Monday, March 9, 2020

2020 Second Book Haul!

Pernyataan Resolusi 2020:
- Aku akan lebih banyak baca buku digital ketimbang buku fisik
- Aku akan mengurangi belanja buku fisik karena terbatasnya space perpustakaan pribadi
- Aku akan menghabiskan timbunan buku fisik yang tercatat di rak to-read Goodreads

Kenyataannya:
- Iya sih, sudah menahan diri belanja buku di toko buku offline, tapi beli komik secara online jalan terus tiap minggu... belum kalau tetiba pingin beli komik Program Beli-Ulang-Baca-Ulang
- Resolusi berlaku buat pameran/bazaar rutin seperti IIBF/Islamic Book Fair/dll yang sukses kuhindari, tapi... tidak berlaku untuk Big Bad Wolf!!!

Begini... tiap tahun aku wajib rutin menyambangi event ini, obral buku impor dengan jumlah dan variasi buku seabrek, jadi tentu saja tak mungkin kulewatkan... meski sembari dag-dig-dug bakal sebanyak apa buku yang bakal kubawa pulang, dan ujung-ujungnya menambah timbunan to-read yang sebenarnya baru saja kuturunkan ke bawah 40 buku...

Nah, untuk event tahun ini, aku khusus mengambil cuti di hari Jumat tanggal 6 Maret kemarin, supaya tidak perlu bergadang buat belanja tengah malam lagi seperti 2 tahun terakhir ini. Dan alhamdulillah... sepertinya aku cukup sukses menahan diri, karena belanjaanku tidak lebih dari 1 troli dan tidak lebih dari 2x UMR seperti dahulu...

Tapi... sudah tentu timbunanku jadi bertambah jadi dua kali lipat, jadi naik ke kisaran 90-an buku lagi! Duh. Ya sudah, seperti biasa motto lama tetap berlaku: lebih baik menyesal membeli daripada menyesal tidak membeli.

Jadi, buku-buku apa yang kemarin akhirnya kucomot dan kubawa pulang setelah berputar-putar di Hall 6 - 10 ICE BSD selama kurang lebih 5 jam?

Hardcover Edition

Khusus yang edisi hardcover, lumayan banyak juga ternyata. Bervariasi antara buku fiksi dan nonfiksi, komik dan nonkomik. Yang harganya ngajak nangis tentu saja komik Omnibus Marvel The Stand-nya Stephen King (yang sama mahalnya dengan komik Omnibus Marvel The Dark Tower-nya Stephen King yang kubeli di BBW tahun lalu). Lalu... nggak sengaja nemu komik Civil War-nya Mark Millar dong. Akhirnya punya juga hardcopy-nya selain versi novelnya Stuart Moore. Biasanya kalaupun nemu di Kinokuniya, sayang saja kalau beli dengan harga asli. Ensiklopedia Star Wars terbitan DK juga kudapat tidak sengaja, waktu sedang mencari buku-buku terbitan DK titipan teman.

Softcover Edition

Seperti biasa kalau ada event seperti ini, belanjaanku memang random dan seketemunya saja, buku apapun yang "sepertinya menarik". Jadi tidak ada acara frustrasi kalau ternyata tidak menemukan buku yang ingin dibeli dengan harga banting di BBW. Buku ensiklopedi? Oke. Buku sejarah? Oke. Buku Dilbert? Oke. Novel Star Wars? Sip. Biografi Robert Downey Jr.? OKE BANGET!!!

Buku serial
Kalaupun ada buku yang diniatkan untuk dicari dan dibeli, biasanya sudah dapat bocoran dari teman-teman yang LPM pada saat presale di dua hari sebelumnya bahwa buku-buku ini tersedia. Misalnya boxset Adventure-nya Enid Blyton (padahal sudah punya lengkap versi terjemahan), atau boxset Magisterium-nya Holly Black & Cassandra Clare (padahal selama ini belum tertarik untuk baca sih). Khusus serial Rivers of  London-nya Ben Aaronovitch malah baru tertarik beli setelah minggu lalu baca versi komiknya, padahal di BBW tahun-tahun sebelumnya selalu kucuekin, dan wajar saja sih kalau cuma nemu 4 buku, tanpa buku ke-4 dan ke-5. Santuy aja sih, sisanya bisa dibeli online. Belum tentu juga sih besok-besok langsung kubaca juga...

Ruckus Books

Jarahan terakhirku adalah 2 buku unik ini, yang fungsi sebenarnya lebih untuk dipajang daripada dibaca, itu pun tanpa niat untuk dicari dan dibeli. Namun mengingat aku sudah punya buku Whiskey, ya sudahlah kuembat juga meski tidak jelas di lemari mana bakal kupajang nanti. Lemari perpustakaan sudah luber, Bos!

Hm... sepertinya laporan (curcol) belanja buku di BBW 2020 cukup sekian saja. Niatnya sih aku tidak mau balik lagi ke sana, supaya tidak tergoda untuk belanja dan menambah timbunan lagi.

Sekarang... targetku adalah membaca semuanya di tahun ini. Kalau sempat. Kalau mood. Kalau tidak malas. Kalau tidak sok sibuk kerja. Kalau tidak terjerumus membaca fanfiction di ao3 melulu. Kalau...

Kalau sampai waktuku...










Thursday, February 13, 2020

Djoeroe Masak: Jenang Bukan Dodol

Judul : Djoeroe Masak: Jenang Bukan Dodol

Penulis : Dyah Prameswarie

Penerbit : Metamind, imprint Tiga Serangkai

Terbit : November 2018 (Cetakan Pertama)

Tebal : 148 halaman

Dibaca di : Aplikasi ipusnas

Dibaca tanggal : 13 Februari 2020

Sinopsis :
Kegagalan membuka restoran menjadi alasan mengapa. Aidan terbang ke Yogya untuk belajar membuat jajanan tradisional. Aidan, lulusan sekolah kuliner luar negeri, dianggap chef gagal yang tak tahu kuliner negaranya sendiri. Namun, siapa sangka kesempatan tersebut adalah awal Aidan bertemu Sedayu, wanita penjual jenang di Pasar Ngasem.

Inilah awal pasangan tersebut dipertemukan. Awal dari kisah Aidan dan Sedayu menjadi pasangan djoeroe masak.


Review singkat :

Mengapa aku memilih buku ini untuk salah satu bacaanku di bulan Februari?

Pertama: jelas tema bukunya. 
Karena memang sengaja mencari buku bertema makanan, dari yang jenis buku kesehatan sampai buku resep, baik di aplikasi Gramedia Digital, ipusnas, maupun di sumber lainnya, akhirnya pilihanku jatuh pada buku ini.

Kedua: warna sampul bukunya
Warna favoritku, gitu lho. Merah cabe ngejreng yang sungguh menimbulkan nafsu makan. Iya, seperti gambar tema blog ini, aku suka makanan yang pedas-pedas, dan di benakku, merah analoginya pedas.

Ketiga: judul bukunya.
Meskipun aku penderita Capsaicin Addict kronis yang selalu gagal tobat, aku juga suka kok mengudap cemilan tradisional, termasuk jenang dan dodol (bukan sinonim kata buku ini), walau seiring bertambahnya usia dan pola makan yang cenderung mengurangi asupan gula, kalau bisa rasanya tidak manis-manis amat.

Keempat : ketebalan bukunya.
Fiksi kuliner berbumbu roman ini tergolong tipis banget buat standar bacaanku. Bisa dibilang cemilan juga sih, meski tidak setipis dan seringan komik Amerika yang jadi andalanku mengembalikan mood kalau semangat baca mulai kedodoran. Kisah fiksinya cuma sampai halaman 99 sih, sisanya resep jajanan tradisional yang disebut-sebut dalam cerita.

Kelima : jalan ceritanya.
Ringan banget, serasa membaca manga kuliner one-shot. Aneka jajanan tradisional yang bikin ngeces bertebaran, dibalut sedikit roman picisan, plus backstabbing story, ditambah cooking battle. Yang bikin beda cuma di cooking battle-nya yang kurang menegangkan dan tidak ada efek samping berlebihan yang terjadi pada juri pencicip makanan.

Keenam : ilustrasinya.
Khususnya di bagian resep di belakang buku. Jadi kepingin makan nagasari, rujak serut, mi godhog, dan klepon... Iyaaa, aku kok nggak terlalu minat sama jenangnya...

Ketujuh : memenuhi target Reading Challenge Goodreads Indonesia bulan Februari.
Buku tentang makanan. Omong-omong, sepertinya ini buku fiksi bertema kuliner Indonesia pertama yang kubaca setelah Aruna dan Lidahnya.








Tuesday, February 4, 2020

Lost Stars

Judul : Lost Stars

Penulis : Claudia Gray

Penerbit : Disney Lucasfilm Press

Tebal : 551 halaman

Selesai dibaca tanggal : 1 Februari 2020

Sinopsis :
A long time ago in a galaxy far, far away…

Eight years after the fall of the Old Republic, the Galactic Empire now reigns over the known galaxy. Resistance to the Empire has been all but silenced. Only a few courageous leaders such as Bail Organa of Alderaan still dare to openly oppose Emperor Palpatine.

