Showing posts with label horror. Show all posts
Showing posts with label horror. Show all posts

Monday, February 29, 2016

Under The Skin

Judul : Under The Skin

Penulis : Michel Faber

Penerbit : Mariner

Tebal : 319 halaman

Dibeli di : Lapak Periplus FX Senayan

Dibeli tanggal : 20 Februari 2016

Harga beli : Rp. 65.000,-

Dibaca tanggal : 27 Februari 2016

Lokasi baca : Antara Jakarta - Tanjung Lesung

Review :

Isserley always drove straight past a hitch-hiker when she first saw him, to give herself time to size him up. She was looking for big muscles: a hunk on legs. Puny, scrawny specimens were no use to her.

Paragraf pertama novel ini terasa sangat kuat, karena langsung menarik perhatian dan menimbulkan pertanyaan. Siapakah Isserley? Mengapa ia mengincar hitchhiker, khususnya hitchhiker laki-laki yang berpostur kuat dan gagah?

Coba bayangkan adegan ini:
Anda seorang laki-laki yang sedang putus asa mencari tebengan di pinggir jalan raya yang sepi dalam cuaca yang buruk. Bagaimana reaksi Anda bila sebuah mobil menepi, dan pengendara yang menawarkan tebengan ternyata perempuan cantik dan seksi bak Scarlett Johansson? Apakah Anda akan langsung menerima tawarannya, melompat masuk ke dalam mobil tanpa berpikir panjang lagi? Sebagian besar jawabannya: TENTU SAJA IYA!

Scarlett Johansson sedang mencari mangsa...

Yah, kalau Anda belum membaca buku ini atau menonton versi filmnya yang rilis tahun 2013, ada baiknya segera meninggalkan laman ini, karena:

Soalnya aku lagi kepingin membahas sedikit detail, yang ujung-ujungnya tentu saja membandingkan versi novel dan versi filmnya.


1. Siapakah Isserley?

Saat membaca buku ini, lupakan dulu sosok Scarlett Johansson, yang di versi film tidak diberi nama, cuma disebut The Female saja. Terus terang, karena aku sudah menonton versi filmnya dulu (tanpa mengetahui bahwa film itu adaptasi dari novel), pada awalnya aku jadi agak susah klik dengan deskripsi karakter utama yang bernama Isserley ini.

Novel ini dituturkan dari sudut pandang Isserley, perempuan misterius yang kerjaannya setiap hari berkeliaran dengan Toyota Corolla butut di jalan raya sepi dataran tinggi Skotlandia, mencari para lelaki gagah yang butuh tebengan.

Tapi selain itu, pembaca juga mendapat sudut pandang dari para penebeng di mobil Isserley. Dan jelas, gambaran mereka atas penampakan perempuan pemberi tebengan sama sekali tidak ada mirip-miripnya dengan Scarlett Johansson. Bertubuh kecil, pendek, dengan tangan dan jemari yang kurus dan kasar. Wajahnya tirus, dengan sepasang mata besar yang tampak semakin besar di balik kaca mata lensa tebalnya. Satu-satunya kelebihan perempuan aneh itu yang paling menonjol adalah sepasang payudaranya yang besar, yang sengaja dipamerkan dengan pakaian yang terlalu terbuka di bagian dada.

Yap. Sepasang payudara itulah yang menjadi senjata utama Isserley untuk menarik perhatian para lelaki yang masuk ke dalam mobil.

Jadi, siapakah Isserley? Pilih salah satu jawaban di bawah ini:
a. Predator yang menjerat lelaki demi petualangan seks kilat
b. Predator yang menjerat lelaki tanpa ada hubungannya sama sekali dengan seks


2. Mengapa Isserley mengincar lelaki bertubuh besar, sehat, dan kuat?

Pertama-tama, jawaban pertanyaan di atas itu adalah b.

Iya, Isserley sengaja memamerkan payudaranya, hanya supaya para lelaki yang masuk ke mobilnya mereka menjadi lengah dan mau banyak bicara. Dengan demikian, ia bisa mengorek informasi lebih lanjut, yang pada intinya: adakah orang yang akan menyadari dan mencari bila si lelaki tiba-tiba lenyap tak ketahuan rimbanya?

Isserley adalah seorang predator, pemburu, dalam arti yang paling harfiah.

Baginya, lelaki bertubuh besar, sehat dan kuat adalah... bahan makanan berkualitas unggul.

Jadi, pertanyaan berikutnya adalah, apakah Isserley sebenarnya?
a. Kanibal di dunia modern.
b. Alien dari dunia lain.

Dan jawabannya?


3. Alien, tentu saja.

Sejatinya, kalau dilihat dari sudut pandang kita, Isserley bukan manusia. Tapi kalau kita dibawa ke sudut pandang Isserley, dialah yang manusia, sedangkan kita tak lebih dari binatang buruan, bahan makanan. Bagi kaumnya, makhluk berkaki dua seperti manusia berada pada tingkatan yang lebih rendah. Iya, ras Isserley berkaki empat dan berekor. Dari deskripsi Isserley tentang laki-laki bangsawan dari kaumnya yang konon sangat tampan, dengan bulu hitam mengilap, entah kenapa yang terbayang malah anjing ras doberman pinscher raksasa.

Demi menjadi pemburu vodsel (istilah mereka untuk kita), Isserley harus menjalani operasi bedah yang traumatik. Ekor dipotong, tulang belakang diluruskan dengan kaki belakang sehingga posturnya menjadi mirip vodsel yang berkaki dua, kelenjar susu di perut dilenyapkan, buah dada palsu ala vodsel betina dipasang, rambut dan bulu yang indah dicukur habis. Yang jelas, aku belum bisa membayangkan sosok asli Isserley yang konon sangat cantik untuk ukuran kaumnya itu seperti apa. Mirip anjing pudel? Atau collie?

Hasil tangkapan Isserley dikumpulkan di sebuah peternakan terpencil di Skotlandia, di mana para korban diproses: dilucuti semua pakaiannya, dibersihkan, dan dipotong organ yang tak penting seperti lidah dan testikelnya, lantas digemukkan. Pada akhirnya, disembelih dan dibuat fillet untuk kemudian dikirim ke kampung halaman via pesawat kargo antariksa sebagai bahan makanan mewah yang harganya selangit.

Tentu saja, bagiku yang sudah pernah membaca cerita scifi tentang alien yang memangsa dan memasak manusia seperti di Old Man's War-nya John Scalzi, pertanyaan yang benar-benar mengusik adalah kenapa sih Isserley harus berburu sendirian secara diam-diam, demi menangkap manusia satu demi satu, dan berusaha jangan sampai perbuatannya diketahui oleh manusia? Benar-benar tidak efektif dan efisien. Bukankah kalau mereka ras yang lebih unggul dengan teknologi yang jauh lebih canggih, mereka bisa saja menangkap manusia dalam jumlah besar, lantas membuat peternakan manusia untuk produksi daging secara masal?

Tapi kalau dipikir-pikir lagi, mungkin ras alien ini mencari jalan aman. Bisa jadi kalau manusia sampai sadar ada makhluk berintelejensi lain yang memandang mereka sebagai bahan baku makanan, bakal ada perlawanan dan jatuhnya ke perang antar planet. Repot deh. Mendingan diam-diam saja. Lagipula, kalau sampai pasokan daging manusia meningkat drastis, harganya bisa jatuh karena tidak lagi langka. Memang menjelang akhir novel, perusahaan yang membawahi Isserley mulai meminta pasokan ditingkatkan, dengan pesanan tambahan untuk mulai menyediakan vodsel betina, khususnya yang masih memiliki banyak telur (sampai di sini yang kepikiran malah hidangan kaviar atau telur ikan salmon). Tapi sampai saat itu pun, sama sekali belum tersirat keinginan untuk ekspansi produk secara besar-besaran.


