Showing posts with label wizard and wizardry. Show all posts
Showing posts with label wizard and wizardry. Show all posts

Saturday, January 10, 2015

Dreamsongs: A Rretrospective

Penulis: By George R.R. Martin

Penerbit : Gollancz, Great Britain

Book 1 : ISBN: 978-0-75289-008-1, 
Halaman: 656
Harga beli: Rp. 30.000,-
Tanggal beli: 29 Mei 2014

Book 2 : ISBN 978-0-75289-008-1
Halaman: 736
Harga beli: Rp. 69.000,-
Tanggal beli: 03 November 2013


Kedua buku bantal ini termasuk yang kubabat dari timbunan pada awal tahun baru ini. Yay, ini bisa diikutkan Read Big Challenge mestinya :) 

Alasan aku membeli kedua buku ini
1. Penulisnya. 
Rasanya cukup jelas, mengingat aku suka banget serial A Song of Ice and Fire yang sayangnya entah kapan bakal tamat. Semoga beliau diberikan kesehatan dan mood yang baik untuk dapat menyelesaikan masterpiece-nya. Amin.

2. Covernya.
Keren banget. Nget. 'Nuff said.

3. Harga banting
Kedua buku ini kudapat di lapak obral Periplus dalam dua bazar yang berbeda. Yang kudapat duluan malah buku keduanya, yang kubeli waktu IBF 2013. Buku pertamanya kudapat dengan harga lebih miring lagi pas JBF 2014.

4. Penasaran dengan karya-karya lain GRRM selain serial ASOIAF dan Wild Cards.

Review
Sejak aku membeli dan menyampul kedua buku ini, aku sama sekali tidak pernah menyentuh apalagi membuka-buka isinya seperti apa. Iyaa, sosok fisiknya yang gendut memang membuat tangan enggan menjamah sewaktu sedang mengobok-obok timbunan mencari bahan bacaan berikutnya. Yang aku tahu, isinya kumpulan cerpen/novela GRRM, dan salah satunya semacam prekuel dari serial ASOIAF.

Ternyata... Kumcer ini dibagi dalam bab-bab yang selalu diawali dengan memoir GRRM tentang catatan perjalanan sejarahnya sebagai penulis (ini menjelaskan kenapa ada subjudul A Rrestropective). Dan... aku malah jauh lebih menyukai memoir bersambung ini ketimbang kumpulan cerpen/novela-nya itu sendiri :)

Bagi yang mengira GRRM adalah spesialis penulis fantasy-epic seperti ASOIAF, dengan membaca kumpulan karya awalnya ini akan mengetahui bahwa ia tidak menulis dalam satu genre saja. Selain cerita fantasi, ia juga menulis cerita horor, thriller dan sci-fi, malah waktu remaja, sebagai penggemar komik superhero, ia menulis cerita superhero juga. Pada tahun kedua kuliah jurnalisme, dalam mata kuliah Sejarah Skandinavia ia malah menulis paper  dalam bentuk cerpen. Dapat nilai A lagi!

Dreamsongs Buku 1 mencakup cerpen/novela GRRM di masa awal-awal ia berkarya. Setiap bab memoir diikuti dengan beberapa karyanya yang ditulis pada tahapan karir kepenulisan yang dikisahkannya. Misalnya dalam Bab 1: A Four Color Fanboy, mencakup cerpen Fortress, yang merupakan paper/cerpen dari mata kuliah Sejarah Skandinavia-nya.

Ada lima bab dalam buku ini, termasuk kumpulan karya-karya yang pertama kali dibeli dan diterbitkan oleh majalah, yang membuat GRRM akhirnya memutuskan menjadi penulis full-time. Apalagi ternyata meskipun lulus dengan magna cum laude, cari kerja itu susah, Jenderal.

Khusus untuk cerpen-cerpen di buku ini, aku cenderung lebih menyukai yang bergenre Sci-fi ketimbang genre-genre lainnya.

Dreamsongs Buku 2 mencakup cabang karirnya yang merambah Hollywood sebagai penulis dan produser program televisi, sehingga termasuk dalam karya-karya yang dijejalkan di buku ini adalah salah satu naskah episode Twilight Zone. Ada pula naskah pilot Doorways yang gagal menjadi serial TV. Sayang juga sih, Padahal premis ceritanya mirip-mirip Sliders, karena tokoh-tokohnya bisa jalan-jalan ke dunia lain. Berat biaya produksinya karena settingnya terus berubah, mungkin?

GRRM yang belum melupakan mimpi masa kanak-kanaknya menulis cerita superhero belakangan menciptakan konsep serial cerita (serta mengkompilasi dan mengedit ) Wild Cards yang ditulis oleh para anggota Wild Cards Consortium yang bejibun banyaknya. Tapi tentu saja yang dimasukkan ke Buku 2 ini cerpen-cerpen yang merupakan buah karya GRRM selaku kontributor.

Dan terakhir, yang kucari-cari memang novela yang masih satu universe dengan serial ASOIAF: The Hedge Knight: A Tale of the Seven Kingdom, dengan tokoh utama Dunk alias Ser Duncan the Tall, dengan setting beberapa generasi sebelum ASOIAF.








Sunday, March 2, 2014

Perjalanan Sihir

Little Witch Co. #2: Perjalanan SihirLittle Witch Co. #2: Perjalanan Sihir by Ambiru Yasuko
My rating: 4 of 5 stars

Perusahaan Sihir, Bagian Daur Ulang Pakaian, tutup untuk sementara karena Silk dan Cotton akan melakukan perjalanan sihir selama musim panas ke vila milik Silk. Tentu saja, Nana si anak manusia juga ikut.

Apa kendaraan yang cocok untuk perjalanan sihir? 
Rupanya bukan sapu terbang. Untuk perjalanan sihir, Silk menggunakan 'permadani perjalanan sihir'.

Lho, bukannya sapu sudah jadi trademark penyihir?
Baju hitam, topi besar, dan sapu adalah kostum wajib bagi penyihir tepercaya, yang harus dipakai waktu berfoto dalam acara resmi. Tapi untuk perjalanan? Pffft. Setidaknya menurut Silk, sih. Bagaimana bisa tetap duduk di gagang sapu yang kecil dengan nyaman? Benar juga sih, coba ada joknya atau apa, gitu.

Bagaimana liburan musim panas di vila Silk?
Gagal total, karena permadaninya rusak, dan mereka bertiga terdampar di Perusahaan Sihir--Bagian Perjalanan Sihir. Ya, semacam biro travel penyihirlah. Tapi... sambil menunggu  permadani diperbaiki, mereka dapat menonton konser musim panas Chorus Stars, kelompok paduan suara yang paling terkenal. Para anggotanya adalah babi, rubah, musang, dan tikus.

Jadi, kegiatan Silk cs akhirnya hanya menonton konser?
Tentu saja tidak. Karena kepribadian anggota Chorus Stars berbeda-beda, menjelang konser mereka hampir pecah gara-gara urusan kostum. Di sinilah Bagian Daur Ulang Pakaian beraksi untuk mendamaikan para anggota Chrorus Stars dan mensukseskan konser!

