Showing posts with label PosBarBBI. Show all posts
Showing posts with label PosBarBBI. Show all posts

Saturday, January 30, 2016

The Alpha Girl's Guide

Judul : The Alpha Girl's Guide

Penulis : Henry Manampiring

Penerbit : GagasMedia

Tebal : 254 halaman

Beli di : Gramedia Plaza Semanggi

Dibeli tanggal : 13 Januari 2016

Dibaca tanggal : 17 Januari 2016

Sinopsis :
Alpha Female adalah para perempuan yang menginspirasi, memimpin, menggerakkan orang sekitarnya, dan membawa perubahan. Mereka cerdas, percaya diri, dan independen. Bagaimana remaja dan perempuan muda bisa mengembangkan diri menjadi mereka? The Alpha Girl’s Guide akan membahas tips-tipsnya, seperti:
- Mana yang lebih penting, nilai atau pengalaman berorganisasi?
- Apakah teman kamu teman sejati atau teman yang menghambat?
- Bagaimana mengetahui cowok parasit dan manipulatif? 
- Bagaimana bersikap saat patah hati?
- Apakah kamu akan menikah untuk alasan yang tepat?
- Apa yang penting dilakukan saat memulai bekerja?
Buku ini adalah hasil pengamatan, riset artikel, wawancara langsung, dan diskusi dengan banyak perempuan di media sosial Ask.fm. Ditulis dengan ringan, penuh ilustrasi kocak, tetapi tetap blak-blakan menohok, The Alpha Girl’s Guide akan membuat kamu terinspirasi menjadi cewek smart, independen dan bebas galau!


Komentar singkat:
Buku ini salah satu dari beberapa buku nonkomik yang kubeli pada waktu first book shopping di awal tahun 2016.

Sebenarnya menjelang akhir tahun 2015 aku sudah tahu kalau akan terbit buku baru Henry Manampiring (atau biasa dipanggil Om Piring) berkat iklan salah satu toko buku online langganan. Tapi ternyata sampai dengan terakhir kali main ke toko buku offline di tahun 2015, buku ini belum ada penampakannya. Belakangan, dari label harga yang dipasang di cover belakang, buku ini baru masuk toko tanggal 30 Desember 2015. Ya, pas aku sedang puasa beli buku sih.

Kenapa aku beli buku ini?

Simply, karena nama penulisnya. Aku sudah memiliki dan membaca dua buku sebelumnya, dan cukup suka dengan gaya penulisannya. Tapi karena aku buka pengikut atawa pembaca setia Om Piring di blog, twitter atau ask.fm, terus terang aku tidak tahu buku ini membahas apa :)

Tapi, meskipun demikian, untungnya buku ini tergolong gambling yang terbayar.

Oke, singkatnya... buku ini kumasukkan ke rak how-to atau self-help. Sudah jelas sih dari judulnya juga, ini buku panduan menjadi Alpha Girl, alias cewek yang smart, independen, dan anti-galau.

Om Piring terpikir untuk menulis buku ini karena setelah tujuh puluh tahun Indonesia mereka dan sekian puluh tahun kita merayakan hari Kartini, di zaman modern serba elektronik dan digital, masih ada saja kaum hawa yang pola pikirnya masih seperti di zaman kuda gigit besi.

Buku ini mencoba menyajikan perspektif kepada perempuan remaja dan muda, agar bisa menjadi pertimbangan dalam menjalani hidup dan meraih potensi, memberi inspirasi dan panduan untuk menetapkan keputusan terbaik pada setiap pilihan hidup yang akan mempengaruhi masa depan mereka.

Buku ini dibagi dalam beberapa bab, dari Alpha Student, Alpha Friend, Alpha Lover, Alpha Professional, Alpha Look, Alpha Carer, serta wawancara dengan contoh dua orang Alpha Female.

Lalu, bagaimana kalau pembacanya sudah tidak *ehem* muda lagi, atau bahkan bukan perempuan?

Santai aja lagi. Penulisnya aja bukan perempuan, sudah ubanan pula :))

IMHO, meskipun penulisnya bukan perempuan, bukan berarti buku ini berisi celotehan seorang cowok sok tahu. Sebagai observer, pandangan Om Piring yang dituangkan dalam esai di buku ini cukup objektif, serta lumayan menohok dan mengena.

Memang, kepala sama hitam, tapi pikiran lain-lain. Mungkin ada beberapa pendapat Om Piring yang kurang cocok dengan pandangan pribadi, tapi overall aku merasa cukup klik dengan sebagian besar isi buku ini, terutama pendapat agar perempuan dapat mandiri.

Question of the day :
Cewek itu harus berpendidikan tinggi nggak, sih? Ujung-ujungnya di dapur juga. Kasih alasan kuat, dong, kenapa cewek harus berpendidikan tinggi?

Answer : 
Karena sesudah menikah 10 tahun dan suami lo memutuskan untuk:
- punya simpanan perempuan yang 20 tahun lebih muda, atau
- pengin nikah lagi dan lo dimadu, atau
- menceraikan lo untuk nikah lagi, maka
dengan pendidikan tinggi, lo masih bisa mandiri dan nggak pasrah menangis memohon dia mengasihani lo dan tetap menafkahi lo. Malah, lo bisa menendang dia dari hidup lo.
Perempuan berpendidikan tinggi punya kemampuan mandiri sebagai backup plan.

Verdict :


Komentar ini dibuat dalam rangka :

BBI First Book Shopping



Monday, November 30, 2015

Summer Knight

Judul : Summer Knight

Serial : The Dresden Files (Buku Ke-4)

Penulis : Jim Butcher

ISBN : 978-0-451-45892-6

Tebal : 446 halaman

Pertama kali dibaca : 4 November 2012

Dibaca ulang : 29 November 2015

Sinopsis:

HARRY DRESDEN -- WIZARD

Lost items found. Paranormal Investigations. Consulting. Advice. Reasonable Rates. No Love Potions, Endless Purses, or Other Entertainment

Ever since his girlfriend left town to deal with her newly acquired taste for blood, Harry Dresden has been down and out in Chicago. He can't pay his rent. He's alienating his friends. He can't even recall the last time he took a shower.

The only professional wizard in the phone book has become a desperate man.

And just when it seems things can't get any worse, in saunters the Winter Queen of Faerie. She has an offer Harry can't refuse if he wants to free himself of the supernatural hold his faerie godmother has over him--and hopefully end his run of bad luck. All he has to do is find out who murdered the Summer Queen's right-hand man, the Summer Knight, and clear the Winter Queen's name.

It seems simple enough, but Harry knows better than to get caught in the middle of faerie politics. Until he finds out that the fate of the entire world rests on his solving this case. No pressure or anything...


Dibaca ulang dalam rangka :

Tema Crime / Mystery
First Quote :

"Call me crazy, but lately I've been thinking that if something's too good to be true, then it's probably isn't. "

Review :

Mungkin bakal ada yang protes dan bilang, "Nggak salah nih? Novel Dresden Files kan genrenya urban fantasy, bukan cerita kriminal/misteri/detektif!"

I beg to differ.

Terlepas dari latar belakang dunia Harry Dresden yang penuh dengan sihir dan makhluk-makhluk supranatural, seperti kata iklan halaman kuningnya, Harry menjual jasa sebagai seorang penyidik. Paranormal Investigator, tepatnya. Meskipun kadang-kadang imbalan yang diterimanya kurang setimpal dengan risikonya. Atau kadang-kadang ia bekerja gratisan, dan bisa jadi hitungannya malah tekor.