4. Lalu, inti cerita alien pemburu manusia ini apa?

Well, secara permukaan saja, dengan membaca cerita dari sudut pandang Isserley, kita bisa menganggap buku ini sebagai memoar seorang (?) alien perempuan dari kasta terendah di planetnya yang gersang, di mana air dan oksigen begitu langka hingga harus dibeli. Ia terpaksa bekerja sebagai pemburu bahan makanan langka di planet yang jauh (namun dengan air dan oksigen yang berlimpah!), dan demi pekerjaan baru itu terpaksa mengalami penderitaan dengan perubahan fisik yang menyakitkan. Sebagai pemburu profesional, strategi yang digunakannya mirip pembunuh berantai, yang berprinsip jangan sampai perbuatannya ketahuan dan terendus pihak berwajib. Tapi bahkan seorang pemburu handal yang sangat berhati-hati pun bisa terpeleset dan salah memilih calon korban, yang berani-beraninya mencoba memperkosanya. Trauma atas kejadian tersebut membuat Isserley terganggu secara psikologis sehingga mempengaruhi pekerjaannya sehingga ia kurang berhati-hati dalam memilih korban berikutnya. Belakangan, setelah mengetahui bahwa posisinya dalam perusahaan tidak istimewa karena bisa digantikan oleh siapa saja kapan saja, Isserley mulai mempertanyakan tujuan hidupnya di bumi.

Dari sisi lain, mungkin saja ada yang berpendapat buku ini membawa agenda vegan. Meskipun pekerjaannya berburu vodsel, Isserley bukan pemakan daging. Dan dari sekilas info kampung halaman, kabarnya mulai bermunculan berbagai penyakit aneh dan baru yang diderita para pemakan daging vodsel. Mungkin seharusnya Isserley mengecek dulu data kesehatan para lelaki yang masuk ke dalam perangkapnya?

Isu lain yang mungkin diusung adalah kesetaraan hak hidup. Ada adegan di mana Amlis Vess---anak pemilik perusahaan yang mempekerjakan Isserley---yang sedang berkunjung incognito mempertanyakan apakah makhluk berkaki empat yang ada di sekitar peternakan, yang disebut domba, bisa dimakan. Isserley jadi histeris, karena baginya domba nyaris setara dengan ras mereka (karena berkaki empat dan berekor) sehingga ide untuk memakan domba benar-benar tak boleh dipikirkan. Dari sisi kita, mungkin seperti isu tentang memakan daging makhluk berkaki dua seperti monyet, orangutan, simpanse, atau gorila. Mengapa wajar saja jika kita memakan daging makhluk berkaki empat seperti sapi, rusa, dan domba, tapi tidak lazim jika memakan daging makluk berkaki dua yang secara DNA nyaris sama dengan manusia?

Sisi berikutnya yang bisa jadi bahan diskusi adalah adanya pembalikan peran di novel ini, di mana sosok perempuan yang kelihatan lemah sebenarnya predator yang berburu laki-laki. Penggambaran adegan perburuan Isserley, yang dimulai dari penilaian Isserley dari sisi fisik hingga faktor keamanannya (laki-laki tanpa keluarga, teman, atau pekerjaan), disertai dengan penilaian calon korban terhadap penampilan fisik Isserley. Ada sebagian calon korban yang bisa melihat kalau wujud Isserley memang agak aneh dan mencurigakan, tapi ada juga yang tidak peduli terutama karena penampakan payudara montok yang bisa membuat pikiran jadi kurang jernih! Jadi, para lelaki, berhati-hatilah. Jangan sembarangan menerima tawaran tebengan dari perempuan muda yang menyetir mobil sendirian, meskipun perempuan itu secantik Scarlett Johansson!


5. The Movie

Bicara tentang Scarlett Johansson, berarti kita kembali bicara tentang versi filmnya, yang terus terang saja sangat berbeda dengan novelnya, dan di sini kita bukan hanya bicara tentang wujud karakter utamanya.

Dalam versi film, sang alien yang wujudnya tidak jelas digambarkan "mengenakan kostum" manusia serupa Scarlett Johansson, yang secara harfiah mewujudkan judul Under The Skin. Secara prinsip, pekerjaan sehari-hari si alien persis seperti Isserley, memberi tebengan pada lelaki yang kurang waspada dan terlalu mudah terpesona pada penampakan luar si alien predator. Dan, setelah si alien membawa sang lelaki ke sarangnya, selalu ada adegan surreal tidak jelas di mana si alien membuka pakaian sepotong demi sepotong, memancing dan memesona calon korban yang tanpa busana hingga terangsang dan tenggelam dalam kolam sehitam tinta yang tanpa dasar.


Pertanyaan bagi penonton awam sepertiku, bagaimana nasib para korban selanjutnya? Apakah adegan itu merupakan simbol bahwa mereka sedang dimangsa atau bagaimana? Sama sekali tidak ada gambaran yang resmi seperti dalam versi novelnya, di mana mereka diproses secara mekanis dan higienis untuk dijadikan irisan daging yang mahal harganya. Tapi, mungkin, secara lambat laun, kita mengikuti perjalanan si alien yang dalam pergaulannya di dunia manusia, mempelajari kehidupan manusia, dan mungkin, hanya mungkin, menjadi manusia, meskipun hanya sebentar.


Verdict :




Friday, October 30, 2015

Thinner

Judul : Thinner

Penulis : Stephen King

ISBN : 978-0-451-16134-5

Penerbit : Signet

Tebal : 318 halaman

Dibeli di : Periplus Online Indonesia

Harga beli : Rp. 102.000,- (diskon ultah)

Tanggal dipesan : 29 Agustus 2015

Tanggal diterima : 28 September 2015

Pertama kali dibaca : Tahun 1996

Tanggal dibaca ulang : 13 Oktober 2015 #Program BUBU

Sinopsis :

When an old gypsy man curses Billy Halleck for sideswiping his daughter, six weeks later he's ninety-three pounds lighter. Now Billy is terrified. And desperate enough for one last gamble...that will lead him to a nightmare showdown with the forces of evil melting his flesh away. 


Review singkat :

Buat mereka yang obesitas dan pingin cepet kurus, bacalah buku ini! Kutukan Gypsy misterius dapat menurunkan berat badan secara maksimal tanpa diet dan rasa sakit! 

Begini cara mendapatkannya:
1. Kemudikan mobilmu dengan kecepatan secukupnya.
2. Tanpa menghentikan mobil, minta istri/pasanganmu melakukan handjob.
3. Tabrak orang Gypsy pertama yang kautemui di jalan

Kutukan berlaku efektif setelah dukun Gyspy menyentuh pipimu sambil mengucapkan mantra. Tapi ingat, kutukan takkan bisa ditarik sebelum kau minta maaf!



Review agak panjang :

Hm... mungkin sinopsis dan review singkat di atas sebenarnya sudah cukup menjelaskan plotnya?

Billy Halleck adalah seorang pengacara montok (iya, kita tahu kata yang cocok sebenarnya obesitas), yang telah menabrak seorang nenek gipsi yang tiba-tiba menyeberang jalan tanpa lihat kiri-kanan. Kalau saja perhatiannya tidak teralihkan gara-gara Heidi, istrinya, memberikan servis dadakan, mungkin ia sempat mengerem. Kenyataannya, ia menabrak wanita itu sampai mati. Tapi, Billy dibebaskan dari tuntutan pada sidang pendahuluan. Bagaimanapun, koneksi itu penting. Apalagi kalau koneksinya seorang hakim!

Usai sidang, ayah sang korban mengelus pipi Billy, dan berkata, "Thinner."

Hm... mungkin terjemahan bebasnya... "Kusumpahin kurus, lo!"

Anyway, awalnya Billy mengabaikan kejadian aneh itu, sampai kemudian bobotnya berkurang sedikit lebih sedikit... terus... terus... dan terus...... berkurang. Diet hebat tanpa mengubah pola makan! Yay! Beli baju baru! Beli ikat pinggang baru!

Tapi... turunnya begitu drastis dan cepat, dari 114 kg jadi 53 kg!!! Jangan-jangan Billy sebenarnya sakit? Kanker misalnya? Apalagi penjelasan yang logis? Tapi mimpi-mimpi buruk serta seringnya Billy mendengar bisikan si dukun gipsi, ia mulai yakin kalau ia kena kutuk.

Kekhawatiran yang sangat mungkin benar. Apalagi, sepertinya bukan cuma Billy yang kena kutuk. Si hakim yang membebaskannya dan polisi yang membantu meringankan kasusnya juga mengalami hal yang mirip, meskipun bukan jadi kurus. Kutukan yang membuat mereka frustrasi sampai akhirnya bunuh diri.

