Showing posts with label Review 2016. Show all posts
Showing posts with label Review 2016. Show all posts
Sunday, December 25, 2016
The Gunslinger by Stephen King
Judul : The Gunslinger (Sang Gunslinger)
Serial : The Dark Tower (#1)
Penulis : Stephen King
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
ISBN : 978-602-03-3561-2
Tebal : 304 halaman
Dibeli di : Gramedia.com
Harga beli : Rp. 25.500 (Harbolnas 70% off)
Dibaca tanggal : 25 Desember 2016
Komentar doang bukan review:
Aku sudah punya dan baca satu set lengkap edisi bahasa Inggris serial ini, dan sudah lama pula bertanya-tanya apakah bakalan ada versi terjemahan bahasa Indonesianya.
Eng, ing, eng... GPU menerbitkan jilid pertamanya! Jelas kubeli, apalagi pas harbolnas kemarin buku ini dikorting 70%! Sikaaat!
Aku penasaran bagaimana istilah "gunslinger" diterjemahkan. "Penembak jitu"? Ternyata tidak diterjemahkan sama sekali! Sang Gunslinger. Mungkin memang repot kalau diterjemahkan ya.
Lalu tibalah pada Bab 2 buku ini, di mana Sang Gunslinger teringat pada sebuah lagu anak-anak, yang bunyinya begini:
Hujan di Jawa jatuh ke rawa.
Ada tangis ada tawa
Sayang hujan di Jawa jatuh ke Jawa.
Langsung buru-buru ngecek versi aslinya, yang ternyata bunyinya begini:
The rain in Spain falls mainly on the plain.
There is joy and also pain
but the rain in Spain falls mainly on the plain
Alihbahasa sajak berima memang susah. Perlu kreativitas sendiri untuk menggubahnya, sehingga Spanyol pun bisa berubah jadi Jawa (terjemahan ini Indonesiawi sekali!) dan padang berubah jadi rawa.
Coba pikirkan alternatifnya kalau tetap pakai Spanyol yuk!
Hujan di Spanyol jatuh ke ---
...
(loading....)
(berusaha mencari-cari kata berima yang cocok)
...
Jengkol?
Tongkol?
Karambol?
Ompol?
...
Ah, jadi teringat belum sempat baca serial Pasukan Mau Tahu edisi bahasa Inggris yang belum lama ini kubeli. Penasaran seperti apa "bantun-bantun" Ern Goon (dan versi kocaknya dari Fatty!) dalam versi aslinya!
Anyway, mudah-mudahan GPU tidak menerbitkan jilid pertama saja, hanya karena versi filmnya --di mana Sang Gunslinger diperankan oleh Idris Elba--bakal rilis dalam waktu dekat. Kalaupun lanjut, kita lihat saja bagaimana buku-buku berikutnya, terutama yang tebal-tebal, bakal diterbitkan. Apakah satu judul bakal dibagi dua jilid macam Under the Dome? Atau nekat terbit dalam satu jilid yang super-duper tebal?
Omong-omong tentang sosok Gunslinger, gara-gara Stephen King konon terinspirasi sosok The Man With No Name di film The Good, The Bad, and the Ugly, yang terbayang selama membaca serial ini ya versi koboi Clint Eastwood muda. Jadinya agak susah membayangkannya sebagai Idris Elba. Kita lihat saja seperti apa filmnya nanti. Toh Denzel Washington cocok saja menggantikan Yul Brynner sebagai pemimpin The Magnificent Seven.
Kembali ke buku Sang Gunslinger ini.
Membaca ulang serial ini dari jilid pertama, pas membalik halaman bertuliskan 19 di awal buku... Sebagai pembaca yang telah menamatkan serial ini dan sudah tahu endingnya yang bikin pengen najong, aku jadi mengerti mengapa Stephen King menuliskan kalimat yang satu itu...
BEWARE!!!
SPOILER!!!
RIGHT FROM THE START!!!
Stephen King, I've come to bargain!
View all my reviews
Monday, October 3, 2016
The Polysyllabic Spree
Penulis : Nick Hornby
Penerbit : Believer Books
Edisi : Paperback,
Tebal : 143 halaman
Dibeli di : Indonesia International Book Fair 2016
Dibeli tanggal : 2 Oktober 2016
Harga beli : Rp. 150.000,-
Dibaca tanggal : 2 Oktober 2016
Sinopsis :
The Polysyllabic Spree is the first title in the Believer Book series, which collects essays by and interviews with some of our favorite authors—George Saunders, Zadie Smith, Michel Houellebecq, Janet Malcolm, Jim Shepard, and Haruki Murakami, to name a few. In his monthly column "Stuff I've Been Reading", Nick Hornby lists the books he's purchased and the books he's read that month - they almost never overlap - and briefly discusses the books he's actually read. The Polysyllabic Spree includes selected passages from the novels, biographies, collections of poetry, and comics discussed in the column.
Review :
Selain nama penulisnya (yang sebagian besar karyanya sudah kubaca dan kusukai), yang membuatku langsung mencomot buku ini di lapak buku bekas di IIBF tahun ini adalah tagline-nya:
A hilarious and true account of one man's struggle with the monthly tide of the books he's bought and the books he's been meaning to read.
Jadi, ini review buku tentang kumpulan review buku yang ditulis Nick Hornby pada kolomnya di majalah bulanan Believer.
Pada awal setiap esainya, Hornby membagi daftar bacaannya dalam dua kolom: buku yang dibeli dan buku yang dibaca (dan sekalian direview secara singkat) pada bulan tersebut. Dan tentu saja, tidak semua buku yang dibelinya lantas dibaca pada bulan yang sama (hah, story of my life!).
Hornby menetapkan beberapa aturan dasar bagi pembaca di bab pertama buku ini. Aturan pertama:
I don't want anyone writing in to point out that I spend too much money on books, many of which I will never read. I know that already. I certainly intend to read all of them, more or less. My intentions are good. Anyway, it's my money. And I'll bet you do it too.
Huahaha, nonjok banget! Don't we all?
Review Hornby dari buku-buku yang sempat dibacanya tiap bulan bukanlah review yang klinis, boleh dibilang cukup pribadi bahkan curcol. Kita jadi tahu kalau Hornby jadi suka memperhatikan orang-orang tak dikenal yang sedang membaca buku waktu liburan (siapa tahu ada yang sedang membaca novel yang dikarangnya). Dan kita juga jadi tahu kalau Hornby ternyata saudara ipar dari Robert Harris (pengarang Conspirata, Imperium, Pompeii), dan bagaimana ia harus meluangkan waktu khusus untuk membaca (baca: meninggalkan bacaan lain) apabila sang ipar memberikan buku terbarunya. Dan sama dengan kita, sebuah buku yang dibaca Hornby bisa membuatnya membaca buku lain yang berkaitan, bahkan buku-buku dari pengarang sang sama dalam waktu yang berdekatan! Dan, mungkin sama dengan kita, Hornby berkontemplasi tentang fenomena bagaimana kita bisa lupa tentang isi buku-buku yang pernah kita baca.
Dari kolom daftar buku, kita juga bisa melihat bahwa daftar buku yang dibeli Hornby setiap bulan seringkali lebih panjang daripada buku yang dibacanya. Jadi, supaya imbang, kadang Hornby berbuat curang (yang diakuinya dengan bangga) dengan membaca banyak buku-buku yang tipis supaya daftar buku yang dibaca lebih panjang ketimbang yang dibeli! Walah, itu mah trik yang kupakai kalau lagi keteteran di reading challenge! Dem, kok malah bangga ya?
Gara-gara baca buku ini, aku jadi ingin membaca beberapa buku yang dibahasnya, termasuk So Many Books karya Gabriel Zaid, yang mengangkat pertanyaan universal para pembaca buku: Why bloody bother? Why bother reading the bastards, and why bother writing them? Menurut Zaid, perlu waktu lima belas tahun hanya untuk membaca judul dan nama penulis dari semua buku yang pernah diterbitkan (plus delapan tahun lagi kalau mau ditambah nama penerbitnya). Hornby sampai mengutip paragraf kedua buku Zaid yang dianggapnya sangat spesial: "The truly cultured are capable of owning thousands of unread books without losing their composure of their desire for more."
That's me! And you, probably! That's us!
All the books we own, both read and unread, are the fullest expression of self we have at our disposal. With each passing year, and with each whimsical purchase, our libraries become more and more able to articulate who we are, whether we read the books or not.
Well, buku ini kubeli dan kubaca pada hari yang sama. That's a rare thing these days.
Sunday, October 2, 2016
Salvation of a Saint
Judul : Salvation of a Saint (Detective Galileo, #5)
Penulis : Keigo Higashino
Penerbit : Minotaur Books, 2014
Edisi : Paperback, 336 halaman
Dibeli di ; Periplus.com
Dibeli tanggal : 28 Agustus 2016
Harga beli : Rp. 197.200,- (diskon ultah 15%)
Diterima tanggal : 17 September 2016
Dibaca tanggal : 24 September 2016
Sinopsis:
In 2011, The Devotion of Suspect X was a hit with critics and readers alike. The first major English language publication from the most popular bestselling writer in Japan, it was acclaimed as “stunning,” “brilliant,” and “ingenious.” Now physics professor Manabu Yukawa—Detective Galileo—returns in a new case of impossible murder, where instincts clash with facts and theory with reality.
Yoshitaka, who was about to leave his marriage and his wife, is poisoned by arsenic-laced coffee and dies. His wife, Ayane, is the logical suspect—except that she was hundreds of miles away when he was murdered. The lead detective, Tokyo Police Detective Kusanagi, is immediately smitten with her and refuses to believe that she could have had anything to do with the crime. His assistant, Kaoru Utsumi, however, is convinced Ayane is guilty. While Utsumi’s instincts tell her one thing, the facts of the case are another matter. So she does what her boss has done for years when stymied—she calls upon Professor Manabu Yukawa.
But even the brilliant mind of Dr. Yukawa has trouble with this one, and he must somehow find a way to solve an impossible murder and capture a very real, very deadly murderer. Salvation for a Saint is Keigo Higashino at his mind-bending best, pitting emotion against fact in a beautifully plotted crime novel filled with twists and reverses that will astonish and surprise even the most attentive and jaded of readers.
Verdict :
Review singkat :
Ini novel Keigo Higashino ketiga yang kubaca, dan... lagi-lagi sang pelaku pembunuhan sudah dapat kita ketahui di bab awal, termasuk motivasinya! Yang harus dipecahkan bukanlah who dan why, tapi how. Pihak kepolisian maupun Detektif Galileo dibuat pusing, karena alibi sang tersangka utama yang sangat kuat dan tidak bisa dipatahkan. Pada saat korban tewas keracunan kopi yang mengandung arsenik, ia berada ratusan mil dari TKP, dan praktis tidak melakukan apapun yang mencurigakan sebelum pergi. It's a perfect crime!