After years of defiance, the many worlds at the edge of the Outer Rim have surrendered. With each planet’s conquest, the Empire’s might grows stronger.

The latest to fall under the Emperor’s control is the isolated mountain planet Jelucan, whose citizens hope for a more prosperous future even as the Imperial Starfleet gathers overhead…

Review :

Buku ini kubaca karena John Campea, salah seorang movie pundit yang kanal youtube-nya rutin kusambangi setiap hari, sudah berulang kali merekomendasikannya sebagai salah satu novel Star Wars terbaik yang pernah ia baca, meskipun genrenya yang tergolong Young Adult Romance, yang bukan genre favoritnya. Jujur saja, meskipun aku terkadang terjebak ketagihan membaca genre Romance, genre Young Adult juga bukan my cup of tea. Lebih sering tidak cocoknya daripada cocoknya.

Jadi... sama halnya dengan John Campea, aku ternyata menyukai buku ini. Cukup untuk memberi ponten really like it ala Goodreads:



Oke, yuk kita bahas sedikit alasan mengapa aku suka buku ini...

1. Movie tie-in

Yap. Aku memang hobi membaca dan mengoleksi buku-buku yang masih terkait film, meskipun bisa jadi kadang-kadang aku tidak suka versi filmnya. Nah, khusus buku ini, ada kaitannya dengan film tapi secara harfiah, ini bukan buku yang diadaptasi menjadi film, atau buku yang diadaptasi dari naskah film sih.

Tepatnya, cerita dalam buku ini mengambil setting dan latar belakang film Star Wars Original Trilogy, alias Episode IV s/d VI, alias dari periode  Battle of Yavin sampai Battle of Endor, hanya saja dari sudut pandang mereka yang selama ini mungkin sama sekali tidak kita pikirkan dan pedulikan nasibnya sepanjang trilogi: para "figuran" dari sisi Imperial maupun Rebellion.


2. Karakter Utama

Kuatnya karakterisasi tokoh utama buku ini, Ciena Ree dan Thane Kyrell, cukup kuat hingga pembaca cukup peduli dengan nasib mereka, dan dapat memahami sudut pandang masing-masing dalam menyikapi suatu peristiwa.

Meskipun bersahabat sejak kecil, sama-sama berasal dari Planet Jelucan, salah satu planet gugus terluar yang dianeksasi Imperial setelah kehancuran Old Republic, meskipun punya cita-cita yang sama yaitu masuk akademi Imperial untuk menjadi perwira di Imperial Starfleet, Ciena dan Thane memiliki prinsip dan motivasi yang berbeda.

Berasal dari golongan bawah Jelucan yang sangat mementingkan nilai-nilai kesetiaan dan kehormatan, Ciena memiliki prinsip untuk tidak melanggar sumpah dan loyalitasnya kepada Empire.

Berasal dari keluarga kaya terpandang namun tanpa kasih sayang keluarga, motivasi Thane menjadi perwira Starfleet adalah untuk melepaskan diri dari keluarganya, dan ia lebih pragmatis dan logis dalam hal loyalitasnya.

Bagaimana sikap mereka menghadapi kenyataan bahwa Empire tega menghancurkan Planet Alderaan dan milyaran penduduknya sebagai contoh bagi pihak Rebellion? Bagaimana pendapat mereka atas pihak Rebellion yang membalasnya dengan menghancurkan stasiun angkasa Death Star beserta jutaan penghuninya?


3. Plot

Plotnya standar saja sih... cinta di antara dua insan yang berbeda kubu yang berseberangan dalam perang bintang. Namun demikian, aku tidak menggolongkannya sebagai kisah cinta ala Romeo dan Juliet. Mengapa? Jelas karena penghalang utama cinta mereka tidak sepenuhnya dipaksakan pihak luar, melainkan akibat perbedaan prinsip yang membuat mereka mengambil pilihan dan keputusan yang berbeda meskipun sadar akan konsekuensinya, di mana mereka akan berada di pihak yang berseberangan. 

Konflik yang muncul karena perbedaan prinsip itulah yang menjadi plot driver cerita, dan bahkan  lebih menonjol dibandingkan kisah cintanya sendiri. Konflik malah sudah dimulai sejak awal mereka meniti karier di Akademi Militer, di mana setiap murid diuji kesetiaannya terhadap Empire untuk memastikan mereka menempatkan kepentingan Empire di atas segalanya, baik planet asal, hubungan keluarga, hubungan pertemanan, apalagi cinta.

Setelah yang satu tetap loyal pada Empire sedangkan yang satunya beralih ke pihak Rebellion meskipun sekadar the lesser of two evils? Sudah jelas semakin banyak konflik dan dilema yang akan dihadapi. Apakah cinta akan mengalahkan segalanya?


4. Cameo

Tentu saja cameo dari Star Wars Original Trilogy wajib ada untuk memastikan posisi setiap adegan dan bab kisah dalam buku ini di cerita utama. Mulai dari Grand Moff Tarkin yang muncul saat aneksasi Planet Jelucan menjadi bagian dari Empire, Senator Junior dari Alderaan Leia Organa yang muncul di pesta yang diadakan di Planet Coruscant, Wedge Antilles yang merekrut Thane setelah ia menjadi desertir pengembara, Darth Vader dan TIE-fighter-nya yang harus diselamatkan setelah hancurnya Death Star, atau Lando Calrissian yang menjadi komandan Thane saat Rebellion menghancurkan Death Star ver. 2.

Bagaimana dengan Luke Skywalker dan Han Solo? Karena para karakter buku ini tidak ada yang pernah berhadapan langsung atau melihat sosok mereka dengan mata kepala sendiri, status mereka di buku ini hanya "terdengar", dan seringkali malah tokoh buku ini tidak menganggap mereka penting-penting amat. Yah, tapi masih mending sih ketimbang Chewbacca, C3PO atau R2D2 yang keberadaannya tidak relevan dalam konteks buku ini.


5. Ending

Mengapa? Karena realistis.



P.S.
Sudah itu saja dulu ya. Setelah lama vakum menulis review, sepertinya masih belum terbiasa membuat komentar panjang-panjang. Lagipula, kalau komentarnya panjang biasanya aku terpeleset ke ranah spoiler sih.

P.P.S.
Khusus untuk buku ini, sepertinya kalau pembaca review ini sudah tahu jalan cerita Star Wars Original Trilogy, tidak perlu kuspoiler juga sudah tahu siapa yang menang antara pihak Empire dan Rebellion pada Battle of Endor di film Return of the Jedi.














Tuesday, January 28, 2020

2020 First Book Haul!

Pernyataannya:

Ternyata puasa belanja buku nonkomik di bulan Januari 2020 ini hanya bisa bertahan 24 hari.

Pertanyaannya:

Q: Puasa belanja buku? Yang benar?
A: Memang nggak ada niat puasa sih... cuma belum kepingin beli buku nonkomik aja.

Q: Apa alasannya?
A: Kan perpus pribadi sudah overload, jadi kalau bisa jangan tambah buku du--

Q: Lho, kemarin-kemarin masih beli komik di toko buku online, kan?
A: Yang diomongin kan buku nonkomik, kalau komik memang rutin beli mingguan, sekali beli pun paling cuma 4-5 bu--

Q: Yang benar? Terus kemarin beli manga online serial Q.E.D. jilid 1-50 dan C.M.B. jilid 1-38-nya Motohiro Katou itu apa?
A: ... Itu lain, itu proyek BUBU untuk koleksi komik yang dulu dilego maling...

Q: Terus itu komik mau disimpan di mana? Katanya perpustakaan pribadi sudah overload?
A: ...

Kenyataannya:

Entah kenapa belakangan ini aku memang sedang malas saja beli buku nonkomik, baik fiksi maupun nonfiksi. Untuk buku-buku ini aku sudah terbiasa lebih banyak membaca versi ebook di ponsel atau laptop, bahkan punya buku fisik pun yang dibaca seringnya malah versi ebooknya. Sumbernya bisa berasal dari mana saja, baik dari Gramedia Digital Premium, aplikasi ipusnas, ataupun sumber-sumber lain yang tidak bisa kusebutkan di sini. Kunjungan ke pameran dan bazaar buku juga sudah amat sangat kukurangi, IIBF 2019 kemarin saja lewat. Terakhir beli buku fisik nonkomik banyak cuma waktu BBW Jakarta 2019 (itu pun sudah jauh berkurang dibanding tahun-tahun sebelumnya). Alasannya ya itu, ruang perpustakaan pribadi yang terbatas. Mau beli buku baru? Eits, keluarkan dulu dong buku yang sepertinya tidak bakal dibaca (lagi).

Tapi ya itu... Seringnya aturan terbaru itu tidak berlaku sih buat Proyek Beli-Ulang-Baca-Ulang kategori koleksi komik hilang yang ingin kubeli dan kubaca lagi. Padahal lebih makan tempat ketimbang buku fisik. Bah!

