Showing posts with label YA. Show all posts
Showing posts with label YA. Show all posts

Tuesday, February 4, 2020

Lost Stars

Judul : Lost Stars

Penulis : Claudia Gray

Penerbit : Disney Lucasfilm Press

Tebal : 551 halaman

Selesai dibaca tanggal : 1 Februari 2020

Sinopsis :
A long time ago in a galaxy far, far away…

Eight years after the fall of the Old Republic, the Galactic Empire now reigns over the known galaxy. Resistance to the Empire has been all but silenced. Only a few courageous leaders such as Bail Organa of Alderaan still dare to openly oppose Emperor Palpatine.

After years of defiance, the many worlds at the edge of the Outer Rim have surrendered. With each planet’s conquest, the Empire’s might grows stronger.

The latest to fall under the Emperor’s control is the isolated mountain planet Jelucan, whose citizens hope for a more prosperous future even as the Imperial Starfleet gathers overhead…

Review :

Buku ini kubaca karena John Campea, salah seorang movie pundit yang kanal youtube-nya rutin kusambangi setiap hari, sudah berulang kali merekomendasikannya sebagai salah satu novel Star Wars terbaik yang pernah ia baca, meskipun genrenya yang tergolong Young Adult Romance, yang bukan genre favoritnya. Jujur saja, meskipun aku terkadang terjebak ketagihan membaca genre Romance, genre Young Adult juga bukan my cup of tea. Lebih sering tidak cocoknya daripada cocoknya.

Jadi... sama halnya dengan John Campea, aku ternyata menyukai buku ini. Cukup untuk memberi ponten really like it ala Goodreads:



Oke, yuk kita bahas sedikit alasan mengapa aku suka buku ini...

1. Movie tie-in

Yap. Aku memang hobi membaca dan mengoleksi buku-buku yang masih terkait film, meskipun bisa jadi kadang-kadang aku tidak suka versi filmnya. Nah, khusus buku ini, ada kaitannya dengan film tapi secara harfiah, ini bukan buku yang diadaptasi menjadi film, atau buku yang diadaptasi dari naskah film sih.

Tepatnya, cerita dalam buku ini mengambil setting dan latar belakang film Star Wars Original Trilogy, alias Episode IV s/d VI, alias dari periode  Battle of Yavin sampai Battle of Endor, hanya saja dari sudut pandang mereka yang selama ini mungkin sama sekali tidak kita pikirkan dan pedulikan nasibnya sepanjang trilogi: para "figuran" dari sisi Imperial maupun Rebellion.


2. Karakter Utama

Kuatnya karakterisasi tokoh utama buku ini, Ciena Ree dan Thane Kyrell, cukup kuat hingga pembaca cukup peduli dengan nasib mereka, dan dapat memahami sudut pandang masing-masing dalam menyikapi suatu peristiwa.

Meskipun bersahabat sejak kecil, sama-sama berasal dari Planet Jelucan, salah satu planet gugus terluar yang dianeksasi Imperial setelah kehancuran Old Republic, meskipun punya cita-cita yang sama yaitu masuk akademi Imperial untuk menjadi perwira di Imperial Starfleet, Ciena dan Thane memiliki prinsip dan motivasi yang berbeda.

Berasal dari golongan bawah Jelucan yang sangat mementingkan nilai-nilai kesetiaan dan kehormatan, Ciena memiliki prinsip untuk tidak melanggar sumpah dan loyalitasnya kepada Empire.

Berasal dari keluarga kaya terpandang namun tanpa kasih sayang keluarga, motivasi Thane menjadi perwira Starfleet adalah untuk melepaskan diri dari keluarganya, dan ia lebih pragmatis dan logis dalam hal loyalitasnya.

Bagaimana sikap mereka menghadapi kenyataan bahwa Empire tega menghancurkan Planet Alderaan dan milyaran penduduknya sebagai contoh bagi pihak Rebellion? Bagaimana pendapat mereka atas pihak Rebellion yang membalasnya dengan menghancurkan stasiun angkasa Death Star beserta jutaan penghuninya?


