Showing posts with label Sci-Fi. Show all posts
Showing posts with label Sci-Fi. Show all posts

Tuesday, February 4, 2020

Lost Stars

Judul : Lost Stars

Penulis : Claudia Gray

Penerbit : Disney Lucasfilm Press

Tebal : 551 halaman

Selesai dibaca tanggal : 1 Februari 2020

Sinopsis :
A long time ago in a galaxy far, far away…

Eight years after the fall of the Old Republic, the Galactic Empire now reigns over the known galaxy. Resistance to the Empire has been all but silenced. Only a few courageous leaders such as Bail Organa of Alderaan still dare to openly oppose Emperor Palpatine.

After years of defiance, the many worlds at the edge of the Outer Rim have surrendered. With each planet’s conquest, the Empire’s might grows stronger.

The latest to fall under the Emperor’s control is the isolated mountain planet Jelucan, whose citizens hope for a more prosperous future even as the Imperial Starfleet gathers overhead…

Review :

Buku ini kubaca karena John Campea, salah seorang movie pundit yang kanal youtube-nya rutin kusambangi setiap hari, sudah berulang kali merekomendasikannya sebagai salah satu novel Star Wars terbaik yang pernah ia baca, meskipun genrenya yang tergolong Young Adult Romance, yang bukan genre favoritnya. Jujur saja, meskipun aku terkadang terjebak ketagihan membaca genre Romance, genre Young Adult juga bukan my cup of tea. Lebih sering tidak cocoknya daripada cocoknya.

Jadi... sama halnya dengan John Campea, aku ternyata menyukai buku ini. Cukup untuk memberi ponten really like it ala Goodreads:



Oke, yuk kita bahas sedikit alasan mengapa aku suka buku ini...

1. Movie tie-in

Yap. Aku memang hobi membaca dan mengoleksi buku-buku yang masih terkait film, meskipun bisa jadi kadang-kadang aku tidak suka versi filmnya. Nah, khusus buku ini, ada kaitannya dengan film tapi secara harfiah, ini bukan buku yang diadaptasi menjadi film, atau buku yang diadaptasi dari naskah film sih.

Tepatnya, cerita dalam buku ini mengambil setting dan latar belakang film Star Wars Original Trilogy, alias Episode IV s/d VI, alias dari periode  Battle of Yavin sampai Battle of Endor, hanya saja dari sudut pandang mereka yang selama ini mungkin sama sekali tidak kita pikirkan dan pedulikan nasibnya sepanjang trilogi: para "figuran" dari sisi Imperial maupun Rebellion.


2. Karakter Utama

Kuatnya karakterisasi tokoh utama buku ini, Ciena Ree dan Thane Kyrell, cukup kuat hingga pembaca cukup peduli dengan nasib mereka, dan dapat memahami sudut pandang masing-masing dalam menyikapi suatu peristiwa.

Meskipun bersahabat sejak kecil, sama-sama berasal dari Planet Jelucan, salah satu planet gugus terluar yang dianeksasi Imperial setelah kehancuran Old Republic, meskipun punya cita-cita yang sama yaitu masuk akademi Imperial untuk menjadi perwira di Imperial Starfleet, Ciena dan Thane memiliki prinsip dan motivasi yang berbeda.

Berasal dari golongan bawah Jelucan yang sangat mementingkan nilai-nilai kesetiaan dan kehormatan, Ciena memiliki prinsip untuk tidak melanggar sumpah dan loyalitasnya kepada Empire.

Berasal dari keluarga kaya terpandang namun tanpa kasih sayang keluarga, motivasi Thane menjadi perwira Starfleet adalah untuk melepaskan diri dari keluarganya, dan ia lebih pragmatis dan logis dalam hal loyalitasnya.

Bagaimana sikap mereka menghadapi kenyataan bahwa Empire tega menghancurkan Planet Alderaan dan milyaran penduduknya sebagai contoh bagi pihak Rebellion? Bagaimana pendapat mereka atas pihak Rebellion yang membalasnya dengan menghancurkan stasiun angkasa Death Star beserta jutaan penghuninya?


3. Plot

Plotnya standar saja sih... cinta di antara dua insan yang berbeda kubu yang berseberangan dalam perang bintang. Namun demikian, aku tidak menggolongkannya sebagai kisah cinta ala Romeo dan Juliet. Mengapa? Jelas karena penghalang utama cinta mereka tidak sepenuhnya dipaksakan pihak luar, melainkan akibat perbedaan prinsip yang membuat mereka mengambil pilihan dan keputusan yang berbeda meskipun sadar akan konsekuensinya, di mana mereka akan berada di pihak yang berseberangan. 

Konflik yang muncul karena perbedaan prinsip itulah yang menjadi plot driver cerita, dan bahkan  lebih menonjol dibandingkan kisah cintanya sendiri. Konflik malah sudah dimulai sejak awal mereka meniti karier di Akademi Militer, di mana setiap murid diuji kesetiaannya terhadap Empire untuk memastikan mereka menempatkan kepentingan Empire di atas segalanya, baik planet asal, hubungan keluarga, hubungan pertemanan, apalagi cinta.

Setelah yang satu tetap loyal pada Empire sedangkan yang satunya beralih ke pihak Rebellion meskipun sekadar the lesser of two evils? Sudah jelas semakin banyak konflik dan dilema yang akan dihadapi. Apakah cinta akan mengalahkan segalanya?


4. Cameo

Tentu saja cameo dari Star Wars Original Trilogy wajib ada untuk memastikan posisi setiap adegan dan bab kisah dalam buku ini di cerita utama. Mulai dari Grand Moff Tarkin yang muncul saat aneksasi Planet Jelucan menjadi bagian dari Empire, Senator Junior dari Alderaan Leia Organa yang muncul di pesta yang diadakan di Planet Coruscant, Wedge Antilles yang merekrut Thane setelah ia menjadi desertir pengembara, Darth Vader dan TIE-fighter-nya yang harus diselamatkan setelah hancurnya Death Star, atau Lando Calrissian yang menjadi komandan Thane saat Rebellion menghancurkan Death Star ver. 2.

Bagaimana dengan Luke Skywalker dan Han Solo? Karena para karakter buku ini tidak ada yang pernah berhadapan langsung atau melihat sosok mereka dengan mata kepala sendiri, status mereka di buku ini hanya "terdengar", dan seringkali malah tokoh buku ini tidak menganggap mereka penting-penting amat. Yah, tapi masih mending sih ketimbang Chewbacca, C3PO atau R2D2 yang keberadaannya tidak relevan dalam konteks buku ini.


5. Ending

Mengapa? Karena realistis.



P.S.
Sudah itu saja dulu ya. Setelah lama vakum menulis review, sepertinya masih belum terbiasa membuat komentar panjang-panjang. Lagipula, kalau komentarnya panjang biasanya aku terpeleset ke ranah spoiler sih.

P.P.S.
Khusus untuk buku ini, sepertinya kalau pembaca review ini sudah tahu jalan cerita Star Wars Original Trilogy, tidak perlu kuspoiler juga sudah tahu siapa yang menang antara pihak Empire dan Rebellion pada Battle of Endor di film Return of the Jedi.














Monday, January 30, 2017

Miniatures: The Very Short Fiction of John Scalzi

Judul : Miniatures: The Very Short Fiction of John Scalzi

Penulis : John Scalzi

Penerbit : Subterranean Press

Tebal : 142 halaman

Dibaca tanggal : 26 - 27 Januari 2017

Verdict :






Review :
FYI, aku menjadi penggemar karya-karya John Scalzi sejak pertama kali berkenalan dengan novel pertamanya: Old Man's War, dan setelah mengetahui bahwa Scalzi memiliki situs blog pribadi yaitu whatever.scalzi.com, aku juga menjadi pembaca/pengikut setia blognya. Alasannya banyak. Selain gaya bertuturnya yang enak dibaca, selera humor Scalzi juga rupanya pas dan cocok dengan seleraku. Alhasil aku bukan hanya memburu karya-karya fiksinya, melainkan juga berusaha mencari karya-karya nonfiksinya.

Buku kumpulan cerpen ini merupakan salah satu karya teranyarnya yang terbit di akhir tahun 2016. Menilik daftar isinya, sebenarnya sebagian dari cerpen yang ada sudah pernah kubaca di blognya, khususnya di seksi The Scalzi Creative Sampler.