Daur ulang pakaian kali ini hilarious, karena mengingatkanku pada ibuku, yang juga penjahit, yang suka mendaur ulang pakaian dengan cara serupa dengan Silk. Ehm, misalnya saja... menggunakan tirai dan seprai menjadi bahan pakaian :D



View all my reviews

Saturday, March 1, 2014

Penyihir Jahit

Little Witch Co. #1: Daur Ulang PakaianLittle Witch Co. #1: Daur Ulang Pakaian by Ambiru Yosuko
My rating: 4 of 5 stars

Aku menemukan buku terbitan Bentang Belia ini di stand Mizan pada Islamic Book Fair yang kusambangi hari ini, dan langsung tertarik untuk mencomotnya. Penyebabnya hanya satu: covernya yang unyu dan imut. Kalau sudah begini, hati langsung tidak konek dengan otak yang biasanya penuh perhitungan (ha! kayak yang pakai perhitungan saja kalau jalan-jalan di pameran buku :P), dan langsung memboyongnya ke kasir. Masuk ransel, deh.

Apakah isinya seunyu covernya?
Tentu saja. Namanya juga buku anak-anak, kudu unyu dan imut dong. Buku setebal 106 halaman ini berupa cerita bergambar. Ilustrasinya sama bagusnya dengan covernya, sebagian berwarna sebagian lagi hitam putih. Dan ukuran font-nya yang besar cukup menyegarkan buat mata yang terbiasa membaca huruf novel yang kecil-kecil.

Judul posting ini typo, ya?
Itu bukan salah ketik, kok. Tokoh utama buku ini, Silk, adalah seorang Penyihir Jahit dari Perusahaan Sihir--Bagian Daur Ulang Pakaian. Kuulangi ya, Penyihir Jahit, bukan Penyihir Jahat.


Jadi cara menjahitnya pakai sihir seperti ibu peri membuat gaun indah untuk Cinderella?
Tidak sama sekali. Dalam dunia Silk, barang yang dibuat dengan menggunakan sihir adalah barang murahan. Perusahaan sihir--bagian daur ulang pakaian adalah toko yang membuat barang tanpa menggunakan sihir, sehingga terkenal kualitas barangnya. Hmm, dipikir-pikir pantas saja gaun indah Cinderella sudah kedaluarsa lagi pada jam 12 malam, barang murahan sih ya...

Kalau dilihat cover belakangnya, ada Nana si anak manusia dan 3 ekor induk tikus. Bagaimana hubungannya dengan Silk?
Nana si anak manusia tidak sengaja menemukan rumah Silk, padahal rumah itu sudah dipasangi sihir sehingga hanya mereka yang punya keperluan saja yang bisa melihatnya. Sedangkan para tikus berusaha meminta bantuan Silk untuk mendaur ulang gaun kuning Induk Tikus Jangkung menjadi gaun kuning bagi Nona Beruang yang mereka sayangi agar si nona bisa ikut Karnaval Dandelion.

Tunggu, gaun tikus dijadikan gaun beruang? Mana cukup? Harus pakai sihir, kan?
Duh, sudah dibilang kalau membuat barang degan sihir itu cara murahan!

Lalu bagaimana caranya, dong?
Ah, masa rahasianya dibagi di sini. Kalau memang mau tahu cara daur ulangnya, baca sendiri saja ya...



View all my reviews

Friday, December 14, 2012

Fall For Dresden, Part 3

Grave Peril (The Dresden Files, #3)Grave Peril by Jim Butcher
My rating: 5 of 5 stars

Setelah terselang membaca Cold Days, jilid ke-14 Dresden Files yang terbit akhir November kemarin, program mendengarkan audiobook Dresden Files tetap diteruskan, mumpung masih semangat-semangatnya. Lagipula, berbeda dengan buku fisik ataupun ebook, audiobook bisa dinikmati pada jam kerja tanpa khawatir dikategorikan sebagai pelanggaran disiplin. Ya, kalau rekan lain bekerja sambil mendengarkan musik, aku bisa anteng bekerja sambil mendengarkan suara seksi James Masters. Eh, nggak anteng, ding, karena masih ketawa-ketawa sendiri kalau sampai di bagian yang kocak.

Sesuai urutan dan gilirannya, kali ini aku mendengarkan buku jilid ke-3:


Di jilid ketiga ini Dresdenverse mulai diperkenalkan secara lebih luas kepada pembaca, begitu pula tokoh-tokoh dan kelompok baru yang akan berperan dan sangat mempengaruhi jalan cerita Dresden Files selanjutnya, antara lain :

Michael Carpenter
Sesuai namanya, pekerjaannya adalah tukang kayu, tapi ia punya tugas sampingan yang jauh lebih berbahaya sebagai Knight of the Cross, salah satu dari tiga ksatria terpilih untuk melawan kuasa gelap. Para ksatria ini masing-masing dibekali sebilah pedang sakti yang mengandung paku berdarah yang berasal dari penyaliban Isa Almasih. Pedang Michael berbentuk pedang lebar Eropa, dan dinamai Amoracchius alias "Pedang Cinta". Harry menghormati Michael dan mungkin menganggapnya sebagai paman.

Charity Carpenter
Istri Michael yang sangat mengkhawatirkan keselamatan suaminya. Karena itu, boleh dibilang ia tidak menyukai Harry, yang sering menyeret Michael ke dalam bahaya yang menyebabkannya terluka, baik ringan maupun berat, atau sampai masuk penjara sekalian.

Kelompok Vampir


Yup, salah satu monster of the book jilid ini adalah kelompok monster yang sudah sangat biasa muncul di cerita supranatural. Saking biasanya sampai terasa tidak ekslusif lagi (baca: obralan) atau... wajar saja kalau ternyata benar-benar ada di sekitar kita (teringat salah satu customer di buku Weird Things Customers Says in Bookstores yang beli buku-buku vampir untuk persiapan karena pulang kerja malam-malam ;P)

Lantas, apa bedanya vampir di Dresdenverse dengan vampir bling-bling atau vampir-vampir di cerita lainnya? Jilid ketiga ini memperkenalkan bahwa terdapat spesies maupun struktur organisasi vampir yang berbeda-beda:

1. Vampir Red Court
Berupa makhluk mirip kelelawar yang bersembunyi di balik "kostum" manusia yang sensual dan seksi. Spesies ini sudah muncul di buku pertama dalam sosok Bianca, pemilik rumah bordil Velvet Room yang tersinggung berat gara-gara interogasi Harry. Spesies ini kuat dan cepat, tapi lemah terhadap cahaya matahari dan apabila perutnya robek hingga darah hasil isapannya tumpah. Spesies ini menghisap darah manusia, dan ludahnya mengandung zat adiktif yang membuat korbannya mengalami euforia dan dapat dikendalikan. Perubahan manusia biasa menjadi vampir red court terdiri atas dua tahap : pertama manusia terinfeksi dengan rasa haus akan darah (dan sudah memiliki kecepatan, kekuatan, dan daya tahan supranatural), lalu berubah menjadi bentuk demon setelah membunuh saat memangsa korban manusia pertama mereka.
 