3. Plot

Plotnya standar saja sih... cinta di antara dua insan yang berbeda kubu yang berseberangan dalam perang bintang. Namun demikian, aku tidak menggolongkannya sebagai kisah cinta ala Romeo dan Juliet. Mengapa? Jelas karena penghalang utama cinta mereka tidak sepenuhnya dipaksakan pihak luar, melainkan akibat perbedaan prinsip yang membuat mereka mengambil pilihan dan keputusan yang berbeda meskipun sadar akan konsekuensinya, di mana mereka akan berada di pihak yang berseberangan. 

Konflik yang muncul karena perbedaan prinsip itulah yang menjadi plot driver cerita, dan bahkan  lebih menonjol dibandingkan kisah cintanya sendiri. Konflik malah sudah dimulai sejak awal mereka meniti karier di Akademi Militer, di mana setiap murid diuji kesetiaannya terhadap Empire untuk memastikan mereka menempatkan kepentingan Empire di atas segalanya, baik planet asal, hubungan keluarga, hubungan pertemanan, apalagi cinta.

Setelah yang satu tetap loyal pada Empire sedangkan yang satunya beralih ke pihak Rebellion meskipun sekadar the lesser of two evils? Sudah jelas semakin banyak konflik dan dilema yang akan dihadapi. Apakah cinta akan mengalahkan segalanya?


4. Cameo

Tentu saja cameo dari Star Wars Original Trilogy wajib ada untuk memastikan posisi setiap adegan dan bab kisah dalam buku ini di cerita utama. Mulai dari Grand Moff Tarkin yang muncul saat aneksasi Planet Jelucan menjadi bagian dari Empire, Senator Junior dari Alderaan Leia Organa yang muncul di pesta yang diadakan di Planet Coruscant, Wedge Antilles yang merekrut Thane setelah ia menjadi desertir pengembara, Darth Vader dan TIE-fighter-nya yang harus diselamatkan setelah hancurnya Death Star, atau Lando Calrissian yang menjadi komandan Thane saat Rebellion menghancurkan Death Star ver. 2.

Bagaimana dengan Luke Skywalker dan Han Solo? Karena para karakter buku ini tidak ada yang pernah berhadapan langsung atau melihat sosok mereka dengan mata kepala sendiri, status mereka di buku ini hanya "terdengar", dan seringkali malah tokoh buku ini tidak menganggap mereka penting-penting amat. Yah, tapi masih mending sih ketimbang Chewbacca, C3PO atau R2D2 yang keberadaannya tidak relevan dalam konteks buku ini.


5. Ending

Mengapa? Karena realistis.



P.S.
Sudah itu saja dulu ya. Setelah lama vakum menulis review, sepertinya masih belum terbiasa membuat komentar panjang-panjang. Lagipula, kalau komentarnya panjang biasanya aku terpeleset ke ranah spoiler sih.

P.P.S.
Khusus untuk buku ini, sepertinya kalau pembaca review ini sudah tahu jalan cerita Star Wars Original Trilogy, tidak perlu kuspoiler juga sudah tahu siapa yang menang antara pihak Empire dan Rebellion pada Battle of Endor di film Return of the Jedi.














Wednesday, January 25, 2017

The Rest of Us Just Live Here

Judul : The Rest of Us Just Live Here
            (Yang Biasa-Biasa Saja)

Penulis : Patrick Ness

Penerbit : Gramedia Pustaka Utama

Tebal : 288 halaman

Dibeli di : Gramedia.com

Harga beli : Rp. 47.600,- (30% off)

Tanggal dipesan : 12 Januari 2017

Tanggal diterima : 15 Januari 2017

Tanggal dibaca : 19 - 21 Januari 2017

Sinopsis :
Bagaimana kalau kamu bukan termasuk kelompok anak super? Anak-anak indie yang bertempur melawan zombi, hantu pelahap jiwa, atau bencana bercahaya yang mendatangkan maut?