Menurut pengakuan Scalzi, ia hanya punya dua kecepatan alami dalam menulis cerita fiksi: novel (lebih dari 40.000 kata dan biasanya mendekati 100.000 kata), dan cerpen yang sangat pendek, sekitar 2.000 kata. Sebagai mantan penulis review film dan kolom opini di suratkabar, ia terbiasa dibatasi oleh jumlah kata, yang rata-rata 800 kata atau kurang. Dan di buku ini, yang terdiri atas 18 cerita, panjangnya berkisar antara 427 - 2.296 kata, dengan rata-rata 1.310 kata. Semuanya singkat, padat, to the point. Dan tentu saja, hilarous! Buat yang sreg dengan gaya bercerita Scalzi, reaksi saat membaca cerpen ini bisa berada di antara senyum simpul, terkikik, sampai terpingkal-pingkal.

If drama is a marathon, humor is a sprint.
Get in, make 'em laugh. Get out.
--- John Scalzi

Seperti apakah gambaran singkat cerita-cerita buku ini? Well, sebagian besar karya Scalzi termasuk genre Science Fiction, jadi setting di kumcer kebanyakan berada di dunia di mana interaksi manusia bumi dan alien dari planet lain sudah amat sangat lumrah adanya, Absurd? Itu mah sudah pasti!

Tema dan premisnya gado-gado, antara lain seperti ini:
- Hasil wawancara penulis Sol System Weekly Report dengan sembarang orang yang ditemui di jalan tentang kejadian menarik yang mereka alami berkaitan dengan spesies hewan alien.
- Hasil searching sejarah alternatif di mesin yang bisa mengakses alur waktu alternatif. Untuk keyword THE DEATH OF ADOLF HITLER pada tanggal 13 Agustus 1908 di Wina, ada 8 skenario alternatif, dengan penyebab kematian yang berbeda-beda, dan sejarah alternatif yang berbeda-beda pula. Semuanya diakhiri dengan siapa manusia (atau nonmanusia) yang pertama kali mendarat di bulan (e.g. Vladimir Putin manusia pertama mendarat di bulan, 1988).
- Hasil wawancara ekslusif dengan Pluto, tak lama setelah statusnya di tata surya didemosi dari planet menjadi planet kerdil,
- Transkip tanya jawab dengan Denise Jones, superbooker (baca: agen/calo resmi superhero) dan transkrip tanya jawab dengan Albert Vernon, analis super villain.
- Bagaimana jika yogurt memiliki intelejensi dan mengambil alih tatanan dunia.
- Surat Edaran dari VP Humas bagi karyawan FoodMaster Supermarkets dalam berinteraksi dengan pelanggan alien Manxtse dari planet Cz'Dhe.
- Hasil wawancara dengan Brandon Smith, yang mengajukan class action suit kepada Space Fleet of the Universal Union atas nama kru armada pesawat antariksanya, karena pelanggaran atas regulasi keselamatan kerja. Cerita ini merupakan bahan promosi novel Redshirts, yang biasanya dibacakan oleh Scalzi dan teman/penonton, pada setiap lokasi tur.
- Keluh kesah smart appliances (dari penyegar ruangan, sistem keamanan rumah, kepala shower, kulkas, dll) tentang majikan manusia mereka, seandainya mereka bukan cuma pintar dan punya artificial intelligence, tapi juga perasaan.
- dll.

Duh. Ini seharusnya review, ya, bukannya daftar ringkasan cerita. Lagipula, meskipun bisa memberi sedikit gambaran tentang premis temanya, tetap saja yang namanya ringkasan tidak ada apa-apanya ketimbang cerita aslinya. Saranku, mending langsung baca bukunya saja sekalian. Beneran deh. Serius. Very recommended buat siapapun yang butuh hiburan segar!


Tema : Science Fiction











Thursday, July 21, 2016

Steelheart

Judul : Steelheart

Serial : Reckoners #1

Penulis : Brandon Sanderson

Penerbit : Noura Books

Tebal : 562 halaman

ISBN : 9786020989983

Dibeli di : Gramedia.com

Harga beli : Rp. 84.000,- (sebelum diskon 15% + 22%)

Diterima tanggal : 2 Juli 2016

Selesai dibaca tanggal : 20 Juli 2016

Sinopsis:
Steelheart menghancurkan ruangan, membunuh siapa pun yang dia lihat. Tiran itu berteriak penuh kemurkaan. Kemudian, gelombang energi terpancar dari tubuhnya, dan lantai di sekelilingnya pun berubah warna—menjelma logam.
Saat Calamity muncul, manusia yang terkena efeknya mendapatkan kekuatan super. Orang-orang menyebut mereka Epic. Namun, alih-alih menjadi pahlawan, mereka menggunakan kekuatan untuk menguasai dunia dan menghancurkan siapa pun yang menghalangi tujuan mereka.
Teror menyebar ke seluruh negeri. Bumi diliputi kegelapan. Para manusia biasa harus hidup di bawah tanah. Tak ada yang berani memberontak, kecuali Reckoners—sekelompok manusia biasa yang mengabdikan diri melawan Epic.David ingin bergabung dengan Reckoners karena dialah satu-satunya saksi mata kelemahan Steelheart. Dan sudah saatnya dia membalaskan kematian ayahnya.


Review :
Sinopsis buku di atas memberikan gambaran yang cukup jelas mengenai isi buku ini. Dunia berubah drastis dengan bermunculannya manusia-manusia berkekuatan super, yang disebut Epic, yang hampir semuanya memiliki ambisi untuk berkuasa dengan menafikan hukum dan hak asasi manusia biasa. Saat pemerintahan runtuh dan saat kompetisi antar Epic mereda, dunia terbagi-bagi menjadi daerah kekuasaan Epic-Epic terkuat.

Sulit untuk tidak membayangkan dunia dalam buku ini seperti yang ada dalam serial Old Man Logan-nya Wolverine, di mana dunia (atau AS) terbagi-bagi menjadi daerah kekuasaan villain berkekuatan super, dan nyaris tidak ada hero yang tersisa untuk melawan. Sebagian besar Avengers dan X-Men tewas berguguran, sementara yang masih hidup memilih untuk bersembunyi, menyerah, atau menyesuaikan diri dengan keadaan.

Dalam buku ini, hampir semua Epic terkuat memilih untuk menjadi villain yang menggunakan kekuatannya secara sewenang-wenang. Kalaupun ada Epic yang tingkat kekuatannya tidak begitu besar dan tidak jahat-jahat amat, mereka memilih untuk menjadi keroco Epic terkuat. Benarkah tidak ada Epic yang sanggup dan bersedia menjadi pahlawan pembela kebenaran dan kaum yang lemah? Ataukah semuanya sudah patah arang, lantas memilih untuk menyerah dan menerima keadaan sebagaimana halnya Wolverine Old Man Logan?

Well, ending buku ini akan menjawab pertanyaan itu.

Secara ringkas, buku pertama ini berpusat pada tokoh utama bernama David, yang sewaktu kecil menyaksikan bagaimana Epic bernama Steelheart membunuh ayahnya, sehingga ia bersumpah untuk membunuh sang Epic, meskipun ia hanya manusia biasa. Ia menjadi ensiklopedia berjalan khusus Epic demi mengetahui kelemahan musuh utamanya. Iya, seperti halnya Superman dan kryptonite, para Epic di sini memiliki kelemahan masing-masing yang bisa membuat mereka terluka atau mati, dan berusaha keras menyembunyikan kelemahannya dengan segala cara.

Dengan segala pengetahuannya, yang belum dimiliki David hanya kemampuan dan kesempatan untuk menjalankan skenarionya untuk membunuh para Epic yang jahat. Karena itu, ia bertekad untuk bergabung dengan Reckoners, gerakan bawah tanah para manusia biasa yang berjuang melawan (baca: membunuh) para Epic dengan menggunakan taktik gerilya dan teknologi terkini. Dan tentu saja, berdasarkan hasil penelitiannya atas aksi-aksi terorisme Reckoners, David berhasil menemukan kelompok itu.

Dan selanjutnya, dapatkah David, yang akhirnya menjadi anggota terbaru Reckoners, mampu meyakinkan para Reckoner (yang selama ini main aman dengan hanya membunuhi Epic rendahan dan membiarkan Epic level tertinggi) untuk membantunya membalas dendam terhadap Steelheart, membunuh Epic terkuat yang menguasai kota Newcago?

