama, karakter mereka jelas tampak sangat kontras. Saitama yang digambar simpel disandingkan dengan Genos yang desainnya serumit Iron Man. Saitama yang santai dan pinpinbo dibandingkan dengan Genos yang serius dan pintar (tapi masih terlalu polos!). Saitama yang tampilannya rata-rata air dijajarkan dengan Genos yang luar biasa canggih. Saitama yang dicap hero Kelas C, dengan Genos yang langsung dicap Kelas S. Tapi tak ada kontras yang lebih kontras apabila yang dibandingkan adalah level power mereka.

Pembaca akan mendapati begitu banyaknya karakter hero di OPMU. Tapi jangan khawatir, walaupun tidak ada yang dibahas secara mendalam semuanya mudah diingat karena unik dengan ciri khas karakter dan powernya masing-masing. Dari Mumen Rider di Kelas C, Fubuki and the gank di Kelas B, Amai Mask sang idola yang nyambi jadi hero, sampai para superhuman di Kelas S seperti Bang, Metal Bat, sampai super esper Tatsumaki.

Dan karena ini action manga, adegan aksi yang paling mendebarkan biasanya adalah pertarungan hidup-mati antara para hero dan para monster. Pakem standar shonen-manga atau komik superhero sangat pas buat para hero selain Saitama. Dan justru karena mereka bertarung mempertaruhkan nyawa sampai tetes darah terakhir itulah yang membuat kekuatan Saitama semakin tampak tak terhingga. Karena begitu ia datang (hero selalu datang paling akhir), dengan mudahnya tamatlah riwayat sang monster.

Dan pertanyaan yang membuat pembaca gemas adalah, kapan Saitama bisa diakui oleh semua pihak sebagai hero yang levelnya (jauh, jauh sekali) di atas Kelas S? Pertanyaan yang sepertinya masih bakalan lama dijawab kreator manga ini.

c. The Villains

Oh, the horror... the horror...

Di OPMU, karakter villains selalu digambar dengan sangat detail, dan kadang-kadang dengan backstory dan motivasi yang lebih mendingan ketimbang backstory dan motivasi Saitama. Sama halnya dengan desain para hero, untuk desain karakternya, Murata-sensei banyak terinspirasi alias merefer shonen-manga atau komik superhero lain.

Sayangnya, beda dengan di genre yang diparodikannya, para villain ini tak ada yang berlama-lama bertahan di cerita untuk membuat kerusakan di muka bumi. Malah, boleh dibilang daripada sebagai villains, mereka lebih pantas disebut sebagai victims di manga ini. Terutama victims buat Saitama.

Tentu saja, Saitama masih pilih-pilih kalau mau main pukul. Buat lawan yang benar-benar monster, tidak masalah dipukul mampus. Tapi kalau lawannya manusia, selalu dibiarkan hidup setelah dihajar seperlunya.

Kadang-kadang, untuk musuh yang nggak ada kapoknya seperti ninja/assassin Speed-o'-Sound Sonic, OPM terasa sebagai kebalikan dari genre shonen manga. Tokoh villain-nya yang terpaksa harus terus-terusan berjuang keras dan berlatih supaya bisa level up untuk kembali menantang sang tokoh hero-nya :)

Omong-omong  tentang villains, apakah keberadaan Saitama yang sangat overpowered melampaui level para monster yang datang dari darat, laut, udara sampai luar angkasa, pada suatu saat nanti akan dianggap sebagai ancaman bagi umat manusia yang tidak bisa menerima kekuatannya dengan akal sehat?

Akankah ia dicap sebagai villain dan bukan hero lagi?


4. The Anime

Versi animenya yang tayang bulan Oktober - Desember tahun ini benar-benar menggebrak dunia kang-ouw (dan membuatku jadi membaca ulang manga ini).

Selain opening song-nya yang menggelegar (dan juga sangat berbahaya karena benar-benar membakar semangat sehingga pendengarnya ingin segera berlari dan menghajar musuh), yang asyik dari anime ini adalah karena pace-nya yang cepat dan sangat setia pada versi manga-nya. Saking cepatnya, nyaris tujuh jilid dihabiskan hanya untuk 12 episode anime saja! Bandingkan dengan manga Naruto, yang 8 jilid awal manga digelar dalam 40-an episode!

Tentu saja, meskipun artwork animasinya sangat keren, sebaiknya kita tidak membanding-bandingkannya dengan versi manga yang artworknya memang sangat detail. Sebagus apapun gambar animasi, kalau ilustratornya dipaksa membuat gambar bergerak dengan artwork yang sangat detail, bisa-bisa animenya nggak kelar-kelar. Yang penting, imajinasi yang kita lihat di versi di manga bisa diejawantahkan di layar kaca dalam versi paling sempurnanya. Dan tentu saja, kita juga jangan berharap animasi ala Murata-sensei muncul di versi anime. Kenapa? Karena versi anime ini sangat setia terhadap versi tankobon-nya, yang memang sudah menghilangkan panel-panel buang-buang halaman Murata-sensei :P

Yang juga tak kalah pentingnya, versi anime-nya tidak bertele-tele dan ditambahi episode filler yang mengada-ada. Aku sudah cukup kenyang menonton anime Naruto atau One Piece yang diisi episode tambahan yang tidak ada pada versi manga karena harus menunggu versi manga-nya mengejar versi anime. Aku juga termasuk yang bete waktu anime Full Metal Alchemist pertama akhirnya terpaksa memilih menggunakan jalan cerita alternatif gara-gara tidak mau menunggu versi manganya selesai. Untung dibuat versi Brotherhood-nya yang jauh lebih memuaskan.

Lho, kok malah curcol. Tapi bagaimana lagi, mau novel ataupun manga, sebagai pembaca aku lebih suka versi film atau animasi yang setia pada buku sumbernya.

Jadi, mengingat manga OPM masih ongoing di arc yang belum tuntas, aku tidak terlalu berharap ada season berikutnya sebelum cerita di manga cukup untuk diangkat menjadi episode anime lagi. Meskipun begitu, aku tidak menolak apabila ada cerita anime tambahan, asalkan dibuat dalam bentuk OVA. Dan iya, aku akan cukup puas menunggu rilis dan menonton OVA-nya dulu sampai episode anime untuk arc berikutnya siap ditayangkan.

Halah, komentarnya kepanjangan, euy! Baiklah untuk sementara kusudahi sampai di sini dulu. Dan sebagai penutup, akan kutambahkan plesetan quote dari salah satu film superhero DC Universe, dengan berandai-andai OPM kelak dianggap sebagai ancaman bagi umat manusia karena konon kekuatannya dapat menghancurkan alam semesta:

He's the hero Earth's deserves
but not the one it needs right now
So we'll hunt him
Because he can take it
Because he's not a hero
He's a silent guardian
A watchful protector
The Bald Knight
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Bonus:
Silakan cari perbedaan antara kedua gambar di bawah ini