Bagaimana kalau kamu seperti Mikey? Cuma ingin lulus, datang ke prom, dan mungkin akhirnya punya cukup nyali untuk mengajak Henna kencan sebelum SMA mereka diledakkan. Lagi. Karena kadang ada masalah yang lebih besar daripada pertempuran sampai mati, dan kadang kita harus menemukan hal-hal luar biasa dalam kehidupan yang biasa-biasa saja.


Review :
Pernah menonton serial teve Buffy the Vampire Slayer di season-season awal, sewaktu dia dan scooby gang-nya masih duduk di bangku SMA?


Lihat foto Buffy dan Willow di atas, lalu lihat para figuran yang wara-wiri di belakang mereka. Nah, novel ini dituturkan dari sudut pandang para figuran itu. Karakter yang mengenal remaja-remaja super bin ajaib karena mereka teman sekolah bahkan teman sekelas, namun tidak kenal dekat. Karakter yang mengetahui secara samar-samar bahwa mungkin teman-teman mereka yang aneh itu sedang berurusan dengan masalah gaib yang tidak bisa dijelaskan dengan akal sehat. Karakter yang sering menjadi objek pelengkap penderita yang selalu berusaha berlari menyelamatkan diri dari musibah yang entah bagaimana selalu terjadi di lingkungan sekolah ataupun rumah...

Alias karakter YANG BIASA-BIASA SAJA.

Cerita utama novel ini berupa cerita standar anak sekolah menengah atas biasa. Tokoh utamanya, Mikey, punya kakak dan adik perempuan, dengan ayah yang alkoholik dan ibu yang berambisi menjadi politikus lokal. Ia hanya ingin mengakhiri masa SMA dengan lancar, segera meninggalkan rumah yang suasananya kurang kondusif, sambil tetap mengkhawatirkan si adik kecil yang masih harus tinggal bersama orangtua yang boleh dibilang bukan orang tua ideal. Selain itu, diceritakan pula hubungannya dengan sahabat karibnya, yang punya garis keturunan luar biasa dan orientasi seksual yang berbeda. Tak lupa pula cerita klise tentang cerita cinta, dengan si dia...

Tiada masa paling indah, masa-sama di sekolah... 
Tiada kisah paling indah, kisah kasih di sekolah...

Tentu saja hal ini bukan berarti cerita tentang anak-anak berkekuatan aneh tidak ada sama sekali. Di setiap awal bab, kita mendapat satu paragraf tentang mereka yang disebut anak-anak indie (mungkin singkatan dari indigo?). Kalau kita tidak membaca kisah utama, hanya membaca paragraf pertama dari setiap bab tersebut, kita bakal mendapat cerita pendek tentang petualangan anak-anak indie melawan makhluk dari dimensi lain yang berencana mengambil alih dimensi yang kita diami ini. Yap, seperti cerita standar episode serial teve Buffy the Vampire Slayer! Bahkan, anak-anak indie ini juga melakukan riset diam-diam di perpustakaan sekolah. Sayang, kurang lengkap dengan tidak adanya tokoh pembimbing dewasa yang berprofesi ganda sebagai pustakawan ala Giles di sana.

Episode singkat petualangan anak-anak indie ini berkelindan dengan kehidupan "normal" anak-anak biasa. Dan seperti pakem standar cerita model begini, ada saja masalah dan musibah yang mengganggu suasana. Konser band yang meledak-ledak secara harfiah? Checked. Rekahan dimensi lain yang terbuka di basemen sekolah sementara di atasnya anak-anak sekolah sedang berpesta prom? Checked. Sekolah yang meledak saat wisuda sedang berlangsung? Duh. Ini mungkin adegan yang wajib ada. Checked.

Anyway, cara Patrick Ness menjalin cerita utama dengan kisah supranatural membuat kita bisa membaca dengan lancar tanpa perlu membolak-balik halaman untuk memahami dua cerita yang berjalan secara paralel. Memang, bagaimanapun klisenya sebuah (atau dua buah) cerita, hasil akhirnya tergantung bagaimana ramuan dan racikan dari penulisnya.