Kesimpulan:
Struktur cerita dan dunia dalam buku ini lebih sederhana dibandingkan serial Brandon Sanderson lainnya yang menjadi favoritku, Mistborn. Mungkin karena buku ditujukan untuk pembaca YA, sehingga penulisannya dibuat supaya lebih mudah dicerna? Kekuatan yang dimiliki para Epic pun standar sebagaimana halnya cerita komik superhero, tidak serumit sistem kekuatan Allomancy, Hemalurgy, atau Feruchemy misalnya, yang memerlukan kamus tersendiri sebagai panduan bagi pembaca.

Sebenarnya, aku kurang suka membaca buku YA, apalagi yang genrenya sci-fi dystopia. Aku lebih suka universe di mana apabila orang-orang berkekuatan super ujug-ujug bermunculan dengan alasan apapun, mereka tetap terbagi secara berimbang baik dalam kekuatan maupun jumlah antara superhero dan supervillain. Seperti universe di komik/film Marvel dan DC, misalnya. Atau universe My Hero Academia. Atau universe One-Punch Man (meskipun untuk yang satu ini, kekuatan boga lakon dengan musuh-musuhnya nggak seimbang banget sih, hehehe).

Let them fight!!!

View all my reviews

Monday, February 29, 2016

Under The Skin

Judul : Under The Skin

Penulis : Michel Faber

Penerbit : Mariner

Tebal : 319 halaman

Dibeli di : Lapak Periplus FX Senayan

Dibeli tanggal : 20 Februari 2016

Harga beli : Rp. 65.000,-

Dibaca tanggal : 27 Februari 2016

Lokasi baca : Antara Jakarta - Tanjung Lesung

Review :

Isserley always drove straight past a hitch-hiker when she first saw him, to give herself time to size him up. She was looking for big muscles: a hunk on legs. Puny, scrawny specimens were no use to her.

Paragraf pertama novel ini terasa sangat kuat, karena langsung menarik perhatian dan menimbulkan pertanyaan. Siapakah Isserley? Mengapa ia mengincar hitchhiker, khususnya hitchhiker laki-laki yang berpostur kuat dan gagah?

Coba bayangkan adegan ini:
Anda seorang laki-laki yang sedang putus asa mencari tebengan di pinggir jalan raya yang sepi dalam cuaca yang buruk. Bagaimana reaksi Anda bila sebuah mobil menepi, dan pengendara yang menawarkan tebengan ternyata perempuan cantik dan seksi bak Scarlett Johansson? Apakah Anda akan langsung menerima tawarannya, melompat masuk ke dalam mobil tanpa berpikir panjang lagi? Sebagian besar jawabannya: TENTU SAJA IYA!

Scarlett Johansson sedang mencari mangsa...

Yah, kalau Anda belum membaca buku ini atau menonton versi filmnya yang rilis tahun 2013, ada baiknya segera meninggalkan laman ini, karena:

Soalnya aku lagi kepingin membahas sedikit detail, yang ujung-ujungnya tentu saja membandingkan versi novel dan versi filmnya.


1. Siapakah Isserley?

Saat membaca buku ini, lupakan dulu sosok Scarlett Johansson, yang di versi film tidak diberi nama, cuma disebut The Female saja. Terus terang, karena aku sudah menonton versi filmnya dulu (tanpa mengetahui bahwa film itu adaptasi dari novel), pada awalnya aku jadi agak susah klik dengan deskripsi karakter utama yang bernama Isserley ini.

Novel ini dituturkan dari sudut pandang Isserley, perempuan misterius yang kerjaannya setiap hari berkeliaran dengan Toyota Corolla butut di jalan raya sepi dataran tinggi Skotlandia, mencari para lelaki gagah yang butuh tebengan.

Tapi selain itu, pembaca juga mendapat sudut pandang dari para penebeng di mobil Isserley. Dan jelas, gambaran mereka atas penampakan perempuan pemberi tebengan sama sekali tidak ada mirip-miripnya dengan Scarlett Johansson. Bertubuh kecil, pendek, dengan tangan dan jemari yang kurus dan kasar. Wajahnya tirus, dengan sepasang mata besar yang tampak semakin besar di balik kaca mata lensa tebalnya. Satu-satunya kelebihan perempuan aneh itu yang paling menonjol adalah sepasang payudaranya yang besar, yang sengaja dipamerkan dengan pakaian yang terlalu terbuka di bagian dada.

Yap. Sepasang payudara itulah yang menjadi senjata utama Isserley untuk menarik perhatian para lelaki yang masuk ke dalam mobil.

Jadi, siapakah Isserley? Pilih salah satu jawaban di bawah ini:
a. Predator yang menjerat lelaki demi petualangan seks kilat
b. Predator yang menjerat lelaki tanpa ada hubungannya sama sekali dengan seks


2. Mengapa Isserley mengincar lelaki bertubuh besar, sehat, dan kuat?

Pertama-tama, jawaban pertanyaan di atas itu adalah b.

Iya, Isserley sengaja memamerkan payudaranya, hanya supaya para lelaki yang masuk ke mobilnya mereka menjadi lengah dan mau banyak bicara. Dengan demikian, ia bisa mengorek informasi lebih lanjut, yang pada intinya: adakah orang yang akan menyadari dan mencari bila si lelaki tiba-tiba lenyap tak ketahuan rimbanya?

Isserley adalah seorang predator, pemburu, dalam arti yang paling harfiah.

Baginya, lelaki bertubuh besar, sehat dan kuat adalah... bahan makanan berkualitas unggul.

Jadi, pertanyaan berikutnya adalah, apakah Isserley sebenarnya?
a. Kanibal di dunia modern.
b. Alien dari dunia lain.

Dan jawabannya?


3. Alien, tentu saja.

Sejatinya, kalau dilihat dari sudut pandang kita, Isserley bukan manusia. Tapi kalau kita dibawa ke sudut pandang Isserley, dialah yang manusia, sedangkan kita tak lebih dari binatang buruan, bahan makanan. Bagi kaumnya, makhluk berkaki dua seperti manusia berada pada tingkatan yang lebih rendah. Iya, ras Isserley berkaki empat dan berekor. Dari deskripsi Isserley tentang laki-laki bangsawan dari kaumnya yang konon sangat tampan, dengan bulu hitam mengilap, entah kenapa yang terbayang malah anjing ras doberman pinscher raksasa.

Demi menjadi pemburu vodsel (istilah mereka untuk kita), Isserley harus menjalani operasi bedah yang traumatik. Ekor dipotong, tulang belakang diluruskan dengan kaki belakang sehingga posturnya menjadi mirip vodsel yang berkaki dua, kelenjar susu di perut dilenyapkan, buah dada palsu ala vodsel betina dipasang, rambut dan bulu yang indah dicukur habis. Yang jelas, aku belum bisa membayangkan sosok asli Isserley yang konon sangat cantik untuk ukuran kaumnya itu seperti apa. Mirip anjing pudel? Atau collie?

Hasil tangkapan Isserley dikumpulkan di sebuah peternakan terpencil di Skotlandia, di mana para korban diproses: dilucuti semua pakaiannya, dibersihkan, dan dipotong organ yang tak penting seperti lidah dan testikelnya, lantas digemukkan. Pada akhirnya, disembelih dan dibuat fillet untuk kemudian dikirim ke kampung halaman via pesawat kargo antariksa sebagai bahan makanan mewah yang harganya selangit.

Tentu saja, bagiku yang sudah pernah membaca cerita scifi tentang alien yang memangsa dan memasak manusia seperti di Old Man's War-nya John Scalzi, pertanyaan yang benar-benar mengusik adalah kenapa sih Isserley harus berburu sendirian secara diam-diam, demi menangkap manusia satu demi satu, dan berusaha jangan sampai perbuatannya diketahui oleh manusia? Benar-benar tidak efektif dan efisien. Bukankah kalau mereka ras yang lebih unggul dengan teknologi yang jauh lebih canggih, mereka bisa saja menangkap manusia dalam jumlah besar, lantas membuat peternakan manusia untuk produksi daging secara masal?

Tapi kalau dipikir-pikir lagi, mungkin ras alien ini mencari jalan aman. Bisa jadi kalau manusia sampai sadar ada makhluk berintelejensi lain yang memandang mereka sebagai bahan baku makanan, bakal ada perlawanan dan jatuhnya ke perang antar planet. Repot deh. Mendingan diam-diam saja. Lagipula, kalau sampai pasokan daging manusia meningkat drastis, harganya bisa jatuh karena tidak lagi langka. Memang menjelang akhir novel, perusahaan yang membawahi Isserley mulai meminta pasokan ditingkatkan, dengan pesanan tambahan untuk mulai menyediakan vodsel betina, khususnya yang masih memiliki banyak telur (sampai di sini yang kepikiran malah hidangan kaviar atau telur ikan salmon). Tapi sampai saat itu pun, sama sekali belum tersirat keinginan untuk ekspansi produk secara besar-besaran.