Semula kukira bulan Januari ini bisa lewat tanpa sempat membeli buku fisik nonkomik satu pun. Nasib berkata lain. Ceritanya hari Sabtu kemarin pas Imlek, aku akhirnya menonton film di bioskop untuk pertama kalinya di tahun 2020, back-to-back pula: Dolittle/1917/Bad Boys for Life di Cinepolis Plaza Semanggi. Usai nonton film terakhir, aku turun ke basement buat belanja sedikit di Foodmart. Seperti biasa, aku mampir ke lapak Books & Beyond di seberang Foodmart. Biasanya aku menemukan satu-dua buku yang sepertinya menarik. Ternyata kali ini yang menurutku cukup menarik ada lumayan banyak.

Dan hasilnya... eng-ing-eng... ~drum rolls~...

Rekor Book Haul paling sedikit, cuma 10 buku!

Yap, book hoarder kambuhan sepertiku memang susah menahan diri, apalagi kalau menemukan buku yang dijual dengan harga banting. Ada buku ensiklopedi anak-anak dari DK Publishing cuma 70k! Ada buku hardcover Michael Lewis cuma 60k! Ada buku Patrick Ness (sudah baca versi ebook) cuma 40k! Ada buku jilid 0,5 dan 3,5 serial His Dark Materials-nya Philip Pullman (entah kebetulan atau bagaimana pagi sebelum berangkat nonton aku baru baca versi ebook kedua buku ini!) masing-masing cuma 30k! Dan... ada juga buku Lords of the Sith-nya Star Wars yang sudah lama kucari ebooknya tapi belum dapat juga! Duh... semuanya godaan yang tak bisa ditolak. Jadi... pecah deh telor beli buku nonkomik di tanggal 25 Januari 2020. Ya sudahlah, terima nasib dan jalani hidup sesuai motto:


Lebih baik menyesal membeli, daripada 
menyesal tidak membeli



Laporan selesai.



Will My Cat Eat My Eyeballs?

Judul : Will My Cat Eat My Eyeballs? Big Questions from Tiny Mortals About Death

Penulis : Caitlin Doughty

Penerbit : W.W. Norton Company

Tebal : 222 halaman

Penghargaan : Goodreads Choice Award for Science and Technology (2019)

Dibaca tanggal : 25 Januari 2020

Sinopsis :
Best-selling author and mortician Caitlin Doughty answers real questions from kids about death, dead bodies, and decomposition.

Every day, funeral director Caitlin Doughty receives dozens of questions about death. What would happen to an astronaut’s body if it were pushed out of a space shuttle? Do people poop when they die? Can Grandma have a Viking funeral?

In Will My Cat Eat My Eyeballs?, Doughty blends her mortician’s knowledge of the body and the intriguing history behind common misconceptions about corpses to offer factual, hilarious, and candid answers to thirty-five distinctive questions posed by her youngest fans. In her inimitable voice, Doughty details lore and science of what happens to, and inside, our bodies after we die. Why do corpses groan? What causes bodies to turn colors during decomposition? And why do hair and nails appear longer after death? Readers will learn the best soil for mummifying your body, whether you can preserve your best friend’s skull as a keepsake, and what happens when you die on a plane. Beautifully illustrated by Dianné Ruz, Will My Cat Eat My Eyeballs? shows us that death is science and art, and only by asking questions can we begin to embrace it.

Review singkat :

Judul bukunya bikin penasaran.

Itu alasan aku memilih untuk membaca buku ini duluan dalam rangka memenuhi tantangan baca Goodreads Indonesia bulan Januari 2020, padahal ada banyak buku yang mendapatkan penghargaan di tahun 2019. The Institute-nya Stephen King saja kutunda bacanya, bisa jadi kapan-kapan kalau sudah punya buku fisiknya. The Calculating Stars-nya Mary Robinette Kowal juga kutunda bacanya, padahal pemenang Hugo Award 2019 untuk kategori Best Novel.

Buku ini ditujukan bagi future corpses of all ages, jadi aku yang sisa usianya sudah semakin sedikit ini juga termasuk di dalamnya. Namun demikian, pertanyaannya berasal dari anak-anak dan jawaban serta pembahasannya menggunakan bahasa yang ringan dan mudah untuk dipahami anak-anak pula. Humor yang digunakan penulisnya juga asyik, sehingga pembaca tidak akan merasa jijik meskipun pembahasannya kadang-kadang memang menjijikkan secara harfiah. Ini sains gitu loh! Yang dibahas seputar kematian pula! Jadi mayat, darah, organ tubuh, kotoran dan segala macamnya tak mungkin dikecualikan dari pembicaraan.

Karena pertanyaannya berasal dari anak-anak yang rasa ingin tahunya memang besar, kadang-kadang pertanyaan nyeleneh, tapi penulis buku ini bisa menyajikan jawabannya dengan serius tapi santai, dan tetap berdasarkan fakta. Ada banyak pertanyaan lain selain yang dijadikan judul buku ini. Ingin tahu apakah kita masih bisa duduk atau berbicara (atau buang kotoran) setelah mati? Atau kenapa warna tubuh kita berubah setelah mati? Atau apakah orang kembar siam meninggal di waktu yang sama? Apakah kita boleh dikubur bersama hamster peliharaan kita? Atau apakah darah jenazah bisa digunakan untuk transfusi?

Kalau ingin tahu jawabannya, silakan baca buku ini. Recommended, dan di Goodreads kuberi bintang:




Spoiler:
Untuk judul buku ini, jawabannya YA! Terutama kalau kita cuma hidup berdua dengan si kucing peliharaan di tempat terpencil, lalu kita mati mendadak tanpa diketahui orang selama berhari-hari. Karena peran kita sebagai penyedia makanan berakhir, kucing yang kelaparan bisa makan apa saja yang ada di rumah. Termasuk bagian tubuh mayat kita... Ingat, kucing itu adalah predator, yang punya kesamaan DNA sebanyak 95,6% dengan singa.


Buku ini kubaca dan kureview dalam rangka memenuhi Tantangan Baca Goodreads Indonesia Tahun 2020 untuk bulan Januari :


City Hunter ~Rebirth~ Vol. 1

Judul : City Hunter ~Rebirth~ Vol. 1

Penulis : Sakura Nishiki, Hojo Tsukasa

Penerbit : Akasha (m&c!)

Tebal : 180 halaman

Harga : Rp. 36.000,- (Harga asli Rp. 45.000)

Dibeli di : Komik Store (tokopedia)

Diperoleh tanggal : 19 Januari 2020

Dibaca tanggal : 22 Januari 2020

Sinopsis:
Kaori Aoyama adalah seorang karyawati yang masih lajang di usia 40 tahun. Sejak remaja, pria idamannya adalah Ryo Saeba. Suatu hari, Kaori tertabrak kereta yang sedang melaju, namun saat tersadar, Kaori mendapati dirinya kembali ke sosoknya di masa SMA, dan hidup di alam komik “City Hunter” yang sangat disukainya.

Tak ada seorang pun yang bisa dimintai pertolongan oleh Kaori, dan tanpa sadar kakinya melangkah menuju papan pengumuman di Shinjuku. Harapan terakhirnya hanyalah huruf-huruf “XYZ”, kode untuk menghubungi City Hunter.

Di dunia City Hunter, Kaori memulai kehidupannya yang kedua!

Komentar singkat:

Kesimpulan pertama setelah baca buku ini: Ini bukan Rebirth, ini Recycle!

Sebagaimana bisa kita lihat di sinopsisnya, plot komik ini adalah "tokoh utama terlempar ke alam lain", yang dalam hal ini ke alam komik City Hunter. Seperti halnya Kaori Aoyama, aku juga penggemar serial komik City Hunter yang sudah baca sampai khatam berkali-kali, jadi cukup hafal jalan ceritanya. Membaca kisah Kaori yang terjebak menjadi karakter remaja di alam lain (dan lalu memakai nama samaran Saori Saiaonji) ini, jelas serasa membaca ulang komik City Hunter panel per panel, hanya saja ada tambahan karakter Saori, yang kehadirannya bisa jadi membelokkan sedikit jalan cerita tapi tidak mengubah akhir cerita.

Misalnya di jilid pertama ini, Saori sedikit banyak mempengaruhi dan mengubah jalan cerita di episode Miki vs Ryo Saeba demi cinta Umibozu. Sejauh ini, meskipun melenceng sedikit dari cerita asli, tetap saja yang unggul masih Ryo...

Membaca komik ini memang jadi serasa membaca fanfic sih, di mana kita menambahkan karakter original di jalan cerita yang sudah ada. Apakah di jilid-jilid selanjutnya Saori akan merusak cerita asli? Yah, kita tunggu saja nanti perkembangannya.

Sebenarnya, aku berharap dengan adanya Level Comics dan Akasha (yang merupakan imprint Elex Media Komputindo dan m&c! untuk komik khusus dewasa), serial komik City Hunter asli akan diterbitkan di Indonesia. Memang sih komik jadul ini pernah beredar versi tidak resminya (terbitan Rajawali Grafiti), tapi kurasa pasti ada penggemar yang ingin membeli versi terjemahan resminya. Aku misalnya, terutama karena koleksi City Hunter jadulku hilang dilego maling dan sampai sekarang belum beli ulang. Konon (berdasarkan gosip di internet), versi aslinya juga akan diterbitkan oleh Akasha. Well, ini juga kita tunggu saja benar atau tidaknya.