Belum lagi, di sini Detektif Kusanagi terpesona (kalau bukan jatuh cinta) pada si tersangka utama, sehingga Detektif Utsumi pun diam-diam meminta bantuan pada Profesor Yukawa untuk memecahkan kejahatan sempurna itu. Dan justru karena kondisi Kusanagi yang tidak biasa itulah, Yukawa yang sebenarnya ogah-ogahan membantu pun mau ikut campur.
Trik pembunuhannya ternyata benar-benar di luar dugaan, dan menunjukkan perencanaan dan kesabaran yang luar biasa dari sang pelaku, di mana triknya justru berhasil karena ia tidak melakukan apa-apa sama sekali menjelang kematian korban!
Higashino-sensei kembali membuat twist yang sukar ditebak pembaca. Well done, Sir!
Penulis : Keigo Higashino
Penerbit : Minotaur Books, 2014
Edisi : Paperback, 336 halaman
Dibeli di ; Periplus.com
Dibeli tanggal : 28 Agustus 2016
Harga beli : Rp. 197.200,- (diskon ultah 15%)
Diterima tanggal : 17 September 2016
Dibaca tanggal : 24 September 2016
Sinopsis:
In 2011, The Devotion of Suspect X was a hit with critics and readers alike. The first major English language publication from the most popular bestselling writer in Japan, it was acclaimed as “stunning,” “brilliant,” and “ingenious.” Now physics professor Manabu Yukawa—Detective Galileo—returns in a new case of impossible murder, where instincts clash with facts and theory with reality.
Yoshitaka, who was about to leave his marriage and his wife, is poisoned by arsenic-laced coffee and dies. His wife, Ayane, is the logical suspect—except that she was hundreds of miles away when he was murdered. The lead detective, Tokyo Police Detective Kusanagi, is immediately smitten with her and refuses to believe that she could have had anything to do with the crime. His assistant, Kaoru Utsumi, however, is convinced Ayane is guilty. While Utsumi’s instincts tell her one thing, the facts of the case are another matter. So she does what her boss has done for years when stymied—she calls upon Professor Manabu Yukawa.
But even the brilliant mind of Dr. Yukawa has trouble with this one, and he must somehow find a way to solve an impossible murder and capture a very real, very deadly murderer. Salvation for a Saint is Keigo Higashino at his mind-bending best, pitting emotion against fact in a beautifully plotted crime novel filled with twists and reverses that will astonish and surprise even the most attentive and jaded of readers.
Verdict :
Review singkat :
Ini novel Keigo Higashino ketiga yang kubaca, dan... lagi-lagi sang pelaku pembunuhan sudah dapat kita ketahui di bab awal, termasuk motivasinya! Yang harus dipecahkan bukanlah who dan why, tapi how. Pihak kepolisian maupun Detektif Galileo dibuat pusing, karena alibi sang tersangka utama yang sangat kuat dan tidak bisa dipatahkan. Pada saat korban tewas keracunan kopi yang mengandung arsenik, ia berada ratusan mil dari TKP, dan praktis tidak melakukan apapun yang mencurigakan sebelum pergi. It's a perfect crime!
Belum lagi, di sini Detektif Kusanagi terpesona (kalau bukan jatuh cinta) pada si tersangka utama, sehingga Detektif Utsumi pun diam-diam meminta bantuan pada Profesor Yukawa untuk memecahkan kejahatan sempurna itu. Dan justru karena kondisi Kusanagi yang tidak biasa itulah, Yukawa yang sebenarnya ogah-ogahan membantu pun mau ikut campur.
Trik pembunuhannya ternyata benar-benar di luar dugaan, dan menunjukkan perencanaan dan kesabaran yang luar biasa dari sang pelaku, di mana triknya justru berhasil karena ia tidak melakukan apa-apa sama sekali menjelang kematian korban!
Higashino-sensei kembali membuat twist yang sukar ditebak pembaca. Well done, Sir!
Friday, September 16, 2016
The Life-Changing Magic of Tidying Up
Judul : The Life-Changing Magic of Tidying Up
(Seni Beres-Beres dan Metode Merapikan ala Jepang)
Penulis : Marie Kondo
Penerbit : Bentang
Tebal : xviii + 206 halaman
ISBN : 9786022912446
Dibeli di : Gramedia.com
Harga beli : Rp. 45.900,- (disc. 15%)
Diterima pada tanggal : 26 Agustus 2016
Dibaca pada tanggal : 29 Agustus 2016
Singkatnya, sebagai pengumpul buku, pakaian, sepatu, kartu pos, perangko, mug, koin... eh, intinya segala macam barang (tapi terutama buku), aku merasa guidance dari Marie Kondo ini sangat penting!
Titik.
Eh, nggak juga ding, masih koma, karena
Mulai dari mana ya...
Bagiku buku ini sangat menohok, karena sebagai orang (merasa) cukup apik, rapi, dan rajin berbenah setiap hari (terutama di kantor), ternyata banyak kebiasaanku dalam berbenah yang rupanya salah kaprah.
Menurut Marie Kondo, mendingan kita merapikan sekaligus daripada sedikit-sedikit, karena berbenah sedikit-sedikit berarti berbenah tanpa henti. Aku sependapat dalam hal ini, karena sudah kupraktekkan di kantor. Setelah berbenah dengan membuang barang-barang tak dibutuhkan, aku selalu menjaga kondisi ruang kerja dalam kondisi rapi-kinclong-hampir tidak ada barang di atas meja setiap kali kutinggal pulang di akhir hari. Tapi... ada tapinya, ini hanya bisa dilakukan karena aku tidak menyimpan barang-barang pribadi di kantor, termasuk buku!
Cerita jadi lain kalau sudah menyangkut barang-barang pribadi. Sebagai manusia tipe pengumpul (kadang-kadang tipe pemburu juga sih, khususnya barang diskonan), barang-barang pribadiku selalu bertambah setiap hari. Meskipun aku pecinta buku kelas kakap yang anggaran belanja buku setiap bulannya jauh lebih besar daripada anggaran sandang/pangan/papan, ternyata koleksi pakaian dan sepatuku baik di kamar kos maupun di rumah orang tua juga memakan banyak tempat penyimpanan! Pertambahan baju/sepatu memang tidak seperti pertambahan buku yang eksponensial, cuma beberapa bulan sekali atau sampai setahun sekali, tapi tetap bertambah karena barang yang sudah bertahun-tahun tidak dipakai pun masih disimpan.
Tidak tega membuang barang memang penyakit turunan khas tipe pengumpul. Sudah susah-susah dikumpulkan, mahal-mahal dibeli, masa dibuang begitu saja. Sayang kan, masih bisa dipakai lagi kapan-kapan, apalagi ukuran baju/sepatu tetap sama dari zaman SMP. Sayang kan, siapa tahu buku yang itu mau dibaca lagi kapan-kapan.
Menurut Marie Kondo, "kapan-kapan" berarti "takkan pernah", jadi semua barang yang statusnya tidak jelas seperti itu harus dibuang! Ia juga menyarankan agar kita memulai dengan membuang semuanya sekaligus, tanpa ampun, dan sampai tuntas! Caranya adalah, kita mengumpulkan barang yang akan dibereskan di satu tempat, lalu memilih mana yang akan disimpan dan yang akan dibuang, dengan mengambil dan memegangi setiap barang dan bertanya "Apakah ini membangkitkan kegembiraan?" Jika ya, simpanlah. Jika tidak, buang saja. Dan urutan terbaik untuk berbenah per kategori barang adalah: pakaian, buku, kertas, pernak-pernik, dan terakhir kenang-kenangan. Tapi karena koleksiku yang paling banyak adalah buku, untukku pribadi sepertinya koleksi buku yang harus dibereskan duluan.
Pertama-tama, sepertinya aku merasa kurang sreg dengan prinsip Marie Kondo bahwa "kapan-kapan" berarti "takkan pernah", khususnya terkait dengan timbunan buku tak terbaca. Aku pernah menelantarkan buku selama puluhan tahun (Tinker, Tailor, Soldier, Spy), belasan tahun (War and Peace, The Stand, The Dark Tower Series), atau beberapa tahun (ah, ini mah tidak bisa disebut satu persatu), tapi buku-buku itu tidak kubuang karena aku meyakini kualitasnya, dan toh akhirnya benar-benar kubaca. Tapi, itu bukan berarti aku tidak pernah membuang buku yang belum kubaca sama sekali. Aku juga pernah kok menyortir timbunan buku belum terbaca dan menyumbangkan sebagian di antaranya. Pertimbangannya simpel saja, aku mungkin tidak akan terlalu suka membacanya dan toh buku itu kubeli dengan harga obral.
Dulu, aku pernah berencana kapan-kapan membuka perpustakaan umum atau rumah baca gratis di kampungku, demi meningkatkan minat baca anak-anak di lingkungan sekitar rumah yang saat ini kelihatannya sangat kurang, yang mungkin disebabkan tidak adanya akses yang mudah dan murah ke buku bacaan. Jadi, aku sering memanfaatkan pameran atau sale buku sebagai ajang berinvestasi sejak dini, dengan membeli buku-buku yang kuanggap sepertinya menarik, termasuk buku anak-anak, dalam jumlah yang lumayan banyak. Tapi aku mulai berpikir ulang sejak insiden menyedihkan beberapa tahun yang lalu, waktu nyaris 3/4 koleksi bukuku dilego ke tukang loak (KILOAN!!!) oleh orang yang seharusnya menjaganya.
Lantas, aku pun mengubah prinsip dalam mengoleksi buku, dari semula mengoleksi sebanyak-banyaknya menjadi hanya mengoleksi buku yang kusukai saja. Waktu aku membeli ulang buku-buku yang raib, aku pastikan buku-buku itu adalah favoritku, yang dengan memiliki dan membacanya saja dapat membuatku bahagia. Nah, sudah cocok dengan prinsip Marie Kondo, kan?
Lalu, bagaimana dengan buku koleksi yang sekarang kalau kupegang satu per satu tidak ada getar terasa? Padahal dulu mungkin waktu membelinya aku senang banget kayak nemu harta karun, yang bisa jadi gara-gara kudapat dengan gratis atau harga murah meriah.
Ya... Persis seperti anjuran Marie Kondo juga: buang saja. Tapi tentunya bukan buang sembarangan ke kali atau dikilo ke tukang loak. Selalu ada tempat untuk buku. Kalau rencanaku membuka rumah baca sendiri di kampungku baru bisa terlaksana di masa yang akan datang karena aku belum bisa menemukan orang lain yang bisa kupercaya untuk merawat koleksiku, mungkin lebih baik apabila buku-bukuku bermanfaat dan berguna saat ini, baik di tangan para pecinta buku lain ataupun di perpustakaan di kampung lain yang lebih membutuhkan.