4. Lalu, inti cerita alien pemburu manusia ini apa?

Well, secara permukaan saja, dengan membaca cerita dari sudut pandang Isserley, kita bisa menganggap buku ini sebagai memoar seorang (?) alien perempuan dari kasta terendah di planetnya yang gersang, di mana air dan oksigen begitu langka hingga harus dibeli. Ia terpaksa bekerja sebagai pemburu bahan makanan langka di planet yang jauh (namun dengan air dan oksigen yang berlimpah!), dan demi pekerjaan baru itu terpaksa mengalami penderitaan dengan perubahan fisik yang menyakitkan. Sebagai pemburu profesional, strategi yang digunakannya mirip pembunuh berantai, yang berprinsip jangan sampai perbuatannya ketahuan dan terendus pihak berwajib. Tapi bahkan seorang pemburu handal yang sangat berhati-hati pun bisa terpeleset dan salah memilih calon korban, yang berani-beraninya mencoba memperkosanya. Trauma atas kejadian tersebut membuat Isserley terganggu secara psikologis sehingga mempengaruhi pekerjaannya sehingga ia kurang berhati-hati dalam memilih korban berikutnya. Belakangan, setelah mengetahui bahwa posisinya dalam perusahaan tidak istimewa karena bisa digantikan oleh siapa saja kapan saja, Isserley mulai mempertanyakan tujuan hidupnya di bumi.

Dari sisi lain, mungkin saja ada yang berpendapat buku ini membawa agenda vegan. Meskipun pekerjaannya berburu vodsel, Isserley bukan pemakan daging. Dan dari sekilas info kampung halaman, kabarnya mulai bermunculan berbagai penyakit aneh dan baru yang diderita para pemakan daging vodsel. Mungkin seharusnya Isserley mengecek dulu data kesehatan para lelaki yang masuk ke dalam perangkapnya?

Isu lain yang mungkin diusung adalah kesetaraan hak hidup. Ada adegan di mana Amlis Vess---anak pemilik perusahaan yang mempekerjakan Isserley---yang sedang berkunjung incognito mempertanyakan apakah makhluk berkaki empat yang ada di sekitar peternakan, yang disebut domba, bisa dimakan. Isserley jadi histeris, karena baginya domba nyaris setara dengan ras mereka (karena berkaki empat dan berekor) sehingga ide untuk memakan domba benar-benar tak boleh dipikirkan. Dari sisi kita, mungkin seperti isu tentang memakan daging makhluk berkaki dua seperti monyet, orangutan, simpanse, atau gorila. Mengapa wajar saja jika kita memakan daging makhluk berkaki empat seperti sapi, rusa, dan domba, tapi tidak lazim jika memakan daging makluk berkaki dua yang secara DNA nyaris sama dengan manusia?

Sisi berikutnya yang bisa jadi bahan diskusi adalah adanya pembalikan peran di novel ini, di mana sosok perempuan yang kelihatan lemah sebenarnya predator yang berburu laki-laki. Penggambaran adegan perburuan Isserley, yang dimulai dari penilaian Isserley dari sisi fisik hingga faktor keamanannya (laki-laki tanpa keluarga, teman, atau pekerjaan), disertai dengan penilaian calon korban terhadap penampilan fisik Isserley. Ada sebagian calon korban yang bisa melihat kalau wujud Isserley memang agak aneh dan mencurigakan, tapi ada juga yang tidak peduli terutama karena penampakan payudara montok yang bisa membuat pikiran jadi kurang jernih! Jadi, para lelaki, berhati-hatilah. Jangan sembarangan menerima tawaran tebengan dari perempuan muda yang menyetir mobil sendirian, meskipun perempuan itu secantik Scarlett Johansson!


5. The Movie

Bicara tentang Scarlett Johansson, berarti kita kembali bicara tentang versi filmnya, yang terus terang saja sangat berbeda dengan novelnya, dan di sini kita bukan hanya bicara tentang wujud karakter utamanya.

Dalam versi film, sang alien yang wujudnya tidak jelas digambarkan "mengenakan kostum" manusia serupa Scarlett Johansson, yang secara harfiah mewujudkan judul Under The Skin. Secara prinsip, pekerjaan sehari-hari si alien persis seperti Isserley, memberi tebengan pada lelaki yang kurang waspada dan terlalu mudah terpesona pada penampakan luar si alien predator. Dan, setelah si alien membawa sang lelaki ke sarangnya, selalu ada adegan surreal tidak jelas di mana si alien membuka pakaian sepotong demi sepotong, memancing dan memesona calon korban yang tanpa busana hingga terangsang dan tenggelam dalam kolam sehitam tinta yang tanpa dasar.


Pertanyaan bagi penonton awam sepertiku, bagaimana nasib para korban selanjutnya? Apakah adegan itu merupakan simbol bahwa mereka sedang dimangsa atau bagaimana? Sama sekali tidak ada gambaran yang resmi seperti dalam versi novelnya, di mana mereka diproses secara mekanis dan higienis untuk dijadikan irisan daging yang mahal harganya. Tapi, mungkin, secara lambat laun, kita mengikuti perjalanan si alien yang dalam pergaulannya di dunia manusia, mempelajari kehidupan manusia, dan mungkin, hanya mungkin, menjadi manusia, meskipun hanya sebentar.


Verdict :




Friday, October 9, 2015

The Martian

Minggu lalu aku melanggar aturan main yang kubuat untukku sendiri: kalau ada buku yang diadaptasi menjadi film, baca bukunya dulu baru nonton filmnya.

Aku sudah tahu bahwa novel Andy Weir, Goodreads Choice 2014 Winner untuk kategori Science Fiction, dibuat versi filmnya dengan sutradara Ridley Scott dan pemeran utama Matt Damon. Karena itu, jauh-jauh hari menyimpan ebook-nya di gadget untuk persiapan sebelum menonton filmnya. Tapi... saat waktunya semakin dekat, kebetulan penyakit malas baca novel sedang datang melanda.

Ya sudahlah. Aku tonton filmnya saja dulu. Toh, siapa tahu, kalau filmnya benar-benar bagus aku bakal termotivasi untuk membaca sumber aslinya.

Dan ternyata... aku suka banget. So... here I am.

Plot utamanya novel / film The Martian adalah seperti ini:

Six days ago, astronaut Mark Watney became one of the first people to walk on Mars. Now, he's sure he'll be the first person to die there. After a dust storm nearly kills him & forces his crew to evacuate while thinking him dead, Mark finds himself stranded & completely alone with no way to even signal Earth that he’s alive—& even if he could get word out, his supplies would be gone long before a rescue could arrive. Chances are, though, he won't have time to starve to death. The damaged machinery, unforgiving environment or plain-old "human error" are much more likely to kill him first. But Mark isn't ready to give up yet. Drawing on his ingenuity, his engineering skills—& a relentless, dogged refusal to quit—he steadfastly confronts one seemingly insurmountable obstacle after the next. Will his resourcefulness be enough to overcome the impossible odds against him?

Kesan pertama: ceritanya persilangan antara Apollo 13 dan Cast Away!

Dua-duanya Tom Hanks ya...

1. Apanya yang mirip Apollo 13?

Begitu mulai membaca novelnya, Mark Watney mengungkapkan program Ares, misi manusia ke Mars, seperti ini:
The Ares 1 crew did their thing and came back heroes. They got the parades and fame and love of the world.
Ares 2 did the same thing, in a different location on Mars. They got a firm handshake and a hot cup of coffee when they got home.
Ares 3. Well. That was my mission.
Mark Watney anggota misi ketiga, di mana pendaratan manusia di Mars bukan hal yang baru. Sama halnya dengan misi Apollo 13 yang diikuti Jim Lovell, Fred Haise dan Jack Swigart. Setelah Apollo 11 berhasil mendaratkan manusia di bulan, misi-misi berikutnya sudah dianggap sebagai rutinitas biasa dan tak akan jadi berita.