Buktinya di buku keempat ini, Harry Dresden terpaksa bekerja sebagai penyidik tanpa bayaran untuk Mab, Queen of Air and Darkness. Monarch of the Winter Court of the Sidhe. Pendeknya, Winter Queen. Ratu Peri yang dingin dan sadis, dengan kecantikan non duniawi dan manusiawi.

Kenapa juga bisa bekerja gratisan? Well, ternyata dunia peri tidak beda jauh dengan dunia manusia. Di sana juga ada yang namanya debt purchasing alias anjak piutang. Harry berutang pada Lea, dan Mab membelinya dari Lea. Sesimpel itu, dan Mab langsung memiliki kuasa untuk memberi perintah dan berbuat ini-itu pada Harry.

Harry bisa bebas dari hutang selamanya, asal mau memenuhi tiga permintaan Mab. Hm, entah kenapa nasib Harry jadi mirip dengan jin lampu. Tapi meskipun awalnya Harry agak keberatan, ia akhirnya bersedia, asalkan ia boleh memilih permintaan mana yang bisa dipenuhinya.

Tugas pertama yang diminta Mab pada Harry-lah yang membawa kita pada misteri yang harus dipecahkan.

Korban : manusia, artis lokal Chicago bernama Ronald Reuel.
Kondisi : mati di bawah tangga dengan leher patah, polisi menduga karena kecelakaan.
Perintah Mab : cari pembunuhnya, dan temukan sesuatu yang dicuri dari si korban. Dan tentunya, selama bertugas, Harry memiliki kuasa sebgai utusan Mab.

Kedengarannya sederhana, tapi Harry tidak serta merta menerima. Hih, tahu sendiri kelakuan peri. Apalagi ratunya. Pasti ada tipu-tipu.

Sementara itu, insiden antara Harry dengan vampir Red Court telah menyulut perang terbuka antara para penyihir White Council dengan vampir Red Court. Tentu saja, Harry yang menjadi kambing hitam, diadili White Council dengan tuduhan utama sebagai penyebab terjadinya perang. Dan... bisa jadi White Council menyerahkan Harry pada Red Court sebagai salah satu cara untuk menghentikan perang!

Untungnya, Harry masih mendapat dukungan dari mentornya, Ebenezar, dan beberapa anggota senior White Council lain seperti Martha Liberty, Listens to Wind, dan Gatekeeper. Dan untungnya lagi (atau sialnya?), White Council sedang membutuhkan bantuan Winter Queen (mengingat Summer Queen memilih tidak terlibat urusan manusia dan vampir). Sepanjang Harry menjadi Utusan Mab dan sanggup memenuhi permintaannya, ia akan terbebas dari hukuman.

Semacam lolos dari mulut buaya dan masuk ke mulut singa, gitu.

Jadi, mau tidak mau Harry terpaksa memenuhi tugas pertama dari Mab.

Terus, kenapa juga kematian seorang manusia jadi perhatian seorang ratu peri yang berkuasa seperti Mab? Kenapa Harry harus repot-repot mencari tahu siapa pembunuhnya? Dan barang curian apa yang harus ditemukannya?

Ternyata korban pembunuhan itu bukan manusia biasa, tapi manusia yang dipilih oleh Summer Queen untuk menjadi tangan kanannya, alias Summer Knight (hence the title). Tugas Harry adalah membuktikan bahwa pembunuhan itu bukan didalangi oleh pihak Winter Queen. Salah sedikit saja, bakal timbul perang lagi, kali ini antara peri Summer dan Winter!

Hm... kurang apa lagi novel ini?

A war between wizards and vampires? Checked.
A war between Summer and Winter faeries? Checked.
Harry Dresden trapped and struggled his way out of the whole mess? Checked.

Good god. What a fun read!  

P.S.
Dunia Harry meluas dan akan semakin meluas. Dan percayalah, dunia peri tidak sekedar hiasan di Dresdenverse!!!


Friday, October 30, 2015

Thinner

Judul : Thinner

Penulis : Stephen King

ISBN : 978-0-451-16134-5

Penerbit : Signet

Tebal : 318 halaman

Dibeli di : Periplus Online Indonesia

Harga beli : Rp. 102.000,- (diskon ultah)

Tanggal dipesan : 29 Agustus 2015

Tanggal diterima : 28 September 2015

Pertama kali dibaca : Tahun 1996

Tanggal dibaca ulang : 13 Oktober 2015 #Program BUBU

Sinopsis :

When an old gypsy man curses Billy Halleck for sideswiping his daughter, six weeks later he's ninety-three pounds lighter. Now Billy is terrified. And desperate enough for one last gamble...that will lead him to a nightmare showdown with the forces of evil melting his flesh away. 


Review singkat :

Buat mereka yang obesitas dan pingin cepet kurus, bacalah buku ini! Kutukan Gypsy misterius dapat menurunkan berat badan secara maksimal tanpa diet dan rasa sakit! 

Begini cara mendapatkannya:
1. Kemudikan mobilmu dengan kecepatan secukupnya.
2. Tanpa menghentikan mobil, minta istri/pasanganmu melakukan handjob.
3. Tabrak orang Gypsy pertama yang kautemui di jalan

Kutukan berlaku efektif setelah dukun Gyspy menyentuh pipimu sambil mengucapkan mantra. Tapi ingat, kutukan takkan bisa ditarik sebelum kau minta maaf!



Review agak panjang :

Hm... mungkin sinopsis dan review singkat di atas sebenarnya sudah cukup menjelaskan plotnya?

Billy Halleck adalah seorang pengacara montok (iya, kita tahu kata yang cocok sebenarnya obesitas), yang telah menabrak seorang nenek gipsi yang tiba-tiba menyeberang jalan tanpa lihat kiri-kanan. Kalau saja perhatiannya tidak teralihkan gara-gara Heidi, istrinya, memberikan servis dadakan, mungkin ia sempat mengerem. Kenyataannya, ia menabrak wanita itu sampai mati. Tapi, Billy dibebaskan dari tuntutan pada sidang pendahuluan. Bagaimanapun, koneksi itu penting. Apalagi kalau koneksinya seorang hakim!

Usai sidang, ayah sang korban mengelus pipi Billy, dan berkata, "Thinner."

Hm... mungkin terjemahan bebasnya... "Kusumpahin kurus, lo!"

Anyway, awalnya Billy mengabaikan kejadian aneh itu, sampai kemudian bobotnya berkurang sedikit lebih sedikit... terus... terus... dan terus...... berkurang. Diet hebat tanpa mengubah pola makan! Yay! Beli baju baru! Beli ikat pinggang baru!

Tapi... turunnya begitu drastis dan cepat, dari 114 kg jadi 53 kg!!! Jangan-jangan Billy sebenarnya sakit? Kanker misalnya? Apalagi penjelasan yang logis? Tapi mimpi-mimpi buruk serta seringnya Billy mendengar bisikan si dukun gipsi, ia mulai yakin kalau ia kena kutuk.

Kekhawatiran yang sangat mungkin benar. Apalagi, sepertinya bukan cuma Billy yang kena kutuk. Si hakim yang membebaskannya dan polisi yang membantu meringankan kasusnya juga mengalami hal yang mirip, meskipun bukan jadi kurus. Kutukan yang membuat mereka frustrasi sampai akhirnya bunuh diri.

Lalu, apa yang harus Billy lakukan? Mencari si dukun gipsi tua yang keberadaannya entah di mana untuk memintanya membatalkan kutukannya? Lantas, kalaupun ketemu, memangnya si dukun mau memaafkan begitu saja?