Kesimpulan:
Bagiku yang tidak begitu suka membaca genre YA, buku ini lumayan asyik untuk dibaca, minimal bisa membuatku jadi bernostalgia dan membuat kepingin menonton ulang BtVS. Beberapa tahun silam, ada masanya aku melakukan binge-watching tujuh season BtVS berulang kali. Terutama episode yang ada karakter Spike-nya...

Ulasan singkat novel ini kubuat dalam rangka mengikuti:
Kategori: Young Adult Literature

Wednesday, September 23, 2015

The Chronicles of Audy: 4R

The Chronicles of Audy: 4RThe Chronicles of Audy: 4R by Orizuka
My rating: 3 of 5 stars

Yap, masih dalam acara copas komen singkat dari Goodreads di sini :))

Oke, kalau boleh bicara sejarahku dengan novel ini... sejatinya aku cukup penasaran dengan hype yang ditimbulkan novel ini, sampai-sampai aku pernah mencoba pesan via tokbuk online. Soalnya, pas mencoba mencari di toko buku offline, tidak kelihatan satu jilid pun. Ternyata sama gagalnya, karena konon tidak tersedia di gudang penerbit (harusnya ditulis out of stock dan nggak bisa di-klik dong, biar nggak ada acara PHP begitu). Syukurlah, kemarin malah nemu buku ini diobral cuma 10k di lapak Haru waktu aku menyambangi Pop Con Asia.

Honestly, buatku membaca buku ini seperti membaca manga serial cantik. Ceritanya familiar banget, cuma setting-nya saja yang pindah ke Indonesia. Untungnya, gaya penuturan penulisnya menjadi penyelamat acara membaca buku ini.

Novel ini juga sukses membuatku penasaran sampai meng-googling tarif UMR DIY tahun 2013 segala. Bukan kenapa-kenapa. Soalnya, Audy cuma digaji Rp.900rb per bulan, padahal kerjanya dari jam tujuh pagi sampai jam sembilan malam. Lebih dari jam kerja standar empat puluh jam seminggu. Apakah di samping jam kerja, masih ada pelanggaran Undang-Undang Ketenagakerjaan lainnya? Ternyata UMR DIY 2013 Rp. 1.065.247,-. Okelah, masih cukup wajar, apalagi kalau terus Audi dapat tempat tinggal di paviliun plus numpang makan gratis, meskipun awalnya gara-gara persekot gajinya diserobot salah satu juragannya. Lumayanlah :)

View all my reviews

Friday, December 12, 2014

An Abundance of Katherines

An Abundance of Katherine - Tentang KatherineAn Abundance of Katherine - Tentang Katherine by John Green
My rating: 5 of 5 stars

Setelah membaca beberapa buku John Green, baru buku ini yang membuatku merasa "ini gue banget".

Bagi Colin Singleton, tokoh utama buku ini, banyak hal yang menarik untuk dipelajari (seremeh temeh dan setidakpenting apapun) dan disharingkan kepada orang lain, meskipun sebenarnya mereka tidak tertarik pada apa yang ia bicarakan.

Aku bisa mengidentifikasikan diri pada tokoh utamanya, simply karena aku juga punya penyakit yang sama dengan si Colin yang satu ini (bukan CSL alias Colin Satu Lagi, salah satu tokoh bernama sama yang akan kautemukan dalam buku ini). Memang aku bukan anak ajaib dengan ingatan luar biasa dan jago otak-atik anagram seperti Colin, tapi aku gemar membaca apa saja yang menurutku menarik, dan suka menyampaikan apa yang menurutku menarik (dari bahan bacaanku yang segitu banyak dan randomnya) pada orang lain. Padahal mungkin saja mereka yang mendengarkanku dengan sopan sebenarnya tidak tertarik, atau tidak mau tahu. Hm, harus ada orang seperti Hassan (satu-satunya sahabat Colin) yang bisa secara tegas bicara terus terang padaku "Tidak tertarik" atau "Tidak menarik" pada omonganku yang kadang random abis.