Jadi, mungkin acara beres-beres perpustakaan (dan giveaway di blog ini) sepertinya akan selalu menjadi kegiatan rutinku. Aku tidak bisa mengikuti anjuran Marie Kondo untuk berbenah secara sekaligus, selain karena waktu yang terbatas, aku juga masih belum bisa (baca: belum mau) menghentikan belanja buku, baik yang rutin maupun nonrutin. Iya, aku masih menggunakan prinsip berbenah versi lama: kalau ada barang yang masuk, harus ada barang yang keluar. Tapi itu pun hasilnya sudah cukup lumayan, kok. Tumpukan buku tanpa tempat di lemari perpustakaanku yang ruangnya terbatas semakin berkurang, dan hati pun terasa lebih ringan.
Kepada buku-buku yang kulepas, terima kasih atas kebahagiaan yang telah kalian berikan saat aku memperoleh dan memiliki kalian selama ini. Mudah-mudahan kalian dapat memberikan kebahagiaan di tempat yang baru.
Kepada teman-teman yang mengadopsi buku-bukuku, terima kasih atas kesediaannya untuk menampung buku-bukuku dan mensukseskan kegiatan beres-beres dan merapikan perpustakaan pribadiku.
P.S. Kutipan buku yang kucuplik di sini cuma sedikit, jadi kalau tertarik untuk belajar teknik Marie Kondo lebih lanjut, silakan baca sendiri ya. Very recommended buat hoarder kambuhan.
P.P.S. Meskipun aku belum bisa mempraktekkan isinya, buku ini sudah menjadi salah satu buku favoritku saat ini. Jadi tidak, aku tidak akan membuangnya. Di Goodreads, aku merating buku ini:
P.P.P.S. Dengan membaca buku ini, atau mempraktekkan seni Marie Kondo, minimal kita akan menyadari apa saja yang sebenarnya kita butuhkan untuk menjalani hidup sehari-hari dengan gembira, dan apa saja yang lebih baik kita singkirkan supaya kita dapat merasa lebih bahagia. Buku ini dilengkapi dengan testimoni dari klien-klien yang dibantu Marie Kondo untuk berbenah, meskipun kadang-kadang terlalu ekstrim seperti ini:
Kursus Anda mengajarkan kepada saya untuk melihat apa saja yang sungguh saya butuhkan dan apa saja yang tidak saya perlukan. Jadi, saya lantas minta cerai. Sekarang saya merasa jauh lebih bahagia.
Friday, September 9, 2016
Hidup Di Luar Tempurung
Judul : Hidup di Luar Tempurung
Penulis : Benedict Anderson
Penerjemah : Ronny Agustinus
Penerbit : Marjin Kiri
Tebal : 205 halaman
Dibeli di : Post Santa Blok M
Dibeli tanggal : 27 Agustus 2016
Dibaca tanggal : 3 September 2016
Waktu pertama kali sengaja main ke Post Santa Blok M (pakai acara hujan-hujanan pula!) demi membeli satu buah buku yang susah dicari di toko buku offline dan online biasa, aku malah tergiur (baca: kalap) melihat display buku-buku terbitan Marjin Kiri (aku suka pilihan buku yang diterbitkan Marjin Kiri) yang nota bene juga rada susah dicari di toko buku offline dan online biasa, dan pada akhirnya pulang dengan beberapa di antaranya. Nah, buku ini salah satunya.
Seperti biasa, selain faktor penerbitnya, aku membeli buku ini karena (setelah membaca sinopsis di cover belakangnya) merasa buku ini sepertinya menarik. Untunglah, kali ini feeling-ku tidak meleset. IMHO, buku ini sangat, sangat, sangat menarik! Dan alhasil di Goodreads buku ini kurating:
Aku sudah cukup banyak membaca buku biografi yang cukup bervariasi, dari perwira militer, politisi, pengusaha, komika, bintang film, pelatih sepakbola, novelis, editor dan lain sebagainya, tapi otobiografi seorang akademisi? Rasanya cukup jarang. Apalagi akademisi yang satu ini pernah kerja lapangan di Indonesia, tetap cinta Indonesia meski dicekal puluhan tahun oleh rezim Orde Baru, lantas setelah meninggal dunia abunya disebar di Selat Madura.
Awalnya, buku ini hanya diterbitkan dalam bahasa Jepang dengan pasar sasaran mahasiswa-mahasiswi Jepang, untuk membantu mereka yang tak punya banyak bayangan akan konteks sosial, politik, budaya, dan zaman tempat para ilmuwan Anglo-Saxon lahir, mengenyam pendidikan, dan menjadi matang secara keilmuan. Namun menjelang akhir hayatnya buku ini diterbitkan juga dalam bahasa Inggris, dan pada akhirnya tentu saja dalam bahasa Indonesia.
Dalam buku tipis ini, Benedict Anderson menceritakan masa kecilnya, masa pendidikan di Irlandia dan Inggris, pengalaman akademisi di AS, kerja lapangan di Indonesia, Siam dan Filipina, disertai renungan perihal universitas di Barat, perbandingan-perbandingan antardisiplin ilmu, sampai menceritakan aktivitas di masa pensiun, sesekali ditambahi membahas buku atau film kesukaannya. Membaca buku ini seperti mendengarkan kakek kita bercerita tentang masa lalunya, kadang-kadang serius, kadang-kadang bergurau, dan kadang-kadang melantur suka-suka. Pokoknya, tidak membosankan! Penuturannya asyik untuk diikuti dan pengalaman hidupnya bikin sirik. Rasanya seperti membaca kisah petualangan Tintin di dunia nyata (minus karakter-karakter heboh macam Kapten Haddock atau Profesor Calculus), kalau Tintin seorang akademisi dan bisa menua.
Seperti biasa, aku juga suka penerjemahan Mas Ronny yang membuat ceritanya mengalir lancar. Hanya ada satu hal yang membuat kening sempat berkerut, yaitu pemilihan kata "bokap-nyokap" saat Om Ben (panggilan sayang teman-teman muda Indonesia) bercerita tentang ayah-ibunya. Kata-kata prokem yang saat ini rasanya sudah jarang terdengar ini terasa agak aneh di antara bahasa buku yang nyaris formal secara keseluruhan. Tapi belakangan, setelah dipikir-pikir lagi, pasti ada alasan khusus di balik pemilihan kata dari bahasa prokem itu. Mungkin karena itulah bahasa gaul anak muda yang dipelajari Om Ben sewaktu masih kerja lapangan di Indonesia dan terus melekat sampai sekarang. Bahkan, kalau melihat catatan Mas Ronny di akhir buku, dalam komunikasi tertulisnya dengan teman-teman Indonesianya, Om Ben masih demen menggunakan ejaan Suwandi ketimbang EYD.
Sebelum membaca buku ini, aku sudah membeli dan membaca buku Di Bawah Tiga Bendera karya Benedict Anderson yang juga terbitan Marjin Kiri. Setelah membaca buku ini aku jadi ingin mencari dan membaca karya-karya beliau yang lain, terutama bukunya yang paling terkenal, Immagined Communities, yang rupa-rupanya jadi buku pegangan mahasiswa yang mempelajari dan mendalami nasionalisme.
Thursday, July 21, 2016
Steelheart
Judul : Steelheart
Serial : Reckoners #1
Penulis : Brandon Sanderson
Penerbit : Noura Books
Tebal : 562 halaman
ISBN : 9786020989983
Dibeli di : Gramedia.com
Harga beli : Rp. 84.000,- (sebelum diskon 15% + 22%)
Diterima tanggal : 2 Juli 2016
Selesai dibaca tanggal : 20 Juli 2016
Sinopsis:
Steelheart menghancurkan ruangan, membunuh siapa pun yang dia lihat. Tiran itu berteriak penuh kemurkaan. Kemudian, gelombang energi terpancar dari tubuhnya, dan lantai di sekelilingnya pun berubah warna—menjelma logam.
Saat Calamity muncul, manusia yang terkena efeknya mendapatkan kekuatan super. Orang-orang menyebut mereka Epic. Namun, alih-alih menjadi pahlawan, mereka menggunakan kekuatan untuk menguasai dunia dan menghancurkan siapa pun yang menghalangi tujuan mereka.
Teror menyebar ke seluruh negeri. Bumi diliputi kegelapan. Para manusia biasa harus hidup di bawah tanah. Tak ada yang berani memberontak, kecuali Reckoners—sekelompok manusia biasa yang mengabdikan diri melawan Epic.David ingin bergabung dengan Reckoners karena dialah satu-satunya saksi mata kelemahan Steelheart. Dan sudah saatnya dia membalaskan kematian ayahnya.
Review :
Sinopsis buku di atas memberikan gambaran yang cukup jelas mengenai isi buku ini. Dunia berubah drastis dengan bermunculannya manusia-manusia berkekuatan super, yang disebut Epic, yang hampir semuanya memiliki ambisi untuk berkuasa dengan menafikan hukum dan hak asasi manusia biasa. Saat pemerintahan runtuh dan saat kompetisi antar Epic mereda, dunia terbagi-bagi menjadi daerah kekuasaan Epic-Epic terkuat.
Sulit untuk tidak membayangkan dunia dalam buku ini seperti yang ada dalam serial Old Man Logan-nya Wolverine, di mana dunia (atau AS) terbagi-bagi menjadi daerah kekuasaan villain berkekuatan super, dan nyaris tidak ada hero yang tersisa untuk melawan. Sebagian besar Avengers dan X-Men tewas berguguran, sementara yang masih hidup memilih untuk bersembunyi, menyerah, atau menyesuaikan diri dengan keadaan.
Dalam buku ini, hampir semua Epic terkuat memilih untuk menjadi villain yang menggunakan kekuatannya secara sewenang-wenang. Kalaupun ada Epic yang tingkat kekuatannya tidak begitu besar dan tidak jahat-jahat amat, mereka memilih untuk menjadi keroco Epic terkuat. Benarkah tidak ada Epic yang sanggup dan bersedia menjadi pahlawan pembela kebenaran dan kaum yang lemah? Ataukah semuanya sudah patah arang, lantas memilih untuk menyerah dan menerima keadaan sebagaimana halnyaWolverine Old Man Logan?
Well, ending buku ini akan menjawab pertanyaan itu.
Secara ringkas, buku pertama ini berpusat pada tokoh utama bernama David, yang sewaktu kecil menyaksikan bagaimana Epic bernama Steelheart membunuh ayahnya, sehingga ia bersumpah untuk membunuh sang Epic, meskipun ia hanya manusia biasa. Ia menjadi ensiklopedia berjalan khusus Epic demi mengetahui kelemahan musuh utamanya. Iya, seperti halnya Superman dan kryptonite, para Epic di sini memiliki kelemahan masing-masing yang bisa membuat mereka terluka atau mati, dan berusaha keras menyembunyikan kelemahannya dengan segala cara.