I never take it off, white man from town.
You die thin, town man! You die thin!

Verdict:
Everybody pays, even for things they didn't do.

Habisnya, meskipun si dukun akhirnya memberi jalan keluar setelah rombongannya diteror mafia yang membantu Billy, yaitu mengalihkan kutukannya pada orang lain dengan suatu media (semacam video Sadako di The Ring), hasil akhirnya belum tentu sesuai dengan harapan...

Iya, ini SPOILER!!!
Maaf, telat :))

Catatan tambahan:
Buku Thinner terbit pertama kali tahun 1984 di bawah nama pena alternatif Stephen King: Richard Bachman.

Pada tahun 1996, buku ini diangkat menjadi film, dengan sutradara Tom Holland dan karakter Billy diperankan oleh Robert John Burke.


Review ini dibuat dalam rangka :
Tema Horror



'Salem's Lot

Judul : 'Salem's Lot

Penulis : Stephen King

ISBN : 9780307743671

Penerbit : Anchor Books

Tebal : 672 halaman

Dibeli di : Periplus Online Bookstore

Harga beli : Rp. 102.000,- (diskon ultah)

Tanggal dipesan : 29 Agustus 2015

Tanggal diterima : 28 September 2015

Pertama kali dibaca : Tahun 1996

Tanggal dibaca ulang : 11 Oktober 2015 #Program BUBU

Sinopsis :

'Salem's Lot is a small New England town with white clapboard houses, tree-lined streets, and solid church steeples. That summer in 'Salem's Lot was a summer of home-coming and return; spring burned out and the land lying dry, crackling underfoot. Late that summer, Ben Mears returned to 'Salem's Lot hoping to cast out his own devils... and found instead a new unspeakable horror.

A stranger had also come to the Lot, a stranger with a secret as old as evil, a secret that would wreak irreparable harm on those he touched and in turn on those they loved.

All would be changed forever—Susan, whose love for Ben could not protect her; Father Callahan, the bad priest who put his eroded faith to one last test; and Mark, a young boy who sees his fantasy world become reality and ironically proves the best equipped to handle the relentless nightmare of 'Salem's Lot.
 


Review :

Tidak sah kiranya gelar Stephen King sebagai The Master of Horror, apabila ia tidak menulis novel dengan vampir sebagai villain of the book-nya.  'Salem's Lot merupakan novel kedua King, yang diterbitkan pertama kali pada tahun 1975. Premisnya sederhana, bagaimana kalau Dracula muncul pada abad ke-20 di sebuah kota kecil di Amerika.

Protagonis novel ini adalah seorang penulis bernama Ben Mears, yang pulang kampung ke kota tempat ia dibesarkan, Jerusalem's Lot, yang lebih dikenal dengan nama singkatnya, 'Salem's Lot. Pada saat yang bersamaan, kota itu juga kedatangan penghuni baru, sepasang partner bisnis bernama Kurt Barlow dan Richard Straker, meskipun Barlow tak pernah terlihat oleh umum.

Tak lama setelah kedatangan mereka, kota kecil itu mulai mengalami peristiwa-peristiwa misterius. Diawali dengan kejadian yang menimpa kakak beradik Glick yang hilang di hutan. Ralphie Glick tidak pernah ditemukan, sementara kakaknya Danny ditemukan, meskipun hanya untuk sementara sebelum dinyatakan meninggal dunia. Tapi sebenarnya, Danny telah menjadi "patient zero", penduduk 'Salem's Lot pertama yang berubah menjadi vampir dan kemudian mulai menginfeksi para penduduk 'Salem's Lot... yang selanjutnya juga menginfeksi penduduk lainnya...

Ben dan teman barunya guru sekolah Matt Burke, mulai menyadari ada yang tidak beres di kota kecil itu. Mereka membentuk tim dengan Susan Norton, pacar Ben, Jimmy Cody, dokter Matt, dan Mark Metrie, salah seorang murid Matt yang berhasil lolos dari serangan Danny. Mereka meminta bantuan pastor setempat, Pastor Callahan, untuk membantu pencegahan laju vampirisasi di kota mereka.

Tidak mudah, tentu saja, karena "Kurt Barlow" bukan vampir kemarin sore, apalagi vampir bling-bling, dan telah berjalan di muka bumi selama ribuan tahun. Apa yang bisa dilakukan oleh enam orang manusia fana menghadapi vampir yang sudah biasa mengkonversi sebuah kota menjadi kota hantu vampir?

Novel diawali dengan prolog berisi potongan berita tentang kota hantu Jerusalem's Lot di Maine, di mana lebih dari seribu tiga ratus penduduknya menghilang secara misterius.

Novel diakhiri dengan epilog berisi potongan-potongan berita tentang peristiwa-peristiwa misterius di sekitar 'Salem's Lot. Kecelakaan mobil misalnya, di mana satu keluarga yang mengendarainya lenyap tanpa jejak. Hilang atau meninggalnya orang-orang yang tinggal tidak jauh dari kota itu.

Novel ini adalah cerita sebelum 'Salem's Lot menjadi kota hantu. Novel ini adalah cerita tentang bagaimana 'Salem's Lot berubah menjadi kota hantu, di mana penduduknya bersembunyi di siang hari, namun berkeliaran di malam hari.,, mencari mangsa.

Adaptasi TV:

Novel ini telah dibuat versi live action-nya dalam bentuk miniseri di televisi pada tahun 1979 dan 2004.


Review singkat ini dibuat dalam rangka :
Tema Horror

The Mist

Judul : The Mist

Penulis : Stephen King

ISBN : 978-0-451-22329-6

Penerbit : Signet

Tebal : 230 halaman

Dibeli di : Periplus Online Bookstore

Harga beli : Rp. 89.250,- (diskon ultah)

Tanggal dipesan : 29 Agustus 2015

Tanggal diterima : 28 September 2015

Tanggal pertama kali dibaca : 14 Desember 2010

Tanggal dibaca ulang : 10 Oktober 2015 #Program BUBU

Sinopsis : 
It's a hot, lazy day, perfect for a cookout, until you see those strange dark clouds. Suddenly a violent storm sweeps across the lake and ends as abruptly and unexpectedly as it had begun. Then comes the mist...creeping slowly, inexorably into town, where it settles and waits, trapping you in the supermarket with dozens of others, cut off from your families and the world. The mist is alive, seething with unearthly sounds and movements. What unleashed this terror? Was it the Arrowhead Project---the top secret government operation that everyone has noticed but no one quite understands? And what happens when the provisions have run out and you're forced to make your escape, edging blindly through the dim light?

Review singkat :
Apabila kabut tebal melanda dan monster-monster misterius tiba-tiba berkeliaran di muka bumi, di manakah kau ingin berada?

Apakah di rumah? Yang meskipun kemungkinan besar tidak aman dan tidak bisa menghalau monster, yang penting kita berada di tempat yang paling familiar dan nyaman bagi kita?

Atau markas militer? Yang memastikan kita bisa berlindung di balik benteng dengan para prajurit terpilih dan persenjataan canggih?

Dan bagaimana bila kita malah terjebak di supermarket, dengan banyak orang yang tidak kita kenal? Sementara di luar supermarket, di dalam kabut, para monster menunggu. Mereka tidak bisa menembus dinding kaca, tapi mereka akan menyambar siapapun yang meninggalkan keamanan supermarket dengan alasan apapun,,,

Novella ini dituturkan dari sudut pandang David Drayton, yang terjebak di supermarket bersama anaknya yang masih kecil, Billy, dan tetangga mereka, si pengacara Brent Norton. Kesadaran bahwa dalam kabut terdapat bahaya misterius mulai terungkap ketika korban-korban mulai berjatuhan. Dari pegawai supermarket yang pergi keluar untuk memperbaiki generator ventilasi, sampai orang-orang yang pergi karena tidak mau tetap berada di supermarket dan tidak percaya akan adanya bahaya yang menunggu di luar sana.