Lalu, apa yang harus Billy lakukan? Mencari si dukun gipsi tua yang keberadaannya entah di mana untuk memintanya membatalkan kutukannya? Lantas, kalaupun ketemu, memangnya si dukun mau memaafkan begitu saja?

I never take it off, white man from town.
You die thin, town man! You die thin!

Verdict:
Everybody pays, even for things they didn't do.

Habisnya, meskipun si dukun akhirnya memberi jalan keluar setelah rombongannya diteror mafia yang membantu Billy, yaitu mengalihkan kutukannya pada orang lain dengan suatu media (semacam video Sadako di The Ring), hasil akhirnya belum tentu sesuai dengan harapan...

Iya, ini SPOILER!!!
Maaf, telat :))

Catatan tambahan:
Buku Thinner terbit pertama kali tahun 1984 di bawah nama pena alternatif Stephen King: Richard Bachman.

Pada tahun 1996, buku ini diangkat menjadi film, dengan sutradara Tom Holland dan karakter Billy diperankan oleh Robert John Burke.


Review ini dibuat dalam rangka :
Tema Horror



The Mist

Judul : The Mist

Penulis : Stephen King

ISBN : 978-0-451-22329-6

Penerbit : Signet

Tebal : 230 halaman

Dibeli di : Periplus Online Bookstore

Harga beli : Rp. 89.250,- (diskon ultah)

Tanggal dipesan : 29 Agustus 2015

Tanggal diterima : 28 September 2015

Tanggal pertama kali dibaca : 14 Desember 2010

Tanggal dibaca ulang : 10 Oktober 2015 #Program BUBU

Sinopsis : 
It's a hot, lazy day, perfect for a cookout, until you see those strange dark clouds. Suddenly a violent storm sweeps across the lake and ends as abruptly and unexpectedly as it had begun. Then comes the mist...creeping slowly, inexorably into town, where it settles and waits, trapping you in the supermarket with dozens of others, cut off from your families and the world. The mist is alive, seething with unearthly sounds and movements. What unleashed this terror? Was it the Arrowhead Project---the top secret government operation that everyone has noticed but no one quite understands? And what happens when the provisions have run out and you're forced to make your escape, edging blindly through the dim light?

Review singkat :
Apabila kabut tebal melanda dan monster-monster misterius tiba-tiba berkeliaran di muka bumi, di manakah kau ingin berada?

Apakah di rumah? Yang meskipun kemungkinan besar tidak aman dan tidak bisa menghalau monster, yang penting kita berada di tempat yang paling familiar dan nyaman bagi kita?

Atau markas militer? Yang memastikan kita bisa berlindung di balik benteng dengan para prajurit terpilih dan persenjataan canggih?

Dan bagaimana bila kita malah terjebak di supermarket, dengan banyak orang yang tidak kita kenal? Sementara di luar supermarket, di dalam kabut, para monster menunggu. Mereka tidak bisa menembus dinding kaca, tapi mereka akan menyambar siapapun yang meninggalkan keamanan supermarket dengan alasan apapun,,,

Novella ini dituturkan dari sudut pandang David Drayton, yang terjebak di supermarket bersama anaknya yang masih kecil, Billy, dan tetangga mereka, si pengacara Brent Norton. Kesadaran bahwa dalam kabut terdapat bahaya misterius mulai terungkap ketika korban-korban mulai berjatuhan. Dari pegawai supermarket yang pergi keluar untuk memperbaiki generator ventilasi, sampai orang-orang yang pergi karena tidak mau tetap berada di supermarket dan tidak percaya akan adanya bahaya yang menunggu di luar sana.

Dan setelah akhirnya orang-orang yang tersisa di supermarket percaya akan adanya bahaya monster di luar sana, mereka terbagi pada beberapa kubu dengan keyakinan yang berbeda. Ada yang meyakini bahwa bencana itu adalah hukuman dari Tuhan dan merupakan tanda-tanda datangnya kiamat. Ada pula yang tetap berusaha untuk meninggalkan supermarket dengan harapan bisa menghindari apapun yang ada di luar sana.

Stephen King tidak memberikan konklusi yang jelas untuk akhir novella ini, yang dibiarkan menggantung. Ia membiarkan pembaca mengira-ngira bagaimana kisah selanjutnya. Apakah David dan putranya selamat? Apakah dunia berakhir setelah monster-monster berkuasa di muka bumi? Tak ada yang tahu.

P.S. Inspirasi memang bisa datang dari mana saja. Stephen King kepikiran ide novella ini ketika ia dan putranya (Joe? Atau Owen?) sedang mengantri di kasir supermarket, dan King membayangkan bagaimana seandainya ada monster misterius yang mengepung supermaket dan para pembeli (dan pegawai toko) terjebak di dalamnya.


Movie adaptation :

Disutradarai oleh Frank Darabont (yang juga menyutradarai adaptasi karya Stephen King lainnya, The Shawshank Redemption dan The Green Mile), dengan tokoh David Drayton diperankan oleh Thomas Jane.

Pada prinsipnya, Darabont cukup setia pada versi novella King, dengan beberapa perkecualian.

Perkecualian yang sangat drastis adalah endingnya, yang dibuat sangat gelap dengan twist yang bisa menyesakkan hati penonton. Alternative ending yang dibuat dengan izin King, tentunya. Bagaimanapun, ending novella The Mist dibuat menggantung kok, tentu saja seperti halnya penikmat karya ini, Darabont bisa merekayasa versinya sendiri tentang nasib para tokohnya. Tapi tetap saja... membuatku emosi jiwa waktu menontonnya.

Review singkat ini dibuat dalam rangka :

Tema Horror

The Dead Zone

Judul : The Dead Zone

Penulis : Stephen King

ISBN : 978-0-451-15575-7

Penerbit : Signet

Tebal : 402 halaman

Dibeli di : Periplus Online Bookstore

Harga beli : Rp. 102.000,- (diskon ultah)

Tanggal dipesan : 29 Agustus 2015

Tanggal diterima : 28 September 2015

Pertama kali dibaca : Tahun 1994 

Tanggal dibaca ulang : 6 Oktober 2015 #Program BUBU

Sinopsis:

Johnny, the small boy who skated at breakneck speed into an accident that for one horrifying moment plunged him into The Dead Zone

Johnny Smith, the small-town schoolteacher who spun the wheel of fortune and won a four-and-a-half-year trip into The Dead Zone

John Smith, who awakened from an interminable coma with an accursed power—the power to see the future and the terrible fate awaiting mankind in The Dead Zone.



Premis :

1. What if you are a psychometrer, but you just don't know it

2. What if you can see the past and the future, by making phisical contact with a person or an object, but you just don't know it

3. What if you know you are a psychometrer, will you help people with your psychometry and precognition? Or you just make a fortune for yourself?

4. What if you know you have that accursed power, and you know someone will be THE president who START THE NUCLEAR WAR in the future...

4. What will you do?

5. WHAT WILL YOU DO?


Komentar singkat :

Novel ini merupakan novel pertama Stephen King kubeli dan kubaca. Novel yang terbit pertama kali pada tahun 1980 ini telah diangkat ke layar lebar pada tahun 1983, dengan casting Christopher Walken dan Martin Sheen dan disutradarai oleh David Cronenberg:


Selain itu, versi serial TV-nya pun pernah ditayangkan selama 6 season antara tahun 2002 sampai dengan 2007, dengan Antony Michael Hall sebagai pemeran tokoh utamanya:


Jujur saja, versi film-nya Christopher Walken sudah kutonton terlebih dulu sebelum membaca novel aslinya, sehingga mengurangi unsur kejutan saat membaca sumber aslinya. Tapi tentu saja, seperti biasa versi novelnya jauh lebih enak untuk dinikmati.

Inti cerita novel ini tentang seorang Johnny Smith, yang memiliki bakat ESP (Extrasensory Perception), terutama psikometri, sejak kecil. Namun bakatnya baru benar-benar bangkit setelah ia dewasa dan mengalami kecelakaan yang membuatnya koma selama empat setengah tahun. Meskipun ia sempat dituduh sebagai cenayang palsu oleh media lokal, Johnny tetap membantu Sheriff Bannerman menyelesaikan kasus pembunuhan berantai.

Bersamaan dengan kisah hidup Johnny, kita dibawa mengikuti perjalanan hidup seorang Greg Stillson, dari semula salesman kitab suci dari pintu ke pintu sampai kemudian menjadi politisi. Dari awal kita sudah diperlihatkan bagaimana karakter asli Greg Stillson, sehingga ketika suatu hari jalan hidup Johnny dan Stillson bertemu, di mana Johnny bisa melihat masa depan Stillson sebagai presiden yang akan membawa kehancuran bagi umat manusia...


Apa yang akan kaulakukan bila bertemu Hitler pada saat ia masih belum berkuasa, dan mengetahui dengan pasti bencana yang akan dtimbulkannya? Dosa mana yang lebih besar, membunuh seseorang saat ini untuk mencegah malapetaka yang masih belum terjadi, atau tidak berbuat apa-apa meskipun kita tahu apa yang akan terjadi?

Trivia :
Dalam versi film The Dead Zone tahun 1983, tokoh Greg Stillson diperankan oleh Martin Sheen.
Selama tahun 1999 s/d 2006, Martin Sheen memerankan Presiden Josiah Bartlett dalam serial TV The West Wing.


Well, untunglah karakter Bartlett berbeda jauh dengan Stillson, sehingga prekognisi Christopher Walken tidak terjadi, karena tak ada perang nuklir selama administrasi Bartlett.

N.B. Tokoh dunia nyata yang sekarang digadang-gadangkan sebagai penjelmaan Greg Stillson adalah Donald Trump. Apakah ia akan menjadi presiden AS yang memulai perang nuklir? Well, mari kita sambangi dan jabat tangannya. Oh wait, kita harus punya kekuatan psikometri setara Johnny Smith dulu untuk itu.

Buku ini dibaca dan dikomentari dalam rangka :
Tema Horror





Tuesday, October 6, 2015

Firestarter

Judul : Firestarter

Penulis : Stephen King

Penerbit : Signet

ISBN : 978-0-451-16780-4

Tebal : 401 halaman

Dibeli di : Periplus Online Indonesia

Diperoleh tanggal : 23 Februari 2015

Dibaca tanggal : 26 September 2015 #Program BUBU

Sinopsis :
First, a man and a woman are subjects of a top-secret government experiment designed to produce extraordinary psychic powers.

Then, they are married and have a child. A daughter.

Early on the daughter shows signs of a wild and horrifying force growing within her. Desperately, her parents try to train her to keep that force in check, to "act normal."

Now the government wants its brainchild back - for its own insane ends.


Review :

Andy McGee dan Victoria Tomlinson pertama kali bertemu ketika mengikuti eksperimen yang diselenggarakan The Shop, salah satu agen rahasia pemerintah. Akibat eksperimen tersebut, Andy memiliki kemampuan mental domination alias hipnotis, sedangkan Victoria memiliki kemampuan telekinesis. Hubungan mereka berlanjut ke jenjang pernikahan dan membuahkan seorang putri, Charlene atau Charlie McGee.

Charlie mewarisi gen orang tuanya dengan kemampuan ESP yang lebih besar, pyrokinesis. Ia bisa menyalakan api hanya dengan memikirkannya, sejak masih bayi.

Bayangkan bagaimana repotnya suami-istri McGee dalam membesarkan Charlie. Sementara orang tua lain memberikan toilet-training pada anak mereka, suami-istri McGee harus menambahnya dengan fire-training, agar Charlie dapat menahan dan mengendalikan kekuatannya. Susah memang, tapi setidaknya keluarga McGee dapat kelihatan hidup normal seperti keluarga pada umumnya.

Namun kemudian, ketika The Shop memutuskan untuk menculik Charlie, keluarga McGee pun berantakan. Victoria tewas, dan Andy harus mengejar agen rahasia The Shop dan merebut kembali Charlie dengan kekuatan psikisnya.

Novel ini menggunakan alur kilas balik atau non-linear narrative. Kisah dibuka dengan kondisi Andy dan Charlie McGee tengah melarikan diri dari The Shop. Dalam pelarian tersebut, baik Andy maupun Charlie kadang-kadang, sengaja atau tidak sengaja, dalam keadaan terpaksa, menggunakan kekuatan mereka. Meskipun kekuatan Andy tidak sebesar putrinya, jangan salah, ia bisa membuat orang menjadi buta bahkan koma. Namun demikian, setiap kali menggunakan kekuatan secara berlebihan, Andy dapat mengalami sakit kepala yang parah dan pecah pembuluh darah yang dapat menyebabkan kelumpuhan sementara, sehingga ia harus beristirahat untuk memulihkan tenaga.

Charlie tidak memiliki keterbatasan itu, hanya saja fire-training dari orang tuanya terlalu efektif sehingga ia takut untuk menggunakannya. Tapi demi menyelamatkan ayahnya, apalagi dalam keadaan emosional, kekuatannya sanggup membakar siapa dan apa saja secara spontan.

Namun pada akhirnya, ayah-anak McGee tertangkap dan dipisahkan secara paksa di markas The Shop, yang melakukan eksperimen pada mereka. Usaha sang ayah untuk membebaskan diri dan anaknya dari cengkeraman The Shop, dengan semua strategi dan konsekuensinya, menjadi plot driver berikutnya dalam paruh akhir novel.

Berhasilkah usaha Andy membebaskan diri sendiri dan putrinya? Apa harga yang harus dibayar demi kebebasan?

Sekedar catatan:

Novel yang diterbitkan pertama kali pada tahun 1981 ini telah diadaptasi menjadi film pada tahun 1984:

Familiar dengan wajah gadis cilik pada poster di atas? Yap, itu Drew Barrymore!




Tuesday, March 10, 2015

The Turn of the Screw

The Turn of the ScrewThe Turn of the Screw by Henry James
My rating: 3 of 5 stars

Sinopsis:
A chilling ghost story, wrought with tantalising ambiguity, Henry James's The Turn of the Screw is edited with an introduction and notes by David Bromwich in Penguin Classics. In what Henry James called a 'trap for the unwary', The Turn of the Screw tells of a nameless young governess sent to a country house to take charge of two orphans, Miles and Flora. Unsettled by a dark foreboding of menace within the house, she soon comes to believe that something malevolent is stalking the children in her care. But is the threat to her young charges really a malign and ghostly presence or something else entirely?

Andai saja Colin Firth tidak ambil bagian dalam versi film yang diproduksi ITV pada tahun 1999,
entah kapan aku bakal membaca buku karya Henry James ini. Padahal, sebagai salah satu buku yang tercantum dalam "1001 Books You Must Read Before You Die", buku ini sudah termasuk dalam RBB, alias Rencana Baca Buku, meskipun tidak jelas kapan pelaksanaannya.

Review :
Cerita ini bertutur dari sudut pandang seorang gadis muda berusia dua puluh tahun, yang menjawab iklan dari seorang pria muda bujangan dan kaya raya (selanjutnya disebut saja sebagai si Master) di London. Si Master ini membutuhkan governess untuk mengasuh kedua keponakan yang telah yatim piatu, dan ia bersedia membayar sangat mahal untuk itu. Syarat utamanya: si governess tidak boleh sekali-kali menghubunginya untuk alasan apapun. Semua urusan keuangan akan dilakukan melalui pengacara. Pokoknya si Master bebas dari tanggung jawab mengurus para keponakannya.

Setelah berpikir panjang (dan mungkin juga karena terpesona pada manisnya bujuk rayu si Master yang memang tampan menawan), si gadis muda bersedia menjadi governess. Ia pun berangkat ke rumah si Master di pedesaan, dan mendapati dirinya bukan saja menjadi pengasuh bagi anak lelaki bernama Miles dan adik perempuannya yang bernama Flora, tapi juga membawahi seluruh pengurus dan pelayan rumah tangga di sana.

Namun, ternyata tugasnya tidak mudah. Ia mendapatkan surat dari kepala sekolah Miles, kalau anak itu dikeluarkan dari sekolah. Sulit dipercaya karena kedua anak yang diasuhnya bukan hanya pintar tapi juga menawan. Ia mengalami kesulitan untuk menanyakan duduk permasalahannya pada si bocah, dan tidak bisa pula meminta bantuan dari pamannya yang tidak mau tahu. Tapi masalah terbesarnya dimulai ketika ia melihat penampakan seorang pria dan seorang wanita. Mereka tidak bisa dilihat oleh para penghuni rumah yang lain, tapi kemungkinan besar bisa dilihat oleh Miles dan Flora.

Dari deskripsinya tentang kedua sosok yang dilihatnya kepada pengurus rumah tangga, Mrs Grose, ia mengetahui bahwa kedua orang itu adalah Mr. Quint, mantan valet si Master, dan Miss Jessel, governess sebelumnya. Kalau gosip bisa dipercaya, mereka berdua punya hubungan khusus. Tapi yang lebih parah, informasi bahwa mereka berdua sudah meninggal dunia.

Kemunculan Mr. Quint dan Miss Jessel yang makin sering terjadi membuat si governess panik, apalagi mereka tidak peduli pada kehadirannya dan sepertinya lebih berminat pada Miles dan Flora. Apa maksud kemunculan mereka? Apakah hanya bermaksud mengganggu saja? Atau membawa anak-anak ke sisi mereka?

Kalau kita percaya pada penuturan si governess bahwa ia bisa melihat hantu, maka cerita ini bisa digolongkan sebagai cerita horor. Kurang apa coba? Penampakan hantu-hantu di tempat dan waktu yang salah? Anak-anak yang tampaknya juga bisa melihat dan mengenali para hantu dan bisa-bisa terbawa ke dunia lain?

Tapi kalau kita skeptis pada hal gaib dan supranatural, maka cerita ini bisa jadi kita anggap cuma omong kosong dan karangan si governess belaka. Lho, tapi untuk apa juga ia berbohong? Banyak alasan untuk itu. Bisa jadi si governess cuma mau mencari perhatian. Meskipun sudah terikat janji dengan si Master untuk tidak menghubunginya dengan cara apapun, tapi bisa lain ceritanya kalau terjadi hal luar biasa yang tidak bisa diabaikan oleh si paman yang egois.

Dan bukan tidak mungkin kalau semua cerita itu cuma delusi dari si governess yang ternyata sinting, karena ia melihat hal-hal yang sebenarnya tidak ada. Kemungkinan ini cukup besar, kalau kita memperhatikan perubahan sikap para penghuni rumah, termasuk anak-anak, kepada si governess

Henry James tidak memberikan konklusi jelas tentang apa yang sebenarnya inti cerita ini, dan membebaskan pembaca untuk membuat interpretasi sendiri. Apalagi cerita ini dibuat sebagai cerita seseorang tentang dari temannya, yang ternyata teman si governess, alias sudah mulut kesekian.

Versi film TV tahun 1999 boleh dibilang cukup setia pada jalan cerita novelnya. Tapi karena penonton diberi kesempatan untuk melihat penampakan makhluk-makhluk tak diundang yang kadang muncul di siang bolong, diiringi musik yang juga mencekam, secara otomatis penonton tergiring menahbiskan cerita ini memang cerita horor.

Poster filmnya sendiri sungguh sangat misleading. Colin Firth cuma muncul beberapa menit, di awal film, karena ia berperan sebagai si Master super egois, yang menggunakan ke-charming-an dan rayuan mautnya agar si nona muda polos mau menjadi governess bagi kedua keponakannya, dan ia sendiri bisa terbebas dari tanggung jawab.

Castingnya pas sih, karena si Master dideskripsikan seperti ini dalam novel:

One could easily fix his type; it never, happily, dies out. He was handsome and bold and pleasant, offhand and gay and kind. He struck her, inevitably, as gallant and splendid, but what took her most of all and gave her the courage she afterward showed was that he put the whole thing to her as a kind of favor, an obligation he should gratefully incur. She conceived him as rich, but as fearfully extravagant-- saw him all in a glow of high fashion, of good looks, of expensive habits, of charming ways with women.  

Kalau dimintai tolong dengan tatapan seperti itu sih...

Saturday, January 10, 2015

Dreamsongs: A Rretrospective

Penulis: By George R.R. Martin

Penerbit : Gollancz, Great Britain

Book 1 : ISBN: 978-0-75289-008-1, 
Halaman: 656
Harga beli: Rp. 30.000,-
Tanggal beli: 29 Mei 2014

Book 2 : ISBN 978-0-75289-008-1
Halaman: 736
Harga beli: Rp. 69.000,-
Tanggal beli: 03 November 2013


Kedua buku bantal ini termasuk yang kubabat dari timbunan pada awal tahun baru ini. Yay, ini bisa diikutkan Read Big Challenge mestinya :) 

Alasan aku membeli kedua buku ini
1. Penulisnya. 
Rasanya cukup jelas, mengingat aku suka banget serial A Song of Ice and Fire yang sayangnya entah kapan bakal tamat. Semoga beliau diberikan kesehatan dan mood yang baik untuk dapat menyelesaikan masterpiece-nya. Amin.

2. Covernya.
Keren banget. Nget. 'Nuff said.

3. Harga banting
Kedua buku ini kudapat di lapak obral Periplus dalam dua bazar yang berbeda. Yang kudapat duluan malah buku keduanya, yang kubeli waktu IBF 2013. Buku pertamanya kudapat dengan harga lebih miring lagi pas JBF 2014.

4. Penasaran dengan karya-karya lain GRRM selain serial ASOIAF dan Wild Cards.

Review
Sejak aku membeli dan menyampul kedua buku ini, aku sama sekali tidak pernah menyentuh apalagi membuka-buka isinya seperti apa. Iyaa, sosok fisiknya yang gendut memang membuat tangan enggan menjamah sewaktu sedang mengobok-obok timbunan mencari bahan bacaan berikutnya. Yang aku tahu, isinya kumpulan cerpen/novela GRRM, dan salah satunya semacam prekuel dari serial ASOIAF.

Ternyata... Kumcer ini dibagi dalam bab-bab yang selalu diawali dengan memoir GRRM tentang catatan perjalanan sejarahnya sebagai penulis (ini menjelaskan kenapa ada subjudul A Rrestropective). Dan... aku malah jauh lebih menyukai memoir bersambung ini ketimbang kumpulan cerpen/novela-nya itu sendiri :)

Bagi yang mengira GRRM adalah spesialis penulis fantasy-epic seperti ASOIAF, dengan membaca kumpulan karya awalnya ini akan mengetahui bahwa ia tidak menulis dalam satu genre saja. Selain cerita fantasi, ia juga menulis cerita horor, thriller dan sci-fi, malah waktu remaja, sebagai penggemar komik superhero, ia menulis cerita superhero juga. Pada tahun kedua kuliah jurnalisme, dalam mata kuliah Sejarah Skandinavia ia malah menulis paper  dalam bentuk cerpen. Dapat nilai A lagi!

Dreamsongs Buku 1 mencakup cerpen/novela GRRM di masa awal-awal ia berkarya. Setiap bab memoir diikuti dengan beberapa karyanya yang ditulis pada tahapan karir kepenulisan yang dikisahkannya. Misalnya dalam Bab 1: A Four Color Fanboy, mencakup cerpen Fortress, yang merupakan paper/cerpen dari mata kuliah Sejarah Skandinavia-nya.

Ada lima bab dalam buku ini, termasuk kumpulan karya-karya yang pertama kali dibeli dan diterbitkan oleh majalah, yang membuat GRRM akhirnya memutuskan menjadi penulis full-time. Apalagi ternyata meskipun lulus dengan magna cum laude, cari kerja itu susah, Jenderal.

Khusus untuk cerpen-cerpen di buku ini, aku cenderung lebih menyukai yang bergenre Sci-fi ketimbang genre-genre lainnya.

Dreamsongs Buku 2 mencakup cabang karirnya yang merambah Hollywood sebagai penulis dan produser program televisi, sehingga termasuk dalam karya-karya yang dijejalkan di buku ini adalah salah satu naskah episode Twilight Zone. Ada pula naskah pilot Doorways yang gagal menjadi serial TV. Sayang juga sih, Padahal premis ceritanya mirip-mirip Sliders, karena tokoh-tokohnya bisa jalan-jalan ke dunia lain. Berat biaya produksinya karena settingnya terus berubah, mungkin?

GRRM yang belum melupakan mimpi masa kanak-kanaknya menulis cerita superhero belakangan menciptakan konsep serial cerita (serta mengkompilasi dan mengedit ) Wild Cards yang ditulis oleh para anggota Wild Cards Consortium yang bejibun banyaknya. Tapi tentu saja yang dimasukkan ke Buku 2 ini cerpen-cerpen yang merupakan buah karya GRRM selaku kontributor.

Dan terakhir, yang kucari-cari memang novela yang masih satu universe dengan serial ASOIAF: The Hedge Knight: A Tale of the Seven Kingdom, dengan tokoh utama Dunk alias Ser Duncan the Tall, dengan setting beberapa generasi sebelum ASOIAF.








Sunday, December 28, 2014

In The Tall Grass

In the Tall Grass (Kindle Single)In the Tall Grass by Stephen King
My rating: 4 of 5 stars

Synopsis:
Could there be any better place to set a horror story than an abandoned rest stop? In the Tall Grass begins with a sister and brother who pull off to the side of the road after hearing a young boy crying for help from beyond the tall grass. Within minutes they are disoriented, in deeper than seems possible, and they lost one another. The boy's cries are more and more desperate. What follows is a terrifying, entertaining, and masterfully told tale, as only Stephen King can deliver.

It's a classic!

What can I say? Novella hasil kolaborasi ayah-anak Stephen King dan Joe Hill ini, meskipun menggunakan tema cerita horor yang klasik (baca: klise), tetap gregetable (bahasa apa pula ini :P, pokoknya bikin gregetan) dan bikin merinding kayak digerumuti kepinding.

Cerita diambil dari sudut pandang kakak beradik Cal dan Becky DeMuth yang melewati Kansas dalam perjalanan ke California. Di tengah jalan, karena radio dimatikan dan kaca jendela dibuka, mereka bisa mendengar seorang anak laki-laki berteriak meminta pertolongan karena tersesat dari padang rumput yang tingginya lebih jangkung daripada tinggi manusia dewasa.

Seperti bocoran sinopsisnya, mereka pun menepikan mobil dan memasuki kerimbunan rerumputan demi memberikan pertolongan, lantas keduanya pun ikut tersesat di dalamnya...

Sumpah. Ini asli predictable banget. Horor klasik yang bahkan formulanya sudah sering dipakai Stephen King di cerpen-cerpennya yang terdahulu. Tapi yang membedakan memang bagaimana cara menyajikannya...

Premis cerita sudah bisa diraba ketika Cal dan Becky mendengar suara lain selain suara sang anak, yaitu suara ibunya. Sementara sang anak menjerit-jerit minta tolong, sang ibu malah berusaha mencegahnya...

Setelah berputar-putar tak karuan, Cal dan Becky sendiri akhirnya menyadari ada yang tidak beres setelah meloncat ke ketinggian untuk melihat posisi mereka. Meskipun baru masuk beberapa puluh langkah, mereka mendapati telah berada jauh di tengah padang rumput, bagai terhanyut gelombang ke tengah-tengah samudra luas. Dan setiap usaha kembali ke tepian malah membuat mereka terhanyut lebih jauh...

Silakan masuk ke sarangku, kata laba-laba kepada lalat

Asli, meskipun ini cuma novella, aku menghabiskan waktu cukup lama untuk membacanya karena... takut. Saking klasiknya cerita model begini, aku sampai takut melanjutkan cerita karena khawatir atas apa yang akan terjadi pada kakak-beradik DeMuth. I know something bad will happen to them!

Bisa-bisanya aku mau saja ditakut-takuti oleh ayah-anak ini! XD

Tapi tentu saja aku akhirnya nekad melanjutkan baca. Kagok sih, dan penasaran juga.

Dan... ugh! Ugh! Ugh! Tentu saja prediksiku menjadi kenyataan in the worst worst worst way! Dan endingnya... membuatku malah jadi berpikir... the importance of being ignorance and not helping the other people!

Bagiku, ayah-anak ini memang The Kings of Horror, sesuai nama mereka!

View all my reviews

Sunday, December 21, 2014

Horns

HornsHorns by Joe Hill
My rating: 4 of 5 stars

Bagaimana bila kau tiba-tiba memiliki sepasang tanduk, dan kau tiba-tiba memiliki kekuatan ajaib yang membuat semua orang ingin mencurahkan isi hatinya padamu? Bukan hal yang baik-baik, tapi keinginan jahat, niat buruk, rahasia tergelap, yang selama ini disimpan jauh-jauh di laci ingatan yang paling bawah?

Ig Parrish telah menjadi pariah di kotanya. Ketika kekasih yang amat dicintainya, Merrin, diperkosa dan dibunuh, ia menjadi satu-satunya tersangka. Ia tidak pernah ditangkap dan diadili, tapi semua orang, bahkan orang tuanya, telah mendakwanya bersalah.

Tapi Ig kemudian memiliki sepasang tanduk dan kekuatan supranatural yang dapat mengetahui masa lalu orang yang disentuhnya. Setiap orang yang ditemuinya tanpa dipaksa mengaku dosa padanya, menceritakan rahasia dan niat jelek mereka, bahkan malah seperti meminta atau menunggu persetujuan Ig supaya mereka bisa menjalankan niatnya dengan senang hati dan tanpa rasa bersalah. Apapun tanduk itu, Ig pada akhirnya menerimanya sebagai blessing-in-disguise, dan menggunakannya untuk menemukan pembunuh kekasihnya. Dan membalaskan dendamnya.

Oke, sebelum aku membeli dan membaca buku ini, aku sudah terlanjur menonton filmnya duluan.
Itu pun bukan karena sudah pernah melihat trailernya atau tahu ceritanya seperti apa, tapi semata-mata hanya karena ada foto Daniel Radcliffe bertanduk di sampul DVD-nya. Biasalah, ingin tahu perkembangan kemampuan aktingnya demi membebaskan diri dari imej Harry Potter.

Dan alasan aku membeli buku ini juga bukan karena aku suka banget filmnya. Tapi lebih karena penulisnya adalah Joe Hill. Iya, dia memang anak salah satu penulis favoritku, Stephen King, dan kurasa jalur yang ditempuhnya dengan menulis cerita horor plus absurd sedikit banyak gara-gara pengaruh ayahnya. Tapi menurut pendapatku bukan berarti ia hanya numpang beken. Sebagai penulis, ia punya gaya tersendiri.

Meskipun jalan cerita buku ini sepertinya tampak suram-kelam-gulita, dari gaya penuturannya, terutama di bagian-bagian awal saat Ig mulai menyadari efek tanduknya pada orang-orang di sekelilingnya malah menjurus kocak dan komedi. Black comedy, memang. Tapi itu yang membuatku tetap tertarik untuk terus membaca, meskipun gara-gara menonton filmnya sudah spoiled dan tidak ada kejutan lagi.

Aku juga suka novel pertama Joe Hill, Heart-Shaped Box, dan akan mencoba membaca novel atau karya-karyanya yang lain. I'm looking forward to read In the Tall Grass.

View all my reviews

Friday, August 29, 2014

Tanaman Monster

Tanaman Monster (Weird and Wicked Series, #1)Tanaman Monster by Ernita Dietjeria
My rating: 3 of 5 stars

Judul : Tanaman Monster
Penulis : Ernita Dietjeria
Penerbit : Kiddo, imprint Kepustakaan Populer Gramedia
Pertama kali terbit : Juni, 2014
Halaman : 104 halaman.

Ketika melihat buku pertama dari Weird & Wicked Series ini di display toko buku, kupikir ilustrasi sampul depannya terasa menyeramkan untuk buku cerita anak-anak. Lalu aku membaca sinopsis di sampul belakangnya: 

Tonit bangga sekali saat menemukan tanaman berkantung di hutan. Apalagi saat tahu tanaman  itu tanaman pemakan daging langka yang bisa dijual dengan harga mahal.

Tonit sudah membayangkan bisa memberikan uang hasil penjualan tanaman itu kepada ibunya. "Supaya Ibu tidak usah lelah bekerja lagi," pikir Tonit yang kasihan melihat ibunya harus bekerja keras sejak ayahnya meninggal dunia.

Akan tetapi, tanaman itu mulai tak puas dengan serangga-serangga yang ia berikan sebagai makanannya. Lalu, kucing kakaknya menghilang meninggalkan tetesan darah di dekat pot dan tanaman itu menjadi besaaar dan meraaaaah!! Tonit mulai merasa cemas...

Baru membaca sinopsis bukunya saja, aku langsung mencap serial ini sebagai Goosebumps versi Indonesia. Dan setelah membeli dan membaca bukunya, tuduhanku terbukti benar adanya.

Ciri-cirinya jelas. Pertama, tokoh utamanya masih anak-anak. Kedua, ceritanya dibangun dengan aroma misteri dan horor. Ketiga, twist ending yang menggantung dan mengejutkan.

Tonit mendapat tugas sekolah untuk membawa dan mempresentasikan tanaman unik di kelas, dan tanpa sengaja menemukan tanaman kantong semar atau kantong monyet di hutan. Tanaman ini merupakan tanaman karnivora yang umumnya mengkonsumsi serangga, tapi bisa juga hewan kecil seperti katak, kadal, bahkan tikus. Beginilah penampakannya:


Dalam presentasi di depan kelas, rupa-rupanya tanaman pilihan Tonit memang yang paling unik, mengingat anak lain membawa tanaman yang lumayan umum, seperti cabe rawit atau kaktus. Tapi jangan salah, di sinilah penulis menyelipkan pelajaran ilmu pengetahuan alam bagi pembaca, karena tanaman lain pun mendapat kesempatan untuk dijelaskan dalam beberapa paragraf.

Selesai presentasi, Tonit tetap memelihara si kantong monyet dengan tujuan menjualnya dengan harga tinggi suatu saat nanti. Dan cerita seram pun dibuka sedikit demi sedikit. Dalam usahanya memelihara kantong monyet itu, Tonit diganggu oleh kakaknya Tania dan kucing kesayangan sang kakak, Hercules. Tania bahkan pernah tega menuangkan soda ke dalam kantong si tanaman, dan membuat tanaman itu layu. Tapi... ada tapinya, si kantong monyet bisa mendadak sembuh dan segar setelah tanpa sengaja mendapatkan beberapa tetes darah Hercules!

Demi kesehatan dan kesegaran tanaman peliharaannya, Tonit rela menyisihkan daging lauk makannya, sampai kelaparan segala. Tapi ketika Hercules hilang dan si kantong monyet bertambah besar dan merah, horor pun dimulai...

Pertanyaannya adalah: 
- Apakah Tonit berhasil menjual si kantong semar dengan harga mahal? 
- Apakah si kantong semar yang semakin besar dan lapar akhirnya mengincar mangsa yang lebih besar... tuannya sendiri, misalnya? 
- Apakah kerakusan tanaman bisa menular pada manusia?

Bacaan ringan yang cukup menghibur. Ceritanya sederhana, pendek, dan bisa dibaca sekali duduk waktu sarapan pagi sebelum berangkat ke kantor. Persisnya ini yang kulakukan, dengan catatan sarapannya cuma secangkir kopi instan.

Oh iya, buku ini kubeli, kubaca, dan kureview dalam rangka berpartisipasi dalam event posting bareng BBI tema Buku Baru Indonesia 2014.



Sunday, March 2, 2014

ParaNorman

ParaNormanParaNorman by Elizabeth Cody Kimmel
My rating: 4 of 5 stars

Apa yang akan kaulakukan apabila dapat melihat hantu dan berkomunikasi dua arah dengan mereka? Pura-pura tidak lihat? Atau berusaha mendengarkan dan menindaklanjuti curhat mereka sehingga jiwa mereka bisa benar-benar rest in peace?

Di Blithe Hollow, hiduplah seorang anak bernama Norman Babcock yang memiliki kelebihan seperti itu, bahkan yang bisa ia lihat dan berkomunikasi dengannya bukan hanya hantu manusia, tapi juga hantu binatang. Mending kalau jumlah yang harus dihadapi sedikit, ini sih banyak... dan hantu manusia lebih merepotkan karena cerewet dan tidak mau antri. Untung Norman hidup di kota kecil, bagaimana kalau hidup di kota besar di mana orang bisa mati setiap menitnya?

Tapi selain para hantu yang membutuhkan perhatian Norman, hampir tidak ada yang mengapresiasi kelebihan Norman. Yang ada ia kerap dikerjai di sekolah, terutama oleh Alvin Si Tukang Gencet, dan dipandang sebagai calon penghuni rumah sakit jiwa oleh... hampir seluruh penduduk kota, sebenarnya. Siapa sih, yang mau percaya kalau ada anak kecil yang mengaku bisa ngobrol dengan orang yang sudah mati? Tidak ada Bruce Willis di Blithe Hollow.

Sampai suatu ketika, Norman tiba-tiba mendapat "warisan" tugas dari paman buyutnya, yang ternyata memiliki kelebihan yang sama dengannya dan dianggap gila juga oleh seluruh penduduk kota, untuk mencegah kebangkitan penyihir terkenal Blithe Hollow. Tiga ratus tahun lalu seorang penyihir dieksekusi oleh tujuh hakim Blithe Hollow dan mengutuk para eksekutornya agar bangkit dari kubur sebagai mayat hidup, setiap tahun pada hari eksekusinya. Selama lima puluh tahun terakhir itu menjadi tugas si paman buyut, apa daya tahun ini ia meninggal dunia sehingga tugas tersebut harus jatuh ke tangan penerusnya.

Bisakah Norman menunaikan tugas mahaberat itu?

Meskipun premisnya horor, sebenarnya ini buku komedi horor, jadi kalau menurutku sih nggak ada seram-seramnya. Karakter-karakternya konyol-konyol, bahkan Alvin si Tukang Gencet. Iya sih, siapapun bisa bersikap konyol kalau tahu-tahu berhadapan dengan zombie. Meskipun tidak sengaja dan tak ada yang sukarela sebenarnya, Norman tidak sendirian dalam usahanya mendamaikan kota Blithe Hollow dari hantu penyihir dan para zombie. Selain Alvin, ia dibantu oleh temannya Neil dan kakak Neil, Mitch. Tidak lupa pula kakak perempuan Norman, Courtney, yang ngotot ikut dalam misi Norman demi menggaet Mitch, yang disebutnya Cowok Cakep Berhanduk.

Oya, novel ini merupakan novelisasi dari naskah film animasi stop-motion yang pertama kali tayang pada musim panas tahun 2012 lalu. Ratingnya cukup bagus di IMDb dan Rotten Tomatoes. Selain sukses di box-office, filmnya juga masuk nominasi Academy Award untuk kategori Best Animated Picture.


That's all, folks.

View all my reviews

Thursday, February 20, 2014

I See Dead People

The Screaming Staircase - Undakan MenjeritThe Screaming Staircase - Undakan Menjerit by Jonathan Stroud
My rating: 5 of 5 stars

Jonathan Stroud did it again!!!

Setelah serial Bartimaeus, belum ada terjemahan karya Jonathan Stroud lain yang mampu membuatku terpaksa memberikan ponten lima dari lima. Heroes of the Valley oke juga sih, tapi waktu membaca novel The Last Siege entah mengapa malah teringat Petualangan di Puri Rajawali-nya Enid Blyton, sementara  The Leap… eh, ceritanya tentang apa ya? Bahkan ingatan tentang isi ceritanya saja sudah melompat keluar dari ingatanku. Mungkin di benakku buku terakhir itu terlanjur masuk ke dalam loci just so-so story

Lantas, tahu-tahu saja aku menemukan terjemahan buku baru Stroud di rak toko buku online pada bulan Januari 2014, tanpa pernah menyadari kehadirannya ke dunia saat pertama kali terbit *lebay*, padahal biasanya sebelum keluar versi terjemahannya, minimal aku sudah mengunduh versi ebooknya dulu (yang bisa jadi langsung dibaca, tapi bisa juga hanya menambah timbunan file ebook). Judulnya Screaming Staircase alias Undakan Menjerit, dan merupakan seri pertama dari Lockwood & Co. Sip, berarti ini pasti ada sekuelnya, dan… seharusnya sih kalau seri pasti seru.

Tentu saja, aku tidak menunggu sampai bukunya dipajang di lapak diskonan, langsung mengklik “add-to-cart”, walaupun begitu bukunya datang sempat terlantar seminggu sebelum kubuka. Untuk buku nonkomik, itu sudah bagus, karena buku lain umumnya tertimbun berbulan-bulan.

Oke, lantas, bagaimana posisi Undakan Menjerit ini di antara karya-karya Stroud?