Misi rutin biasa baru menjadi berita, apabila terjadi hal-hal yang luar biasa, terutama bencana yang mengancam jiwa, seperti yang terjadi pada misi Apollo 13 ketika pesawatnya rusak sebelum bisa mendarat di bulan. Atau Ares 3, ketika salah satu astronotnya yang dikira telah tewas dalam badai pasir ternyata masih hidup dan terdampar di Mars.

Hal lain yang mirip Apollo 13 juga dalam hal komunikasi antara Mark Watney dengan kru di bumi, yang dengan menggunakan peralatan yang sama dengan yang dimiliki Mark, berusaha meng-upgrade hardware atau software peralatan di Mars secara jarak jauh. Adegan seperti ini memang salah satu favoritku dari film Apollo 13, seperti yang digambarkan komik xkcd di bawah ini:

Sumber: xkcd.com

Yup. The Martian is for people who wish the whole movie had just been more of that scene. The people like me.

Tentu saja, lebih banyak perbedaan daripada persamaan antara Apollo 13 dengan The Martian. Perbedaan utama tentu saja... Apollo 13 berdasarkan kisah nyata. Sedangkan The Martian... well, aku turut berduka cita bagi mereka yang mengira novel / film The Martian diangkat dari kisah nyata.

Perbedaan lainnya, waktu yang dimiliki Jim Lovell cs untuk bertahan hidup terlalu singkat, sehingga tingkat urgensi krisisnya lebih terasa. Mark Watney memiliki waktu yang jauh lebih lama, sehingga ia memiliki cukup waktu untuk memikirkan solusi bagi masalahnya. Malah, kalau diperlukan, ia akan mencoba untuk bertahan hidup selama 4 tahun sampai misi Ares 4 tiba.

2. Apanya yang mirip Cast Away?

Duh.

Sudah jelas, kan? Cast Away di Mars! Tanpa Wilson!


Okay, kembali ke review bukunya (dan secara tidak langsung, review filmnya juga).

Aku suka banget filmnya. Tapi ternyata, aku jauh lebih suka bukunya. Tapi untunglah aku menonton filmnya lebih dulu, karena kalau tidak, sepanjang film aku bisa-bisa terus membanding-bandingkan dengan bukunya (seperti biasa) dan nantinya malah kurang menikmati dan mengapresiasi filmnya. Toh dengan menonton filmnya lebih dulu, aku lebih bisa berimajinasi secara visual saat membaca novelnya, baik untuk setting maupun karakternya. Dan iya, aku tahu kok masing-masing media punya kelebihan dan kekurangannya masing-masing.

Dengan membaca bukunya, aku jadi jauh lebih paham penjelasan teknis yang disampaikan lebih ringan di versi film. Novel ini termasuk genre hard sci-fi, di mana penekanan lebih banyak pada sisi science-nya, dan bukan fiksinya. Justru karena Mark Watney astronot dengan keahlian di bidang botani dan teknik mesin (dan di bidang kimia juga ternyata), ia bisa bertahan hidup. Membaca jalan pikiran dan penjelasan Mark tentang semua teori yang dipraktekkannya untuk mengatasi semua masalah yang tidak ada habisnya, benar-benar mengasyikkan. Dalam versi film, versi science-nya terasa lebih ringan dan sedikit ketimbang bukunya.

Versi bukunya juga lebih lucu dari filmnya.

Seperti yang dijelaskan psikolog misi Ares 3, selain cerdas dan problem solver, karakter Mark Watney dijelaskan sebagai berikut :
He's a good natured man. Usually cheerful, with a great sense of humor. He's quick with a joke. In the months leading up to launch, the crew was put through a grueling training schedule. They all showed sign of stress and moodiness. Mark was no exception, but the way he showed it was to crack more jokes and get everyone laughing.
Dan itulah tepatnya yang dilakukan Mark sepanjang buku. Mark selalu memandang persoalan dari sisi positifnya, dan selalu menemukan hal lucu dari segala macam cobaan yang dialaminya. Termasuk dalam hal... menikmati koleksi disko Komandan Lewis. Atau menikmati hidangan kentang. Every single day. Iyaaa, itu sarkasme.

Dalam buku pun kita akan mendapati masalah dan tantangan yang dihadapi Mark sehari-hari dalam bertahan hidup di Mars lebih banyak ketimbang apa yang ada dalam versi film, sehingga mau tak mau aku merasa lebih kagum pada Mark versi buku, karena ia memiliki kesempatan lebih banyak untuk menunjukkan problem solving-nya (yang kadang-kadang dilakukan dengan melawan perintah NASA). Di sisi lain, versi film panjangnya 140 menit. Kalau mau mengalihkan semua yang ada di buku ke versi film, bisa-bisa pantat jadi panas dan rata gara-gara kelamaan duduk.


In space, no one can hear you scream... like a little girl.

PS. Kutipan yang terakhir itu bukan tagline film Alien-nya Ridley Scott. Bukan pula tagline film The Martian-nya Ridley Scott, yang bunyinya cuma Bring Him Home. Tapi kalau kau sudah baca bukunya, pasti tahu kutipan itu berasal dari adegan yang mana.

Tuesday, October 6, 2015

Fuzzy Nation

Judul : Fuzzy Nation

Penulis : John Scalzi

ISBN : 0765367033

Tebal : 343 halaman

Dibeli di : Periplus Online Bookstore

Harga beli : Rp. 111.000,-

Tanggal dipesan : 02 April 2015

Tanggal diterima : 21 April 2015

Tanggal dibaca : 26 September 2015

Sinopsis:
Jack Holloway works alone. Hundreds of miles from ZaraCorp's headquarters on planet, 178 light-years from the corporation's headquarters on Earth, Jack is content as an independent contractor. As for his past, that's not up for discussion.

Then, in the wake of an accidental cliff collapse, Jack discovers a seam of unimaginably valuable jewels, to which he manages to lay legal claim just as ZaraCorp is cancelling their contract with him for his part in causing the collapse. Briefly in the catbird seat, legally speaking, Jack pressures ZaraCorp into recognizing his claim, and cuts them in as partners to help extract the wealth.

But there's another wrinkle to ZaraCorp's relationship with the planet Zarathustra. Their entire legal right to exploit the verdant Earth-like planet is based on being able to certify to the authorities on Earth that Zarathustra is home to no sentient species.

Then a small furry biped--trusting, appealing, and ridiculously cute--shows up at Jack's outback home. Followed by its family. As it dawns on Jack that despite their stature, these are people, he begins to suspect that ZaraCorp's claim to a planet's worth of wealth is very flimsy indeed…and that ZaraCorp may stop at nothing to eliminate the "fuzzys" before their existence becomes more widely known.


Rating:
Lima bintang? Yang benar? Dan kalau belinya bulan April, kenapa juga baru dibaca bulan September?

Jadi sejarahnya (bagian ini tidak penting, silakan di-skip kalau tidak mau tahu), novel ini kubeli setelah aku tanpa sengaja menemukan dan menyukai salah satu karya John Scalzi waktu event ultah BBI kemarin, Old Man's War. Karena Scalzi langsung kumasukkan ke dalam daftar penulis favorit, seperti biasa, aku merasa wajib mengumpulkan semua karyanya. Nah, untuk gelombang pertama, aku membeli Boxset serial Old Man's War, Redshirts (yang review-nya masih tertunda), The Android's Dream, dan Fuzzy Nation. Entah kenapa, setiap kali memilih bacaan dari timbunan, novel yang terakhir ini selalu terlewatkan, sampai akhirnya terpilih untuk kubawa sebagai bacaan mudik di long weekend Hari Raya Iedul Adha kemarin.

Oke, kembali ke pertanyaan pertama. Mengapa novel ini kuponten lima bintang?


1. Entertaining as hell

Untuk koleksi Scalzi-ku, novel ini kutaruh sederajat dengan Redshirts, murni karena unsur hiburannya. Dengan bahan cerita yang ringan dan sama sekali tidak original (novel ini merupakan reboot dari novel SF lawas berjudul Little Fuzzy karya H. Beam Piper), Scalzi berhasil meramu aksi petualangan ala Indiana Jones, intrik-intrik korporasi ala Crichton, dan drama pengadilan ala Grisham, lengkap dengan segala twist and turn yang membuat kita bisa tertawa terpingkal-pingkal atau berdebar-debar.

Terpingkal-pingkal?