Dan setelah akhirnya orang-orang yang tersisa di supermarket percaya akan adanya bahaya monster di luar sana, mereka terbagi pada beberapa kubu dengan keyakinan yang berbeda. Ada yang meyakini bahwa bencana itu adalah hukuman dari Tuhan dan merupakan tanda-tanda datangnya kiamat. Ada pula yang tetap berusaha untuk meninggalkan supermarket dengan harapan bisa menghindari apapun yang ada di luar sana.

Stephen King tidak memberikan konklusi yang jelas untuk akhir novella ini, yang dibiarkan menggantung. Ia membiarkan pembaca mengira-ngira bagaimana kisah selanjutnya. Apakah David dan putranya selamat? Apakah dunia berakhir setelah monster-monster berkuasa di muka bumi? Tak ada yang tahu.

P.S. Inspirasi memang bisa datang dari mana saja. Stephen King kepikiran ide novella ini ketika ia dan putranya (Joe? Atau Owen?) sedang mengantri di kasir supermarket, dan King membayangkan bagaimana seandainya ada monster misterius yang mengepung supermaket dan para pembeli (dan pegawai toko) terjebak di dalamnya.


Movie adaptation :

Disutradarai oleh Frank Darabont (yang juga menyutradarai adaptasi karya Stephen King lainnya, The Shawshank Redemption dan The Green Mile), dengan tokoh David Drayton diperankan oleh Thomas Jane.

Pada prinsipnya, Darabont cukup setia pada versi novella King, dengan beberapa perkecualian.

Perkecualian yang sangat drastis adalah endingnya, yang dibuat sangat gelap dengan twist yang bisa menyesakkan hati penonton. Alternative ending yang dibuat dengan izin King, tentunya. Bagaimanapun, ending novella The Mist dibuat menggantung kok, tentu saja seperti halnya penikmat karya ini, Darabont bisa merekayasa versinya sendiri tentang nasib para tokohnya. Tapi tetap saja... membuatku emosi jiwa waktu menontonnya.

Review singkat ini dibuat dalam rangka :

Tema Horror

The Dead Zone

Judul : The Dead Zone

Penulis : Stephen King

ISBN : 978-0-451-15575-7

Penerbit : Signet

Tebal : 402 halaman

Dibeli di : Periplus Online Bookstore

Harga beli : Rp. 102.000,- (diskon ultah)

Tanggal dipesan : 29 Agustus 2015

Tanggal diterima : 28 September 2015

Pertama kali dibaca : Tahun 1994 

Tanggal dibaca ulang : 6 Oktober 2015 #Program BUBU

Sinopsis:

Johnny, the small boy who skated at breakneck speed into an accident that for one horrifying moment plunged him into The Dead Zone

Johnny Smith, the small-town schoolteacher who spun the wheel of fortune and won a four-and-a-half-year trip into The Dead Zone

John Smith, who awakened from an interminable coma with an accursed power—the power to see the future and the terrible fate awaiting mankind in The Dead Zone.



Premis :

1. What if you are a psychometrer, but you just don't know it

2. What if you can see the past and the future, by making phisical contact with a person or an object, but you just don't know it

3. What if you know you are a psychometrer, will you help people with your psychometry and precognition? Or you just make a fortune for yourself?

4. What if you know you have that accursed power, and you know someone will be THE president who START THE NUCLEAR WAR in the future...

4. What will you do?

5. WHAT WILL YOU DO?


Komentar singkat :

Novel ini merupakan novel pertama Stephen King kubeli dan kubaca. Novel yang terbit pertama kali pada tahun 1980 ini telah diangkat ke layar lebar pada tahun 1983, dengan casting Christopher Walken dan Martin Sheen dan disutradarai oleh David Cronenberg:


Selain itu, versi serial TV-nya pun pernah ditayangkan selama 6 season antara tahun 2002 sampai dengan 2007, dengan Antony Michael Hall sebagai pemeran tokoh utamanya:


Jujur saja, versi film-nya Christopher Walken sudah kutonton terlebih dulu sebelum membaca novel aslinya, sehingga mengurangi unsur kejutan saat membaca sumber aslinya. Tapi tentu saja, seperti biasa versi novelnya jauh lebih enak untuk dinikmati.

Inti cerita novel ini tentang seorang Johnny Smith, yang memiliki bakat ESP (Extrasensory Perception), terutama psikometri, sejak kecil. Namun bakatnya baru benar-benar bangkit setelah ia dewasa dan mengalami kecelakaan yang membuatnya koma selama empat setengah tahun. Meskipun ia sempat dituduh sebagai cenayang palsu oleh media lokal, Johnny tetap membantu Sheriff Bannerman menyelesaikan kasus pembunuhan berantai.

Bersamaan dengan kisah hidup Johnny, kita dibawa mengikuti perjalanan hidup seorang Greg Stillson, dari semula salesman kitab suci dari pintu ke pintu sampai kemudian menjadi politisi. Dari awal kita sudah diperlihatkan bagaimana karakter asli Greg Stillson, sehingga ketika suatu hari jalan hidup Johnny dan Stillson bertemu, di mana Johnny bisa melihat masa depan Stillson sebagai presiden yang akan membawa kehancuran bagi umat manusia...


Apa yang akan kaulakukan bila bertemu Hitler pada saat ia masih belum berkuasa, dan mengetahui dengan pasti bencana yang akan dtimbulkannya? Dosa mana yang lebih besar, membunuh seseorang saat ini untuk mencegah malapetaka yang masih belum terjadi, atau tidak berbuat apa-apa meskipun kita tahu apa yang akan terjadi?

Trivia :
Dalam versi film The Dead Zone tahun 1983, tokoh Greg Stillson diperankan oleh Martin Sheen.
Selama tahun 1999 s/d 2006, Martin Sheen memerankan Presiden Josiah Bartlett dalam serial TV The West Wing.


Well, untunglah karakter Bartlett berbeda jauh dengan Stillson, sehingga prekognisi Christopher Walken tidak terjadi, karena tak ada perang nuklir selama administrasi Bartlett.

N.B. Tokoh dunia nyata yang sekarang digadang-gadangkan sebagai penjelmaan Greg Stillson adalah Donald Trump. Apakah ia akan menjadi presiden AS yang memulai perang nuklir? Well, mari kita sambangi dan jabat tangannya. Oh wait, kita harus punya kekuatan psikometri setara Johnny Smith dulu untuk itu.

Buku ini dibaca dan dikomentari dalam rangka :
Tema Horror





Tuesday, June 30, 2015

Kretek Jawa

Judul : Kretek Jawa: Gaya Hidup Lintas Budaya

Penyusun : Rudy Badil, TR Setianto Riyadi

Kontributor : Mohammad Sobary, G Budi Subanar

Penerbit : Kepustakaan Populer Gramedia

Terbit pada : Agustus 2011

Dibeli pada : 21 April 2015

Dibaca pada : 10 Mei 2015

Harga resmi : Rp. 175.000,-

Harga beli : Rp. 40.000,-

Sinopsis :
Kudus memang telah menjadi salah satu produsen rokok utama tingkat nasional. Pada 2009 terdapat 209 unit industri di Kudus yang menghasilkan total 58,9 miliar batang rokok, dari 245 miliar batang rokok produk nasional.