2. Vampir White Court
Sangat mirip manusia biasa, semacam succubus dan incubus, karena mengkonsumsi emosi dan daya hidup mangsanya. Spesies ini dilahirkan, bukan terinfeksi seperti jenis lainnya. Mereka berkembang seperti manusia sampai kekuatan vampir mereka muncul di usia tertentu. Seperti vampir red court, konsumsi manusia pertama mereka merupakan pertanda transformasi penuh. Di jilid ini, kemunculan pertama vampir white court diwakili oleh Thomas Raith, yang sosok supermodelnya yang dapat membuat setiap wanita menoleh atau lebih gawat lagi, membuntutinya ke mana-mana.

3. Vampir Black Court
Jenis vampir paling terkenal, berupa mayat hidup harus darah yang dipopulerkan novel Dracula-nya Bram Stoker. Bahkan, di Dresdenverse, publikasi buku tersebut merupakan penyebab utama hancurnya Black Court, karena buku itu menjadi semacam buku petunjuk bagaimana caranya membunuh vampir. Berbeda dengan vampir red court, tubuh manusia yang menjadi vampir black court membusuk seperti zombie. Kekuatan dan kelemahan vampir black court sangat klasik seperti di novel Dracula, seperti superman tapi lemah pada bawang putih dan simbol kepercayaan (jadi bukan cuma salib, tergantung kepercayaannya bisa bintang david, bulan-bintang, bahkan pentacle seperti amulet Harry). Cahaya matahari hanya mematikan bagi vampir baru. Gara-gara buku Bram Stoker, vampir black court nyaris punah. Di jilid ini, black court diwakili oleh Mavra, sesepuh vampir yang memiliki kemampuan sihir seperti wizard.

4. Vampir Jade Court
Sampai jilid teranyar Dresden Files, belum ada keterangan dan tokoh dari kelompok ini, kecuali daerah kekuasaannya di Asia Timur dan Tenggara. Hm... mungkin model Mr. Vampire yang jalannya lompat-lompat itukah? :)

Leanansidhe
Berasal dari dunia peri, dan merupakan wali Harry karena perjanjian dengan ibu Harry, Margaret LeFay. Waktu Harry melarikan dari dari guru/ayah angkat, Justin DuMorne, yang memaksanya melakukan black magic, Lea membuat perjanjian dengan Harry. Lea setuju untuk memberi Harry kekuatan yang dibutuhkan untuk mengalahkan DuMorne, dengan imbalan nyawa, keberuntungan, dan kemampuan sihirnya. Sebenarnya Harry sudah punya kekuatan yang dibutuhkan, sehingga bantuan Lea hanya sekedar sugesti. Di jilid ini, Lea ngotot menagih janji Harry.

Hm... perkenalannya kepanjangan, ya? Oke, sudah saatnya review bukunya.

Cerita dimulai dengan petualangan Harry dan Michael yang berusaha menyelamatkan bayi-bayi yang baru lahir di RS dari hantu Agatha Hagglethorn. Mereka berhasil mengusir si hantu ke Nevernever (dunia magis/peri yang terpisah dari dunia manusia), dan menghancurkannya setelah sebelumnya mengetahui bahwa hantu itu berada dalam mantra siksaan yang membuatnya mengamuk (mungkin namanya manta Cruciatus kalau di Potterverse?).

Sebenarnya Harry agak enggan masuk ke Nevernever, karena bisa memancing wali perinya muncul untuk menagih janji bak collector kartu kredit. Benar saja, tak butuh waktu lama bagi Lea untuk muncul disertai gerombolan hellhound-nya. Berikut kutipan kocak waktu Harry mendengar tanda-tanda kemunculan Lea ini:

"Holy shit," I breathed. "Hellhounds."
"Harry," Michael said sternly. "You know I hate it when you swear."
"You're right. Sorry. Holy shit," I breathed. "Heck-hounds."

Harry berhasil mengelabui Lea dan kabur ke dunia manusia, tapi ditangkap polisi gara-gara membuat keributan di rumah sakit (ini sudah yang keberapa kalinya, ya?). Charity menebus Michael, sedangkan Harry ditebus oleh Susan. FYI, sudah setahun ini Harry dan Susan berhubungan, tapi sampai sekarang Harry belum bisa mengucapkan "L word".


Sampai di apartemen, Harry kedatangan tamu sepasang vampir yang menyampaikan undangan pesta untuk merayakan promosi Bianca menjadi pemimpin vampir Red Court di Chicago. Harry diundang sebagai perwakilan resmi White Council. Sebagai wartawan koran kuning, jelas Susan bersemangat untuk hadir, tak peduli Harry melarangnya.

Sebelum kejadian hantu di RS, Harry sempat mendapat klien gadis remaja yang mengaku bernama Lydia, yang meminta bantuan Harry untuk melindunginya dari roh jahat. Gara-gara sifatnya yang selalu protektif terhadap wanita, jadilah Harry memberikan jimat pelindungnya pada Lydia, dan meminta gadis itu berlindung di gereja Pastor Forthill. Tapi ternyata waktu gereja diserang roh jahat, Lydia panik dan kabur entah ke mana. Harry pun menemui Mortimer Lindquist, cenayang lokal yang menjelaskan bahwa batas antara dunia manusia dan dunia roh menipis sehingga para hantu menjadi jauh lebih kuat.

Belum juga investigasi beres, Harry malah dipanggil utuk menolong Mickey Malone, salah seorang rekan Murphy yang "kesurupan". Ia mendapati Malone ternyata menderita oleh mantra siksaan yang sama dengan yang dialami hantu Agatha. Selesai eksorsisme itulah baru Harry dapat melanjutkan pencarian Lydia, yang ternyata disekap oleh sepasang vampir pengantar undangan sebelumnya, Kyle dan Kelly. Harry berhasil melukai keduanya, bahkan membuat Kelly terbakar sinar matahari, tapi ia tak bisa merebut Lydia, dan malah terkena ludah beracun Kelly.

Pulang dalam keadaan fly gara-gara zat adiktif vampir, Harry ketiduran dan bermimpi diserang demon yang pernah dikalahkannya saat membantu kasus SI yang bekaitan dengan dukun (bahasa sundana sorcerer) bernama Leonid Kravos. Hantu yang dinamakan Nightmare itu merampas sebagian kekuatan sihirnya sebelum Harry dapat terbangun berkat bantuan Bob. Menyadari target Nightmare adalah mereka yang terlibat menjebloskan Leonid Kravos ke penjara (di mana ia bunuh diri), Harry bergegas ke tempat Murphy, dan ternyata terlambat, karena sang hantu menyamar sebagai dirinya. Target lain yang terlibat kasus selain Harry adalah Michael, dan sang hantu menyerang dengan menculik Charity (juga dengan menyamar sebagai Harry), yang saat itu tengah mengandung.