Tapi hanya sampai di sana persamaannya. Colin yang susah move on dari mantan-mantannya yang bernama sama, Katherine I sampai dengan Katherine XIX (yang ternyata Katherine I juga), yang sampai pundung berhari-hari sampai harus melakukan perjalanan untuk menghibur hati yang luka, bukan gayaku sama sekali. Untuk yang satu ini, aku bersyukur menjadi orang pelupa, sehingga untuk urusan mantan, aku mudah melupakan dan malah kalau ada mengungkit cuma bisa bilang "X yang mana ya?" #kejam \(^.^)/

Overall, aku jauh lebih menyukai buku ini dari buku-buku (terjemahan) John Green lainnya yang sudah pernah kubaca. Penyebabnya mungkin bukan hanya jalan cerita dan penuturannya yang lebih menarik, tapi juga faktor terjemahan dan editorialnya. Percuma saja kalau buku aslinya bagus tapi terjemahannya bikin bete. Begitu melihat ke halaman copyright buku ini, aku cuma bisa bilang, pantas saja... :)

View all my reviews

Monday, March 31, 2014

Girl, Stolen

Girl, StolenGirl, Stolen by April Henry
My rating: 3 of 5 stars

Pernah nonton film Excess Baggage? Untuk yang belum tahu, ceritanya tentang seorang gadis yang merancang penculikannya sendiri (diperankan Alicia Silverstone) demi menarik perhatian ayahnya yang pengusaha kaya, tapi tanpa sengaja jadi diculik beneran oleh pencuri mobil (diperankan oleh Benicio del Toro). Di sini, si gadis sengaja masuk ke bagasi mobilnya sendiri, memasang lakban di kaki dan mulutnya, serta memasang borgol di tangannya. Lah, si pencuri mobil mana tahu ada "gadis muda korban penculikan" di bagasi mobil yang dicurinya?

Nah, novel ini premisnya mirip, walaupun ceritanya tidak sama. Penulisnya juga bukan terinspirasi dari film remaja yang dirilis tahun 1997 itu. Konon ia terinspirasi kisah yang ditontonnya di berita TV lokal, tentang gadis buta yang pergi makan malam di luar dengan orang tuanya. Ia tetap tinggal di mobil saat orang tuanya berbelanja untuk kebutuhan Natal, dengan kunci mobil tetap ditinggalkan supaya pemanas tetap menyala. Lalu seseorang mencuri mobil tersebut. Dalam kisah itu, begitu mengetahui keberadaan si gadis buta, si pencuri mobil menurunkannya di tengah jalan.

Tapi, bagaimana kalau si pencuri mobil akhirnya benar-benar menculiknya?

April Henry mengembangkan cerita lebih jauh. Cheyenne Wilder, gadis buta yang juga sedang sakit, ditinggal di mobil dengan mesin menyala ketika ibu tirinya meninggalkannya untuk membeli obat resep di apotik. Belum lama waktu berlalu, tahu-tahu mobilnya berjalan lagi. Hanya saja, pengemudinya bukan ibu tirinya!

Griffin tidak bermaksud menculik Cheyenne, tapi karena takut Cheyenne menimbulkan keributan begitu dilepaskan, ia juga tidak mau membebaskannya. Karena tidak tahu harus berbuat apa dengan gadis itu, ia membawanya pulang ke rumah, dan membuat kesal ayahnya dan komplotan pencuri mobil mereka karena mendapat beban tambahan.

Celakanya, dari radio yang menyiarkan berita penculikan Cheyenne, diketahui bahwa gadis buta itu adalah adalah putri tunggal Nick Wilder, CEO Nike. Well, well, well, ternyata beban tambahan yang merepotkan itu adalah kunci gudang emas!

Tapi... apakah mereka akan melepaskan Cheyenne setelah mendapatkan uang tebusan? Atau membunuhnya karena meskipun buta, gadis itu sudah tahu terlalu banyak? Cheyenne harus memikirkan rencana untuk kabur. Kalau saja ia bisa menelepon. Kalau saja ia bisa mendapatkan cara untuk menghubungi pihak yang berwajib. Kalau saja ia bisa membujuk Griffin untuk menolongnya. Kalau saja ia bisa melarikan diri. Kalau saja...