Dengan segala pengetahuannya, yang belum dimiliki David hanya kemampuan dan kesempatan untuk menjalankan skenarionya untuk membunuh para Epic yang jahat. Karena itu, ia bertekad untuk bergabung dengan Reckoners, gerakan bawah tanah para manusia biasa yang berjuang melawan (baca: membunuh) para Epic dengan menggunakan taktik gerilya dan teknologi terkini. Dan tentu saja, berdasarkan hasil penelitiannya atas aksi-aksi terorisme Reckoners, David berhasil menemukan kelompok itu.
Dan selanjutnya, dapatkah David, yang akhirnya menjadi anggota terbaru Reckoners, mampu meyakinkan para Reckoner (yang selama ini main aman dengan hanya membunuhi Epic rendahan dan membiarkan Epic level tertinggi) untuk membantunya membalas dendam terhadap Steelheart, membunuh Epic terkuat yang menguasai kota Newcago?
Kesimpulan:
Struktur cerita dan dunia dalam buku ini lebih sederhana dibandingkan serial Brandon Sanderson lainnya yang menjadi favoritku, Mistborn. Mungkin karena buku ditujukan untuk pembaca YA, sehingga penulisannya dibuat supaya lebih mudah dicerna? Kekuatan yang dimiliki para Epic pun standar sebagaimana halnya cerita komik superhero, tidak serumit sistem kekuatan Allomancy, Hemalurgy, atau Feruchemy misalnya, yang memerlukan kamus tersendiri sebagai panduan bagi pembaca.
Sebenarnya, aku kurang suka membaca buku YA, apalagi yang genrenya sci-fi dystopia. Aku lebih suka universe di mana apabila orang-orang berkekuatan super ujug-ujug bermunculan dengan alasan apapun, mereka tetap terbagi secara berimbang baik dalam kekuatan maupun jumlah antara superhero dan supervillain. Seperti universe di komik/film Marvel dan DC, misalnya. Atau universe My Hero Academia. Atau universe One-Punch Man (meskipun untuk yang satu ini, kekuatan boga lakon dengan musuh-musuhnya nggak seimbang banget sih, hehehe).
Let them fight!!!
View all my reviews
Serial : Reckoners #1
Penulis : Brandon Sanderson
Penerbit : Noura Books
Tebal : 562 halaman
ISBN : 9786020989983
Dibeli di : Gramedia.com
Harga beli : Rp. 84.000,- (sebelum diskon 15% + 22%)
Diterima tanggal : 2 Juli 2016
Selesai dibaca tanggal : 20 Juli 2016
Sinopsis:
Steelheart menghancurkan ruangan, membunuh siapa pun yang dia lihat. Tiran itu berteriak penuh kemurkaan. Kemudian, gelombang energi terpancar dari tubuhnya, dan lantai di sekelilingnya pun berubah warna—menjelma logam.
Saat Calamity muncul, manusia yang terkena efeknya mendapatkan kekuatan super. Orang-orang menyebut mereka Epic. Namun, alih-alih menjadi pahlawan, mereka menggunakan kekuatan untuk menguasai dunia dan menghancurkan siapa pun yang menghalangi tujuan mereka.
Teror menyebar ke seluruh negeri. Bumi diliputi kegelapan. Para manusia biasa harus hidup di bawah tanah. Tak ada yang berani memberontak, kecuali Reckoners—sekelompok manusia biasa yang mengabdikan diri melawan Epic.David ingin bergabung dengan Reckoners karena dialah satu-satunya saksi mata kelemahan Steelheart. Dan sudah saatnya dia membalaskan kematian ayahnya.
Review :
Sinopsis buku di atas memberikan gambaran yang cukup jelas mengenai isi buku ini. Dunia berubah drastis dengan bermunculannya manusia-manusia berkekuatan super, yang disebut Epic, yang hampir semuanya memiliki ambisi untuk berkuasa dengan menafikan hukum dan hak asasi manusia biasa. Saat pemerintahan runtuh dan saat kompetisi antar Epic mereda, dunia terbagi-bagi menjadi daerah kekuasaan Epic-Epic terkuat.
Sulit untuk tidak membayangkan dunia dalam buku ini seperti yang ada dalam serial Old Man Logan-nya Wolverine, di mana dunia (atau AS) terbagi-bagi menjadi daerah kekuasaan villain berkekuatan super, dan nyaris tidak ada hero yang tersisa untuk melawan. Sebagian besar Avengers dan X-Men tewas berguguran, sementara yang masih hidup memilih untuk bersembunyi, menyerah, atau menyesuaikan diri dengan keadaan.
Dalam buku ini, hampir semua Epic terkuat memilih untuk menjadi villain yang menggunakan kekuatannya secara sewenang-wenang. Kalaupun ada Epic yang tingkat kekuatannya tidak begitu besar dan tidak jahat-jahat amat, mereka memilih untuk menjadi keroco Epic terkuat. Benarkah tidak ada Epic yang sanggup dan bersedia menjadi pahlawan pembela kebenaran dan kaum yang lemah? Ataukah semuanya sudah patah arang, lantas memilih untuk menyerah dan menerima keadaan sebagaimana halnya
Well, ending buku ini akan menjawab pertanyaan itu.
Secara ringkas, buku pertama ini berpusat pada tokoh utama bernama David, yang sewaktu kecil menyaksikan bagaimana Epic bernama Steelheart membunuh ayahnya, sehingga ia bersumpah untuk membunuh sang Epic, meskipun ia hanya manusia biasa. Ia menjadi ensiklopedia berjalan khusus Epic demi mengetahui kelemahan musuh utamanya. Iya, seperti halnya Superman dan kryptonite, para Epic di sini memiliki kelemahan masing-masing yang bisa membuat mereka terluka atau mati, dan berusaha keras menyembunyikan kelemahannya dengan segala cara.
Dengan segala pengetahuannya, yang belum dimiliki David hanya kemampuan dan kesempatan untuk menjalankan skenarionya untuk membunuh para Epic yang jahat. Karena itu, ia bertekad untuk bergabung dengan Reckoners, gerakan bawah tanah para manusia biasa yang berjuang melawan (baca: membunuh) para Epic dengan menggunakan taktik gerilya dan teknologi terkini. Dan tentu saja, berdasarkan hasil penelitiannya atas aksi-aksi terorisme Reckoners, David berhasil menemukan kelompok itu.
Dan selanjutnya, dapatkah David, yang akhirnya menjadi anggota terbaru Reckoners, mampu meyakinkan para Reckoner (yang selama ini main aman dengan hanya membunuhi Epic rendahan dan membiarkan Epic level tertinggi) untuk membantunya membalas dendam terhadap Steelheart, membunuh Epic terkuat yang menguasai kota Newcago?
Kesimpulan:
Struktur cerita dan dunia dalam buku ini lebih sederhana dibandingkan serial Brandon Sanderson lainnya yang menjadi favoritku, Mistborn. Mungkin karena buku ditujukan untuk pembaca YA, sehingga penulisannya dibuat supaya lebih mudah dicerna? Kekuatan yang dimiliki para Epic pun standar sebagaimana halnya cerita komik superhero, tidak serumit sistem kekuatan Allomancy, Hemalurgy, atau Feruchemy misalnya, yang memerlukan kamus tersendiri sebagai panduan bagi pembaca.
Sebenarnya, aku kurang suka membaca buku YA, apalagi yang genrenya sci-fi dystopia. Aku lebih suka universe di mana apabila orang-orang berkekuatan super ujug-ujug bermunculan dengan alasan apapun, mereka tetap terbagi secara berimbang baik dalam kekuatan maupun jumlah antara superhero dan supervillain. Seperti universe di komik/film Marvel dan DC, misalnya. Atau universe My Hero Academia. Atau universe One-Punch Man (meskipun untuk yang satu ini, kekuatan boga lakon dengan musuh-musuhnya nggak seimbang banget sih, hehehe).
Let them fight!!!
View all my reviews
Tuesday, May 17, 2016
Malice
Judul : Malice
Penulis : Keigo Higashino
Serial : Kyoichiro Kaga #4
Pertama kali terbit : September 1996
Pertama kali terbit Edisi Bahasa Inggris : Oktober 2014
Tebal : 288 halaman (Hardcover)
Sinopsis :
Acclaimed bestselling novelist Kunihiko Hidaka is found brutally murdered in his home on the night before he's planning to leave Japan and relocate to Vancouver. His body is found in his office, a locked room, within his locked house, by his wife and his best friend, both of whom have rock solid alibis. Or so it seems.
At the crime scene, Police Detective Kyochiro Kaga recognizes Hidaka's best friend, Osamu Nonoguchi. Years ago when they were both teachers, they were colleagues at the same public school. Kaga went on to join the police force while Nonoguchi eventually left to become a full-time writer, though with not nearly the success of his friend Hidaka.
As Kaga investigates, he eventually uncovers evidence that indicates that the two writers' relationship was very different that they claimed, that they were anything but best friends. But the question before Kaga isn't necessarily who, or how, but why. In a brilliantly realized tale of cat and mouse, the detective and the killer battle over the truth of the past and how events that led to the murder really unfolded. And if Kaga isn't able to uncover and prove why the murder was committed, then the truth may never come out.
Verdict :
Review :
Pertama-tama, penilaian di atas agak bias karena aku membaca buku ini sambil membayangkan sosok aktor Jepang favoritku, Hiroshi Abe. Maklum, dia berperan sebagai Detektif Kyoichiro Kaga di serial televisi Shinzanmono maupun film The Wings of the Kirin. Jadi... ya bacanya lebih enjoy, gitu.
Ehm.
Baiklah, agak serius sedikit. Sepertinya yang aku sukai dari karya-karya Keigo Higashino adalah gaya bertuturnya. Pace yang pelan tidak jadi masalah, karena pengupasan misteri yang selapis demi selapis dan twist-plot yang unpredictable membuat kelezatan novelnya terasa lebih lama dan membekas.
Sepertinya, meskipun novel ini urutan keempat dari serialnya, ini buku Kyoichiro Kaga pertama yang diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris. Melihat kasus novel The Devotion of Suspect X dari serial Detektif Galileo, apakah ini termasuk novel unggulan dari serial Kyoichiro Kaga?
Novel ini bercerita dari dua sudut pandang dan dua catatan kasus, yaitu dari sisi Osamu Nonoguchi dan sisi Kyoichiro Kaga. Osamu Nonoguchi adalah orang yang pertama kali menemukan mayat korban pembunuhan, Kunihiko Hidaka, rekan sesama penulis dan mantan teman SMP-nya. Sementara Kyoichiro Kaga, detektif yang ditugaskan menangani kasus tersebut, ternyata mantan rekan Nonoguchi sebagai guru SMP, sebelum alih profesi menjadi polisi.
Pertama membaca catatan kasus versi Osamu Nonoguchi, aku sempat curiga ceritanya bakalan mirip dengan The Murder of Roger Ackroyd-nya Agatha Christie. Siapa tahu lho, curiga kan boleh saja. Belum tentu penulis catatan kasus sebersih Dr. Watson dan Arthur Hastings. Ternyata, bukan cuma aku saja yang merasa curiga, Detektif Kaga juga demikian. Dan hanya dalam beberapa bab, Kaga berhasil mementahkan alibi Nonoguchi dan mengungkap trik yang dilakukannya untuk menyesatkan penyidik.
Hanya dalam beberapa bab? Cepat amat?
Iya, karena yang seru untuk dibahas dan dibongkar oleh sang detektif dalam novel ini bukanlah "siapa" dan "bagaimana" seperti novel-novel misteri pada umumnya, melainkan "mengapa". Apa motivasi Nonoguchi membunuh Hidaka? Terencana atau tidak terencana? Siapakah sebenarnya korban utama dalam kisah ini?
Battle of wit antara Kaga dan Nonoguchi benar-benar membuat pembaca tak bisa bisa melepaskan novel ini sebelum tamat. Karakter Kaga yang tidak mudah puas untuk terus menggali informasi--- meskipun fakta dan bukti-bukti tampak gamblang bagi semua orang---membuat ia tidak mudah masuk ke dalam jebakan demi jebakan yang dipasang Nonoguchi.
Dan terakhir, apakah makna judul novel ini? Pada akhirnya, kenyataan yang diungkap oleh Detektif Kaga akan sangat berkaitan dengan judul novel tersebut.
Well, singkat cerita, novel ini memang sialan banget deh. Dari bab awal saja sudah banyak jebakan di sana-sini, berlapis-lapis pula. Kalau Kyoichiro Kaga saja bisa sempat terpeleset, apalagi pembaca yang clueless...
Gawat nih, kayaknya aku bakal ketagihan untuk terus mencari dan membaca buku-buku Higashino-sensei...
Penulis : Keigo Higashino
Serial : Kyoichiro Kaga #4
Pertama kali terbit : September 1996
Pertama kali terbit Edisi Bahasa Inggris : Oktober 2014
Tebal : 288 halaman (Hardcover)
Sinopsis :
Acclaimed bestselling novelist Kunihiko Hidaka is found brutally murdered in his home on the night before he's planning to leave Japan and relocate to Vancouver. His body is found in his office, a locked room, within his locked house, by his wife and his best friend, both of whom have rock solid alibis. Or so it seems.
At the crime scene, Police Detective Kyochiro Kaga recognizes Hidaka's best friend, Osamu Nonoguchi. Years ago when they were both teachers, they were colleagues at the same public school. Kaga went on to join the police force while Nonoguchi eventually left to become a full-time writer, though with not nearly the success of his friend Hidaka.
As Kaga investigates, he eventually uncovers evidence that indicates that the two writers' relationship was very different that they claimed, that they were anything but best friends. But the question before Kaga isn't necessarily who, or how, but why. In a brilliantly realized tale of cat and mouse, the detective and the killer battle over the truth of the past and how events that led to the murder really unfolded. And if Kaga isn't able to uncover and prove why the murder was committed, then the truth may never come out.
Verdict :
Review :
Pertama-tama, penilaian di atas agak bias karena aku membaca buku ini sambil membayangkan sosok aktor Jepang favoritku, Hiroshi Abe. Maklum, dia berperan sebagai Detektif Kyoichiro Kaga di serial televisi Shinzanmono maupun film The Wings of the Kirin. Jadi... ya bacanya lebih enjoy, gitu.
Ehm.
Baiklah, agak serius sedikit. Sepertinya yang aku sukai dari karya-karya Keigo Higashino adalah gaya bertuturnya. Pace yang pelan tidak jadi masalah, karena pengupasan misteri yang selapis demi selapis dan twist-plot yang unpredictable membuat kelezatan novelnya terasa lebih lama dan membekas.
Sepertinya, meskipun novel ini urutan keempat dari serialnya, ini buku Kyoichiro Kaga pertama yang diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris. Melihat kasus novel The Devotion of Suspect X dari serial Detektif Galileo, apakah ini termasuk novel unggulan dari serial Kyoichiro Kaga?
Novel ini bercerita dari dua sudut pandang dan dua catatan kasus, yaitu dari sisi Osamu Nonoguchi dan sisi Kyoichiro Kaga. Osamu Nonoguchi adalah orang yang pertama kali menemukan mayat korban pembunuhan, Kunihiko Hidaka, rekan sesama penulis dan mantan teman SMP-nya. Sementara Kyoichiro Kaga, detektif yang ditugaskan menangani kasus tersebut, ternyata mantan rekan Nonoguchi sebagai guru SMP, sebelum alih profesi menjadi polisi.
Pertama membaca catatan kasus versi Osamu Nonoguchi, aku sempat curiga ceritanya bakalan mirip dengan The Murder of Roger Ackroyd-nya Agatha Christie. Siapa tahu lho, curiga kan boleh saja. Belum tentu penulis catatan kasus sebersih Dr. Watson dan Arthur Hastings. Ternyata, bukan cuma aku saja yang merasa curiga, Detektif Kaga juga demikian. Dan hanya dalam beberapa bab, Kaga berhasil mementahkan alibi Nonoguchi dan mengungkap trik yang dilakukannya untuk menyesatkan penyidik.
Hanya dalam beberapa bab? Cepat amat?
Iya, karena yang seru untuk dibahas dan dibongkar oleh sang detektif dalam novel ini bukanlah "siapa" dan "bagaimana" seperti novel-novel misteri pada umumnya, melainkan "mengapa". Apa motivasi Nonoguchi membunuh Hidaka? Terencana atau tidak terencana? Siapakah sebenarnya korban utama dalam kisah ini?
Battle of wit antara Kaga dan Nonoguchi benar-benar membuat pembaca tak bisa bisa melepaskan novel ini sebelum tamat. Karakter Kaga yang tidak mudah puas untuk terus menggali informasi--- meskipun fakta dan bukti-bukti tampak gamblang bagi semua orang---membuat ia tidak mudah masuk ke dalam jebakan demi jebakan yang dipasang Nonoguchi.
Dan terakhir, apakah makna judul novel ini? Pada akhirnya, kenyataan yang diungkap oleh Detektif Kaga akan sangat berkaitan dengan judul novel tersebut.
Well, singkat cerita, novel ini memang sialan banget deh. Dari bab awal saja sudah banyak jebakan di sana-sini, berlapis-lapis pula. Kalau Kyoichiro Kaga saja bisa sempat terpeleset, apalagi pembaca yang clueless...
Gawat nih, kayaknya aku bakal ketagihan untuk terus mencari dan membaca buku-buku Higashino-sensei...
The Devotion of Suspect X
Judul : The Devotion of Suspect X
Penulis : Keigo Higashino
Penerbit : Minotaur Books, 2011
Edisi : Hardcover
Tebal : 298 halaman
Dibeli di : Big Bad Wolf 2016, ICE BSD
Dibeli tanggal : 30 April 2016
Harga beli : Rp. 60.000,-
Dibaca tanggal : 15 Mei 2016
Sinopsis:
Yasuko Hanaoka is a divorced, single mother who thought she had finally escaped her abusive ex-husband Togashi. When he shows up one day to extort money from her, threatening both her and her teenaged daughter Misato, the situation quickly escalates into violence and Togashi ends up dead on her apartment floor. Overhearing the commotion, Yasuko’s next door neighbor, middle-aged high school mathematics teacher Ishigami, offers his help, disposing not only of the body but plotting the cover-up step-by-step.
When the body turns up and is identified, Detective Kusanagi draws the case and Yasuko comes under suspicion. Kusanagi is unable to find any obvious holes in Yasuko’s manufactured alibi and yet is still sure that there’s something wrong. Kusanagi brings in Dr. Manabu Yukawa, a physicist and college friend who frequently consults with the police. Yukawa, known to the police by the nickname Professor Galileo, went to college with Ishigami. After meeting up with him again, Yukawa is convinced that Ishigami had something to do with the murder. What ensues is a high level battle of wits, as Ishigami tries to protect Yasuko by outmaneuvering and outthinking Yukawa, who faces his most clever and determined opponent yet.
Rating :
Review versi emosional tak lama setelah membaca novel:
Baru kali ini aku membaca novel misteri sampai mencucurkan air mata. Right in the feel. Nyesek banget!!!
Well, aku sudah lama punya ebook novel ini, karena aku suka serial teve Shinzanmono dan Galileo, sehingga sengaja mencari tulisan Keigo Higashino, penulis novel-novel yang diangkat menjadi kedua serial teve itu. Tapi memang, karena pada dasarnya lebih mendahulukan untuk membaca buku fisik ketimbang ebook, aku baru membaca novel ini setelah membeli buku fisiknya di Big Bad Wolf kemarin.
Terus terang, susah untuk tidak merasa empati dan simpati hampir ke semua tokoh yang terlibat, dalam hal ini termasuk si lempeng Detektif Galileo. Biasanya ia memecahkan kasus tanpa emosi, tapi khusus kasus di novel ini, perasaannya saat berhasil memecahkan teka-teki dalam cerita ini (yang sengaja dipasang untuk menjebak polisi dan pembaca) sungguh dapat tersampaikan dengan baik.
Aaargh, jadi menyesal kenapa tidak membaca novel ini dari kemarin-kemarin.
Review versi kalem setelah turbulensi emosi mereda:
Setelah membaca novel ini, aku jadi mengerti mengapa novel ini ditahbiskan sebagai salah satu karya masterpiece dari Keigo Higashino, sehingga rasanya wajar saja apabila novel ketiga, bukan novel pertama, dari serial Detektif Galileo ini yang menjadi novel pertama Higashino-sensei yang diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris.
Kalau pembaca menginginkan cerita misteri model 'whodunnit', maka lebih baik tidak membaca novel ini, karena peristiwa pembunuhan maupun pelakunya telah digambarkan secara gamblang pada bab awal novel.
Persis sebagaimana tercantum di sinopsisnya, dalam upaya membela diri, Yasuko Hanaoka (dibantu anak perempuannya) tanpa sengaja membunuh mantan suaminya Togashi. Semula ia berniat melaporkan diri, namun tetangganya, Ishigami, menawarkan bantuan lengkap, tidak hanya membantu menyingkirkan mayat Togashi, namun juga menyiapkan alibi bagi ibu-anak tersebut.
Berkat bantuan Ishigami itulah, polisi mengalami kesulitan dalam penyelidikan pembunuhan Togashi, karena tersangka utama, Yasuko, memiliki alibi yang kuat pada saat waktu estimasi pembunuhan. Selain itu, banyak petunjuk di lokasi ditemukannya mayat yang malah membuat bingung. Entah bagaimana, dengan analisis dan logika matematikanya, Ishigami mampu menyesatkan penyelidikan kepolisian.
Sayangnya, Ishigami tidak memperhitungkan adanya faktor anomali dalam perhitungannya: mantan teman kuliahnya, Dr. Manabu Yukawa, ahli fisika yang kadang-kadang nyambi sebagai detektif amatir dan dijuluki sebagai Detektif Galileo oleh pihak kepolisian. Walaupun awalnya Detektif Kusanagi, sahabat Yukawa, yang sering curcol dan meminta petunjuk untuk kasus-kasus yang ditanganinya, tidak meminta bantuan Yukawa dalam kasus ini, Yukawa melibatkan diri karena mengenali nama tetangga tersangka, Ishigami, sebagai teman kuliah yang diakuinya sebagai jenius matematika.
Yang membuat novel ini sangat menarik adalah battle of wit antara sesama jenius. Trik yang diciptakan Ishigami mungkin saja bisa menyesatkan detektif biasa, tapi tidak dapat mengecoh fisikawan yang sangat memahami logika berpikirnya. Namun pengungkapan trik yang dilakukan Ishigami oleh Yukawa bukanlah hal yang paling istimewa dari kisah ini, melainkan pengungkapan seberapa jauh Ishigami rela berkorban demi wanita yang dicintai dan dipujanya. Hence the title.
Novel ini termasuk salah satu novel misteri pembunuhan di mana aku mendukung pelaku atau pihak yang membantu si pelaku agar tidak tertangkap polisi (selain Dexter Morgan).
Bab-bab terakhir, terutama beberapa halaman terakhir novel, benar-benar nyeredet hate. Dan seperti biasa, kalau sampai ada novel yang bisa membuatku tak bisa berhenti membacanya sekaligus mengacak-acak perasaanku sampai mengucurkan air mata karena empati pada para tokohnya, meskipun itu novel misteri, aku cenderung bias dan memberikan nilai sempurna,
View all my reviews
Penulis : Keigo Higashino
Penerbit : Minotaur Books, 2011
Edisi : Hardcover
Tebal : 298 halaman
Dibeli di : Big Bad Wolf 2016, ICE BSD
Dibeli tanggal : 30 April 2016
Harga beli : Rp. 60.000,-
Dibaca tanggal : 15 Mei 2016
Sinopsis:
Yasuko Hanaoka is a divorced, single mother who thought she had finally escaped her abusive ex-husband Togashi. When he shows up one day to extort money from her, threatening both her and her teenaged daughter Misato, the situation quickly escalates into violence and Togashi ends up dead on her apartment floor. Overhearing the commotion, Yasuko’s next door neighbor, middle-aged high school mathematics teacher Ishigami, offers his help, disposing not only of the body but plotting the cover-up step-by-step.
When the body turns up and is identified, Detective Kusanagi draws the case and Yasuko comes under suspicion. Kusanagi is unable to find any obvious holes in Yasuko’s manufactured alibi and yet is still sure that there’s something wrong. Kusanagi brings in Dr. Manabu Yukawa, a physicist and college friend who frequently consults with the police. Yukawa, known to the police by the nickname Professor Galileo, went to college with Ishigami. After meeting up with him again, Yukawa is convinced that Ishigami had something to do with the murder. What ensues is a high level battle of wits, as Ishigami tries to protect Yasuko by outmaneuvering and outthinking Yukawa, who faces his most clever and determined opponent yet.
Rating :
Review versi emosional tak lama setelah membaca novel:
Baru kali ini aku membaca novel misteri sampai mencucurkan air mata. Right in the feel. Nyesek banget!!!
Well, aku sudah lama punya ebook novel ini, karena aku suka serial teve Shinzanmono dan Galileo, sehingga sengaja mencari tulisan Keigo Higashino, penulis novel-novel yang diangkat menjadi kedua serial teve itu. Tapi memang, karena pada dasarnya lebih mendahulukan untuk membaca buku fisik ketimbang ebook, aku baru membaca novel ini setelah membeli buku fisiknya di Big Bad Wolf kemarin.
Terus terang, susah untuk tidak merasa empati dan simpati hampir ke semua tokoh yang terlibat, dalam hal ini termasuk si lempeng Detektif Galileo. Biasanya ia memecahkan kasus tanpa emosi, tapi khusus kasus di novel ini, perasaannya saat berhasil memecahkan teka-teki dalam cerita ini (yang sengaja dipasang untuk menjebak polisi dan pembaca) sungguh dapat tersampaikan dengan baik.
Aaargh, jadi menyesal kenapa tidak membaca novel ini dari kemarin-kemarin.
Review versi kalem setelah turbulensi emosi mereda:
Which is harder: devising an unsolvable problem, or solving that problem?
Setelah membaca novel ini, aku jadi mengerti mengapa novel ini ditahbiskan sebagai salah satu karya masterpiece dari Keigo Higashino, sehingga rasanya wajar saja apabila novel ketiga, bukan novel pertama, dari serial Detektif Galileo ini yang menjadi novel pertama Higashino-sensei yang diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris.
Kalau pembaca menginginkan cerita misteri model 'whodunnit', maka lebih baik tidak membaca novel ini, karena peristiwa pembunuhan maupun pelakunya telah digambarkan secara gamblang pada bab awal novel.
Persis sebagaimana tercantum di sinopsisnya, dalam upaya membela diri, Yasuko Hanaoka (dibantu anak perempuannya) tanpa sengaja membunuh mantan suaminya Togashi. Semula ia berniat melaporkan diri, namun tetangganya, Ishigami, menawarkan bantuan lengkap, tidak hanya membantu menyingkirkan mayat Togashi, namun juga menyiapkan alibi bagi ibu-anak tersebut.
Berkat bantuan Ishigami itulah, polisi mengalami kesulitan dalam penyelidikan pembunuhan Togashi, karena tersangka utama, Yasuko, memiliki alibi yang kuat pada saat waktu estimasi pembunuhan. Selain itu, banyak petunjuk di lokasi ditemukannya mayat yang malah membuat bingung. Entah bagaimana, dengan analisis dan logika matematikanya, Ishigami mampu menyesatkan penyelidikan kepolisian.
Sayangnya, Ishigami tidak memperhitungkan adanya faktor anomali dalam perhitungannya: mantan teman kuliahnya, Dr. Manabu Yukawa, ahli fisika yang kadang-kadang nyambi sebagai detektif amatir dan dijuluki sebagai Detektif Galileo oleh pihak kepolisian. Walaupun awalnya Detektif Kusanagi, sahabat Yukawa, yang sering curcol dan meminta petunjuk untuk kasus-kasus yang ditanganinya, tidak meminta bantuan Yukawa dalam kasus ini, Yukawa melibatkan diri karena mengenali nama tetangga tersangka, Ishigami, sebagai teman kuliah yang diakuinya sebagai jenius matematika.
Yang membuat novel ini sangat menarik adalah battle of wit antara sesama jenius. Trik yang diciptakan Ishigami mungkin saja bisa menyesatkan detektif biasa, tapi tidak dapat mengecoh fisikawan yang sangat memahami logika berpikirnya. Namun pengungkapan trik yang dilakukan Ishigami oleh Yukawa bukanlah hal yang paling istimewa dari kisah ini, melainkan pengungkapan seberapa jauh Ishigami rela berkorban demi wanita yang dicintai dan dipujanya. Hence the title.
Novel ini termasuk salah satu novel misteri pembunuhan di mana aku mendukung pelaku atau pihak yang membantu si pelaku agar tidak tertangkap polisi (selain Dexter Morgan).
Bab-bab terakhir, terutama beberapa halaman terakhir novel, benar-benar nyeredet hate. Dan seperti biasa, kalau sampai ada novel yang bisa membuatku tak bisa berhenti membacanya sekaligus mengacak-acak perasaanku sampai mengucurkan air mata karena empati pada para tokohnya, meskipun itu novel misteri, aku cenderung bias dan memberikan nilai sempurna,
View all my reviews
Sunday, May 8, 2016
Komikus Nekat
Judul : Komikus Nekat
Penulis : Ekyu
Penerbit : Muffin Graphics
ISBN : 978-602-367-150-2
Tebal : 100 halaman
Review:
Kocak abis!
View all my reviews
Penulis : Ekyu
Penerbit : Muffin Graphics
ISBN : 978-602-367-150-2
Tebal : 100 halaman
Review:
Kocak abis!
Nggak nyangka, masa kecil Ekyu (khususnya Ega dan Oni) entah kenapa mirip denganku, terutama dari sisi bacaan, meskipun beda generasinya cukup jauh.
Sejarah bacaan Ega rada mirip sih. Terutama bacaan komik dan silatnya (bacaan novel mah nggak terungkap di sini). Komik wayang. Asterix (celeng panggangnya keliatan enak banget?!). Komik superhero Amerika (kenapa laki-lakinya pada pake celana dalam di luar, perempuannya pake baju renang doang?). Kho Ping Hoo (judul macam Pendekar Binal/Pendekar Mata Keranjang jadi scandalous sekarang). Komik Tiger Wong. Candy-Candy. Miss Modern. Dan sejak itu terus ketagihan membaca manga.
Sejarah bacaan Oni yang mirip? Mungkin di bagian bacaan misteri. Selain novel-novel misteri Agatha Christie, aku juga membaca majalah Misteri dan Detektif Romantika, terutama kalau sudah nggak ada bacaan lain di rumah. Kalau membaca majalah serius seperti Tempo atau Intisari pun cerita misteri dan kriminalitasnya sudah pasti dilalap juga. Tapi nggak sampai dikliping segala. Aku cuma menggunting dan mengumpulkan kolom Catatan Pinggir-nya GM, atau cerita bersambung harian di koran yang ceritanya kuanggap seru.
Bedanya, walaupun suka menggambar juga sampai bikin komik sendiri (kualitasnya cukup bikin ngikik kalau dibaca lagi sekarang), aku nggak sampai segitunya kepingin bisa menggambar komik sebagaimana layaknya artis profesional.
Membaca komik semibiografi ini, aku juga jadi teringat masa-masa waktu masih berlangganan majalah Animonster (ternyata Ekyu juara tiga lomba komiknya toh, tapi kumpulan komik submission-nya sudah hilang sekarang).
Aku juga jadi teringat pernah punya dua komik Ekyu terbitan Koloni, baik yang Fix-Up maupun yang Morte (sudah hilang juga sekarang mah). Kalau tidak salah, aku memberi rating "it was ok" buat karya mereka di Goodreads.
Aku juga jadi teringat pernah punya dua komik Ekyu terbitan Koloni, baik yang Fix-Up maupun yang Morte (sudah hilang juga sekarang mah). Kalau tidak salah, aku memberi rating "it was ok" buat karya mereka di Goodreads.
Lah, cerita masa lalu komikusnya malah lebih entertaining buatku ketimbang buku komik pertama mereka, yang proses pembuatannya sampai bikin stress dan berdarah-darah?
Eniwei, mungkin aku perlu membeli dan melihat lagi karya-karya mereka setelah membaca komik behind the scene-nya ini :)
View all my reviews
Saturday, May 7, 2016
Break Shot Terbit Lagi!
Judul : Break Shot Vol. 1
Mangaka : Takeshi Maekawa
Penerbit : Elex Media Komputindo
ISBN : 978-602-02-8470-5
Tebal : 336 halaman
Tanggal terbit : 27 April 2016
Review :
Setelah nyaris 23 tahun sejak pertama kali terbit di Indonesia, ternyata akhirnya manga Break Shot diterbitkan lagi!
Well, terus terang aku tidak menyangka sih, sehingga waktu koleksi serial ini hilang, aku cukup kelimpungan mencari gantinya di lapak-lapak buku bekas. Buntutnya, aku terpaksa menurunkan standar dan mau membeli satu set yang kondisinya tidak bagus-bagus amat (boro-boro mint, dah!) hanya sekedar demi memiliki dan membacanya lagi.
Tentu saja, begitu tahu manga ini terbit lagi dalam edisi premium, aku langsung membelinya tanpa pikir panjang. Apalagi, selain membuat koleksiku menjadi mint lagi, ada beberapa keuntungan lain yang diperoleh dengan membeli edisi baru ini.
Apa saja keuntungannya? Yuk, kita bahas sedikit.
1. R-to-L
Yup. Sekarang kita bisa membaca manga ini sesuai versi aslinya, dari kanan ke kiri. Waktu manga baru saja diperkenalkan di Indonesia, hampir semuanya dicetak dengan versi terbalik, demi kenyamanan para pembaca Indonesia yang belum siap membaca komik ala Jepang. Walhasil, teks jadi tidak nyambung dengan gambar apabila bicara tentang kanan dan kiri. Meskipun tahu alasannya, kondisi seperti ini rada menjengkelkan, apalagi kalau yang dibaca bukan serial cantik, melainkan manga olahraga seperti Break Shot.
2. Nama-nama tokoh
Sekarang, aku jadi tahu bahwa boga lakon manga ini bernama Shinsuke Oda, bukan Chinmi. Terus terang, dulu aku sempat bertanya-tanya, apakah Takeshi Maekawa memang sengaja menggunakan nama Chinmi untuk semua jagoan di manga buatannya (Selain di Kungfu Boy dan Break Shot, nama Chinmi juga dipakai untuk terjemahan manga tentang olahraga sumo Hakkeyoi, misalnya). Ternyata tidak demikian. Di halaman-halaman awal versi terjemahan lama, tokoh utamanya sempat dipanggil Oda, tapi selanjutnya selalu dipanggil Chinmi, sehingga aku mengira nama lengkapnya Chinmi Oda. Kalau bukan Maekawa-sensei, entah siapa yang memutuskan kalau nama semua tokoh utama di manga terjemahan jadi Chinmi semua. Iya sih, chara design Maekawa-sensei memang serupa tapi tak sama, tapi tidak berarti nama tokoh utamanya juga dibikin sama, dong.
Nama tokoh-tokoh lain juga berubah menjadi nama aslinya. Seperti si Ketua OSIS/Manajer Klub Biliar Olive, misalnya, nama aslinya ternyata Asako Hayakawa. Atau rivalnya, Paul dari SMA Harapan, aslinya ternyata Ryoji Kano dari SMA Toto. Widiw, jauh banget ya westernisasi namanya! Padahal di Edge of Tomorrow saja nama Cage-nya Tom Cruise masih cukup dekat dengan nama aslinya, Keiji, di All You Need Is Kill.
3. Terjemahan dan Gambar
Bukan cuma dari sisi nama, kualitas terjemahan juga menjadi lebih baik. Untuk terbitan versi baru ini, semua istilah biliar yang digunakan menjadi lebih sesuai, belum lagi ditambah catatan kaki sebagai penjelasan bagi pembaca yang awam olahraga biliar. Dari sisi editan gambar, terutama untuk efek suara, kualitasnya juga jauh lebih baik apabila kita bandingkan secara langsung.
Well, wajar saja sih sebenarnya. Dengan rentang waktu dan perbedaan pengalaman selama 23 tahun, tentu saja kualitas terjemahan dan pengeditan gambar sudah seharusnya menjadi lebih baik.
Pendeknya, aku tidak merasa rugi membeli ulang manga Break Shot versi premium ini :P
Anyway, terlepas dari kualitas manga terjemahan versi awal, manga Break Shot termasuk salah satu manga olahraga favoritku. Setidaknya dengan membaca manga ini, aku jadi cukup mengetahui aturan permainan biliar, minimal untuk permainan 9 bola.
Dan meskipun dibandingkan cerita pada jilid-jilid awal yang cukup wajar, ceritanya semakin ke belakang semakin fantastis, dengan jurus pukulan maut dengan tongkat ajaib yang sama fantastisnya, Takeshi Maekawa-sensei sanggup menyajikan cerita manga olahraga biliar jadi sebagaimana layaknya shonen manga: penuh petualangan yang mengasyikkan dan menegangkan, dengan pertarungan duel satu lawan satu yang penuh perhitungan, jurus, tipuan, namun kadang-kadang tetap bergantung pada keberuntungan.
![]() |
| Break Shot: from realistic to fantastic |
Tuesday, March 29, 2016
Superman/Batman Annual: Stop Me If You've Heard This One...
Aku salah satu penggemar komik Batman dan Superman sejak masa kanak-kanak, tapi aku termasuk golongan yang merasa kecewa saat menyaksikan versi
live action berjudul Batman v Superman (BvS) yang kutonton pada hari pertama
penayangannya di Indonesia.
Sebenarnya bukan kejutan sih, karena jujur saja aku juga tidak begitu suka intrepretasi Zack Snyder atas Superman di film sebelumnya, Man of
Steel, sehingga ekspektasiku untuk BvS sebenarnya sudah kupasang cukup rendah.
Tapi kalau ternyata hasilnya masih di bawah ekspektasi yang sudah kadung
terlalu rendah… rasa kecewanya jadi semakin bertambah. Berbeda halnya dengan
ekspektasi tinggi saat aku menantikan tayangnya film Deadpool---karakter yang komiknya
malah baru kubaca kurang dari setahun sebelum versi filmnya rilis---di mana
hasilnya sesuai, atau bahkan melebihi ekspektasi.
Kenapa aku tidak suka? Alasannya banyak. Tapi versi singkatnya: it's not fun & entertaining! Bukan berarti aku kepingin filmnya cerah ceria kayak Teletubbies.
Banyak buku/komik/film yang grim, dark & gritty yang fun & entertaining sehingga menjadi favoritku,
tapi BvS simply membuatku bosan setengah mati. Belum ditambah adegan versus yang dinanti-nanti dengan melewati siksaan selama 2 jam, malah selesai dengan cara yang enggak banget m(_._)m
Eksekutif WB membela produknya dengan “It's fun, it doesn’t take
itself seriously.”
Oh, really? Terus buat apa repot-repot mencoba membangun latar
belakang cerita ala political-thriller yang sok serius dan berat kalau terus mengaku itu semua tidak serius? Istilah macam itu lebih cocok buat Deadpool, yang karakternya memang ngawur dan 90% jalan cerita komik/film-nya tidak ada
serius-seriusnya.
Kalau mau cerita Superman/Batman yang bisa dibilang doesn’t take itself
seriously, salah satu contoh yang pantas dinobatkan begitu adalah Superman/Batman Annual yang
terbit tahun 2006 ini:
Cerita dibuka dengan Batman dan Superman yang baru selesai bekerja sama menangani doppelganger mereka dari dimensi lain. Di sini, mereka sama-sama belum tahu identitas di balik kostum rekan kerjanya, tapi punya niat untuk kapan-kapan mencari tahu. Berdasarkan kuasa penulis komik, baik Clark Kent maupun Bruce Wayne masing-masing punya agenda yang ternyata malah bakal mempertemukan mereka lagi:
![]() |
| Alfred-nya in full Jeeves mode deh! |
Interaksi antara Clark Kent dan Bruce Wayne dengan identitas KTP benar-benar hilarious, apalagi kalau Bruce Wayne sepertinya serius betul memerankan milyarder/playboy brengsek yang suka menggampangkan masalah dengan uang. Kondisi makin gawat ketika Clark dan Bruce terpaksa harus tinggal sekamar...
bahkan seranjang berdua...
![]() |
| Adegan paling menegangkan di komik ini... |
Duh. Coba Lois Lane mau berbagi kamar dengan salah satu dari mereka. King-size bed jelas tidak cukup buat dua laki-laki dengan superbody! Tapi, tenang, tidak ada adegan bromance di sini. Dari ekspresinya saja sudah jelas seperti apa perasaan mereka. Tapi untuk urusan rebutan selimut, sepertinya Bruce yang menang, deh...
Untungnya situasi awkward tidak berlangsung lama, karena lokasi pelayaran di Segitiga Bermuda mulai unjuk gigi: timbul retakan antar dimensi. Belum lagi, Deathstroke muncul untuk menjalankan misi membunuh Bruce Wayne. Tapi di saat yang sama, mulai bermunculan doppelganger dari dimensi lain yang membuat huru-hara. Yang paling bikin susah, tentu saja doppelganger dengan power yang setara:
![]() |
| Versi bego Superman dan Batman: Ultraman (yang bener aje!) dan Owlman (serasa crossover Watchmen deh) |
Kocaknya, meskipun punya power yang setara, para doppelganger ini kelakuannya bertolak belakang dan... kayaknya beberapa level lebih bego... Doppelganger Lois Lane yang juga muncul malah punya power dan berjulukan Superwoman... dan juga berprofesi sebagai assassin yang mengejar Bruce Wayne. Mungkin Wayne versi Owlman yang dikejar, tapi yang jadi bulan-bulanan malah Bruce Wayne versi Batman.
Yang bikin komik ini tambah kocak, jelas kemunculan doppelganger Deathstroke yang malah diutus sebagai bodyguard Bruce Wayne. Kenapa? Karena karakter, kelakuan, dan kebegoannya (dan desain topengnya) jelas plek-plek Deadpool. Tapi mengingat Marvel menciptakan karakter Deadpool sebagai parodi dari karakter Deathstroke-nya DC, rasanya wajar saja sih. Apalagi penulis komik ancur ini juga pernah jadi penulis serial Deadpool di Marvel.
![]() |
| Versi bego Deathstroke (alias Deadpool?) |
![]() |
| Versi asli Deathstroke, tentu saja |
Cuma demi menyiasati hak cipta saja, karakter bodyguard ini tidak diberi kesempatan memperkenalkan diri. Waktu Batman menanyakan namanya untuk disampaikan pada Bruce Wayne, dia cuma sempat menjawab "Deaaaaaa-----" sebelum terlempar kembali ke dimensinya (mungkin balik ke Marvel Universe?).
Interaksi Batman dan Superman dalam kostum (dalam kondisi sudah tahu identitas masing-masing) sama kocaknya dengan interaksi antara Owlman dan Ultraman. You know lah, Batman/Owlman sedikit lebih pintar ketimbang Superman/Ultraman.
P.S. Cerita Batman/Superman versi klasik banget mungkin malah lebih ngaco ketimbang komik ini. Rasanya pantas saja kalau serial televisi tahun 1960-an menggambarkan Batman versi komedi.
Monday, March 21, 2016
The Life of Senna
===============================
Dibaca pada tanggal : 17 - 28 Februari 2016
===============================
"If I am going to live, I want to live fully, very intensely, because I am an intense person. It would ruin my life if I have to live partially. So my fear is that I might get badly hurt. I would not want to be in a wheelchair. I would not like to be in hospital suffering from whatever injury it was. If I ever happen to have an accident that eventually costs my life, I hope it happens in one instant."
Pada kecelakaan yang dialami Ayrton Senna di sirkuit Imola, hari Minggu tanggal 1 Mei 1994, jelas harapannya terkabul.
Ketika aku mengetahui kabar bahwa Ayrton Senna sudah tiada melalui siaran berita di televisi, aku menangis. Ketika aku membaca beritanya di surat kabar dan tabloid olahraga, aku mengucurkan air mata. Dan sekarang, waktu aku membaca kisah hidup Ayrton Senna dan sampai pada kisah matinya, air mataku kembali mengalir.
Dunia F1 kehilangan salah satu pembalap terbaiknya. Aku pun kehilangan motivasi untuk mengikuti berita F1 lagi. Hanya seorang Ayrton Senna yang sanggup membuatku tertarik menyaksikan dan mengikuti berita olahraga balap F1 dengan setia.
Emotionally charged aside, let's talk about this book. First of all, let me tell you that I give this book full five stars:
Penilaian yang bias?
Tentu saja. This is a book about a legend, the most brilliant Formula One driver ever raced. One of the greatest men that I truly admire.
Sebagian orang mungkin menganggap Tom Rubython juga sangat bias saat menyusun buku ini, tapi menurut pendapatku, ia cukup berimbang saat menyajikan fakta-fakta tentang Ayrton Senna di balik personanya di arena balap atau sirkuit. Buku ini menguraikan secara detail kehidupannya, dari masa kanak-kanaknya, balapan pertamanya, pole position yang diraihnya, semua kejuaraan dunia yang diikutinya, dan tentunya, kematiannya, dan hal-hal yang terjadi mengikuti tragedi tersebut.
Buat yang belum tahu siapa legenda dunia balap ini, berikut uraian ringkasnya:
Senna memulai karirnya dari balap go-kart waktu maih kanak-kanak, sebelum naik kelas di tahun 1981 dan memenangkan kejuaraan Formula 3 di tahun 1983. Ia memulai debutnya di F1 pada tahun 1984 dengan tim Toleman-Hart sebelum pindah ke Lotus-Renault tahun berikutnya dan memenangkan enam Grand Prix selama tiga season berikutnya. Pada tahun 1988, ia bergabung dengan tim McLaren-Honda, berpasangan dengan Alain Prost. Pada tahun itu, tim McLaren Honda memenangkan 15 dari 16 Grand Prix, yang dimenangkan oleh mereka berdua dengan Senna memenangkan gelar juara dunia untuk pertama kalinya. Senna meraih juara untuk kedua dan ketiga kalinya pada kejuaraan tahun 1990 dan 1991. Pada tahun 1992, tim Williams-Renault mulai mendominasi F1. Senna mengakhiri kejuaraan tahun 1993 sebagai runner-up, dan bernegosiasi untuk pindah ke Williams pada tahun 1994.
Senna selalu terpilih sebagai pembalap F1 terhebat sepanjang masa dalam berbagai polling, bahkan sampai saat ini. Ia menjadi pemegang rekor peraih pole position terbanyak dari tahun 1989 sampai dengan tahun 2006. Ia juga terkenal sebagai Rain Master, jagonya the art racing in the rain. Ia memenangkan sirkuit basah seperti Grand Prix Monaco 1984, Grand Prix Portugis 1985, dan Grand Prix Eropa 1993. Ia memenangkan enam Grand Prix Monaco yang prestisius, dan merupakan pemenang Grand Prix ketiga terbanyak sepanjang sejarah dengan masa karir yang tergolong singkat.
![]() |
| Senna's years in F1: Toleman, Lotus, McLaren and Williams |
Oke, kembali ke review buku ini.
Rubython membagi buku The Life of Senna dalam 36 bab, tanpa urutan yang kronologis.
Setelah pengantar dari Gerhard Berger, yang pernah menjadi rekan setim, dan Keith Sutton, fotografer Inggris yang tanpa sengaja menjadi PR Senna, kita dilangsung dibawa masuk ke trageni gugurnya Senna di sirkuit pada bab pertama yang diberi judul Life: 2:17 pm, Sunday 1st May 1994. Pada bab dua, barulah diceritakan dua puluh tahun awal kehidupannya, di mana Senna yang telah belajar mengemudi sejak masih balita, dan sejak kanak-kanak telah mengikuti balapan go-kart, memilih olahraga otomotif khususnya balap mobil sebagai jalan hidupnya.
Bab-bab lain membahas karir singkatnya di F3, yang dilanjut dengan kesempatan untuk bergabung dengan tim-tim F1. Pilihannya pada tim Toleman untuk memulai karir di F1 murni berdasarkan prinsip. Sebagai seseorang sangat yakin bahwa dirinya pembalap terbaik dan tercepat, ia tidak mau bergabung di tim besar, di mana posisi yang ditawarkan kepadanya sebagai orang baru sudah pasti sebagai pembalap kedua yang kurang mendapat prioritas. Bersama Toleman dan Lotus, Senna berhasil membuktikan bahwa ia memang pembalap tercepat di F1. Sayangnya, mobil Toleman dan Lotus kurang bisa diandalkan, sehingga Senna baru bisa meraih juara dunia setelah ia bergabung dengan tim McLaren dengan mesin Honda yang tak ada tandingannya selama musim kejuaraan tahun 1988.
Selain kisah mengenai prestasi Senna di dunia balap, bumbu dan highlight yang sedap dibahas dan diulik dalam buku ini tentu saja hubungannya dengan para pembalap F1 lainnya, baik di arena maupun di luar arena balap. Misalnya saja dengan Nelson Piquet, pembalap F1 yang juga berasal dari Brazil, yang pastinya merasa terancam status pahlawan olahraga Brazil bakal direbut oleh anak pendatang baru. Atau dengan pembalap besar lainnya seperti Niki Lauda, Nigel Mansell, dan tentu saja Alain Prost, yang paling banyak bersaing sengit justru pada saat mereka masih satu tim di McLaren-Honda.
![]() |
| Ki-ka: Senna, Prost, Mansell dan Piquet. Di sini kelihatannya adem ya... |
Banyak hal yang membuat Senna kerap menjadi sasaran tembak para jurnalis. Apalagi kalau ia sudah mengambil sikap dan keputusan yang baginya adalah masalah prinsip, tapi membuat banyak orang menganggapnya sebagai bajingan egois tanpa hati yang menghalalkan segala cara untuk menang. Untungnya (atau sialnya?), Senna tidak terlalu peduli, meskipun kadang hal tersebut akan merugikan baginya.
Tampilan luar Senna yang tampak dingin dan susah didekati memang gampang membuat orang salah paham. Hanya orang-orang yang mengenalnya dari dekat yang tahu seperti apa Senna sebenarnya.
One asked him why he was always such a miserable SOB. He replied: "I never smile much, because that's my way to be. But I am very happy inside. You people don't know me at all. And not knowing me, you cannot have the right feelings for it. I think I give a lot of my dedication to my profession. I work very hard, with the technicians. And we all won this championship together, step by step, race after race. And not in one race. We didn't win the championship here, we won the championship throughout the season, making the right decision and the right choices at critical moments. That's why you win a championship."
Buku ini juga membahas kehidupan Senna di luar dunia olahraga otomotif, yaitu hubungannya dengan orang-orang terdekat yang mengetahui pribadi Senna dalam kesehariannya: keluarga, kekasih, dan sahabat-sahabatnya. Berbeda dengan Alain Prost, hubungannya dengan Gerhard Berger, yang menjadi rekan setimnya setelah Prost pindah ke Ferarri, jauh lebih baik. Mungkin karena Berger lebih dapat memahami kepribadian Senna yang memang sulit, dan yang lebih penting lagi, cukup rendah hati untuk mau mengakui bahwa Senna memang pembalap yang lebih baik darinya. Masa-masa pertemanan mereka itu disebut "James Bond Years", yang konon disebut-sebut masa di mana Senna mengajari Berger bagaimana menjadi pengemudi yang lebih baik dan sebaliknya, masa di mana Berger mengajari Senna bersenang-senang, menikmati hidup di luar dunia balap.
Pada akhirnya, buku ini membahas tragedi kecelakaan Senna di sirkuit Imola dengan lebih detil, dan bagaimana tragedi itu mempengaruhi balapan F1 selanjutnya, dengan ditetapkannya peraturan-peraturan yang membuat kondisi balapan menjadi lebih aman bagi para pembalap untuk mengurangi kemungkinan terjadinya kembali kecelakaan fatal yang memakan korban jiwa.
Review singkat ini kubuat sebagai tribute untuk Ayrton Senna da Silva, to celebrate his life, dan memang sengaja kujadwalkan untuk diposting pada tanggal 21 Maret 2016, tepat 56 tahun sejak Ayrton Senna dilahirkan. Apabila Ayrton Senna masih hidup sampai saat ini, mungkin saja sejarah F1 akan jauh berbeda. Mungkin.
Subscribe to:
Posts (Atom)