Menurut pendapatku pribadi, buku ini kuletakkan di posisi yang setara dengan serial Barty. Di sini tidak ada jin super narsis sih, tapi ada banyak stok makhluk supranatural yang bisa membuat kita merasa sedang menonton film-filmnya James Wan.  Dan seperti halnya serial Barty yang settingnya Inggris alternatif di mana penyihir berkuasa (bukan bersembunyi dari para Muggle) dan makhlus halus bisa dipanggil dari dunia lain, pada seri Lockwood & Co ini settingnya Inggris alternatif di mana pemburu hantu merupakan profesi yang lazim, dan hantu gentayangan menjadi wabah yang melanda seluruh negeri selama lima puluh tahun terakhir.

Pemburu hantu sendiri pada umumnya terdiri dari anak-anak dan remaja yang memiliki bakat cenayang yang bisa merasakan, melihat, atau mendengarkan hantu. Sedangkan mantan pemburu hantu yang sudah dewasa yang sudah kehilangan kemampuan biasanya menjadi supervisor yang mengatur dan mengarahkan para cenayang cilik itu berdasarkan pengalaman. Semua aktivitas para pemburu hantu itu sendiri berada di bawah pengawasan lembaga pemerintah, DEPRAC.

Anthony Lockwood mendirikan Lockwood & Co tanpa mengindahkan kelaziman yang berlaku, karena bergerak tanpa bimbingan orang dewasa. Dalam menjalankan usahanya, ia dibantu oleh George Cubbins dan Lucy Carlyle. Interaksi sehari-hari maupun dalam pekerjaan di antara tiga remaja dengan sifat dan kepribadian yang berbeda ini asyik untuk diikuti.

Ceritanya sendiri dimulai dengan kasus standar dari klien yang mengira suaminya yang belum lama tewas karena jatuh dari tangga menghantui rumahnya. Namun ternyata Lockwood dan Lucy yang menangani kasus itu mendapati kasusnya tidak sesederhana itu. Lawan yang harus dihadapi bukanlah hantu suami si nyonya rumah, tapi justru hantu yang telah menyebabkannya si suami tewas. Hantu yang dihadapi bukan hantu tipe satu yang tidak berbahaya, melainkan hantu tipe dua, yang bisa melakukan kontak fisik, dan jelas berbahaya. Meskipun pada akhirnya Lockwood dan Lucy berhasil menangani si hantu karena menemukan dan mengamankan Sumber alias penyebab utama gentayangannya si hantu, kurangnya persiapan membuat rumah yang seharusnya mereka bersihkan malah kebakaran. Ujung-ujungnya, Lockwood & Co malah dituntut untuk membayar ganti rugi dari si pemilik rumah.

Pucuk dicinta ulam tiba, saat sedang sibuk memikirkan strategi bagaimana caranya mendapat kasus besar yang bisa menutupi tuntutan ganti rugi yang bikin bangkrut itu, datang tawaran untuk membersihkan rumah berhantu terkenal yang pernah menewaskan beberapa pemburu hantu dari agensi besar. Berbahaya? Pasti. Tapi demi kelangsungan usaha yang sudah berada di ujung tanduk, Lockwood & Co pun menerima tawaran itu.

Pace buku ini agak lambat, tapi sebenarnya sangat cocok untuk buku bertipe horor yang kelam gelap mencekam begini. Pembaca digiring pelan-pelan untuk mengikuti setiap langkah para tokoh yang tengah menyelidiki ruangan demi ruangan, lalu dihadapkan pada sosok misterius yang dideskripsikan begitu detil sampai membuat merinding. Manusia yang berhadapan dengan hantu berkekuatan tertentu bisa terpaku, mengalami kuncian-hantu (ini sama dengan ketindihan, sepertinya) sehingga nyaris tak bisa melawan saat diserang. Dan pembaca pun dibuat terkunci dan tak sanggup meletakkan buku... kecuali yang karena saking seramnya malah memilih untuk sekip saja, barangkali. Untungnya aku membaca buku ini pada sore hari menjelang magrib, jadi tidak terlalu horor deh :)

Eksorsisme yang digambarkan oleh Stroud di novel ini sangat teknis, sama sekali tidak ada unsur reliji, dengan doa-doa dalam bahasa latin ataupun arab seperti yang biasa muncul di film-film horor Hollywood maupun Indonesia. Peralatan utama pemburu hantu umumnya terbuat dari besi, bisa berupa pedang rapier untuk menyerang atau rantai atau bubuk besi untuk dijadikan perisai. Tapi yang bisa mengembalikan para hantu ke alam lain biasanya bila sumber gentayangannya ditemukan, karena ada saja hal yang mengikat para roh dengan dunia fana. Kalau untuk alat penyucian roh, dipikir-pikir sepertinya manga Rinne-nya Rumiko Takahashi jauh lebih kreatif sih, dari alat yang murah-meriah sampai alat yang harganya paling bikin bokek semua ada :)

Hingga akhir novel, di luar cerita utama, masih banyak kisah yang belum terungkap. Di buku satu ini kita dibuat mengetahui masa lalu Lucy Carlyle, tapi bagaimana dengan Lockwood dan George? Sepertinya latar belakang dan asal-usul mereka juga menarik untuk dinanti pengungkapannya. Yah, kita tunggu saja buku selanjutnya.

View all my reviews

Sunday, August 5, 2012

To Cure Mr. Darcy

Pride and Prejudice and Zombies: Dreadfully Ever AfterPride and Prejudice and Zombies: Dreadfully Ever After by Steve Hockensmith
My rating: 3 of 5 stars


What's in your head,
In your head,
Zombie, zombie, zombie?
- The Cranberries -

This is a story of Mr. Darcy and Lizzy, again!

Sebagian fans Pride and Prejudice menganggap perlu ada lanjutan kisah cinta antara Mr. Fitzwilliam Darcy dan Elizabeth Bennet, sehingga muncul ribuan fanfic dengan berbagai versi, sebagian malah sudah diterbitkan secara resmi. Tapi, apakah novel parodi Pride and Prejudice and Zombies perlu ada sekuelnya? Yah, sepertinya penerbitnya menganggap perlu (sangat mungkin karena faktor bestseller PPZ) untuk menerbitkan sekuel (dan prekuel), meskipun yang menulis ceritanya tidak lagi Seth Grahame-Smith melainkan Steve Hockensmith.

Novel Dreadfully Ever After mengambil setting empat tahun setelah Mr. Darcy dan Lizzy menikah di akhir novel PPZ, dan diawali dengan kejadian mengejutkan: Mr. Darcy, the Great Zombie Slayer, tergigit oleh satu zombie cilik karena kelengahannya!

Menurut primbon perzombian, pertolongan pertama yang harus dilakukan kalau kita kena gigit zombie adalah seperti ini:


Yap, amputasi bagian yang terinfeksi sebelum virus menyebar. Tapi karena Mr. Darcy kena gigit di leher... well... Kalau Lizzy tega memenggal leher suaminya, cerita tentu langsung berakhir di sana. Maka, tema utama novel ini adalah bagaimana cara menyembuhkan Mr. Darcy dari zombimisasi. Demi Mr. Darcy, Lizzy menelan harga diri dan meminta bantuan dari si Tante Lampir, Lady Catherine the Great, yang pernah sukses memperlambat proses zombimisasi Charlotte di PPZ. Tapi memperlambat saja tentu percuma, maka Lizzy pun berkelana ke London untuk mendapatkan vaksin zombie yang sedang dikembangkan.

Membaca novel ini, minimal kita jadi tahu:

1. Bagaimana rasanya kalau kita secara perlahan-lahan berubah dari manusia biasa menjadi zombie. Salah satunya, kita akan selalu merasa lapar. Selama beberapa hari pertama, Mr. Darcy bermimpi jadi serigala
yang memakan manusia hidup-hidup, atau manusia yang memakan serigala hidup-hidup, atau manusia yang memakan... you get the point-lah.

2. Balap Zombie diadakan di Ascot. Supaya mereka mau balapan, seorang Irlandia diumpankan dan harus lari di depan zombie balap sampai garis finish. Tapi bisa saja ada zombie yang tidak fokus, dan lebih tertarik menyerang penonton di balik pagar lintasan.


3. Zombie adalah unmentionables. Jadi kita tidak boleh menyebutnya zombie. Untuk kesopanan, kita dapat menyebutnya Zed-word, atau Zed-dash-dash-dash-dash-dash.

4. Raja Inggris juga bisa terinfeksi zombie. itu sebabnya pengembangan vaksin zombie dilakukan.

For your consideration:



View all my reviews