Wednesday, January 1, 2020

2019 Challenges Wrap Up & 2020 Challenges


Selamat Tahun Baru, Gaes...

Untuk postingan kali ini... saya tidak mau banyak beralasan lagi deh tentang menurunnya kemauan menulis apapun di blog ini. Iya, kalau sudah masuk ke golongan Lazy Blogger Stadium IV mau bagaimana lagi. Review Challenges lewat dah.

Singkat cerita, yuk langsung saja ke Laporan Pertanggungjawaban Tahun 2019:

1. Goodreads Reading Challenges


Tercapai dengan Catatan : 1215 di antaranya adalah buku komik, baik komik Amerika terbitan Marvel, DC, Image, Dark Horse atau manga, manhwa, dan segala macam buku komik lainnya. Namun demikian, itu sudah menurun kok dari tahun sebelumnya, karena buku nonkomik yang kubaca tahun ini mencapai 828 dari target 500 buku, naik dari tahun sebelumnya yang cuma 515 buku. Ada peningkatan sedikitlah.


2. New Author Reading Challenge

Tercapai 329 penulis dari target 150. Ini targetnya yang terlalu rendah atau akunya yang sering kepo buat coba-coba baca buku penulis baru sih?


3. Project Baca Buku Cetak

Rak Want-to-Read atau TBR atau timbunan buku fisik di akhir tahun 2019 ini ada 47 buku, turun dari sebelumnya 80-an buku di akhir tahun 2018. Yang cukup menggembirakan adalah aku akhirnya berhasil menyelesaikan buku-buku bantal Stormlight Archives-nya Brandon Sanderson yang jilid 1 dan 2-nya sudah terlantar bertahun-tahun. Yang kurang membanggakan adalah sekitar selusin buku romance yang sudah bertahun-tahun terlantar akhirnya aku hibahkan tanpa sempat kubaca sama sekali.

Yang jelas, angka di bawah 50 ini lumayan melegakan sih...


4. Review Challenge

.....
..........
...............
Wassalam.
Tetap gagal dengan amat sangat mengenaskan.
Cuma ada 3 postingan di blog ini, itu pun ala kadarnya, cuma salinan komentar agak panjang dari review di akun Goodreads, di mana aku sedikit gatal untuk curcol atas buku yang baru dibaca.

Apakah Review Challenge harus kuhapuskan saja?



Lalu, bagaimana dong menyikapi pencapaian tahun 2019 untuk target yang lebih realistis di tahun 2020? Yuk, kita pasang saja.



1. Goodreads Reading Challenges

Sesuai tradisi saja ya, disesuaikan dengan angka tahun.


Aku belum selesai baca satu buku pun sih di tahun 2020 pas menuliskan postingan ini. Sepanjang aku masih doyan baca komik, aku optimis target ini pasti bisa tercapai. Yang jadi pertanyaan, berapa buku nonkomik yang bisa kubaca tahun ini? Apakah target tahun lalu terlalu rendah?

Ya sudah, supaya lebih menantang, target buku nonkomik kunaikkan jadi 750 buku deh.


2. New Author Reading Challenge

Apakah target tahun lalu masih tergolong rendah? Untuk amannya, targetnya kunaikkan jadi 250 penulis baru ya.


3. Project Baca Buku Cetak

Dengan ini dilaporkan bahwa hari ini tidak ada buku timbunan di kamar kosan, yaaay!
Jelas saja karena 47 buku timbunan semuanya ada di perpuspri di Cirebon.

Untuk realistisnya, mudah-mudahan timbunan buku terlantar bisa diturunkan ke angka di bawah 30 buku tahun ini.


4. Review Challenge

Iya, iya... target review ini tetap kupertahankan deh. Minimal 12 review... Setidaknya ada harapan kalau aku mau (baca: tidak malas) mencoba Tantangan Baca Goodreads Indonesia di bawah ini:


Ini... kalau baca bukunya saja sepertinya mudah sih. Yang malas biasanya memang menulis review-nya :)


Terakhir, aku sebenarnya ingin sekali bisa menetapkan resolusi ala Ivan Lanin, yaitu membuat satu tulisan setiap hari (yang bukan kerjaan kantor, tentunya) di tahun 2020. Tapi... buat target yang realistis saja dulu saja ya.

Yuk ah, aku tinggal baca buku lagi...







Sunday, December 29, 2019

Susu dan Kesehatan Manusia: Mitos vs. Fakta

Judul : Susu dan Kesehatan Manusia: Mitos vs. Fakta

Penulis : F.G. Winarno

Penerbit : Gramedia Pustaka Utama

Tebal : 92 halaman

Harga : Rp. 10.000,- 

Dibeli di : Lapak Obralan Gramedia Plaza Semanggi

Dibaca tanggal : 20 Desember 2019

Sinopsis :
Susu telah berabad-abad menjadi salah satu komoditas pangan manusia. Tidak hanya penting bagi peningkatan gizi masyarakat, susu juga dapat digunakan sebagai penangkal penyakit. Meskipun begitu, pada kenyataannya, banyak mitos mengenai susu yang telah mengakar dan tumbuh di masyarakat sebagai sebuah kepercayaan. Mitos-mitos tersebut dapat menjadi informasi yang menyimpang dan membingungkan bagi para konsumen. Padahal, susu dan produk susu merupakan pangan alami yang sangat bergizi yang memberi asupan kalsium, kalium, mineral, vitamin, serta protein yang esensial bagi pertumbuhan dan perkembangan tubuh manusia. Karena alasan tersebut, polemik mengenai susu dan konsumsi produk susu memerlukan fakta hasil penelitian yang telah diuji secara ilmiah oleh para ahli. Dalam buku ini, disajikan berbagai hasil penelitian mengenai susu agar para pembaca sekaligus konsumen susu, dapat menentukan pilihan yang tepat untuk membeli dan mengonsumsi susu.

Komentar (iya curcol doang, sebenarnya ga bisa disebut ripyu) :

798 - 2019

Sebagai lactose intolerant, aku lebih cenderung percaya teori bahwa sebenarnya kita tidak butuh minum susu sapi, karena berarti tubuh manusiaku tak bisa mencerna susu sapi. Apalagi kalsium lebih banyak terdapat di sayuran hijau, yang memang makanan favoritku. Jadi, aku lebih percaya pada mitos kita tak perlu minum susu sapi.

Tapi ya... karena susu sapi dan segala macam turunannya enak di lidah... aku masih tetap minum sekaleng susu bear brand dingin setiap pagi sebagai campuran sarapan dengan muesli dan buah-buahan. Atau mencampur susu dengan softdrink dingin ala soda gembira sebagai minuman guilty pleasure di siang hari yang panas. Atau masih suka makan es krim...

Efek gangguan pencernaan gara-gara lactose intolerant kadang memang tidak menyenangkan sih, apalagi di jam kerja. Buang angin terus-terusan berjam-jam sampai malam hari setelah makan seporsi kecil es krim pas jam istirahat? Pernah. Bolak-balik ke WC? Sering.

Ini mah sama persis dengan jalan hidupku selaku Capsaicin Addict dan Hot Sauce Master. Kuat pedas di lidah, meski pencernaan tidak kuat, dan efek ke gangguan pencernaan juga lebih hot.

Tapi ya...

Terus, apa selain bisa disebut residivis tobat sambal, aku juga pantas didapuk sebagai residivis tobat susu sapi...?

Catatan :
Iyaaa, karena tahun 2019 hampir habis dan blog ini sudah mati suri berbulan-bulan, ya sudahlah komentar berbau curcol tidak penting di akun Goodreads kupindahkan ke sini untuk sekadar menambah postingan tahun berjalan...
- Confession of a Lazy Blogger (Desember, 2019)

10 Langkah Menjadi Financial Planner Untuk Diri Sendiri Khusus Karyawan

Judul : 10 Langkah Menjadi Financian Planner Untuk Diri Sendiri Khusus Karyawan

Penulis: Luthfi Khaerudin

Penerbit : Grasindo

Tebal : 220 halaman

Dibaca di : Gramedia Digital

Dibaca tanggal : 16 Oktober 2019

Sinopsis : 
“Gaji saya ‘kan nggak seberapa. Apanya yang mau direncanakan? Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari saja sudah pas-pasan, malah kadang-kadang kurang.”

“Tapi, usia saya sudah hampir 40 tahun. Apakah masih mungkin untuk melakukan perencanaan keangan agar bisa pensiun dengan tenang?”

Jawaban untuk kedua pertanyaan itu: BISA!

Dalam buku ini Anda akan menemukan kesalahan-kesalahan yang paling sering terjadi soal uang. Anda juga akan tahu mengapa Anda perlu melakukan Perencanaan Keuangan.

Tunggu apa lagi?

Atur gaji, jadi orang kaya!

Komentar (iya, curcol doang, bukan ripyu sama sekali) :

666 - 2019

Apa ya korelasinya baca buku tentang jadi financial planner pribadi dengan nomor urut bacaan 666?

Tidak ada sih. Yang jelas, saya memang masih melakukan banyak kesalahan dalam perencanaan keuangan sebagaimana yang tercantum dalam buku ini, antara lain :

1) Kesalahan II: Menabung tanpa tujuan
2) Kesalahan V: Tabungan = Dana Darurat
3) Kesalahan VI: Menabung = Investasi (tapi... deposito masuknya ke investasi, kan?)
4) Kesalahan VIII: Menganggap asuransi bukanlah hal yang penting

Tapi meskipun demikian, pada dasarnya menurut buku ini saya akan dapat mengambil langkah selanjutnya untuk menjadi perencana keuangan, karena saya mau dan bisa melakukan hal-hal berikut:
1. Bersyukur memiliki penghasilan
2. Bersyukur setiap kali bisa membeli sesuatu
3. Berpikir bahwa gaji saat ini cukup untuk memenuhi kebutuhan saat ini
4. Berapapun jumlah penghasilan, pasti bisa diatur

Masalahnya... maukah saya mengambil langkah selanjutnya?

Karena masih menabung tanpa tujuan, saat ini pola investasi saya masih konservatif ala jaman kuda gigit besi. Cuma menabung, kalau sudah sampai batas tertentu, dialihkan ke deposito. Sudah, begitu saja (lihat daftar kesalahan di atas).

Sebagai tipe orang menabung tanpa tujuan, prinsip saya cuma satu: yang penting cukup. Dulu saya naik haji tanpa direncanakan, begitu ada dana cukup, langsung daftar dan tahun depannya berangkat. Ganti laptop dan ponsel pun tanpa penyisihan khusus, yang penting ada uang untuk beli baru, yang penting cash dan tidak nyicil. Saya juga belum ingin beli rumah lagi (sudah pernah punya, tapi tidak asik karena tidak bisa dinikmati sendiri), belum ingin punya mobil selama masih berdomisili di Jakarta (mending memanfaatkan layanan taksi online). Asuransi kesehatan dan jiwa sudah diatur tempat bekerja... Alasannya adaaa saja kalau dicari-cari.

Mungkin pola pikir "yang penting cukup" ini yang memang harus diubah dulu, sebelum mulai membuat perencanaan keuangan?

Catatan :
Iyaaa, karena tahun 2019 hampir habis dan blog ini sudah mati suri berbulan-bulan, ya sudahlah komentar berbau curcol tidak penting di akun Goodreads kupindahkan ke sini untuk sekadar menambah postingan tahun berjalan...
- Confession of a Lazy Blogger (Desember, 2019)


Thursday, April 11, 2019

Filosofi Teras

Judul : Filosofi Teras

Penulis : Henry Manampiring

Penerbit : Penerbit Kompas

Tebal : 344 halaman

Dibaca tanggal : 5 Februari 2019

Sinopsis :
Apakah kamu sering merasa khawatir akan banyak hal? baperan? susah move-on? mudah tersinggung dan marah-marah di social media maupun dunia nyata?
Lebih dari 2.000 tahun lalu, sebuah mazhab filsafat menemukan akar masalah dan juga solusi dari banyak emosi negatif. Stoisisme, atau Filosofi Teras, adalah filsafat Yunani-Romawi kuno yang bisa membantu kita mengatasi emosi negatif dan menghasilkan mental yang tangguh dalam menghadapi naik-turunnya kehidupan. Jauh dari kesan filsafat sebagai topik berat dan mengawang-awang, Filosofi Teras justru bersifat praktis dan relevan dengan kehidupan Generasi Milenial dan Gen-Z masa kini.

My Two Cents :
Meskipun sehari-hari aku tetap berupaya menghindari stres dengan menghilangkan akar masalahnya (e.g. cari kosan di belakang kantor supaya tak perlu merasakan macetnya Jakarta, tidak iseng membuka socmed terkait pemilu 2019), yang namanya khawatir mah tak akan pernah hilang. Apalagi aku termasuk orang yang overthinking, dan dalam pekerjaan sehari-hari juga selalu mempertimbangkan pros-cons alias tak cuma berpikir positif tapi juga negatifnya (perfectly balance, as all things should be).

Sesekali, biasanya kalau terkait hobi dan kenikmatan duniawi, ada saja rasa khawatir yang pastinya tidak masuk akal dan tidak penting buat orang lain. Misalnya kepikiran "Aduh kalau bisa jangan mati ketabrak mobil dulu sebelum aku sempat menonton Avengers: Endgame." (tahun lalu tentu saja judulnya masih Avengers: Infinity War). Terus kepikiran, bisakah orang yang mati sebelum sempat menonton film yang ditunggu-tunggu, lantas jadi hantu penasaran dan menggentayangi bioskop untuk "menyelesaikan urusannya di dunia". Tapi omong-omong, ternyata bukan cuma aku yang punya kekhawatiran sepele macam begitu. Robert Meyer Burnett, salah satu movie pundit yang kuikuti di youtube, juga sering mengungkapkan hal yang sama persis (bedanya cuma dalam bahasa Inggris sih), dan aku jadi tertawa kalau mendengarnya karena ternyata aku tidak sendirian...

Lho, kok malah curcol nggak penting. Harusnya kan ngomongin buku ini. Yo wis.

Review singkat: buku ini enak dibaca dan perlu.

Wednesday, January 2, 2019

The Ugly, The Bad, and The Good: Auwyang Hong at a Glimpse


Dalam setiap cerita, sudah pasti ada tokoh antagonis, yang memang diciptakan sebagai plot-driver untuk membuat hidup tokoh protagonisnya semakin sulit.

Dalam cerita silat karya Chin Yung yang pertama kali kukenal, Sia Tiauw Eng Hiong, terdapat segudang tokoh antagonis, dengan jadwal naik panggung yang berbeda-beda. Ada yang muncul sejak awal, ada yang baru muncul setelah tokoh kita terjun ke dunia kang-ouw, ada pula yang baru muncul di babak pertengahan tapi terus mendominasi sampai akhir dongeng.



Nah, tokoh antagonis yang akan kita bahas sekarang termasuk dalam kelompok terakhir.

Sebelum Auwyang Hong menampakkan diri pada babak Oey Yok Su mencari mantu di pulau Tho-hoa-to, pembaca sudah mendapatkan sedikit gambaran seperti apa tokoh kang-ouw paling sakti di daerah barat ini. Konon kesaktiannya sejajar dengan tiga tokoh sakti dari tiga mata angin lainnya: Ang Cit Kong dari Utara, Oey Yok Su dari Timur dan Toan Hongya dari Selatan. Dan level mereka berempat cuma sedikit di bawah sang pendiri Coan-cin-kauw. Tapi dari julukannya yang garang, See Tok alias Racun Barat, pembaca sudah dapat menduga bahwa tokoh satu ini pasti lebih sesat dibandingkan Oey Yok Su si Sesat Timur. Apalagi pembaca terlanjur kenal duluan dengan keponakannya yang ganteng-ganteng kucing garong.



Lalu benarkah Auwyang Hong sejahat yang diperkirakan?

Kalau kita melihat dari sudut pandang para tokoh utama yang sangat dirugikan oleh tindak tanduknya, tentu saja kita semua sepakat bahwa dosa-dosanya susah dimaafkan. Kalau diukur dengan 7 deadly sins, paling tidak ia menderita penyakit wrath, greed, pride,  dan envy. Ia menghalalkan segala cara dan tidak segan-segan berbuat kriminal dengan segala macam variasi dan turunannya demi mencapai tujuan utama hampir semua orang di dunia kang-ouw: menjadi jagoan nomor satu di kolong langit.

Tapi tentu saja, meskipun pada karya-karya awalnya Chin Yung cenderung menggambarkan para karakternya dengan sangat hitam putih, kalau kita mau, kita bisa kok mencari sisi positif dari setiap orang, termasuk karakter beracun seperti Auwyang Hong.



Jadi, apa saja sisi positif dari Auwyang Hong yang bisa kita ambil?

1. Ambisius
Seperti kata Gordon Gekko di Wall Street, Greed is Good. Mau seperti apa hidup manusia tanpa ambisi? Meskipun ilmu silat Auwyang Hong sudah sangat tinggi dan orang yang bisa menandinginya hanya bisa dihitung dengan jari sebelah tangan, ia tidak mudah merasa puas. Kalau di atas gunung masih ada gunung, mari kita taklukkan gunung yang lebih tinggi. Kalau di atas langit masih ada langit, mari kita bangun roket untuk menjelajahi angkasa luar. Jadi jagoan nomor satu di dunia kang-ouw? Mari kita cari dan pelajari ilmu silat yang sakti tiada tandingannya!

2. Rajin Belajar
Meskipun umurnya sudah tua, semangat belajar Auwyang Hong masih tetap tinggi. Ia juga tidak malu untuk belajar pada orang-orang muda yang belum kenal asam garam dunia, sepanjang mereka lebih menguasai ilmu yang ingin dipelajarinya. Meskipun ilmu yang dipelajarinya sangat sulit dipahami karena sudah diedit habis-habisan oleh trio Ang Cit Kong-Kwee Ceng-Oey Yong, toh ia tetap maju tak gentar walaupun harus menempuh risiko penurunan kesehatan mental.

3. Toksikolog Ahli
Julukan Racun Barat yang disandang Auwyang Hong sangat literal, bukan hanya metafora. Racun ular yang jadi andalannya bukan hasil belanja dari tukang obat kaki lima, tapi dibuat sendiri di laboratorium pribadi melalui eksperimen yang komprehensif dan ekstensif. Dan racun yang bisa ditularkan dari korban pertama pada korban-korban berikutnya? Cuma Auwyang Hong yang bisa begini!

4. Panjang Akal
Meskipun berkali-kali dikerjai orang, terutama oleh Oey Yong yang cerdik-cendekia, Auwyang Hong kerap bisa mengatasinya. Malah, siapa sangka dalam keadaan kepepet ia berhasil menemukan parasut (meskipun dengan bahan seadanya sehingga terpaksa terjun payung dari puncak tebing dalam keadaan telanjang). Tanpa ide briliannya, Kwee Ceng dan Oey Yong pasti tak kepikiran untuk mengerahkan pasukan para pertama di dunia sehingga pasukan Jenghis Khan bisa menaklukkan kota Samarkand.

5. Tidak Mata Keranjang
Kata orang, buah tidak jatuh jauh dari pohonnya. Tapi bisa dibilang, untuk urusan ranjang, Auwyang Hong sama sekali berbeda dengan Auwyang Hok yang gemar memetik bunga tanpa izin. Iya, bisa saja sih karena sudah tua mungkin saja minatnya ke olahranjang sudah tidak sebesar waktu masih muda, tapi tetap saja tidak ada ceritanya kalau ia punya kecenderungan bersikap ganjen pada gadis-gadis cantik yang ditemuinya. Buktinya, anaknya cuma satu. Kalau ia punya anak segudang dari haremnya di Gunung Unta Putih, jelas ia tidak akan menerima Yo Kang sebagai murid!

Untuk masalah status Auwyang Hok, aku lebih memilih versi Wong Kar Wai di Ashes of Time, di mana Auwyang Hong bukannya berselingkuh dengan istri kakaknya. Ia hanya terlalu keranjingan pada ilmu silat dan mencari nama di dunia persilatan, sehingga sering meninggalkan kekasihnya. Wajar saja sih pas ditinggal lama, dalam keadaan hamil akhirnya sang kekasih terpaksa menikahi calon kakak iparnya. Yaaa, daripada anaknya lahir sebagai anak di luar nikah. Waktu itu kan belum ada hape, susah memanggil pulang Bang Toyib buat dipaksa nikah!

6. Sayang Anak
Yang ini tidak usah diragukan lagi. Meskipun status Auwyang Hok hanya “keponakan”, jelas Auwyang Hong hanya menyayanginya. Apalagi seperti halnya Hiten Mitsurugi Ryu-nya Seijuro Hiko, ilmu Auwyang Hong hanya bisa diturunkan pada satu orang dalam setiap generasi. Kalau saja nasib berkata lain, sudah pasti apapun yang dipelajari dan akan dipelajari Auwyang Hong seumur hidupnya, termasuk Kiu-im Cin-keng, semuanya akan diwariskan kepada putra semata wayangnya. Belum lagi urusan jodoh. Meskipun tahu anaknya mata keranjang, sebagai ayah yang baik ia tidak segan-segan turun tangan langsung membantu anaknya untuk meminang putri rival besarnya. Dan sayang anak ini tidak hanya berlaku untuk anak kandung, ia juga menerapkannya pada anak angkatnya, Yo Ko.

7. Ganteng
Apalagi waktu masih muda. Kalau ditanya mirip siapa, ya… kira-kira mirip Leslie Cheung, lah XD

Kumis tipis hiasan, wajah tampan rupawan

Yah, pasti sebenarnya masih banyak lagi hal-hal positif yang masih bisa kita gali dari tokoh antagonis ini. Tapi nanti malah bikin posting ngalor-ngidul ini jadi kepanjangan :)


Ada yang mau ikut menambahkan?


Catatan :
Tulisan ini sudah lama kubuat, menurut MS Word tanggal 14-02-2017, kira-kira tidak jauh jaraknya dari aku membeli-ulang-baca-ulang serial Sia Tiauw Eng Hiong-nya Chin Yung. Sekarang ku-upload saja untuk memulai postingan di tahun 2019 (selain postingan wajib challenge awal tahun). Anggap saja ini langkah awal niat lamaku untuk memposting serial tulisan yang mengulik sisi positif para villain atau tokoh antagonis dari cerita atau genre apapun. 









Tuesday, January 1, 2019

2018 Challenges Wrap Up & 2019 Challenges


Selamat Tahun Baru, semuanya!


Hah... aku mau nulis apa ya di awal tahun baru ini...

Tahun 2018 kemarin aku nyaris tidak pernah mampir lagi ke blog ini setelah memposting 2018 Challenges. Jadi... jelas ada target yang amat sangat tidak tercapai... target posting review, tepatnya. Bukannya aku tidak pernah bikin review singkat di goodreads setelah selesai baca buku sih, tapi komen singkat yang tidak diposting di blog tidak masuk hitungan. Belum lagi... seandainya satpam BBI masih rajin menyambangi blog yang nganggur berbulan-bulan malah nyaris setahun, pasti sudah lama aku ditendang dari BBI. Atau minimal dikasih peringatan dengan hukuman percobaan, barangkali. Ampun deh, aku janji bakal mampir setidaknya sebulan sekali tahun ini!

Jadi, apa saja target 2018 yang tercapai?  Yuk kita mulai aja ah, nggak pakai lama...

1. Goodreads Reading Challenge


Oke, tercapai dengan catatan seperti biasa... sebagian besar komik, terutama komik Marvel dan DC. Mwahahah. Curang? Lha, iyalah. Target buku nonkomik tercapai 515 dari target 500 buku, tapi tetap terhitung curang juga sih karena banyak yang halamannya tipis, terutama buku anak-anak. Kalau iseng mengecek statistik Goodreads tentang buku yang dibaca 12 bulan terakhir, aku malah dihitung cuma baca 230 buku! Beda sistem dengan RC mungkin ya, yang tidak peduli pada tebal halaman dan juga  menghitung re-read sebagai pencapaian!


2. New Author Reading Challenge

Tercapai 159 dan target 100.

Okay, di mana-mana juga kalau target diturunkan memang lebih mudah dicapai. Mungkin tahun 2019 perlu dinaikkan lagi targetnya ya...


3. Project Baca Buku Cetak

Kelihatannya timbunan malah bertambah dari 70-an buku di akhir tahun 2017 menjadi 80-an di akhir tahun 2018. Bukannya tidak ada usaha membaca buku timbunan sih... tapi ada saja tambahan buku cetak baru yang tak segera kubaca... Lebih banyak plus ketimbang minusnya deh.


4. Review Challenge

Boro-boro bikin review, bikin postingan baru di blog ini dalam setahun terakhir ini saja nggak. Jadi, dengan amat terpaksa aku akhirnya membuat 2 review dari dua buku yang terakhir kubaca, persisnya di malam tahun baru. Padahal targetnya sudah diturunkan dari target 2017 menjadi 52 review saja.



Jadi, sepertinya aku perlu menyusun target 2019 yang lebih realistis dan sesuai dengan tingkat kemalasan? Let's go!





1. Goodreads Reading Challenge

Sepanjang sistem perhitungan RC belum berubah, aku akan tetap mempertahankan tradisi menetapkan target jumlah bacaan sesuai angka tahun.


Sejauh ini masih on the track, dan baru 2 jilid komik, sisanya timbunan buku cetak dan digital. Mudah-mudahan tidak segera kehabisan gas di awal tahun, meskipun jelas aku pasti masih bakal lebih banyak baca komik ketimbang novel.

Target baca buku nonkomik? Tetap 500 saja dulu ya.


2. New Author Reading Challenge

Melihat pencapaian tahun lalu, baiklah kunaikkan lagi targetnya dari 100 menjadi 150. Masih ada terlalu banyak penulis yang belum kukenal, baik dari dalam negeri maupun luar negeri.


3. Project Baca Buku Cetak

Aslinya sih, saat ini buku cetak di kamar kos (di luar manga) cuma ada 4 jilid. Hebat, ya? Nggak juga sih, karena timbunan yang aku punya versi ebook-nya atau ada di aplikasi GD aku kirim semua ke perpustakaan di Cirebon.

Apakah akhirnya aku akan membaca buku yang sudah tertimbun bertahun-tahun bahkan belasan tahun di tahun 2019 ini? Kita lihat saja nanti.


4. Review Challenge

Apakah challenge ini masih tetap kubuat tahun ini setelah gagal dengan sungguh amat sangat mengenaskan tahun lalu? Bagaimana dengan tingkat kemalasan tahun ini, apakah dapat diprediksi menurun atau malah meningkat?

Ya sudahlah... meskipun masih tidak realistis mengingat level kemalasan posting review (atau posting apapun) di blog ini tahun lalu, aku tetap buat buat challenge-nya, deh. 

12 Review saja ya. Itu juga sudah jauh lebih mendingan ketimbang pencapaian tahun 2018 kok, hehehe...


Okay, folks! Kita akhiri resolusi tahun 2019 ini. Mudah-mudahan pencapaian target tahun ini bisa lebih baik dari tahun sebelumnya!


  

Monday, December 31, 2018

Goodbye, Things: Hidup Minimalis ala Orang Jepang

Judul : Goodbye, Things: Hidup Minimalis ala Orang Jepang

Penulis : Fumio Sasaki

Penerbit : Gramedia Pustaka Utama

Tebal : 280 halaman

Dibaca di : Gramedia Digital

Tanggal baca : 30 Desember 2018

Sinopsis :
Fumio Sasaki bukan ahli dalam hal minimalisme; ia hanya pria biasa yang mudah tertekan di tempat kerja, tidak percaya diri, dan terus-menerus membandingkan diri dengan orang lain—sampai suatu hari, ia memutuskan untuk mengubah hidupnya dengan mengurangi barang yang ia miliki. Manfaat luar biasa langsung ia rasakan: tanpa semua “barangnya”, Sasaki akhirnya merasakan kebebasan sejati, kedamaian pikiran, dan penghargaan terhadap momen saat ini.

Di buku ini, Sasaki secara sederhana berbagi pengalaman hidup minimalisnya, menawarkan tips khusus untuk proses hidup minimalis, dan mengungkapkan fakta bahwa menjadi minimalis tidak hanya akan mengubah kamar atau rumah Anda, tapi juga benar-benar memperkaya hidup Anda. Manfaat hidup minimalis bisa dinikmati oleh siapa pun, dan definisi Sasaki tentang kebahagiaan sejati akan membuka mata Anda terhadap apa yang bisa dihadirkan oleh hidup minimalis.

Curcol suka-suka:
Aku membaca buku ini via aplikasi Gramedia Digital di handphone. Yang artinya: aku sudah selangkah lebih maju menuju hidup minimalis!

Just kidding, bro. Aku membaca buku digital bukan berarti aku berhenti membeli buku cetak. Itu hanya salah satu cara untuk menentukan apakah aku membeli versi cetaknya atau tidak, tak perlu lagi aku berjudi membeli buku cetak dengan alasan "sepertinya menarik".

Lalu, karena ternyata aku suka buku ini, apakah aku akan membeli edisi cetaknya? Oh, dilema...

Pertama, perlu ditegaskan bahwa meskipun aku menyukai buku ini, belum tentu aku bisa menjalankan apa yang disarankan penulisnya yang tergolong ekstrimis dalam aliran minimalis ini. Aku selalu kagum pada mereka yang bisa melakukan apa yang tak bisa kulakukan dengan mudah, misalnya: membuang barang tanpa pikir-pikir konsekuensinya. Yang ada malahan aku lebih sering membeli barang tanpa pikir-pikir konsekuensinya.

Begini, bukannya aku tidak pernah berusaha membuang barang. Aku bukan orang sentimental yang suka menyimpan barang-barang kenangan. Buat apa? Menuh-menuhin tempat saja. Setelah membaca buku Marie Kondo tentang seni beres-beres, aku juga sudah berupaya membuang sebagian koleksi baju, tas, sepatu, bahkan buku!

Etapi ndilalah, aksi buang barang dilakukan, aksi beli barang tetap jalan terus dong... Hiks! Ini yang susah, apalagi di jaman belanja online semakin gampang begini. Sambil tiduran dan ngemil di atas ranjang, bisa asyik browsing di aplikasi marketplace ini itu, eng-ing-eng..., punya baju, tas, dan buku baru deh. Ih, ini pasti yang salah jarinya!

Jadi, membaca buku ini, pertama melihat foto sebelum dan sesudah dari kamar, apartemen atau rumah para minimalis teladan, lantas melihat sekeliling kamar kos... Hm, jadi gatal ingin membereskan kamar kos yang entah kenapa kok kelihatan selalu penuh dengan barang yag belum tentu penting dan... omong-omong, kapan ya kubeli dan kapan terakhir kali kupakai? Jawabannya: boro-boro ingat.

Tapi... tapi... Fumio Sasaki ini terlalu ekstrim deh!

Mana tega aku membuang buku begitu saja? Yang ada paling aku memaketkan timbunan buku di Jakarta ke Cirebon. Paling tidak buku yang sudah kubaca, buku yang belum kubaca tapi aku punya e-booknya, atau buku yang belum kubaca tapi aku bisa baca versi digitalnya di aplikasi. Baru kalau aku punya waktu, kapan-kapan menyiangi buku yang memenuhi perpustakaan pribadi di Cirebon.

Mana bisa aku membuang baju begitu saja? Oke, ada beberapa potong yang memang baru kupakai sekali dua dan sepertinya tak bakalan kupakai lagi karena alasan tertentu, jadi lebih baik dihibahkan. Tapi sisanya? Masih kupakai semua kok! Memang tidak setiap hari, tapi kan variasi baju itu perlu supaya tidak bosan (dan tidak dinyinyiri pakai baju yang itu-itu saja, kayak nggak punya baju lain saja!).

Mana mungkin aku mengurangi gadget! HP yang ini khusus keperluan kantor, HP yang ini khusus untuk entertainment seperti menonton youtube dan mendengarkan musik, HP yang ini khusus untuk membaca buku digital. Kalau cuma pakai satu HP, baterenya bakal cepat habis, harus sering di-charge, dan lebih cepat rusak. Mending punya lebih dari satu dan dipisahkan berdasarkan fungsinya!

Hahaha... tidak ada habisnya memang alasan untuk mempertahankan keberadaan barang dan mencari alasan untuk itu. Hidup kita diatur oleh barang-barang kita? Memang! Persis seperti bit-nya alm. George Carlin tentang A Place For Your Stuff, yang pernah kukutip panjang lebar di review buku beliau di blog ini. Semua barang kita itu penting! Jadi perlu disediakan tempatnya. Itulah gunanya rumah: tempat untuk menaruh barang kita! Kalau kita tidak punya barang, kita tak perlu rumah dan bisa bebas berpergian ke mana saja tanpa khawatir kehilangan barang milik kita...

Hadeh. Seperti biasa kalau review buku model begini versi curcol pasti tidak akan ada habisnya, karena terlalu banyak alasan untuk menolak semua kiat yang ditawarkan penulis ekstrimis ini. Tapi pada prinsipnya, inti buku ini adalah di mana ada kemauan, di situ pasti ada jalan. Karena kiat pertama adalah: buang jauh-jauh pikiran bahwa kita tidak mampu membuang barang. Kalau ada kemauan untuk membuang barang kita, apapun bentuk dan rupanya, pasti kita bisa deh.

Kalau ada kemauan tapinya...

Slugfest: Inside the Epic, 50-year Battle between Marvel and DC

Judul : Slugfest: Inside the Epic, 50-year Battle between Marvel and DC

Penulis : Reed Tucker

Penerbit : Da Capo Press

Tebal : 286 halaman

Dibaca tanggal : 30 November s/d 30 Desember 2018

Sinopsis :
The most bruising battle in the superhero world isn't between spandex-clad characters; it's between the publishers themselves. For more than 50 years, Marvel and DC have been locked in an epic war, tirelessly trading punches and trying to do to each other what Batman regularly does to the Joker's face. Slugfest, the first book to tell the history of this epic rivalry into a single, juicy narrative, is the story of the greatest corporate rivalry never told. It is also an alternate history of the superhero, told through the lens of these two publishers.

Slugfest will combine primary-source reporting with in-depth research to create a more fun Barbarians at the Gate for the comic book industry. Complete with interviews with the major names in the industry, Slugfest reveals the arsenal of schemes the two companies have employed in their attempts to outmaneuver the competition, whether it be stealing ideas, poaching employees, planting spies, ripping off characters or launching price wars. Sometimes the feud has been vicious, at other times, more cordial. But it has never completely disappeared, and it simmers on a low boil to this day.

The competition has spilled over to the even the casual fans, bisecting the world into two opposing tribes. You are either a Marvel or a DC fan, and allegiance is hardly a trivial matter. Perhaps the most telling question one can ask of a superhero fan is, Marvel or DC? The answer often reveals something deeper about personality, and the reason is wrapped up in the history of both companies.

Reading Experience :
Apakah Anda penikmat komik, khususnya komik superhero?

Kalau jawabannya iya, apakah Anda pembaca komik terbitan Marvel atau terbitan DC? Atau kedua-duanya?

Apakah Anda bertanya-tanya mengapa banyak karakter dari kedua komik yang penampakannya mirip, sama dan sebangun? Apakah mereka masih sepupu jauh?

Apakah Anda bertanya-tanya mengapa karakter Captain Marvel dari DC terpaksa ganti nama jadi Shazam? Kan repot, harus ganti akte, lantas kudu bikin selamatan pakai bubur merah bubur putih segala biar orang sekampung tahu?

Apakah Anda ingin tahu bagaimana Marvel bisa melibas dominasi DC di ajang perkomikan pada tahun 1960-70an? Bagaimana DC terseok-seok berusaha mengejar ketertinggalan tanpa pernah dapat memahami alasan pembaca komik lebih tertarik membeli dan membaca komik Marvel?

Apakah Anda ingin tahu bagaimana Marvel bisa mendominasi ajang film superhero di awal abad ke-21 dengan Marvel Cinematic Universe-nya, sementara DC jatuh bangun mengejar dengan DC Expanded Universe (atau sudah ganti nama jadi DC Universe saja, ya? Whatever.)-nya?