View all my reviews

Thursday, May 30, 2013

Delirium vs Equilibrium

Delirium (Delirium, #1)Delirium by Lauren Oliver
My rating: 3 of 5 stars


Di dunia dalam novel ini, cinta merupakan pelanggaran hukum.

Entah kenapa, begitu membaca sinopsis cerita di cover bukunya, langsung jadi deja vu dan teringat film lama, Equilibrium (2002). Lha, judulnya saja mirip-mirip dan berima, sama-sama pakai "rium", gitu. 

Oya, tentu saja aku lebih menyukai versi Equilibrium, dan jelas bukan cuma karena boga lakonnya diperankan oleh Christian Bale. Tapi karena:

1. Delirium bisa dibilang lebih ringan dan tidak sekelam Equilibrium, selain mungkin karena ceritanya tergolong YA, terutama karena

2. Dalam Delirium, yang dilarang CUMA cinta, sementara dalam Equilibrium yang dilarang adalah SEMUA bentuk perasaan. Selain itu

3. Penyembuhan cinta dalam Delirium lebih mudah, tinggal operasi lalu beres deh hidup damai dan bahagia tanpa cinta. Bisa saja sih operasi gagal, tapi risikonya lebih kecil dibandingkan suntikan obat harian di Equilibrium. Sekali lalai, bisa-bisa langsung merasakan emosi lagi. Bahaya itu!

4. Action-nya! Bagaimanapun yang keren di Equilibrium itu adalah gun kata battle! Biar kata defying gravity or reality, adegan aksinya itu yang memanjakan mata banget! Sementara di Delirium... yah, namanya juga bukan novel action, kenapa juga aku bandingin ya?

Yang jelas sih, meskipun katanya novel ini merupakan novel pertama, menurutku endingnya cukup bagus. Cliffhanger? Tidak juga. Apapun yang terjadi setelah endingnya dapat diserahkan kepada imajinasi pembaca, tidak membaca novel lanjutannya pun tidak masalah.

Sebagai bonus, kusisipkan foto Christian Bale dalam pose gun kata-nya:
Ish, yang penting pose dulu, pistolnya macet apa nggak gimana nanti!

Apa yang disebut gun kata? Konon begini menurut filmnya:  

Through analysis of thousands of recorded gunfights, the Cleric has determined that the geometric distribution of antagonists in any gun battle is a statistically-predictable element. The Gun Kata treats the gun as a total weapon, each fluid position representing a maximum kill zone, inflicting maximum damage on the maximum number of opponents, while keeping the defender clear of the statistically-traditional trajectories of return fire. By the rote mastery of this art, your firing efficiency will rise by no less than 120 percent.

Mari kita adu teknik gun kata-nya John Preston (Bale) dengan teknik Wesley Allen Gibson (James McAvoy) dari film Wanted (2008).
Nembak sambil merem? Cin cay lah!


Woy, sadar, Ndah! Ini review buku, bukan review film! Salah blog!

View all my reviews

Sunday, July 8, 2012

The Perks of Status Updates

FooloveFoolove by Teera
My rating: 3 of 5 stars


Dari status yang nggak penting bisa muncul komentar yang lebih nggak penting! (hal.21)

Buatku yang sudah lama meninggalkan dunia persilatan eh perfesbukan, masa-masa update status fesbuk sudah jadi cerita masa lalu, tahun 2007/08, itu pun jarang-jarang dilakukan sih, banyaknya iseng baca status nggak penting orang lain. Capek deh. Dan setelah kenal goodreads di Oktober 2008 lantas rajin update status di situ... hampir lupa punya akun di fesbuk :))

Novel ini teenlit banget, tapi aku suka gaya penuturannya. Bukan karena settingnya di Bandung jadi bisa klik, tapi kayaknya pas aja denganku, termasuk selera humornya.