Buat yang sudah pernah membaca tulisan Scalzi, pasti sudah hafal benar apabila kekuatan Scalzi ada pada dinamika interaksi antar karakternya, dengan kata lain, pada dialognya yang witty dan cerdas. Dan dalam novel ini, kekuatan dialog itu semakin menjadi karena jenis protagonis yang dipilihnya...


2. Intriguing Antihero Protagonist


Jack Holloway, tokoh utama novel ini, adalah mantan pengacara korporasi yang menjadi prospektor / surveyor independen di Planet Zarathustra. Kata sifat yang pas buat menggambarkan karakternya antara lain: egois, individualistis, sarkastis. Tipe anti-otoritas garis keras macam Han Solo atau Dokter House. Ditambah sifat petualangnya, sejak awal novel aku membayangkan sosoknya sebagai Harrison Ford muda, kombinasi sempurna antara karakter Indiana Jones dan Han Solo.



Just deal with it
Holloway biasa menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan. Waktu kontrak surveyornya terancam (gara-gara ia mengajari Carl, anjingnya, untuk menekan detonator bom), ia tidak segan-segan mendiskreditkan pernyataan pacarnya sendiri, dalam sidang klarifikasi (kalau pinjam kutipan Han Solo: Better her than me). Mentang-mentang mantan pengacara, ia juga gemar menggunakan istilah atau preseden hukum dalam setiap kesempatan, termasuk dalam menegosiasikan kontrak atau mengancam pihak korporasi yang berani-beraninya mengancam kepentingannya.

Banyak musuh? Tentu saja. Tapi Holloway tidak peduli, sepanjang kepentingannya aman. 


3. Cute Creatures

Tokoh utama lain novel ini jelas adalah makhluk imut yang dijuluki fuzzy oleh Holloway. Berukuran beda tipis dengan kucing, berbulu lebat (hence the fuzzy notion), bisa berjalan dengan dua kaki, tapi sepertinya memiliki tingkat kecerdasan di atas binatang peliharaan pada umumnya seperti anjing, kucing, ataupun monyet. Imajinasi kita tentang penampakan makhluk ini bisa beda-beda, sebagaimana ditunjukkan oleh imajinasi para ilustrator cover buku ini:


Tapi terus terang saja (dan memperhatikan bahwa Scalzi menggambarkan makhluk pribumi planet Zarathustra ini mirip kucing), aku lebih condong membayangkan sosoknya mirip Puss in Boots-nya Shrek, yang suka berlagak imut kalau lagi ada maunya:



Keberadaan makhluk adorable dan huggable yang pintar inilah yang menjadi pusat konflik novel. 

Sebelum bertemu dengan makhluk ini, Holloway baru saja menemukan sumber tambang permata termahal yang disebut sunstone. Penemuan itu akan membuatnya jadi kaya raya (dan Zara Corp menjadi semakin kaya). Tapi apabila kemudian fuzzy dinyatakan sebagai makhluk cerdas (sentient), maka sesuai hukum kolonial yang berlaku, kegiatan eksploitasi di planet yang terdapat makhluk cerdas (dalam tahapan evolusi apapun) harus langsung dihentikan. Bagi Holloway dan Zara Corp, jelas lebih baik fuzzy tidak diakui sebagai makhluk cerdas.

Konflik kepentingan Holloway jelas menjadi hal yang krusial. Mana yang lebih penting, jadi orang terkaya sejagat raya, atau melindungi kepentingan para makhluk imut yang penampakannya lebih cocok jadi binatang peliharaan? 



4. Great Ensamble

Punya tokoh utama macam Jack Holloway kurang greget apabila tidak ada karakter-karakter lain yang memorable buat jadi "korban" Holloway dan menghidupkan witty banter. Dalam novel ini, kita mendapatkan beberapa tokoh golongan putih seperti mantan pacarnya dan pacar dari mantan pacarnya , atau beberapa tokoh dari golongan hitam macam bakal calon CEO Zara Corp, petugas sekuritinya, serta pasukan pengacaranya. Karakter Holloway yang abu-abu membuat pembaca merasa tidak pasti apa yang akan diperbuatnya, ditambah lagi masing-masing golongan berusaha menarik Holloway ke pihaknya.


5. Courtroom Drama

Yang menarik dari novel ini karena lokasinya merupakan planet pedalaman alias jauh dari pusat peradaban, nuansa yang didapat dari sidang pengadilan yang ada di sini mirip dengan novel-novel John Grisham yang berlokasi di kota kecil wilayah selatan AS. Yang paling mencolok adalah karakter hakim yang memiliki integritas tinggi sehingga tetap bergeming di bawah ancaman pihak korporasi yang menguasai planet, sehingga hukum dapat ditegakkan tanpa intervensi pihak manapun.

Alhasil, para pengacara (atau mantan pengacara seperti Holloway) harus dapat bertindak cerdik dan licik untuk mendapatkan hasil yang diinginkan tanpa keluar dari jalur hukum. Atau dalam kata lain, kalau sampai harus memberikan kesaksian palsu dalam keadaan di bawah sumpah, ya just do it, asal jangan sampai ketahuan! It's for a greater good anyway!

Selain itu, fakta demi fakta yang diungkap selapis demi selapis dalam sidang pengadilan yang menjadi ciri khas Grisham (atau novel-novel hukum lainnya), dapat membuat pembaca excited saat menantikan apa saja taktik dan strategi yang digelar masing-masing pihak.    



P.S. :
Sesuai salah satu tujuan Scalzi me-reboot novel Little Fuzzy, otomatis aku jadi merasa sedikit penasaran untuk membaca novel versi aslinya.

Yang ini sudah public domain, lho

Bukan karena aku membaca versi Scalzi lebih dulu, tanpa mengurangi rasa hormat pada H. Beam Piper, aku jauh lebih menyukai versi Scalzi dibandingkan versi aslinya.

Selain benang merah tema utama, tokoh Jack Holloway, dan para fuzzy, hampir semuanya dirombak oleh Scalzi, sehingga boleh dibilang novel ini benar-benar novel yang berbeda. Bahkan, tokoh Holloway dibuat sangat kontras, dari kakek-kakek 70 tahunan menjadi jauh lebih muda, dengan karakter yang putih lurus menjadi abu-abu bengkok. Holloway versi asli juga tidak punya konflik kepentingan, sehingga pembaca tidak akan meragukan integritasnya. Tapi, tanpa perubahan drastis seperti itu, sulit rasanya mendapatkan witty banter dan adegan sidang pengadilan yang hilarious!

Para fuzzy-nya juga sangat berbeda. Pada akhirnya, dalam versi aslinya kaum fuzzy diperlakukan sebagai hewan cerdas yang dilindungi atau semacam anak-anak yang diadopsi manusia, ketimbang spesies yang hak dan kedudukannya sederajat dengan manusia. Mereka hidup berdampingan dengan manusia, tapi hanya diberikan wilayah reservasi khusus seperti suku Indian atau hewan yang terancam punah, bukannya diakui sebagai pemilik planet yang sah.

Tapi tentu saja, tanpa versi asli ini, kita takkan pernah mendapatkan versi Scalzi yang jauh lebih menghibur.


P.P.S:
Dunia Fuzzy Nation jauh berbeda dengan dunia serial Old Man's War-nya Scalzi. Di sini, boro-boro ada banyak makhluk cerdas yang berebut lahan properti dengan berperang habis-habisan. Manusia menjadi satu-satunya makhluk cerdas dengan tahap evolusi paling canggih, melakukan eksplorasi dan eksploitasi tanpa halangan yang berarti. Untungnya, berbeda dengan pihak kolonial di OMW, pihak kolonial di sini menciptakan hukum yang menjaga agar planet yang dihuni makhluk cerdas seperti manusia (pada tahapan evolusi manapun, dari semacam manusia gua atau yang memiliki peradaban lebih tinggi) dilarang untuk dieksplotasi demi kepentingan penduduk asli di masa depan.

Well, hukum yang sangat utopis, memang. Pada kenyataannya, dunia kita saat ini, mungkin lebih mirip dunia OMW ketimbang dunia Fuzzy Nation. Di mana manusia saling berperang untuk memperebutkan lahan dan sumber daya alam. Di mana penduduk asli di tempat yang memiliki sumber daya alam yang melimpah seringkali tak mendapat manfaat apa-apa dari pihak-pihak yang mengeksploitasinya...








 








Tuesday, April 7, 2015

Enter the Magical Realm: Underrated Top 3 Best SF Books [+Giveaway Hop]



Judul yang paradoks? Kontradiktif?