Kalau memang Anda punya banyak pertanyaan tak terjawab tentang kompetisi Marvel vs DC dari jaman kuda gigit besi sampai sekarang, buku ini cocok untuk dibaca di saat iseng untuk membuka cakrawala. Mungkin juga sebagai penikmat dan pemerhati komik/film superhero sebenarnya Anda sudah cukup tahu semua jawaban pertanyaan di atas, tapi buku ini tetap dapat dijadikan bacaan wajib, minimal memperkuat basis pengetahuan Anda sekiranya di masa yang akan datang Anda tanpa sengaja terlibat ajang perdebatan berdarah-darah antara fans Marvel dan fans DC yang ora uwis-uwis.

Sebagai salah seorang pembaca komik dengan segala bentuk dan turunannya, sebenarnya aku lebih dulu mengenal dan menggemari komik Eropa macam Tintin, Lucky Luke, Asterix, Smurf, dlsb, karena pada masa kecilku, komik seperti inilah yang lebih banyak beredar di toko buku di Indonesia (dari sini ketahuan jelas angkatannya deh!). Komik superhero AS cuma komik yang kubaca sambil lalu, itu pun karena pinjam koleksi anak tetangga yang punya akses bacaan yang berbeda denganku.

Lanjut ke masa manga mulai beredar di Indonesia, dimulai dengan angkatan Candy-Candy, Kungfu-boy, Dragon Ball, Pop Corn cs, aku mulai menyisihkan komik Eropa, apalagi komik superhero AS. Komik selain manga cuma jadi bacaan tersier. Menu utamaku tentu saja novel dan manga.

Kalaupun harus ditilik mana dulu komik superhero yang kubaca, DC atau Marvel, ya jelas DC-lah, terutama komik Batman dan Superman (karakter lain mah cuma figuran) yang lebih banyak beredar di pasaran. Kalaupun ada komik Marvel yang kubeli dan kubaca, paling komik Ultimate Spider-Man, yang cuma kubeli enam jilid. Alasannya? Rugi euy, harganya yang mahal tidak sepadan dengan jilidnya yang supertipis. Maklum, aku penggemar novel dan manga, yang jauh lebih tebal dan lebih memuaskan keinginan membaca.

Aku mulai lebih banyak membaca komik DC dan Marvel setelah mendapat kemudahan akses via internet. Kembali, yang lebih banyak kubaca terlebih dulu adalah komik DC yang karakternya lebih familiar. Aku mulai beralih ke komik Marvel setelah bosan membaca semua komik Batman/Superman modern termasuk versi Elsewhere (dan iya, aku kurang tertarik membaca komik karakter DC lainnya!) dan... yap, setelah film-film Marvel dari Spider-Man versi Sony dan MCU mulai bermunculan. Late to the party? Sure. Hop to the bandwagon? Not really.

Kalau ditodong pertanyaan apakah aku fans Marvel atau DC, aku tak akan pernah bisa menjawab. Aku penggemar komik. Titik. Apapun bentuknya, dari komik eropa, manga, maupun komik superhero amerika. Aku penggemar cerita yang menarik dengan storytelling dan artwork yang bagus. Hanya ada sedikit komik dengan artwork di luar seleraku yang bisa kumaafkan, karena cerita dan storytelling yang memang mumpuni. Namun aku lebih sering kehilangan mood baca duluan begitu melihat artwork yang tidak sesuai selera. Boleh dibilang, salah satu kekurangan komik Marvel dan DC adalah kualitas cerita dan artworknya bisa berubah suka-suka karena seringnya berganti penulis dan ilustrator dalam suatu serial. Berbeda halnya dengan manga yang selalu konsisten, karena penulis atau mangaka untuk suatu serial tetap orang yang sama.

Banyak komik DC yang menjadi favoritku (iya, mayoritas komik Batman), tapi lebih banyak lagi yang cuma kubaca selintasan karena ceritanya yang meh dan gitu doang. Begitu pula dengan komik Marvel (meskipun variasi karakter utama yang kubaca lebih banyak). Sami mawon. Malah kadang komik klasik yang digadang-gadang sebagai top-ten dari masing-masing penerbit pun bisa kulewatkan karena kualitas gambarnya yang jadul dan bikin malas baca. Bahkan bisa jadi ada faktor selain artwork yang juga berpengaruh. Sampai sekarang aku masih belum berminat mengikuti serial komik X-Men. Cuma beberapa jilid yang pernah kubaca, itu pun karena penulisnya Joss Whedon. Duh. Sudahlah. Mungkin kapan-kapan kubaca kalau sudah kehabisan bahan bacaan.

Tapi, seambigu apapun posisiku terhadap komik Marvel dan DC, buku ini tetap asyik untuk dibaca. Bagaimana Marvel yang awalnya penerbit kecil tukang jiplak dengan oplah rendah bisa menemukan formula komik yang bisa membuat pembaca komik DC berpindah ke lain hati. Bagaimana Stan Lee membuat disruption yang merevolusi dunia komik AS yang stagnan. Bagaimana panasnya perang antara dua penerbit ini, dari bajak-membajak penulis dan artis, saling intip dan saling jiplak cerita (corporate spying level ganas!), sampai perang kata di editorial (jaman jadul) dan media sosial (jaman now). Perang berpuluh-puluh tahun antar penerbit ini belum selesai sampai sekarang... dan malah berlanjut ke media yang berbeda...

Selain penggemar buku (termasuk komik), aku juga penggemar film (termasuk film yang diangkat dari komik). Jelas perang Marvel/DC di ranah perfilman ini juga menjadi cemilan sehari-hariku, yang menonton nyaris semua film genre superhero yang dirilis abad ini. Kembali, sama halnya dengan komik, intinya sepanjang cerita dan storytelling-nya bagus, aku pasti suka.

Sayangnya untuk film DC, sejauh ini aku cuma menyukai Batman versi Nolan (kecuali jilid 3, gara-gara adegan actionnya yang meh). Ada saja yang bikin sebal dari versi DCEU. Mungkin gara-gara aku kebanyakan baca komik Batman dan Superman, aku jadi kurang bisa mengapresiasi interpretasi dan visi sutradaranya yang tidak sejalan dengan karakter ideal di benakku. Tapi yang jelas, aku bete karena storytelling-nya yang bikin mulas dan males, bikin kepingin keluar studio di tengah jalan tapi batal karena sayang uang tiketnya. Sedangkan untuk film dengan karakter DC lainnya... mungkin aku kurang konek karena aku juga malas baca versi komiknya.

Lalu, apa bedanya dengan film Marvel? Kalau tetap ditodong juga, harus kuakui aku lebih condong untuk menyukai film-film Marvel, khususnya versi MCU (rilisan Fox dan Sony pun secara umum oke, meskipun ada beberapa yang lebih baik dicoret dari daftar binge-watching). Alasannya? Sederhana saja. Cerita, akting, storytelling. Bisa saja ada karakter yang mbalelo dari pakem komik, tapi dapat kumaafkan sepanjang tiga unsur utamanya tetap di atas standar. Karakter yang kurang kukenal karena tidak pernah baca versi komiknya? Tidak masalah, sepanjang... idem (lihat alasan sebelumnya). Ini hanya opini pribadiku... yang boleh dibilang kurang lebih sama dengan pendapat umum penikmat film non partisan pada umumnya.

Sejarah kembali berulang. DC pernah berjaya dan mendominasi dunia perkomikan, sebelum kemudian Marvel menciptakan formula storytelling yang tidak sepenuhnya dapat ditiru oleh DC sampai dengan saat ini. DC lebih dulu berjaya mengangkat karakter komiknya ke media film dengan kualitas dan rekor box office yang memadai, sementara Marvel cuma bisa membuat film level medioker dengan kualitas yang mana tahan... Sampai akhirnya film X-Men mengubah nasib genre superhero di jagad perfilman secara signifikan dan studio Marvel menciptakan formula storytelling dengan MCU-nya, yang ternyata juga sukar ditiru oleh DC sampai dengan saat ini.

Apakah perang antara Marvel dan DC akan terus berlanjut? Entahlah. Bagaimana bila suatu saat nanti penikmat film akhirnya bosan dengan genre superhero? Who knows. Kita lihat saja perkembangannya.

Tapi yang jelas, kita harus tetap ingat bahwa di luar komik Marvel dan DC, masih banyak komik yang dirilis penerbit lain yang juga populer dan layak diangkat dan digubah ke media lain. Mungkin sebagian malah telah diangkat ke media televisi dan film, tanpa kita tidak sadar bahwa itu sebenarnya cerita komik juga, meskipun bukan genre superhero.

Aku tetap berharap suatu saat nanti komik Saga-nya Brian K. Vaughan diangkat ke media televisi atau film. Tapi mungkin aku tunggu saja sampai Y-The Last Man jadi dibuat serial televisinya. Atau lebih realistis lagi, kalau aku lebih baik menunggu kehadiran serial komik lain yang sudah jelas bakal tayang dalam waktu dekat, seperti The Boys-nya Warren Ellis.