Dari sudut pandang ketenagakerjaan, dapat dikatakan bahwa kehidupan warga Kudus bergantung pada rokok. Sebab, dari 98.874 tenaga kerja pada tahun 2008, lebih dari 80 persennya terserap dalam industri rokok. Singkatnya, Kudus memang betul-betul kota kretek.

Sejak pertama kali tembakau diperkenalkan kepada bangsa kita oleh kaum kolonialis, tanaman tersebut telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari sebagian masyarakat Indonesia. Faktor kesehatan konsumen rokok jelas patut diperhatikan, khususnya generasi muda yang di antaranya banyak menjadi perokok. Namun industri rokok tidak bisa dimatikan begitu saja; pelarangan iklan rokok total pun tidak bisa dilakukan begitu saja. Jika hal tersebut dipaksakan, perekonomian Indonesia akan menerima dampak dari tingkat pengangguran yang melonjak tajam.

Komentar singkat :
Penerbit KPG menggolongkan buku ini pada slot "Budaya".

Terlepas dari opini pribadiku atas rokok serta rekan-rekan sejenis dan turunannya, rokok khususnya rokok kretek memang merupakan bagian dari kehidupan sehari-hari sebagian masyarakat Indonesia. Telah menjadi budaya sebagian masyarakat Indonesia. Bagi perokok berat, ancaman bahaya kesehatan yang dipajang lengkap dengan gambar-gambar yang seram di bungkus rokok takkan banyak berpengaruh. Ngrokok matek, kagak ngrokok matek, ngrokok'o sampe matek!

Buku ini memuat tulisan, esai, reportase, dan lain-lain yang terkait dunia perokokkretekan di Indonesia. Dari awal mula sejarahnya (yang konon sudah ada dari jaman Roro Mendut yang boleh jadi bisa ditahbiskan sebagai SPG rokok pertama di tanah Jawa), para perintis produksi rokok kretek dari produk rumahan sampai produk pabrikan, suka-duka para buruh pelinting kretek tangan, produksi tembakau, sampai merek-merek rokok yang nyeleneh (tapi dianggap membawa hoki) dan koleksi gambar etiket rokok kretek dari masa ke masa.

Pembahasan buku ini cukup komprehensif dan sangat berguna bagi pembaca yang ingin mengetahui seluk beluk sejarah rokok di Indonesia. Tidak hanya berisi tulisan semata, tapi dilengkapi dengan koleksi foto, gambar dan ilustrasi berwarna yang hadir di setiap halamannya. Dicetak dengan jenis kertas majalah yang glossy, buku sejarah/budaya ini jadi terasa mewah dan terus terang saja harganya waktu pertama kali terbit memang agak bikin keder dan membuatku berpikir berulang kali untuk membelinya. Pas sudah berniat beli, eh, bukunya malah hilang dari rak di toko buku (iya, kelamaan mikir sih). Untunglah akhirnya aku menemukannya di sale buku Gramedia di Sudirman Citywalk dengan harga miring-miring sekali. Tentu saja, kali ini tidak perlu pikir panjang lagi!

Komentar singkat ini dibuat dalam rangka mengikuti event posbar BBI bulan ini dengan tema Budaya Indonesia.




Friday, May 29, 2015

The Slaughter

Tema: HAM

Premis:
- Negara republik dengan satu partai yang menguasai seluruh sendi kehidupan rakyat.
- Negara memberlakukan hukuman mati, yang tidak hanya berlaku bagi pelaku tindak kriminal ataupun koruptor, tapi juga tahanan politik maupun tahanan nurani (prisoner of conscience, yang ditahan karena terlibat dalam aksi damai yang dianggap dapat mengganggu stabilitas negara)
- Tahanan yang dieksekusi mati dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk kepentingan negara, dengan efektif dan efisien: organ tubuh dipanen untuk kebutuhan operasi transplantasi organ.
- Pelaksanaan hukuman mati disesuaikan dengan kebutuhan pasien. Begitu pasien yang membutuhkan muncul, segera dicari "donor" yang cocok, dan hukuman mati segera diurus administrasi dan eksekusinya.

Dengan premis cerita seperti ini, bisa jadi orang akan menebak bahwa buku yang akan kukomentari secara singkat di sini adalah novel dengan genre dystopia. Sayangnya, tidak demikian adanya. Ini adalah buku nonfiksi:


Penulis buku ini adalah Ethan Gutmann, seorang penulis jurnalis investigatif dan aktivis HAM. Dan buku keduanya ini disusun berdasarkan hasil wawancara dengan lebih dari 100 orang saksi, yang terdiri atas mantan tahanan, dokter, polisi dan administratur kamp.

Belum lama ini aku membaca ulang salah satu serial manga favoritku, Full Metal Alchemist karya Hiromu Arakawa. Buat yang belum tahu, manga ini bersetting di sebuah negara antah berantah bernama Amestris, yang dipimpin oleh seorang diktator militer. Tema utama manga ini adalah philosopher stone, yang dapat mengabaikan hukum paling dasar dalam ilmu alkemi, yaitu pertukaran yang setara. Philosopher stone bukan saja dapat memperpanjang umur atau hidup abadi, tapi juga meningkatkan kekuatan seorang alkemis untuk menciptakan sesuatu dari ketiadaan. Bahan baku utama pembuatan philosopher stone adalah jiwa manusia. Pihak militer Amestris diam-diam membuat laboratorium untuk menciptakan philosopher stone, antara lain dengan memanfaatkan para tahanan di penjara atau kamp konsentrasi. Rencana Besar para villain di manga ini malah lebih dahsyat lagi: mengubah 50 juta jiwa penduduknya menjadi philosopher stone!


Karena jarak baca yang berdekatan, wajar saja pada saat membaca buku Slaughter, aku malah lebih teringat dan memparalelkannya dengan manga FMA, ketimbang pada kasus Nazi Jerman di PD II. Mungkin selain keterlibatan pihak militer dalam hal pelanggaran HAM atas warga negaranya sendiri, juga karena philosopher stone dan organ tubuh manusia memiliki manfaat yang sama: memperpanjang umur.

Kesanku saat membaca buku ini jelas... miris dan ngeri.

Bagaimana tidak, baru di bab pertama saja sudah diceritakan bagaimana para dokter bedah selalu bersiap-siap di tempat eksekusi. Apabila eksekusinya dilakukan di tempat terbuka, mobil van medis tersedia sebagai tempat operasi. Target eksekusi tembak biasanya dada kanan atau dekat telinga, karena diusahakan agar organ tubuh yang penting seperti kornea, jantung, hati atau yang paling top, ginjal, tetap utuh. Saat tahanan jatuh pingsan, tim dokter segera membedah dan memanen organ tubuhnya. Mereka masih hidup saat para dokter beraksi, malah boleh dibilang ketimbang regu tembak, para dokter itulah yang sebenarnya menjadi algojo pamungkas. Bagaimana lagi, live organ is better!

Pada awal buku, Gutmann memaparkan hasil wawancaranya dengan orang-orang dari suku Uyghur di provinsi Xinjiang. Tahanan yang dieksekusi dan menjadi sumber organ di sini adalah mereka yang ditangkap adalah para "teroris" suku Uyghur yang didakwa terlibat kerusuhan. Tapi ternyata, boleh dibilang apa yang dimulai di Xinjiang pada awal tahun 1990-an masih terbatas sifatnya, dan mungkin baru eksperimen awal, karena bisnis transplantasi di Cina baru tumbuh secara besar-besaran pada akhir tahun 1990an, dan itu berkaitan erat dengan penindasan Falun Gong dan penangkapan para pengikutnya.