View all my reviews

Thursday, February 16, 2012

"Sekuel" Pride & Prejudice

Mr. Darcy, VampyreMr. Darcy, Vampyre by Amanda Grange
My rating: 2 of 5 stars

Aku sudah cukup lama punya buku ini, hasil bookwar WBD 2011 lalu. Novel ini baru kubaca setelah melihat bahwa ini "sekuel" dari Pride and Prejudice, yang kebetulan baru kubaca versi novelnya dan kutonton miniseri BBC 1995-nya.



Cover: Nggak suka. Cewek yang jadi Lizzie bolehlah siapa saja. Tapi untuk cowok yang jadi Mr. Darcy... hahaha,  sori menyori, gara-gara P&P BBC '95 yang tercetak di benak kalau baca "Mr. Darcy" hanyalah the young Colin Firth, sedangkan cowok di cover ini menurutku idih nggak banget deh.

Isi: cuma suka bab 1, yang boleh dibilang sambungan adegan pernikahan ganda Bingley-Jane & Darcy-Lizzie di episode terakhir miniseri bbc. Selanjutnya? Aargh...

Mr.Darcy yang tertutup di P&P di sini jadi tambah tertutup setelah menikah. Boro-boro berbagi kehidupan dan masa lalunya, berbagi ranjang dengan pengantin barunya saja nggak (kasian deh Lizzie, huhuhu). Untuk apa dong menikah, kalau dekat-dekatan aja nggak?

Mr. Darcy ternyata vampir? Euh... kurang masuk akal, karena di P&P dia banyak berkeliaran di siang hari bolong, di bawah terpaan sinar matahari. Atau mungkin dia tipe Daywalker macam Blade, ya? *dibahas*

Kesimpulan : so-so aja sih ceritanya. Spoilernya, demi Lizzie, Mr. Darcy bersedia menjadi manusia biasa lagi. Hm... ada cure-nya ya. Kalau tahu rahasianya, Angel dan Spike juga bisa kembali menjadi manusia dong...#balik ke I Luv Spike.com

View all my reviews

Sunday, January 8, 2012

There Can Be Only One

The Hunger Games (Hunger Games, #1)The Hunger Games by Suzanne Collins
My rating: 3 of 5 stars

In the end, there can be only one
- Duncan MacLeod (Highlander)

Quick reading, meski idenya nggak orisinal. Baru baca sampul belakangnya saja, langsung terpikir "OMG, Battle Royale banget!"

Tentu saja, manga Battle Royale jauh lebih gory dan seram. Visualisasinya yang realistis tidak menyisakan apa-apa untuk imajinasi (atau memang imajinasi kita yang nggak tega untuk sampai ke sana), jadi bagi yang sudah merasa ngeri dengan adegan-adegan pembunuhan di Hunger Games disarankan untuk tidak membaca Battle Royale.

Selain orisinalitas dan level gory-nya, berikut yang membuatku menilai Battle Royale jauh lebih baik dari Hunger Games :

1. Peserta Battle Royale adalah murid satu kelas SMP, jadi unsur drama psikologisnya lebih banyak karena semua peserta saling mengenal, apalagi POV-nya bukan cuma dari satu orang.
2. Sebelum dilepaskan ke arena, setiap peserta dibekali ransel berisi bekal dan senjata, cuma nasib saja yang menentukan apakah senjata yang didapat berguna atau tidak.
3. Panitia tidak perlu repot-repot menciptakan kebakaran hutan segala untuk menyuruh peserta keluar dari persembunyian. Peserta tidak bisa berlama-lama diam atau sembunyi di satu tempat, karena beberapa jam sekali harus pindah tempat, kalau tidak mau bom di kalung yang dikenakannya meledak.
4. Dan masih banyak lagi...

Tentu saja meskipun seperti di serial Highlander pemenangnya hanya boleh satu orang, ending Hunger Games maupun Battle Royale melanggarnya (spoiler!).

Kesimpulan: Membaca Hunger Games membuatku hungry untuk membaca ulang lagi manga Battle Royale.

View all my reviews