Mau bagaimana lagi... buku-buku genre science fiction memang tergolong criminally underrated di Indonesia. Alasannya jelas karena kurang peminat dan pembaca (apalagi kalau dibandingkan dengan peminat dan pembaca genre romance), sehingga ujung-ujungnya penerbit lokal malas menerbitkan buku bergenre scifi. Beberapa scifi klasik, khususnya karya Jules Verne dan H.G. Wells kadang-kadang terlihat penampakannya di rak toko buku (atau lapak obralan), tapi bagaimana dengan nasib buku-buku yang digadang-gadang sebagai best of the best nya scifi?

Oke, sebelum masuk ke pokok bahasan, pertanyaan pertama adalah: Apa parameter the best yang pas untuk genre science fiction?

Berdasarkan situs yang ini, idealnya cerita SF terbaik mampu menggabungkan storystelling yang baik dengan berbagai macam pertanyaan fundamental tentang segala hal: masyarakat, agama, politik, hubungan antar ras, ruang, waktu, takdir manusia, tempat kita di alam semesta ini, dll. Dan akan jauh lebih baik lagi apabila ceritanya disertai plot dan karakter yang kuat. Sayangnya, hal itu jarang kita temukan dalam satu buku.

Dari 25 buku SF terbaik di dunia versi situs yang sama, aku mencomot tiga buku teratas saja untuk sharing kali ini. Selain karena pembahasan 25 buku bisa panjang bukan kepalang, sebagai pembaca level cemen untuk genre ini, aku baru membaca 6 dari 25 buku yang ada dalam daftar. Itu pun setengahnya baru kubaca beberapa hari belakangan ini :P

Yuk kita mulai saja!

#1 Dune

First edition cover
Novel yang pertama kali diterbitkan pada tahun 1965 ini memenangkan Hugo Award dan Nebula Award untuk kategori Best Novel pada tahun 1966, yang merupakan penghargaan tahunan untuk karya science fiction/fantasy terbaik.

Novel ini bersetting di masa depan yang jauh, dengan sistem pemerintahan antarbintang berbentuk kekaisaran. Tokoh utama buku ini adalah Paul Atreides, yang masih berusia lima belas tahun saat pertama kali muncul di awal novel. Ia adalah putra tunggal Duke Leto Atreides, yang ditugaskan untuk mengelola planet Arrakis, yang disebut juga Dune, karena planetnya berupa gurun pasir. Tapi jangan melihat penampilannya, planet itu merupakan satu-satunya sumber "spice" melange, yang sangat diperlukan dalam perjalanan antar planet / antar ruang, menjadikannya sumber daya alam yang paling berharga di alam semesta. Siapa yang menguasainya, berarti menguasai alam semesta.

Yang membuat Dune dinilai best of the best untuk novel genre scifi adalah cakupan pembahasannya yang berlapis-lapis, dari politik, agama, ekologi, imperialisme, teknologi, emosi manusia, saat semua pihak berkonfrontasi dalam perebutan kekuasaan atas planet Arrakis dan sumber daya alamnya.

Versi filmnya dirilis pada tahun 1984, yang disutradarai oleh David Lynch dengan cast antara lain Kyle McLachlan, Patrick Stewart dan Sting. 


Tapi konon film Star Wars yang sudah rilis lebih dulu terinspirasi dari novel Dune, meskipun sejauh yang bisa kulihat persamaannya hanya dari sisi sistem kekaisaran antargalaksi dan tokoh utama remaja yang berasal dari planet gurun pasir. Pada tahun 1970-an sebenarnya sudah ada usaha mentransfer novel ini ke seluloid, dengan sutradara Alejandro Jodorowsky, tapi gagal. Dokumentasi pembuatan film itu malah diangkat menjadi film tersendiri yang rilis pada tahun 2013, dengan judul Jodorowsky's Dune.

Pendapat pribadi (sekaligus review colongan):
Setting novel bisa diparalelkan dengan lokasi khusus di bumi: gurun pasir di semenanjung Arabia. Sumber daya alam yang menjadi sumber konflik, well, apalagi kalau bukan minyak. Siapa yang menguasai minyak, berarti menguasai dunia.

Siapapun yang membaca buku ini pasti akan menyadari bahwa Frank Herbert banyak meminjam referensi Arab, bukan hanya setting gurun pasirnya, tapi juga bahasanya. Kita akan menemukan kamus mini di bagian belakang novel,yang menjelaskan istilah-istilah yang digunakan dalam novel. Banyak istilah arab yang akan kita kenali, seperti adab, alam, aql, ayat, baraka, fiqh, hajj, hajra, ilm, jihad, karama, kitab, lisan al-gaib, mahdi, sampai shaitan.

Paul Atreides bukan penduduk asli Dune, kaum Fremen, tapi pada akhirnya ia merupakan perwujudan dari Mahdi (messiah/nabi) yang ditunggu-tunggu kaum Fremen dalam kepercayaan agama mereka, dan memimpin mereka dalam perang militer melawan para penjajah: dalam hal ini musuh keluarga Atreides, keluarga Harkonnen, yang menguasai planet Arrakis.

Frank Herbert menuliskan perwujudan Paul sebagai nabi/panglima militer yang sukses meruntuhkan kekuasaan kekaisaran atas Arrakis ini sebagai "When religion and politics ride in the same cart and that cart is driven by a living Holy man, nothing can stand in the path of such a people."

Oh, well. Kita tahu maksud dan referensinya.

Tapi sudahlah, bagi yang tidak tertarik pada benang merah yang menurutku tidak cukup subtle ini, masih banyak yang bisa dieksplorasi dari novel ini. Setelah Butlerian Jihad alias perang antara manusia melawan komputer yang memiliki artificial intelligence (iya, mengingatkan kita pada tema The Matrix), menciptakan mesin yang bisa berpikir seperti manusia adalah dosa besar. Karena itu, yang terus dikembangkan adalah kemampuan otak manusia. Ada kaum yang bisa menggunakan kemampuan otaknya sampai batas maksimal sehingga mirip komputer, ada kaum yang mengembangkan kemampuan psikis, dan ada pula kaum yang berusaha menciptakan manusia super melalui persilangan genetis. Mau cari action? Selain antara pihak Atreides vs Harkonnen vs Fremen, ada pula monster asli Arrakis, cacing pasir yang panjangnya antara seratus sepuluh sampai empat ratus meter dan diameternya minimal dua puluh dua meter. Bayangkan kalau pesawat saja bisa ditelan olehnya, bagaimana dengan manusia. Dan bayangkan, bila kau bisa menaklukkan dan menunggang monster itu ke medan perang... XD


Novel ini agak susah untuk kureview secara singkat, karena kompleksitas dan luas cakupannya. Dan terus terang saja, secara Dune konon Lord of the Ring-nya genre scifi, boleh dibilang secara pribadi pendapatku pribadi saat membaca buku ini sama dengan ketika membaca LotR. Terlepas dari worldbuilding-nya yang luar biasa, gaya bahasa dan penuturannya kurang sreg dan bikin males... >,<

Underrated?
Di negara asalnya sih jelas tidak, bahkan disebut world best-selling science fiction novel (jumlah pastinya sih entah berapa). Rating di GR saat ini juga termasuk tinggi, 4.14. Tapi di Indonesia...? Di luar pembaca dan penggemar scifi, boleh dibilang di kalangan pembaca awam akreditasinya nyaris tidak terdengar. Terjemahannya juga belum ada. Memang sudah ada versi filmnya, lebih dari 30 tahun yang lalu, dan siapa yang ingat coba? Jangan dibandingkan dengan Return of the Jedi (1983, dengan sutradara yang sama) atau Back to the Future (1985), yang saking klasiknya masih banyak orang yang ingat. Waktu mencoba menonton versi filmnya kemarin, aku nyaris nangis melihat efek spesialnya (iya sih 31 tahun lalu, tapi tetep saja...), dan buat penonton yang belum membaca novelnya, bisa jadi susah dimengerti dan bikin tersesat di alam semesta. Oh iya, ada beberapa buku sekuel dari novel. Tapi mengingat buku pertamanya saja belum ada yang menerjemahkan sampai saat ini, apalagi sekuelnya...


#2 Ender's Game

First edition cover
Novel yang pertama kali diterbitkan pada tahun 1985 ini memenangkan penghargaan sebagai best novel pada Nebula Award 1985 dan Hugo Award 1986.