Boleh dibilang, sebagian besar buku ini bercerita tentang Falun Gong, dari asal-usulnya sampai bagaimana pemerintah menyatakannya sebagai organisasi terlarang yang harus diberantas, karena dapat  mengganggu stabilitas negara. Kalau mau diparalelkan, perlakuan pemerintah Cina terhadap Falun Gong kurang lebih sama dengan perlakuan pemerintah Orde Baru terhadap orang-orang yang terlibat atau diduga terlibat PKI. Bedanya, ketimbang cuma dipenjara atau dimaksukkan kamp kerja paksa saja, ternyata ada keuntungan komersial yang bisa diperoleh dari para tahanan yang jumlahnya mencapai ratusan ribu orang ini.


Mulai tahun 1999, bisnis transplantasi organ berkembang pesat di Cina. Dibandingkan dengan di negara lain yang butuh waktu berbulan-bulan bahkan sampai tahunan untuk mendapatkan organ yang cocok, di Cina pasien tidak perlu menunggu lama, bahkan bisa tinggal datang saja dan cukup menunggu dua hari untuk bisa melakukan operasi. Mengapa demikian? Karena para tahanan yang memenuhi syarat (muda dan sehat) telah melalui pemeriksaan medis, dan datanya telah tersedia. Apabila seorang pasien mendadak perlu segera dioperasi (bisa pejabat partai atau keluarganya, warga negara biasa, atau warga negara asing), tinggal dicari tahanan mana yang data medisnya cocok, lalu proses pelaksanaan hukuman hukuman matinya langsung berjalan. Istilahnya, kill to order.

Terus terang saja, sebelum membaca buku ini aku mengira persediaan organ di Cina berasal dari orang-orang miskin yang memang rela menyumbangkan sebagian organ tubuhnya dengan imbalan uang, bukan mereka yang dipaksa menjadi donor dengan hukuman mati yang jadwalnya bisa diatur sesuai kebutuhan, sedangkan uang hasil penjualan organnya tidak diterima oleh keluarga yang ditinggalkan, melainkan diambil oleh pihak rumah sakit/militer yang terlibat.

Mau tak mau, aku jadi memikirkan berapa banyak orang Indonesia yang telah melakukan organ tourism ke negeri Cina? Dan apakah mereka tahu pasti dari mana sumber organ tubuh yang mereka terima? Dan seandainya mereka tahu, sikap apa yang akan diambil? Apakah lantas tutup mata saja, pura-pura tidak tahu dari mana datangnya, asalkan nyawa bisa diperpanjang masa berlakunya?

Dapatkah kita mengambil sikap tegas seperti Edward Elric, yang tidak mau menggunakan philosopher stone demi kepentingan pribadi, karena tahu bahwa dengan demikian secara tidak langsung ia mengambil keuntungan dari kematian orang lain?

Thursday, April 30, 2015

Simple Thinking about Blood Type 3

Tema: BDDO
Tema baca bareng bulan ini adalah buku yang dulunya pernah diterbitkan secara online.

Sebenarnya bakal calon buku BDDO ada banyak sih, tapi karena lagi malas bikin review, aku pilih buku yang ringan dan lucu sajalah untuk dikomentari, yaitu:



Karena sebelum diterbitkan dalam bentuk buku komik golongan darah Park Dong Sun ini sudah ditayangkan secara online lebih dulu sebagai Web-Toon, jadi buku ini kuanggap sah deh sebagai BDDO.

Buku yang kuterima dari toko buku online tanggal 19 April kemarin (dan langsung dibaca saat itu juga) ini adalah buku ketiga dari serial Simple Thinking about Blood Type. Meskipun suka, buku pertama dan keduanya belum pernah kureview sampai saat ini. Langsung loncat ke sini saja ya, lagi pula aku merasa nyambung banget dengan buku terakhir ini, karena sebagian isinya yang sudah menyenggol dunia kerja.

Ada beberapa hal menarik yang dibahas di awal buku ini, seperti:

Pygmalion effect: teori tentang orang yang bereaksi terhadap lawan bicaranya dengan bertingkah seperti yang diharapkan.

Labelling effect: teori tentang orang yang bertingkah seperti yang dilabelkan pada dirinya oleh lawan bicaranya, misalnya berperilaku negatif karena dicap negatif.

Barnum effect: kecenderungan untuk mengakui secara psikologis bahwa sifat yang dimiliki orang-orang secara umum adalah ciri khusus dirinya sendiri.


Terasa tidak sih, kalau kita baca buku model begini, lalu kebetulan karakter kita sedikit banyak cocok dengan label di sini? Tentu kita langsung mengangguk-angguk setuju sambil komentar, "Oh, pantas saja... memang pada dasarnya begitu?"

Misalnya, karakter Golongan Darah A karakternya diberi label seperti ini: Baik, Lembut, Sopan.

Dia bekerja keras untuk menyesuaikan diri dengan aturan yang dibuatnya sendiri. Dia menjaga orang lain dengan baik, tetapi tidak bisa bertahan dalam sebuah konflik hubungan antarsesama manusia atau dalam perubahan lingkungan yang cepat. Dia sangat berhati-hati ketika memulai pekerjaan baru. Banyak di antara mereka adalah perfeksionis yang selalu mempersiapkan masa depan sedini mungkin. Dia bisa mengendalikan diri dengan baik dan sangat sabar.

Sebagian besar pemilik golongan darah A, termasuk aku, mungkin akan mengakui bahwa sifat-sifat umum itu benar. Tapi... mungkin tidak sih, kita mencoba melakukan hal yang berlawanan dengan label itu?

Sebagai tipe perencana, aku mencoba berbuat spontan. Misalnya, tidak membeli tiket mudik jauh-jauh hari (tapi, khusus untuk lebaran, tetap kudu beli H-90 sih). Akibatnya memang nyebelin sih, kalau niat dan belinya mendadak, bisa jadi malah tidak jadi mudik karena tidak kebagian tiket :( Repot juga ya, jadi orang spontan.

Tapi sayangnya, sifat perencana dan penuh perhitungan ini tidak berlaku kalau sudah berurusan dengan belanja buku :P

Selain itu, yang juga menarik untuk didiskusikan adalah: belum tentu golongan darah membuat sifat dan kelakuan kita jadi tipikal dan sama rata sama rasa dengan mereka yang bergolongan darah sama. Contohnya saja, keluargaku semuanya memiliki golongan darah A, tapi toh sifatnya berbeda-beda, dan bisa jadi bukan sifat yang konon khas golongan darah A.

Harus kuakui ada beberapa sifat tipikal golongan darah A yang memang gue banget, tapi untuk beberapa hal, aku cenderung mirip dengan tipe golongan darah AB. Misalnya dalam hal-hal di bawah ini, sifat A iya, sifat AB juga iya.




Atau kalau di tempat kerja:




Dan kadang-kadang, aku juga kerap melakukan hal-hal yang di buku ini pada umumnya dilakukan mereka yang bergolongan darah B dan O.

Nah, piye toh iki?

P.S.
Ada yang agak aneh di halaman copyright buku ini. Katanya cetakan pertama buku terjemahan ini terbit bulan Mei 2015, padahal aku sudah membeli dan membaca buku ini pada pertengahan April 2015. Padahal bukan pre-order pula. Ini salah cetak atau memang kecepetan mendistribusikan buku?

Oh, never mind. Just my unimportant musings.

Wednesday, April 29, 2015

Hubungan dengan Pembaca [Sebuah Opini]

Tema: Hubungan dengan Pembaca
Terus terang, waktu membaca tema untuk OpBar bulan April ini di kalender BBI, aku rada nge-blank sampai perlu bertanya di grup wa BBI tentang maksud dan tujuan tema ini. Yaaa, daripada sesat di jalan.

Tentu saja tuduhan pertamaku atas bahan obrolan kali ini adalah tentang buku yang membuat pembacanya merasa gue banget gitu loh.

Tuduhan kedua, apakah ini tentang Hubungan antara Penulis dengan Pembaca? Berdasarkan teori biologi, hubungan ini jatuhnya seharusnya simbiosis mutualisme, bukan simbiosis komensalisme, simbiosis amensalisme, atau malah simbiosis kompetisi, di mana kedua pihak malah saling merugikan. Tapi kayaknya bukan itu yang dimaksud, sih ya...

Tuduhan ketigaku jauh lebih mantap: apakah kita akan membahas Hubungan antara Pembaca dengan Pembaca lain? Teori ini cukup masuk akal, mengingat belakangan ini event sepik-sepikan plus comblang-comblangan kembali ramai di grup wa BBI...

Okelah, daripada salah kaprah, seharusnya memang aku membaca dulu panduan dari Divisi Event tentang tema ini sih:

Pernahkah kamu merasa sangat nyambung dengan sebuah cerita atau buku? Seolah kamu bisa relate dengan kisah si tokoh. Atau kamu membaca sebuah buku, tapi temanya bertentangan dengan moral pribadimu? Bagaimana jika sebuah buku begitu kontroversial, kamu nggak tahu bagaimana harus membuat review bukunya? Bagaimana kamu menyikapinya?

Daripada bahasannya ke mana-mana apalagi ngegosipin hubungan antara seorang pembaca dengan pembaca lain terlepas dari apakah hubungan itu hanya gosip atau cuma teori konspirasi, mendingan aku mengikuti panduan saja deh, biar aman :))


1. Pernahkah kamu merasa sangat nyambung dengan sebuah cerita atau buku?

Duh, ya pernah banget dong. Aku bisa merasa nyambung banget apabila sebuah buku bisa membuatku emosi jiwa. Dampaknya bisa bermacam-macam sih, tergantung reaksiku saat jiwaku berpindah secara magis ke dunia yang dibangun penulis. Bisa marah-marah, kesal, menangis, lapar, atau... malah sampai ehm... horny :P . Ini serius, lho, karena tergantung jenis bacaannya juga. Yang terakhir itu memang gawat sih, terutama buat yang tidak punya pasangan yang sah menurut hukum :P



Biasanya buku yang membuatku merasa emosional, misalnya ceurik nepi ka curumbay air mata, kuberi rating tinggi. Habisnya, buat seorang jaded reader sepertiku, makin lama aku makin susah merasa puas, susah menemukan buku yang bisa menggetarkan dawai-dawai jiwa. Jadi, kadang-kadang, bila ada pembaca lain mereview buku dengan laporan bahwa buku itu bisa bikin banjir air mata (TFIOS, misalnya), terus aku tertarik untuk membacanya dan ternyata aku merasa apaan sih kok air mata ga netes setitik pun, ya sudah, sebagus apapun buku ini di mata pembaca lain, aku mungkin menilainya biasa saja. Atau misalnya ada buku genre erotica yang direkomendasikan sejuta umat, tapi bukannya merasa romantis, terpesona atau horny, aku malah merasa sebal dan disgusted, ya sudah, sudah pasti aku tidak terbawa hype dan mainstream, yang ada malah bukunya kuberi rating rendah (you know what book-lah).

Selain buku yang bikin emosi jiwa (sebenarnya buku yang njengkelin dan nyebelin juga bikin emosi jiwa kali ya, tapi reaksi dan penilaiannya bisa berbanding terbalik sih), aku juga bisa nyambung dengan sebuah buku bila tokoh utama di buku itu yang gue banget. Seperti waktu membaca The Abundance of Katherines, misalnya, meskipun tokoh utama di buku itu seorang cowok. 


2. Pernahkah kamu membaca sebuah buku, tapi temanya bertentangan dengan moral pribadimu?

Sudah pasti. Dan ada banyak, tapi aku cenderung mengabaikannya, apalagi kalau buku fiksi. Ya... namanya juga fiksi. Aku selalu berusaha tetap open mind.

Contoh paling gampangnya biasanya kalau membaca buku genre romance, baik itu kontemporer maupun historical romance. Coba deh kalau aku iseng membuat daftar novel romance yang kubaca, terutama yang penulisnya dari luar, mana yang menampilkan sex before marriage (SBM) dan mana yang menampilkan sex after marriage (SAM). Pasti jauh lebih banyak yang SBM. Tak peduli walaupun hasil akhirnya sama, hero dan heroine akhirnya menikah dan live happily for ever after, tetap saja sebenarnya bertentangan dengan prinsip dan keyakinan pribadiku. Tapi yaaa... aku tetap baca sih, dan cuek saja, tidak merasa terganggu sama sekali. Tapi jadinya memang kalau aku menemukan buku roman yang lebih mementingkan SAM, jadi sesuatu banget saking jarangnya.


Tentu saja, novel-novel itu, meskipun mengambil setting di masa lalu, kebanyakan ditulis oleh penulis kontemporer. Mungkin akunya saja yang jarang baca novel roman klasik, yang memang sangat steril. Coba deh baca Pride and Prejudice atau novel-novel Jane Austen lainnya. Jangan harap ada adegan ranjang, adegan pegangan tangan saja jarang. Makanya kalau iseng membaca fanfiction PnP, di mana kita dihadapkan pada Mr. Darcy yang tak kuasa menahan nafsu dan Lizzie Bennett yang gampang diajak indehoy, aku jadi merasa mereka Out of Character banget dan seperti membaca novel yang sama sekali tidak ada kaitannya dengan PnP, cuma mencatut nama tokoh-tokohnya saja.

Nah, meskipun aku cuek saja kalau membaca novel roman luar, bisa beda kasusnya dengan novel roman Indonesia yang menganut SBM. Iya sih, zaman sudah berubah, dan kita tidak bisa menutup mata bahwa SBM bukan hal yang jarang terjadi di Indonesia. Tapi aku agak susah untuk menyukai buku yang tokoh utamanya melakukan SBM dan menganggapnya sebagai hal yang wajar dan biasa saja di zaman yang modern ini. Kalau sudah seperti itu, aku baru bisa menyukai buku itu apabila jalan ceritanya benar-benar bagus dan memikat.

Di luar prinsip SAM, tentunya masih banyak buku-buku yang mengandung hal-hal yang mungkin tidak sesuai dengan prinsip pribadiku di dunia nyata. Tapi, bisa jadi bukannya menghindari, aku malah sengaja membacanya. Kadang-kadang, membaca sesuatu yang kontroversial malah terasa menarik. Kadang-kadang, tokoh-tokoh yang nyeleneh dengan prinsip hidup yang tidak lazim malah membuat jalan ceritanya jadi semakin menarik. How can we love and support a serial killer?


Yang paling susah memang apabila aku membaca buku nonfiksi yang isinya bertentangan dengan prinsip dan keyakinan pribadi. Meskipun demikian, jarang sih yang membuatku DNF. Setidaknya, aku merasa perlu untuk membaca sebuah buku sampai selesai, sebelum aku memberikan komentar baik ataupun buruk. Dan terkadang, meskipun secara sebuah buku yang kubaca tidak sesuai dengan prinsip pribadiku, bisa jadi aku malah memberikan penilaian yang tinggi, dengan alasan yang bermacam-macam.

Intinya sih, bertentangan dengan prinsip atau moral pribadi sekalipun, kalau menurutku sebuah buku atau cerita benar-benar bagus, aku akan tetap memberi penilaian bagus. 






Friday, April 17, 2015

Around the Genres in 30 Days Wrap Up


Selamat Jumat malam menjelang Sabtu pagi!!!

Ehm, maaf hampir telat bikin posting wrap up, karena jujur saja aku tidak ngeh kalau event ultah ini harus ditutup dengan resmi pada tanggal 17 April 2015. Sewaktu memajang posting pengumuman pemenang Giveaways Kelompok SFF dan Blog pribadi, kukira itu adalah posting terakhir, meskipun sempat kepikiran waktu melihat rentang waktu pada banner ATG di atas... m(_._)m

Anyway... seperti yang mungkin pernah kuungkapkan pada posting lain, pada ulang tahun BBI tahun-tahun sebelumnya aku tidak pernah aktif berpartisipasi dalam event-event BBI selain posting bareng review. Selama ini aku memang sengaja mengkhususkan blog ini sebagai blog murni review buku (atau curcol, opini, review film dll yang mengaku sebagai review buku). Jadi, boleh dibilang, di ultah ke-4 BBI inilah aku mulai melibatkan diri untuk ikut meramaikannya.

Berbeda dengan format event Ultah BBI sebelumnya, pada event Ultah BBI tahun ini yang bertajuk Around the Genres in 30 Days ini, para peserta dibagi menjadi tiga faksi genre, Children Literature & Young Adult, Romance dan Science Fiction & Fantasy. Terus terang saja, sebagai omnireader yang tidak memiliki fanatisme dan kecenderungan pada genre tertentu (can we say Divergent?), aku harus memilih untuk masuk ke faksi yang mana. Karena kebetulan aku sedang tidak mood untuk membaca buku anak-anak atau romance, apalagi yang ditujukan untuk Young Adult, akhirnya aku memilih faksi SFF. Aku sebenarnya mengusulkan kelompok buku nonfiksi juga sih sebagai cadangan, tapi ternyata tidak ada kelompok yang terbentuk.

Setelah Kelompok 16 SFF terbentuk dan rembukan tentang apa yang akan ditampilkan pada blog peserta, untuk posting awal masing-masing peserta mendapat kesempatan untuk membuat artikel tentang genre/subgenre SFF. Berdasarkan hasil undian, aku mendapatkan genre Science-Fiction.

Well, meskipun aku hobi menonton film atau serial teve yang berbau scifi, kalau melihat daftar bacaanku, buku scifi termasuk minoritas (kita bicara novel, bukan manga/komik). Dan waktu melakukan riset kecil-kecilan tentang novel-novel genre scifi di sebuah site khusus scifi, harus kuakui bahwa dari daftar 25 buku scifi yang konon terbaik di dunia baru 3 buku yang sudah kubaca.

Okesip, ini tantangan yang menarik! 

Karenanya, aku bertekad agar selain membahas genre-nya, aku juga harus membaca minimal beberapa buku scifi. Ish, kebetulan pula posbar BBI bulan Maret bertema novel yang diadaptasi menjadi film (atau sebaliknya). Daftar novel scifi klasik yang sudah diadaptasi menjadi film yang kuniatkan untuk dibaca sebenarnya cukup banyak, dari I, Robot-nya Isaac Asimov, Do Android Dreams of Electric Sheep-nya Philip K. Dick (adaptasi filmnya berjudul Blade Runner, yang dibintangi Harrison Ford), Starship Troopers-nya Robert A. Heinlein, sampai Dune-nya Frank Herbert. Ternyata aku cuma sempat membaca dua buku terakhir (yang wajib kubaca karena konon termasuk tiga besar dunia novel scifi selain Ender's Game), dan buku yang kureview untuk posbar BBI bulan Maret malah novel adaptasi dari naskah film Back To The Future. Tapi nggak terlalu melenceng dari rencana awal sih, toh film BTF juga termasuk film scifi klasik :D


Di event ultah BBI kali ini juga aku pertama kali mengadakan Giveaway di blog. Dan ikutan Giveaway Hop. Sebelumnya, kalau ada kesempatan berbagi buku, Giveaway-ku sangat harfiah: melalui tawaran untuk kalangan terbatas di grup BBI, tanpa syarat apa-apa, siapa cepat dia dapat. Sekarang, aku harus bikin dan ikutan Giveaway yang pakai aturan main segala. Yah, setiap hari memang selalu ada hal baru untuk dicoba.

Untuk Giveaway pribadi, awalnya cukup bingung juga sih menentukan tantangannya, namanya juga baru pertama kali, tapi akhirnya memutuskan yang kuis yang kuanggap mudah: tebak gambar dari buku-buku genre SFF yang pernah kureview di blog ini. 

Untuk Giveaway Hop faksi SFF, malah ada cerita tersendiri. Pada awalnya, karena aku berniat mereview dan membaca novel I, Robot, tadinya novel itu yang mau kujadikan sebagai petunjuk. Tapi nasib berkata lain dan aku diminta untuk menjadikan novel dengan huruf awal O sebagai petunjuknya. Oke deh, dalam rangka konsistensi dengan tema pribadi (padahal tidak wajib sih), aku ingin novel penggantinya tetap novel scifi yang akan kubaca dalam rangka event ATG. Akhirnya aku melihat-lihat daftar buku scifi terbaik, siapa tahu ada yang berawalan depan O. Dan ternyata... ada!

Dan buku yang tak sengaja terpaksa kubaca tersebut, Old Man's War, ternyata memang pantas berada dalam daftar novel scifi terbaik. Bahkan, karena story dan storytelling-nya asyik, aku merasa harus memasukkan penulisnya, John Scalzi, ke dalam daftar penulis favoritku! Membaca novel ini malah terasa lebih asyik dibandingkan ketika membaca novel scifi klasik yang juga kubaca dalam waktu berdekatan, seperti Dune dan Starship Troopers! Ini benar-benar blessing in disguise! Coba kalau aku tidak ikut meramaikan event Ultah BBI seperti tahun-tahun sebelumnya, belum tentu aku kepentok novel-novel John Scalzi dalam waktu dekat. Psst, sebagai catatan, novel Scalzi berikutnya yang kubaca, Redshirts, malah lebih asyik dan menghibur dari novel pertamanya ini. Kalau sempat, akan kureview juga kapan-kapan deh :))

Kesimpulannya, terima kasih yang sebanyak-banyaknya kepada Divisi Event yang telah menyelenggarakan event ATG untuk Ultah BBI yang ke-4 ini.  Dan tentu saja kepada teman-teman anggota faksi SFF yang sangat aktif, kreatif, dan seru (yang juga sering kuganggu dengan pertanyaan-pertanyaan khas pemula yang kudet dan gaptek :P). Aku juga berterima kasih kepada teman-teman yang telah turut berpartisipasi pada GA Hop SFF dan GA blog Threez's Stacks. 

Berhubung jam di sudut kanan bawah layar monitor laptopku sudah menunjukkan pukul 11.40 PM, curcol ini kututup di sini saja, sebelum malah nantinya melampaui tanggal 17 April 2015.