Saat Harry dan Michael bertempur melawan Nightmare, Harry bisa menang dengan bantuan Lea yang muncul saat Harry kewalahan. Namun saat Harry hendak mengelak lagi dari "hutang" dengan mengangkat pedang Amoracchius-nya Michael, pedangnya malah terampas! Memang Lea tidak segera menagih janjinya saat itu, tapi toh masih banyak masalah yang harus diselesaikan Harry.

Oke, supaya review ini tidak berubah jadi ringkasan cerita dan spoilernya semakin banyak, kita daftar saja beberapa keputusan dan perbuatan Harry di jilid ini yang membuktikan bahwa dia memang wizard paling sinting di Dresdenverse:

1. Karena tidak tahu siapa yang mengendalikan Nightmare, Harry merapalkan mantra yang membuat perhatian Nightmare hanya terfokus pada dirinya. Dengan demikian, Nightmare tidak bisa menyerang target lain sebelum membunuh Harry lebih dulu.

2. Merasakan keberadaan dukun pengendali Nightmare, Harry mengajak Michael menghadiri pesta kostum Bianca. Michael mengenakan kostum ksatria Templar, dan Harry mengenakan kostum... Dracula!

3. Harry meminum anggur yang disediakan Red Court. Yang ternyata beracun. Ups, memang nggak sengaja, tapi minum di tempat musuh? Bagaimana kalau minumannya darah... eww!

4. Waktu Susan muncul di pesta dengan undangan palsu (para vampir bebas membunuh tamu tak diundang!), dan Lea muncul untuk mengurangi kekuatan Harry karena ia ingkar janji, Susan malah membarter ingatannya selama satu tahun (tanpa rincian tertentu) asalkan Lea bersedia menyembuhkan Harry. Eh, ini sih Susan yang sinting karena ingatan satu tahun yang hilang adalah... ingatan satu tahun terakhir tentang Harry. Susan jadi tidak ingat lagi kalau mereka sepasang kekasih, hiks!

5. Saat Susan ditangkap oleh Bianca dan kawanannya, Harry tak bisa menahan amarah dan membuat badai api... seperti biasa, dan membakar habis Velvet Room. Padahal sebagai tamu resmi yang mewakili White Council, tindakannya melanggar protokol dan dapat memicu perang antara wizard dan vampir. 

6. Dalam rangka menolong Susan, Harry, Michael dan Thomas (yang bekerja sama karena ingin menolong kekasih wanitanya, Justine, yang juga ditangkap Bianca) melewati Nevernever untuk menyelinap ke rumah Bianca, tapi di tengah jalan Lea menangkap Harry. Sebagai persiapan menghadapi Lea, Harry sudah memakan jamur beracun, karena Lea toh tidak membutuhkan Harry yang mati!

Ups... ternyata masih tetap spoiler! Ya sudah, reviewnya sampai sini saja, supaya masih tetap menyisakan pertanyaan tentang siapa sebenarnya yang mengendalikan Nightmare, lalu bagaimana nasib Susan yang sudah terinfeksi, atau bagaimana efek pertempuran Harry dengan Vampir Red Court terhadap hubungan antara para wizard dan vampir. Dan pertanyaan besarnya... apakah Harry sempat menyatakan cintanya pada Susan?

View all my reviews

Sunday, November 25, 2012

Fall For Dresden, Part 2

Fool Moon (The Dresden Files, #2)Fool Moon by Jim Butcher
My rating: 5 of 5 stars

1000 - 2012

Oh, yes... there will be blood... *shuddered*

Dalam rangka countdown menuju novel Cold Days, kita kembali mendengarkan James Masters mendongengkan novel Dresden Files jilid kedua:






Seperti halnya Buffy the Vampire Slayer yang menampilkan "Monster of the Week" untuk setiap episodenya, maka Dresden Files perlu menampilkan "Villain of the Book" yang berbeda dari jilid pertama. dan temanya kali ini adalah...

Cek judul :  
Fool Moon. Hm... mungkin terjemahan judulnya jangan terlalu harfiah kalau ada yang berkenan mengalihbahasakan novel ini ke bahasa Indonesia? Ini plesetan Full Moon, barangkali? Untung tidak jadi Full Monty, karena bisa-bisa malah teringat cowok-cowok Inggris yang striptease ituh.

Cek cover:
*abaikan Dresden yang kostumnya itu-itu melulu* Bulan purnama (tentu saja). Jejak cakar berdarah...

Oh, oh, siapa dia?

Baiklah, karena petunjuknya sudah jelas banget, oke kita bongkar saja bahwa villain kita di jilid ini adalah... *jreng-jeng-jeng*... werewolf! Tepuk tangan, saudara-saudara sekalian!

Hah? Werewolf? Biasa aja kali. Apa nggak ada yang lain?

Mungkin awalnya kita berpikir begitu. Tapi di dunia Dresden, yang namanya Serigala Jadi-Jadian ini tidak cuma satu jenis saja seperti di cerita dongeng/supranatural lainnya, tapi ada beberapa tipe, tergantung bagaimana cara seorang manusia berubah menjadi serigala dan berapa banyak kepribadian manusianya yang bisa dipertahankan selagi shapeshifting. Sudah begitu, semuanya muncul bareng di Fool Moon! So, pilihan whodunnit-nya jadi lumayan banyak, konfliknya jadi lebih semarak dan perbendaharaan bekas luka Harry Dresden juga jadi semakin banyak.

Pada Bab 7, Bob the interactive computer spirit menjelaskan tipe-tipe werewolf, yang dia tahu banyak karena pernah berada di Prancis waktu zaman inkuisisi. Hell's bells, sebelum dijelaskan Bob, Harry sendiri mengira cuma ada satu jenis werewolf! Berikut trivia werewolf according to Bob:

1. The Classic Werewolves
Orang yang menggunakan sihir untuk berubah menjadi serigala. Seperti wizard yang hanya tahu satu mantra, untuk berubah menjadi serigala dan untuk kembali lagi menjadi manusia. Sebagian besar tidak begitu hebat menjadi serigala, karena masih tetap mempertahankan kepribadian manusianya. Mereka hanya mengubah tubuhnya, tapi pikirannya masih tetap manusia, sehingga tidak memiliki insting dan refleks serigala. Mereka harus belajar bagaimana menjadi serigala, karena memiliki tubuh serigala tidak berarti tahu cara  menggunakannya. Werewolf sama saja seperti serigala biasa, bisa terluka karena senjata biasa.


Jenis lain werewolf ini adalah bila seseorang menggunakan sihir untuk mengubah orang lain menjadi serigala, dengan kata lain menggunakan transmogrification, yang ilegal menurut Hukum Sihir di dunia Dresden, karena dapat menghapus pikiran manusianya sehingga tidak bisa kembali menjadi manusia.

2. Hexenwolves
Orang yang melakukan perjanjian dengan demon atau tukang sihir. Mereka mendapat sabuk serigala (kadang berupa cincin atau amulet), mengenakannya, mengucapkan kata sihirnya dan berubah menjadi serigala. Sabuk/cincin/amulet itu berperan sebagai jangkar ke spirit binatang. Spirit itu akan membungkus kepribadian manusianya sehingga masih tetap bisa berpikir, tapi mengambil alih seluruh tindakannya. Hexenwolf juga bisa dilukai dengan senjata biasa, tidak perlu peluru perak segala.

By the way, sabuk serigala itu mungkin bentuknya seperti ini :





Tipe yang berubah mengandalkan sabuk untuk berubah macam begini, anehnya malah mengingatkan aku pada makluk lain yang lumayan beken di Jepang, cukup sentuh sabuknya dan mengucapkan kata sihir : "Henshin!" lantas, berubah deh:

Kamen Rider Kuuga Mighty Form

3. Lycanthropes
Orang yang merupakan channel alami untuk spirit binatang. Mereka berubah menjadi binatang, tapi hanya di pikirannya. Spirit mengambil alih, mempengaruhi perilaku dan cara berpikirnya, membuatnya lebih agresif, lebih kuat, tahan sakit, dan cepat sembuh. Mereka tidak berubah menjadi serigala, tapi memiliki kekuatannya. Lycanthropes dilahirkan, tidak dibuat dengan sihir seperti dua tipe di atas.

4. Loup-Garou
Orang yang dikutuk menjadi demon yang mirip serigala, biasanya oleh mereka yang memiliki kekuatan super seperti penyihir besar, demon lord, atau salah satu Ratu Peri. Bila bulan purnama tiba, mereka berubah menjadi monster, dan membantai apapun yang mereka temui sampai bulan tenggelam atau matahari terbit. Memiliki kecepatan dan kekuatan supernatural. Luka dapat langsung sembuh, kebal dari racun atau segala macam sihir. Mesin pembunuh.
Nah, jenis inilah yang harus dikalahkan dengan senjata dari perak. Itu pun bukan perak biasa, tapi harus perak warisan dari anggota keluarga. Jadi tidak bisa kita main pergi ke Kota Gede, beli perak, dan minta dibuatkan peluru perak atau kapak. Kita harus punya perak warisan kakek/nenek/ayah/ibu/bibi/dst dulu sebagai bahan dasarnya.

Okelah kalau begitu, setelah kita tahu bahwa werewolf ada banyak macamnya, bagaimana Harry Dresden bisa terlibat kasus ini, padahal Murphy dan Special Investigation-nya menjauhinya seusai kasus warlock / bandar narkoba (konon karena Harry ditemukan di TKP dan ada isu bahwa Harry bekerja untuk Marcone dalam rangka menyingkirkan saingan dagang, sehingga Murphy diawasi ketat oleh Internal Affair) dan membuatnya setengah kelaparan karena bokek?

Cerita dimulai dengan Harry yang dibujuk dengan imbalan seporsi steak di bar McAnally oleh Kim Delaney, untuk menjelaskan tentang gambar lingkaran sihir yang dapat menahan makhluk supranatural. Meskipun terbujuk karena memang lapar berat, Harry bersikukuh tidak mau menjelaskan tentang lingkaran ketiga, yang dapat menahan makhluk selain manusia dan spirit, karena curiga dan tidak mau Kim menggunakan lingkaran sihir untuk sesuatu yang berada di luar kemampuannya.


Tiba-tiba saja, Murphy datang meminta bantuan Harry untuk memecahkan kasus pembunuhan, di mana korbannya salah satu anak buah Marcone, yang mati dalam keadaan tercabik-cabik. TKP-nya di luar yurisdiksi CPD, tapi Murphy yakin pembunuhan tersebut ada kaitannya dengan kasus pembunuhan serupa di Chicago sebulan yang lalu. Murphy juga menduga pembunuhan-pembunuhan itu merupakan bagian dari dunia supranatural yang dikuasai Harry. Tapi dalam penyelidikan kasus ini, Murphy harus bersitegang dengan Tim FBI pimpinan Agen Denton.

Penyelidikan mempertemukan Harry dengan sekelompok werewolf remaja yang dipimpin oleh wanita muda bernama Tera West. Berdasarkan kisikan Agen Harris dari FBI, Harry menyelidiki kelompok geng motor bernama Streetwolves (yang diduga mengetahui sesuatu tentang kasus-kasus pembunuhan itu), hanya untuk mendapati bahwa mereka ternyata lycanthrope dan sangat berminat untuk membunuhnya.

Marcone juga datang meminta bantuan Harry untuk melindunginya, dan tentu saja Harry menolak mentah-mentah. Tapi dari Marcone, Harry mendapat informasi bahwa pembunuhan-pembunuhan itu berkaitan dengan Harley MacFinn. Dalam penyelidikannya, Harry menduga bahwa McFinn adalah loup-garou, dan tiga lingkaran sihir yang ditanyakan Kim Delaney adalah untuk mengurung McFinn saat ia beralihrupa pada malam bulan purnama. Kim sendiri ditemukan tewas dicabik loup-garou, dan tahu-tahu Murphy menangkap Harry, yang (lagi-lagi) dicurigai terlibat dengan kasus pembunuhan!

Tera West menolong Dresden, karena membutuhkan bantuannya untuk membuat lingkaran sihir yang bisa mengurung tunangannya, MacFinn, sebelum bulan purnama terbit. Dresden tertembak dalam pelariannya, dan meminta bantuan Susan Rodriguez dengan iming-iming mendapat scoop ekslusif dalam kasus terbaru ini.

Mengabaikan peringatan Harry, Murphy menangkap dan memenjarakan MacFinn dalam sosok manusianya. Harry bergegas ke kantor polisi, tapi terlambat karena MacFinn sudah bertransformasi, dan melakukan pembantaian di sana. Harry berhasil melukai MacFinn dengan sihirnya, tapi makhluk itu berhasil kabur dengan meninggalkan banyak korban di kantor polisi.

Lalu, siapa sebenarnya yang melakukan pembunuhan-pembunuhan di sekitar malam bulan purnama? Benarkah MacFinn yang bertanggung jawab, padahal dia sudah berusaha mengurung diri sendiri dalam lingkaran sihir? Kelompok remaja yang sedang belajar menjadi werewolf? Atau kelompok geng motor berjiwa serigala? Ataukah ada pihak lain yang terlibat?

Seperti yang sudah dibocorkan di atas, selain tiga jenis serigala jadi-jadian di atas, di novel ini juga muncul kelompok Hexenwolves, yang memiliki agenda sendiri, termasuk menyingkirkan Harry yang dianggap tahu terlalu banyak.

Seperti John McClane, Harry selalu terjebak pada waktu dan tempat yang salah. Meskipun sudah terbebas dari Doom of Damocles alias masa probation White Council, Harry takkan pernah kehabisan musuh yang lebih suka melihatnya mati.

Easter eggs jilid ini:
- Di tengah semua kekacauan, Harry akhirnya menemukan dan merasakan cinta lagi.
- Harry juga bertransformasi menjadi serigala! Dan ternyata dia berbakat jadi serigala... lengkap dengan insting dan euforia membunuh yang hampir tak bisa dikendalikan!
- Adegan Harry menggunakan sihir melawan loup-garou terekam oleh Susan dan jadi sensasi di televisi, sebelum akhirnya rekaman aslinya hilang dan adegan itu dianggap hoax oleh para ahli.
- Bukan hanya manusia yang bisa bertransformasi menjadi serigala. Serigala juga bisa bertransformasi menjadi manusia!

View all my reviews

Tuesday, November 20, 2012

Fall For Dresden, Part 1

Storm Front (The Dresden Files, #1)Storm Front by Jim Butcher
My rating: 5 of 5 stars


Sambil menunggu terbitnya Cold Days, buku ke-14 Dresden Files, aku berniat membaca ulang serial ini mulai dari buku pertama:


Tapi kalau dibilang membaca sepertinya kurang pas juga ya, karena untuk mendapat suasana baru, kali ini aku mendengarkan bukunya dibacakan oleh James Masters. Jreng jeng... mendengar suaranya jadi membayangkan kalau Harry Dresden, boga lakon Dresden Files, bertampang seperti ini :

Spike Dresden, blasting rod, and Bob
Yah, imejnya beda banget dengan Harry Dresden yang berambut gelap di cover setiap jilid serialnya, tapi minimal kostum favoritnya sama, black duster alias jaket kulit panjang warna hitam. Gaya busana ala koboi spageti itu sepertinya dianggap fashionable di dunia supranatural, mengingat gerombolan Black Dagger Brotherhood juga mengadopsinya sebagai seragam kerja.

Anyway, meskipun aku sudah pernah mereview buku ini di mari:
http://threezstacks.blogspot.com/2012/01/dresden-wizard-not-city.html
tidak ada salahnya kalau aku mereview ulang, secara lebih lengkap, hanya untuk menegaskan kenapa serial ini menjadi salah satu serial favoritku, dan ratingnya di-upgrade dari 4 ke 5.

Pada bab pertama novel ini, beginilah tokoh utamanya memperkenalkan diri:

My name is Harry Blackstone Copperfield Dresden. Conjure by it at your own risk. I'm a wizard. I work out of an office in midtown Chicago. As far as I know, I'm the only openly practicing professional wizard in the country. You can find me in the yellow pages, under Wizards. Believe it or not, I'm the only one there.

[Cuma ada satu penyihir yang pasang iklan di halaman kuning? Lebih hebat Indonesia dong, dukun dan paranormal ramai-ramai beriklan di koran kuning *bangga nggak jelas*]

Buat mereka yang pertama baca serial ini, pasti bertanya-tanya, kok nama tokoh utamanya Harry sih, sama dengan nama penyihir remaja di lapak sebelah? Ih, nggak kreatif ah! Eits, jangan salah, rupanya nama Harry cukup populer di dunia per-magic-an. Konon, ayah Harry Dresden, yang seorang pesulap, menamai anaknya berdasarkan nama tiga magician Amrik: Harry Houdini, Harry Blackstone, dan David Copperfield. Entah maruk, bingung, atau memang berharap sang anak bakal meneruskan profesinya.


Menurut Jim Butcher, dunia  Dresden merupakan hasil persilangan antara serial detektif noir tahun 1940-an Philip Marlowe dan dunia Buffy the Vampire Slayer. Selain itu, juga mendapat pengaruh juga dari serial Anita Blake: Vampire Hunter dan serial novel Han Solo.

Oh, well, karena ternyata dari referensi di atas aku baru baca/nonton BTVS dan nonton Star Wars Episode IV - VI (belum sempat baca novel khusus Han Solo), biarlah aku membedah karakter Harry Dresden berdasarkan tiga karakter dari referensi bacaan/tontonan lain yang juga menjadi favoritku:


Dr. Henry Walton Jones, Jr aka Indiana Jones

Ryo Saeba aka City Hunter
Vash the Stampede aka Humanoid Typhoon
Jadi, apa saja kemiripan Harry Dresden dengan tiga karakter di atas?

  1. Hebat di bidangnya. Tapi tetap manusia biasa yang dapat terluka dalam menunaikan misinya. Untuk pameran bekas luka, mungkin Harry bisa bersaing dengan Vash.
  2. Selera humor yang tidak hilang dalam situasi genting sekalipun. Daya observasi yang tinggi disertai one-liner dan punch-line bertebaran di mana-mana, membuat Harry pantas beralih profesi menjadi stand-up comedian.
  3. Masa lalu yang kelam. Nasib Harry dan Ryo kurang lebih mirip: yatim piatu sejak kecil, mendapat ayah angkat yang mengasah bakat mereka, lantas membunuh sang ayah angkat yang ingin menyalahgunakan mereka demi kepentingan pribadi...
  4. Jaket (dan topi, khusus Indy) yang jadi trade mark. Mirip dengan jaket hijau buluk Ryo yang berlapis kevlar dan serbaguna, jaket tua Harry juga anti peluru (dan sihir) dan sakunya bisa memuat apa saja.
  5. Punya pistol revolver andalan. Meskipun punya sihir, pistol (model jadul sekalipun) tetap praktis untuk menghabisi musuh. 
  6. Pecinta wanita. Harry hanya laki-laki biasa, jadi wajar kalau mudah tertarik dan lemah pada wanita cantik. Harry lebih mirip Indy daripada Ryo yang over-pervert-always-mokkori.
  7. Kurang sukses dalam percintaan. Boleh dibilang Harry jomblo kronis, kecuali di satu-dua jilid. Indy/Ryo harus menunggu sampai jilid terakhir sampai punya hubungan permanen. Mudah-mudahan Jim Butcher akhirnya kasihan dan mau mengubah nasib Harry...
  8. Tak putus dirundung malang. Kesialan bertubi-tubi tokoh utama memang menjadi penggerak plot yang andal. Di novel ini, Harry malah diserang demon waktu sedang mandi dan keramas, jadi terpaksa bertempur dalam keadaan telanjang. Kayaknya Ryo Saeba juga pernah deh... *ingat-ingat*
  9. Musuh perusahaan asuransi. Harry dengan sihir apinya nyaris jadi tukang bakar bangunan di setiap jilid, setipe dengan Vash si Humanoid Typhoon yang menghancurkan kota di setiap episode.
  10. Kayaknya masih ada yang lain, tapi nanti saja ditambahkan kalau sudah terpikirkan lagi.
Kembali ke novel pertama Dresden Files ini, terus terang saja waktu pertama kali baca bulan April 2010, meskipun suka dan memberi rating 4 dari 5, aku menganggapnya sebagai novel lepas. Tidak begitu tertarik untuk membaca lanjutannya. Sebelum bulan November tahun ini, aku baru baca sampai jilid 3. Tapi karena ingin membaca beberapa buku Dresden yang kubeli waktu IRF 2011 (jilid 5, 8, dan 9), akhirnya aku mulai baca lagi dari jilid 4 dan... hooked. Entah karena teknik penulisan Jim Butcher sudah semakin terasah di jilid-jilid lanjutan ini, atau entah karena sudah takdirnya, aku tidak bisa berhenti baca sampai jilid 13 (iya, iya, aku ngaku masih diselang-seling komik dan buku lain kok, tapi teteup weh...) .  
 
Novel Storm Front memperkenalkan kita pada naratornya, Harry Dresden. Tidak seperti cerita silat (atau cerita sihir) pada umumnya yang menceritakan asal mula tokoh utama berkenalan dengan ilmu atau kekuatannya, kita langsung dipertemukan dengan Harry Dresden dewasa, wizard berlisensi detektif swasta, sebagaimana iklannya di halaman kuning:

HARRY DRESDEN—WIZARD
Lost Items Found. Paranormal Investigations.
Consulting. Advice. Reasonable Rates.
No Love Potions, Endless Purses, Parties, or Other
Entertainment

Sebagai detektif penyihir, atau penyihir detektif dengan tarif lima puluh dolar per jam, Harry selalu terancam bokek, karena jarang mendapat klien. Sebagian besar tagihannya dibayar dari jasa konsultan untuk Special Investigation Chicago PD, tim yang menangani kasus-kasus buangan yang tak dapat diterima akal sehat seperti X-Filesnya Mulder dan Scully. Itu pun sepertinya cuma Letnan Karrin Murphy, pemimpin SI, yang percaya kalau Harry memang wizard betulan.

Ada dua kasus yang ditangani Harry di sini, yaitu kasus Monica Sells yang meminta bantuan Harry untuk mencari suaminya yang hilang, dan kasus pembunuhan dengan black magic yang diselidiki oleh SI. Dalam perkembangannya, Harry harus berpacu dengan waktu, karena beberapa hal: polisi mencurigainya sebagai pelaku pembunuhan (karena dia penyihir, tentu saja), White Council (terjemahan: Asosiasi Penyihir Dunia, mungkin?) mencurigainya melanggar Hukum Sihir karena melakukan pembunuhan dengan sihir (Harry punya sejarah membunuh guru/ayah angkatnya dengan sihir), si pelaku mengincar nyawanya karena Harry ikut campur urusannya. Pada akhirnya dua kasus Harry yang seolah lain jurusan itu ternyata bertemu di Terminal Leuwipanjang... eh, maksudnya ternyata saling berkaitan.

Konflik dan misteri yang dibangun pada novel pertama ini masih sederhana (dan mudah ditebak sebenarnya), dibandingkan novel-novel lanjutannya yang lebih njelimet dan bikin geregetan. Kalau ada kuliahnya, mungkin judul novelnya bisa diganti jadi Dresden Files: Sebuah Pengantar atau Dasar-Dasar Dresden Files, karena novel ini memang baru menghidangkan appetizer dari dunia Dresden Files, yang akan semakin berkembang, kompleks dan advance di jilid-jilid berikutnya. Kita diperkenalkan pada karakter-karakter unik yang akan menjadi karakter tetap di masa yang akan datang, seperti :
  • Karrin Murphy, partner tetap Harry di kepolisian;
  • Susan Rodriguez, wartawan koran kuning yang aktif memburu Harry demi mendapat berita;
  • Johnny Marcone, kingpin Chicago yang bakal menjadi musuh/rekan tetap Harry;
  • Bob, spirit udara yang tinggal dalam tengkorak dan berfungsi sebagai "komputer" Harry (karena penyihir sangat tidak kompatibel dengan alat elektronik apapun), pervert kronis, dan penggemar novel erotika;
  • Bianca, vampir pemilik Velvet Room yang akan mempengaruhi nasib Harry dan White Council di masa depan;
  • McAnally, pemilik pub untuk komunitas supranatural yang cuma bicara seperlunya (baca: sepatah dua patah kata saja)
  • Morgan, salah satu Warden dari White Council (semacam polisi sihir atau Auror kalau di dunia Harry Potter) yang menjadi parole officer Harry dan siap mengeksekusi Harry seandainya melanggar Hukum Sihir satu kali saja;
  • Toot-toot, peri rendahan yang bisa disogok dengan pizza untuk membantu penyelidikan Harry;
  • Mister, kucing peliharaan Harry dengan berat 15 kilogram yang menganggap dirinya tuan rumah sementara Harry cuma numpang;
Percayalah, karakter-karakter lain yang bakal berperan penting akan terus dan terus bertambah di jilid-jilid berikutnya. Meleng sedikit saja, bisa tersesat selamanya di rimba belantara. Untunglah, kebiasaan baca cersil Kho Ping Hoo (dengan serial yang bisa mengisahkan lebih dari tujuh turunan) waktu kecil ternyata sangat berguna untuk menghafal karakter yang berjibun banyaknya. 

IMHO, novel-novel Dresden Files highly recommended buat penggemar Urban Fantasy. Tapi bagi penggemar paranormal romance, khususnya yang sengaja mencari adegan hot, mungkin akan kecewa. Kenapa? Ya karena itu tadi, Harry jomblo kronis :) Adegan hot yang konsisten di setiap jilid Dresden Files adalah bila Harry melancarkan sihir api yang bisa berbuntut kebakaran. Meskipun ada beberapa adegan lust or love yang tersebar di beberapa jilid dan bisa jadi lintas spesies/entity, bukan itu yang menjadi daya tarik Dresden Files. Kalau tetap penasaran dengan kemampuan Harry di bidang selain sihir, mungkin bisa dicari di fanfic-nya saja *pengalaman pribadi*, atau bikin fanfic sendiri :P

By the way busway, jadi penasaran. Mengingat lawan Harry di novel ini adalah pelaku black magic yang membunuh orang lain dari jarak jauh (dengan suplai energi dari badai, kalau-kalau ada yang bertanya kenapa judulnya Storm Front), dan mengingat di Indonesia yang namanya black magic dan santet sudah dianggap bagian dari budaya (di Surabaya sampai ada Museum Santet segala), apakah di dunia Dresden Files ada Warden yang bertugas di Indonesia, yang mengawasi (dan mengeksekusi di tempat) para pelaku santet?

Yah, kalau memang tidak ada Warden yang cukup tangguh di Indonesia, mungkin kita bisa memanggil wizard andalan Chicago. Seperti pesan sponsor Harry Dresden di paragraf terakhir novel ini: 

My name is Harry Blackstone Copperfield Dresden. Conjure by it at your own risk. When things get strange, when what goes bump in the night flicks on the lights, when no one else can help you, give me a call. I’m in the book.



View all my reviews

Wednesday, July 11, 2012

How To Cook Children

The Witch's Guide to Cooking with Children (Penyihir di Sebelah Rumah)The Witch's Guide to Cooking with Children by Keith McGowan
My rating: 4 of 5 stars


Bagaimana kalau penyihir yang telah hidup berabad-abad, yang hobi memakan anak kecil, masih hidup di zaman modern ini? Masih perlukah ia membuat rumah kue untuk menjebak anak-anak seperti venus flytrap menjebak lalat? Masih adakah anak-anak yang bernasib malang seperti Hansel dan Gretel yang harus berakhir di perut sang penyihir? Ya, ending asli dongeng Grimm bersaudara memang grim abis kok.

Dengan pembabatan hutan yang dikonversi menjadi kota atau perumahan, si penyihir terpaksa menyesuaikan diri dan hidup di antara manusia biasa, tapi tidak berarti ia bakal kehabisan stok hidangan kesukaannya. Dari jaman dahulu kala ada saja orang tua yang mau mendonasikan anak-anak kepadanya, dengan alasan macam-macam: terlalu bodoh, terlalu nakal, susah diurus, mencemarkan nama baik keluarga, pokoknya anak-anak yang ingin mereka singkirkan.

Si penyihir pun tak perlu membuat rumah kue lagi (yang berisiko menghilangkan privacy karena bisa-bisa dimuat di koran), karena para orang tua yang memang benar-benar niat pasti bisa menemukannya dan mendonasikan anaknya dengan berbagai cara:
1. mengantarkan langsung ke tempat persembunyian si penyihir, kadang pakai helikopter segala;
2. menyurati si penyihir untuk mengambil anak-anak mereka;
3. menjebloskan anak-anak ke kotak-kotak logam bertuliskan "DONASI" yang tersedia di mana-mana, umumnya dekat bioskop.
4. menggunakan paket tur "Biro Perjalanan Ramah Anak"
4. menggunakan jasa paket kilat.
Singkatnya, banyak jalan menuju Roma(h) penyihir.

Tokoh utama di buku ini, kakak beradik Solomon dan Constance Blink, tentu saja tidak mengira Mr. Blink dan istri barunya ingin menyingkirkan mereka. Mereka juga tidak tahu bahwa Mr. Blink bukan ayah kandung mereka, melainkan kembarannya yang jahat yang ingin merebut hak waris mereka. Mereka ikut pindah ke kota lain (dan menjadi tetangga penyihir tukang makan anak) tanpa curiga sedikit pun...

Lalu, apakah Sol dan Connie akan berakhir seperti Hansel dan Gretel? Sukseskah Mr. dan Mrs. Blink mewarisi saham Silicon Hyperspace Allied Manufacturers Company? Bagaimana nasib si penyihir berhadapan dengan Sol dan Connie?

Satu hal yang jelas, anak-anak yang membaca buku ini bisa jadi bakal takut main ke perpustakaan, karena petugas perpustakaan di buku ini ternyata agen si penyihir, yang siap mengarungi pengunjung anak-anak, apalagi yang suka bikin ribut di perpustakaan dan tak tahu Middlemarch atau Remembrance of Things Past.

View all my reviews

Thursday, February 16, 2012

Three Men For Three Sisters

The Unfortunate Miss FortunesThe Unfortunate Miss Fortunes by Jennifer Crusie
My rating: 3 of 5 stars


Pernah nonton serial teve Charmed, tentang tiga remaja cewek bersaudari yang punya kekuatan sihir yang berbeda-beda? Nah, kisah tiga Nona Fortune di novel ini mirip-mirip lah.

Tiga bersaudari Dee, Lizzie dan Mare sudah berkali-kali pindah kota dan ganti nama demi melarikan diri dari sang bibi jahat Xantippe, yang mengincar dan ingin merebut kekuatan mereka.

Tentu saja, yang namanya penyihir jahat profesional, Xan bisa melacak kota tempat tinggal mereka. Untuk membuat para nona itu lengah dan mungkin karena kasihan juga melihat kehidupan percintaan mereka yang menyedihkan, dengan mantra Cinta Sejati Xan menemukan dan mengirimkan tiga cowok yang menurutnya adalah Jodoh bagi masing-masing gadis. Danny untuk Dee, Elric untuk Lizzie (aaaa, tiap baca nama ini jadi ingat Edward dan Alphonse Elric!), dan Jude untuk Mare. Uh, gimana sih strateginya? Rempong amat, padahal lebih gampang tinggal mendatangi rumah ketiga gadis itu dan merebut kekuatan sihir mereka. Tapi kalau begitu nggak ada ceritanya, ya?

Spoilernya, kebaikan selalu mengalahkan kejahatan.

Tambahan : terjemahannya rada-rada gimana gitu.
Contoh: hal. 238
"Bukan, maksudku benar-benar gaya lama," kata Mare, sambil menarik tubuhnya ke bawah Crash. Posisi penuh misi. Akan lebih baik dengan posisi ini.

Tweweww... Posisi penuh misi? Misi apa? Misi mencapai puncak asmara? Misi bikin anak?

*Jadi bertanya-tanya apa ya terjemahan yang pas untuk missionary position*

View all my reviews

Tuesday, January 10, 2012

Susahnya Jadi Penyihir

Wizard at Work (Sang Penyihir Beraksi)Wizard at Work by Vivian Vande Velde
My rating: 3 of 5 stars

Susahnya jadi penyihir, tak bisa bersantai-santai dan menikmati hobi di saat liburan. Ada saja yang meminta pertolongan. Meski ogah-ogahan, tapi sang penyihir pada akhirnya mau memberikan pertolongan.

Fakta-fakta yang "terungkap" di sini a.l.:
- putri cantik tidak selalu baik budi, malah saudara tiri buruk rupa yang berhati mulia.
- crop circles (pola-pola lingkaran di ladang) adalah ulah kuda bercula satu, bukan aliens atau UFO.
- putri yang diculik naga tidak terlalu kepingin diselamatkan.
- monster Loch Ness semula hanya hantu monster parit penjaga kastil

Easy and fun reading...

View all my reviews

Saturday, January 7, 2012

Dresden: The Wizard, Not The City

Storm Front (The Dresden Files, #1)Storm Front by Jim Butcher
My rating: 4 of 5 stars

Tokoh utamanya, Harry (bukan Potter) Dresden, adalah seorang Penyihir-detektif atau Detektif-penyihir (pilih salah satu), yang kadang-kadang menjadi konsultan Special Investigation Kepolisian Chicago, unit khusus yang kebagian kasus-kasus tidak jelas (model X-Files, gitu).

Jadi ingat Angel TV Series deh. Bedanya sama Angel yang kalau bisa merahasiakan identitas vampir-nya pada para kliennya, Harry Dresden malah pasang iklan di buku kuning, secara terbuka mencantumkan identitasnya sebagai penyihir selain profesinya sebagai Paranormal Investigator.

Novel ini dikisahkan dari sudut pandang Harry Dresden. Aku suka sisi humoris penyihir bokek ini, yang seringkali tetap muncul meski sedang menghadapi bahaya.

Contoh yang aku suka seperti adegan terima telepon dari calon klien di bab satu:
"Oh. Is this, um, Harry Dresden? The, ah, wizard?"
No, I thought. It's Harry Dresden the, ah, lizard. Harry the wizard is one door down.


Kalau diterjemahkan ke bahasa Indonesia, enaknya jadi gimana ya pun ini?

"Oh. Apakah ini, mm, Harry Dresden? Si, ah, tukang sihir?"
Tidak, pikirku. Ini Harry Dresden si, ah, tukang pijat. Kalau Harry si tukang sihir sih ada di lantai bawah.

*terjemahan suka-suka nggak nyambung.com* ;P


View all my reviews