Novel ini merupakan military science fiction yang bersetting di masa depan, di mana bumi telah mengalami dua kali invasi dari alien mirip serangga (yang disebut "Buggers"). Dalam rangka mencegah serangan berikutnya, maka pasukan bumi merencanakan pre-emptive strike ke home planet musuh, dan melatih sekumpulan anak-anak berbakat, termasuk Ender Wiggin, tokoh utama buku ini, untuk berpartisipasi dalam serangan tersebut. Judulnya berkorelasi erat dengan pelatihan-pelatihan berupa game pada Battle School yang levelnya semakin lama semakin sulit dan kompleks, yang bertujuan untuk mendapatkan pemimpin militer yang memiliki kemampuan berpikir taktis dan strategis yang tinggi.

Membaca novel ini kita akan dibawa mengikuti proses pelatihan Ender di Battle School hingga lulus dan promosi ke level yang lebih tinggi: Command School. Di tempat baru, ia diberikan game dan simulasi pertempuran yang lebih kompleks. Dalam setiap simulasi, ia memegang komando tertinggi armada spaceship dan pesawat tempur pasukan bumi melawan armada alien.

Novel ini diadaptasi menjadi film yang dirilis pada tahun 2013, dengan casting antara lain Harrison Ford, Asa Butterfield dan Ben Kingsley.


Terdapat beberapa penyesuaian yang cukup signifikan, terutama perubahan usia Ender yang dalam versi buku masih anak-anak menjadi remaja.

Pendapat pribadi (bukan review)
Pertama kali aku membaca buku ini dalam bentuk ebook pada tahun 2010. Asbabun nujul-nya tidak jelas, karena tidak ada seorang pun yang berbaik hati merekomendasikan buku ini padaku. Kalau tidak salah awalnya karena aku membaca komik Iron Man yang ditulis oleh Orson Scott Card. Tapi yang jelas, storytelling-nya yang asyik dan twist ending-nya yang epik membuatku langsung memberi rating 5/5 dan memasukkannya ke daftar buku favorit. Baru setelah filmnya rilis, aku membeli buku fisiknya (dengan cover film tentunya).

Tapi sampai dengan saat ini, aku belum tertarik untuk membaca buku sekuelnya. Bagiku, buku ini bisa berdiri sendiri sebagai satu cerita utuh.

Underrated?
Di negara asalnya sudah pasti tidak. Dalam setiap daftar best sci-fi novels, buku ini termasuk selalu masuk papan atas dan best seller, dengan rating di GR saat ini 4.28. Di Indonesia? Nasibnya jauh lebih baik dibandingkan novel Dune, karena sudah diterjemahkan dan diterbitkan. Tapi karena penerbitannya berbarengan dengan peluncuran filmnya sebagai novel movie-tie-in, jangan terlalu berharap sekuelnya (serial ini terdiri dari 7 buku) akan diterbitkan juga, apabila versi filmnya tidak dibuat sekuelnya. Tapi untuk versi terjemahan, cukup lumayanlah pembacanya, setidaknya sampai saat ini di GR ada 297 orang yang memberi rating dengan rata-rata 4.15.


#3 Starship Troopers

First edition cover
Novel yang pertama kali diterbitkan pada tahun 1959 ini memenangkan Best Novel pada Hugo Award tahun 1960.

Diceritakan dari sudut pandang orang pertama, pemuda bernama Juan "Johnnie" Rico yang bergabung dengan Mobile Infantry. Perkembangan karir Johnnie sejak pertama kali bergabung dengan MI sampai menjadi perwira diceritakan dengan latar belakang perang melawan alien mirip serangga yang disebut "the Bugs", yang berujung pada pre-emptive strike terhadap home planet musuh (jelas tampak pengaruhnya terhadap novel-novel scifi sejenis, termasuk Ender's Game).

Tapi yang jelas, di novel ini perang melawan alien bukan sajian utama. Yang lebih banyak mengambil porsi adalah pemikiran-pemikiran filosofis tentang hidup, sistem sosial, politik, dan militer, yang kadang terselip dalam narasi Johnnie atau dialog antara Johnnie dengan tokoh-tokoh lainnya.

Novel ini telah diadaptasi menjadi film pada tahun 1997, dengan sutradara Paul Verhoeven (Robocop, Total Recall), dan casting antara lain Casper Van Dien, Denise Richards, dan Neil Patrick Harris.


Berbeda dengan versi aslinya, versi film ini lebih mengedepankan adegan aksi dan perang melawan alien-nya.

Pendapat pribadi
Sepertinya sudah panjang lebar kubahas di sini.

Underrated?
Sudahlah, tak usah membahas kepopuleran buku scifi ini di negara asalnya. Di Indonesia, sepertinya sih memang iya. Meskipun filmnya beredar di bioskop dan sering diputar ulang di stasiun TV Indonesia, tetap saja versi bukunya belum diterjemahkan dan diterbitkan di Indonesia. (Tapi CMIIW ya, karena ini buku terbitan tahun 1959, siapa tahu di jaman tahun 1960-70an ada versi terjemahan Indonesia yang tidak kuketahui?). Dan pada tahun 1990-an saat filmnya rilis, masih jarang ada penerbit yang rajin dan mau menerbitkan novel movie-tie-in, meskipun harus kuakui penerbit GPU mau menerbitkan buku Species, Independence Day, atau Mission Impossible (semuanya aku punya), buku Robert A. Heinlein ini tidak termasuk yang seberuntung itu.

Nah, bagaimana, ada yang mau berkampanye agar lebih banyak buku genre scifi yang diterjemahkan dan diterbitkan di Indonesia? Konsekuensinya, konsisten ya, beli bukunya kalau sudah diterjemahkan dan diterbitkan :)

Baiklah, masih dalam meramaikan BBI 4th Anniversary Event yaitu Around the Genres in 30 Days, tibalah kita pada saat yang ditunggu-tunggu:


Peraturannya:

1. Tebak judul buku dari petunjuk yang diberikan masing-masing blog.

2. Ambil hanya huruf pertama dari judul buku tersebut.

3. Judul buku yang digunakan adalah versi aslinya, bukan terjemahan. (Misalkan Inheritance yang meski diterjemahkan GM menjadi Warisan, tapi yang kita gunakan tetaplah huruf I nya)

4. Khusus untuk judul buku yang ternyata berawalan The, harap abaikan huruf T di depan, sehingga yang digunakan adalah kata setelah "The". (Misalkan The Alchemist, maka yang digunakan dalam menyusun kata adalah huruf A bukan T)

5. Setelah menemukan 16 huruf dari masing-masing blog, susunlah huruf-huruf tersebut menjadi banyak kata. Ingat, hanya kata bukan kalimat (seperti permainan scrabble)

6. Jumlah minimal huruf yang digunakan dalam menyusun kata tersebut adalah 4 huruf.

7. Setiap huruf yang merupakan jawaban tidak dapat digunakan berulang dalam satu kata. Kecuali kalau memang ada huruf yang sama dalam 16 judul tersebut.

8. Jawaban dimasukkan ke dalam google docs yang bisa diakses lewat masing-masing blog peserta SF/F. Hanya diperbolehkan mengisi sekali, mohon untuk tidak menjawab berulang-ulang di blog yang berbeda.

9. Setiap kata yang berhasil disusun, bernilai satu poin, peserta yang paling banyak menyusun kata (kata tersebut harus dalam bahasa Indonesia dan tercantum di KBBI), dialah yang menjadi pemenangnya.

10. Peserta yang bisa membuat kata yang berhubungan dengan dunia fantasi (contoh: dewa, dewi, peri, dsb) mendapatkan bonus satu poin.

Dan hadiahnya... (drum rolls sound)

Untuk 4 orang pemenang akan mendapatkan hadiah di bawah ini:

Juara 1: Voucher buku senilai IDR 240k

Juara 2: A Game of Thrones karya G.R.R. Martin edisi terjemahan

Juara 3: Seri 1-3 Scary Tales karya James Preller & Iacopo Bruno

Juara 4: Paranormancy karya Kiersten White & Wings karya Aprilynne Pike

Sekarang clue dari blog ini:

1. Buku asli berbahasa Inggris.

2. Genre scifi, subgenre space opera.

3. Bercerita tentang perang real estate antara manusia bumi dengan alien-alien lain.

4. Gambar cover dari edisi-edisi berbahasa selain Inggris:


Gampang kan ya?

Silakan mengisi jawaban kalian di form Google Docs berikut ini: